• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Thursday, October 1, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Harga Beras Masih Mahal Meski Stok Surplus, Ini Kata Mentan

Harga Beras Masih Mahal Meski Stok Surplus, Ini Kata Mentan

Redaksi by Redaksi
August 18, 2025
in Agribisnis
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAKARTA NEWS – Harga beras masih mahal di atas harga eceran tertinggi (HET) meski stok surplus. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman (Mentan Amran) sebut penyebabnya.

Mentan Amran menilai informasi yang menyebut banyaknya penggilingan padi kecil yang tutup menjadi penyebab harga beras mahal tidak sepenuhnya tepat.

Menurut Amran, kondisi yang dialami penggilingan sebenarnya lebih terkait dengan struktur kapasitas yang tidak seimbang dengan produksi padi nasional, bukan semata karena faktor penutupan baru-baru ini.

“Sekarang ada tiga klaster penggilingan. Ada penggilingan kecil, menengah, dan besar. Yang kecil jumlahnya 161.000 unit. Yang menengah 7.300 unit. Yang besar 1.065 unit,” jelas Amran dikutip Minggu (17/8/2024).

Lebih lanjut Amran menguraikan, kapasitas giling yang tersedia di penggilingan kecil sudah mencapai 116 juta ton per tahun, sementara produksi padi nasional hanya sekitar 65 juta ton.

“Artinya, kapasitas giling jauh melampaui jumlah produksi sehingga banyak mesin yang menganggur,” kata Mentan.

Menurut Amran, jika kapasitas 116 juta sedangkan produksi padi Indonesia hanya 65 juta itu penggilingan berhenti beroperasi karena tidak ada pasokan.

Faktor musiman juga ikut menjelaskan mengapa sebagian penggilingan tidak beroperasi.

Produksi padi Indonesia didominasi pada semester pertama, yakni Januari hingga Juni, yang menyumbang sekitar 70 persen produksi nasional.

Akibatnya, sebagian besar gabah sudah digiling di periode itu, sedangkan pada semester kedua pasokan bahan baku berkurang.

Menurut Amran, ketimpangan harga antara penggilingan besar dan kecil turut menambah beban.

“Pemain besar mampu membeli gabah dengan harga lebih tinggi sehingga menggeser ruang gerak penggilingan kecil,” ujar Amran.

Seharusnya, kata Amran, penggiling besar tidak masuk mengganggu penggiling yang kecil.

“Karena yang kecil, kalau dia beli Rp6.500, yang besar beli Rp6.700. Kalau yang kecil naik Rp6.700, yang besar beli Rp7.000. Artinya, yang kecil terganggu,” terang Amran.

Meski begitu, Mentan Amran melihat dinamika pasar belakangan justru membawa dampak positif.

Penurunan penjualan beras premium di supermarket modern diikuti dengan peningkatan permintaan di pasar tradisional.

Hal ini, menurut Amran, memberi kesempatan bagi penggilingan kecil untuk kembali mendapatkan pasokan.

“Tapi lihat fenomena, setelah terjadi pengurangan premium di supermarket modern, terjadi peningkatan penjualan di pasar tradisional,” tukas Amran.

Amran juga menyoroti adanya praktik kecurangan yang ikut mengerek harga beras. Ada pihak-pihak yang menaikkan harga secara tidak wajar, jauh di atas harga seharusnya.

“Nah, setelah itu diperparah lagi dengan harga dan kualitas yang tidak benar. Itu mengangkat harga. Dan itu sudah berapa tersangka ditetapkan” kata Amran.

Berdasarkan pemantauan terbaru, Mentan Amran menyebut harga beras sudah mulai mengalami penurunan di sejumlah daerah, meski di beberapa wilayah lain masih bertahan.

Mentan Amran membantah anggapan bahwa tingginya harga beras saat ini disebabkan penyerapan besar oleh Bulog.

Menurut Amran, Bulog hanya menyerap sekitar 8 persen dari total beras yang beredar, sedangkan sisanya dikuasai swasta.

“Sekarang adalah yang diserap itu Bulog hanya 8 persen. 2,8 juta ton dibagi dengan 34 juta ton itu sama dengan 8 persen. Swasta serap 92 persen,” pungkas Amran. (yog)

Previous Post

Pesta Rakyat di Halaman Istana, Rakyat Menyatu dalam Kemerdekaan

Next Post

dr. Saraswati MP.Si: Pionir Penelitian Peluruhan Radikal Bebas dan Terapi Holistik di Indonesia

Redaksi

Redaksi

Next Post
dr. Saraswati MP.Si: Pionir Penelitian Peluruhan Radikal Bebas dan Terapi Holistik di Indonesia

dr. Saraswati MP.Si: Pionir Penelitian Peluruhan Radikal Bebas dan Terapi Holistik di Indonesia

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version