Anda pecinta durian, sangat disarankan mengunjungi spot wisata kuliner durian yang satu ini: Warso Farm. Lokasinya berada di Jl. K.H. Halimi, Cipelang, Kec. Cijeruk, Bogor, Jawa Barat. Di sini, Anda bisa memetik sendiri buah durian langsung dari pohonnya dan menyantapnya langsung.
Tag: buah durian
“Mendem Duren”, Makan Sepuasnya-Bayar Sepantasnya

JIKA Anda bukan termasuk “penggila” buah durian, abaikan tulisan ini. Sebab, tulisan ini hanya wajib dibaca bagi penyuka buah lezat beraroma menyengat. Ini tentang acara mabuk durian, atau dalam bahasa Jawa “Mendem Duren” dengan tagline Sak Tuwuk’e (sekenyangnya)…
Acara ini akan digelar empat kali, di dua kota: Sidoarjo dan Gresik, Jawa Timur. Tak kurang dari 10.000 buah durian dari seluruh penjuru Jawa Timur sudah disiapkan untuk disantap sepuasnya. Bagaimana soal harga? Tenang saja. Panitia acara ini sangat bersahabat: “Makan Sepuasnya, Bayar Sepantasnya”. Nah, tunggu apa lagi?!
Bursa durian terbesar, dan makan buah durian ramai-ramai ini, dimaksudkan untuk menggalakkan komoditi buah durian asal Jawa Timur. Di Sidoarjo, acara “Mendem Duren” digelar mulai tanggal 14 – 18 Maret 2018, di GOR Sidoarjo dalam acara “Sidoarjo Fair 2018”. Masih di kota yang sama, dan dalam acara yang sama, “Mendem Duren” kedua digelar di Pasar Baru Wonoayu, Sidoarjo mulai tanggal 22 – 25 Maret 2018, pukul 10.00 – 22.00 WIB.
Sementara itu, di Gresik, acara “Mendem Duren” yang pertama berlangsung tanggal 24 – 31 Maret 2018. Acaranya “Pasar Rakyat Gresik Usaha Mikro – Ngopi Bareng 2018”, di Gresik Kota Baru (GKB). Sedangkan acara kedua di kota yang sama, berlangsung tanggal 6 – 14 April 2018, di Sentraland, Driyorejo Kota Baru Gresik. Seperti halnya di Sidoarjo, maka jam buka di Gresik pun sama: 10.00 – 22.00 WIB.
Berminat? Silakan diagendakan. ***
Makan Durian Zaman Now: Buru Langsung ke Kebunnya

BELI durian di kedai pinggir jalan? Beli durian di pasar buah? Beli durian di supermarket? Ketahuilah, itu semua zaman old. Yang kekinian adalah, makan durian langsung di kebunnya. Jaminannya bukan semata pada harga yang lebih murah, lebih dari segalanya adalah jaminan kelezatan rasa.
Jika di sekitar Anda belum ada model beli dan makan durian langsung ke kebun? Segeralan hunting ke berbagai pelosok desa penghasil durian. Datangi saja, temui pemilik pohon, dan belilah di tempat. Kiranya, tidak akan ada orang menolak uang, bukan?
Seperti halnya di Pandeglang. Di salah satu kabupaten Provinsi Banten, ada satu lokasi yang mulai viral sebagai tempat berburunya para penggemar buah dengan bau menyengat itu. Penelusuran Jayakartanews sampailah ke Kampung Salam, di Kecamatan Keduhejo, Kabupaten Pandeglang, tepatnya di kaki bukit Gunung Karang.
Kurang lebih satu jam, waktu yang kami butuhkan untuk menuju Kampung Salam, dari pusat kota Pandeglang. Dan benar, setiba di sana, terdapat beberapa kedai warga yang mereka sebut sebagai “saung kadu”. Di saung-saung itulah, warga menjual durian dan aneka hasil pekarangan rumahnya yang lain, seperti pisang, petai, dan lain-lain.
Tersebutlah penggila durian bernama Iim, warga asal Majasari, Pandeglang. “Saya memang suka durian. Ketika musim durian tiba, saya selalu ke Kampung Salam, tidak pernah beli durian di kedai pinggir jalan, apalagi ke supermarket dan pasar buah. Di sini, buah durian yang dijual warga, semua matang, siap santap, bahkan hampir semuanya merupakan durian jatuhan,” papar Iim panjang lebar.

Penikmat durian lain bernama Nengnong, mengaku baru pertama kali datang ke Saung Kadu, Kampung Salam. Sebelumnya, jika ingin makan durian, ia membeli di warung pinggir jalan. “Banyak kecewanya. Katakan dari empat sampai lima buah durian yang dicobakan rasanya, paling hanya satu yang lumayan. Selebihnya, umumnya tawar, keras, atau bahkan hampir busuk,” ujarnya.
Di Kampung Salam, harga durian jatuhan terbilang murah. Sebuah durian ukuran kecil, dibanderol seharga Rp 20 ribu. Ukurang sedang, dihargai Rp 40 ribu, dan durian ukuran besar ditawarkan seharga Rp 50 ribu. “Kalau datang rombongan seperti ini, pesan banyak, harga bisa lebih murah lagi,” kata Nengnong.
Ini beda betul dengan harga jual durian pinggir jalan yang rata-rata ditawarkan seharga Rp 40 ribu untuk yang kecil, dan Rp 120 ribu untuk ukuran besar. Kisaran harga itulah yang dimainkan pedagang pinggir jalan, dengan cita-rata yang tidak dijamin. ***
Balada Durian Jatuh Menjelang Subuh

SEORANG teman pernah memberi tips memilih durian enak seperti ini, “Hitung saja durinya, kalau ganjil pasti enak!”
Ah… lupakan tips yang aneh itu. Mari kita baca kisah menarik dari Desa Talang Alai, Kecamatan Air Periukan, Kabupaten Seluma, Provinsi Bengkulu. Cukup jauh memang. Lebih jauh dari Palembang, tapi lebih dekat dari Medan.
Daerah ini, menyambut datangnya tahun 2018 dengan panen durian. Hingga semalam dinihari (3/1/2018), warga Desa Talang Alai jarus berjaga sepanjang malam, memanen durian jatuh hingga subuh. Ketahuilah. Durian Talang Alai, Seluma terkenal dengan cita rasa yang menggoda selera. Bukan saja legit, warna daging durian yang kuning tembaga, bakal meninggalkan rasa lezat yang melekat kuat di bibir, di benak, dan di hati.

Biji durian kecil, bahkan sangat kecil dengan daging buah durian yang tebal, juga menjanjikan kepuasan menyantap durian ini. Tidak heran, apabila buah durian dari Talang Alai atau dikenal dengan sebutan durian dari ‘Pondok Rubuh’, laris manis di pasaran.
Pondok Rubuh sendiri adalah nama sebuah dusun di Desa Talang Alai yang memiliki ratusan pohon durian berusia puluhan tahun. Yang menarik, kita tidak perlu membeli buah durian apabila berkunjung ke desa itu. Syaratnya, Anda tinggal konfirmasi kepada pemilik pohon durian, dan Anda akan ditawari ikut menunggu durian jatuh di pondok kebun. Nah, silahkan bawa pulang durian yang didapat.
Memang, harus sedikit “kerja” untuk mendapatkan durian gratis yang sangat lezat itu. Pasalnya Anda harus berjalan kaki beberapa kilometer menuju lokasi kebun durian, dengan menyusuri jalan perbukitan yang menanjak dan menurun.
Beberapa ratus meter kita melangkahkan kaki di perkebunan warga, terlihat puluhan sinar lampu senter di kegelapan malam. Ternyata di saat musim durian, puluhan warga berjaga di pondok kebun miliknya untuk menunggu durian jatuh dari batangnya.
Di dalam kebun, kita akan mendengar suara bersahut-sahutan bunyi, bak-buk-bak-buk… dari beberapa penjuru di sudut kegelapan. Suara itu adalah suara durian jatuh dari pohonnya. Menjelang subuh, hasil durian yang telah terkumpul disusun dan dimasukkan ke dalam ‘kiding’ atau keranjang, dan dibawa pulang ke rumah. Membutuhkan waktu sekira 1,5 jam untuk berjalan pergi pulang.
Sampai di rumah, kita dipersilakan membawa pulang durian yang kita dapat di kebun semalam. Apabila kita tidak berminat untuk mendapatkan durian gratis, maka tempuhlah cara mudah. Tunggu saja mereka kembali dari kebun durian di perkampungan itu. Setelah mereka datang membawa durian runtuh, silakan beli dengan harga yang tidak mahal.
Untuk ukuran durian super dijual dengan harga Rp 20 ribu per buah, Rp 15 ribu untuk ukuran sedang dan Rp 10 ribu untuk durian ukuran kecil. Jika berminat, silakan mencoba, menunggu durian runtuh hingga subuh di pedalaman Seluma, Bengkulu. ***