Risiko Tersembunyi di Persimpangan Jalan

Oleh: Muhamad Akbar, Pemerhati Transportasi

Di sebuah persimpangan padat di Jakarta, seorang pengendara dengan buta warna parsial terhenti sejenak. Dari kejauhan, lampu lalu lintas tampak menyala terang, namun ia diliputi keraguan: apakah itu merah atau hijau?

Secara umum, posisi lampu memberi petunjuk—lampu di atas berarti merah, lampu di bawah hijau. Tetapi dalam kondisi nyata di jalan raya, terutama saat malam hari atau ketika hujan, pantulan cahaya dan keterbatasan jarak pandang kerap membuat penafsiran menjadi keliru. Ini bukan kisah rekaan. Dengan angka kejadian buta warna parsial sekitar 5–8 persen pada laki-laki, diperkirakan lebih dari delapan juta orang di Indonesia menghadapi tantangan serupa setiap hari di jalan raya.

Perhatian terhadap persoalan ini kini sampai ke Mahkamah Konstitusi (MK). Dalam Putusan Nomor 149/PUU-XXIII/2025, majelis hakim memang menolak permohonan uji materi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Namun, putusan itu justru memuat amanat penting.

MK menegaskan bahwa pelaksanaan aturan tersebut harus memperhatikan keselamatan penyandang disabilitas visual. Wakil Ketua MK Arsul Sani  menyatakan, “Termasuk mereka yang mengalami buta warna parsial, dengan melengkapi sarana dan prasarana lalu lintas yang melindungi dan memberikan rasa aman bagi mereka semua, termasuk menyediakan alat pemberi isyarat lalu lintas yang mengakomodasi kebutuhan penyandang defisiensi penglihatan warna.”

Berikut adalah sejumlah butir kunci dari putusan tersebut:

Fact Box

● Putusan MK Nomor 149/PUU-XXIII/2025

● Perkara: Pengujian Materiil terhadap Pasal 25 ayat (1) huruf c Undang-Undang No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

● Pemohon: Singgih Wiryono dan Yosafat Diva Bayu Wisesa (wartawan penyandang buta warna parsial).

● Pokok Permohonan: Menguji keabsahan sistem lampu lalu lintas (APILL) yang hanya mengandalkan warna, dinilai diskriminatif dan tidak menjamin keselamatan bagi penyandang disabilitas visual.

● Amar Putusan: Permohonan ditolak. Materi muatan ayat yang dimohonkan untuk diuji dinyatakan konstitusional.

● Pertimbangan Penting MK: Meski menolak permohonan, MK menegaskan bahwa implementasi UU wajib inklusif. Pemerintah harus mengakomodasi kebutuhan penyandang buta warna dalam kebijakan teknisnya.

● Implikasi Hukum: Putusan ini menjadi landasan hukum yang kuat bagi pemerintah untuk segera menyusun dan merevisi peraturan teknis, standar nasional (SNI), serta menata ulang sarana lalu lintas yang aksesibel bagi semua.

Ketika Lampu Lalu Lintas tak bisa Dibaca Semua Mata

Jalan raya adalah ruang publik yang harus aman bagi semua. Namun, ketika lampu lalu lintas (APILL) hanya mengandalkan kode warna merah, kuning, dan hijau, penyandang buta warna seakan terpinggirkan dari sistem keselamatan lalu lintas. Padahal, konstitusi secara jelas menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh rasa aman dan perlindungan. Mengabaikan kebutuhan kelompok ini sama artinya dengan membiarkan sebagian masyarakat menanggung risiko yang lebih besar di ruang publik yang semestinya setara dan inklusif.

Aksesibilitas di ruang publik bukanlah bentuk kemurahan hati negara, melainkan hak dasar setiap warga. Lampu lalu lintas yang bisa dipahami penyandang buta warna harus dipandang sama pentingnya dengan rambu-rambu keselamatan lainnya yang wajib disediakan bagi seluruh pengguna jalan.

Analogi yang sederhana dapat menjelaskan hal ini: pembangunan ramp bagi kursi roda di sebuah gedung bukanlah fasilitas tambahan, melainkan syarat agar penyandang disabilitas dapat masuk dan beraktivitas. Demikian pula, lampu lalu lintas yang dapat “dibaca” oleh difabel visual adalah prasyarat agar mereka bisa berpartisipasi dengan aman di jalan raya.

Ketika hak dasar itu diabaikan, dampaknya terasa nyata dalam kehidupan sehari-hari. Banyak penyandang buta warna merasa khawatir salah membaca isyarat lampu lalu lintas. Kekhawatiran itu membuat sebagian enggan menyetir, bahkan ragu sekadar menyeberang jalan. Akibatnya, kesempatan mereka untuk bekerja, belajar, atau bersosialisasi sering kali ikut terhambat. Lebih jauh, rasa cemas dan tekanan mental yang harus ditanggung setiap kali berada di jalan raya menjadi bentuk ketidakadilan yang seharusnya bisa dihindari.

Jalan raya mestinya memberi rasa aman bagi semua, bukan menambah beban bagi sebagian warganya. Untuk memastikan prinsip itu berjalan, diperlukan langkah nyata dari pemerintah melalui regulasi dan kebijakan yang jelas.

Ilustrasi lampu lalu lintas. (foto: https://www.innovationnewsnetwork.com/)

MK Sudah Bicara, Kini Giliran Pemerintah Membuktikan

Putusan Mahkamah Konstitusi memang hanya bersifat pertimbangan, bukan perintah eksekusi. Namun, arah yang diberikan jelas: pemerintah perlu memastikan lampu lalu lintas dapat dipahami semua warga, termasuk penyandang buta warna. Pertimbangan ini cukup kuat untuk dijadikan dasar revisi aturan teknis. Kementerian Perhubungan, misalnya, dapat memperbarui spesifikasi lampu lalu lintas melalui Keputusan Menteri. Revisi ini tidak mengubah warna atau urutan yang berlaku, melainkan menambahkan elemen bentuk, simbol, atau pola cahaya agar lebih mudah dibedakan.

Langkah teknis tersebut bisa dilakukan tanpa harus mengubah undang-undang. Pemerintah pusat cukup menetapkan standar baru yang wajib diikuti daerah. Setelah regulasi diperbarui, kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, atau Bandung dapat segera menyiapkan lokasi dan desain uji coba.

Agar efektif, sosialisasi kepada masyarakat mutlak dilakukan, sehingga setiap pengendara memahami makna tambahan pada lampu lalu lintas yang baru. Tanpa edukasi publik, inovasi apa pun berisiko menimbulkan kebingungan di jalan. Dengan langkah-langkah terencana ini, amanat MK tidak berhenti sebagai wacana, melainkan benar-benar terwujud dalam sistem lalu lintas yang lebih inklusif.

Pertanyaannya, apakah penambahan simbol atau pola cahaya pada lampu lalu lintas sejalan dengan standar internasional? Di sinilah Konvensi Wina 1968 tentang Lalu Lintas Jalan relevan untuk dikaji.

Konvensi Wina: Baku, tapi tak Membelenggu

Konvensi Wina 1968 tentang Lalu Lintas Jalan telah lama menjadi rujukan utama harmonisasi aturan lalu lintas bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Perjanjian internasional ini bertujuan memfasilitasi mobilitas kendaraan antarnegara sekaligus meningkatkan standar keselamatan jalan. Dalam lampirannya, konvensi menetapkan standar minimum untuk lampu lalu lintas, yakni penggunaan tiga warna (merah, kuning, dan hijau) dengan tata letak yang seragam. Untuk pemasangan vertikal, merah harus berada di posisi paling atas, disusul kuning di tengah, dan hijau di bawah.

Sementara dalam konfigurasi horizontal, merah menempati sisi kiri dan hijau di sisi kanan. Pola ini dirancang untuk memastikan sinyal tetap mudah dikenali, termasuk oleh pengemudi yang mengalami kesulitan dalam membedakan warna. Prinsip dasar yang dianut adalah setiap sinyal harus “clearly visible and distinct”—jelas terlihat dan mudah dibedakan secara universal.

Meski mengatur warna dan posisi dengan ketat, Konvensi Wina tidak menutup ruang bagi inovasi. Dokumen ini pada dasarnya menetapkan standar minimal, sementara negara peserta tetap memiliki keleluasaan menambahkan penyesuaian sepanjang tidak bertentangan dengan tujuan utamanya. Pendekatan melalui pemahaman atas semangat konvensi, yakni keselamatan dan keterbacaan universal membuka jalan bagi inovasi yang lebih inklusif bagi semua pengguna jalan.

Praktik di berbagai negara memperlihatkan bagaimana pendekatan ini diterapkan. Jepang melengkapi lampu hijau dengan panah untuk menunjukkan arah yang boleh dilalui. Di banyak negara Eropa dan Amerika Utara, lampu penyeberangan ditambah ikon orang berjalan atau tangan, sementara Inggris menambahkan sinyal audio.

Contoh-contoh ini menegaskan bahwa inovasi seperti simbol atau pola cahaya tidak bertentangan dengan Konvensi Wina, melainkan memperkuat tujuannya: menjadikan lalu lintas lebih aman dan inklusif. Tantangannya kini bagi Indonesia adalah menerjemahkan ruang inovasi tersebut ke dalam solusi teknis yang nyata dan dapat segera diterapkan di lapangan.

Bentuk, Simbol, dan Suara: Bahasa Baru Lampu Lalu Lintas

Prinsip dasar yang perlu dipegang adalah redundansi informasi, yakni menghadirkan lebih dari satu isyarat untuk menyampaikan pesan yang sama. Dengan cara ini, apabila satu lapisan informasi (misalnya warna) tidak dapat terdeteksi, lapisan lainnya (seperti bentuk atau simbol) tetap dapat menyampaikan pesan dengan jelas. Analogi sederhana bisa dilihat pada rambu Stop berbentuk segi delapan dengan tulisan “STOP”. Bahkan tanpa membaca tulisannya, bentuk segi delapan itu sudah cukup dikenali pengemudi. Prinsip serupa dapat diterapkan pada lampu lalu lintas dengan menambahkan bentuk, simbol, atau pola cahaya di samping warna.

Berbagai solusi teknis dapat diterapkan untuk membuat lampu lalu lintas lebih inklusif. Lampu merah, misalnya, bisa ditampilkan dalam bentuk segiempat atau diberi simbol “X” di dalamnya—sebuah tanda universal yang berarti “berhenti”. Lampu kuning dapat dilengkapi ikon segitiga ⚠️sebagai penanda peringatan atau dibuat berkedip, sementara lampu hijau diperjelas dengan panah arah ➡️. Untuk penyeberangan pejalan kaki, ikon orang berjalan atau tangan terbuka untuk “berhenti” sudah lazim digunakan di berbagai negara. Di titik penyeberangan, tambahan berupa sinyal audio atau getaran pada tombol akan sangat membantu pengguna jalan yang kesulitan membaca warna.

Perkembangan teknologi LED menjadi angin segar bagi terwujudnya lampu lalu lintas yang inklusif. Perangkat modern memungkinkan berbagai bentuk, simbol, dan pola cahaya yang rumit diprogram dalam satu unit panel yang sama dengan biaya relatif efisien. Dengan dukungan teknologi ini, gagasan lampu lalu lintas ramah difabel bukan lagi sebatas wacana, melainkan solusi yang realistis untuk segera diwujudkan.

Ilustrasi buta warna. (foto: https://www.nvisioncenters.com/)

Buta Warna Menunggu Lampu Hijau Pemerintah

Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 149/PUU-XXIII/2025 bukanlah akhir perkara, melainkan justru menjadi ujian nyata bagi komitmen pemerintah dalam memenuhi hak-hak konstitusional warga negaranya.

Negara diingatkan untuk tidak lagi abai terhadap kebutuhan kelompok penyandang disabilitas visual, sekecil apa pun itu. Konstitusi sudah jelas menjamin setiap warga berhak atas rasa aman dan perlindungan, termasuk di jalan raya.

Pertanyaannya kini, apakah pemerintah benar-benar siap untuk menindaklanjuti putusan tersebut dengan kebijakan konkret, atau membiarkannya sekadar menjadi catatan hukum tanpa makna.

Implikasinya pun jelas. Jika ditindaklanjuti, Indonesia akan melangkah maju menuju sistem transportasi yang ramah bagi semua dan beradab. Namun jika diabaikan, janji kesetaraan hanya berhenti sebagai retorika, sementara sebagian warga tetap menanggung risiko di jalan raya. Faktanya, seluruh prasyarat sudah tersedia: ada landasan hukum melalui putusan MK, ada solusi teknis yang terbukti di banyak negara, dan ada kewenangan penuh Kementerian Perhubungan untuk memperbarui aturan.

Yang dibutuhkan kini hanyalah kemauan politik (political will) untuk mengubahnya menjadi kenyataan. Dan kelak, di simpang jalan yang sibuk itu, seorang pengendara dengan buta warna tak lagi ragu: ia tahu kapan harus berhenti, dan kapan boleh melaju. (*)

“Jamu” Metode dan Cara Penyembuhan

Oleh Gde Mahesa

Kata “jamu” berasal dari bahasa Jawa kuno “Djampi” bermakna ramuan atau metode penyembuhan dengan herbal. 

Pengobatan jamu adalah warisan leluhur yang diwariskan dari generasi ke generasi, dengan resep yang selalu dijaga secara turun-temurun. 

Keberadaan jamu telah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno, yang dibuktikan dengan ilustrasi pembuatan jamu di situs arkeologi seperti situs Liyangan dan relief candi. 

Indonesia yang kaya tradisi, memiliki beragam metode pengobatan tradisional yang populer di kalangan masyarakat. Hal ini menjadi bagian dari kekayaan budaya yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Pengobatan tradisional merupakan bagian dari sistem perawatan kesehatan yang berhubungan dengan cara hidup masyarakat. Di mana, pengobatan ini berlandaskan pada keseimbangan tubuh, alam, dan roh.

Metode

Metode pengobatan tradisional yang ada sangat beragam, praktek-praktek ini mencerminkan kearifan lokal yang tidak hanya berfungsi untuk menyembuhkan penyakit, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan tubuh dan mencegah timbulnya berbagai masalah kesehatan. Dalam pengobatan dikenal ada beberapa metode.

1. Metode Suwuk merupakan pengobatan tradisional yang menggunakan mantra dan rapalan doa dari dukun yang diletakkan di air putih maupun ramuan dari tumbuh-tumbuhan. Dalam prosesnya, menggunakan deteksi penyakit melalui pijatan dan komunikasi batin. Kemudian diikuti dengan pemberian ramuan herbal dan teknik pijatan.

2. Metode penggunaan jamu, merupakan minuman herbal yang terbuat dari berbagai bahan alami, seperti rempah-rempah dan tumbuhan. Jamu telah menjadi bagian integral dari budaya Jawa dan digunakan untuk menjaga kesehatan serta mengobati berbagai penyakit.

Pembuatan jamu dilakukan secara tradisional dengan resep yang diturunkan dari nenek moyang dan sudah ada sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno. Hal ini dibuktikan melalui ilustrasi relief dicandi, danh prasasti Madhawapura yang menyebut peracik jamu dengan sebutan acaraki.

3. Metode pengobatan alternatif merupakan istilah umum yang mencakup berbagai metode pengobatan seperti akupuntur, herbal, reiki, tai chi timur kuno, manipulasi kiropraktik, dan masih banyak lagi. Beberapa praktik pengobatan alternatif yang terkenal menggunakan minyak khusus dan doa untuk menyembuhkan berbagai penyakit.

4. Metode penggunaan ramuan herbal untuk masuk angin atau pegal-pegal sangat umum dilakukan di Jawa. Masyarakat meracik ramuan sendiri atau mendapatkan ramuan dari dukun yang memiliki pengetahuan tentang tumbuhan obat. Penggunaan tanaman obat menunjukkan kedekatan masyarakat dengan alam dan kebijaksanaan dalam memanfaatkan alam sekitar.

Salah satu sumber yang merekam berbagai metode pengobatan tradisional ini adalah Serat Primbon Jampi Jawi. Serat ini adalah sebuah naskah yang berisi kumpulan pengetahuan tentang pengobatan Jawa.

Selain metode tersebut, juga ada cara-cara pemakaian atau penggunaan jamu atau herbal. Seperti

Pada naskah Serat Primbon Jampi Jawi, terdapat beberapa metode pengobatan tradisional Jawa dengan pemakaiannya selain diminum. Berikut keterangannya:

1. Tapel merupakan sebuah bentuk jamu atau obat yang dapat digunakan dengan diusapkan di perut bagi yg mengidap diare, anak cacingan, orang tua yang merasa perutnya sesak, dan orang tua yang tidak bisa buang angin atau kencing.

2. Jamu boreh mirip dengan tapel, perbedannya pada ramuan jejamuan yang dicairkan lalu dibalurkan ke seluruh tubuh. Beberapa penyakit yang dapat disembuhkan, antara lain anak yang terkena sawan, demam dan keluar cacing, juga untuk penderita badan terasa panas dingin.

3. Cara Cekok. Ada orang yang mungkin berpikir apakah jamu ini harus dengan cara dicekokkan dan seolah olah dipaksakan? Jawabannya iya. Penyajian jamu cekok adalah dengan cara memeraskan jamu dengan kain di atas mulut secara paksa, biasanya untuk anak kecil. Manfaat jamu ini untuk kesehatan atau upaya untuk menyembuhkan penyakit pada anak, antara lain anak diare, anak sakit panas di sekujur badan, anak terkena sakit panas dalam, mengidap sawan, dan lain-lain.

4. Cara sembur. Terdengar di luar nalar, namun demikianlah adanya. Beberapa penyakit yang dapat diobati dengan cara ini antara lain, anak terkena sawan, anak batuk, sering menangis di malam hari, atau seseorang sakit di bagian dada dan sesak.

Lain daripada hal tersebut di atas, kopi juga bisa jadi jamu, tentunya harus dinikmati tanpa gula, untuk itu tetap sruputtt kopi pahitnya bullll bullll klepussss….

Bagaimana Peluang Indonesia pada Peta Persaingan AI Global

Oleh : Heri Mulyono

Revolusi kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence – teknologi yang membuat mesin dapat “berpikir” seperti manusia) telah mengubah lanskap teknologi global secara fundamental. Dalam dekade terakhir, persaingan antar negara untuk menguasai teknologi AI semakin intensif, menciptakan peta geopolitik teknologi yang kompleks. Setiap negara berlomba mengembangkan infrastruktur (sarana dan prasarana teknologi), melahirkan talenta terbaik, dan menciptakan ekosistem inovasi yang mendukung kemajuan AI. Artikel ini akan menganalisis peta persaingan AI global saat ini, mengidentifikasi negara-negara yang paling siap dalam hal infrastruktur, tokoh-tokoh kunci pengembang AI, serta mengevaluasi posisi Indonesia dalam kompetisi global ini.

Amerika Serikat: Hegemon Teknologi AI

Amerika Serikat masih mempertahankan posisi dominannya dalam pengembangan AI global. Keunggulan AS terletak pada ekosistem teknologi yang matang, dengan Silicon Valley (kawasan teknologi di California) sebagai pusat inovasi dunia. Perusahaan-perusahaan raksasa seperti Google, Microsoft, Apple, dan Meta telah menginvestasikan triliunan dolar dalam penelitian dan pengembangan AI.

Infrastruktur komputasi AS sangat robust (kuat dan handal), dengan akses ke chip semikonduktor canggih (komponen elektronik yang menjadi “otak” komputer) dan pusat data berkelas dunia (fasilitas yang menyimpan server-server komputer raksasa). National Science Foundation dan Department of Defense AS secara konsisten mengalokasikan anggaran besar untuk penelitian AI. Universitas-universitas elite seperti Stanford, MIT, dan Carnegie Mellon menjadi tempat lahirnya talenta AI terbaik dunia.

Tokoh-tokoh kunci dari AS meliputi Demis Hassabis (CEO DeepMind – perusahaan AI milik Google), Yann LeCun (Chief AI Scientist Meta – ahli AI utama di Facebook), Geoffrey Hinton (dijuluki “Godfather of Deep Learning” karena kontribusinya pada teknologi pembelajaran mendalam), dan Sam Altman (CEO OpenAI – perusahaan pembuat ChatGPT). Mereka tidak hanya berkontribusi pada terobosan teknologi, tetapi juga membentuk arah pengembangan AI global.

Tiongkok: Kekuatan AI Baru yang Menantang Hegemoni Barat

Tiongkok telah muncul sebagai pesaing serius AS dalam bidang AI. Strategi “AI 2030” yang diluncurkan pemerintah Tiongkok menargetkan kepemimpinan global dalam AI pada tahun 2030. Investasi pemerintah yang masif, ditambah dengan dukungan penuh dari perusahaan-perusahaan teknologi besar seperti Baidu (mesin pencari China), Alibaba (e-commerce raksasa), dan Tencent (perusahaan game dan media sosial), menciptakan momentum luar biasa.

Infrastruktur AI Tiongkok berkembang pesat, dengan investasi besar-besaran dalam pusat data dan cloud computing (komputasi awan – layanan komputer melalui internet). Negara ini memiliki keunggulan dalam akses big data (data dalam jumlah sangat besar) berkat populasi yang mencapai 1,4 miliar jiwa. Program pelatihan AI nasional telah menghasilkan jutaan insinyur dan peneliti AI.

Tokoh-tokoh kunci AI Tiongkok antara lain Andrew Ng (ahli AI asal Stanford yang juga bekerja di China), Kai-Fu Lee (investor dan penulis buku AI Superpowers), Robin Li (CEO Baidu), dan Zhang Hongjiang (Chairman Beijing Academy of AI). Mereka memimpin transformasi AI di Tiongkok dan Asia secara keseluruhan.

Uni Eropa: Fokus pada AI Etis dan Berkelanjutan

Uni Eropa mengambil pendekatan berbeda dalam pengembangan AI, dengan menekankan aspek etika dan regulasi (aturan dan pengawasan). European AI Act yang diluncurkan tahun 2024 menjadi kerangka regulasi AI pertama di dunia yang komprehensif. Strategi ini mencerminkan komitmen EU terhadap “trustworthy AI” (AI yang dapat dipercaya) yang aman dan dapat diandalkan.

Negara-negara seperti Jerman, Prancis, dan Belanda memimpin penelitian AI di Eropa. German Research Center for AI (DFKI) dan French National Institute for Research in Digital Science and Technology (Inria) menjadi pusat-pusat penelitian unggulan. Infrastruktur komputasi Eropa juga semakin menguat dengan investasi dalam superkomputer (komputer super cepat) dan quantum computing (teknologi komputasi masa depan yang sangat canggih).

Tokoh-tokoh berpengaruh dari Eropa termasuk Jürgen Schmidhuber (Swiss AI Lab), Yoshua Bengio (University of Montreal), dan Thomas Wolf (Hugging Face – platform berbagi model AI). Mereka membawa perspektif unik tentang pengembangan AI yang bertanggung jawab.

Jepang dan Korea Selatan: Inovasi AI dalam Teknologi Konsumer

Jepang dan Korea Selatan memiliki keunggulan dalam penerapan AI pada teknologi konsumen dan robotika. Perusahaan-perusahaan seperti Sony, Toyota, Samsung, dan LG telah mengintegrasikan AI dalam produk-produk mereka secara masif. Kedua negara ini juga unggul dalam penelitian robotika dan AI untuk manufaktur (industri pembuatan).

Infrastruktur teknologi Jepang dan Korea Selatan sangat canggih, dengan jaringan 5G (teknologi internet super cepat) yang luas dan tingkat adopsi teknologi yang tinggi di kalangan masyarakat. Pemerintah kedua negara juga aktif mendukung penelitian AI melalui berbagai program nasional.

Kanada: Pusat Penelitian AI Fundamental

Meskipun ekonominya lebih kecil, Kanada memiliki kontribusi signifikan dalam penelitian AI fundamental (penelitian dasar). University of Toronto, University of Montreal, dan University of Alberta menjadi pusat-pusat penelitian AI terkemuka. Program Vector Institute dan MILA (Montreal Institute for Learning Algorithms) telah melahirkan banyak terobosan penting dalam deep learning (pembelajaran mendalam) dan machine learning (pembelajaran mesin).

Israel: Startup AI dan Teknologi Militer

Israel memiliki ekosistem startup AI yang sangat dinamis, terutama dalam aplikasi militer dan cyber security (keamanan siber). Keunggulan Israel terletak pada talenta teknologi yang berkualitas tinggi dan budaya inovasi yang kuat. Unit 8200, unit intelijen militer Israel, telah melahirkan banyak pengusaha teknologi sukses.

Indonesia: Potensi Besar dengan Tantangan Infrastruktur

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain penting dalam ekosistem AI regional, namun masih menghadapi berbagai tantangan infrastruktur dan pengembangan talenta. Dengan populasi terbesar keempat di dunia dan ekonomi digital yang berkembang pesat, Indonesia memiliki foundation (fondasi) yang solid untuk pengembangan AI.

Kekuatan Indonesia dalam AI

Pemerintah Indonesia telah menunjukkan komitmen serius terhadap pengembangan AI melalui Strategi Nasional Kecerdasan Artifisial Indonesia 2020-2045. Strategi ini mengidentifikasi lima sektor prioritas: kesehatan, pendidikan, pangan, mobilitas (transportasi), dan smart city (kota pintar). Roadmap (peta jalan) yang jelas ini memberikan arah pengembangan AI yang terstruktur.

Sektor swasta Indonesia juga menunjukkan dinamika yang positif. Perusahaan-perusahaan teknologi seperti Gojek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka telah mengimplementasikan AI dalam berbagai aspek operasional mereka. Startup AI Indonesia seperti Nodeflux (computer vision – pengenalan gambar), Prosa.ai (natural language processing – pemrosesan bahasa alami), dan Kata.ai (chatbot dan conversational AI) mulai menunjukkan perkembangan yang menjanjikan.

Indonesia juga memiliki keunggulan dalam keberagaman bahasa dan budaya yang dapat menjadi laboratorium natural untuk pengembangan AI multikultural. Data bahasa Indonesia dan bahasa daerah yang kaya dapat menjadi aset berharga untuk pengembangan NLP (Natural Language Processing – teknologi yang membuat komputer memahami bahasa manusia) yang unik.

Tokoh-Tokoh Kunci AI Indonesia

Indonesia memiliki beberapa tokoh yang berperan penting dalam pengembangan AI nasional. Dr. Ruli Manurung, peneliti AI dari Universitas Indonesia, aktif dalam pengembangan natural language processing untuk bahasa Indonesia. Dr. Aniati Murni Arymurthy, pakar computer vision (pengenalan gambar), berkontribusi dalam penelitian image processing (pengolahan gambar) dan pattern recognition (pengenalan pola).

Di sektor swasta, figur seperti Nadiem Makarim (pendiri Gojek, mantan Menteri Pendidikan), William Tanuwijaya (pendiri Tokopedia), dan Achmad Zaky (pendiri Bukalapak) telah memimpin adopsi AI dalam ekonomi digital Indonesia. Mereka membuktikan bahwa Indonesia mampu menghasilkan inovator teknologi berkaliber internasional.

Tokoh-tokoh muda seperti Irzan Raditya (CEO Kata.ai), Meidy Fitranto (CEO Nodeflux), dan Yos Ginting (Co-founder Prosa.ai) juga menjadi pionir dalam pengembangan AI startup Indonesia. Mereka membawa semangat entrepreneurship dan inovasi dalam ekosistem AI lokal.

Tantangan dan Hambatan

Meskipun memiliki potensi besar, Indonesia masih menghadapi beberapa tantangan signifikan dalam pengembangan AI. Infrastruktur digital yang belum merata menjadi hambatan utama, terutama untuk akses internet berkecepatan tinggi di daerah-daerah terpencil. Digital divide (kesenjangan digital) antara kota dan desa masih cukup lebar.

Keterbatasan talenta AI juga menjadi isu penting. Indonesia masih membutuhkan lebih banyak data scientist (ahli analisis data), AI engineer (insinyur AI), dan machine learning specialist (spesialis pembelajaran mesin) berkualitas tinggi. Program pendidikan AI di universitas-universitas Indonesia perlu diperkuat dan diselaraskan dengan kebutuhan industri.

Akses terhadap teknologi komputasi canggih dan chip semikonduktor juga menjadi kendala. Indonesia masih sangat bergantung pada impor untuk komponen teknologi kritis, yang dapat membatasi kemampuan pengembangan AI secara mandiri. GPU (Graphics Processing Unit – chip khusus untuk AI) dan TPU (Tensor Processing Unit – chip khusus Google untuk AI) masih sulit diakses dan mahal.

Regulasi dan kebijakan yang belum matang juga menjadi tantangan. Meskipun ada Strategi Nasional AI, implementasi di lapangan masih memerlukan aturan yang lebih detail dan praktis. Isu privasi data, keamanan siber, dan etika AI masih perlu pengaturan yang lebih komprehensif.

Peluang dan Strategi Ke Depan

Untuk meningkatkan daya saing AI, Indonesia perlu fokus pada beberapa area strategis. Pertama, investasi dalam infrastruktur digital harus diprioritaskan, termasuk pembangunan data center (pusat data) dan jaringan komunikasi yang robust. Program Indonesia Digital 2045 dapat menjadi momentum untuk mempercepat pembangunan infrastruktur ini.

Kedua, pengembangan talenta AI melalui program pendidikan dan pelatihan yang komprehensif. Kolaborasi antara universitas, industri, dan pemerintah dalam menciptakan curriculum (kurikulum) AI yang relevan dengan kebutuhan pasar sangat penting. Program beasiswa dan pelatihan intensif AI dapat mempercepat lahirnya talenta berkualitas.

Ketiga, menciptakan ekosistem startup AI yang kondusif. Dukungan funding (pendanaan), inkubator, dan accelerator (program percepatan startup) khusus AI dapat mendorong lahirnya lebih banyak inovasi. Program seperti “1000 Startup Digital” dapat diperluas dengan fokus khusus pada AI.

Kemitraan internasional juga menjadi kunci sukses. Indonesia dapat belajar dari best practice negara-negara maju sambil mengembangkan solusi AI yang sesuai dengan konteks lokal. Kolaborasi dengan universitas dan perusahaan teknologi internasional dapat mempercepat technology transfer (transfer teknologi) dan knowledge sharing (berbagi pengetahuan).

Tren dan Prediksi Masa Depan

Persaingan AI global akan semakin intensif dalam dekade mendatang. Beberapa tren yang akan membentuk lanskap AI global antara lain konvergensi (penggabungan) AI dengan teknologi lain seperti quantum computing dan blockchain (teknologi yang mendasari cryptocurrency), fokus pada sustainable AI (AI berkelanjutan) yang hemat energi, serta pengembangan democratized AI (AI yang lebih mudah diakses semua orang).

Geopolitik teknologi akan semakin mempengaruhi pengembangan AI, dengan negara-negara besar berusaha mengurangi ketergantungan pada teknologi asing. Hal ini menciptakan peluang bagi negara-negara seperti Indonesia untuk mengembangkan solusi AI yang mandiri dan sesuai kebutuhan lokal.

Edge AI (AI yang bekerja langsung di perangkat, tidak perlu internet) dan federated learning (pembelajaran terdistribusi yang menjaga privasi) akan menjadi tren penting. Internet of Things (IoT – jaringan perangkat pintar) yang semakin luas akan membutuhkan AI yang dapat bekerja secara efisien di berbagai perangkat.

Catatan Akhir

Peta persaingan AI global saat ini didominasi oleh Amerika Serikat dan Tiongkok, dengan Uni Eropa mengambil pendekatan yang berbeda melalui fokus pada regulasi dan etika. Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, Kanada, dan Israel juga memiliki keunggulan kompetitif di bidang-bidang spesifik.

Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain penting dalam ekosistem AI regional, namun perlu mengatasi tantangan infrastruktur dan pengembangan talenta. Dengan strategi yang tepat dan komitmen jangka panjang, Indonesia dapat memanfaatkan bonus demografi dan pertumbuhan ekonomi digitalnya untuk menciptakan ekosistem AI yang kompetitif dan berkelanjutan.

Kunci sukses Indonesia terletak pada kemampuan untuk menciptakan sinergi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta dalam mengembangkan AI yang tidak hanya canggih secara teknologi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian nasional. Indonesia harus bergerak cepat namun terukur, belajar dari negara lain namun tetap mempertahankan identitas dan kebutuhan lokalnya dalam mengembangkan teknologi AI. (*)

Mengapa Sirine dan Rotator Sering Ditolak Masyarakat

Oleh Djoko Setijowarno

Sirene dan rotator, yang dikenal sebagai strobo, adalah alat yang dirancang untuk memberikan peringatan darurat. Namun, penggunaan yang tidak tepat seringkali membuat masyarakat menolaknya. masyarakat sudah cukup gerah dengan kebisingan di jalanan.

Penyebab Penolakan

Pertama, penyalahgunaan dan hak istimewa yang tidak tepat. Alasan paling mendasar adalah penyalahgunaan. Masyarakat sering melihat kendaraan pribadi atau pejabat yang bukan dalam keadaan darurat menggunakan strobo untuk menerobos kemacetan. Hal ini menimbulkan persepsi bahwa strobo adalah simbol hak istimewa dan bukan alat untuk keselamatan publik. Penggunaan yang tidak pada tempatnya ini menciptakan rasa tidak adil dan memicu kemarahan.

Kedua, gangguan dan kebisingan. Suara sirene yang nyaring sangat mengganggu, terutama di lingkungan padat penduduk atau di tengah malam. Gangguan ini tidak hanya mengganggu kenyamanan, tetapi juga dapat menimbulkan stres, bahkan memicu kecemasan. Orang tua, orang sakit, atau mereka yang ingin beristirahat sering merasa terganggu oleh kebisingan yang berlebihan.

Ketiga, regulasi yang kurang tegas. Meskipun sudah ada aturan yang mengatur siapa saja yang berhak menggunakan sirene dan strobo (seperti mobil ambulans, pemadam kebakaran, dan polisi), penegakan hukumnya sering kali dianggap lemah. Ketidaktegasan ini membuat banyak orang berani menggunakannya tanpa izin, memperburuk masalah penyalahgunaan.

Keempat, mengurangi kepercayaan publik. Ketika sirene dan strobo digunakan secara sembarangan, kepercayaan masyarakat terhadap sistem darurat bisa menurun. Saat mendengar sirene, masyarakat tidak lagi yakin apakah itu benar-benar situasi darurat atau hanya kendaraan yang ingin mencari jalan pintas. Akibatnya, ketika ada situasi darurat yang nyata, respons masyarakat untuk memberikan jalan mungkin tidak secepat atau setanggap seharusnya.

Regulasi dan Sanksi

Pengguna jalan yang memperoleh hak utama telah diatur dalam Pasal 134 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan untuk didahulukan sesuai dengan urutan berikut (a) kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas; (b) ambulans yang mengangkut orang sakit; (c) kendaraan untuk memberikan pertolongan pada kecelakaan lalu lintas; (d) kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia; (e) kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara; (f) iring-iringan pengantar jenazah; dan (g) konvoi dan/atau kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Pasal 135 dalam Undang-Undang yang sama, menyebutkan Kendaraan yang mendapat hak utama harus dikawal oleh petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia dan/atau menggunakan isyarat lampu merah atau biru dan bunyi sirene.

Ada sanksi yang diberikan bagi setiap orang yang mengemudikan Kendaraan Bermotor di Jalan yang melanggar ketentuan mengenai penggunaan atau hak utama bagi Kendaraan Bermotor yang menggunakan alat peringatan dengan bunyi dan sinar dapat dipidana kurungan maksimal satu bulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu (pasal 287 ayat 4).

Sanksi yang diberikan terlalu rendah dan sudah seharusnya masuk dalam revisi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Sanksi pidana dan denda harus ditinggikan, sehingga ada efek jera bagi yang melanggar aturan itu.

Untuk kepentingan tertentu, Kendaraan Bermotor dapat dilengkapi dengan lampu isyarat dan/atau sirene (pasal 59). Lampu isyarat terdiri atas warna merah; biru; dan kuning.

Lampu isyarat warna merah atau biru serta sirene berfungsi sebagai tanda Kendaraan Bermotor yang memiliki hak utama. Lampu isyarat warna kuning berfungsi sebagai tanda peringatan kepada Pengguna Jalan lain.

Penggunaan lampu isyarat dan sirene, seperti berikut ini. Lampu isyarat warna biru dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia. Lampu isyarat warna merah dan sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor tahanan, pengawalan Tentara Nasional Indonesia, pemadam kebakaran, ambulans, palang merah, rescue, dan jenazah.

Lampu isyarat warna kuning tanpa sirene digunakan untuk Kendaraan Bermotor patroli jalan tol, pengawasan sarana dan Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, perawatan dan pembersihan fasilitas umum, menderek Kendaraan, dan angkutan barang khusus

Pada dasarnya menggunakan sarana dan prasana jalan untuk keperluan berlalu lintas adalah hak asasi setiap orang. Semua orang mempunyai hak yang sama untuk menggunakan jalan untuk berlalu lintas. Tidak ada seorang pun mempunyai hak untuk diutamakan, kecuali didasarkan pada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Peraturan perundang-undangan yang ada memberikan peluang bagi orang tertentu atau kendaraan yang digunakan bagi keperluan tertentu mendapatkan prioritas menggunakan jalan untuk berlalu lintas.

Esensi dari pengawalan tidak lain memang memberikan pengamanan, baik terhadap kendaraan yang dikawal, maupun pengguna jalan lain yang berada di sekitar kendaraan yang dikawal. Karena menyangkut pengamanan, pihak yang paling berwenang adalah Polri. Karena pengamanan adalah bagian dari tugas pokok Polri.

Patwal adalah unit kepolisian yang bertugas mengawal konvoi kendaraan VIP, iring-iringan bantuan kemanusiaan, atau kendaraan prioritas lainnya seperti pemadam kebakaran dan ambulans. Dengan kemampuan khusus, personel Patwal bertugas memastikan perjalanan bebas hambatan bagi kendaraan-kendaraan yang mereka kawal.

Penutup

Penolakan ini tidak hanya sekadar ketidaknyamanan, tetapi memiliki dampak serius. Hal ini memicu kampanye kesadaran, petisi, dan protes di media sosial. Masyarakat semakin vokal menuntut penegakan hukum yang lebih ketat dan penggunaan strobo yang bertanggung jawab. Intinya, penggunaan sirene dan rotator yang tidak sesuai aturan menciptakan ketidakadilan, mengganggu ketenangan, dan pada akhirnya merusak esensi dari tujuannya sebagai alat keselamatan.

Langkah Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri Irjen Pol. Agus Suryonugroho untuk menertibkan penggunaan sirene dan rotator di jalan raya patut diapresiasi. Kebijakan yang bersifat sementara ini merupakan langkah awal yang baik untuk mengembalikan aturan yang berlaku. Sebagian besar masyarakat setuju bahwa penertiban ini tidak seharusnya hanya sementara. Penggunaan sirene dan rotator di luar peruntukannya sudah menjadi masalah kronis yang memicu ketidakadilan dan kekacauan di jalan.

Dalam keseharian dengan hirup pikuk kemacetan di Kota Jakarta, sebaiknya pengawalan dibatasi untuk Presiden dan Wakil Presiden. Sedangkan pejabat negara yang lain tidak perlu dikawal seperti halnya Presiden dan Wakil Presiden. (*)

Djoko Setijowarno , Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat

Alasan Mengapa Kita Tidak Boleh Bercermin di Kaca Pecah

Oleh Gde Mahesa

Mitos kaca atau cermin pecah terkadang masih dianggap sebuah kejadian yang mengandung tanda-tanda akan datang sebuah peristiwa.

Bercermin di kaca yang pecah, sebenarnya tidak ada larangan. Namun karena adanya mitos maka tindakan ini tidak disarankan. Sebab dari budaya hal ini dipercaya dapat mendatangkan nasib buruk atau kesialan.

Namun ada pula yang mempercayai sebagai keberuntungan. Kepercayaan lain menyebutkan bahwa memecahkan cermin bisa mengundang kehadiran makhluk halus atau roh jahat. 

Sedangkan serpihan pecahan kaca atau beling konon bisa dijadikan sarana untuk menyalurkan energi negatif. Jika benda ini ditemukan di rumah, tanda-tandanya mungkin akan dirasakan oleh anggota keluarga yang sering mengalami sakit di bagian kepala atau kaki, bahkan dapat menyebabkan kelumpuhan.  

Pecahan beling ini biasanya dikirim oleh pihak yang memiliki niat jahat, seperti pesaing bisnis atau orang yang iri. Cara untuk menetralkan efeknya adalah dengan membuang benda tersebut jauh dari rumah atau membakarnya.

Dalam dunia supranatural, pecahan beling memiliki beragam makna tergantung pada konteks budayanya, sering diartikan sebagai simbol patah hati, kekecewaan, ilusi duniawi, atau hubungan yang rusak secara spiritual, tetapi juga bisa menjadi pertanda pembebasan dari roh jahat, transformasi diri, atau pelepasan dari rintangan hidup dan harapan untuk hal-hal baik yang akan datang. 

Adapun makna dan arti dari pecahan beling bisa berbeda pada setiap budaya. Seperti dalam beberapa tradisi Afrika adalah barang tsb merupakan media komunikasi dengan roh leluhur. Sedangkan dalam interpretasi Hindu dan Buddhis, pecahan kaca bisa menjadi simbol ilusi atau maya, mengingatkan pada pentingnya melepaskan diri dari keterikatan pada hal-hal duniawi yang bersifat sementara. 

Namun, ada orang yang melakukan tidur beralaskan beling kaca, Hal tersebut sebetulnya bukanlah untuk demo kesaktian. Tetapi sekadar sebagai pembuka kesadaran bahwa sebagian besar ketakukan yang menghantui, dan menghambat kemajuan diri, ternyata semua Itu hanyalah suatu ilusi. Aksi seperti ini sebenarnya bukan sulap dan bukan sihir, tetapi sekadar wahana untuk melatih keikhlasan, kesabaran, rasa percaya diri, dan keteguhan hati. (*)

Satelit Nusantara 5: Indonesia Perkuat Kedaulatan Digital di Tengah Persaingan Geopolitik Asia

Oleh : Heri Mulyono

Indonesia kembali mencetak sejarah gemilang dalam bidang teknologi satelit dengan berhasilnya peluncuran Satelit Nusantara Lima (N5) pada 10 September 2025. Satelit komunikasi berkapasitas terbesar di Asia Tenggara ini menandai babak baru dalam perjalanan Indonesia menuju kedaulatan digital dan pemerataan akses internet di seluruh Nusantara. Diluncurkan dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX, satelit canggih ini menjadi bukti nyata kemajuan teknologi Indonesia di kancah internasional.

Peluncuran Bersejarah yang Mendunia

Pukul 08.56 WIB pada 10 September 2025, mata dunia tertuju pada Cape Canaveral ketika roket Falcon 9 SpaceX membawa Satelit Nusantara Lima menuju orbitnya. Momen bersejarah ini tidak hanya menjadi kebanggaan Indonesia, tetapi juga menunjukkan komitmen pemerintah dalam mewujudkan visi Indonesia Digital 2045. Satelit yang dimiliki dan dioperasikan oleh PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) ini merupakan hasil kerja sama strategis dengan perusahaan-perusahaan teknologi terdepan dunia, termasuk Boeing Satellite Systems, Hughes Network Systems, dan SpaceX.

Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa kehadiran Satelit N5 diprioritaskan untuk kepentingan masyarakat Indonesia. “Inilah makna pemerataan digital yang sesungguhnya,” ujarnya, menekankan pentingnya satelit ini dalam mendukung transformasi digital nasional. Peluncuran ini juga menandai pencapaian signifikan bagi industri satelit Indonesia, yang kini memiliki total kapasitas hampir 400 Gbps, menjadikannya terbesar di kawasan Asia Pasifik.

Setelah kendala cuaca buruk selama 3 hari, Satelit Nusantara Lima (SNL) milik PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) akhirnya sukses meluncur ke angkasa luar. Boom! Roket pun mengaum buas. Foto: PSN

Spesifikasi Teknis yang Revolusioner

Satelit Nusantara Lima dibangun menggunakan platform Boeing 702 MP yang terbukti andal, dengan bobot mencapai 8 ton. Satelit ini dirancang khusus untuk beroperasi selama lebih dari 15 tahun, memastikan investasi jangka panjang yang berkelanjutan. Keunggulan utama satelit ini terletak pada teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS) yang dibawanya, menjadikan N5 sebagai satelit terkuat yang pernah dimiliki Indonesia di kawasan Asia.

Kapasitas transmisi data sebesar 160 Gbps yang dimiliki Satelit N5 merupakan terobosan luar biasa dalam dunia satelit komunikasi. Dari kapasitas total tersebut, sekitar 140 Gbps dialokasikan khusus untuk memenuhi kebutuhan domestik Indonesia, sementara sisanya dapat dimanfaatkan untuk melayani pasar internasional, termasuk Filipina dan Malaysia. Kapasitas yang massif ini memungkinkan penyediaan layanan internet berkecepatan tinggi bahkan ke daerah-daerah terpencil yang selama ini sulit dijangkau infrastruktur konvensional.

Untuk menunjang kinerjanya yang optimal, satelit ini dilengkapi dengan sayap surya canggih buatan Spectrolab, anak perusahaan Boeing, yang mampu menghasilkan daya hingga 15 kW. Daya yang besar ini memastikan satelit dapat beroperasi penuh selama misi 15 tahun dengan performa yang konsisten. Selain itu, Satelit Nusantara Lima memiliki daya output mencapai 5 kW, yang memungkinkan pengiriman sinyal dengan kekuatan tinggi ke seluruh penjuru Indonesia, menjamin kualitas sinyal yang prima meskipun jarak tempuhnya sangat jauh.

Peluncuran bersejarah ini berlangsung dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat, menggunakan roket Falcon 9 milik SpaceX. Foto: PSN

Posisi Strategis di Orbit Bumi

Satelit N5 akan menempati slot orbit strategis di posisi 113° Bujur Timur, yang dikenal sebagai “golden spot” dalam dunia satelit komunikasi. Posisi orbital ini sangat ideal karena dapat mencakup seluruh wilayah Indonesia dengan sempurna, dari Sabang hingga Merauke. Lebih khusus lagi, posisi ini memberikan cakupan optimal untuk kawasan timur Indonesia yang selama ini mengalami keterbatasan akses konektivitas digital.

Pemilihan slot orbit ini bukan kebetulan, melainkan hasil perhitungan cermat untuk memaksimalkan cakupan dan kualitas sinyal. Dengan berada di posisi ini, satelit dapat memberikan layanan yang merata ke seluruh kepulauan Indonesia, termasuk daerah-daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar yang memiliki nilai strategis tinggi bagi kedaulatan nasional.

Roket Falcon 9 setinggi 70 meter dan berbobot 580 ton mengaum penuh kuasa, memancarkan semburan api oranye membara yang menerangi kegelapan. Foto: PSN

Sejarah Panjang Program Satelit Nusantara

Program Satelit Nusantara bukanlah sesuatu yang baru dalam konstelasi teknologi Indonesia. Perjalanan panjang program ini dimulai dari visi untuk menciptakan infrastruktur komunikasi yang mandiri dan dapat diandalkan. Satelit-satelit sebelumnya dalam seri Nusantara telah memberikan kontribusi signifikan dalam pembangunan infrastruktur komunikasi nasional, namun Satelit N5 menghadirkan lompatan teknologi yang revolusioner.

PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) sebagai operator utama telah menunjukkan dedikasi tinggi dalam mengembangkan industri satelit Indonesia. Melalui investasi yang berkelanjutan dan kerja sama dengan mitra teknologi global, PSN telah berhasil memposisikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan infrastruktur satelit terdepan di kawasan.

Pengembangan Satelit N5 sendiri mengalami beberapa penyesuaian jadwal dari rencana awal. Awalnya ditargetkan untuk diluncurkan pada akhir 2023, kemudian disesuaikan menjadi pertengahan 2024, dan akhirnya berhasil diluncurkan pada September 2025. Penyesuaian ini menunjukkan komitmen untuk memastikan kualitas dan keandalan satelit sebelum diluncurkan ke orbit.

Satelit Nusantara Lima dirancang dengan teknologi Very High Throughput Satellite (VHTS) dan memiliki kapasitas 160 Gbps, dan menjadikannya satelit terbesar di Asia saat ini. Foto: PSN

Dampak Transformatif untuk Masyarakat Indonesia

Kehadiran Satelit Nusantara Lima akan memberikan dampak transformatif yang luar biasa bagi masyarakat Indonesia. Dengan kapasitas 160 Gbps, satelit ini mampu menyediakan akses internet berkecepatan tinggi ke daerah-daerah yang selama ini terisolasi secara digital. Hal ini sangat penting dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, di mana tidak semua wilayah dapat dijangkau dengan infrastruktur kabel bawah laut atau tower seluler.

Sektor pendidikan akan merasakan manfaat langsung dari kehadiran satelit ini. Siswa dan mahasiswa di daerah terpencil kini dapat mengakses sumber pembelajaran online, mengikuti kelas virtual, dan berpartisipasi dalam program pendidikan jarak jauh dengan kualitas yang sama dengan yang ada di kota-kota besar. Ini akan membantu mengurangi kesenjangan kualitas pendidikan antara daerah urban dan rural.

Di bidang kesehatan, Satelit N5 akan memungkinkan implementasi telemedicine yang lebih luas dan efektif. Dokter spesialis di kota besar dapat memberikan konsultasi kepada pasien di daerah terpencil, bahkan melakukan operasi jarak jauh dengan bantuan teknologi robotik. Transfer data medis, termasuk hasil pemeriksaan radiologi dan laboratorium, dapat dilakukan dengan cepat dan aman.

Sektor ekonomi digital juga akan mengalami percepatan pertumbuhan yang signifikan. UMKM di daerah-daerah terpencil kini dapat memanfaatkan platform e-commerce untuk menjual produk mereka ke pasar yang lebih luas. Layanan fintech dan digital banking dapat menjangkau masyarakat yang sebelumnya unbanked, mendorong inklusi keuangan yang lebih merata.

Dengan gagah, roket ini merobek lapisan awan, meninggalkan jejak asap putih yang berkilau samar di tengah malam, melaju menuju luasnya antariksa. Foto: PSN

Mendukung Program Prioritas Pemerintah

Satelit Nusantara Lima menjadi tulang punggung penting dalam mendukung berbagai program prioritas pemerintah. Program Indonesia Digital 2045 yang bertujuan menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan digital terdepan di dunia akan sangat terbantu dengan kehadiran infrastruktur satelit yang andal ini.

Dalam konteks keamanan nasional, satelit ini juga memiliki peran strategis. Komunikasi yang aman dan terpercaya sangat penting bagi operasional TNI dan Polri, terutama dalam menjaga kedaulatan di wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar. Satelit N5 dapat menyediakan jalur komunikasi backup yang independen dari infrastruktur terestrial yang rentan terhadap gangguan.

Program Smart City dan Smart Village yang sedang gencar dikembangkan pemerintah juga akan mendapat dukungan kuat dari satelit ini. Sensor-sensor IoT (Internet of Things) yang dipasang untuk monitoring lingkungan, traffic management, dan sistem keamanan dapat terhubung dengan reliable melalui jaringan satelit, bahkan di lokasi yang sulit dijangkau infrastruktur konvensional.

CEO PT PSN, Adi Rahman Adiwoso yang menyaksikan peluncuran dari Orlando, Florida, gembira luar biasa. Kini, satelit sedang dalam perjalanan menuju orbit geostasioner di 113 derajat Bujur Timur (BT), yang berada tepat di atas wilayah Kalimantan. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET

Kontribusi terhadap Kedaulatan Digital

Kehadiran Satelit Nusantara Lima merupakan langkah penting dalam mewujudkan kedaulatan digital Indonesia. Dengan memiliki infrastruktur satelit sendiri, Indonesia mengurangi ketergantungan pada penyedia layanan asing dan memiliki kontrol penuh terhadap data dan komunikasi yang mengalir melalui satelitnya.

Aspek kedaulatan ini menjadi semakin penting di era geopolitik yang kompleks saat ini. Data adalah aset strategis baru, dan kemampuan untuk mengontrol infrastruktur komunikasi sendiri memberikan keunggulan kompetitif sekaligus keamanan nasional. Indonesia kini memiliki posisi yang lebih kuat dalam negosiasi internasional terkait regulasi siber dan tata kelola internet global.

Satelit N5 juga mendukung program One Map Indonesia, yaitu upaya pemerintah untuk memiliki sistem pemetaan nasional yang akurat dan terpadu. Data geospasial yang dikumpulkan melalui satelit ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan pembangunan, mulai dari perencanaan infrastruktur hingga mitigasi bencana.

Peluang Ekonomi dan Industri Baru

Dengan beroperasinya Satelit Nusantara Lima, berbagai peluang ekonomi baru akan terbuka. Industri content creation dan digital entertainment dapat berkembang pesat karena masyarakat di daerah terpencil kini memiliki akses internet yang memadai untuk mengkonsumsi dan memproduksi konten digital.

Sektor pariwisata juga akan mendapat manfaat besar. Destinasi wisata di daerah terpencil yang sebelumnya sulit dipromosikan karena keterbatasan konektivitas, kini dapat memanfaatkan platform digital untuk menarik wisatawan. Live streaming, virtual tour, dan sistem booking online dapat diimplementasikan dengan baik.

Industri satelit Indonesia sendiri akan mengalami pertumbuhan yang pesat. Keberhasilan Satelit N5 akan membuka peluang untuk ekspansi ke pasar regional. Dengan positioning sebagai hub teknologi satelit di Asia Tenggara, Indonesia dapat menawarkan layanan satelit kepada negara-negara tetangga yang memiliki tantangan geografis serupa.

Tantangan dan Antisipasi ke Depan

Meski membawa banyak manfaat, operasional Satelit Nusantara Lima juga menghadapi berbagai tantangan yang perlu diantisipasi. Tantangan teknis seperti interferensi sinyal, space debris, dan kondisi cuaca ekstrem memerlukan sistem monitoring dan maintenance yang canggih. PSN sebagai operator harus memastikan ketersediaan ground station yang memadai dan tenaga ahli yang kompeten.

Dari sisi regulasi, koordinasi dengan International Telecommunication Union (ITU) dan berbagai badan regulasi nasional perlu dijaga untuk memastikan operasional satelit tidak mengganggu sistem komunikasi lainnya. Indonesia juga perlu mempersiapkan framework hukum yang komprehensif untuk mengatur berbagai aspek operasional satelit, termasuk perlindungan data dan privasi pengguna.

Tantangan ekonomi juga tidak dapat diabaikan. Investasi besar yang telah ditanamkan dalam pengembangan dan peluncuran satelit ini perlu diimbangi dengan strategi monetisasi yang tepat. Penetapan tarif layanan harus mempertimbangkan daya beli masyarakat, terutama di daerah-daerah terpencil yang menjadi target utama layanan ini.

Visi Masa Depan Konektivitas Indonesia

Satelit Nusantara Lima bukan hanya tentang teknologi hari ini, tetapi juga tentang mempersiapkan Indonesia untuk masa depan digital yang lebih canggih. Dengan infrastruktur satelit yang kuat, Indonesia akan lebih siap menghadapi era 6G, Internet of Things yang masif, dan berbagai teknologi emerging lainnya.

Rencana pengembangan konstelasi satelit yang lebih besar juga sudah mulai dipertimbangkan. Kombinasi antara satelit geostationary seperti N5 dengan konstelasi Low Earth Orbit (LEO) satellites dapat memberikan cakupan yang lebih komprehensif dan latensi yang lebih rendah.

Kemitraan strategis dengan berbagai negara dan perusahaan teknologi global akan terus dikembangkan untuk memastikan Indonesia tetap berada di garis depan inovasi teknologi satelit. Transfer teknologi dan pengembangan kapabilitas lokal menjadi fokus utama untuk mengurangi ketergantungan pada teknologi asing.

Langkah Maju Menuju Indonesia Digital 2045

Peluncuran Satelit Nusantara Lima pada 10 September 2025 menandai tonggak bersejarah dalam perjalanan Indonesia menuju kedaulatan digital. Dengan kapasitas 160 Gbps dan teknologi VHTS tercanggih, satelit ini bukan hanya memecahkan masalah kesenjangan digital, tetapi juga membuka peluang transformasi ekonomi dan sosial yang masif.

Keberhasilan program ini membuktikan bahwa Indonesia memiliki kapabilitas untuk bersaing di tingkat global dalam teknologi satelit. Dukungan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, industri, hingga masyarakat, menjadi kunci sukses yang dapat diteladani untuk program-program strategis lainnya.

Satelit Nusantara Lima bukan akhir dari perjalanan, melainkan awal dari era baru konektivitas digital Indonesia. Dengan infrastruktur yang kuat ini, Indonesia akan mampu mewujudkan visi menjadi negara digital terdepan di kawasan, sekaligus memastikan bahwa manfaat transformasi digital dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, dari kota hingga desa terpencil.

Kehadiran satelit ini juga menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus berinovasi dan berkarya di bidang teknologi. Dengan fondasi yang kuat ini, Indonesia siap memasuki era baru di mana konektivitas digital bukan lagi menjadi privilege, melainkan hak dasar setiap warga negara. Inilah wujud nyata Indonesia yang maju, modern, dan berkeadilan digital. (*)

Filosofi Seni Perang Sun Tzu Jadi Panduan Ilmu Strategi Modern

Oleh : Heri Mulyono

Lebih dari 2.500 tahun yang lalu, seorang jenderal dan filsuf Tiongkok kuno menulis sebuah karya yang hingga kini masih menjadi rujukan utama dalam dunia strategi militer, bisnis, politik, dan manajemen. Sun Tzu, melalui karya masterpiece-nya “The Art of War” (Seni Berperang) atau “Bing Fa” dalam bahasa Tiongkok, telah menghadirkan prinsip-prinsip strategi yang melampaui zamannya dan terbukti relevan hingga era modern.

Latar Belakang Sejarah Sun Tzu

Sun Tzu, yang nama aslinya adalah Sun Wu, lahir sekitar tahun 544-496 SM pada masa Periode Musim Semi dan Gugur (Spring and Autumn Period) di Tiongkok. Periode ini adalah era dimana berbagai kerajaan kecil saling berperang untuk memperebutkan kekuasaan. Ia berasal dari negara bagian Qi, yang kini merupakan wilayah provinsi Shandong. Masa hidupnya bertepatan dengan era yang penuh gejolak politik dan peperangan antar kerajaan di Tiongkok kuno.

Kehidupan awal Sun Tzu relatif tidak banyak tercatat dalam sejarah, namun yang pasti ia tumbuh dalam lingkungan bangsawan militer. Keluarganya memiliki tradisi dalam bidang kemiliteran, dan ia sendiri menunjukkan bakat luar biasa dalam strategi dan taktik perang sejak usia muda. Pendidikan yang diterimanya mencakup filosofi, literatur klasik, dan tentunya seni perang, yang pada masa itu merupakan bagian penting dari pendidikan bangsawan.

Karier militer Sun Tzu dimulai ketika ia mengabdi kepada Raja He Lu dari negara Wu sekitar tahun 512 SM. Menurut catatan sejarah dari “Records of the Grand Historian” (Catatan Sejarawan Agung) karya Sima Qian, Sun Tzu pertama kali bertemu dengan Raja He Lu melalui rekomendasi Wu Zixu, seorang menteri terpercaya raja. Pertemuan ini menjadi titik balik dalam hidupnya, karena Raja He Lu terkesan dengan kemampuan strategis Sun Tzu.

Untuk menguji kemampuan Sun Tzu, Raja He Lu memberikannya tugas yang tampaknya mustahil: melatih 180 selir (istri raja) menjadi prajurit terlatih. Sun Tzu menerima tantangan ini dengan tenang dan sistematis. Ia membagi para selir menjadi dua kompi (kelompok militer), masing-masing dipimpin oleh dua selir kesayangan raja.

Ketika para selir tidak mengikuti perintahnya dengan serius dan malah tertawa-tawa, Sun Tzu dengan tegas menyatakan prinsip kepemimpinan yang terkenal: jika perintah tidak jelas, kesalahan ada pada komandan (pemimpin), namun jika perintah sudah jelas tetapi tidak dipatuhi, kesalahan ada pada bawahan.

Yang paling mengejutkan, Sun Tzu memutuskan untuk mengeksekusi (menghukum mati) dua pemimpin kompi yang tidak mematuhi perintahnya, meskipun mereka adalah selir kesayangan raja. Tindakan tegas ini mengejutkan seluruh istana, namun setelah penggantian pemimpin kompi, seluruh selir mulai mengikuti perintah dengan disiplin tinggi. Peristiwa ini membuktikan kepada Raja He Lu bahwa Sun Tzu tidak hanya memahami teori strategi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam praktik dengan konsisten.

Setelah lulus ujian tersebut, Sun Tzu diangkat menjadi jenderal dan diberi wewenang penuh untuk memimpin pasukan Wu. Di bawah kepemimpinannya, kerajaan Wu yang sebelumnya relatif lemah berhasil mengalahkan kerajaan-kerajaan besar seperti Chu, Qi, dan Jin. Kemenangan-kemenangan spektakuler ini tidak hanya mengangkat prestise (kehormatan) Wu sebagai kekuatan militer baru, tetapi juga membuktikan efektivitas strategi yang dikembangkan Sun Tzu.

Prestasi militer paling monumental Sun Tzu adalah ketika ia berhasil memimpin pasukan Wu merebut ibu kota kerajaan Chu, Ying, dalam waktu singkat. Kerajaan Chu yang pada saat itu merupakan salah satu kekuatan terbesar di Tiongkok, tidak mampu bertahan menghadapi strategi brilian Sun Tzu yang menggabungkan serangan cepat, diplomasi (negosiasi politik), dan perang psikologis.

Namun, seperti banyak tokoh besar dalam sejarah, akhir hidup Sun Tzu tidak banyak tercatat dengan jelas. Beberapa sumber menyebutkan bahwa ia mengundurkan diri dari kehidupan militer dan menghabiskan tahun-tahun terakhirnya untuk menulis dan mengajar strategi. Kematiannya diperkirakan terjadi sekitar tahun 496 SM, meninggalkan warisan intelektual yang akan bertahan selama ribuan tahun.

The Art of War: Karya Abadi yang Melampaui Zaman

“The Art of War” terdiri dari 13 bab yang masing-masing membahas aspek berbeda dari strategi dan taktik perang. Namun yang membuat karya ini istimewa adalah pendekatan filosofis yang mendalam terhadap konflik, bukan sekadar manual teknis tentang cara berperang. Sun Tzu memandang perang sebagai bagian dari sistem yang lebih besar, di mana faktor politik, ekonomi, psikologis, dan moral sama pentingnya dengan kekuatan fisik.

Prinsip fundamental (dasar) yang paling terkenal dari Sun Tzu adalah “Menang tanpa berperang adalah puncak keterampilan”. Konsep ini revolusioner (sangat baru dan mengubah segalanya) pada zamannya karena bertentangan dengan pandangan umum bahwa keberanian dan kekuatan brutal (kasar) adalah kunci kemenangan. Sun Tzu justru menekankan pentingnya inteligensi (kecerdasan), diplomasi, dan strategi psikologis untuk mencapai tujuan dengan kerugian minimal.

Filosofi Sun Tzu juga menekankan pentingnya memahami diri sendiri dan musuh. Kutipan terkenalnya, “Jika Anda mengenal musuh dan mengenal diri sendiri, Anda tidak perlu takut dengan hasil ratusan pertempuran”, menjadi dasar dari analisis strategis modern. Prinsip ini mengajarkan bahwa kemenangan sejati berasal dari persiapan yang matang dan pemahaman yang mendalam tentang semua faktor yang terlibat dalam konflik.

Relevansi Filosofi Sun Tzu dalam Strategi Bisnis Modern

Dalam dunia bisnis kontemporer (masa kini), prinsip-prinsip Sun Tzu telah diadaptasi secara luas untuk menghadapi persaingan pasar yang semakin ketat. Konsep “mengenal diri sendiri dan musuh” diterjemahkan menjadi analisis SWOT (Strengths/Kekuatan, Weaknesses/Kelemahan, Opportunities/Peluang, Threats/Ancaman) yang menjadi standar dalam perencanaan strategis perusahaan.

Prinsip “menang tanpa berperang” dalam konteks bisnis berarti mencapai dominasi pasar tanpa terlibat dalam perang harga yang merusak atau kompetisi destruktif (yang saling merugikan). Perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka seperti Apple dan Google menerapkan strategi ini dengan menciptakan ekosistem produk (rangkaian produk yang saling terhubung) yang unik, sehingga konsumen secara sukarela memilih produk mereka tanpa perlu dipaksa melalui harga yang tidak berkelanjutan.

Konsep “kecepatan adalah esensi perang” Sun Tzu juga sangat relevan dalam era digital ini. Startup teknologi (perusahaan rintisan berbasis teknologi) yang berhasil sering kali adalah mereka yang dapat bergerak cepat, beradaptasi dengan perubahan pasar, dan meluncurkan produk sebelum kompetitor. Filosofi “strike first, strike fast, strike hard” (serang lebih dulu, serang cepat, serang keras) telah menjadi mantra bagi banyak entrepreneur (wirausahawan) yang ingin menguasai pasar baru.

Aplikasi dalam Manajemen dan Kepemimpinan

Dalam bidang manajemen, filosofi Sun Tzu memberikan wawasan berharga tentang kepemimpinan yang efektif. Prinsip bahwa seorang pemimpin harus memiliki kebijaksanaan (zhi), kepercayaan (xin), kemanusiaan (ren), keberanian (yong), dan ketegasan (yan) masih relevan dalam pengembangan kepemimpinan modern.

Konsep “flexible leadership” (kepemimpinan fleksibel) yang diajarkan Sun Tzu, di mana seorang pemimpin harus dapat beradaptasi dengan situasi yang berubah-ubah, telah menjadi fondasi dari teori kepemimpinan situasional modern. Seorang manajer yang efektif harus dapat mengubah gaya kepemimpinannya tergantung pada konteks, tim yang dipimpin, dan tantangan yang dihadapi.

Sun Tzu juga menekankan pentingnya komunikasi yang jelas dan motivasi dalam memimpin tim. Prinsipnya bahwa “seorang pemimpin yang baik membuat bawahannya merasa seperti sedang melakukan sesuatu yang mereka inginkan, bukan sesuatu yang dipaksakan” telah menjadi dasar dari teori motivasi intrinsik (dorongan dari dalam diri) dalam manajemen modern.

Penerapan dalam Diplomasi dan Politik Internasional

Dalam arena politik internasional, prinsip-prinsip Sun Tzu sering diterapkan dalam diplomasi dan strategi geopolitik (strategi politik berdasarkan kondisi geografis). Konsep “winning without fighting” (menang tanpa berperang) menjadi dasar dari diplomasi preventif, di mana negara-negara berusaha menyelesaikan konflik melalui negosiasi dan kompromi sebelum eskalasi (peningkatan ketegangan) menjadi konfrontasi fisik.

Strategi “divide and conquer” (pecah belah dan kuasai) yang dijelaskan Sun Tzu masih terlihat dalam politik internasional modern, di mana kekuatan besar berusaha memecah aliansi (persekutuan) musuh dengan menciptakan perpecahan internal atau menawarkan insentif (hadiah/keuntungan) kepada anggota aliansi untuk berpindah sisi.

Prinsip “know your enemy” (kenali musuhmu) juga tercermin dalam pentingnya intelijen dalam hubungan internasional. Negara-negara modern menginvestasikan sumber daya besar untuk memahami niat, kapabilitas (kemampuan), dan kelemahan negara lain melalui berbagai saluran intelijen (mata-mata).

Transformasi Digital dan Cyber Warfare

Era digital telah membuka dimensi baru dalam penerapan filosofi Sun Tzu. Dalam cyber warfare (perang siber), prinsip “attack where the enemy is unprepared” (serang di tempat musuh tidak siap) diterapkan melalui identifikasi dan eksploitasi kerentanan dalam sistem komputer. Konsep “deception” (penyamaran/penipuan) juga sangat relevan dalam keamanan siber, di mana honeypot (sistem umpan palsu) dan sistem umpan lainnya digunakan untuk menyesatkan penyerang.

Dalam pemasaran digital, prinsip-prinsip Sun Tzu tentang timing (waktu yang tepat), positioning (posisi strategis), dan psychological warfare (perang psikologis) diterapkan melalui strategi content marketing (pemasaran konten), social media engagement (keterlibatan media sosial), dan targeted advertising (iklan yang ditargetkan). Perusahaan-perusahaan yang sukses dalam era digital adalah mereka yang dapat menerapkan prinsip “appear weak when you are strong, and strong when you are weak” (tampak lemah saat kamu kuat, dan tampak kuat saat kamu lemah) dalam komunikasi mereka dengan pasar.

Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Filosofi Sun Tzu tidak hanya berlaku dalam konteks militer atau bisnis besar, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam menghadapi konflik personal, prinsip “mengenal diri sendiri dan lawan” membantu kita memahami kekuatan dan kelemahan kita sendiri serta motivasi orang lain.

Konsep “timing is everything” (waktu adalah segalanya) dapat diterapkan dalam berbagai situasi, mulai dari memilih waktu yang tepat untuk meminta kenaikan gaji, melamar pekerjaan, hingga memulai usaha baru. Sun Tzu mengajarkan bahwa kesuksesan sering kali lebih bergantung pada kapan kita bertindak, bukan hanya apa yang kita lakukan.

Prinsip “adaptability” (kemampuan beradaptasi) juga sangat relevan dalam era perubahan cepat seperti sekarang. Sun Tzu mengajarkan bahwa seperti air yang mengambil bentuk wadahnya, kita harus mampu menyesuaikan diri dengan situasi tanpa kehilangan identitas inti kita.

Penerapan dalam Pendidikan dan Pengembangan Diri

Dalam dunia pendidikan, filosofi Sun Tzu dapat membantu siswa dan mahasiswa dalam menghadapi berbagai tantangan akademik. Prinsip “know yourself” (kenali dirimu) mendorong learner (pelajar) untuk memahami gaya belajar mereka sendiri, kekuatan dan kelemahan akademik, serta cara terbaik untuk menyerap informasi.

Konsep “win without fighting” dalam konteks pendidikan dapat diartikan sebagai mencapai prestasi akademik tanpa harus berkompetisi secara destruktif dengan teman sekelas. Sebaliknya, fokus pada collaborative learning (pembelajaran kolaboratif) dan peer support (dukungan sesama) dapat menghasilkan hasil yang lebih baik untuk semua pihak.

Strategi “preparation is key” (persiapan adalah kunci) sangat applicable dalam menghadapi ujian, presentasi, atau kompetisi akademik. Sun Tzu mengajarkan bahwa victory (kemenangan) ditentukan sebelum battle (pertempuran) dimulai, yang dalam konteks akademik berarti kesuksesan ditentukan oleh seberapa baik kita mempersiapkan diri.

Kritik dan Keterbatasan

Meskipun sangat berpengaruh, filosofi Sun Tzu juga memiliki keterbatasan ketika diterapkan dalam konteks modern. Beberapa kritikus berpendapat bahwa prinsip-prinsip yang dikembangkan dalam konteks perang feodal (sistem pemerintahan raja-raja kecil) Tiongkok kuno tidak selalu applicable (dapat diterapkan) dalam masyarakat demokratis modern yang menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas (pertanggungjawaban).

Konsep “deception” atau penipuan yang diajarkan Sun Tzu, meskipun efektif dalam konteks militer, dapat bermasalah ketika diterapkan dalam bisnis atau politik modern di mana trust (kepercayaan) dan kredibilitas adalah fundamental. Penggunaan strategi Sun Tzu yang terlalu literal dapat mengarah pada praktik yang tidak etis atau bahkan ilegal dalam beberapa yurisdiksi (wilayah hukum).

Selain itu, filosofi Sun Tzu yang sangat menekankan competition (kompetisi) dan winning (kemenangan) mungkin tidak sesuai dengan nilai-nilai collaboration (kolaborasi) dan win-win solution (solusi saling menguntungkan) yang lebih dihargai dalam masyarakat modern. Terlalu fokus pada “defeating the enemy” (mengalahkan musuh) dapat mengabaikan pentingnya building relationships (membangun hubungan) dan long-term cooperation (kerjasama jangka panjang).

Adaptasi Etis dalam Era Modern

Untuk menerapkan filosofi Sun Tzu secara bertanggung jawab dalam era modern, kita perlu melakukan adaptasi etis. Prinsip “menang tanpa berperang” dapat diinterpretasikan sebagai mencari solusi kreatif yang menguntungkan semua pihak, bukan hanya diri sendiri. Dalam bisnis, ini bisa berarti menciptakan value proposition (proposisi nilai) yang unik alih-alih merusak kompetitor.

Konsep “know your enemy” dapat diubah menjadi “understand your stakeholders” (pahami para pemangku kepentingan), di mana kita berusaha memahami kebutuhan, motivasi, dan concern (kekhawatiran) dari semua pihak yang terlibat, bukan hanya untuk mengalahkan mereka tetapi untuk mencari common ground (titik temu).

Strategic thinking (pemikiran strategis) yang diajarkan Sun Tzu dapat diterapkan untuk sustainable development (pembangunan berkelanjutan), dimana kita tidak hanya memikirkan keuntungan jangka pendek tetapi juga impact (dampak) jangka panjang terhadap society (masyarakat) dan environment (lingkungan).

Catatan Akhir

Filosofi seni perang Sun Tzu telah membuktikan dirinya sebagai salah satu karya strategis paling berpengaruh dalam sejarah manusia. Kemampuannya untuk tetap relevan setelah lebih dari dua milenium menunjukkan universalitas dan kedalaman wawasan yang dikandungnya. Dari battlefield (medan perang) kuno hingga boardroom (ruang rapat) modern, dari diplomasi internasional hingga startup teknologi, prinsip-prinsip Sun Tzu terus memberikan guidance (panduan) bagi mereka yang menghadapi kompetisi dan konflik.

Namun, penerapan filosofi ini dalam era modern memerlukan wisdom (kebijaksanaan) dan discernment (kemampuan membedakan). Prinsip-prinsip Sun Tzu harus diadaptasi dengan mempertimbangkan nilai-nilai etis, legal framework (kerangka hukum), dan social responsibility (tanggung jawab sosial) yang berlaku dalam masyarakat kontemporer. Yang terpenting adalah memahami bahwa true victory (kemenangan sejati) menurut Sun Tzu bukan hanya tentang mengalahkan lawan, tetapi mencapai tujuan dengan cara yang paling efisien dan berkelanjutan.

Warisan Sun Tzu mengajarkan kita bahwa strategi terbaik adalah yang dapat mengubah situasi konfliktual menjadi win-win solution, di mana semua pihak dapat memperoleh manfaat. Dalam dunia yang semakin interconnected (saling terhubung) dan complex (rumit) ini, wisdom Sun Tzu tentang pentingnya understanding (pemahaman), preparation (persiapan), dan strategic thinking menjadi lebih relevan dari sebelumnya.

Filosofi seni perang yang diwariskan bukan hanya tentang cara memenangkan pertempuran, tetapi tentang cara menciptakan peace through strength (perdamaian melalui kekuatan) dan achieving sustainable success (mencapai kesuksesan berkelanjutan) dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Di era modern ini, kita dapat mengambil wisdom (kebijaksanaan) Sun Tzu sambil mengadaptasinya dengan nilai-nilai humanisme, kolaborasi, dan sustainability (keberlanjutan) yang menjadi foundation (fondasi) masyarakat global yang lebih baik. (*)

Fenomena Maraknya Berita Negatif dan Dampaknya Bagi Kesehatan Mental

Oleh : Heri Mulyono

Pernahkah Anda merasa lelah setelah membaca berita di media sosial? Atau merasa cemas berlebihan setelah melihat timeline yang dipenuhi kabar buruk tentang perang, bencana alam, kecelakaan, dan berbagai kejadian menyedihkan lainnya? Anda tidak sendirian. Fenomena maraknya berita negatif di era digital ini bukan hanya mengubah cara kita mengonsumsi informasi, tetapi juga berdampak signifikan terhadap kesehatan mental masyarakat.

Dalam beberapa tahun terakhir, media massa – baik tradisional maupun digital – tampak semakin didominasi oleh berita-berita yang suram. Mulai dari konflik politik, demonstrasi yang berujung kerusuhan, bencana alam yang semakin sering terjadi, hingga berbagai bentuk kekerasan sosial. Mengapa hal ini terjadi? Dan bagaimana dampaknya terhadap psikologis kita?

Mengapa Otak Kita “Ketagihan” Berita Buruk?

Secara biologis, manusia memiliki kecenderungan alami untuk lebih memperhatikan hal-hal negatif daripada positif. Fenomena ini disebut *negativity bias* – yaitu kecenderungan otak untuk memberikan bobot yang lebih besar pada informasi negatif. Dalam bahasa sederhana, otak kita “terprogram” untuk lebih waspada terhadap ancaman demi kelangsungan hidup.

Dr. Roy Baumeister, psikolog dari Florida State University, menjelaskan bahwa satu kejadian buruk memiliki dampak psikologis yang lima kali lebih besar dibandingkan satu kejadian baik. Inilah mengapa kita cenderung lebih mengingat kritik daripada pujian, atau lebih terfokus pada satu komentar negatif di antara puluhan komentar positif.

Dalam konteks modern, amygdala – bagian otak yang memproses emosi – memberikan respons lebih intens terhadap berita yang dianggap “mengancam”. Ketika kita membaca tentang kecelakaan, kejahatan, atau bencana, amygdala langsung “menyalakan alarm” dan membuat kita lebih fokus pada informasi tersebut.

Industri Media: Bisnis yang Dibangun dari Perhatian

Dari perspektif jurnalistik, ada pepatah lama yang mengatakan “if it bleeds, it leads” – jika ada darah (kekerasan), itu yang jadi berita utama. Prinsip ini bukan tanpa alasan. Media menyadari bahwa berita negatif cenderung menarik lebih banyak perhatian dan engagement dari audiens.

Namun, transformasi industri media dalam era digital telah memperkuat fenomena ini secara dramatis. Media tradisional yang dulu mengandalkan langganan koran atau majalah, kini harus bersaing dalam attention economy – ekonomi yang berbasis perhatian. Pendapatan media kini sangat bergantung pada jumlah klik, waktu baca, dan interaksi di media sosial.

Perubahan Model Bisnis Media:

– Era analog: Pendapatan dari langganan dan iklan cetak

– Era digital: Pendapatan dari iklan online yang bergantung pada traffic

– Era media sosial: Pendapatan dari engagement metrics (likes, shares, comments)

Perubahan ini menciptakan insentif baru. Editor dan jurnalis kini memiliki akses real-time terhadap data tentang artikel mana yang paling banyak dibaca, dibagikan, atau dikomentari. Hasilnya? Berita yang memicu reaksi emosional kuat – biasanya berita negatif – mendapat prioritas lebih tinggi.

Algoritma: Mesin Penguat Berita Negatif

Platform media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan TikTok menggunakan algoritma – sistem perhitungan otomatis – untuk menentukan konten mana yang muncul di timeline pengguna. Algoritma ini dirancang dengan satu tujuan utama: memaksimalkan waktu yang dihabiskan pengguna di platform (engagement time).

Cara Kerja Algoritma Media Sosial:

1. Menganalisis perilaku: Sistem mencatat konten mana yang paling lama Anda baca, like, comment, atau share

2. Memprediksi preferensi: Berdasarkan data tersebut, algoritma “menebak” konten serupa yang mungkin Anda sukai

3. Menampilkan konten serupa: Timeline Anda dipenuhi konten yang mirip dengan yang sebelumnya menarik perhatian Anda

Masalahnya, algoritma tidak bisa membedakan antara “perhatian positif” dan “perhatian negatif”. Ketika Anda mengklik berita tentang kecelakaan karena khawatir atau penasaran, sistem menganggap Anda “tertarik” pada konten sejenis. Akibatnya, timeline Anda semakin dipenuhi berita-berita serupa.

Fenomena ini menciptakan filter bubble – gelembung filter yang membuat Anda hanya melihat jenis informasi tertentu saja. Jika Anda sering berinteraksi dengan berita negatif, algoritma akan terus menyajikan konten serupa, menciptakan ilusi bahwa dunia memang dipenuhi hal-hal buruk.

Doomscrolling: Kebiasaan Berbahaya di Era Digital

Doomscrolling adalah istilah yang menggambarkan perilaku terus-menerus mengonsumsi berita negatif di media sosial, meski hal tersebut membuat kita merasa buruk. Istilah ini terdiri dari kata “doom” (malapetaka) dan “scrolling” (menggulung layar).

Ciri-ciri Doomscrolling:

– Sulit berhenti membaca berita buruk meski sudah merasa cemas

– Menghabiskan berjam-jam untuk “mengikuti perkembangan” suatu kejadian

– Merasa perlu tahu semua detail tentang bencana atau tragedi

– Terus refresh halaman media sosial mencari update terbaru

Dr. Larry Rosen, profesor emeritus psikologi, menjelaskan bahwa doomscrolling memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol. Dalam jangka pendek, ini membuat kita merasa “terinformasi”. Namun dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan kecemasan kronis, depresi, dan gangguan tidur.

Anatomi Berita Viral: Mengapa Bad News Travels Fast?

Penelitian di bidang psikologi sosial menunjukkan bahwa berita negatif menyebar 6 kali lebih cepat daripada berita positif. Fenomena ini dijelaskan oleh beberapa faktor psikologis:

1. Social Proof (Bukti Sosial)

Ketika kita melihat banyak orang membagikan suatu berita, kita cenderung menganggap informasi tersebut penting dan layak disebarluaskan. Ini menciptakan efek snowball – semakin banyak yang share, semakin viral berita tersebut.

2. Emotional Arousal (Gairah Emosional)

Berita yang memicu emosi kuat – marah, sedih, takut – lebih mungkin dibagikan. Hal ini karena berbagi berita adalah cara kita mengekspresikan perasaan dan mencari validasi dari orang lain.

3. Negativity Dominance

Informasi negatif dinilai lebih “kredibel” dan “penting” dibandingkan informasi positif. Otak kita menginterpretasikan berita buruk sebagai “informasi survival” yang perlu disebarkan untuk melindungi komunitas.

Dampak Terhadap Kesehatan Mental

Paparan berlebihan terhadap berita negatif dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan mental:

1. Anxiety Disorder (Gangguan Kecemasan)

Konsumsi berita negatif secara berlebihan dapat memicu generalized anxiety disorder – kondisi di mana seseorang merasa cemas berlebihan terhadap berbagai aspek kehidupan, meski tidak ada ancaman langsung.

2. Mean World Syndrome

Istilah yang diciptakan peneliti komunikasi George Gerbner ini menggambarkan kondisi di mana seseorang mengembangkan pandangan yang berlebihan pesimistis tentang dunia. Orang yang mengalami sindrom ini cenderung:

– Melebih-lebihkan tingkat kejahatan dan kekerasan

– Merasa dunia semakin berbahaya

– Kehilangan kepercayaan terhadap orang lain dan institusi

3. Learned Helplessness (Ketidakberdayaan yang Dipelajari)

Konsep yang dikembangkan psikolog Martin Seligman ini menjelaskan kondisi di mana seseorang merasa tidak mampu mengubah situasi buruk, meski sebenarnya ada yang bisa dilakukan. Ketika terus-menerus terpapar berita tentang masalah besar (perang, perubahan iklim, kemiskinan) yang berada di luar kendali pribadi, seseorang bisa mengembangkan perasaan putus asa yang meluas ke aspek lain dalam hidup.

4. Compassion Fatigue (Kelelahan Empati)

Paparan berlebihan terhadap penderitaan orang lain melalui media dapat menyebabkan compassion fatigue – kondisi dimana seseorang menjadi tidak lagi mampu merasakan empati atau simpati terhadap korban tragedi. Ini adalah mekanisme pertahanan psikologis, namun dapat mengurangi kepedulian sosial.

Trend Berita Viral: Pola yang Dapat Diprediksi

Analisis terhadap berita viral menunjukkan beberapa pola yang konsisten:

Karakteristik Berita yang Mudah Viral:

– Proximity: Kejadian yang dekat secara geografis atau emosional

– Prominence: Melibatkan tokoh terkenal atau institusi penting 

– Timeliness: Informasi terbaru atau “breaking news”

– Impact: Mempengaruhi banyak orang

– Conflict: Mengandung pertentangan atau kontroversi

– Human Interest: Menyentuh sisi kemanusiaan

Berita negatif umumnya memenuhi sebagian besar kriteria di atas. Kecelakaan pesawat, misalnya, memiliki impact (mempengaruhi banyak orang), timeliness (informasi terbaru), dan human interest (tragedi manusia). Sebaliknya, berita tentang penurunan angka kemiskinan mungkin hanya memiliki impact, tanpa urgency atau drama yang menarik perhatian.

Strategi Mengelola Konsumsi Berita untuk Kesehatan Mental

Menghadapi fenomena ini, kita perlu mengembangkan strategi sehat dalam mengonsumsi berita:

1. News Diet (Diet Berita)

– Tetapkan waktu khusus untuk membaca berita (misalnya 30 menit per hari)

– Hindari cek berita sebelum tidur atau segera setelah bangun

– Unfollow atau mute akun yang terlalu sering posting berita negatif

2. Diversifikasi Sumber

– Baca dari berbagai sumber dengan perspektif berbeda

– Cari media yang juga menyajikan constructive journalism – jurnalisme yang tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga solusi

– Follow akun yang membagikan positive news atau pencapaian manusia

3. Fact-Checking dan Verifikasi

– Periksa kebenaran informasi sebelum membagikan

– Gunakan situs fact-checking seperti TurnBackHoax atau Cek Fakta

– Waspadai clickbait – judul yang sengaja dibuat sensasional untuk menarik klik

4. Mindful Media Consumption

– Sadari perasaan Anda saat membaca berita

– Jika merasa cemas atau stress, berhenti sejenak

– Praktek digital detox secara berkala

Peran Industri Media dalam Menciptakan Perubahan

Industri media juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ekosistem informasi yang lebih sehat:

1. Solutions Journalism

Model jurnalisme yang tidak hanya melaporkan masalah, tetapi juga mengeksplorasi upaya-upaya penyelesaian yang sedang atau telah dilakukan.

2. Transparansi Algoritma

Platform media sosial perlu lebih transparan tentang cara kerja algoritma mereka dan memberikan kontrol lebih besar kepada pengguna untuk mengkustomisasi timeline.

3. Fact-Based Reporting

Kembali memprioritaskan akurasi dan konteks dibandingkan kecepatan publikasi dan sensasionalisme.

Membangun Literasi Media di Era Digital

Literasi media – kemampuan untuk mengakses, menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan media – menjadi keterampilan penting di abad 21. Hal ini meliputi:

Kemampuan Teknis:

– Memahami cara kerja algoritma media sosial

– Mengenali karakteristik informasi yang dapat dipercaya

– Menggunakan tools verifikasi fakta

Kemampuan Kritis:

– Mempertanyakan motivasi di balik suatu berita

– Memahami bias dalam penyajian informasi 

– Mengenali manipulasi emosional dalam konten

Kemampuan Etis:

– Mempertimbangkan dampak sebelum membagikan informasi

– Menghargai privasi dan dignity korban dalam berita

– Berkontribusi pada diskusi publik yang konstruktif

Dampak Jangka Panjang dan Solusi Sistemik

Fenomena dominasi berita negatif memiliki implikasi jangka panjang yang serius:

Dampak Sosial:

– Menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi

– Meningkatnya polarisasi dan konflik sosial

– Berkurangnya partisipasi dalam kegiatan komunitas

Dampak Politik:

– Munculnya politics of fear – politik yang berbasis ketakutan

– Menurunnya dukungan terhadap kebijakan jangka panjang

– Meningkatnya dukungan terhadap solusi populis yang tidak berkelanjutan

Solusi yang Diperlukan:

1. Regulasi yang seimbang: Kebijakan yang melindungi konsumen tanpa melanggar kebebasan pers

2. Edukasi publik: Program literasi media yang komprehensif

3. Inovasi teknologi: Pengembangan algoritma yang memprioritaskan well-being pengguna

4. Kemitraan lintas sektor: Kolaborasi antara media, teknologi, akademisi, dan pemerintah

Kesimpulan: Mencari Keseimbangan dalam Era Informasi

Fenomena maraknya berita negatif bukanlah hasil dari konspirasi atau agenda tersembunyi, melainkan konsekuensi kompleks dari biologi manusia, struktur ekonomi media, dan teknologi digital. Memahami mekanisme di balik fenomena ini adalah langkah pertama untuk mengelola dampaknya terhadap kesehatan mental.

Tantangan ke depan adalah menciptakan ekosistem informasi yang tidak hanya informatif dan engaging, tetapi juga mendukung kesejahteraan psikologis masyarakat. Hal ini memerlukan usaha bersama dari berbagai pihak: industri media perlu mengembangkan model bisnis yang lebih bertanggung jawab, platform teknologi perlu merancang algoritma yang lebih humanis, dan masyarakat perlu mengembangkan literasi media yang memadai.

Yang terpenting, kita perlu mengingat bahwa meski dunia memang menghadapi berbagai tantangan serius, statistik menunjukkan bahwa kehidupan manusia secara umum terus membaik. Tingkat kemiskinan global menurun, angka harapan hidup meningkat, dan berbagai penyakit telah berhasil diberantas. Berita-berita positif ini mungkin tidak viral di media sosial, tetapi mereka adalah bagian penting dari gambaran lengkap tentang kondisi dunia.

Dalam era di mana informasi telah menjadi komoditas, kita perlu kembali mengingat bahwa tujuan sejati dari jurnalisme adalah melayani kepentingan publik dan membantu masyarakat membuat keputusan yang tepat. Hanya dengan kesadaran kolektif dan tindakan yang terkoordinasi, kita dapat menciptakan ruang informasi yang tidak hanya menarik perhatian, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan mental dan kemajuan peradaban manusia. (*)

Kebangkitan Pasundan dalam Kancah Politik Nasional: Era Baru Representasi Budaya Sunda

Oleh : Heri Mulyono

Lanskap politik Indonesia kini menyaksikan fenomena menarik berupa kebangkitan identitas Pasundan yang semakin menguat dalam arena politik nasional. Momentum ini mencapai puncaknya dengan terpilihnya Dedi Mulyadi sebagai Gubernur Jawa Barat periode 2025-2030, yang meraih kemenangan telak dengan 14.130.192 suara atau 62,22 persen. Kemenangan ini bukan sekadar pencapaian elektoral biasa, melainkan simbol kebangkitan representasi budaya Sunda dalam politik modern Indonesia.

Pasundan, sebagai identitas budaya masyarakat Sunda yang mendiami Jawa Barat, Banten, dan wilayah sekitarnya, kini menunjukkan dinamika politik yang signifikan. Dengan populasi sekitar 40 juta jiwa, masyarakat Sunda merupakan kelompok etnis terbesar kedua di Indonesia, namun representasi politik proporsionalnya baru mulai terwujud dalam dekade terakhir. Fenomena Dedi Mulyadi menjadi katalis yang mempercepat proses ini, menunjukkan bahwa politik berbasis kearifan lokal dapat menjadi kekuatan yang relevan dalam demokrasi Indonesia.

Dedi Mulyadi: Ikon Kebangkitan Pasundan

Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM (Kang Dedi Mulyadi), telah menjadi figur sentral dalam kebangkitan politik Pasundan. Dilantik sebagai Gubernur Jawa Barat ke-15 pada Februari 2025 oleh Presiden Prabowo Subianto, perjalanan politiknya mencerminkan evolusi kepemimpinan berbasis nilai-nilai Sunda dalam konteks modern.

Rekam jejaknya sebagai Bupati Purwakarta (2008-2018) telah membuktikan kemampuannya mengimplementasikan nilai-nilai Pasundan dalam tata kelola pemerintahan. Program-program inovatifnya seperti revitalisasi budaya Sunda, penguatan bahasa daerah, dan pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal menjadi model yang diadopsi daerah lain. Pendekatan kepemimpinannya yang sederhana namun komunikatif mencerminkan filosofi Sunda “silih asah, silih asih, silih asuh”.

Yang membedakan KDM dari politisi konvensional adalah penguasaannya terhadap komunikasi digital. Dengan total 19,7 juta pengikut di berbagai platform media sosial (12 juta di Facebook, 8 juta di TikTok, 7,7 juta di YouTube, dan 4,5 juta di Instagram), ia menjadi salah satu politisi dengan basis digital terkuat di Indonesia. Channel YouTube-nya yang mencapai 7,22 juta subscriber dengan 4.298 video yang diunggah menunjukkan konsistensi dalam membangun komunikasi langsung dengan rakyat.

Jejaring Strategis: Tim Pendukung dan Penasihat

Keberhasilan KDM tidak lepas dari dukungan jejaring strategis yang terdiri dari tokoh-tokoh berkaliber nasional dan internasional. Salah satu figur kunci adalah Mardigu Wowiek Prasantyo atau dikenal sebagai Bossman Mardigu, seorang pengusaha dan influencer yang kini dipercaya sebagai Komisaris Utama Independen Bank BJB. Bossman Mardigu, pria kelahiran Madiun tahun 1960-an, dikenal sebagai pendukung konsep Modern Monetary Theory (MMT) yang menurutnya dapat mengurangi ketergantungan negara terhadap dolar AS.

Kehadiran Mardigu dalam tim Dedi Mulyadi memberikan dimensi ekonomi dan keuangan yang kuat. Sebagai pengusaha yang aktif di media sosial dan sering menggelar workshop serta bootcamp terkait kiat-kiat sukses, Mardigu juga mendirikan perusahaan crypto asset. Kolaborasi antara Dedi Mulyadi dengan Bossman Mardigu menunjukkan integrasi antara kepemimpinan tradisional dengan inovasi ekonomi digital.

Tokoh lain yang tidak kalah penting adalah Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, yang kini menjadi penasihat Pemerintah Provinsi Jawa Barat tanpa menerima honor. Keputusan Susi untuk tidak menerima honor menunjukkan komitmennya yang murni dalam membantu pembangunan Jawa Barat, dengan Dedi Mulyadi menegaskan bahwa seluruh penasihat di provinsi Jawa Barat bersifat sukarela tanpa biaya.

Selain Susi Pudjiastuti, Dedi Mulyadi juga menggandeng Ignasius Jonan, mantan Menteri Transportasi, sebagai tim ahli bidang transportasi. Kehadiran dua mantan menteri dari era Presiden Jokowi ini memberikan kredibilitas dan pengalaman birokrasi tingkat nasional yang berharga.

Dalam tim pemenangan Pilkada Jawa Barat 2024, Mayjen (Purn) Dwi Jati Utomo, mantan Kepala Staf Kodam Siliwangi, resmi menjadi Ketua Tim Pemenangan pasangan Dedi Mulyadi-Erwan Setiawan. Uniknya, komedian Entis Sutisna alias Sule juga ditunjuk sebagai juru bicara tim pemenangan, dengan alasan kemampuannya menyampaikan pesan-pesan politik dengan cara yang mudah dipahami masyarakat.

Filosofi dan Nilai-Nilai Pasundan dalam Politik Modern

Kebangkitan politik Pasundan tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai filosofis yang menjadi pondasinya. Konsep “Tri Tangtu” yang mengajarkan keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam, memberikan kerangka pemikiran holistik dalam pendekatan pembangunan. Nilai ini sangat relevan dengan tantangan kontemporer seperti krisis lingkungan, ketimpangan sosial, dan degradasi moral.

Tradisi musyawarah dalam budaya Sunda yang disebut “rembug” atau “papaosan” sejalan dengan prinsip demokrasi deliberatif. Dalam praktiknya, KDM sering menggunakan pendekatan dialogis dalam pengambilan kebijakan, melibatkan berbagai stakeholder melalui forum-forum diskusi terbuka, baik offline maupun melalui platform digital.

Konsep “Mipit Kudu” (harus hati-hati) dalam filosofi Sunda menjadi dasar pendekatan pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini tercermin dalam kebijakan-kebijakan yang mengutamakan kelestarian lingkungan dan keadilan antar generasi, termasuk dalam kerjasama dengan Susi Pudjiastuti yang memiliki track record kuat dalam pelestarian lingkungan laut.

Transformasi Digital dan Komunikasi Politik

Era digital telah memberikan dimensi baru bagi politik Pasundan. Kekuatan media sosial Dedi Mulyadi menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi jembatan antara nilai-nilai tradisional dan aspirasi modern. Melalui konten-konten yang diproduksi, nilai-nilai Pasundan dikemas dalam format yang accessible bagi generasi milenial dan Gen Z.

Julukan “gubernur konten” yang disandangnya bukan tanpa alasan. KDM memiliki tim khusus untuk produksi konten media sosial, namun tetap mempertahankan otentisitas dan kedekatan personalnya. Strategi komunikasi digital ini bukan sekadar untuk popularitas, melainkan sebagai instrumen demokratisasi informasi dan partisipasi publik dalam pemerintahan.

Penggunaan bahasa Sunda dalam konten digital tidak hanya berfungsi sebagai pelestarian budaya, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan identitas lokal. Hal ini menciptakan sense of belonging yang kuat di kalangan masyarakat Sunda, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Sunda kepada audiens yang lebih luas.

Agenda Politik dan Isu Strategis

Sebagai Gubernur Jawa Barat, agenda politik KDM mencakup berbagai isu strategis yang mencerminkan nilai-nilai Pasundan sekaligus menjawab tantangan modern. Dengan dukungan tim ahli yang solid, beberapa program prioritas telah dirumuskan.

Pertama, pembangunan berkelanjutan berbasis kearifan lokal menjadi prioritas utama. Program “Smart Province” yang mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai tradisional Sunda menjadi model inovasi dalam tata kelola daerah. Keahlian Mardigu Wowiek dalam bidang ekonomi digital memberikan kontribusi berharga dalam implementasi program ini.

Kedua, pengembangan sektor kelautan dan perikanan dengan bimbingan Susi Pudjiastuti. Keduanya telah sepakat untuk menolak seluruh keramba jaring apung di Pangandaran, menunjukkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan laut. Pengalaman Susi dalam pemberantasan illegal fishing dan pelestarian sumber daya kelautan menjadi aset berharga bagi pengembangan sektor ini di Jawa Barat.

Ketiga, pengembangan infrastruktur transportasi dengan masukan dari Ignasius Jonan. Bossman Mardigu bahkan menyarankan optimalisasi Bandara Kertajati untuk jamaah haji dan umroh, menunjukkan sinergi dalam pengembangan infrastruktur.

Keempat, revitalisasi bahasa dan budaya Sunda dalam sistem pendidikan. Program pendidikan berbasis kearifan lokal mulai diimplementasikan di berbagai tingkat pendidikan, dengan dukungan tokoh-tokoh nasional yang memberikan legitimasi lebih kuat.

Sinergi Lintas Generasi dan Profesi

Yang menarik dari tim KDM adalah sinergi lintas generasi dan profesi. Dari militer (Dwi Jati Utomo), birokrat berpengalaman (Susi Pudjiastuti dan Ignasius Jonan), pengusaha digital (Mardigu Wowiek), hingga entertainer (Sule), semuanya bersatu dalam visi pembangunan Jawa Barat yang berkelanjutan.

Keragaman latar belakang ini mencerminkan inklusivitas gerakan politik Pasundan yang tidak eksklusif berdasarkan etnisitas semata, melainkan terbuka bagi siapa saja yang memiliki komitmen terhadap pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai Pasundan yang mengutamakan gotong royong dan persatuan.

Implikasi terhadap Politik Nasional

Keberhasilan model kepemimpinan KDM dengan dukungan tim yang solid memiliki implikasi signifikan terhadap dinamika politik nasional. Pertama, fenomena ini menunjukkan bahwa representasi berbasis identitas budaya dapat menjadi kekuatan elektoral yang signifikan ketika dikelola dengan baik dan didukung oleh jejaring strategis yang berkualitas.

Kedua, integrasi teknologi digital dengan nilai-nilai tradisional, yang diperkuat oleh keahlian seperti Mardigu Wowiek dalam ekonomi digital, menciptakan model komunikasi politik yang inovatif. Pengalaman ini dapat menjadi rujukan bagi pemimpin lain dalam membangun komunikasi yang efektif dengan konstituen di era digital.

Ketiga, kemampuan merangkul tokoh-tokoh nasional dari berbagai latar belakang untuk berkontribusi tanpa pamrih menunjukkan model kepemimpinan yang kolaboratif. Kesediaan mantan menteri seperti Susi Pudjiastuti untuk bekerja tanpa honor memberikan contoh dedikasi terhadap kepentingan public service.

Proyeksi dan Peluang Masa Depan

Popularitas dan rekam jejak KDM, yang diperkuat oleh dukungan tokoh-tokoh berkaliber nasional, menempatkannya dalam radar politik nasional. Kemenangan telaknya di Pilkada Jawa Barat, ditopang oleh basis digital yang masif dan jejaring strategis yang kuat, menunjukkan potensi elektabilitas yang signifikan untuk level yang lebih tinggi.

Kehadiran figur-figur seperti Susi Pudjiastuti dan Ignasius Jonan dalam timnya memberikan kredibilitas birokrasi tingkat nasional, sementara dukungan Mardigu Wowiek membuka akses ke jaringan bisnis dan ekonomi digital. Kombinasi ini menciptakan modal politik yang kuat untuk proyeksi ke tingkat nasional.

Dalam diskursus regenerasi kepemimpinan nasional, karakteristik kepemimpinan KDM yang mengkombinasikan kearifan tradisional dengan pemahaman teknologi modern, ditambah kemampuannya merangkul talenta terbaik bangsa, menjadi daya tarik tersendiri di tengah dinamika politik kontemporer.

Tantangan dan Strategi Keberlanjutan

Meskipun menunjukkan tren positif, kebangkitan politik Pasundan dengan jejaring pendukung yang kuat ini menghadapi berbagai tantangan. Pertama, ekspektasi publik yang tinggi terhadap kinerja, terutama dengan adanya tokoh-tokoh berpengalaman nasional dalam tim. Keberhasilan dalam komunikasi digital harus diimbangi dengan capaian nyata dalam pembangunan.

Kedua, sustainabilitas jejaring strategis dalam jangka panjang. Komitmen tokoh-tokoh seperti Susi Pudjiastuti dan Ignasius Jonan untuk berkontribusi tanpa pamrih perlu dijaga agar tetap konsisten sepanjang periode kepemimpinan.

Ketiga, potensi stereotip politik identitas yang dapat menimbulkan resistensi di tingkat nasional. Penting untuk terus menekankan bahwa politik berbasis Pasundan bersifat inklusif dan berkontribusi pada kemajuan nasional, sebagaimana ditunjukkan oleh keragaman tim pendukungnya.

Catatan Akhir

Kebangkitan Pasundan dalam politik nasional, dengan KDM sebagai figur utama yang didukung jejaring strategis berkualitas tinggi, merepresentasikan fenomena penting dalam evolusi demokrasi Indonesia. Kehadiran tokoh-tokoh seperti Susi Pudjiastuti, Ignasius Jonan, Mardigu Wowiek, dan lainnya dalam tim menunjukkan bahwa politik berbasis kearifan lokal dapat menarik dukungan dari kalangan nasional yang kompeten.

Model kepemimpinan ini bukan sekadar tentang politik identitas dalam pengertian sempit, melainkan tentang bagaimana identitas budaya dapat menjadi platform untuk menarik dan mengintegrasikan talenta terbaik bangsa dalam pembangunan daerah. Kesediaan mantan menteri untuk berkontribusi tanpa pamrih menunjukkan daya tarik model kepemimpinan yang autentik dan berorientasi pada pelayanan publik.

Sinergi antara kearifan tradisional Pasundan, kekuatan digital, dan keahlian nasional menciptakan formula kepemimpinan yang unik dan berpotensi menjadi model bagi daerah lain. Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini berkontribusi pada penguatan demokrasi Indonesia yang berbasis pada keragaman dan merit, di mana identitas lokal menjadi kekuatan untuk menarik dan mengoptimalkan potensi nasional.

Ke depan, keberhasilan model ini akan sangat bergantung pada kemampuannya mempertahankan sinergi tim, merealisasikan janji-janji pembangunan, dan tetap relevan dengan aspirasi masyarakat yang terus berkembang. Dalam konteks inilah kebangkitan Pasundan dalam politik nasional, dengan jejaring pendukung yang solid, memiliki signifikansi strategis bagi masa depan Indonesia.

Aplikasi Ojol Milik Negara, Pengemudi Sejahtera

Oleh Djoko Setijowarno

Jika aplikasi transportasi online dimiliki oleh negara, keuntungan bukanlah target utama. Prioritasnya adalah kesejahteraan pengemudi dan kemudahan bagi masyarakat, sehingga tujuan sosialnya lebih tercapai

Jika negara mengakui pengemudi ojek online (ojol) sebagai lapangan pekerjaan baru, maka idealnya negara membuat aplikasi sendiri untuk menyejahterakan warganya. Sehingga potongan biaya yang dikenakan kepada pengemudi dapat diatur tidak lebih dari 10 persen.

Hal tersebut berbeda dengan kondisi saat ini, meskipun dianggap sebagai lapangan pekerjaan, pengemudi merasa terbebani dengan potongan biaya yang mencapai lebih dari 20 persen. Selanjutnya, aplikasi itu dapat diserahkan ke pemda untuk digunakan sesuai kebutuhan daerah masing-masing.

Fokus pemerintah selama ini pada aplikator, bukan pada pengemudi, bisa jadi disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah dugaan bahwa sejumlah pejabat yang berurusan dengan aplikasi online sudah menerima fasilitas dari aplikator.

Hal ini membuat sebagian pihak beranggapan, buat apa bersusah payah memikirkan untuk membuat aplikasi sendiri, aplikator banyak memberikan fasilitas yang diminta.

Dengan kata lain, ada kemungkinan bahwa kemudahan yang diberikan oleh perusahaan aplikasi membuat pemerintah tidak lagi melihat perlunya menciptakan sistem transportasi online milik negara, dan kebijakan yang ada lebih menguntungkan perusahaan aplikasi itu sendiri daripada pengemudi.

Mengutip dari berbagai sumber perkembangan aplikasi transportasi online yang dimiliki oleh beberapa negara, seperti berikut ini.

Korea Selatan

Aplikasi transportasi online lokal Korea yang paling dominan dan populer adalah Kakao T. Kakao T merupakan bagian dari Kakao Mobility. Aplikasi ini menawarkan berbagai layanan mobilitas, seperti Kakao T untuk layanan taksi, K.ride yang dirancang khusus untuk wisatawan dan tidak memerlukan nomor telepon atau akun Korea.

Selain Kakao T, ada juga aplikasi taksi lokal lain yang dirancang khusus untuk turis, seperti, TABA yakni aplikasi taksi yang diluncurkan oleh Pemerintah Kota Seoul untuk wisatawan asing. Kelebihannya adalah dukungan bahasa asing yang lebih baik dan memungkinkan pendaftaran dengan nomor telepon internasional.

Meskipun Uber juga ada di Korea, dominasi Kakao T sangat kuat, sehingga aplikasi lokal ini menjadi pilihan utama bagi sebagian besar penduduk dan pengunjung.

China

Di China, aplikasi transportasi online yang paling dominan dan populer adalah DiDi Chuxing. DiDi Chuxing, atau yang sering disebut DiDi, adalah platform layanan transportasi online terbesar di Tiongkok. Aplikasi ini menawarkan berbagai layanan, seperti DiDi Express untuk layanan taksi atau mobil pribadi standar, mirip dengan UberX, DiDi Premier/Luxury (layanan yang menawarkan kendaraan dan pengemudi kelas atas), DiDi Taxis (memungkinkan pengguna untuk memesan taksi tradisional melalui aplikasi), DiDi Hitch (carpooling) untuk layanan berbagi tumpangan.

Selain DiDi, ada juga pemain lain di pasar transportasi online China, meskipun cakupannya tidak sebesar DiDi, yaitu Meituan. Awalnya Meituan lebih dikenal sebagai aplikasi pengiriman makanan (seperti, GoFood atau GrabFood di Indonesia), tetapi mereka juga menyediakan layanan transportasi online, terutama taksi.

Namun, yang perlu diperhatikan, China memiliki ekosistem aplikasi yang sangat terintegrasi. Seringkali, layanan DiDi bisa diakses langsung melalui aplikasi “super app” seperti WeChat dan Alipay, yang merupakan aplikasi pembayaran digital dan komunikasi yang sangat penting di China. Bagi wisatawan, menggunakan fitur DiDi di dalam WeChat atau Alipay bisa jadi pilihan yang lebih mudah.

Berbeda dengan Indonesia yang didominasi ojek motor (Go-Jek dan Grab), layanan transportasi online di China sebagian besar menggunakan mobil, karena infrastruktur transportasi publik seperti kereta bawah tanah (metro) dan bus sudah sangat maju dan efisien.

Jepang

Di Jepang, pasar transportasi online sangat berbeda dengan di negara-negara lain. Dominasi perusahaan taksi tradisional masih sangat kuat, dan aplikasi yang paling populer adalah aplikasi yang bekerja sama langsung dengan armada taksi tersebut.

Aplikasi lokal transportasi online milik Jepang yang paling dominan adalah GO. GO sebelumnya dikenal sebagai JapanTaxi dan MOV. Ini aplikasi taksi paling populer di Jepang dan memiliki jangkauan terluas, mencakup hampir seluruh wilayah Jepang (45 dari 47 prefektur atau mirip provinsi/kota/kabupaten di Indonesia).

Aplikasi ini dirancang untuk memesan taksi dari berbagai perusahaan taksi yang terhubung ke jaringan mereka. Keunggulannya, (1) memungkinkan pemesanan taksi di muka (reservasi), (2) tersedia dalam berbagai bahasa, termasuk Bahasa Inggris, yang membuatnya sangat mudah digunakan oleh wisatawan, (3) pembayaran dapat dilakukan di dalam aplikasi dengan kartu kredit atau melalui metode pembayaran nontunai lainnya, (4) menawarkan layanan “GO Premium” untuk kendaraan mewah.

Selain GO, ada beberapa aplikasi lain yang juga populer, terutama di area tertentu, seperti S.RIDE (populer di wilayah Tokyo) DiDi Mobility (meskipun berasal dari China, DiDi memiliki kehadiran yang kuat di Jepang, terutama di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, dan Kyoto).

Uber juga beroperasi di Jepang, tetapi model bisnisnya berbeda. Di Jepang, Uber sebagian besar berfungsi sebagai platform pemesanan taksi, bukan ride sharing dengan pengemudi individu. Uber bekerja sama dengan perusahaan taksi lokal, sehingga bagi wisatawan yang terbiasa menggunakan Uber, ini bisa menjadi pilihan yang nyaman.

Secara ringkas, bagi siapa pun yang ingin menggunakan aplikasi taksi di Jepang, GO adalah pilihan utama yang  direkomendasikan karena jangkauannya yang luas. Sementara itu, Uber dan DiDi bisa menjadi alternatif yang bagus, terutama di kota-kota besar.

Vietnam

Di Vietnam, persaingan di pasar transportasi online sangat dinamis dan ketat. Meskipun ada beberapa pemain global dan regional, aplikasi lokal juga memiliki peran penting.

Aplikasi transportasi online lokal yang populer di Vietnam, seperti Be, Xanh SM, Mai Linh Taxi, Vinasun Taxi.

Be adalah salah satu aplikasi ride hailing lokal terbesar di Vietnam. Aplikasi ini dikenal sebagai pesaing kuat bagi Grab dan telah berhasil meraih pangsa pasar yang signifikan, terutama di kalangan pengguna yang mencari tarif yang lebih terjangkau. Layanannya menawarkan transportasi mobil dan motor, serta layanan pengiriman makanan dan barang. Kelebihannya, Be sering kali menawarkan tarif yang kompetitif dan memiliki basis pengguna setia, terutama karena identitasnya sebagai merek lokal.

Xanh SM adalah pendatang baru yang dengan cepat menjadi pemain utama di pasar Vietnam. Keunikan dari aplikasi ini adalah seluruh armadanya menggunakan kendaraan listrik, baik mobil (VinFast) maupun motor listrik. Fokus pada taksi mobil listrik dan ojek motor listrik. Kelebihannya, Xanh SM memimpin pasar dengan menawarkan pengalaman yang ramah lingkungan dan kendaraan yang modern. Aplikasi ini juga diintegrasikan dengan ekosistem VinGroup, salah satu konglomerat terbesar di Vietnam.

Selain dua aplikasi lokal di atas, ada juga perusahaan taksi tradisional Vietnam yang memiliki aplikasi sendiri, seperti Mai Linh Taxi dan Vinasun Taxi, yang masih sangat populer di kalangan penduduk lokal.

Meskipun demikian, perlu dicatat, pasar transportasi online di Vietnam tetap didominasi oleh pemain regional seperti Grab yang berasal dari Singapura. Bahkan, Gojek, yang pernah memiliki kehadiran kuat di sana dengan nama Go-Viet, telah menarik diri dari pasar Vietnam. Hal ini menunjukkan, persaingan sangat ketat dan seringkali didominasi oleh strategi dan kekuatan finansial dari perusahaan regional.

India

Di India, pasar transportasi online sangat besar dan kompetitif, dengan dua pemain utama yang mendominasi. Salah satu dari keduanya adalah perusahaan lokal, yaitu Ola.

Ola adalah perusahaan transportasi online yang didirikan di India. Aplikasi ini adalah pesaing utama Uber di pasar India dan telah menjadi salah satu startup paling sukses di negara tersebut. Ola menawarkan berbagai layanan transportasi, termasuk (1) Ola Auto untuk ojek Bajaj (Bajaj autorickshaw), Ola Bike (ojek motor), Ola Micro/Mini/Prime, berbagai pilihan taksi mobil dengan ukuran dan harga yang berbeda, Ola Outstation, layanan taksi untuk perjalanan antar kota. Ola memiliki jangkauan yang sangat luas, beroperasi di lebih dari 250 kota di seluruh India, serta beberapa negara lain, seperti Australia, Selandia Baru, dan Inggris.

Rapido adalah pemain lokal lain yang berfokus pada layanan ojek motor (bike taxi) dan juga ojek Bajaj. Aplikasi ini telah berhasil menarik banyak pengguna, terutama di kota-kota yang padat, berkat tarif yang terjangkau dan kemampuan untuk melewati kemacetan. Fokus utama Rapido adalah pada layanan transportasi roda dua (bike taxi) dan ojek bajaj. Kelebihannya Rapido sangat populer di kalangan masyarakat yang mengutamakan kecepatan dan efisiensi di tengah lalu lintas kota yang padat. Mereka sering menawarkan skema langganan harian yang membuat tarif lebih hemat.

Namma Yatri adalah aplikasi taksi yang berbasis di Bengaluru dan beroperasi dengan model koperasi yang memungkinkan pengemudi mendapatkan 100 persen dari tarif. Aplikasi ini didukung oleh pemerintah India dan merupakan bagian dari inisiatif untuk melawan dominasi platform besar dan memberikan pendapatan lebih kepada pengemudi.

Meskipun Uber juga sangat populer di India, pasar tetap didominasi oleh persaingan ketat antara Uber dan Ola. Sebagian besar penduduk lokal dan wisatawan biasanya akan mengunduh kedua aplikasi untuk membandingkan tarif dan ketersediaan sebelum memesan.

Malaysia

Perkembangan aplikasi transportasi online di Malaysia didominasi oleh satu nama besar, yaitu Grab. Namun, di balik dominasinya, pasar ini juga diwarnai oleh kehadiran sejumlah pemain lain yang menawarkan keunikan tersendiri.

Grab adalah aplikasi transportasi online yang paling populer dan dominan di Malaysia. Meskipun Grab memimpin, ada beberapa aplikasi lain, seperti inDriver, AirAsia MOVE (berasal dari maskapai penerbangan AirAsia), Maxim (dikenal dengan tarifnya yang rendah), MyCar (aplikasi lokal Malaysia), Riding Pink (aplikasi khusus layanan transportasi eksklusif untuk wanita dan anak-anak, yang dikemudikan oleh pengemudi wanita).

Secara keseluruhan, meskipun Grab memegang kendali besar, pasar transportasi online di Malaysia menunjukkan dinamika yang menarik dengan adanya pemain-pemain lain yang berinovasi untuk memenuhi kebutuhan segmen pasar yang berbeda.

Pemerintah Malaysia memang menghadapi kendala sosial dan agama dalam mengembangkan layanan ojek motor, yang berbeda dengan ojek motor di Indonesia. Salah satu alasan utamanya adalah kekhawatiran terkait interaksi antara pengemudi dan penumpang yang bukan muhrim.

Di Malaysia, banyak pihak yang khawatir jika ojek penumpang dikembangkan secara luas, hal itu akan melanggar prinsip-prinsip syariah yang mengatur interaksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan suami-istri atau kerabat dekat (muhrim). Meskipun tidak ada larangan hukum yang eksplisit, kekhawatiran ini menjadi alasan kuat yang menghambat pengembangan layanan ojek motor di negara tersebut.

Selain itu, faktor keselamatan dan keamanan jalan raya juga sering menjadi perdebatan. Banyak yang berpendapat bahwa kondisi jalanan di Malaysia tidak sepadat Jakarta atau kota besar di Indonesia lainnya, sehingga taksi mobil atau angkutan umum dianggap lebih aman dan nyaman.

Meskipun demikian, ada beberapa aplikasi yang mencoba masuk ke pasar ini dengan skema yang berbeda, seperti Riding Pink, yang menyediakan layanan ojek motor khusus wanita untuk memastikan kenyamanan dan keamanan penumpang.

Transportasi Online di Eropa

Pasar transportasi online di Eropa sangat beragam, dan tidak ada satu aplikasi lokal yang dominan di seluruh benua. Setiap negara memiliki pemainnya sendiri yang bersaing ketat dengan perusahaan global seperti Uber.

Di Jerman ada Free Now. Aplikasi ini adalah salah satu pemain besar di Eropa dan sangat populer di Jerman. Free Now adalah hasil dari merger antara MyTaxi dan sejumlah layanan ride-hailing lainnya. Mereka bekerja sama dengan perusahaan taksi berlisensi dan menawarkan opsi tambahan, seperti skuter dan sepeda listrik.

Ada juga Taxi.eu, aplikasi taksi yang beroperasi di banyak kota di Jerman dan negara Eropa lainnya. Mereka terhubung langsung dengan pusat taksi lokal, sehingga menjamin keandalan dan keamanan.

Kemudian aplikasi Bolt. Meskipun berbasis di Estonia, Bolt memiliki kehadiran yang kuat di Jerman dan menjadi alternatif populer untuk Uber, terutama dengan tarifnya yang sering lebih terjangkau.

Di Perancis ada G7. Ini adalah aplikasi taksi yang paling populer di Paris dan wilayah sekitarnya (Ile-de-France). G7 bekerja sama dengan ribuan taksi berlisensi dan menawarkan berbagai layanan, mulai dari taksi standar, taksi van, hingga taksi ramah lingkungan (G7 Green).

Heetch, awalnya berfokus pada layanan taksi malam hari, Heetch kini telah berkembang menjadi pesaing Uber yang signifikan di Prancis. Aplikasi ini populer di kalangan anak muda.

Di Inggris ada Gett. Gett sangat populer di London, terutama karena fokusnya pada pemesanan taksi hitam (black cabs) yang ikonik dan diatur ketat oleh pemerintah. Ini adalah pilihan yang sangat terpercaya dan aman. Minicabit, aplikasi ini berfungsi sebagai platform perbandingan harga taksi di seluruh Inggris. Pengguna bisa mendapatkan penawaran dari berbagai penyedia taksi untuk perjalanan lokal maupun antar kota. Free Now juga memiliki basis pengguna yang kuat di London dan kota-kota lain di Inggris, bekerja sama dengan armada taksi lokal.

Di Spanyol, ada Cabify. Meskipun Uber juga tersedia, Cabify adalah aplikasi ride hailing lokal yang lebih populer di Spanyol. Mereka dikenal karena kualitas layanannya yang premium dan harga yang lebih transparan.

Di Estonia, ada aplikasi Bolt. Bolt adalah perusahaan transportasi online yang berasal dari Estonia. Dari sana, mereka telah berkembang pesat dan menjadi salah satu pesaing utama Uber di banyak negara di Eropa, Afrika, dan Amerika Latin.

Di Eropa, taksi tradisional yang berafiliasi dengan aplikasi lokal seringkali menjadi pilihan yang sangat umum dan diandalkan, terutama karena regulasi yang ketat dan keamanan yang lebih terjamin. Di sisi lain, aplikasi ride hailing, seperti Bolt juga berhasil menarik banyak pengguna dengan tarif yang kompetitif.

Memperhatikan Pengemudi

Menurut Sony Sulaksono Wibowo (Dosen Program Studi Teknik Sipil ITB), hal yang mendasar penanganan angkutan private hiring di Malaysia dan Indonesia adalah fokus penanganannya. Di Malaysia, pengemudi diakui sebagai pekerja dan ada standar gaji dan pemerintah menjaganya serta mengatur, seperti UMR kalau di Indonesia. Artinya Malaysia fokus pada pengemudinya, makanya pengemudi di Malaysia jarang demo.

Di Indonesia, fokus justru pada aplikator dan mereka berlagak sombong dengan menari di sela-sela kekosongan regulasi yang ada. Pemerintah tidak bisa melindungi pengemudi secara langsung. Akibatnya semua tuntutan pengemudi yang dimintakan ke pemerintah tidak pernah dipenuhi, karena semua tergantung willingness aplikator. Sudah saatnya pemerintah melihat pengemudi ojek online sebagai pekerjaan bukan informal, dilindungi, dan berlisensi. Aplikasi hanya kelengkapan kerja, bukan penentu pekerjaan.

Manfaat Aplikasi Transportasi Online Milik Pemerintah

Jika pemerintah memiliki aplikasi transportasi online sendiri, ada beberapa keuntungan signifikan yang bisa didapat, baik bagi pemerintah maupun pengemudi.

Pertama, pemerintah akan memiliki data pasti mengenai jumlah pengemudi transportasi daring. Selama ini, data ini tidak diketahui secara jelas, sehingga sulit untuk menentukan kewajiban membayar pajak dan mengatur kesejahteraan mereka secara efektif.

Kedua, pemerintah dapat memantau dan mengawasi kebutuhan mobilitas masyarakat secara langsung. Dengan data ini, pemerintah bisa merancang kebijakan yang lebih tepat dan memastikan ada keseimbangan antara ketersediaan (supply) dan kebutuhan (demand). Hal ini penting agar bisnis ini bisa memberikan keuntungan bagi semua pihak.

Ketiga, pemerintah dapat menerapkan persyaratan yang lebih ketat untuk menjadi pengemudi. Berbeda dengan kondisi saat ini, pengemudi mudah diterima namun sulit mendapatkan penghasilan, pemerintah dapat memastikan bahwa jumlah pengemudi sesuai dengan permintaan pasar.

Keempat, pemerintah dapat secara rutin melakukan pembinaan kepada pengemudi, tata cara memuat barang, etika membawa penumpang, dan memberikan pengetahuan tentang tertib berlalu lintas yang berkeselamatan di jalan raya.

Terakhir, jika aplikasi ini dimiliki oleh negara, keuntungan bukanlah target utama. Prioritasnya adalah kesejahteraan pengemudi dan kemudahan bagi masyarakat, sehingga tujuan sosialnya lebih tercapai. ***

*) Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat