SEKALI DI UDARA TETAP TERTAWA

JAYAKARTA NEWS – HARI ini tanggal 13 Februari diperingati oleh UNESCO sebagai Hari Radio Sedunia sejak 2011.

Tapi saya tak hendak menulis tema hari radio dunia 2025 tentang Radio & Perubahan Iklim. Saya lebih tertarik menulis tentang penyiar radio yang menangis, viral, karena imbas efisiensi anggaran dari pemerintah.

Sebelum sampai pada penyiar menangis saya mendapat sebaran pengumuman begini:

Terhitung hari senin tanggal 10 Feb 2025 pemancar PRO 4 RRI Tanjungpinang (juga ada
Ternate, Semarang, dsb) akan dinonaktifkan, sehingga sobat RRI pendengar PRO 4 tidak
dapat mendengarkan siaran PRO 4 melalui terestrial di FM 101,3 MHz.

Pendengar PRO 4 hanya bisa mendengarkan siaran melalui streaming di aplikasi RRI
Digital.
Untuk siaran PRO 1 yang semula berkekuatan 5 Kilowatt akan diturunkan menjadi 2,5
kilowatt.
Terima kasih.

Membaca pengumuman yang, tampaknya, viral itu saya bertanya-tanya, ada masalah apa
dengan siaran radio streaming? Saya tidak fokus pada penurunan kekuatan daya pancar 5
Kw menjadi 2,5 Kw atau kalimat pengumuman yg lain. Ada kata HANYA bisa didengarkan
melalui streaming. Ini seperti pengumuman, mulai besok tidak bisa makan daging ayam tapi
HANYA bisa makan Tahu.

Apakah tahu tidak lebih baik dari ayam? Apakah Radio Streaming tidak lebih baik dari
terestrial?

Seharusnya pengumuman itu berbunyi:

Sobat RRI menyesuaikan dengan perkembangan zaman maka sejak sekarang kami FOKUS
atau mengutamakan siaran menggunakan konsep STREAMING.
Selanjutnya, daya jangkau siaran terestrial lambat laun diminimalkan.

Kalau pakai bahasa dimatikan mungkin terlalu ekstrim tapi mau sampai kapan duit habis
puluhan mungkin ratusan juta rupiah buat bayar listrik pemancar setiap bulannya?

Era sudah berubah. Konsep siaran berbasis internet atau streaming adalah keniscayaan
bukan kenistaan. Bahkan untuk Indonesia yang luas dengan banyak pulau ini konsep siaran
radio streaming sangat cocok. Sebab dengan siaran di satu tempat, misal di Tanjungpinang,
pesan penyiar yang disampaikan dapat menjangkau seluruh dunia. Selama ada jaringan
internet siaran radio tersebut dapat diterima.

Bahwa ada yang berpendapat, belum semua wilayah di Indonesia ada internet. Pertanyaan
balik apakah semua wilayah juga dapat menangkap/mendengarkan siaran terestrial? Tidak
juga. Tapi kalau berpikirnya masih “terestrial” atau “kolonial” ya akan terus ketinggalan.

Radio Streaming

Perkembangan atau teknologi siaran radio streaming terus maju dan berkembang bukan
hanya di luar negeri tetapi juga Indonesia. Mereka yang ingin siaran radio tetapi tidak
mendapatkan kesempatan mengelola kanal frekuensi yang infrastrukturnya mahal dan
ngurusnya ribet, sekarang bisa bikin radio sendiri memanfaatkan internet. Mereka bisa
siaran dari mana saja, dari pelosok desa sampai pusat kota dan siarannya menjangkau
dunia.

Keuntungan radio streaming adalah dapat diterima dimana saja selama ada internet. Cukup
menggunakan pesawat handphone atau laptop siaran radio bisa didengarkan dengan
kualitas suara jernih. Sudah beredar di pasaran pesawat radio internet jika enggan dengar di
HP. Bandingkan dengan seberapa banyak orang sekarang masih menenteng radio
transistor atau radio konvensional dibanding yang menggunakan HP? Jika ingin menjangkau
pendengar lebih banyak maka radio streaming adalah salah satu pilihan tepat saat ini.

Meminjam survei Google tahun 2023, Think Tech, Rise of Foldables: The Next Big Thing in
Smartphone orang Indonesia yang menggunakan HP mencapai 128% dari total penduduk
(versi BPS) adalah 278,69 juta jiwa. Dari data tersebut berarti, ada (banyak) orang yang
memiliki lebih dari satu pesawat HP. Jumlah itu pastinya lebih meningkat lagi tahun 2025.
Artinya ada lebih banyak orang berpeluang mendengarkan siaran radio streaming dibanding
mendengarkan lewat pesawat radio konvensional. Jadi, sekali lagi, mendengarkan radio
streaming bukan hal memalukan karena dunia memang sedang atau bahkan sudah
berubah.

Mengapa banyak orang malas berubah sementara zaman berubah? Ada kenyamanan di
alam lama sana meskipun boros dan tidak praktis. Boros listrik, boros kertas, boros macam-
macam.

Antena radio di sejumlah negara mulai dirobohkan karena pengelola radio terstrial pindah konsep siaran streaming atau internet. (foto:ist)

Penyiar Menangis Sedu

Belum selesai terbengong-bengong karena membaca pengumuman pemancar
dinonaktifkan muncul tayangan video penyiar sedang menangis tersedu sedan. Judul
videonya begini: Curahan Hati Penyiar RRI untuk Presiden Prabowo Usai Terkena PHK
Dampak Efisiensi.

Isi pesannya sambil mengurai, menyeka air mata dalam suara parau begini:
Bapak, kita tau bahwa efisiensi anggaran yang bapak lakukan saat ini yaitu untuk
menunjang agar program-program bapak presiden berjalan dengan baik. Seperti makan
gratis untuk anak-anak. Tetapi sudahkah bapak berpikir bahwa ketika pagi hari bapak
berhasil memberikan makan gratis dan bergizi untuk anak-anak ketika mereka pulang ke
rumah mereka mendapati orang tua mereka tidak bisa memberikan makan siang dan
malam yang layak? Karena ternyata orang tua mereka harus di-PHK atau dirumahkan
karena efisiensi yang telah bapak lakukan. Lalu menurut bapak dimana yang bapak bilang
sangat mencintai rakyat bapak?

Setelah mendengar pesan video tersebut sontak sejumlah teman praktisi radio siaran
swasta berkomunikasi dan tersenyum seraya menyebut pesan itu cengeng. Mengapa
begitu? Sebab pengelola radio siaran swasta itu sudah bertahun-tahun “menangis” imbas kondisi ekonomi yang tidak baik. Iklan menurun. Bayar listrik terus naik. Tetapi mereka tetap
berusaha siaran dan tidak mengumumkan penderitaannya (menangisnya). Bandingkan
dengan RRI yang tidak harus cari iklan. Ada iklan atau tidak ada iklan mereka tetap gajian
karena RRI merupakan perusahaan negara dengan anggaran dari Anggaran Pendapatan
dan Belanja Negara (APBN).

Ketika bencana Corona melanda dunia dan Indonesia pemutusan hubungan kerja (PHK) di
radio siaran swasta terjadi besar-besaran. Mereka yang di-PHK tidak membuat postingan
menangis. Pengumuman menurunkan power pemancar juga tidak ada. Meskipun harus
mem-PHK karyawan atau penyiar, harus menurunkan power pemancar tetapi radio siaran
swasta tetap mengudara. Yang tidak kuat lagi diam saja, tidur tanpa pengumuman. Tidak
ada pengumuman, maaf kami semaput!

Radio swasta ternyata lebih tegar dibanding dengan RRI. Radio siaran swasta pandai
melakukan strategi ketika kondisi ekonomi semacam efisiensi anggaran ini terjadi. Juga
tidak serta-merta melakukan PHK tetapi berbulan dahulu mencoba strategi pengetatan dan
ketika dirasa tetap berat maka PHK jalan terakhir. Pimpinan dan bawahan merapatkan
barisan, saling terbuka, sepakat sementara sama-sama prihatin, tidak ada bonus, coret
anggaran yang tidak mendesak. Penyiar siaran gantian, karyawan kerja dari rumah agar
tidak ada yang disedihkan.

Yang terjadi di RRI ini sangat drastis, baru beberapa hari ada pengetatan, efisiensi
anggaran atau anggaran dikurangi dalam hitungan hari muncul kebijakan PHK atau
merumahkan karyawan. Fatalnya kebijakan PHK kemudian dibatalkan dalam hitungan dua
atau tiga hari kemudian. Bayangkan, kalau penyiar RRI yang menangis karena di-PHK itu
tidak kuat jiwanya kemudian bunuh diri? Ketika kemudian ter-PHK dipanggil kerja kembali
oleh pimpinannya sementara yang bersangkutan sudah dipanggil Tuhan, gimana?

Seorang teman senior di radio swasta, dalam obrolan kemarin, nyeletuk, kalau begitu
ceritanya, bagaimana dengan semboyan Sekali di Udara Tetap di Udara? Hanya urusan
efisiensi bukan penghapusan anggaran sudah turun dari udara? Tampaknya, memang,
pimpinan RRI juga perlu baca sejarah perjuangan pendiri radio milik bangsa Indonesia ini.

Manusia radio Indonesia bersatulah, rapatkan barisan, terus mengudara untuk menghibur
masyarakat dan memberi pengetahuan, informasi berguna untuk mencerdaskan bangsa.
Dalam situasi informasi bohong berseliweran mempengaruhi masyarakat maka peran radio
siaran masih dibutuhkan.

Penyiar sejati tetap ceria di depan microphone studio siaran meskipun di rumah beras habis.

Sekali di Udara Tetap Tertawa!***(Eddy Koko /Penikmat Siaran Radio)

Dampak Perubahan Iklim terhadap Ketahanan Pangan Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Perubahan iklim global telah menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi umat manusia pada abad ke-21. Fenomena ini tidak hanya mempengaruhi lingkungan fisik, tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap sektor pertanian, yang merupakan tulang punggung ketahanan pangan di banyak negara, termasuk Indonesia. Sebagai negara agraris dengan populasi lebih dari 270 juta jiwa, Indonesia sangat bergantung pada sektor pertanian untuk memenuhi kebutuhan pangan nasional. Namun, perubahan iklim telah mengganggu pola tanam, mengurangi hasil pertanian, dan mengancam ketahanan pangan di seluruh negeri.

Tulisan ini akan membahas secara mendalam tentang perubahan iklim global, dampaknya terhadap pola tanam dan hasil pertanian di Indonesia, serta implikasinya terhadap ketahanan pangan. Selain itu juga akan mengeksplorasi strategi dan solusi yang dapat diadopsi untuk mengatasi tantangan ini.

Perubahan Iklim Global: Definisi dan Penyebab

“Definisi Perubahan Iklim*

Perubahan iklim merujuk pada perubahan signifikan dalam distribusi statistik pola cuaca selama periode waktu yang panjang, mulai dari beberapa dekade hingga jutaan tahun. Perubahan ini dapat mencakup variasi dalam suhu rata-rata, curah hujan, kelembaban, dan pola angin. Perubahan iklim dapat terjadi secara alami, seperti melalui variasi dalam siklus matahari, tetapi aktivitas manusia, terutama sejak Revolusi Industri, telah menjadi pendorong utama perubahan iklim saat ini.

Penyebab Perubahan Iklim

1. Emisi Gas Rumah Kaca: Aktivitas manusia seperti pembakaran bahan bakar fosil (batubara, minyak, dan gas alam), deforestasi, dan praktik pertanian intensif telah meningkatkan konsentrasi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Gas-gas ini, termasuk karbon dioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrous oksida (N2O), memerangkap panas di atmosfer dan menyebabkan pemanasan global.

2. Deforestasi: Penebangan hutan secara besar-besaran untuk pertanian, perkebunan, dan pembangunan infrastruktur mengurangi kemampuan bumi untuk menyerap CO2, sehingga meningkatkan konsentrasi GRK di atmosfer.

3. Industrialisasi: Proses industri yang intensif energi menghasilkan emisi GRK yang signifikan, terutama dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil dan manufaktur.

4. Pertanian dan Peternakan: Praktik pertanian modern, termasuk penggunaan pupuk nitrogen dan peternakan skala besar, menghasilkan emisi metana dan nitrous oksida yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.

Dampak Perubahan Iklim terhadap Pertanian di Indonesia

Perubahan Pola Curah Hujan

Salah satu dampak paling langsung dari perubahan iklim terhadap pertanian di Indonesia adalah perubahan pola curah hujan. Indonesia, sebagai negara tropis, sangat bergantung pada musim hujan dan kemarau untuk menentukan pola tanam. Namun, perubahan iklim telah menyebabkan ketidakpastian dalam pola curah hujan, termasuk:

1. Musim Hujan yang Tidak Terduga: Musim hujan yang datang lebih awal atau lebih lambat dari biasanya dapat mengganggu jadwal tanam dan panen. Hal ini dapat menyebabkan penurunan produktivitas tanaman.

2. Curah Hujan Ekstrem: Peristiwa curah hujan ekstrem, seperti banjir, dapat merusak tanaman dan infrastruktur pertanian. Di sisi lain, kekeringan yang berkepanjangan dapat mengurangi ketersediaan air untuk irigasi.

Peningkatan Suhu Rata-Rata

Peningkatan suhu rata-rata akibat perubahan iklim juga memiliki dampak signifikan terhadap pertanian di Indonesia. Beberapa dampak tersebut antara lain:

1. Peningkatan Evaporasi: Suhu yang lebih tinggi meningkatkan tingkat penguapan air dari tanah dan tanaman, yang dapat menyebabkan kekurangan air dan meningkatkan kebutuhan irigasi.

2. Penyebaran Hama dan Penyakit: Suhu yang lebih hangat dapat memperluas habitat dan mempercepat siklus hidup hama dan penyakit tanaman. Hal ini dapat meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit, yang pada gilirannya mengurangi hasil panen.

3. Penurunan Kualitas Tanaman: Beberapa tanaman, terutama yang sensitif terhadap suhu, dapat mengalami penurunan kualitas dan produktivitas jika suhu melebihi ambang batas optimal mereka.

Kenaikan Permukaan Laut

Indonesia, sebagai negara kepulauan, sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut. Dampak kenaikan permukaan laut terhadap pertanian meliputi:

1. Intrusi Air Laut: Kenaikan permukaan laut dapat menyebabkan intrusi air asin ke daratan, yang dapat merusak lahan pertanian dan mengurangi kesuburan tanah. Hal ini terutama berdampak pada daerah pesisir yang bergantung pada pertanian.

2. Kehilangan Lahan Pertanian: Daerah pesisir yang subur dapat tenggelam akibat kenaikan permukaan laut, mengurangi luas lahan pertanian yang tersedia.

Perubahan Pola Tanam

Perubahan iklim telah memaksa petani di Indonesia untuk menyesuaikan pola tanam mereka. Beberapa perubahan yang terjadi antara lain:

1. Perubahan Jadwal Tanam: Petani harus menyesuaikan jadwal tanam mereka untuk mengantisipasi perubahan musim hujan dan kemarau. Hal ini memerlukan pemahaman yang lebih baik tentang prediksi cuaca dan adaptasi teknologi.

2. Peralihan ke Tanaman yang Lebih Tahan: Beberapa petani beralih ke tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi ekstrem, seperti kekeringan atau banjir. Namun, peralihan ini tidak selalu mudah dan memerlukan investasi dalam benih dan teknologi baru.

Dampak terhadap Ketahanan Pangan

Ketahanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dimana semua orang, setiap saat, memiliki akses fisik, sosial, dan ekonomi terhadap pangan yang cukup, aman, dan bergizi untuk memenuhi kebutuhan gizi mereka dan preferensi makanan untuk kehidupan yang aktif dan sehat. Perubahan iklim mengancam ketahanan pangan di Indonesia melalui beberapa mekanisme:

Penurunan Produktivitas Pertanian

Penurunan produktivitas pertanian akibat perubahan iklim dapat mengurangi pasokan pangan nasional. Hal ini dapat menyebabkan kenaikan harga pangan dan mengurangi akses masyarakat terhadap makanan yang cukup dan bergizi. Beberapa komoditas pangan utama di Indonesia, seperti beras, jagung, dan kedelai, sangat rentan terhadap perubahan iklim.

Ketidakstabilan Pasokan Pangan

Perubahan iklim dapat menyebabkan ketidakstabilan pasokan pangan akibat fluktuasi hasil panen. Ketidakstabilan ini dapat menyebabkan volatilitas harga pangan, yang berdampak negatif terhadap konsumen, terutama masyarakat berpenghasilan rendah.

Dampak terhadap Gizi

Perubahan iklim juga dapat mempengaruhi kualitas gizi makanan. Misalnya, peningkatan suhu dapat mengurangi kandungan nutrisi tertentu dalam tanaman, seperti protein dan zat besi. Hal ini dapat memperburuk masalah gizi, terutama di daerah yang sudah rentan terhadap kekurangan gizi.

Migrasi dan Konflik

Dampak perubahan iklim terhadap pertanian dapat memicu migrasi internal, terutama dari daerah pedesaan ke perkotaan. Migrasi ini dapat menambah tekanan pada sumber daya perkotaan dan memicu konflik sosial. Selain itu, ketidakstabilan pangan dapat memperburuk ketegangan sosial dan politik, terutama di daerah yang sudah rentan terhadap konflik.

Strategi dan Solusi untuk Mengatasi Dampak Perubahan Iklim

Adaptasi Pertanian

Adaptasi pertanian terhadap perubahan iklim melibatkan serangkaian tindakan yang bertujuan untuk mengurangi kerentanan sektor pertanian terhadap dampak perubahan iklim. Beberapa strategi adaptasi yang dapat diadopsi di Indonesia antara lain:

1. Pengembangan Varietas Tanaman Tahan Iklim: Penelitian dan pengembangan varietas tanaman yang tahan terhadap kekeringan, banjir, dan serangan hama dapat membantu meningkatkan ketahanan pertanian terhadap perubahan iklim.

2. Praktik Pertanian Berkelanjutan: Menerapkan praktik pertanian berkelanjutan, seperti rotasi tanaman, penggunaan pupuk organik, dan konservasi tanah, dapat meningkatkan ketahanan lahan pertanian terhadap perubahan iklim.

3. Sistem Irigasi yang Efisien: Mengembangkan sistem irigasi yang efisien, seperti irigasi tetes, dapat membantu petani mengelola sumber daya air yang terbatas selama musim kemarau.

Mitigasi Perubahan Iklim

Mitigasi perubahan iklim melibatkan upaya untuk mengurangi emisi GRK dan memperlambat laju perubahan iklim. Beberapa strategi mitigasi yang relevan dengan sektor pertanian di Indonesia antara lain:

1. Pengelolaan Lahan yang Berkelanjutan: Mengurangi deforestasi dan meningkatkan reboisasi dapat membantu menyerap CO2 dari atmosfer. Selain itu, praktik pengelolaan lahan yang berkelanjutan, seperti agroforestri, dapat meningkatkan penyerapan karbon.

2. Pengurangan Emisi dari Pertanian: Menerapkan praktik pertanian yang mengurangi emisi GRK, seperti pengelolaan pupuk yang lebih baik dan pengurangan pembakaran sisa tanaman, dapat membantu mengurangi kontribusi sektor pertanian terhadap perubahan iklim.

3. Energi Terbarukan: Mengadopsi energi terbarukan, seperti tenaga surya dan angin, untuk kegiatan pertanian dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan mengurangi emisi GRK.

Kebijakan dan Regulasi

Pemerintah memainkan peran penting dalam mengatasi dampak perubahan iklim terhadap pertanian dan ketahanan pangan. Beberapa kebijakan dan regulasi yang dapat diimplementasikan antara lain:

1. Rencana Aksi Nasional Perubahan Iklim: Mengembangkan dan mengimplementasikan rencana aksi nasional yang komprehensif untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap pertanian dan ketahanan pangan.

2. Insentif untuk Pertanian Berkelanjutan: Memberikan insentif finansial dan teknis kepada petani untuk mengadopsi praktik pertanian berkelanjutan dan teknologi ramah lingkungan.

3. Pendidikan dan Pelatihan: Meningkatkan kesadaran dan kapasitas petani melalui program pendidikan dan pelatihan tentang adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Kolaborasi Internasional

Perubahan iklim adalah masalah global yang memerlukan kolaborasi internasional. Indonesia dapat memanfaatkan kerjasama internasional untuk mengakses pendanaan, teknologi, dan pengetahuan untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap pertanian dan ketahanan pangan.

1. Pendanaan Iklim: Mengakses dana iklim internasional, seperti Green Climate Fund, untuk mendukung proyek-proyek adaptasi dan mitigasi perubahan iklim di sektor pertanian.

2. Transfer Teknologi: Bekerjasama dengan negara-negara maju dan organisasi internasional untuk mentransfer teknologi ramah lingkungan dan inovatif ke sektor pertanian Indonesia.

3. Kerjasama Regional: Bekerjasama dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara untuk mengatasi tantangan perubahan iklim yang bersifat lintas batas, seperti pengelolaan sumber daya air dan pencegahan kebakaran hutan.

Catatan Akhir

Perubahan iklim global merupakan ancaman serius terhadap pertanian dan ketahanan pangan di Indonesia. Dampaknya yang luas, mulai dari perubahan pola curah hujan hingga kenaikan permukaan laut, telah mengganggu pola tanam, mengurangi hasil pertanian, dan mengancam akses masyarakat terhadap pangan yang cukup dan bergizi. Namun, dengan mengadopsi strategi adaptasi dan mitigasi yang tepat, serta melalui kebijakan yang mendukung dan kolaborasi internasional, Indonesia dapat membangun ketahanan terhadap perubahan iklim dan memastikan ketahanan pangan bagi generasi mendatang.

Upaya untuk mengatasi dampak perubahan iklim terhadap pertanian dan ketahanan pangan tidak hanya memerlukan komitmen dari pemerintah, tetapi juga partisipasi aktif dari petani, sektor swasta, dan masyarakat sipil. Dengan bekerja sama, kita dapat menciptakan sistem pertanian yang lebih berkelanjutan dan tangguh, serta memastikan bahwa Indonesia tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks. (Heri)

Perlindungan Situs Gunung Padang


Oleh Eko Wiwid

Ketua RIMBA (Relawan Indonesia Pembela Alam)

Eko Wiwid

Bicara perlindungan kawasan situs Gunung Padang tidak bisa berdiri sendiri. Tidak pula hanya dipandang secara parsial. Bicara situs Gunung Padang harus komprehensif.

Situs yang terletak di perbatasan Dusun Gunung Padang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat itu merupakan situs megalitikum yang berusia 10.000–25.000 tahun Sebelum Masehi.

Di sana, terdapat banyak benda peninggalan sejarah atau artefak. Terlebih status dan posisinya sebagai kompleks punden berundak terbesar dan tertua di Indonesia. Bahkan situs Gunung Padang terkenal karena kompleks piramida teras yang merupakan salah satu yang terbesar di Asia Tenggara.

Karenanya, pelestarian situs Gunung Salak harus menyentuh ke akar budaya leluhur sebagai salah satu warisan bagi kita dan generasi seterusnya. Masih banyak hal yang perlu digali agar tersusun konstruksi pengetahuan baru. Bahkan bukan tidak mungkin, akan menjadi dasar langkah-langkah memajukan bangsa dan negara Indonesia.

Eko Wiwid main Karinding di atas situs Gunung Padang.

Pusat Riset

Banyak hal yang bisa diriset dan diangkat di kawasan situs Gunung Padang menjadi pengetahuan bersama bagi rakyat Indonesia. Manfaatnya bisa menjadi bekal bagi generasi emas Indonesia ke depan. Dan yang lebih penting, generasi muda tidak melupakan sejarah serta lebih mengenal jati dirinya.

Kita bisa menggali pengetahaun masa silam di Kawasan Gunung Padang. Kita bisa menelusuri tatanan kehidupan masyarakat. Juga tentang lingkungangan hidupnya di masa lalu.

Termasuk bisa mempelajari ilmu-ilmu rasi bintang, tata kelola air, dan tata ruang. Bahkan bisa mempelajari bagaiamna pola pertahanan masyarakat masa lalu (pertahanan dan ketahanan) di kawasan situs Gunung Padang.

Di samping itu, masih banyak ilmu pengetahuan lain bisa kita angkat ke permukaan. Muaranya bisa menjadi terang benderang. Bisa mencerahkan bangsa, dan lebih percaya diri.

Kita ambil cintoh di kawasan Gunung Padang ada kaitannya atau relevansinya dengan pertahanan dan ketahanan negara. Apa itu?

Bicara ketahanan dan pertahanan tidak soal senjata saja.

Kita bisa mencari tahu dan mengadopsinya bagaimana leluhur, bagaimana mereka membuat tatanan ruang yang baik. Membuat tata kelola air, membuat tata kelola petanian, ilmu arsitektur, ilmu kesemestaan dan lain-lain, di Kawasan Situs Gunung Padang.

Situs Gunung Padang.

Peran Pemda

Pemerintah Daerah Jawa Barat dan Pemkab Cianjur yang memiliki kewenangan kewilayahan lokasi situs Gunung Padang juga harus jeli dan harus lebih progresif membaca Gunung Padang. Bukan sekadar sebagai objek infrastruktur semata.

Meskipun kawasan situs Gunung Padang membutuhkan pendukung fasilitas pendukung, tidak semua pendukung berbentuk infrastruktur yang harus berbentuk pembanguan fisik “betonisasi”.

Kawasan Gunung Padang jangan jadi objek komoditas “projek-projek”. Yang lebih penting, dan yang rakyat butuhkan saat ini fasilitas pendukung pendidikan dan kesehatan. Misal, membangun sekolah tingkat lanjutan dan fasilitas kesehatan seperi rumah sakit yang memadai bagi rakyat di kawasan Gunung Padang.

Perlu diingat Perlindungan Pelestarian Kawasan Gunung Padang bukan sekadar objek utamanya situs yang hanya 45 Hektare, tapi Tata Ruang Kawasan Situs Gunung Padang itu lebih luas lagi radiusnya.

Gunung Padang perlu dilanjutkan risetnya dengan melibatkan seluruh potensi anak bangsa. Tak kalah penting, pengembangan partisipasi public dalam merespon potensi-potensi yang ada di Kawasan Situs Gunung Padang.

Katakan “Kita Bisa”, bukan mengatakan “Mampukah Kita” agar kita semua anak Bangsa punya optimisme untuk masa depan Bangsa dan Negara. Agar kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain. (*)

Situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.

Komputer Kuantum: Revolusi Komputer Masa Depan

JAYAKARTA NEWS – Komputer kuantum adalah salah satu inovasi teknologi yang paling menjanjikan di abad ke-21. Berbeda dengan komputer konvensional yang kita gunakan sehari-hari, komputer kuantum memanfaatkan prinsip-prinsip mekanika kuantum untuk melakukan perhitungan. Konsep ini membuka pintu bagi kemungkinan penyelesaian masalah yang sebelumnya dianggap mustahil atau memakan waktu sangat lama dengan teknologi komputasi tradisional.

Komputer kuantum tidak hanya sekadar evolusi dari komputer klasik, melainkan revolusi dalam cara kita memproses informasi. Dengan kemampuan untuk melakukan perhitungan dalam skala yang jauh lebih besar dan cepat, komputer kuantum memiliki potensi untuk mengubah berbagai bidang, mulai dari ilmu material, kimia, farmasi, hingga keamanan siber dan kecerdasan buatan.

Perbedaan Komputer Kuantum dengan Komputer Konvensional

Prinsip Dasar

Komputer konvensional bekerja dengan menggunakan bit, yang dapat bernilai 0 atau 1. Setiap operasi yang dilakukan oleh komputer klasik didasarkan pada manipulasi bit-bit ini. Sebaliknya, komputer kuantum menggunakan qubit, yang dapat berada dalam keadaan superposisi, yaitu 0 dan 1 secara bersamaan. Ini memungkinkan komputer kuantum untuk memproses informasi dalam skala yang jauh lebih besar.

Kecepatan dan Efisiensi

Komputer kuantum memiliki potensi untuk menyelesaikan masalah tertentu jauh lebih cepat daripada komputer klasik. Misalnya, algoritma Shor dapat memfaktorkan bilangan besar dalam waktu polinomial, sedangkan algoritma klasik memerlukan waktu eksponensial. Ini memiliki implikasi besar untuk kriptografi, di mana keamanan sistem saat ini bergantung pada kesulitan memfaktorkan bilangan besar.

Paralelisme Kuantum

Salah satu keunggulan utama komputer kuantum adalah kemampuannya untuk melakukan banyak perhitungan secara bersamaan melalui paralelisme kuantum. Ini berbeda dengan komputer klasik, yang melakukan perhitungan secara berurutan. Paralelisme kuantum memungkinkan komputer kuantum untuk mengeksplorasi banyak solusi sekaligus, membuatnya sangat cocok untuk masalah optimasi dan simulasi.

Tantangan dan Batasan

Meskipun memiliki potensi besar, komputer kuantum juga menghadapi tantangan signifikan. Salah satunya adalah masalah dekoherensi kuantum, di mana qubit kehilangan informasi karena interaksi dengan lingkungan. Selain itu, membangun dan memelihara komputer kuantum memerlukan teknologi yang sangat canggih, seperti pendinginan hingga suhu mendekati nol mutlak.

Sejarah Komputer Kuantum

Awal Mula Konsep Komputer Kuantum

Gagasan tentang komputer kuantum pertama kali muncul pada awal 1980-an. Fisikawan teoretis Richard Feynman adalah salah satu tokoh yang memulai diskusi tentang kemungkinan menggunakan prinsip kuantum untuk melakukan perhitungan. Feynman menyadari bahwa simulasi sistem kuantum dengan komputer klasik sangatlah sulit karena kompleksitas yang luar biasa. Dia mengusulkan bahwa dengan menggunakan sistem kuantum itu sendiri, kita dapat melakukan simulasi yang lebih efisien.

Pada tahun 1985, David Deutsch, seorang fisikawan teoretis dari Universitas Oxford, mengembangkan konsep ini lebih lanjut. Deutsch memperkenalkan gagasan tentang “komputer kuantum universal,” yang mampu meniru setiap sistem fisik lainnya. Karyanya menjadi fondasi teoritis bagi perkembangan komputer kuantum.

Perkembangan Awal (1990-an)

Pada tahun 1994, Peter Shor, seorang matematikawan di Bell Labs, membuat terobosan besar dengan menemukan algoritma kuantum yang dapat memfaktorkan bilangan besar secara efisien. Algoritma Shor ini menunjukkan bahwa komputer kuantum memiliki potensi untuk memecahkan masalah yang dianggap mustahil bagi komputer klasik, seperti memecahkan kode enkripsi RSA yang digunakan dalam keamanan internet.

Pada tahun yang sama, Lov Grover mengembangkan algoritma kuantum lain yang dapat mempercepat pencarian dalam database yang tidak terstruktur. Algoritma Grover ini menunjukkan bahwa komputer kuantum tidak hanya berguna untuk masalah tertentu, tetapi juga dapat meningkatkan efisiensi dalam berbagai aplikasi.

Era Eksperimen dan Implementasi (2000-an)

Pada awal 2000-an, penelitian tentang komputer kuantum mulai bergeser dari teori ke praktik. Beberapa kelompok penelitian di seluruh dunia mulai mencoba membangun komputer kuantum fisik. Salah satu pendekatan yang populer adalah menggunakan qubit (bit kuantum) yang terbuat dari ion terperangkap atau sirkuit superkonduktor.

Pada tahun 2001, IBM dan Stanford University berhasil menjalankan algoritma Shor pada komputer kuantum 7-qubit, meskipun dengan skala yang sangat terbatas. Ini adalah bukti konsep pertama bahwa komputer kuantum dapat melakukan perhitungan yang tidak mungkin dilakukan oleh komputer klasik.

Perkembangan Terkini (2010-an hingga Sekarang)

Dalam dekade terakhir, perkembangan komputer kuantum semakin pesat. Perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Google, IBM, Intel, dan Rigetti Computing telah berinvestasi besar-besaran dalam penelitian dan pengembangan komputer kuantum. Pada tahun 2019, Google mengumumkan bahwa mereka telah mencapai “supremasi kuantum,” di mana komputer kuantum mereka, Sycamore, berhasil menyelesaikan tugas tertentu dalam 200 detik yang akan memakan waktu ribuan tahun bagi superkomputer klasik.

Selain itu, komunitas ilmiah terus mengembangkan teknologi qubit yang lebih stabil dan skalabel, seperti qubit topologis dan qubit fotonik. Pemerintah di berbagai negara juga mulai menyadari pentingnya teknologi ini, dengan Amerika Serikat, China, dan Uni Eropa mengalokasikan dana besar untuk penelitian komputer kuantum.

Perkembangan Komputer Kuantum Saat Ini dan Masa Depan

Keadaan Saat Ini

Saat ini, komputer kuantum masih dalam tahap awal pengembangan. Meskipun beberapa perusahaan telah berhasil membangun komputer kuantum dengan puluhan qubit, teknologi ini masih jauh dari kesempurnaan. Beberapa pencapaian terbaru termasuk:

1. Google Sycamore: Pada tahun 2019, Google mengklaim telah mencapai supremasi kuantum dengan komputer 53-qubit mereka. Meskipun klaim ini menuai kontroversi, ini adalah tonggak penting dalam perkembangan komputer kuantum.

2. IBM Quantum: IBM telah mengembangkan platform Quantum Experience, yang memungkinkan peneliti dan pengembang untuk mengakses komputer kuantum melalui cloud. IBM juga terus meningkatkan jumlah qubit pada prosesor kuantum mereka.

3. Rigetti Computing: Perusahaan ini fokus pada pengembangan komputer kuantum berbasis cloud dan telah meluncurkan platform Quantum Cloud Services.

Aplikasi Potensial

Komputer kuantum memiliki potensi untuk merevolusi berbagai bidang, termasuk:

1. Kriptografi: Komputer kuantum dapat memecahkan sistem enkripsi klasik, tetapi juga dapat digunakan untuk mengembangkan metode enkripsi baru yang lebih aman.

2. Kimia dan Material Science: Komputer kuantum dapat mensimulasikan molekul dan reaksi kimia dengan akurasi yang belum pernah terjadi sebelumnya, membuka jalan bagi penemuan obat-obatan baru dan material inovatif.

3. Optimasi: Masalah optimasi kompleks, seperti penjadwalan dan logistik, dapat diselesaikan lebih efisien dengan komputer kuantum.

4. Kecerdasan Buatan: Komputer kuantum dapat mempercepat pelatihan model AI dan meningkatkan kemampuan pembelajaran mesin.

Tantangan di Masa Depan

Meskipun potensinya besar, komputer kuantum masih menghadapi banyak tantangan, termasuk:

1. Stabilitas Qubit: Meningkatkan stabilitas qubit dan mengurangi dekoherensi adalah tantangan utama.

2. Skalabilitas: Membangun komputer kuantum dengan ribuan atau jutaan qubit masih merupakan tantangan teknis yang besar.

3. Biaya: Pengembangan dan pemeliharaan komputer kuantum memerlukan investasi yang sangat besar.

Masa Depan Komputer Kuantum

Di masa depan, komputer kuantum dapat menjadi alat yang sangat penting dalam sains dan teknologi. Dengan kemajuan dalam teknologi qubit dan algoritma kuantum, kita dapat mengharapkan komputer kuantum yang lebih stabil dan skalabel. Ini akan membuka pintu bagi aplikasi baru yang saat ini belum terbayangkan.

Selain itu, kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, dan akademisi akan menjadi kunci untuk mempercepat perkembangan teknologi ini. Dengan dukungan yang tepat, komputer kuantum dapat menjadi salah satu inovasi terbesar dalam sejarah manusia, mengubah cara kita memproses informasi dan memecahkan masalah.

Komputer kuantum adalah teknologi yang menjanjikan untuk merevolusi dunia komputasi. Dengan memanfaatkan prinsip-prinsip mekanika kuantum, komputer kuantum memiliki potensi untuk menyelesaikan masalah yang tidak dapat diatasi oleh komputer klasik. Meskipun masih dalam tahap awal pengembangan, kemajuan dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan bahwa masa depan komputer kuantum sangat cerah.

Dari sejarahnya yang dimulai dengan gagasan teoretis hingga pencapaian praktis seperti supremasi kuantum, komputer kuantum telah menempuh perjalanan yang panjang. Perbedaannya dengan komputer konvensional terletak pada penggunaan qubit dan paralelisme kuantum, yang memungkinkan perhitungan dalam skala yang jauh lebih besar.

Saat ini, perkembangan komputer kuantum terus berlanjut dengan dukungan dari perusahaan teknologi besar dan pemerintah di seluruh dunia. Meskipun masih banyak tantangan yang harus diatasi, potensi aplikasi komputer kuantum dalam kriptografi, kimia, optimasi, dan kecerdasan buatan sangatlah besar.

Di masa depan, komputer kuantum dapat menjadi alat yang sangat penting dalam sains dan teknologi, membuka pintu bagi penemuan dan inovasi baru. Dengan kolaborasi dan investasi yang tepat, kita dapat mengharapkan era baru komputasi kuantum yang akan mengubah dunia. (Heri)

Tumbler dan Trans Metro Dewata, Filosofi yang Setara

Oleh I Made Rai Ridartha

Pemerintah Provinsi Bali dalam kinerjanya selalu menjadi yang terdepan dalam inovasi pembuatan peraturan, terutama Peraturan Gubernur. Sejak  Wayan Koster-Cok Ace dilantik menjadi pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Bali periode 2018-2023 sudah banyak peraturan Gubernur yang diterbitkan dan juga Peraturan Daerah yang penting.

Sebagian besar terkait dengan isu lingkungan, adat dan budaya Bali serta pariwisata. Mulai dari soal tata kelola sampah, Desa Adat, kendaraan listrik hingga penanganan pariwisata dan wisatawan.

Peraturan yang sangat berarti bagi Bali adalah terbitnya UU No. 15 Tahun 2023 tentang Provinsi Bali yang memberikan otonomi yang lebih luas untuk mengatur hal-hal tertentu seperti desa adat dan subak. Kemudian ada satu Perda penting yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh daerah lain yaitu Perda Nomor 6 Tahun 2023 tentang Pungutan Bagi Wisatawan Asing untuk Perlindungan Kebudayaan dan Lingkungan Alam Bali. 

Penggunaan Tumbler

Surat Edaran (SE) terbaru yang  dikeluarkan adalah SE Nomor 2 Tahun 2025 tentang Implementasi Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai. Kebijakan ini dibuat dengan tujuan untuk memastikan bahwa seluruh perangkat daerah, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta sekolah di Bali benar-benar menerapkan pembatasan penggunaan plastik sekali pakai.

Melalui SE ini seluruh instansi dilarang menyediakan air minum dan makan dalam kemasan plastik, baik diruang kerja maupun kegiatan resmi, seperti rapat dan acara seremonial. Sebagai tindak lanjutnya, seluruh pegawai diwajibkan membawa tumbler pribadi dengan bahan stainless atau plastik yang telah bersertifikat BFA Free.

Ketentuan itu berlaku mulai tanggal 3 Pebruari 2025 dalam lingkup sebagaimana yang disebutkan dalam SE tersebut. Artinya. SE ini belum menjangkau seluruh masayarakat secara wajib namun menjadi himbauan agar mengikuti sebagaimana yang diwajibkan kepada instansi pemerintah lingkup provinsi dan sekolah. Tentu kebijakan ini diharapkan akan diikuti oleh pemerintah daerah lainnya dan masyarakat umumnya.

Mengulas maksud dan tujuan dari SE ini tentu adalah sesuatu hal yang positif untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. Masyarakat yang biasanya mengkonsumsi air dalam kemasan tentu diharapkan dapat memindahkan isinya (airnya) ke dalam tumbler dengan persyaratan yang telah disebutkan dalam SE tersebut. Kata kuncinya adalah memindahkan isinya ke wadah yang lain agar tidak banyak wadah yang terbuang sebagai sampah.

Layanan Trans Metro Dewata

Jauh sebelum SE Nomor 2 Tahun 2025 tersebut dikeluarkan, pernah diterbitkan SE Nomor 8 Tahun 2023 tentang Pengurangan Emisi Karbon. Pengurangan itu melalui Penggunaan Transportasi Ramah Lingkungan Setiap Hari Jumat bagi Pegawai di Lingkungan Pemerintah Provinsi Bali tertanggal 7 Desember 2023.

Surat Edaran (SE) yang disebutkan di atas keduanya dikeluarkan saat kepemimpinan Pj Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya. Selain menggunakan kendaraan umum, ASN Pemprov Bali juga diperbolehkan menggunakan kendaraan listrik berbasis baterai (KBLBB), kendaraan tertentu dengan menggunakan penggerak motor listrik atau moda transportasi tidak bermotor setiap Jumat.

Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari komitmen Pemprov Bali untuk menuju net zero emission tahun 2045. Pada saat dikeluarkannya SE tersebut,  Sekda Provonsi Bali mengatakan bahwa ASN tidak serta merta harus menggunakan kendaraan listrik, karena diberikan pilihan dan mencocokkan dengan kondisi ekonomi.

Jika ada pegawai yang memang memiliki kendaraan listrik, maka dipersilahkan untuk menggunakan. Namun jika belum, Pemprov Bali sebelumnya telah menyediakan transportasi umum yang bisa digunakan. Jalurnyapun sudah tersedia, sehingga dapat menggunakan alternatif sendiri-sendiri. Hal ini sudah pantas diberlakukan lantaran pemerintah yang mengeluarkan kebijakan, maka pemerintah yang harus memberikan teladan.

Terkait dengan hanya diwajibkan pada hari Jumat, dikatakan akan dievaluasi, jika ada peningkatan akan ditambahkan menjadi dua hari dalam seminggu. Kata kunci dari SE ini adalah menggunakan angkutan umum yang tersedia, memberikan teladan dan mencocokkan kondisi ekonomi.

Persamaan Dua SE

Kedua SE tersebut memang berbeda secara nomenklatur namun memiliki beberapa persamaan yang sangat erat dan kuat antara satu dan yang lainnya. Persamaan pertama adalah mengatur soal lingkungan, yaitu mengatur sampah dan emisi. Kita semua sedang mengalami permasalahan sampah, baik jenisnya maupun tata kelolanya.

Saat ini semua sedang mengalami kesulitan untuk membuang sampah, karena banyak TPA yang terpaksa ditutup. Apalagi jika bicara soal timbulan sampah plastik yang membutuhkan waktu sangat lama sampai bisa terurai. Soal emisi juga menjadi permasalahan terutama yang bersumber dari transportasi.

Indeks kualitas udara menjadi terganggu ketika emisi kendaraan bermotor berbahan bakar minyak (BBM) masih mendominasi, sehingga didorong untuk menggunakan kendaraan listrik atau angkutan umum. Persamaan kedua, yaitu soal memindahkan dari wadah yang satu ke wadah yang lainnya. Air dalam botol kemasan plastik yang saat ini digunakan dipindahkan isinya ke wadah bukan berbahan plastik yaitu tumbler. Jadi, botol kemasannya ditinggal (dikumpulkan) di rumah sehingga tidak berserakan kemana-mana. Sementara itu Trans Metro Dewata atau Trans Sarbagita (Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan) atau jenis angkutan umum lainnya adalah wadah yang baru untuk menampung orang yang selama ini menggunakan kendaraan pribadi.

 Kendaraan umum tersebut dapat diidentikkan dengan tumbler sedangkan kendaraan pribadi adalah botol plastik kemasan. Filosofi ini sangatlah tepat dipergunakan untuk menjadikan dua kebijakan ini mencapai sasarannya.

Persoalannya saat ini khusus untuk layanan angkutan umum, baik Trans Sarbagita maupun Trans Metro Dewata kurang mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah. SE Nomor 8 Tahun 2023 telah dengan jelas mengamanatkan mempercayakan layanan transportasi bagi pegawai Pemprov Bali kepada layanan angkutan umum yang tersedia dan sesuai kondisi ekonomi. Masalahnya adalah layanan Trans Sarbagita seperti bayi stunting. Dia dilahirkan, masih tetap hidup dan beroperasi sampai sekarang namun tidak tumbuh dan berkembang.

 Layanan yang semula cukup baik dengan anggaran yang cukup semakin lama semakin berkurang dianggarkan sehingga kualitas layanan menurun. Headway menjadi semakin lama, pengguna mengatakan kondisi bus semakin memburuk, atap bocor dan seperti kurang terawat. Disisi lain, Trans Metro Dewata yang sudah 4 tahun eksis, harus berhenti karena tidak tersedia lagi dana untuk mengoperasikannya. Pemerintah pusat hanya memberikan stimulus selama 5 tahun dan telah berakhir 31 Desember 2024.

Harapannya, Sarbagita dapat diteruskan oleh Pemprov dan Pemda yang menjadi wilayah layanannya. Alasannya adalah tidak tersedia anggaran yang cukup untuk membiayai operasionalnya, Pemprov dan Pemda Sarbagita belum siap untuk mengambil alih terkait dengan mekanisme dan tata kelola operasionalnya dan beberapa alasan lainnya.

Dengan berhentinya layanan Trans Metro Dewata banyak pihak terutama pengguna yang kelimpungan. Selain kesulitan mendapatkan layanan untuk perjalanannya juga akhirnya mengeluarkan biaya yang berlipat lipat lebih besar. Pengguna yang sudah menjadi captive riders telah menggantungkan aktivitas perjalanannya pada layanan Trans Metro Dewata. Bahkan dijadikan andalan, kendaraan pribadi yang sebelumnya digunakan telah mereka jual. Tapi, sekarang mereka akan kembali lagi ke pola perjalanan lamanya, yaitu menggunakan antara sepeda motor maupun dengan transportasi lainnya yang ongkosnya membuat mereka menjerit.

Jadi, jika memang semangat untuk mewujudkan net zero emisi, pengurangan kemacetan, menyesuaikan kondisi ekonomi dan mempertahankan potensi penumpang yang sudah ada, maka pemerintah harus cepat-cepat ambil keputusan. Segera operasikan kembali Trans Metro Dewata agar tidak bertambah parah, yaitu larinya pengguna yang sudah ada sebelumnya. Mengumpulkan mereka kembali adalah pekerjaan yang sangat sulit dan berat serta membutuhkan waktu yang lama.

 Trans Metro Dewata memerlukan waktu 4 tahun agar masyarakat terbiasa dan mengubah mindset-nya menjadi masyarakat yang cerdas dengan menggunakan angkutan umum. Soal pembiayaan bukan lagi menadi kendala karena banyak sumber yang dapat dipergunakan. Selain UU No.1 Tahun 2022 dengan PP 35 Tahun 2023 terkait pendapatan dari PKB dan BBNKB serta opsen PKB dan opsen BBNKB, Provinsi Bali mempunyai Perda Nomor 6 Tahun 2023 khususnya pada Pasal 12 huruf e sebagai dasar hukumnya.

Amanat dari pasal tersebut dengan jelas menyatakan bahwa wisatawan asing memperoleh manfaat atas pungutan yang telah dibayarkan berupa infrastruktur dan sarana-prasarana transportasi publik yang berkualitas.  Jadi dengan menyediakan untuk wisatawan, masyarakat juga dapat menggunakannya secara bersamaan. Belum lagi sumber-sumber lain dari kontribusi pemda Sarbagita lainnya.

Menguatkan dan mengembangkan layanan angkutan umum yang disepakati sebagai wadah baru untuk mengalihkan moda transportasi pengguna kendaraan pribadi adalah salah satu bentuk perwujudan melindungi lingkungan alam Bali. Hal ini akan dapat mengurangi emisi akibat kemacetan lalu lintas yang sudah semakin meluas.

 Jika kekuatan ini disatukan, maka bukanlah hal yang mustahil untuk mewujudkan tujuan menyediakan layanan transportasi publik yang berkualitas, sebagaimana filosofi Tumbler dan Angkutan Umum (Trans Metro Dewata).  ***

I Made Rai Ridartha, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali

Pandangan Pakar Global terhadap Indonesia di Bawah Pimpinan Prabowo Subianto

JAYAKARTA NEWS – Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto menjadi sorotan para pengamat global. Berikut cuplikan dari para pengamat global dari Amerika, Eropa, Tiongkok, India dan Rusia.

Perspektif Amerika Serikat: Keseimbangan Geopolitik dan Hak Asasi Manusia 

Pakar Terkait : Dr. Evan Laksmana (CSIS, Washington DC), Prof. Ann Marie Murphy (Seton Hall University) 

1. Prioritas Geopolitik 

   – Indo-Pacific Strategy: AS melihat Indonesia di bawah Prabowo sebagai mitra kunci dalam menyeimbangkan pengaruh Tiongkok di Asia Tenggara. Kebijakan Prabowo tentang Laut China Selatan (misalnya, sikap netral dalam sengketa) akan menjadi fokus. 

   – Critical Minerals: Kerja sama nikel dan baterai EV dengan perusahaan AS seperti Tesla akan dipantau ketat, terutama terkait regulasi lingkungan. 

2. Kritik dan Kekhawatiran 

   – Warisan HAM: Latar belakang militer Prabowo dalam kasus 1998 tetap menjadi hambatan diplomasi, meskipun AS cenderung pragmatis demi kepentingan keamanan regional. 

   – Demokrasi dan Otonomi Daerah: Pakar seperti Marcus Mietzner (Australian National University) memperingatkan risiko sentralisasi kekuasaan dan penyempitan ruang sipil. 

3. Proyeksi Ekonomi 

   – Investasi Infrastruktur: Proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) akan diuji apakah mampu menarik investor AS di tengah persaingan dengan Tiongkok. 

Perspektif Eropa: Transisi Hijau dan Tata Kelola Demokratis 

Pakar Teekait : Dr. Max Lane (ISEAS-Yusof Ishak Institute), Dr. Sandra Hamid (The Asia Foundation) 

1. Agenda Lingkungan 

   – Deforestasi: Uni Eropa khawatir komitmen Prabowo terhadap moratorium deforestasi (2023) akan goyah demi proyek ekonomi, terutama terkait ekspor CPO ke Eropa. 

   – Energi Terbarukan: Kebijakan biodiesel dan kerja sama dengan perusahaan Eropa seperti Siemens Energy akan menjadi tolok ukur. 

2. Isu Tata Kelola 

   – *EU-Indonesia CEPA*: Negosiasi perdagangan bebas mungkin terhambat jika isu HAM (seperti kondisi buruh di perkebunan sawit) tidak ditangani. 

   – Digital Governance: Regulasi data pribadi dan UU PDP (Perlindungan Data Pribadi) Indonesia akan dipantau untuk keselarasan dengan GDPR Eropa. 

3. Respons terhadap Dinamika Politik 

   – Polarisasi Pasca-Pemilu: Pakar Eropa seperti Dr. Dirk Tomsa (La Trobe University) mencatat risiko fragmentasi politik jika oposisi tidak diberi ruang. 

Perspektif Tiongkok: Investasi Strategis dan Stabilitas Regional 

Pakar Terkait: Prof. Chong Ja Ian (National University of Singapore), Dr. Hui Yew-Foong (ISEAS) 

1. Ekonomi dan Infrastruktur 

   – BRI 2.0 (Belt and Road Initiative): Tiongkok berharap proyek seperti Kereta Cepat Jakarta-Bandung Fase 2 akan dilanjutkan, dengan pendanaan melalui skema “debt-for-nature swap”. 

   – Nikel dan Smelter: Dominasi perusahaan Tiongkok (misalnya, Tsingshan Holding Group) di sektor nikel Sulawesi akan tetap kritis bagi industri baterai Tiongkok. 

2. Keamanan Maritim 

   – Laut Natuna: Meski Prabowo menyatakan netralitas, Tiongkok akan terus mendorong kesepakatan bilateral untuk mengelola klaim tumpang tindih. 

   – Pengaruh di ASEAN: Tiongkok melihat Prabowo sebagai pemimpin yang bisa mencegah ASEAN bersikap terlalu pro-AS dalam isu Taiwan atau Laut China Selatan. 

3. Isu Sensitif 

   – Uighur dan Isu Sensitivitas: Tiongkok berharap Indonesia tidak mengkritik kebijakan dalam negeri Tiongkok, sebagai imbalan investasi. 

Perspektif India: Kemitraan Maritim dan Digital 

Pakar Terkait: Dr. C. Raja Mohan (Observer Research Foundation), Prof. Sinderpal Singh (RSIS) 

1. Indo-Pacific Partnership* 

   – *QUAD dan ASEAN*: India melihat Indonesia sebagai mitra untuk menyeimbangkan pengaruh Tiongkok, terutama melalui kerja sama keamanan maritim di Selat Malaka. 

   – Defense Cooperation: Pembelian rudal BrahMos dan latihan militer bersama akan diperkuat. 

2. Ekonomi Digital 

   – Startup Collaboration: Perusahaan India seperti Paytm dan Gojek bisa memperluas sinergi di sektor fintech dan logistik. 

   – India-Indonesia CEPA: Perjanjian perdagangan bebas yang sedang dirundingkan akan difokuskan pada ekspor tekstil dan farmasi. 

3. Isu Diaspora dan Budaya 

   – Komunitas India di Indonesia: Peningkatan kerja sama pendidikan (misalnya, pertukaran pelajar Bali-Jawa dengan India) akan menjadi prioritas. 

Perspektif Arab: Energi dan Diplomasi Islam 

Pakar Terkait: Dr. James Dorsey (RSIS), Dr. Courtney Freer (LSE Middle East Centre) 

1. Investasi Gulf Countries 

   – Sovereign Wealth Funds: UAE (ADQ) dan Arab Saudi (PIF) akan meningkatkan investasi di sektor energi hijau dan pariwisata (misalnya, proyek “Dubai di Bali”). 

   – Food Security: Impor beras dan daging halal dari Indonesia akan menjadi prioritas bagi Qatar dan Kuwait. 

2. Diplomasi Agama 

   – Moderasi Islam: Negara Arab berharap Prabowo menjaga citra Islam moderat Indonesia untuk melawan narasi radikal di Timur Tengah. 

   – Palestina: Sikap Indonesia yang vokal mendukung Palestina akan digunakan Arab untuk menekan Israel dalam forum internasional. 

3. Soft Power 

   – Pendidikan dan Fatwa: Universitas Al-Azhar Mesir dan lembaga fatwa UAE mungkin memperluas kerja sama dengan NU dan Muhammadiyah. 

Perspektif Rusia: Kemitraan Strategis dan Multipolaritas

Pakar Terkait: Dr. Dmitry Mosyakov (Direktur Pusat Studi Asia Tenggara, Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia). Prof. Alexander Lukin (MGIMO University, Pakar Hubungan Rusia-ASEAN) 

1. Prioritas Geopolitik 

– Dukungan untuk Multipolaritas: 

Rusia melihat kepemimpinan Prabowo sebagai peluang untuk memperkuat poros non-Barat. Mosyakov menekankan bahwa Indonesia, dengan prinsip “bebas-aktif”, dapat menjadi mitra krusial dalam melemahkan dominasi AS di kawasan Indo-Pasifik. 

– ASEAN sebagai Mediator: 

Mosyakov mencatat harapan Moskow bahwa Indonesia akan memainkan peran lebih besar dalam mendorong ASEAN menjadi mediator dalam konflik Ukraina, meskipun realistisnya pengaruh terbatas. 

2. Kerja Sama Ekonomi-Strategis 

– Energi dan Pertambangan: 

  – Proyek Kilang Minyak Tuban: Kemitraan Rosneft-Pertamina (senilai $12 miliar) yang mandek sejak 2022 mungkin dihidupkan kembali, dengan insentif pembayaran dalam mata uang lokal atau skema barter (minyak sawit vs teknologi Rusia). 

  – Nikel dan Nuklir: Perusahaan Rusia seperti Norilsk Nickel berpotensi masuk ke hilirisasi nikel Indonesia, sementara Rosatom menawarkan PLTN terapung untuk daerah terpencil. 

– Pangan dan Senjata: 

  Rusia berharap meningkatkan ekspor gandum ke Indonesia (terutama dengan kenaikan harga beras lokal), sementara Prabowo mungkin tertarik pada sistem pertahanan udara S-400 atau pesawat tempur Su-35 sebagai alternatif Barat. 

3. Dinamika Keamanan Regional 

– Latihan Militer Bersama: 

  Latihan darat-laut “ARNAS” (Russia-Indonesia) mungkin diperluas ke wilayah konflik seperti Laut China Selatan, sebagai sinyal kepada AS dan Tiongkok. 

– Isu Ukraina dan Netralitas: 

  Lukin menilai Indonesia akan tetap abstain dalam resolusi PBB terkait Ukraina, tetapi Rusia berharap dukungan diam-diam melalui forum G20 atau OKI. 

4. Tantangan dan Hambatan 

– Sanksi Sekunder: 

  Pembayaran dalam rubel atau rupiah menghadapi kendala likuiditas, sementara bank Indonesia khawatir terpapar sanksi Barat jika terlalu dekat dengan Rusia. 

– Persaingan dengan Tiongkok: 

  Meski bersekutu secara geopolitik, perusahaan Rusia kalah agresif dari Tiongkok dalam proyek infrastruktur Indonesia. 

Sintesis Global 

1. Peta Aliansi Baru: 

   – Rusia akan mendorong Indonesia menjadi “jembatan” antara BRICS+ dan ASEAN, sambil menawarkan teknologi militer dan energi sebagai alternatif Barat-Tiongkok. 

   – Prabowo dihadapkan pada pilihan kompleks: memanfaatkan peluang ekonomi Rusia tanpa mengorbankan hubungan dengan UE/AS. 

2. Isu Kritis Tambahan: 

   – Dilema PLTN: Teknologi nuklir Rusia bisa jadi solusi transisi energi, tetapi berisiko memicu protes masyarakat sipil. 

   – Diplomasi Hibrida: Potensi penggunaan platform seperti RT (Russia Today) untuk memengaruhi opini publik Indonesia terkait isu Palestina/Ukraina. 

3. Proyeksi 2024-2029: 

   – Jika kerja sama energi Rusia-Indonesia terwujud, Moskow bisa menjadi pemain ketiga di belakang AS dan Tiongkok di sektor strategis Indonesia. 

   – Namun, skenario terburuknya, Indonesia terjebak dalam perang proxy Barat-Rusia di media dan kelembagaan multilateral. 

Kutipan Kunci Pakar Rusia 

1. Dmitry Mosyakov: 

   “Indonesia adalah ‘wild card’ dalam pertarungan geopolitik abad ke-21. Di tangan pemimpin seperti Prabowo yang pragmatis, Moskow bisa mengubah Jakarta dari penonton menjadi aktor penyeimbang.” 

2. Alexander Lukin: 

   “Kemitraan dengan Indonesia bukan tentang ideology, tapi matematika kekuatan: 270 juta penduduk + posisi geografis strategis = 10x leverage bagi diplomasi Rusia.”

Kesimpulan: Para pakar global melihat kepemimpinan Prabowo sebagai periode krusial bagi Indonesia untuk menavigasi ketegangan geopolitik AS-Tiongkok-Rusia sambil memanfaatkan peluang investasi di sektor infrastruktur, energi hijau, dan digital.

Amerika Serikat dan Eropa menekankan keseimbangan antara stabilitas keamanan maritim dengan komitmen HAM serta transisi berkelanjutan, sementara Tiongkok dan Rusia mendorong kerja sama strategis melalui BRI 2.0 dan proyek energi-teknologi untuk memperkuat pengaruh non-Barat.

India dan negara Arab berfokus pada sinergi maritim, ekonomi digital, serta diplomasi agama moderat. Namun, tantangan utama tetap ada pada risiko utang, fragmentasi politik domestik, dan tekanan global agar Indonesia menjaga kedaulatan tanpa terjebak dalam rivalitas kekuatan besar. Rekomendasi intinya adalah kebijakan luar negeri “multialiansi” yang inklusif, transparansi tata kelola proyek strategis, dan penguatan daya saing berbasis sumber daya lokal. (Heri)

Sejarah Perayaan Imlek di Cina dan Indonesia

JAYAKARTA NEWS— Imlek, atau yang dikenal juga sebagai Tahun Baru Cina atau Festival Musim Semi, adalah salah satu perayaan paling penting dalam budaya Tionghoa. Perayaan ini tidak hanya memiliki akar yang sangat dalam di Cina tapi juga telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia, melalui diaspora Tionghoa. Artikel ini akan menjelajahi sejarah panjang Imlek di Cina dan bagaimana perayaan ini berkembang serta beradaptasi di Indonesia.

Sejarah Imlek di Cina:

1.Awal Mula:

– Zaman Dinasti Shang (1600-1046 SM): Sejarah Imlek dapat ditelusuri hingga Dinasti Shang, di mana upacara-upacara pengorbanan dilakukan untuk menghormati dewa dan leluhur di awal dan akhir tahun. Perayaan ini awalnya merupakan ritual untuk menyembah alam dan membawa berkah untuk panen yang baik.

– Legenda Nian: Salah satu cerita populer adalah tentang monster Nian yang menyerang manusia setiap tahun baru, dan masyarakat kuno menggunakan warna merah, kembang api, dan makanan untuk mengusirnya. Ini menjadi dasar tradisi Imlek yang menggunakan warna merah dan kembang api.

2.Perkembangan Melalui Dinasti:

– Dinasti Xia, Shang, dan Zhou: Tanggal perayaan Imlek berubah seiring waktu. Awalnya di Dinasti Xia, tahun baru dimulai pada bulan pertama, kemudian pada bulan kedua belas di Dinasti Shang, dan pada bulan kesebelas di Dinasti Zhou.

– Dinasti Han (202 SM – 220 M): Pada masa ini, kalender Xia diadopsi kembali, dan Imlek mulai menjadi perayaan yang lebih terstruktur dengan tradisi seperti kembang api dan pertunjukan kesenian.

3. Dinasti Qin dan Setelahnya:

– Dinasti Qin (221-206 SM): Dengan penyatuan Cina, Imlek menjadi perayaan nasional, meski tanggal pastinya masih belum konsisten sampai Dinasti Qin menetapkan standar penanggalan.

– Dinasti Tang dan Song: Perayaan Imlek menjadi lebih meriah dengan adanya penampilan seni, drama, dan pesta jalanan.

4.Kemajuan Modern:

– Masa Republik dan Komunis: Perayaan Imlek melalui masa-masa sulit selama perang saudara dan Revolusi Komunis, tetapi berkembang kembali sebagai perayaan besar setelah reformasi dan bukaan ekonomi di era paska-Mao Zedong.

– Imlek di Abad 21: Sekarang, Imlek adalah libur nasional utama di Cina, dengan perayaan yang menyebar ke seluruh dunia di mana komunitas Tionghoa tinggal, termasuk parade, kembang api, dan pertunjukan tradisional.

Sejarah Imlek di Indonesia:

1.Awal Kedatangan Tionghoa:

– Migrasi Awal: Orang Tionghoa mulai datang ke Nusantara sejak abad ke-3 Masehi, membawa budaya dan tradisi mereka, termasuk perayaan Imlek. Ini terutama terjadi selama Dinasti Han dan Tang, ketika perdagangan maritim antara Cina dan Nusantara berkembang.

– Dokumentasi Awal: Catatan dari para pelancong seperti Fa Hsien di abad ke-5 menyebutkan kehadiran orang Tionghoa di Jawa.

2.Masa Kolonial dan Kemerdekaan:

– Masa Kolonial: Selama penjajahan Belanda, perayaan Imlek diakui namun terkadang dilarang karena khawatir akan mengganggu ketertiban di koloni. Jepang, selama pendudukan, memungkinkan perayaan Imlek dan bahkan menetapkan sebagai hari libur.

– Pasca-Kemerdekaan: Di era Soekarno, perayaan Imlek diakui sebagai hari raya keagamaan dengan Penetapan Pemerintah No. 2/UM/1946. Namun, kebebasan ini segera dibatasi.

3.Orde Baru:

– Inpres No. 14/1967: Pada masa Soeharto, perayaan Imlek dilarang di ruang publik dengan Instruksi Presiden No. 14/1967, yang membatasi segala bentuk ekspresi budaya Tionghoa. Perayaan hanya diperbolehkan dalam lingkungan keluarga, dan bahkan itu pun sering kali dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

4.Reformasi dan Kebebasan:

– Era Gus Dur: Ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi presiden, ia mencabut Inpres No. 14/1967 dengan Keppres No. 6/2000, memberikan kembali kebebasan bagi masyarakat Tionghoa untuk merayakan Imlek secara terbuka.

– Keppres No. 19/2002: Di bawah kepemimpinan Megawati Soekarnoputri, Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional melalui Keppres No. 19/2002. Sejak itu, Imlek diakui dan dirayakan secara luas di Indonesia.

5.Perayaan Modern:

– Imlek Hari Ini: Sekarang, Imlek di Indonesia dirayakan dengan meriah di banyak kota, terutama di mana populasi Tionghoa besar seperti Jakarta, Semarang, dan Medan. Perayaan termasuk parade barongsai, pasar malam, dan berbagai acara budaya yang tidak hanya melibatkan komunitas Tionghoa tetapi juga masyarakat Indonesia lainnya.

Sejarah Imlek di Cina dan Indonesia menunjukkan bagaimana tradisi kuno dapat bertahan dan berkembang melalui perubahan sosial, politik, dan kultural. Di Cina, Imlek telah menjadi simbol kebanggaan nasional dan perayaan keluarga yang monumental. Di Indonesia, perayaan ini telah melewati masa-masa sulit, dari pelarangan hingga pengakuan resmi sebagai bagian dari keberagaman budaya nasional. Imlek tidak hanya mengajarkan tentang sejarah perayaan tetapi juga tentang kekuatan budaya dalam menghadapi tantangan zaman.

Dengan kata lain, Imlek adalah cerita tentang penyesuaian, ketahanan, dan keberlanjutan tradisi melalui milenium, yang terus hidup dan berkembang dalam konteks kontemporer di mana pun komunitas Tionghoa berada. (Heri)

Kajian Filosofis dan Spiritual tentang Peristiwa Isra Mikraj

JAYAKARTA NEWS— Isra Mikraj adalah peristiwa agung dalam Islam yang melibatkan perjalanan malam Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina dan kemudian naik ke langit hingga Sidratul Muntaha. Kejadian ini tidak hanya memiliki implikasi teologis tetapi juga filosofis dan spiritual yang mendalam. Berikut adalah kajian dari para ahli tafsir dan ulama besar mengenai aspek-aspek tersebut:

  1. Konsep Isra dan Mikraj dalam Al-Qur’an dan Hadis:

Qur’an:

  • Isra (perjalanan malam) dijelaskan dalam Surah Al-Isra (17:1) yang menyatakan, “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”
  • Mikraj (naik ke langit) dirujuk dalam Surah An-Najm (53:1-18), di mana dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW telah melihat tanda-tanda kebesaran Allah di langit.
    Hadis:
  • Hadis-hadis sahih dari Bukhari dan Muslim menjelaskan secara rinci peristiwa Isra Mikraj, termasuk pertemuan Nabi Muhammad SAW dengan para nabi lain di langit dan pemberian perintah salat lima waktu.
  1. Kajian Filosofis:
    a. Konsep Realitas dan Keajaiban:
  • Ibnu Arabi (1165-1240): Menurutnya, Isra Mikraj adalah peristiwa yang menunjukkan bahwa realitas lebih luas dari yang bisa difahami oleh manusia melalui logika saja. Bagi Ibnu Arabi, perjalanan ini adalah simbol dari perjalanan spiritual dan intelektual menuju ma’rifatullah (pengetahuan tentang Allah). Isra Mikraj menunjukkan bahwa ada dimensi dunia yang tidak terjangkau oleh indra manusia, namun bisa diakses melalui pengalaman spiritual.
  • Al-Ghazali (1058-1111): Dalam “Ihya Ulum al-Din,” Al-Ghazali menyebutkan bahwa Isra Mikraj adalah bukti kuasa Allah yang melampaui batas-batas fisika. Peristiwa ini mengajarkan bahwa kehendak Allah tidak terbatas oleh hukum-hukum alam yang kita kenal, mendorong manusia untuk melihat lebih dalam ke dalam hakikat eksistensi dan kemustahilan.

b. Simbolisme dan Makna:

  • Mulla Sadra (1571-1640): Filosof Transendental ini menganggap Isra Mikraj sebagai perjalanan dari dunia jasmani ke dunia spiritual. Peristiwa ini adalah metafora dari perjalanan jiwa manusia menuju kedekatan dengan Allah, melalui berbagai tahapan kesucian.
  1. Kajian Spiritual:
    a. Perjalanan Jiwa:
  • Syekh Abdul Qadir Al-Jilani (1077-1166): Dia menjelaskan bahwa Isra Mikraj adalah perjalanan yang setiap muslim harus lakukan secara spiritual. Isra adalah perjalanan dari kehidupan duniawi ke kehidupan spiritual, dan Mikraj adalah kenaikan kesadaran dari keduniaan ke keimanan yang mendalam.
  • Rumi (1207-1273): Dalam karya-karyanya, Rumi menggunakan Isra Mikraj untuk menggambarkan perjalanan batin yang harus dilakukan oleh setiap murid sufi. Menurutnya, setiap orang harus “mikraj” dari diri sendiri untuk menemukan Allah di dalam dirinya.
    b. Ibadah dan Ketaqwaan:
  • Ibnu Taimiyah (1263-1328): Dia menekankan bahwa peristiwa Isra Mikraj adalah mukjizat yang menegaskan keutamaan salat. Salah satu hikmah terbesar dari perjalanan ini adalah penentuan salat lima waktu sebagai ibadah utama dalam Islam, yang mencerminkan kehendak Allah untuk menjaga kaum muslimin tetap dekat dengan-Nya.
    c. Kesucian dan Kesempurnaan:
  • Ibn Kathir (1300-1373): Dalam tafsirnya, Ibn Kathir menjelaskan bahwa Isra Mikraj adalah bukti kesucian dan kesempurnaan Nabi Muhammad SAW. Perjalanan ini menunjukkan bahwa Nabi adalah puncak dari kenabian, di mana Allah memperlihatkan kepadanya tanda-tanda kebesaran-Nya secara langsung.
  • Relevansi Kontemporer:
    Pengajaran dalam Kehidupan Modern:
  • Hamka (1908-1981): Dalam tafsirnya, Hamka menyatakan bahwa Isra Mikraj adalah pelajaran bagi umat Islam modern untuk tidak terpaku pada materialisme dan untuk mencari kebahagiaan spiritual. Peristiwa ini mengajarkan bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kehidupan material, yaitu kehidupan spiritual yang lebih bermakna.
    Pengaruh dalam Dakwah dan Pendidikan:
  • Yusuf Qaradawi: Dia mengajarkan bahwa Isra Mikraj adalah contoh nyata dari bagaimana Allah berkomunikasi dengan manusia melalui keajaiban, mendorong dakwah yang tidak hanya berbasis nalar tetapi juga iman dan spiritualitas.
  • Tafsir dan Pandangan Kontroversial:
  • Kontroversi tentang Nature Perjalanan:
  • Beberapa ulama berbeda pendapat apakah Isra Mikraj terjadi secara fisik atau hanya spiritual. Imam Al-Tabari, misalnya, memilih pandangan bahwa perjalanan ini terjadi dengan jasad dan roh Nabi Muhammad SAW, sementara ada yang menafsirkan bahwa ini hanya perjalanan roh.
  • Makna dan Interpretasi:
  • Tafsir-tafsir ini menunjukkan bahwa meskipun ada kesepakatan bahwa Isra Mikraj adalah mukjizat, interpretasi terhadap detail peristiwa ini bisa sangat bervariasi, mencerminkan kompleksitas dalam memahami teks-teks agama.
  • Isra Mikraj bukan hanya sebuah peristiwa sejarah dalam Islam tetapi juga merupakan simbol dari perjalanan spiritual dan intelektual yang harus dijalani oleh setiap muslim. Para ahli tafsir dan ulama besar telah menyoroti berbagai aspek filosofis dan spiritual dari peristiwa ini, menegaskan pentingnya salat, kesucian, dan pencarian ma’rifatullah. Peristiwa ini mengajarkan bahwa realitas Allah melampaui batas-batas manusia, mendorong pencarian yang lebih mendalam dalam iman dan spiritualitas, dan memberikan pelajaran etika dan moral yang relevan hingga ke zaman modern.
  • Dengan demikian, Isra Mikraj tidak hanya sebuah cerita yang diimani tetapi juga sebuah ajaran yang hidup, mengundang setiap individu untuk melakukan perjalanan batiniah mereka sendiri menuju kesempurnaan spiritual. (Heri)

Stasiun Whoosh Karawang Perlu Dukungan Layanan Angkutan Umum

Oleh Djoko Setijowarno

Sejarah dan peradaban transportasi di Indonesia ditandai dengan hadirnya Kereta Cepat Jakarta Bandung (KCJB).

Kereta cepat  yang diberi nama  Whoosh tersebut diresmikan operasionalnya pada 2 Oktober 2023 oleh Presiden Joko Widodo di Stasiun Halim, Jakarta. Dengan kecepatan 350 kilometer per jam, Whoosh  merupakan kereta cepat pertama di Indonesia dan juga Asia Tenggara. Whoosh merupakan singkatan dari Waktu Hemat, Operasi Optimal, Sistem Hebat.

Sementara Stasiun Whoosh Karawang resmi dibuka pada 24 Desember 2024. Waktu Tempuh Stasiun Halim – Stasiun Karawang hanya 15 Menit. Pembukaan Stasiun Karawang sebagai bagian dari upaya optimalisasi layanan kereta Cepat Wcoosh.

Destinasi di sekitar Stasiun Karawang, seperti Stadion Wibawa Bakti, Perumahan Kota Deltamas, Aeon Mall Deltamas, The Grand Oulet, Artha Industrial Hill, San Diego Hill, Perumahan Rolling Hills, Kawasan Bisnis Resinda, Perumahan Grand Taruma, Alun-Alun Karawang, Kawasan Industri KIIC, dan Wisata Alam Kaliwungu.

Jalan akses eksisting menuju Stasiun Karawang Grand Taruma/Resinda Park via Jalan Badami. Akses ini terdapat longsoran pada sisi kanan jalan di Jalan Pangkalan menuju Stasiun Karawang dan saat ini hanya satu jalur yang dapat dilalui oleh kendaraan. Selain itu ada juga alternatf dari Resinda Park via Jalan Kawasan Trans Heksa Karawang (THK). Ada kendala portal yang menghambat kendaraan besar seperti bus dan mobil Elf untuk melewati jalan ini.

Lokasi Stasiun Karawang sangat strategis lantaran berbatasan langsung dengan beberapa kawasan pengembangan besar, seperti Kawasan Deltamas, Trans Heksa Karawang (THK), Kawasan KIIC, Komersial Resinda, dan pusat komersial lainnya di Kota Karawang. Target pasar pengoperasian Stasiun Karawang adalah masyarakat yang membutuhkan perjalanan komuter dan dari ke Kota Karawang, terutama untuk perjalanan bisnis, wisata dan keluarga. Berdasarkan kajian yang dilakukan Polar UI, penumpang lebih memilih untuk melakukan perjalanan pada pagi dan sore hari dibandingkan siang hari. Target penambahan penumpang dengan pengoperasian Stasiun Karawang 3.000 – 5.000 penumpang per hari (dalam kondsi belum optimal).

Secara keseluruhan, hasil Kajian Polar UI memproyeksikan target penumpang sebanyak 32 ribu penumpang per hari. Sebanyak 18 ribu dari dan ke Stasiun Halim, Stasiun Padalarang dan Stasiun Tegalluar. Lalu, sebanyak 14 ribu penumpang dari dan ke Stasiun Karawang. Dengan pembukaan Stasiun Karawang diproyeksikan akan memberikan bangkitan tambahan 14 ribu penumpang per hari (dengan kondisi akses dan integrasi antar moda ideal di semua stasiun asal dan tujuan).

Butuh Layanan Angkutan Lanjutan

Saat ini hanya tersedia angkutan lanjutan menggunakan ojek daring, taksi daring, dua armada mobil penumpang yang diberikan pihak pengembang kawasan.

Pemkab. Karawang harus menyiapkan fasilitas angkutan umum dari perumahan dan kawasan pemukiman melewati  stasiun. Juga pusat kota, beberapa kawasan industri dan lokasi wisata yang ada di Kabupaten Karawang. Kawasan tersebut adalah bangkitan perjalanan yang nantinya akan menggunakan kereta Whoosh menuju Jakarta atau sebaliknya dalam waktu lebih cepat ketimbang moda lainnya.

Aksesibilitas dan kelanjutan perjalanan hingga mendekati perumahan dan pemukiman akan menjadi kunci keberhasilan penumpang kereta Whoosh.

Sekarang ini jika masyarakat yang akan menggunakan kereta Whoosh, pilihannya menggunakan ojek, taksi atau angkutan layanan shuttle gratis. Menuju pusat Kota Karawang, tarif yang dikenakan menggunakan ojek daring Rp 40 ribu dan taksi daring Rp 100 ribu. Dua armada angkutan shuttle yang diselenggarakan The Grand Outlet dan Villaggio Outlets. Jelas tidak maksimal dan tidak akan banyak menarik penumpang menggunakan Kereta Whoosh. Oleh sebab itu keberadaan angkutan umum mutlak harus ada.

APBD Kabupaten Karawang Tahun 2024 sebesar Rp 5,86 triliun mestinya bisa membuat angkutan umum di Kabupaten Karawang jauh lebih baik ketimbang daerah lainnya. Apalagi didukung sejumlah kawasan industri, tentunya jauh lebih baik asal ada kemauan politik (political will) kepala daerahnya. Pengadaan sarana bus bisa meminta bantuan dari Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan swasta. Yang mengelola operator yang ada dengan konsorsium membuat badan usaha. Dapat berupa koperasi, sehingga memudahkan memberikan bantuan subsidi operasional dari APBD.

Keberadaan angkutan umum di Kabupaten Karawang akan sangat membantu mengurangi angka kemiskinan, anak putus sekolah, pengurangan perkawinan usia anak, dan stunting. Daerah miskin biasanya memiliki akses terhadap transportasi buruk. Belajar dari kasus di Jawa Tengah, di sejumlah wilayah di Provinsi Jawa Tengah, sebagian anak terpaksa putus sekolah lantaran angkutan umum sudah tidak tersedia di daerahnya. Angka putus sekolah meningkat yang berpengaruh terhadap peningkatan jumlah pernikahan dini sekaligus meningkatkan kelahiran bayi stunting. Angkutan umum yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan berbagai dampak dalam kehidupan masyarakat.

Selain itu dapat membantu menurunkan angka inflasi di daerah dan mengurangi pengeluaran biaya rutin bertransportasi setiap hari. Pengeluaran biaya transportasi di Indonesia rata-rata masih di atas 25 persen dari penghasilan setiap bulan. Idealnya, kurang dari 10 persen penghasilan setiap bulan.

Rendahnya pelayanan angkutan umum di tengah ketergantungan masyarakat untuk menggunakan kendaraan pribadi berpotensi mengurangi jumlah angkutan umum yang beroperasi. Pembiaran terhadap kondisi yang ada akan mempercepat hilangnya pelayanan angkutan umum. Intervensi Pemerintah termasuk Pemda diperlukan untuk menghindari kegagalan pasar layanan angkutan umum.

Di banyak kota-kota di dunia yang memiliki jaringan kereta cepat  di setiap stasiun yang disinggahi pasti ada layanan angkutan umum. Hanya di Indonesia saja para penentu kebijakan kurang paham akan penyediaan angkutan umum bagi warganya. Penyediaan angkutan umum itu kewajiban bukan beban. Sudah ada dalam amanah Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Umum. Cuma sayangnya tidak ada sanksi bagi kepala daerah yang tidak melakukannya.

Bupati Karawang terpilih dapat belajar pada beberapa kota di Bodetabek, seperti Kota Depok (Trans Depok), Kota Bekasi (Trans Patriot), Kabupaten Bekasi (Trans Wibawa Mukti), dan Kota Bogor (Trans Pakuan) yang sudah lebih dulu memiliki akses angkutan umum ke stasiun kereta, yakni KRL Jabodetabek.

Hal lain yang harus dilakukan adalah menambah kapasitas prasarana jalan. Jalan pangkalan perlu diperlebar menjadi dua jalur empat lajur. Akses menuju KM 47 dibangun jalan tembus dari Stasiun Karawang ke Jalan Industri Trans Heksa Karawang (THK). Akses menuju Kawasan Deltamas dibangun jembatan dan akses jalan dari Stasiun karawang ke Kawasan Deltamas. Juga dibuka gerbang tol (tol gate) ke KM 42 Jalan Tol Jakarta – Cikampek (Japek). ***

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat

Karmaphala Mopizarian

________________________________________________________________

Dua judul komik Mopizar atawa Mouna Pirous Zainal Arifin (1919-1985) membawa kata ‘pembalasan’. Kejahatan dalam komik-komiknya tiada pernah tak terhukum. Bagaikan representasi postulat ‘hukum karma’. Dua bentuk varian hibrida-reduksionis dari karmaphala dalam Hinduisme.

Mouna Pirous Zainal Arifin atawa Mopizar (1919-1985). (dok keluarga)

______________________________________________________________

Apa beda suatu dan satu ? Terdengar mirip, merujuk cerita-gambar Suatu Pembalasan (tt) dan Satu Pembalasan (1968) gubahan Mopizar, keduanya mengungkap naratif yang maknanya bertentangan. Naratif seperti apa?

Suatu Pembalasan adalah naratif berformat baris-komik (comic-strip) yang menunjukkan kematangan gambar penggubahnya. Dalam 78 panil yang ditampung 24 halaman, dalam variasi antara tiga dan empat panil sejajar per halaman, dikisahkan tentang petani Danu yang beristeri Darma dan Atun. Darma beranakkan Darmi (8) sedangkan Atun beranakkan Manis (6).

Tabiat kedua isteri ini berbeda, Darma rajin dan tanpa prasangka, sedangkan Atun pemalas dan selalu menanti peluang menyingkirkan Darma.

Suatu Pembalasan tanpa tahun, Satu Pembalasan tahun 1968. Bukan balas dendam, melainkan karmaphala.
Komik adalah media urban, tetapi Mopizar menggambarkan kehidupan agraris yang tidak terdapat dalam budaya urban itu sendiri.
Bahasa tubuh berkebun dan memasak di dapur
yang tampak sangat dikenal penggubahnya
.
Penggambaran kehidupan tepi sungai di pedalaman, adegan yang didengar Atun di balik dinding memberinya gagasan untuk membunuh Darma.

Kesempatan itu tiba saat air sungai pasang, Darma mencuci piring di tepi sungai, dan Atun menendangnya agar jatuh dan diseret kederasan arus. Tewaslah Darma.

Pembunuhan di pedalaman.

Danu mencurigai ketenangan Atun ketika Darma tak kunjung pulang. Di tepi sungai ditemukannya piring bersabun yang mengering. Didesaknya Atun dengan pandangan mengancam.

Atun ketakutan. Saat hujan deras dan petir menggelegar, Atun berlari ke luar rumah. Dalam kegelapan Atun pun terjerumus masuk ke sungai. Tewas menyusul Darma.

Atun tewas di tempat ia membunuh Darma.

Mopizar tercatat menggali gagasan tentang kejahatan dalam berbagai komiknya, dengan pendekatan ‘hukum karma’ sebagai dasar alur, tempat pelaku kejahatan mendapat hukuman atau balasan atas perbuatannya secara setimpal. Pendekatan ini berlaku dalam Hukum Tanpa Hakim (1966), Tangan Mencencang Bahu Memikul (1966), dan Suatu Pembalasan tadi, yang data tanpa-tahunnya, beserta perbandingan gambar, dapat berarti tahun terbitnya lebih tua.

Namun konsep ‘hukum karma’ sendiri tidak selalu sama penjabarannya dengan apa yang dapat ditarik dari ketiga cerita-gambar Mopizar tersebut. Tak pernah disebut ‘hukum karma’, melainkan karma sahaja, setidaknya terdapat enam arti karma dalam konteks Upanishad maupun Rig Veda.

Pertama dan maknanya paling mendasar, karma adalah tindakan atau perbuatan. Kata benda karma berasal dari kata kerja kri, yang terhubung dengan kata Latin creo = membuat atau melakukan, baik membuat meja atau melakukan upacara. Sering dilawankan dengan pikiran dan ucapan: orang dapat berpikir, berkata, atau melakukan (kri) sesuatu, dengan konsekuensi nan terus meningkat.

Kedua, makna “karma” adalah tindakan ritual, terutama tindakan ritual Veda; itulah konotasi utamanya dalam Rig Veda.

Ketiga, yang mulai berlaku dalam Upanishad: tindakan yang bermuatan moral, baik atau buruk, seperti meteran yang selalu berjalan, yang terus-menerus membebankan sesuatu ke rekening seseorang.

Keempat, mengikuti makna ketiga: tindakan bermuatan moral
yang mempunyai konsekuensi bagi jiwa di masa depan, yang bersifat retributif baik dalam kehidupan seseorang maupun melintasi penghalang kematian.
Seperti akan menjadi kambing yang dimakan, jika sudah memakan kambing.

Dalam pengertian ini, karma adalah tindakan yang muatan moral retributifnya menentukan sifat kelahiran kembali (reinkarnasi) di masa depan. Konsekuensi mempunyai konsekuensi, dan hal pertama yang diketahui: lahir sebagai kambing.

Kelima, karma bukan penyebab kehidupan masa depan, tetapi akibat kehidupan masa lalu, dan agenda kehidupan ini: peran yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan adalah seseorang dilahirkan untuk bermain, bekerja, atau melakukan aktivitas bawaan.

Keenam, karma adalah implikasi bahwa karma baik dan buruk juga bisa terjadi, ditularkan dari satu orang ke orang lain dalam keadaan tertentu. Bukan hanya antara orang tua dan anak-anak, dan antara pendeta yang berkorban dan pelindungnya, tetapi dalam perjumpaan setiap orang.

Peralihan ini dapat terjadi baik sengaja maupun tidak sengaja: teks Dharma mengatakan bahwa jika seseorang membiarkan seorang tamu pergi tanpa makan, maka tamu tersebut akan membawa karma baik tuan rumah dan tinggalkan karma buruknya sendiri.

Gagasan tentang karma tentu saja tidak diterima oleh semua orang sebagai solusi akhir terhadap masalah kematian (atau kejahatan); banyak
lainnya, ide-ide yang bertentangan diajukan dan diterima secara luas, bersamaan dengan teori karma (Doniger 2009, 168-9).

Makna kelima dan keenam tampak bisa dibandingkan ‘hukum karma’ dari kasus-kasus cerita-gambar Mopizar, tetapi sudah jelas tidak sama. Dalam apa yang disebut Hinduisme, dalam hukum karma perbuatan apa pun merupakan akibat dari suatu sebab, dan pada gilirannya menjadi penyebab dari akibat lainnya. Seluruh prosesnya disebut samsara (Zaehner 1992, xiii).

Postulat ‘hukum karma’ dalam mitos sehari-hari itu memang tidak bisa dikembalikan kepada suatu sumber, yang diandaikan dapat bertanggung jawab, karena sudah mengalami hibrida-reduksionis dalam pergaulan multikultural, menjadi lebih praktis ketimbang teoretis: hanya mengurusi perbuatan jahat.

Pepatah Tangan Mencencang Bahu Memikul = Kesalahan yang kita perbuat itu, kita pula yang menanggungnya (Iskandar et al 1950, 371) adalah contohnya. Inilah yang seolah membuatnya masih setara dengan pengertian karmaphala (hasil, buah = phala, dari tindakan, perbuatan = karma), yang menjadi bagian dari keluasan empat pengertian: dharma-moksha-samsara-karma (Zaehner, op.cit., xv).

***

Satu Pembalasan berjudul mirip Suatu Pembalasan, tetapi semangatnya sungguh berbeda. Masih sama-sama terbaca makna betapa pelaku kejahatan akan mendapat balasan setimpal, tetapi kini bukan ‘hukum karma’ sebagai sistem kodrat yang berbicara, melainkan pembalasan sebagai proyek (mengubah nasib).

Terdiri dari dua jilid (2 x 32 hal), merupakan pembagian atas alur petaka yang menimpa orangtua Imah, dan bagaimana Imah kecil diselamatkan dan diangkat murid oleh Pengemis Cakar Elang, ketika desanya dirampas kawanan Si Buto (Jilid 1); yang nantinya berhasil membalas dendam bukan hanya dengan otot, melainkan juga akal (Jilid 2).

Pondok reyot sebagai representasi kemiskinan.
Pendekar pengemis, sawah, dan rumah-rumah di desa.

Sebagai cerita silat, keunikan gubahan Mopizar, bahwa peran makhluk halus bisa menjadi lawan kasar sang pendekar Imah, yakni bersilat, seperti dalam Tewasnja Iblis Bermata Satu (1968) berulang kembali dalam Jilid 1.

Dalam batas genre: hibrida silat dan horor.

Dibanding Jilid 2, bahwa Imah yang sudah jagoan mengerahkan daya kibul manusia untuk menghemat tenaga, membuat Satu Pembalasan ibarat setangkup dimensi halus-kasar.

Gua pohon dan sosok tak berwajah: ruang imajinatif genre silat.

Penting mengungkap daya kibul Imah: menyadari keperkasaan para pengawal Si Buto, Imah datang ke desa asalnya bukan sebagai pendekar, melainkan perempuan sahaja, yang dengan kewanitaannya berhasil mengadu domba kawanan tersebut. Tersisa Si Buto, kepadanya Imah melakukan pembalasan. Demikianlah suatu tindak kejahatan telah berbalas, sesuai ‘hukum karma’, tetapi bukan secara kodrati, melainkan perjuangan manusiawi, dalam
ritus karmaphala cerita silat: balas dendam.

***

Dalam perspektif Mopizarian, sebagai cerita-gambar, dapat ditemukan kembali segenap keberdayaan naratif dalam panil-panil gambarnya, yang selain berkonteks alur mengungkapkan kembali keberadaan suatu dunia secara hidup. Menjadikannya lebih dari sekadar pesona gambar, melainkan juga dengan suatu cara sebagai dokumen sosial masanya.

Dari segi tematik, ketika Suatu Pembalasan terbit semasa pra-1966 (berdasar ‘tt’/tanpa tahun pada produknya), keluarga dengan dua istri hadir tanpa kontroversi sama sekali bagi peran suami; dan justru saat salah satu istrinya tidak toleran terhadap istri yang lain itulah yang terhukum.

Danu dan dua istri: tanpa kontroversi.

Dalam penguasaan teknik realis, penggambaran Mopizar mengembalikan sesuatu yang tidak sering ditemukan lagi: kebersahajaan hidup pedalaman, yang memang menjadi ironis dengan keberadaan politik kekuasaan di dalam rumah tangga.

Begitupun tetap menawan penggambaran perempuan-perempuan dewasa maupun anak-anak, yang berkain kebaya dan berambut panjang, terurai maupun digelung, dalam lingkungan rumah gubuk, ladang, sungai, dan peristiwa alam yang berperan dalam cerita.

Gerak-gerik, busana dan rambut, serta lingkungan alam
tempat berlangsungnya kejahatan.

Adapun Satu Pembalasan, sebagai komik genre silat, memberi banyak ruang bagi banyak adegan laga.

Namun dengan latar yang terandaikan berada di pedesaan, dapat dikenali kembali segala penggambaran terujukkan: mulai dari busana, blangkon, ikat kepala, sawah, maupun rumah-rumah dan ruang dalamnya.

Perhatian dapat diberikan kepada dua kali penyamaran Imah: pertama, sebagai (pendekar) pria; kedua, sebagai wanita (biasa, bukan perempuan pendekar), yang memberi peluang penggambaran perempuan-maskulin maupun wanita-feminin dalam jalan yang kompleks menuju phala dari karma Si Buto.

Menyamar sebagai pria: pemandangan dan warung sebagai tempat menginap.
Menyamar sebagai wanita (biasa): permainan gender di dunia pria.

Melalui peran wanita biasa penggambaran serba realis membumikan kembali Satu Pembalasan, melalui peran perempuan pendekar penggambaran imajinatif terdorong sampai mendapat lawan makhluk aneh.

Betapapun, adalah saat berperan sebagai wanita feminin, yang mengumbar rayuan demi adu domba di sarang lawan, menjadi bagian-bagian paling menarik dari judul ini: bahwa dalam cerita-gambar bergenre silat bisa saja bukan adegan pertarungan, melainkan pengadeganan realis yang berperan besar.

Adu domba sang pendekar silat.
Imah harus melaksanakan ‘hukum karma’ itu sendiri.

Begitulah telah disampaikan betapa Suatu Pembalasan (tt) dan Satu Pembalasan (1968) yang judulnya bermiripan, dengan tema karmaphala-nya masing-masing menempuh jalan berbeda. Namun dalam keduanya adalah penggambaran kebersahajaan yang mengkristal cemerlang sebagai rekaman zaman.

Di rumah gedhèk itu hanya ada satu ruang, tempat guru silat dan muridnya juga tidur di situ.

Kedua tema pembalasan ini sama-sama berjarak, bahkan cukup lepas, jika diujikan kepada karmaphala Hinduisme, tetapi sahih sebagai karmaphala Mopizarian.

SENO GUMIRA AJIDARMA, partikelir di Jakarta.

Gambar-gambar © (tt), 1968 MOUNA PIROUS ZAINAL ARIFIN
/ T.B Mulia Djakarta — Penerbit Nasional Bandung
, “Suatu Pembalasan” dari koleksi Antono Patina Antik