Kolom
Sejarah Perselisihan Sunni-Syiah dan Dampaknya pada Geopolitik Timur Tengah: Peran Indonesia dalam Diplomasi Global
Oleh : Heri Mulyono
Timur Tengah hari ini merupakan kawasan yang penuh dengan ketegangan geopolitik yang kompleks. Di balik konflik Israel-Palestina yang mendapat sorotan dunia, terdapat dimensi lain yang tidak kalah penting: perpecahan historis antara Islam Sunni dan Syiah yang telah berlangsung selama 14 abad. Perselisihan teologis yang dimulai sejak abad ke-7 ini kini telah bertransformasi menjadi rivalitas geopolitik yang mempengaruhi stabilitas kawasan dan peta kekuatan global.
Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, memiliki peran strategis dalam navigasi kompleksitas ini. Melalui Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dan forum-forum internasional lainnya, Indonesia berupaya menjadi jembatan perdamaian sambil tetap konsisten mendukung kemerdekaan Palestina.

Akar Sejarah Perselisihan Sunni-Syiah
Perpecahan Awal (632-661 M)
Perselisihan Sunni-Syiah bermula dari krisis suksesi setelah wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 632 M. Dua kubu utama memiliki pandangan berbeda mengenai siapa yang berhak memimpin umat Islam:
Kelompok Sunni (dari kata “Ahl as-Sunnah wa al-Jama’ah” yang berarti pengikut tradisi dan komunitas) percaya bahwa kepemimpinan harus dipilih melalui konsultasi komunitas Muslim. Mereka mendukung Abu Bakar, sahabat dekat Nabi, sebagai khalifah (pemimpin spiritual dan politik) pertama.
Kelompok Syiah (dari kata “Syi’atu Ali” yang berarti pengikut Ali) berpendapat bahwa kepemimpinan harus tetap dalam keluarga Nabi. Mereka mendukung Ali ibn Abi Thalib, sepupu dan menantu Nabi, sebagai penerus yang sah.
Konflik ini mencapai puncaknya dalam Pertempuran Karbala (680 M), di mana Husein, putra Ali dan cucu Nabi Muhammad, terbunuh bersama pengikutnya. Peristiwa ini menjadi trauma kolektif bagi Syiah dan menciptakan narasi tentang penderitaan dan perlawanan terhadap ketidakadilan yang bertahan hingga kini.
Perkembangan Doktrin
Seiring waktu, perbedaan teologis semakin mengkristal:
– Sunni mengembangkan sistem khalifah dan menekankan otoritas ulama sebagai penafsir ajaran Islam
– Syiah mengembangkan konsep imam (pemimpin spiritual yang ma’sum atau terlindungi dari kesalahan) dan menunggu kedatangan Imam Mahdi
Saat ini, sekitar 85-90% Muslim dunia adalah Sunni, sementara 10-15% adalah Syiah, dengan konsentrasi terbesar di Iran, Irak, Bahrain, dan sebagian Lebanon.

Transformasi Menjadi Rivalitas Geopolitik Modern
Era Safawiyah dan Ottoman
Perselisihan teologis mulai berubah menjadi rivalitas geopolitik pada abad ke-16 ketika Kekaisaran Ottoman Sunni berhadapan dengan Kekaisaran Safawiyah Syiah di Persia (Iran). Kedua kekuatan ini tidak hanya bersaing memperebutkan wilayah, tetapi juga legitimasi sebagai pemimpin dunia Islam.
Revolusi Iran 1979: Titik Balik Modern
Revolusi Islam Iran tahun 1979 yang dipimpin Ayatollah Khomeini menandai babak baru dalam dinamika Sunni-Syiah. Iran yang kini menjadi republik teokrasi Syiah menantang hegemoni negara-negara Arab Sunni, khususnya Arab Saudi yang mengklaim sebagai penjaga Tanah Suci.
Ekspor Revolusi Iran menciptakan ketegangan baru ketika Iran berusaha menyebarkan ideologi revolusioner Syiah ke negara-negara Muslim lainnya. Hal ini memicu kekhawatiran negara-negara Sunni, terutama monarki-monarki Teluk.
Peta Kekuatan Sunni-Syiah Kontemporer
Blok Sunni
Arab Saudi memimpin koalisi Sunni dengan:
– Legitimasi agama sebagai penjaga Mekkah dan Madinah
– Kekayaan minyak yang memungkinkan penyebaran pengaruh global
– Dukungan terhadap kelompok-kelompok Sunni di berbagai negara
– Aliansi strategis dengan Amerika Serikat
Negara-negara pendukung meliputi Mesir, Jordania, UAE, Kuwait, dan sebagian besar negara-negara Arab lainnya.
Blok Syiah
Iran sebagai pemimpin dengan:
– Ideologi revolusioner yang anti-imperialis
– Program nuklir yang menciptakan kekhawatiran regional
– Jaringan proxy (wakil) di berbagai negara melalui “Poros Resistensi”
– Dukungan terhadap kelompok-kelompok Syiah dan anti-Israel
Aliansi Iran mencakup:
– Hizbullah di Lebanon
– Pemerintah Syiah Irak pasca-2003
– Houthi di Yemen
– Rezim Assad di Suriah (meski Alawite, bukan Syiah mainstream)

Dampak pada Konflik Israel-Palestina
Kompleksitas Baru dalam Dukungan Palestina
Konflik Israel-Palestina yang sebelumnya dipandang sebagai isu Arab-Israel kini terjerat dalam rivalitas Sunni-Syiah:
Iran dan “Poros Resistensi” mengklaim sebagai pembela sejati Palestina dengan:
– Dukungan militer dan finansial kepada Hamas dan Jihad Islam Palestina
– Retorika anti-Israel yang konsisten
– Penolakan terhadap segala bentuk normalisasi dengan Israel
Negara-negara Arab Sunni mengalami dilema:
– Secara tradisional mendukung Palestina
– Namun menganggap Iran sebagai ancaman eksistensial yang lebih besar
– Sebagian memilih normalisasi dengan Israel melalui Abraham Accords (UAE, Bahrain, Maroko)
Melemahnya Solidaritas Arab
Prioritas geopolitik kini mengalahkan solidaritas pan-Arab tradisional. Negara-negara Teluk lebih khawatir terhadap ekspansi Iran daripada konflik Palestina, menciptakan realitas baru di mana:
– Israel tidak lagi dipandang sebagai musuh utama oleh beberapa negara Arab
– Iran mengisi kekosongan sebagai “pembela Palestina”
– Palestina menjadi “anak yatim” dalam rivalitas regional

Peran Indonesia dalam Diplomasi Global
Posisi Unik Indonesia
Indonesia memiliki kredibilitas unik dalam isu Timur Tengah karena:
– Mayoritas Sunni moderat yang tidak terlibat dalam rivalitas sektarian
– Tradisi toleransi dengan minoritas Syiah yang relatif damai
– Netralitas dalam konflik regional Timur Tengah
– Legitimasi sebagai negara Muslim terbesar dan demokrasi yang stabil
Kepemimpinan dalam OKI
Organisasi Kerjasama Islam (OKI) adalah organisasi internasional terbesar kedua setelah PBB, beranggotakan 57 negara Muslim. Indonesia telah memainkan peran penting dalam:
Moderasi Sektarian: Indonesia berupaya mencegah OKI terpolarisasi dalam rivalitas Sunni-Syiah dengan:
– Menekankan persatuan umat Islam
– Menghindari retorik sektarian dalam resolusi OKI
– Mendorong dialog antar-mazhab
Konsistensi terhadap Palestina: Indonesia mempertahankan sikap pro-Palestina tanpa terjebak dalam politisasi oleh Iran atau Arab Saudi dengan:
– Dukungan konsisten terhadap kemerdekaan Palestina
– Penolakan normalisasi dengan Israel
– Bantuan kemanusiaan untuk rakyat Palestina
Diplomasi di Forum PBB
Indonesia menjalankan diplomasi multilateral yang sophisticated di PBB:
Kelompok G-77 dan Non-Blok: Indonesia menggunakan platform ini untuk membangun koalisi mendukung Palestina di luar kerangka sektarian.
Dewan Keamanan PBB: Ketika menjadi anggota tidak tetap, Indonesia konsisten mengadvokasi resolusi damai dan kritik terhadap pelanggaran hukum internasional oleh Israel.
Inisiatif Peace Building: Indonesia menawarkan model penyelesaian konflik berdasarkan pengalaman Aceh dan berbagai mediasi regional.
Tantangan dan Peluang
Tantangan bagi Indonesia
Tekanan Domestik: Meningkatnya polarisasi global mempengaruhi diskursus domestik Indonesia, dengan kelompok-kelompok yang menuntut sikap lebih tegas.
Kompleksitas Geopolitik: Hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat, China, dan kekuatan regional memerlukan keseimbangan yang hati-hati.
Keterbatasan Pengaruh: Meski dihormati, Indonesia memiliki keterbatasan dalam mempengaruhi dinamika Timur Tengah yang kompleks.
Peluang Strategis
Bridge Builder: Indonesia dapat menjadi mediator antara faksi-faksi yang bertikai dengan kredibilitas yang dimiliki.
Model Alternatif: Indonesia menunjukkan bahwa negara Muslim dapat menjadi demokratis, toleran, dan maju tanpa terjebak fundamentalisme.
Soft Power: Melalui budaya, pendidikan, dan ekonomi, Indonesia dapat membangun pengaruh jangka panjang.
Implikasi untuk Masa Depan
Skenario Pesimistis
Jika rivalitas Sunni-Syiah terus menguat:
– Timur Tengah akan semakin terpolarisasi
– Isu Palestina semakin terpolitisasi dan dimanipulasi
– Risiko konflik regional yang lebih luas meningkat
– Ekstremisme mendapat ruang lebih besar
Skenario Optimistis
Jika moderasi berhasil:
– Dialog antar-sekte dapat mengurangi ketegangan
– Fokus dapat kembali ke isu-isu substantif seperti Palestina
– Kerjasama regional untuk stabilitas dan pembangunan
– Peran mediator seperti Indonesia menjadi lebih efektif
Catatan Akhir
Perselisihan Sunni-Syiah yang dimulai sebagai krisis suksesi 14 abad lalu kini telah bertransformasi menjadi rivalitas geopolitik yang mempengaruhi seluruh dinamika Timur Tengah. Dampaknya terhadap isu Palestina sangat signifikan, menciptakan kompleksitas baru yang memerlukan pendekatan diplomatik yang sophisticated.
Indonesia, dengan posisi uniknya sebagai negara Muslim terbesar yang moderat dan demokratis, memiliki peran penting dalam menavigasi kompleksitas ini. Melalui OKI dan forum-forum internasional, Indonesia berupaya menjadi jembatan perdamaian sambil mempertahankan prinsip-prinsip dasarnya.
Tantangan ke depan adalah bagaimana mencegah agar rivalitas sektarian tidak semakin menjauhkan umat Islam dari isu-isu substantif seperti kemerdekaan Palestina, kemiskinan, dan pembangunan. Diperlukan kepemimpinan yang bijaksana dan komitmen terhadap moderasi untuk menciptakan Timur Tengah yang lebih stabil dan adil.
Dalam konteks global yang semakin multipolar, peran negara-negara seperti Indonesia sebagai middle power menjadi semakin penting. Kemampuan untuk membangun jembatan, memfasilitasi dialog, dan menawarkan solusi alternatif akan menentukan apakah dunia Muslim dapat mengatasi perpecahan internal dan berkontribusi positif bagi perdamaian dunia.
Indonesia harus terus mempertahankan keseimbangan antara prinsip dan pragmatisme, antara solidaritas dan netralitas, serta antara komitmen terhadap Palestina dan upaya moderasi regional. Hanya dengan pendekatan yang nuanced dan konsisten, Indonesia dapat memainkan peran optimal dalam upaya menciptakan perdamaian di Timur Tengah. (*)
