Alasan Atlet Kickboxing Viona Berani Ungkap Dugaan Kekerasan Seksual

JAYAKARTA NEWS – Atlet kickboxing nasional, Viona Amalia Adinda Putri memutuskan untuk mengungkap dugaan kekerasan seksual yang dialaminya. Dia berani membongkar kasus tersebut dengan harapan hal serupa tak terjadi lagi di lingkungan olahraga. Demikian dikutip dari Laman Kemenpora, Selasa (17/3/2026).

Keputusan tersebut tidak diambil dengan mudah karena sejak awal Viona mengaku diliputi rasa malu dan takut untuk berbicara. Dia mulanya sudah berupaya membuat pengaduan melalui jalur internal federasi, namun dinilai tidak memberikan perlindungan yang ia harapkan.

“Saya sudah buat pengaduan bersurat ke PP KBI, lalu saya juga terus melakukan follow-up lewat WhatsApp dan telepon sampai akhirnya dibentuk tim kode etik,” ujar Viona.

Namun, menurutnya proses tersebut tidak menghasilkan penyelesaian yang diinginkan. Karena merasa tidak mendapatkan perlindungan, Viona akhirnya memutuskan membawa kasus tersebut ke ranah hukum dengan melaporkan terduga pelaku ke pihak Kepolisian. Sebelumnya, dia juga sempat menyampaikan laporan kepada KONI daerah.

Peristiwa yang Viona laporkan disebut terjadi saat dirinya sedang menjalani masa latihan intensif. Dalam kondisi fokus mempersiapkan diri sebagai atlet, Viona mengaku mengalami perlakuan tidak pantas dari pelaku.

Viona mengaku keputusan untuk berbicara seperti ini bukanlah hal mudah. Pada awalnya dia merasa malu dan tidak memiliki keberanian untuk membuka diri sebagai korban. Karena itu, dia memilih melaporkan kejadian tersebut secara internal terlebih dahulu.

“Jujur awalnya saya malu dan tidak punya keberanian. Makanya saya hanya lapor secara internal (federasi) saja secara prosedur,” katanya.

Dalam proses pelaporan ke Kepolisian, Viona mengaku menjalani semuanya sendirian tanpa pendamping kuasa hukum. Viona mengatakan langkah tersebut diambil sebagai bentuk menjaga harga diri dan memperjuangkan keadilan.

Lebih lanjut, Viona berharap pengalamannya dapat menjadi pelajaran bagi atlet perempuan lainnya untuk berani menjaga diri dan tidak ragu melapor jika mengalami hal serupa.

“Saya minta tolong kepada atlet perempuan untuk jaga diri masing-masing. Jangan ragu untuk melapor. Mungkin kejadian seperti ini banyak, tapi jarang yang tidak mau bicara,” kata Viona.

Viona juga menegaskan bahwa prestasi dalam olahraga tidak boleh dibayar dengan mengorbankan harga diri dan martabat. “Jangan pernah menukar prestasi dengan harga diri dan martabat kalian,” pungkasnya.***/mel

SOIna Siap Gelar Pekan Special Olympics Nasional 2026 di Kupang

JAYAKARTA NEWS— Special Olympics Indonesia (SOina) menyiapkan dua ajang multi event besar, yakni Pekan  Special Olympics Indonesia (Pesonas) 2026 dan Special Olympics World Summer Games (SOWSG) 2027.

Pesonas dijadwalkan akan berlangsung di Kupang, Nusatenggara Timur, 13 sampai 17   Oktober 2026 di Kupang, NTT. Sedangkan SOWSG akan berlangsung di Santiago, Chile 12 sampai 26 Oktober 2027.

Demikian Ketua Umum Pusat Special Olympics Indonesia (SOIna), Warsito Ellwein di Jakarta,  Jumat  (13/3/2026). Warsito menjelaskan, pihaknya sudah menjalin komunikasi dengan Pemerintah NTT dan sangat mendukung kegiatan ini.

Pesonas 2026 merupakan ajang olahraga tertinggi multi cabor tingkat nasional sedangkan SOWSG merupakan  tertinggi tingkat dunia yang berlangsung setiap 4 tahun, Pesertanya adalah para  atlet bertalenta khusus atau  disabilitas intelektual.

SOIna adalah anggota Special Olympics Internasional yang secara teratur menyelangarakan pelatihan dan perlombaan bagi atlit bertalenta khusus.

Pesonas yang digelar di NTT merupakan ajang seleksi untuk atlet yang akan dikirim SOWSG di Santiago, Chile.  Delegasi Indonesia akan terdiri dari 69 orang atlit, pelatih dan official serta ditambah 5 orang   Jumlah itu lebih besar ketimbang dalam keikutsertaan ajang serupa di Berlin, 2023  yang terdiri dari 34 orang di mana Indonesia meraih 10 emas, 5 perak dan 8 perunggu.

Warsito  menargetkan untuk membawa pulang 20 medali emas, 35 perak dan 40 perunggu dalam kompetisi ini.

Menurutnya, lebih dari 2000 peserta dari seluruh dunia akan bergabung dalam kompetisi bergengsi ini di Santiago, Chile pada Oktober 2027.

SOIna, lanjut Warsito,  selama ini berusaha menyediakan kesempatan inklusif bagi penyandang disabilitas intelektual untuk menemukan dan mengeluarkan potensi juara dalam diri mereka.

“Atlet-atlet ini dapat merasakan sensasi berkompetisi dalam olahraga yang sesungguhnya serta mampu mengatasi perasaan rendah diri, memahami arti kemenangan dan tetap aktif sepanjang hidup mereka,” jelas Warsito.

Untuk mendukung kesuksesan  kedua ajang penting itu,  SOina  sedang   menyiapkan  Gala Dinner untuk penggalangan dana, menjaring dukungan donatur dan memperkenalkan potensi atlet bertalenta khusus kepada publik.

Acara ini juga berfungsi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, merayakan prestasi para atlet, serta membangun jejaring dengan mitra pendukung. Diingatkan Warsito bahwa di Indonesia,  citra para penyandang disabilitas intelektual ini masih sangat buruk. Bahkan, tak sedikit menganggap keberadaan mereka sebagai sebuah kutukan. Kondisi itu mesti menjadi perhatian bersama karena jumlah difabilitas intelektual di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 5 juta orang. (*)

Natal Bersama Odekta Elvina, Pulang Kampung ke Sidikalang untuk Berbagi Kasih dengan Keluarga dan Korban Bencana

JAYAKARTA NEWS – Perayaan natal tahun ini memiliki kesan mendalam bagi pelari jarak jauh putri Indonesia, Odekta Elvina Naibaho. Odekta bisa pulang ke kampung halamannya Sidikalang, Kabupaten Dairi, Sumatra Utara untuk berbagi kasih bersama keluarga.  

Sebagai seorang atlet nasional, merayakan Natal bersama keluarga adalah momen yang paling mengesankan. Menurut Odekta, berdoa bersama di gereja, makan bersama, hingga bercengkrama bersama sanak saudara adalah momen yang penuh kebahagian. 

“Yang membedakan natal tahun ini adalah bisa berkumpul dengan keluarga dan pulang ke kampung halaman. Walau tidak semeriah tahun sebelumnya. Saya dapat melihat suka cita anak-anak kampung dengan ketulusan, dengan apa adanya walau ditengah keterbatasan keadaan,” kata Odekta dalam Rilis Kemenpora, Jumat (26/12/2025).

Sumatra Utara memang menjadi salah satu wilayah yang terkena bencana. Odekta sendiri bisa merasakan bahwa perayaan natal tahun ini berbeda dengan sebelumnya, apalagi  banyak di daerah Sumatra yang menjadi korban bencana. Salah satunya rumah kakaknya. 

“Natal kali ini berat, Saya kembali ke kampung halaman berkumpul dengan keluarga di Sidikalang. Disini Natal tetap berjalan tetapi tidak seperti natal-natal sebelumnya,” ujar Odekta. 

Odekta juga menyampaikan bahwa medali emas yang dia raih di SEA Games 2025 Thailand lalu juga menjadi hadiah natal paling berharga. “Keberhasilan saya di Thailand menjadi hadiah Natal, saya senang bisa membawa oleh-oleh kabar berita yang segar dengan meraih medali emas,” tambah Odekta. 

Odekta juga berpesan natal tahun ini kiranya setiap orang dapat merasakan ketenangan hati, damai dan sukacita. “Kiranya tiap kita dapat memanfaatkan waktu dan kesempatan berkumpul dengan keluarga, sanak saudara ketika masih ada kesehatan dan waktu. Karena kita tidak tau waktu kapan selesai sehingga tidak menyesal,” pungkasnya. 

Odekta adalah salah satu atlet Indonesia yang memiliki kepedulian terhadap korban bencana Sumatra. Usai mendapatkan medali emas, Odekta juga melelang singlet lari yang dia pakai saat menjuarai maraton SEA Games 2025 usai tampil sebagai yang tercepat dalam perlombaan di Run Happy and Healthy Bike Lane, Bangkok, Minggu (14/12) lalu. Ia mengukir catatan waktu waktu 2 jam 43 menit 13 detik.

Bahkan sebelum berangkat ke Thailand, Odekta sudah mengatakan bahwa dia akan mendedikasikan penampilannya di SEA Games untuk korban bencana di Sumatra. Beberapa di antara korban bencana itu merupakan saudara dan teman Odekta. 

”Medali emas ini buat penguat teman-teman di Sumatra. Saya kelahiran Sidikalang, yang mana berarti anak Sumatra. Saya berdedikasi untuk Indonesia, kita Indonesia. Jangan merasa terkesampingkan. Selepas SEA Games, saya akan pulang kampung, melihat keadaan di sana. Kakak saya juga kena (bencana). Jadi, saya akan berkunjung ke sana, melihat saudara dan teman-teman di sana,” ujar Odekta.***/mel

Letda TNI Rizki Juniansyah Persembahkan Emas di SEA Games 2025 dan Pecahkan Rekor Dunia, Menpora Erick: Kita Tunjukkan Kedigdayaan Indonesia

BANGKOK, JAYAKARTA NEWS – Misi lifter andalan merah putih, Letda TNI Rizki Juniansyah, untuk kembali mempersembahkan medali emas dan pecahkan rekor terwujud saat turun di kelas 79 kg putra SEA Games 2025, Senin (15/12).

Tampil di hadapan publik yang memenuhi Chonburi Sports School, Chonburi, Rizki menunjukkan kekuatan yang tak tertandingi sejak awal lakukan angkatan snatch semputna seberat 160 kg.

Peraih emas Olimpiade Prancis 1024 ini semakin tak terkejar para lawan ketika sukses lakukan angkatan clean & jerk fantastis  seberat 205 kg. 

Catatan ini mengantarkan Rizki pecahkan  rekor asia dan rekor dunia untuk angkatan clean & jerk putra kelas 79 kg, yang sebelumnya tercatat seberat 204 kg.

Total angkatan Rizki seberat 365 kg juga menjadi rekor baru di Asia dan dunia untuk kelas 79 kg putra, melewati catatan sebelumny seberat 364 kg.

Dengan senyum bangga, pria yang resmi mengemban tugas sebagai perwira TNI sejak dua pekan lalu inipun pamerkan selebrasi hormat tunjukkan kebanggaan prestasi untuk negeri. Rizki pun mengucapkan terima kasih atas dukungan dan janji bonus yang diberikan Presiden RI, Prabowo Subianto.

“Alhamdulillah kemarin kita pelepasan, dan sangat baik disambut Bapak Presiden dengan hangat dan menyentuh hati banget para atlet dengan motivasinya dan support, ambisi banget Bapak, dan terima kasih untuk motivasi bonusnya. Jadi itu adalah loncatan ke depannya untuk atlet buat lebih semangat lagi latihan, saya sangat bersyukur, makanya saya selebrasi tadi itu khasnya menjadi tentara,” ujar  Rizki.

Keberhasilan Rizki Juniansyah menambah koleksi emas Indonesia di SEA Games 2025 dan mencetak rekor dunia dinilai Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir sebagai bukti kegigihan dan semangat patriotisme duta bangsa berjuang untuk negara.

“Selamat untuk Letda TNI Rizki Juniansyah yang konsisten menunjukkan performa fantastis setiap kali bertanding. Emas Olimpiade 2024 ternyata tak membuat Rizki terlena, bahkan malah semakin bersemangat latihan dan terbukti Rizki menunjukkan mental patriotik berjuang demi bangsa dan gigih melawan para pesaing. Inilah mental juara yang menunjukkan  kedigdayaan Indonesia,” puji Menpora Erick.***/mel

Menpora Erick Minta PB Agar Koordinasi dan Komunikasi dengan Kemenpora dalam Mempersiapkan Event Dunia

JAYAKARTA NEWS – Belajar dari adanya keputusan IOC terhadap olahraga Indonesia, Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Menpora RI) Erick Thohir berharap ke depan semua Pengurus Besar (PB) cabang olahraga agar melakukan koordinasi dan komunikasi dengan Kemenpora terkait penyelenggaraan event internasional.

Menpora Erick mengatakan pentingnya komunikasi dan koordinasi yang dilakukan PB dengan Kemenpora adalah bagian untuk antisipasi segala kemungkinan, serta bagian dari menyiapkan atlet dengan baik.   

“Saya juga menyampaikan ke PB agar kedepannya juga ada pembicaraan atau komunikasi dengan Kemenpora, jangan sampai event-event besar itu mendadak,” harap Menpora Erick.  

“Kita akan mengeluarkan surat edaran untuk kepada seluruh PB, mereka harus konsolidasi, koordinasi dan terbuka dengan Kemenpora agar jika ada event besar harus dipersiapkan 2 tahun sebelumnya. Karena tidak bisa dilakukan dadakan,” kata Menpora Erick di Media Center Kemenpora, Jakarta, Jumat (24/10) sore. 

Masih kata Menpora Erick, koordinasi tersebut juga bagian dari mempersiapkan atlet dengan baik, jangan sampai ketika Indonesia menjadi tuan rumah kejuaraan dunia, atletnya hanya sebagai penonton.  

“Terutama persiapan atletnya juga, kita ketika menjadi tuan rumah juga ingin atlet kita mengibarkan bendera Merah Putih di event tersebut, jangan hanya jadi penonton. Kita harus bisa berikan yang terbaik, kebanggaan bangsa kita harus tercerminkan,” tambahnya. 

“Event besar itu tidak hanya persiapan penyelenggaraan eventnya, melainkan juga atletnya, dan itu penting. Persiapan atlet kita perlu bertahun-tahun, untuk itu kami mengadakan diskusi dengan pihak Kemenkeu, khususnya untuk program ke depan yang akan fokus 17 cabor dan persiapan atlet elitnya kita minta multiyears,” pungkas Menpora Erick.***/mel

Wujudkan Asta Cita, Menpora Erick dan Mendes PDT Sepakat Kerja Sama Program Pemuda Pelopor dan Liga Desa

JAYAKARTA NEWS – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI Erick Thohir menerima kunjungan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto di Graha Kemenpora, Jalan Gerbang Pemuda Nomor 3, Senayan, Selasa (21/10) pagi. 

Menpora Erick menerangkan, kedatangan Mendes PDT Yandri tersebut dalam rangka menjalin kerja sama dan kolaborasi program yang sesuai dengan visi Presiden RI Prabowo Subianto melalui Asta Cita.
 
“Kami bersepakat untuk coba menggali, bersinergi sesuai dengan arahan Bapak Presiden, bahwa kita harus punya program yang efisien efektif terarah. Tetapi juga karena satu dan hal lainnya, membuat kita harus menjadi sebuah tim dalam bagaimana membangun visi Bapak Presiden,” ujar Menpora kepada awak media selepas pertemuan.

Menpora Erick menyebut, Mendes PDT menyampaikan ada dua program besar yang mungkin bisa dikembangkan dan disinergikan ke depan yaitu mengenai kepemudaan. Yang pertama yaitu program Pemuda-Pemudi Pelopor yang sebelumnya juga sudah bekerja sama dengan Kemenpora. 

“Tadi kami sepakat program ini juga bukan hanya per tahun, tetapi kita akan lakukan sampai 2029, sesuai masa kerja kami,” jelas Menpora.

“Kami juga sedang merevisi program kami salah satunya program pemuda bela negara, yang mungkin ini bisa jadi payung besar kerja sama ke depan,” imbuh Menpora Erick.

Program besar Kemendes PDT kedua yang akan dikolaborasikan, lanjut Menpora, yaitu di bidang keolahragaan dalam wujud Liga Desa. Selain itu juga ada cabang olahraga (cabor) esports yang akan dilakukan mulai tahun ini. Program keolahragaan ini menurut Menpora Erick ke depannya akan lebih dibesarkan lagi dengan tidak hanya digelar di satu provinsi saja tetapi juga di seluruh Indonesia.

“Kita akan dukung program Kemendes PDT sebagai leading sector-nya. Insyaallah kami dari Kementerian Pemuda dan Olahraga akan bekerja maksimal untuk program yang kita diskusikan hari ini,” ujar Menpora.

“Saya yakin dengan kerja sama ini kita punya impact atau hasil yang maksimal, karena memang desa menjadi salah satu bagian terpenting juga kita membangun pemuda kita ke depan,” tegas Menpora Erick.

Sementara itu Mendes PDT Yandri Susanto meyampaikan terima kasih kepada Menpora RI Erick Thohir atas dukungan kerja sama dan kolaborasi dua program besar yang digagas Kemendes PDT. 

Mendes PDT meyakini kerja sama kedua kementerian ini akan mewujudkan Asta Cita keenam Presiden Prabowo Subianto yaitu Pembangunan dari Desa untuk Pemerataan Ekonomi.

“Kami berterima kasih kepada Pak Menpora Erick Thohir yang sudah menerima kami. Kami banyak hadir di sini, dari Pak Sekjen, Pak Dirjen, full team dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal,” terang Mendes PDT Yandri.

Mendes PDT menjabarkan, dalam pertemuan itu, pihaknya berdiskusi hampir satu jam dengan Menpora. Diskusi menitikberatkan bagaimana desa memegang peranan penting, sesuai Asta Cita keenam Presiden yaitu membangun dari desa, dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan. 

“Nah pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan ini banyak sektor pemudanya,” tegas Mendes PDT Yandri.

Diterangkan, Kemendes PDT sebelumnya bersama Kemenpora telah bekerja sama melalui program Pemuda Pelopor Desa. Festival untuk program ini sedang berjalan yang diikuti seluruh desa di indonesia yang juaranya nanti diumumkan dalam momen peringatan Hari Desa.

“Jadi kami datang ke sini juga dalam rangka mengundang Pak Menpora untuk hadir di Hari Desa tanggal 15 januari 2026 di Boyolali, Jawa Tengah. Jadi ini Festival Bangun Desa, salah satu kategorinya adalah Pemuda Pemudi Pelopor Desa,” jelas Mendes PDT. 

Melalui diskusi juga diketahui bahwa program Kemenpora yaitu Pemuda Bela Negara dinilai sangat cocok berkolaborasi dengan Kemendes PDT. Pasalnya saat ini banyak program Presiden di desa yang semuanya membutuhkan peran pemuda. Di antaranya Koperasi Desa Merah Putih, ada Makan Bergizi Gratis, ada Badan Usaha Milik Desa dan Desa Ekspor.

“Kami meyakini dengan kerja sama Pak Menpora, kolaborasi yang luar biasa dari berbagai lini, insyaallah program ini akan menjadi program andalan, dan ujungnya bisa merealisasikan Asta Cita yang keenam Pak Prabowo, membangun dari desa,” harap Mendes PDT Yandri.

Sementara di sektor keolahragaan, Kemendes PDT siap berkolaborasi dengan Menpora dalam menggalakkan kegiatan olahraga di desa. Menurut Mendes PDT, olahraga juga erat kaitannya dengan masyarakat desa, karena olahraga berawal dari desa. Malahan banyak Dana Desa yang dimanfaatkan untuk membuat lapangan bola di desa.

Untuk itu Kemendes PDT siap berkolaborasi khususnya dalam penciptaan industri olahraga di desa yang memberi dampak pada perekonomian masyarakat. Salah satunya melalui Liga Desa. 

“Liga Desa itu juga salah satu yang akan kami gerakkan di tingkat desa. Dengan Liga Desa itu insyaallah ekonomi akan bergerak, banyak orang jualan makanan, jajanan, kemudian juga suvenir dan lain sebagainya,” terang Mendes PDT Yandri.

“Pokoknya insyaallah kolaborasi ini akan kami kawal dengan sedemikian rupa, sehingga dalam empat tahun ke depan ini benar-benar terasa di tingkat desa,” tegas Mendes PDT.***/mel

Wamenpora Taufik Dukung Kejuaraan Dunia Gimnastik 2025 Sukses dan Berdampak terhadap Pembinaan Atlet Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Wamenpora RI) Taufik Hidayat hari Minggu (19/10) pagi menghadiri pembukaan Kejuaraan Dunia Gimnastik 2025 atau 53rd FIG Artistic Gymnastics World Championships 2025 di Indonesia Arena, Jakarta.

Wamenpora Taufik menyampaikan bahwa pemerintah sangat mendukung Kejuaraan Dunia Gimnastik 2025. “Kita tahu kejuaraan dunia Gimnastik ini sudah disiapkan sejak lama, saya dan Ketua Umum (Ketum) Federasi Gimnastik Indonesia Ita Yuliati juga sempat menghadap Presiden Prabowo, dan beliau sangat mendukung ajang ini bisa berjalan dengan baik,” kata Wamenpora Taufik.

Selain sukses penyelenggaraan, Wamenpora Taufik juga berharap Kejuaraan Dunia Gimnastik 2025 kali ini bisa menjadi ajang bagi atlet-atlet Gymanstic di Indonesia untuk berprestasi baik di tingkat nasional hingga internasional. 

“Kita tahu Gimnastik adalah salah satu mother of sport di Indonesia, saya harap adanya kejuaraan dunia gimnastik yang baru pertama digelar di Indonesia bisa menjadi ajang pembibitan dan pembinaan atlet-atlet muda gimnastik kita. Sekali lagi pemerintah mendukung penuh kejuaraan ini agar sukses,” ujar Wamenpora Taufik. 

Sementara itu Ketua NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari menyampaikan kejuaraan dunia Gimnastik tahun ini adalah sejarah, karena baru kali kejuaraan dunia gimnastik bisa diselenggarakan di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. 

Oleh karena itu Okto berharap ajang ini bukan hanya sebagai pertunjukan saja melainkan bisa menjadi daya tarik bagi atlet atau penggiat senam di Indonesia untuk bisa berkembang.

“Saya berharap Ketua FGI bisa mengajak seluruh atlet atau pengurus senam yang ada di daerah untuk datang menyaksikan kejuaraan senam bersejarah ini. Karena akan banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari ajang ini,” kata Raja Sapta Oktohari. 

“Kejuaraan dunia ini bisa mendorong lebih banyak lagi atlet gymastic di Indonseia. Ini adalah sejarah karena pertama kali Indonesia menjadi tuan rumah kejuaraan dunia. Saya yakin ini bisa menjadi batu loncatan yang baik untuk prestasi senam di Indonesia,” tambahnya. 

Ketua Umum (Ketum) Federasi Gimnastik Indonesia adalah Ita Yuliati mengucapkan terima kasih kepada pemerintah dalam hal ini Bapak Presiden dan Kemenpora serta NOC Indonesia yang terus mendukung kejuaraan ini agar berjalan dengan sukses. 

“Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, Kemenpora dan NOC Indonesia yang sampai hari ini terus mendukung kejuaraan ini agar bisa berjalan dengan baik. Dari kejuaraan ini banyak manfaat yang kita ambil untuk mengembangkan olahraga senam di Indonesia. Salah satunya alat-alat yang nantinya bisa digunakan untuk mengembangkan pembinaan atlet di daerah,” ujar Ita Yuliati.***/mel

SSB Bhayangkara Bandung Siap Berlaga di Jakarta International Stadium

BANDUNG, JAYAKARTA NEWS — Sekolah Sepak Bola (SSB) Bhayangkara Bandung yang bermarkas di Soreang, Bandung, tengah melakukan persiapan matang jelang Festival Ortuseight Gress Root seri nasional yang akan digelar pada 24–27 Oktober 2025* di Jakarta International Stadium (JIS).

Turnamen ini akan mempertemukan berbagai tim yg mewakili masing masing derah salah satu SSB Bhayangkara Bandung menjadi 4 team terbalik hasil festival Gress root ASKAB PSSI Kab Bandung.katagori
KU 2015

Pemain muda berbakat dari seluruh Indonesia, dan menjadi ajang pembuktian bagi SSB Bhayangkara Bandung yang dikenal dengan pembinaan teknik dan karakter pemain sejak usia dini.

Latihan Intensif dan Pemantapan Taktik

Selama dua pekan terakhir, para pemain muda SSB Bhayangkara Bandung menjalani latihan intensif yang mencakup teknik dasar, strategi permainan, serta simulasi pertandingan. Fokus utama tim pelatih adalah membangun kekompakan dan mental bertanding yang tangguh.

“Kami tidak hanya melatih fisik dan teknik, tapi juga membentuk karakter anak-anak agar siap menghadapi tekanan pertandingan besar,” ujar pelatih kepala SSB Bhayangkara Bandung coach Dadang.S (Doro).

Komentar Kepala Sekolah

Kepala Sekolah SSB Bhayangkara,Bandung Aiptu Maman Darmansyah, menyampaikan optimismenya terhadap kesiapan tim.

“Kami bangga anak-anak bisa tampil di JIS, stadion bertaraf internasional. Ini bukan hanya soal menang, tapi soal pengalaman dan pembentukan mental juara. Kami berharap mereka bisa bermain dengan semangat Bhayangkara Bandung disiplin, sportif, dan pantang menyerah,” ungkap Aiptu Maman Darmansyah.
“Dan insyaallah tidak lama lagi kami akan launching perubahan dari SSB Bhayangkara Bandung menjadi Bhayangkara FC youth Jawa Barat” tambahnya

Tentang JIS

Jakarta International Stadium menjadi sorotan karena fasilitasnya yang modern dan kapasitas besar, menjadikannya tempat ideal untuk menggelar kompetisi usia muda yang bertujuan menjaring bibit unggul sepak bola nasional.

Dengan semangat dan persiapan matang, SSB Bhayangkara Bandung siap memberikan penampilan terbaik dan membawa nama ASKAB Soreang Kab Bandung ke panggung nasional. Dukungan penuh dari orang tua, pelatih, dan sekolah menjadi modal utama dalam perjalanan mereka menuju JIS. (Agus Oyenk)

Dari Jalanan Jadi Prajurit TNI AD, Perjuangan Sabam Parulian Manalu Bina Kakak Beradik Lewat Tinju

Dua kakak beradik asal Medan, Iqbal Razoky Simatupang dan Duta Fadila Simatupang, membuktikan bahwa latar belakang bukan penentu masa depan. Dulu hidup terlantar di jalanan, kini mereka resmi menyandang pangkat Prajurit Dua TNI Angkatan Darat setelah lulus pendidikan militer melalui jalur prestasi olahraga.

Keberhasilan ini tak lepas dari peran Sabam Parulian Manalu, Ketua Pengprov Pertina Sumatera Utara, yang dengan kedisiplinan, ketegasan, dan kepeduliannya membina oara petunju sejak remaja hingga menjadi atlet tinju berprestasi dan kini menjadi prajurit. Tapi tak terlepas juga dari Kapaldam I BB Kolonel Rony Simatupang selaki Pembina, yang membantu sepenuh hati.

Lulus Dikmata TNI AD Lewat Jalur Prestasi

Iqbal dan Duta mengikuti Pendidikan Pertama Tamtama Infanteri (Dikmata) Gelombang II TA 2025 di Rindam I/Bukit Barisan, Pematang Siantar, dan resmi dilantik pada Sabtu, 13 oktober 2025.

Upacara penutupan dipimpin oleh Pangdam I/Bukit Barisan, Mayjen TNI Rio Firdianto, dan diikuti oleh 2.312 prajurit baru. Keduanya menjadi bagian dari peserta yang diterima melalui jalur prestasi olahraga, mewakili Pusdiklat Pertina Sumatera Utara.

Kisah Kecil yang Mengubah Hidup

Beberapa tahun lalu, kehidupan Iqbal dan Duta nyaris tak memiliki harapan. Ayah mereka terjerat narkoba, ibu meninggalkan rumah, dan mereka hidup berpindah-pindah tanpa arah.

Melihat situasi itu, Sabam Parulian Manalu turun tangan. Ia menjemput mereka dari jalanan, memberi tempat tinggal, menyekolahkan sejak SMP, dan menanggung seluruh biaya hidup serta pendidikan. Ia juga memperkenalkan mereka pada dunia tinju.

“Saya tanya, ‘Kau mau jadi petinju?’ Mereka mengangguk. Itu titik baliknya,” kata Sabam.

Tinju Sebagai Alat Pembentukan Karakter

Di bawah bimbingan Sabam, mereka tak hanya dilatih secara fisik, tetapi juga dibentuk mental dan karakternya. Nilai disiplin, tanggung jawab, dan etika menjadi bagian penting dari pelatihan.

“Mereka belajar menghargai waktu, hormat pada pelatih, dan punya mental petarung. Itu yang membawa mereka lolos seleksi TNI tanpa hambatan,” jelas Sabam.

Proses seleksi dilakukan secara terbuka dan profesional. Keduanya diterima tanpa pungutan apa pun, seluruh proses ditanggung negara.

Bukan Sekadar Pembinaan Musiman

Apa yang dilakukan Sabam bukanlah kepedulian musiman. Ia hadir sejak para atlet ini belum dikenal siapa pun, bahkan sebelum mereka menginjak ring tinju.

“Ini bukan tentang prestasi semata, tapi tanggung jawab moral. Atlet bukan proyek, tapi amanah. Bahkan, ayah mereka kini sudah berhenti memakai narkoba setelah kami bantu rehabilitasi,” ungkap Sabam.

Pesan Moral untuk Dunia Olahraga

Kisah Iqbal dan Duta menjadi inspirasi sekaligus refleksi. Bahwa disiplin, ketekunan, dan pembinaan karakter jauh lebih penting daripada sekadar pencapaian medali.

“Pertanyaannya: apakah kita benar-benar membina, atau hanya hadir saat kamera menyala?” pungkas Sabam.

Dari Ring ke Barak

Kisah dua anak yang dahulu hidup tanpa arah kini menjadi bagian dari pasukan penjaga kedaulatan NKRI. Semua itu terwujud berkat tangan dingin seorang pelatih yang melihat potensi, bukan latar belakang.

Sabam Parulian Manalu membuktikan bahwa menjadi pengurus olahraga bukan hanya soal kompetisi, tetapi soal kehadiran nyata dalam hidup atlet.

Selamat bertugas untuk Iqbal dan Duta — semoga semangat juang di ring kini terus menyala di medan pengabdian. (*)

Autopsi Kegagalan Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2026

Oleh : Heri Mulyono

Kekalahan 0-1 dari Irak menjadi titik nadir perjalanan Garuda yang penuh ambisi namun minim eksekusi strategis

Stadion King Abdullah Sports City di Jeddah menjadi saksi bisu terkuburnya mimpi Indonesia untuk pertama kalinya melangkah ke Piala Dunia setelah tim Garuda kalah 0-1 dari Irak pada Minggu (12/10) dini hari WIB. Gol tunggal Zidane Iqbal di menit ke-76 bukan sekadar angka di papan skor, melainkan representasi dari serangkaian keputusan kontroversial, manajemen yang carut-marut, dan ambisi yang tidak dibarengi dengan perencanaan matang.

Drama di Jeddah: Dominasi Tanpa Gol

Pertandingan melawan Irak seharusnya menjadi ajang pembuktian Indonesia di kancah Asia. Tim Garuda tampil dengan strategi pressing tinggi yang sukses membuat Irak kesulitan mengembangkan permainan. Indonesia menciptakan banyak peluang: tembakan spekulasi Calvin Verdonk di menit keenam, ancaman dari Thom Haye, sontekan Mauro Zijlstra yang diblok, hingga kemelut di menit ke-33 yang hampir menghasilkan gol.

Di babak kedua, situasi tidak berubah. Kevin Diks mendapat peluang emas di menit ke-65, namun tembakannya kurang keras dan mudah diamankan kiper Jalal Hassan. Ole Romeny juga hampir mencetak gol melalui serangan balik, namun digagalkan pelanggaran keras Zaid Tahseen.

Namun, alih-alih mencetak gol, Indonesia justru kebobolan di menit ke-76 melalui tembakan mendatar Zidane Iqbal. Meski bermain dengan keunggulan numerik setelah Ibrahim Bayesh mendapat kartu merah di injury time, Indonesia tidak mampu menyamakan kedudukan. Dominasi tanpa konversi—cerita lama yang terus berulang dalam sepak bola Indonesia.

Paradoks Program Naturalisasi

Program naturalisasi yang digadang-gadang sebagai shortcut menuju kejayaan ternyata menyimpan kompleksitas yang tidak diperhitungkan. PSSI dengan agresif mendatangkan pemain keturunan Indonesia dari Eropa: Jay Idzes, Kevin Diks, Calvin Verdonk, Eliano Reijnders, hingga Thom Haye. Namun, kehadiran mereka justru memunculkan dilema baru.

Pertama, soal chemistry tim. Sepak bola membutuhkan pemahaman kolektif yang terbangun melalui waktu dan kultur yang sama. Para pemain naturalisasi, meski memiliki kualitas teknis superior, seringkali terlihat seperti puzzle yang dipaksakan masuk. Pertandingan melawan Irak menjadi bukti: meskipun Indonesia mendominasi, ketajaman di depan gawang menjadi masalah serius.

Kedua, program naturalisasi yang terlalu ambisius menghambat perkembangan pemain lokal. Talenta-talenta muda kehilangan kesempatan bermain karena posisi mereka sudah diisi pemain naturalisasi. Ini menciptakan stagnasi dalam regenerasi pemain nasional.

Ketiga, naturalisasi tanpa sistem yang jelas adalah sia-sia. Timnas Indonesia di bawah berbagai pelatih seringkali terlihat kebingungan tentang filosofi permainan. Ketidakjelasan ini membuat para pemain tidak bisa tampil maksimal.

Negara seperti Qatar dan Jepang juga melakukan naturalisasi, namun dengan sistem yang jelas dan tidak mengorbankan pengembangan pemain lokal. Indonesia perlu belajar bahwa naturalisasi harus menjadi pelengkap, bukan pengganti, dari sistem pembinaan yang solid.

Pemecatan Shin Tae-yong: Keputusan Fatal

Jika ada satu keputusan yang paling kontroversial, itu adalah pemecatan Shin Tae-yong (STY) di tengah kampanye kualifikasi. Pelatih Korea Selatan ini membangun sistem permaianan terstruktur dan memberikan identitas pada tim. Di bawah STY, Indonesia dikenal dengan pressing tinggi, transisi cepat, dan permainan langsung yang efektif.

Namun, seiring tekanan meningkat, performa Indonesia mulai inkonsisten. Beberapa kekalahan membuat posisi STY goyah. Media massa dan suporter mempertanyakan metodenya. PSSI, yang seharusnya memberikan backing penuh, justru terombang-ambing oleh tekanan publik.

Pemecatan STY justru memperparah situasi. Tim kehilangan figur yang memahami karakter setiap pemain. Yang lebih parah, pemecatan di tengah kualifikasi memberikan pesan bahwa PSSI tidak memiliki kesabaran dan visi jangka panjang.

Pertanyaannya: apakah STY benar-benar gagal, atau dia korban ekspektasi yang tidak realistis? Faktanya, STY mewarisi skuad dalam transisi dengan pemain naturalisasi yang baru bergabung. Tiga hingga empat tahun adalah waktu standar yang dibutuhkan pelatih untuk membangun tim, namun STY tidak diberikan waktu yang cukup.

Patrick Kluivert: Nama Besar, Hasil Mengecewakan

Penunjukan Patrick Kluivert sebagai pengganti STY adalah keputusan penuh perhitungan marketing namun minim substansi. Legenda Barcelona ini didatangkan dengan harga mahal dan narasi bahwa nama besarnya akan membawa mentalitas juara.

Realitanya? Mengecewakan. Laga melawan Irak menjadi ujian nyata, dan hasilnya buruk. Meskipun Indonesia tampil dominan, ketidakmampuan mencetak gol menunjukkan ada yang salah dengan pendekatan taktis.

Kluivert kesulitan memahami konteks sepak bola Asia. Gaya possession-based football ala Belanda tidak sepenuhnya cocok dengan karakteristik pemain Indonesia yang lebih unggul dalam kecepatan dan transisi cepat. Lebih parah, Kluivert tidak memiliki solusi ketika tim kesulitan membobol pertahanan rapat.

Kesalahan taktis terlihat dari pilihan formasi yang terlalu ofensif tanpa mempertimbangkan kekuatan lawan. Irak lebih pragmatis: membiarkan Indonesia menguasai bola, namun memanfaatkan satu peluang yang mereka ciptakan. Efektivitas lebih penting daripada dominasi tanpa gol.

Komunikasi juga menjadi masalah. Kluivert tidak fasih berbahasa Indonesia dan harus mengandalkan penerjemah. Di momen krusial, komunikasi yang tidak lancar ini merugikan.

Penunjukan Kluivert mengkonfirmasi bahwa PSSI lebih mementingkan nama besar daripada kesesuaian dan track record relevan. Ada banyak pelatih Asia dengan pemahaman lebih baik tentang sepak bola regional yang mungkin lebih cocok.

Masalah Finishing: Luka Lama yang Tak Sembuh

Jika ada satu masalah teknis yang paling mencolok, itu adalah finishing yang buruk. Pertandingan melawan Irak adalah bukti: Indonesia menciptakan puluhan peluang namun tidak satupun berbuah gol. Ini adalah luka lama yang tidak pernah sembuh.

Mauro Zijlstra, Thom Haye, Kevin Diks, Eliano Reijnders—semua mendapat peluang bagus namun gagal mengeksekusi. Ini menunjukkan kurangnya latihan khusus untuk finishing dan mental mencetak gol. Dalam sepak bola modern, efektivitas di depan gawang adalah segalanya.

Kluivert, yang seharusnya sebagai mantan striker top bisa memberikan pengetahuan tentang seni mencetak gol, tampaknya gagal mentransfer ilmunya. Ini menunjukkan bahwa menjadi pemain hebat tidak otomatis membuat seseorang menjadi pelatih yang baik.

Akar Masalah: Tata Kelola PSSI

Di balik semua drama, akar masalah terletak pada tata kelola PSSI yang belum profesional. Keputusan strategis sering dibuat reaktif, bukan berdasarkan perencanaan matang. Tidak ada roadmap jelas untuk pembangunan sepak bola nasional.

Kegagalan ini memperlihatkan bahwa Indonesia belum memiliki football philosophy yang jelas. Apa identitas sepak bola Indonesia? Bagaimana kita ingin bermain? Pertanyaan fundamental ini belum terjawab.

Bandingkan dengan Vietnam yang konsisten dengan pelatih Korea Selatan dan sistem permainan yang sama selama bertahun-tahun. Thailand berinvestasi besar dalam infrastruktur dan liga domestik. Indonesia, sebaliknya, masih terjebak dalam siklus setan: pelatih baru datang dengan filosofi baru, belum matang sudah dipecat, dan siklus terulang.

Liga Domestik: Fondasi yang Rapuh

Kualitas liga domestik sangat mempengaruhi performa timnas. Liga 1 Indonesia, meski sudah lebih baik, masih memiliki banyak pekerjaan rumah. Kualitas kompetisi tidak merata, manajemen klub masih amatir, dan infrastruktur belum memadai.

Ironisnya, beberapa pemain terbaik Indonesia justru bermain di luar negeri. Ini menunjukkan talenta ada, namun lingkungan domestik belum mampu mengoptimalkan potensi mereka. Diperlukan reformasi menyeluruh dalam tata kelola liga.

Aspek Mental dan Kultur

Sepak bola Indonesia masih dihantui oleh mentalitas “takut menang”—sindrom psikologis di mana tim tidak percaya diri dalam situasi tekanan tinggi. Pertandingan melawan Irak adalah contoh sempurna. Indonesia tampil bagus dan mendominasi, namun ketika dihadapkan pada momen krusial untuk mencetak gol, pemain terlihat gugup.

Kultur instan dan kurang sabar juga menjadi hambatan. Pembangunan tim membutuhkan waktu 4-8 tahun, namun pelatih bisa dipecat dalam beberapa bulan. Tekanan publik dan media yang berlebihan memperparah situasi. Setiap kekalahan direspons dengan hujatan massal dan tuntutan pemecatan.

Jalan ke Depan: Tujuh Langkah Konkret

Kegagalan ini harus menjadi momen refleksi mendalam. Beberapa langkah konkret yang perlu dilakukan:

Pertama, evaluasi menyeluruh program naturalisasi. Naturalisasi harus dilakukan selektif dan tidak menghambat regenerasi pemain lokal. Pemain naturalisasi harus diberi waktu cukup untuk beradaptasi.

Kedua, komitmen pada satu visi dan filosofi permainan jangka panjang. Rekrut pelatih yang sesuai dengan filosofi dan beri waktu minimal 4 tahun untuk membangun. Jangan mudah terpengaruh tekanan publik.

Ketiga, investasi serius pada pembinaan usia muda dan liga domestik. Akademi sepak bola harus dibenahi, standar pelatih ditingkatkan, dan fasilitas latihan dimodernisasi.

Keempat, profesionalisasi tata kelola PSSI. Keputusan strategis harus berbasis data dan analisis, bukan reaktif. Perlu ada independensi dalam pengambilan keputusan teknis.

Kelima, membangun mentalitas juara sejak dini. Program psychology dan character building harus menjadi bagian integral dari pembinaan pemain.

Keenam, fokus pada peningkatan kualitas finishing. Latihan khusus untuk finishing harus menjadi prioritas. Mungkin perlu pelatih khusus striker yang bisa memberikan pengetahuan mendalam.

Ketujuh, membangun komunikasi yang lebih baik antara PSSI, pelatih, pemain, dan publik. Ekspektasi harus dikelola dengan realistis. Media juga harus lebih bijak dalam memberitakan.

Epilog: Mimpi yang Tertunda, Bukan Mati

Kekalahan 0-1 dari Irak di Jeddah adalah pukulan telak yang membuat mimpi Indonesia ke Piala Dunia 2026 pupus. Namun, ini bukan akhir dari segalanya. Indoneia masih memiliki potensi besar: populasi besar, antusiasme suporter luar biasa, dan semakin banyak talenta muda yang muncul.

Piala Dunia 2026 mungkin terlewatkan, tetapi ada Piala Dunia 2030, 2034, dan seterusnya. Pertanyaannya: apakah Indonesia mau terus terjebak dalam siklus gagal-evaluasi-ganti strategi-gagal lagi, atau kali ini benar-benar belajar dan membangun fondasi yang kokoh?

Pemecatan STY dan penunjukan Kluivert harus menjadi pelajaran mahal bahwa solusi instan tidak pernah berhasil. Yang dibutuhkan adalah visi jangka panjang, konsistensi, dan kesabaran. Program naturalisasi juga harus direformasi: bukan untuk menggantikan pemain lokal, tetapi untuk melengkapi mereka.

Kegagalan hari ini harus menjadi guru terbaik untuk kesuksesan masa depan. Mimpi Indonesia di Piala Dunia bukan mustahil, tetapi butuh lebih dari sekadar ambisi—ia butuh kerja keras, kesabaran, komitmen pada visi jangka panjang yang jelas, dan keberanian untuk mengakui kesalahan serta melakukan perubahan fundamental.

Mari jadikan kekalahan ini sebagai titik balik, bukan titik akhir. Garuda pasti bisa terbang tinggi, asalkan pondasi yang dibangun kuat dan visi yang diusung jelas. Saatnya Indonesia berhenti bermimpi dan mulai bekerja keras mewujudkan mimpi itu dengan cara yang benar. (*)