• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Ojol di Panggung Politik, Pengemudi Konvensional di Pinggir Jalan

Ojol di Panggung Politik, Pengemudi Konvensional di Pinggir Jalan

September 10, 2025
Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

October 26, 2026
Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

October 26, 2026
Bapanas Akui Beras Premium Sempat Kosong di Sebagian Ritel

Gerakan Pangan Murah Disambut Antusias Warga Tuban: Disediakan 1 Ton Beras SPHP Harga Terjangkau

October 26, 2026
DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

October 25, 2026
“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

“Gue Ini Presiden, Ted”:  Bukan Sekadar Political Joke

October 25, 2026
Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

Operasi Senyap Membuahkan Hasil! Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin di Sumut Terbongkar

October 25, 2026
Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

Menyusuri Jejak Api dari Udara, Kepala BNPB Pantau Karhutla Way Kambas

October 25, 2026
Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

Kelas Bahasa dan Budaya Mandarin di Migrant Service Center Unhas Perkuat Kesiapan CPMI

October 24, 2026
Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

Jenderal Maruli, Mendekatkan yang Terpencil

October 24, 2026
Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

October 24, 2026
243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

243 Tersangka Karhutla Ditetapkan,13 Korporasi Ikut Dijerat

October 23, 2026
Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

Kardinal Suharyo Sapa Polda Kaltim, Teguhkan Iman dan Integritas Polisi

October 23, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Tuesday, October 27, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World
    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    Kemenhut Beri Sanksi 32 Perusahaan Terkait Karhutla, Ada Sawit?

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    WALHI Pertanyakan Skema Biodiversity PT AP Milik Jardine

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    Kemenkum Sebut 95 Persen Aduan Masyarakat Berhasil Diselesaikan

    BEI Buka Data Kepemilikan Saham Perusahaan Tercatat di Atas 1 Persen

    Tiga Emiten Didenda Rp 2,1 Triliun Karena Manipulasi Pasar Saham

    BPS Catat Komoditas Sawit Masih Jadi Penopang Ekspor Pertanian

    GAPKI Catat Ekspor Produk Sawit Agustus 2026 Naik 12,56 Persen

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pemohon Desain Industri Diminta Periksa Informasi Status Permohonannya

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    Pekerja Dapat Perlindungan Tambahan di RUU Perlindungan Ketenagakerjaan

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    MK Tak Bisa Batalkan Gibran Rakabuming Raka

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Wamentan Saleh Sebut Pentingnya Penegakan Hukum Terhadap Mafia Pangan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Izin Impor Tanpa Batasan Bikin Industri Dalam Negeri Sulit Bertahan

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Gear
    • Startup

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports
    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    DKI Beri Keringanan PBJT 50 Persen untuk Film Nasional di Bioskop

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Siapa Film Terbaik FFW 2026? Lima Juri Akhir Mulai Tentukan Pemenang

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Series Thailand Gandhi Fernando Berjudul Badminton Boys Puncaki Global Ranking

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Spoiler HASUT: Rere tak Pernah Kerasukan, Penonton Memang Dibuat Ikut Terhasut

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Mantan Trio Kwek Kwek Leony VH Jadi Hantu Tionghoa di Film Ghosting

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Terima Presiden FIFA, Presiden Prabowo: Sepak Bola Bangun Prestasi dan Karakter Bangsa

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    Trump-May special relationship gets special treatment in the streets of London

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    7 February games you should get excited about

    J.K. Rowling Is Shutting Down Readers Who Burned All Their Harry Potter Books

    The Scary Reason Healthy People Die After an ER Visit

    Watch Justin Timberlake’s ‘Cry Me a River’ Come to Life in Mesmerizing Dance

    Barack Obama’s Now Mainly Focusing on Wearing This Casual Backwards Hat

    Lady Gaga Pulled Off One of the Best Halftime Shows Ever

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Kolom

Ojol di Panggung Politik, Pengemudi Konvensional di Pinggir Jalan

by admin
September 10, 2025
in Kolom
0
Ojol di Panggung Politik, Pengemudi Konvensional di Pinggir Jalan
492
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Muhamad Akbar, Pengamat Transportasi

Dalam sepuluh tahun terakhir, wajah transportasi Indonesia berubah cepat. Kehadiran ojek online (ojol) yang relatif baru langsung mencuri perhatian publik. Mereka hadir di jalanan kota-kota besar, tampil di layar ponsel, bahkan diterima dalam pertemuan resmi di Istana Presiden dan kantor Wakil Presiden. Nama ojol hampir setiap pekan muncul di media. Menjelang musim pemilu, para politisi pun kian rajin merangkul mereka—difoto bersama di basecamp, diajak berdialog, atau dijadikan simbol kedekatan dengan masyarakat perkotaan.

Sebaliknya, pengemudi konvensional berada dalam posisi yang jauh berbeda. Padahal mereka sudah jauh lebih lama hadir: truk yang mengangkut barang antarprovinsi, bus yang menghubungkan kota, angkot yang setia melayani rute perkotaan, hingga taksi dan travel Hiace atau Elf. Jumlah mereka besar, tetapi gaungnya jarang terdengar. Suara mereka lebih sering tenggelam dalam hiruk-pikuk isu lain, seakan kiprah panjang itu kalah pamor dibanding fenomena baru bernama ojol.

Pertanyaannya, mengapa ojol bisa begitu cepat menjelma menjadi kekuatan sosial sekaligus politik, sementara pengemudi konvensional yang lebih dulu ada justru kerap luput dari perhatian?

Dereta ojek online. (foto: https://kabar24.bisnis.com/)

Seragam Ojol dan Kekuatan Simbolik di Ruang Publik

Kunci pertama ada pada identitas. Ojol tampil dengan seragam khas: jaket dan helm hijau dengan logo aplikasi mencolok. Dari kejauhan, masyarakat langsung tahu, “itu pengemudi ojol.” Identitas visual ini bukan sekadar pakaian kerja, melainkan simbol kebersamaan sekaligus tanda solidaritas yang membuat mereka mudah dikenali sebagai satu kelompok.

Pengemudi konvensional sebaliknya tidak memiliki identitas nasional. Seragam mereka berbeda-beda. Pengemudi angkot—atau mikrolet dan KWK di Jakarta—berbeda dengan yang ada di Surabaya. Pengemudi bus antarkota mengenakan seragam perusahaan masing-masing. Pengemudi truk umumnya hanya berkaos seadanya. Identitas yang terpisah-pisah ini membuat pengemudi konvensional sulit tampak sebagai satu kekuatan bersama di mata publik.

Solidaritas ojek online. (foto: https://tirto.id/)

Solidaritas Ojol di Era Digital

Solidaritas ojol berakar pada kesamaan nasib. Mereka sama-sama berhadapan dengan tarif rendah, potongan aplikasi tinggi, dan perlindungan hukum yang lemah. Rasa sepenanggungan inilah yang membuat mereka merasa berada dalam satu perahu. Era digital kemudian menjadi katalis yang memperkuat ikatan itu. Melalui WhatsApp, Telegram, dan media sosial, informasi cepat menyebar dan aksi bisa terkoordinasi hanya dalam hitungan jam. Untuk urusan kecil, seperti mengumpulkan dana bagi rekan yang terkena musibah, mereka bisa segera bergerak. Apalagi ketika menyangkut persoalan besar, protes serentak mudah muncul di berbagai kota.

Pengemudi konvensional berada dalam situasi sebaliknya. Selama ini mereka lebih banyak berada di bawah kendali organisasi pengusaha angkutan, seperti Organda, yang mewakili kepentingan pemilik armada. Pengemudinya sendiri jarang memiliki organisasi yang benar-benar mewakili kepentingan mereka di tingkat nasional. Kalaupun ada, biasanya hanya berbentuk paguyuban lokal atau serikat kecil, seperti pengemudi truk pelabuhan, pengemudi bus malam, atau koperasi pengemudi angkot. Persoalan ini diperparah oleh beragamnya kepentingan: ada yang berkonflik dengan pemilik armada, ada yang terlibat gesekan antar-pengemudi karena rebutan penumpang atau muatan. Di sisi lain, banyak pengemudi juga terikat pada aturan perusahaan yang membatasi ruang gerak mereka. Akibatnya, suara mereka terdengar lemah, sulit kompak, dan hampir mustahil membangun agenda bersama di tingkat nasional.

Kecelakaan pengojek online. (foto: https://www.radarbogor.id/)

Ketimpangan Sorotan Media

Ojol begitu sering menghiasi pemberitaan. Kisah mereka mudah diangkat media: perjuangan mencari nafkah di jalan, kecelakaan kerja, pengemudi yang menolong orang, hingga protes soal tarif. Gambaran “ojol sebagai simbol ketangguhan masyarakat kota” cepat tumbuh karena media menyajikan cerita keseharian yang menyentuh dan dekat dengan pembaca.

Sebaliknya, pengemudi konvensional jarang mendapat sorotan serupa. Mereka baru menjadi berita ketika terjadi kecelakaan besar, muncul isu truk ODOL (Over Dimension OverLoad), atau kemacetan akibat angkot yang ngetem. Jarang ada media yang menyorot keseharian pengemudi truk yang tidur berhari-hari di kabin truk demi memastikan barang sampai tujuan, atau pengemudi bus malam yang tetap terjaga agar penumpang bisa mudik dengan selamat. Padahal, tanpa mereka, roda transportasi Indonesia akan lumpuh. Minimnya pemberitaan yang membangun membuat pengemudi konvensional sering tersisih dari sorotan publik dibanding ojol.

Driver ojol di TPS. (foto: https://www.gojek.com/)

Ojol sebagai Segmen Politik

Politisi melihat ojol sebagai segmen pemilih yang strategis. Jumlah mereka besar, tersebar di kota-kota, dan dianggap punya pengaruh suara terhadap keluarga serta lingkungannya. Ojol kerap diposisikan sebagai swing voters perkotaan yang penting untuk dirangkul. Dengan sekali kunjungan ke basecamp ojol, seorang politisi bisa mendapat liputan media luas sekaligus membangun citra dekat dengan rakyat.

Sebaliknya, pengemudi konvensional tidak memiliki kekuatan massa yang seragam dan mudah digerakkan. Struktur hubungan kerja yang formal dengan pemilik armada membuat aspirasi mereka lebih sering disalurkan lewat mekanisme resmi—rapat atau negosiasi antara pengusaha dan pemerintah—bukan melalui aksi massa. Karena itu, politisi jarang melihat mereka sebagai kelompok pemilih yang strategis untuk didekati.

Ojek pangkalan atau ojek konvensional. (foto: https://daerah.sindonews.com/)

Langkah Strategis untuk Pengemudi Konvensional

Fenomena kontras antara kekompakan ojol dan lemahnya posisi pengemudi konvensional tidak seharusnya dibiarkan melebar. Ada sejumlah langkah strategis yang bisa ditempuh untuk memperbaiki keadaan.

Pertama, perlu didorong pembentukan organisasi pengemudi konvensional yang mandiri lintas moda—truk, bus, angkot, hingga taksi. Organisasi ini harus benar-benar melibatkan pengemudi secara aktif dan mampu merespons persoalan mereka dengan cepat, bukan sekadar mengikuti kepentingan asosiasi pengusaha.

Kedua, membangun identitas kolektif yang kuat bagi pengemudi konvensional. Jika ojol punya jaket dan helm hijau, pengemudi konvensional pun bisa memiliki simbol pemersatu. Misalnya, rompi oranye terang dengan strip reflektif yang berlaku nasional dan dilengkapi emblem “Pengemudi Indonesia”. Selain mudah dikenali sebagai tanda kebersamaan, rompi ini juga berfungsi meningkatkan keselamatan di jalan.

Ketiga, memperluas perlindungan sosial bagi semua pengemudi. Baik ojol maupun pengemudi konvensional harus dijamin aksesnya pada BPJS Ketenagakerjaan, jaminan kesehatan, hingga skema pensiun—program jaminan hari tua agar tetap ada penghasilan ketika mereka tidak lagi bisa bekerja. Bagi ojol, regulasi tarif perlu ditata lebih adil. Sementara bagi pengemudi konvensional, pola setoran dan kontrak kerja harus dibuat lebih transparan dan manusiawi.

Keempat, secara aktif membangun narasi positif di media. Sama seperti kisah inspiratif ojol yang sering viral, perlu digencarkan liputan tentang pengemudi konvensional. Misalnya kisah Nanang, pengemudi bus AKAP yang menolong penumpang tak berduit; Deden, pengemudi bus malam yang rela tidak libur demi mengantar pemudik saat Lebaran; atau Edi Susanto, pengemudi truk ekspedisi yang pernah tersesat di hutan tetapi tetap melanjutkan tugasnya. Kisah-kisah semacam ini mencerminkan ketangguhan dan empati pengemudi konvensional yang jarang mendapat sorotan publik.

Aneka moda transportasi umum. (foto: https://curcoleksentrik96.wordpress.com/)

Menuju Transportasi yang Berimbang

Ojol telah membuktikan bahwa identitas yang kuat—seperti jaket dan helm hijau yang begitu mencolok—ditambah jaringan digital yang sangat luas serta narasi media yang senantiasa positif, mampu memperkuat posisi tawar mereka dalam waktu relatif singkat. Namun, jangan dilupakan bahwa pengemudi konvensional tetap menjadi tulang punggung kokoh transportasi Indonesia: truk yang sabar mengangkut barang lintas pulau, bus yang setia menyambungkan kota, angkot yang tekun melayani jalur perkotaan, hingga taksi dan travel yang rajin menjangkau antar wilayah. Tanpa mereka, denyut transportasi nasional tentu akan terhenti.

Tantangan besar ke depan adalah menghadirkan keseimbangan nyata dalam hal narasi, perlindungan hukum, jaminan sosial, hingga kepastian ekonomi bagi seluruh pengemudi—baik ojol maupun konvensional. Ojol perlu terus diperkuat agar tidak sekadar diposisikan sebagai “tenaga murah aplikasi”, melainkan benar-benar tumbuh sebagai profesi yang bermartabat. Sementara itu, pengemudi konvensional mesti direvitalisasi dengan pembaruan sistem kerja yang lebih manusiawi, identitas kolektif yang lebih kuat, dan organisasi yang jauh lebih solid agar tetap relevan di tengah derasnya arus digitalisasi.

Pada akhirnya, wajah transportasi Indonesia harus ditampilkan secara lebih adil dan berimbang: hijau jaket ojol yang telah menjadi ikon era digital berdampingan dengan oranye rompi pengemudi konvensional—sebuah simbol persatuan dan kebanggaan profesi pengemudi transportasi. Keduanya sama-sama memastikan distribusi barang dan pergerakan manusia tetap terjaga dengan baik, sehingga roda pembangunan bangsa terus berputar dengan lancar, kokoh, dan berkesinambungan. (*)

Tags: ojekojek onlineojol di panggung politik
Share197Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

Operasi Patuh 2026 Dimulai, Korlantas: Kedepankan Pendekatan Humanis dan Edukatif

October 26, 2026
Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

Fahri Minta Masyarakat Berpikir Rasional dan tak Emosional, Utamakan Dialog Ketika Menyampaikan Kritik

October 26, 2026
Bapanas Akui Beras Premium Sempat Kosong di Sebagian Ritel

Gerakan Pangan Murah Disambut Antusias Warga Tuban: Disediakan 1 Ton Beras SPHP Harga Terjangkau

October 26, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2026 Jayakarta News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2026 Jayakarta News

Go to mobile version