• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Wednesday, September 30, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Erpangir Ku Lau, Jejak Spiritual Hindu Pemena di Tepian Sungai Sembahe

Erpangir Ku Lau, Jejak Spiritual Hindu Pemena di Tepian Sungai Sembahe

Redaksi by Redaksi
March 16, 2026
in Histori
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

DELI SERDANG, JAYAKARTA NEWS – Ritual penyucian diri Erpangir Ku Lau kembali dilaksanakan oleh umat Hindu Pemena di kawasan sungai Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, Jumat (13/3/2026).

Kegiatan ini diselenggarakan Persatuan Hindu Pemena dengan dukungan Bimbingan Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama dan PHDI Provinsi Sumatera Utara sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi spiritual masyarakat Karo.

Ritual yang berlangsung di tepi aliran sungai Sembahe tersebut diikuti oleh tokoh adat, pemuka agama, serta umat Hindu Pemena dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Prosesi berlangsung khidmat dengan tetap mempertahankan tata cara adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Ketua panitia kegiatan dari Persatuan Hindu Pemena Ari Riandi Surbakti menyampaikan bahwa pelaksanaan Erpangir Ku Lau bukan sekadar ritual tradisional, tetapi juga sarana memperkuat identitas spiritual dan budaya masyarakat Karo. Menurutnya, tradisi ini merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda.

“Ritual ini mengandung nilai spiritual yang sangat dalam. Selain sebagai bentuk penyucian diri, Erpangir Ku Lau juga menjadi pengingat bagi kita untuk selalu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Dibata (Tuhan),” ujarnya, dikutip dari Laman Kemenag, Senin (16/3/2026).

Prosesi kegiatan diawali dengan doa (Ersudip) bersama yang dipimpin oleh pemuka adat dan pemangku ritual. Selanjutnya dilakukan pemberkatan air pangir, yaitu air yang telah dicampur dengan berbagai tumbuhan aromatik (berbagai macam jeruk dan daun daun) dan bunga sebagai simbol kesucian dan keseimbangan alam.

Setelah prosesi doa, para peserta mengikuti ritual Erpangir Ku Lau dengan melakukan penyucian diri menggunakan air pangir di aliran sungai. Ritual ini dipercaya mampu membersihkan diri dari unsur-unsur negatif serta memohon keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi kehidupan.

Pembimbing Masyarakat Hindu Elirosa Tarigan yang hadir mewakili Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara mengapresiasi terselenggaranya ritual ini. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian penting dari pelestarian kearifan lokal sekaligus memperkaya khazanah praktik keagamaan Hindu di Indonesia.

Ia menambahkan bahwa pemerintah melalui pembinaan keagamaan terus mendukung kegiatan-kegiatan yang bertujuan menjaga tradisi spiritual masyarakat, khususnya yang memiliki nilai budaya dan filosofi yang kuat.

“Secara filosofis, ritual Erpangir Ku Lau mengandung makna penyucian lahir dan batin. Air dalam ritual ini dipandang sebagai simbol kehidupan dan pemurnian, sedangkan pelaksanaan di sungai mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta,” ungkapnya.

Pembimas Hindu menyampaikan, ritual ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai spiritual dan kebijaksanaan hidup kepada masyarakat Karo. Melalui pelaksanaan Erpangir Ku Lau, masyarakat diharapkan mampu menjaga keseimbangan hidup, baik secara spiritual maupun sosial.

“Pelaksanaan ritual ini tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga momentum mempererat kebersamaan masyarakat. Kehadiran generasi muda dalam kegiatan tersebut menjadi harapan agar tradisi Erpangir Ku Lau tetap hidup dan terus diwariskan di masa yang akan datang,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, Persatuan Hindu Pemena bersama pemerintah berharap nilai-nilai spiritual, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Karo dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.***/mel

Tags: Erpangir Ku LaujayakartanewsJejak Spiritual Hindu PemenaTepian Sungai Sembahe
Previous Post

3 Pet Hotel di Jakarta, Tempat Paling Nyaman untuk Menitipkan Hewan Kesayangan Saat Mudik

Next Post

6 Hutan Di Indonesia yang Memukau

Redaksi

Redaksi

Next Post
6 Hutan Di Indonesia yang Memukau

6 Hutan Di Indonesia yang Memukau

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version