Merah Putih tak Pernah Robek di Jiwa Prajurit

Oleh: Mjp. Hutagaol ’86

Dalam gladi upacara Hari Ulang Tahun TNI, bendera Merah Putih yang robek terbelah dua menjadi peristiwa yang menggugah hati seluruh prajurit. Kain boleh robek, tapi jiwa prajurit tak pernah koyak.

Sejak 5 Oktober 1945, ketika Tentara Keamanan Rakyat pertama kali dibentuk, TNI berdiri di atas nilai kesetiaan dan keberanian tanpa pamrih. Dari bambu runcing hingga teknologi modern, dari medan tempur hingga tugas kemanusiaan — satu hal tidak pernah berubah: TNI lahir dari rahim rakyat dan berjuang untuk rakyat.

Robeknya Merah Putih bukan tanda kelemahan, melainkan pengingat bahwa perjuangan menjaga keutuhan bangsa tidak pernah selesai. Di setiap ujung bendera yang koyak, tersimpan sumpah setiap prajurit:

> “Kami akan menjahit kembali robeknya persatuan dengan darah dan pengorbanan.”

Merah Putih akan selalu berkibar — karena prajurit sejati tahu,

bahwa yang dijaga bukan sekadar simbol,

melainkan jiwa bangsa yang hidup di setiap detak nadi rakyat Indonesia. (*)

Mandala Yudha: Dari Bambu Runcing ke Era Digital

Oleh: Mjp. Hutagaol ’86

Ketika TNI lahir 5 Oktober 1945, ia bukan sekadar lembaga militer. Ia lahir dari rahim rakyat, dari darah para pejuang yang tak mengenal kata menyerah. Dari KNIL yang insyaf, laskar-laskar rakyat, hingga para santri dan pemuda yang hanya berbekal bambu runcing. Inilah Mandala Yudha pertama bangsa: sebuah gelanggang jiwa, tempat rakyat dan tentara menyatu dalam nafas perjuangan.

Mandala Yudha bukan sekadar arena perang. Ia adalah medan suci, di mana setiap tetes darah adalah doa, setiap langkah adalah pengabdian, dan setiap nyawa yang gugur adalah benih kemerdekaan. Filosofi bambu runcing mengajarkan bahwa bukan kecanggihan senjata yang menentukan, melainkan roh dan iman yang membakar dada.

Panglima Besar Jenderal Soedirman pernah berpesan:

> “Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapa pun juga. Tentara hanya ada untuk kepentingan bangsa dan negara.”

Hari ini, dunia berubah. Medan pertempuran tidak lagi hanya hutan belantara atau kota-kota terbakar, melainkan ruang digital, drone, kecerdasan buatan, dan perang informasi. Musuh tak selalu datang dengan bayonet dan meriam, tapi juga lewat propaganda, fitnah, dan serangan siber yang meruntuhkan semangat bangsa dari dalam.

Namun, ada hal yang tidak boleh berubah: roh perlawanan, jiwa Mandala Yudha, dan semangat pengorbanan.

> “Senjata boleh berubah, medan perang boleh bergeser, tetapi Tentara Nasional lahir bukan dari besi dan mesiu, melainkan dari rahim rakyat dan jiwa yang menyala untuk Indonesia.”

Generasi muda, tentara, politisi, hingga rakyat harus kembali mengingat roh ini. Bahwa TNI bukan hanya penjaga batas negeri, tetapi juga penjaga jiwa bangsa. Mandala Yudha adalah panggilan jiwa, bukan sekadar strategi militer. Dari bambu runcing ke satelit, dari gerilya ke drone, dari radio perjuangan ke perang siber—roh yang sama harus tetap hidup: jiwa merdeka yang tak tunduk pada siapa pun kecuali Tuhan dan bangsa sendiri.

Soedirman juga mengingatkan:

> “Kita ini adalah tentara rakyat, tentara yang tidak bisa dipisahkan dari rakyat. Tentara tanpa rakyat tidak ada artinya.”

Maka, meski dunia memasuki era digital dan perang berbasis teknologi, TNI harus tetap berpijak pada ruh perjuangan: lahir dari rakyat, berjuang bersama rakyat, dan untuk rakyat.

Kebijaksanaan Dunia & Nusantara

John F. Kennedy pernah berkata:

> “A nation reveals itself not only by the men it produces, but also by the men it honors and remembers.”

“Sebuah bangsa memperlihatkan jati dirinya bukan hanya dari orang-orang yang dilahirkannya, tetapi juga dari siapa yang dihormati dan dikenangnya.”

Winston Churchill mengingatkan:

> “Success is not final, failure is not fatal: it is the courage to continue that counts.”

“Keberhasilan bukanlah akhir, kegagalan bukanlah kematian: yang terpenting adalah keberanian untuk terus melangkah.”

Dari Timur sendiri, Mpu Tantular dalam Kakawin Sutasoma mengajarkan:

> “Bhinneka tunggal ika, tan hana dharma mangrwa.”

“Berbeda-beda tetapi tetap satu jua, tiada kebenaran yang mendua.” [1]

Dan Prabu Jayabaya dari Kediri menegaskan:

> “Yen tan ana wicara lan laku utama, bakal rubuh nagara.”

“Jika tidak ada budi pekerti dan tindakan utama, niscaya negara akan runtuh.” [2]

Pesan dunia dan Nusantara berpadu: bangsa bertahan bukan karena senjata, melainkan karena roh, moral, dan keberanian.

Penutup

Hari ini, 5 Oktober, kita tak hanya memperingati lahirnya sebuah angkatan bersenjata. Kita sedang menyalakan kembali api jiwa Mandala Yudha.

Dari bambu runcing yang sederhana, hingga drone dan kecerdasan buatan yang canggih, satu hal tetap sama: roh perlawanan tidak pernah padam.

Wahai generasi penerus, ingatlah:

TNI lahir dari rahim rakyat, tumbuh dari air mata, doa, dan darah pejuang. Senjata boleh berubah, tetapi jiwa merdeka tak pernah bisa diganti. Seperti bambu runcing yang menusuk langit, semangat itu akan selalu berdiri tegak.

Dan pada akhirnya, Mandala Yudha bukan hanya medan perang, melainkan medan jiwa — tempat bangsa ini mengikat janji: setia kepada Tuhan, kepada rakyat, dan kepada Indonesia.

📚 Catatan Kaki

[1] Mpu Tantular, Kakawin Sutasoma, abad ke-14, Majapahit.
[2] Ramalan Jayabaya, Kediri, abad ke-12.

AI, Teknologi, dan Kolonialisme Digital: “Menjajah Tanpa Bendera, Menguasai Tanpa Kapal Perang”

Oleh: MJP Hutagaol ’86 – Purnawirawan TNI AD

I. Zaman Baru: Dunia yang Tak Lagi Dijajah Secara Fisik

Hari ini, penjajahan tak lagi datang dengan seragam dan meriam.

Ia datang lewat aplikasi gratis, fitur menarik, dan kecerdasan buatan yang tahu isi pikiran rakyat lebih cepat dari negara.

> Inilah kolonialisme digital — penjajahan tanpa bendera.

***

II. Data dan Fakta Global

📌 90% data dunia tercipta hanya dalam 2 tahun terakhir[^1]

📌 Perusahaan seperti Google, Meta, ByteDance, Amazon, dan OpenAI menguasai triliunan data individu setiap hari[^2]

📌 Amerika dan Tiongkok mengembangkan AI militer dan ekonomi untuk mengendalikan opini, pasar, bahkan budaya bangsa lain[^3]

📌 Di negara-negara berkembang, lebih dari 80% data warga tersimpan di luar negeri[^4]

***

III. Kolonialisme Digital: Wujud dan Bahayanya

1. Penjajahan Psikologis:

Remaja direkayasa algoritma agar kecanduan hiburan, konsumtif, dan anti refleksi.

Yang mereka lihat di layar bukan dunia nyata, tapi dunia yang disetel oleh pemilik server.

2. Penjajahan Ekonomi:

Startup lokal tumbang karena algoritma global lebih tahu cara membaca pasar.

Bangsa kita hanya jadi konsumen digital, bukan pemilik teknologi.

3. Penjajahan Pertahanan:

Perangkat pertahanan, komunikasi pemerintah, bahkan kampus pakai platform asing.

Risiko: kebocoran informasi, sabotase data, dan manipulasi narasi publik.

***

IV. Contoh Nyata di Dunia

Cambridge Analytica: Data Facebook digunakan untuk memanipulasi Pemilu AS dan Brexit[^5]

TikTok vs India: India melarang 59 aplikasi Tiongkok karena dianggap sebagai alat intelijen digital[^6]

Deepfake politik di Afrika: Presiden palsu dibuat dengan AI untuk menyebar perintah perang[^7]

> Ini bukan fiksi. Ini strategi global generasi keempat — perang melalui sistem syaraf digital umat manusia.

***

V. Situasi Indonesia: Belum Terlambat, Tapi Genting

Sebagian besar data WNI tersimpan di server luar negeri[^8]

Sistem AI di sektor pendidikan, logistik, dan belanja dikuasai perusahaan asing

Kedaulatan digital belum jadi prioritas dalam strategi nasional[^9]

> Jika dibiarkan, Indonesia akan merdeka secara administratif… tapi terjajah secara pikiran.

***

VI. Solusi Strategis Bangsa: 5 Langkah Darurat

1. Bangun AI Nasional dan Pusat Data Berkedaulatan

Fokus pada bahasa lokal, pertahanan, dan ketahanan pangan

2. Wajibkan Semua Data Strategis Disimpan di Dalam Negeri

Berlakukan sanksi pada lembaga yang menyimpan data di server asing tanpa kontrol

3. Bentuk Badan Etika Algoritma dan Keamanan AI

Mengawasi penggunaan AI untuk propaganda, disinformasi, dan infiltrasi psikologis

4. Literasi Digital: Bangun Kesadaran Batin, Bukan Sekadar Skill Teknis

Ajarkan anak muda untuk berpikir mandiri, bukan sekadar scroll dan share

5. Bangun Koalisi Negara Netral untuk Kedaulatan Digital

ASEAN, BRICS, dan negara Afrika harus bersatu menghadapi dominasi Silicon Valley dan Beijing

***

VII. Penutup: Dari Teknologi ke Takdir Bangsa

> “Jika engkau tidak mengendalikan teknologimu, maka teknologi akan mengendalikan sejarahmu.”

Inilah kolonialisme bentuk baru:

Tanpa kapal perang

Tanpa penjajah berwajah keras

Tapi dengan kode, server, dan sensor perilaku

Bangkitkan kedaulatan digital, atau bangsa ini hanya akan menjadi penumpang di zaman yang ditentukan pihak lain.

  • 📚 Catatan Kaki:
  • [^1]: International Data Corporation (IDC) Global DataSphere Report, 2023
    [^2]: “The World’s Most Valuable Resource Is No Longer Oil, But Data,” The Economist, 2017
    [^3]: Center for Security and Emerging Technology (CSET), 2024 – “Global AI Developments in Military Use”
    [^4]: UNCTAD (United Nations Conference on Trade and Development), “Data Sovereignty in the Global South”, 2022
    [^5]: UK Parliament Digital, Culture, Media and Sport Committee, “Disinformation and Fake News Final Report”, 2019
    [^6]: Ministry of Electronics and IT, Government of India, June 2020
    [^7]: “Deepfakes Target African Elections”, Brookings Institution, 2023
    [^8]: Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Laporan Infrastruktur Keamanan Data, 2023
    [^9]: Kominfo RI, Peta Jalan Transformasi Digital Nasional 2020–2024

Kenali Misteri Sapu Lidi Bekas

Sapu lidi, benda sederhana mudah ditemukan di setiap rumah, ternyata memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa yang jarang diketahui orang.

Selain kegunaan praktisnya untuk membersihkan, sapu lidi memiliki makna simbolis yang mendalam dalam ilmu sihir dan tradisi, juga digunakan dalam ritual untuk membersihkan lingkaran umum atau area ritual. Sapu lidi menyapu kotoran psikis, sehingga area tersebut dimurnikan untuk ritual yang sedang dilakukan, serta dapat membantu menenangkan pikiran dan mempersempit fokus untuk memulai ritual.

Menurut sebagian orang yang memegang teguh kepercayaan kuno, dahulu, para leluhur, nenek moyang kita telah memanfaatkan sapu lidi untuk berbagai keperluan gaib dan kegunaan lainnya.

Dari menjaga keselamatan, menolak bala, hingga menarik rezeki. Tetapi tidak semua sapu lidi bisa digunakan sebagai media untuk tujuan mistis.

Konon salah satu jenis sapu lidi yang dianggap memiliki khasiat gaib terbesar berasal sapu lidi bekas yang sudah sering digunakan, sehingga ujungnya menjadi sangat runcing, serta dipercaya berisi energi dari empat elemen utama, yaitu air, api, udara, dan tanah. Energi inilah dipercaya mempunyai kekuatan supranatural yang jarang diketahui orang.

Penggunakan untuk memasuki dimensi gaib perlu metode tidur melintang di salah satu pintu rumah waktu tengah malam dengan menggunakan sapu lidi bekas yang ujungnya runcing sebagai bantal.

Sebab dianggap telah terisi energi dari elemen alam. Proses ini dapat berakibatkan dua kemungkinan:

Pertama mungkin mengalami tindihan atau paralisis tidur, di mana tubuh terasa kaku dan bisa melihat penampakan jin atau entitas gaib, dan kedua bisa juga dibawa ke alam gaib untuk bertemu sosok-sosok aneh.

Keistimewaan lain yang dipengaruhi oleh sapu lidi adalah bisa sebagai alat penguji keberadaan arwah gentayangan.

Dimana disuatu daerah ada yang meninggal dan arwahnya dianggap gentayangan, maka bisa menggunakan sapu lidi untuk menguji keberadaannya. Ikat sapu lidi ke kuburan orang yang meninggal. Jika esok harinya sapu lidi tersebut kembali ke rumah, maka arwah orang tersebut memang gentayangan.

Manfaat lain bisa dipakai sebagai penolak bala bagi Ibu hamil, karena sering dianggap rentan terhadap gangguan entitas astral karena mereka membawa janin baru di dalam tubuh mereka. Untuk melindungi ibu dari gangguan semacam ini, letakan satu ikat sapu lidi di samping tempat tidurnya dengan ujung runcing menghadap ke atas. Selain menakut-nakuti makhluk halus, sapu lidi ini juga diyakini dapat menetralisir atau menghentikan serangan metafisik yang ditujukan kepada calon bayi.

Paling populer adalah sebagai penangkal hujan. Jika memiliki acara penting dan khawatir turun hujan, ada cara tradisional yang bisa dicoba. Ambil sapu lidi bekas dan balikkan sehingga ujung runcing menghadap ke atas. Tancapkan beberapa cabai merah, bawang merah, dan bawang putih pada ujung tersebut.

Cabai merah merupakan simbolisasi dari panas dan kekuatan, sementara bawang merah dan putih kerap dipakai untuk mengusir energi negatif. Letakkan sapu lidi ini di lokasi yang strategis, sertai dengan doa yang tulus dan niat kuat agar hujan dapat dihindari atau dipindahkan ke lokasi lain.

Sebagai media pelaris dagangan, dengan menggunakan sapu lidi saat berdagang, dapat meningkatkan daya tarik dagangan dengan bantuan energi dari bawang merah. Caranya, belah satu siung bawang merah dan tusukkan satu batang lidi pada bagian tengahnya.

Simpan bawang merah tersebut di tempat menyimpan uang atau dekat meja kasir. Hal ini akan membantu menarik perhatian pelanggan dan melindungi uang dari tindakan pencurian yang tidak terlihat. Pastikan untuk mengganti bawang merah dan lidi setiap dua minggu agar tetap menjaga energi yang ada.

Paling seru adalah sebagai penangkal santet dan pengusir setan. Caranya sapu lidi bekas yang sudah tua dan berwarna hitam dipercaya memiliki keampuhan untuk melawan santet dan mengusir setan. Cara umum yang dilakukan adalah menempatkan sapu lidi di sudut-sudut rumah dengan ujung tajam menghadap ke atas.

Dikatakan bahwa posisi sapu lidi seperti itu dapat membuat entitas gaib jahat merasa ketakutan dan bingung sehingga tidak berani mengirimkan santet atau gangguan.

Bahkan, ada kepercayaan bahwa sapu lidi dapat membalikkan santet tersebut kepada si pengirimnya.

Selain itu juga dapat dipakai sebagai penjaga keselamatan dan kelimpahan rejeki.

Sapu lidi dalam berbagai tradisi spiritual dianggap sebagai simbol kebersihan fisik dan spiritual, diyakini mampu membersihkan lingkungan dari energi negatif dan mendatangkan rezeki yang baik. Biasanya, membersihkan rumah atau tempat usaha dengan sapu lidi dilakukan secara teratur untuk menciptakan lingkungan yang bersih dan seimbang. Dengan merawat kebersihan fisik dan spiritual, sehingga dapat menciptakan kondisi yang mendukung untuk mendatangkan rezeki yang melimpah.

Mau mencoba yang mana? Tapi jangan untuk tusuk sate, masak pakai sapulidi bekas. Bull bullll klepussss sruputtt kopi pahitnya. (*)

Fenomena Sound Horeg di Malang Raya: Ketika Musik Jalanan Menjadi Identitas Sosial

Oleh : Heri Mulyono

Malang Raya, kawasan metropolitan yang mencakup Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu, telah menjadi saksi bisu lahirnya sebuah fenomena budaya yang unik dan kontroversial: Sound Horeg. Istilah yang mungkin terdengar asing di telinga sebagian orang ini merujuk pada praktik musik jalanan dengan karakteristik suara yang keras, bass yang menghentak, dan seringkali diiringi dengan tarian spontan dari para penikmatnya. Fenomena ini tidak hanya sekadar hiburan semata, melainkan telah berkembang menjadi sebuah identitas sosial yang kompleks dan layak dikaji dari berbagai perspektif ilmu sosial.

Sound Horeg, yang namanya berasal dari kata bahasa Jawa. Horeg artinya bergetar atau bergerak. Getaran ini akibat bunyi suara frekuensi rendah atau bass yang dominan dan menghentak, mengakibatkan getaran di sekelilingnya. “Horeg”, telah menjadi bagian integral dari lanskap budaya kaum muda di Malang Raya. Praktik ini biasanya dilakukan di ruang-ruang publik seperti pada pesta perkawinan atau seremonial yang dilakukan di jalan-jalan protokol, atau area parkir dengan menggunakan speaker berukuran besar yang dipasang pada sepeda motor atau mobil. Musik yang dimainkan umumnya bergenre dangdut remix, house music, atau lagu-lagu populer yang telah dimodifikasi dengan beat yang lebih keras dan bass yang dominan.

Kehadiran fenomena Sound Horeg di ruang publik Malang Raya tidak dapat dipandang sebagai aktivitas yang berdiri sendiri. Ia merupakan manifestasi dari berbagai dinamika sosial, psikologis, dan budaya yang kompleks. Oleh karena itu, untuk memahami fenomena ini secara mendalam, diperlukan pendekatan multidisiplin yang melibatkan perspektif sosiologi, psikologi, dan antropologi. Ketiga disiplin ilmu ini dapat memberikan lensa analisis yang komprehensif untuk membedah berbagai aspek yang terlibat dalam fenomena Sound Horeg.

Perspektif Sosiologi: Stratifikasi Sosial dan Ruang Publik

Dari sudut pandang sosiologi, fenomena Sound Horeg dapat dianalisis sebagai bentuk ekspresi kelas sosial tertentu yang berupaya mengklaim ruang publik. Pierre Bourdieu, sosiolog Prancis terkemuka, dalam teorinya tentang habitus dan modal budaya, menjelaskan bagaimana praktik-praktik budaya menjadi penanda identitas kelas sosial. Dalam konteks Sound Horeg, praktik ini dapat dipahami sebagai manifestasi habitus kelas pekerja atau kelas menengah bawah yang memiliki akses terbatas terhadap ruang-ruang hiburan formal.

Pelaku Sound Horeg umumnya berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah, seperti buruh, tukang ojek, pedagang kecil, atau mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Bagi mereka, ruang publik seperti alun-alun atau jalan-jalan protokol menjadi arena untuk mengekspresikan identitas dan mencari hiburan yang terjangkau. Praktik ini dapat dipahami sebagai bentuk resistensi terhadap dominasi kelas menengah atas yang cenderung menggunakan mal, kafe, atau club sebagai ruang sosialisasi mereka.

Sosiolog Henri Lefebvre dalam konsepnya tentang “hak atas kota” (right to the city) menekankan bahwa setiap warga memiliki hak untuk mengakses dan menggunakan ruang kota sesuai dengan kebutuhan mereka. Sound Horeg, dalam perspektif ini, merupakan upaya demokratisasi ruang publik di mana kelompok yang secara ekonomi terpinggirkan berusaha mengklaim haknya atas kota. Namun, praktik ini seringkali berbenturan dengan norma-norma sosial yang berlaku dan menimbulkan konflik dengan pengguna ruang publik lainnya.

Fenomena Sound Horeg juga dapat dianalisis melalui teori solidaritas sosial Emile Durkheim. Praktik musik bersama ini menciptakan solidaritas mekanis di antara para pelakunya, di mana individu-individu dengan latar belakang sosial ekonomi yang serupa berkumpul dan membentuk ikatan sosial berdasarkan kesamaan pengalaman dan selera musik. Solidaritas ini diperkuat melalui ritual-ritual kolektif seperti menari bersama, bernyanyi, atau sekadar berkumpul mendengarkan musik dengan volume tinggi.

Dari perspektif interaksi sosial, Sound Horeg menciptakan apa yang Georg Simmel sebut sebagai “stranger” – kelompok yang berada di dalam masyarakat tetapi sekaligus di luar norma-norma yang berlaku. Mereka hadir di ruang publik tetapi dengan cara yang berbeda dari mayoritas pengguna ruang tersebut. Hal ini seringkali menimbulkan ketegangan sosial dan stigmatisasi dari kelompok masyarakat lainnya.

Perspektif Psikologi: Identitas, Kelompok, dan Kebutuhan Psikologis

Dalam kacamata psikologi sosial, fenomena Sound Horeg dapat dipahami sebagai manifestasi dari berbagai kebutuhan psikologis individu dan kelompok. Teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow menunjukkan bahwa setelah kebutuhan fisiologis dan keamanan terpenuhi, manusia membutuhkan rasa memiliki dan diterima oleh kelompok sosial. Sound Horeg menyediakan ruang untuk memenuhi kebutuhan ini, khususnya bagi individu yang merasa termarjinalkan dalam struktur sosial yang lebih luas.

Partisipasi dalam aktivitas Sound Horeg memberikan sense of belonging yang kuat bagi para pelakunya. Mereka menemukan identitas kolektif yang memberikan makna dan tujuan dalam kehidupan sehari-hari. Musik dengan volume tinggi dan bass yang menghentak tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai medium untuk mengekspresikan emosi dan melepaskan tekanan psikologis yang dialami dalam kehidupan sehari-hari.

Dari perspektif psikologi perkembangan, banyak pelaku Sound Horeg adalah remaja dan dewasa muda yang sedang dalam tahap pencarian identitas. Erik Erikson dalam teorinya tentang tahap-tahap perkembangan psikososial menjelaskan bahwa pada tahap ini, individu menghadapi krisis identitas versus kebingungan peran. Keterlibatan dalam komunitas Sound Horeg dapat dipahami sebagai upaya untuk mengatasi krisis ini dengan menemukan identitas yang jelas dan diterima oleh kelompok sebaya.

Fenomena ini juga dapat dianalisis melalui teori identitas sosial Henri Tajfel dan John Turner. Teori ini menjelaskan bahwa individu cenderung mengkategorikan diri mereka ke dalam kelompok-kelompok sosial tertentu (in-group) dan membedakan diri mereka dari kelompok lain (out-group). Dalam konteks Sound Horeg, para pelaku mengembangkan identitas positif sebagai bagian dari komunitas yang memiliki selera musik dan gaya hidup yang unik, sekaligus membedakan diri mereka dari kelompok masyarakat lainnya yang dianggap tidak memahami atau menghargai budaya mereka.

Aspek psikologi musik juga berperan penting dalam fenomena ini. Musik dengan tempo cepat dan bass yang dominan memiliki efek psikofisiologis yang dapat meningkatkan arousal dan memberikan sensasi euforia. Hal ini dijelaskan melalui teori arousal dan mood yang menunjukkan bahwa musik dapat mempengaruhi sistem saraf simpatik dan melepaskan neurotransmiter seperti dopamin yang memberikan perasaan senang dan energik.

Perspektif Antropologi: Budaya Populer dan Hibriditas

Antropologi budaya memberikan lensa yang berbeda untuk memahami fenomena Sound Horeg sebagai produk budaya populer yang unik. Dari perspektif antropologis, Sound Horeg dapat dipahami sebagai bentuk budaya hibrid yang menggabungkan berbagai elemen budaya lokal dan global. Musik yang dimainkan dalam Sound Horeg seringkali merupakan perpaduan antara dangdut tradisional Indonesia dengan elemen musik elektronik global seperti house dan techno.

James Scott dalam konsepnya tentang “hidden transcript” menjelaskan bagaimana kelompok subordinat mengembangkan bentuk-bentuk ekspresi budaya yang berbeda dari budaya dominan sebagai bentuk resistensi. Sound Horeg dapat dipahami sebagai hidden transcript dari kelas pekerja perkotaan yang mengekspresikan identitas mereka dengan cara yang berbeda dari norma budaya kelas menengah yang dominan.

Praktik Sound Horeg juga menunjukkan proses kreolisasi budaya, di mana elemen-elemen budaya yang berbeda bercampur dan menciptakan bentuk budaya baru yang unik. Hal ini sejalan dengan konsep hibriditas budaya Homi Bhabha yang menjelaskan bagaimana budaya-budaya yang berinteraksi tidak hanya saling mempengaruhi tetapi juga menciptakan “ruang ketiga” yang melampaui batas-batas budaya asal.

Dari perspektif simbolik, musik dan tarian dalam Sound Horeg berfungsi sebagai sistem simbol yang mengkomunikasikan nilai-nilai, aspirasi, dan pengalaman hidup komunitas tertentu. Clifford Geertz dalam konsepnya tentang “thick description” menekankan pentingnya memahami praktik budaya dalam konteks makna yang diberikan oleh pelakunya sendiri. Bagi para pelaku Sound Horeg, praktik ini bukan hanya sekadar hiburan tetapi juga cara untuk mengekspresikan kreativitas, membangun solidaritas, dan menantang hierarki sosial yang ada.

Ritual dan performance dalam Sound Horeg juga memiliki dimensi antropologis yang menarik. Victor Turner dalam teorinya tentang communitas menjelaskan bahwa dalam situasi ritual tertentu, struktur sosial yang hierarkis dapat dinegosiasikan atau bahkan dihilangkan sementara, menciptakan ruang kesetaraan dan solidaritas. Sound Horeg menciptakan communitas temporer di mana perbedaan status sosial, profesi, atau latar belakang pendidikan menjadi tidak relevan, yang penting adalah partisipasi dalam ritual musik dan tarian bersama.

Respons Otoritas dan Regulasi: Fatwa MUI hingga Kebijakan Pemerintah

Kompleksitas fenomena Sound Horeg mencapai puncaknya ketika berbagai otoritas mulai memberikan respons formal terhadap praktik ini. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur resmi menetapkan Fatwa Nomor 1 Tahun 2025 tentang Penggunaan Sound Horeg, yang menjadi milestone penting dalam diskursus hukum Islam mengenai praktik ini.

Dalam fatwa MUI Jatim dijelaskan, penggunaan sound horeg haram bila volumenya melampaui batas wajar, menyebabkan gangguan kesehatan, merusak fasilitas umum, atau disertai kemaksiatan seperti joget campur aurat. Namun, fatwa ini juga memberikan ruang toleransi dengan menegaskan bahwa penggunaan tetap diperbolehkan jika dalam batas wajar dan tidak melanggar norma syariat. MUI Jawa Timur menegaskan bahwa penggunaan sound horeg dinyatakan haram, jika menimbulkan kebisingan berlebih yang mengganggu kesehatan dan ketertiban umum.

Respons dari komunitas pelaku Sound Horeg menunjukkan dinamika sosial yang menarik. Paguyuban Sound Horeg Malang memberikan tanggapan terhadap fatwa tersebut, menunjukkan bahwa mereka memiliki organisasi dan struktur yang relatif formal. Hal ini menunjukkan bahwa Sound Horeg bukan sekadar aktivitas spontan, melainkan telah berkembang menjadi gerakan sosial yang terorganisir.

Di tingkat pemerintahan, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengambil langkah proaktif dengan mengeluarkan Surat Edaran Bersama dengan Kapolda Jatim dan Pangdam V/Brawijaya tentang pembatasan penggunaan sound system atau pengeras suara di wilayah Jawa Timur pada 6 Agustus 2025. Gubernur juga membentuk tim khusus untuk membuat regulasi yang akan mengatur kegiatan sound horeg di Jatim, dengan target selesai Agustus 2025.

Aturan ini membatasi tingkat kebisingan hingga larangan penggunaan di lokasi tertentu demi menjaga ketertiban dan kenyamanan masyarakat. Regulasi ini mencakup beberapa aspek teknis seperti kendaraan pembawa sound system yang harus memiliki uji kelayakan, serta penyelenggaraan acara yang perlu mengurus izin keramaian dengan melampirkan surat pernyataan tanggung jawab.

Respons paling tegas datang dari Pemerintah Kota Malang. Pemerintah Kota Malang menegaskan pelarangan terhadap penggunaan sound system berdaya tinggi atau dikenal dengan istilah “sound horeg” di wilayahnya. Wali Kota Malang Wahyu Hidayat secara tegas menyatakan: “Yang pasti sudah saya larang (sound horeg). Saya bilang, silakan ada bunyi-bunyian tapi yang sesuai dan wajar, jangan lebih (sound horeg)”.

Keputusan ini dipicu oleh berbagai insiden yang terjadi, termasuk adu jotos yang membuat polisi menegaskan bahwa sound horeg dilarang di wilayah Kota Malang karena dampak destruktifnya. Menariknya, meskipun telah melarang, Bupati dan Wali Kota Malang tidak sepenuhnya mengikuti fatwa MUI yang menyatakan sound horeg haram, menunjukkan kompleksitas dalam implementasi kebijakan.

Implikasi Sosial dan Tantangan Kontemporer

Berbagai respons otoritas ini menghadirkan dinamika baru dalam fenomena Sound Horeg. Fatwa MUI, regulasi gubernur, dan larangan wali kota menciptakan landscape hukum yang kompleks dan seringkali kontradiktif. Di satu sisi, terdapat upaya untuk mengatur dan membatasi praktik ini demi ketertiban umum. Di sisi lain, larangan total dapat dipandang sebagai bentuk marginalisasi terhadap ekspresi budaya kelas pekerja.

Dari perspektif tata kota, respons pemerintah ini menunjukkan dilema dalam pengelolaan ruang publik yang inklusif. Konflik antara hak untuk berekspresi dan hak untuk menikmati ketenangan dalam ruang publik memerlukan negosiasi dan regulasi yang bijaksana. DPRD Jawa Timur menyatakan dukungan terhadap kebijakan tersebut bukan sekadar menjaga ketertiban umum, tetapi juga melindungi kesehatan pendengaran masyarakat.

Stigmatisasi terhadap pelaku Sound Horeg juga menguat seiring dengan fatwa dan regulasi yang dikeluarkan. Labeling negatif dapat memperdalam fragmentasi sosial dan menghambat integrasi sosial. Diperlukan upaya untuk membangun dialog dan pemahaman lintas kelompok sosial agar fenomena ini dapat dipahami dalam konteks yang lebih luas.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Fenomena Sound Horeg di Malang Raya merupakan manifestasi kompleks dari dinamika sosial, psikologis, dan budaya dalam masyarakat urban kontemporer. Dari perspektif sosiologi, fenomena ini menunjukkan perjuangan kelas dan upaya demokratisasi ruang publik. Dari sudut pandang psikologi, Sound Horeg memenuhi kebutuhan akan identitas dan belonging bagi kelompok tertentu. Sementara dari perspektif antropologi, praktik ini merepresentasikan proses hibriditas budaya dan resistensi simbolik.

Kehadiran Fatwa MUI Jatim Nomor 1 Tahun 2025 yang menyatakan penggunaan sound horeg haram bila volumenya melampaui batas wajar, menyebabkan gangguan kesehatan, merusak fasilitas umum, atau disertai kemaksiatan, menambah dimensi religius dalam diskursus ini. Surat Edaran Bersama yang diteken Gubernur Jatim, Kapolda, dan Pangdam pada 6 Agustus 2025 menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengatur fenomena ini. Sementara itu, Pemerintah Kota Malang yang secara tegas melarang penggunaan sound horeg di wilayahnya mencerminkan pendekatan yang lebih restriktif.

Kompleksitas respons otoritas ini—mulai dari fatwa keagamaan, regulasi provinsi, hingga larangan kota—menunjukkan bahwa Sound Horeg telah menjadi isu multidimensional yang memerlukan pendekatan komprehensif. Sikap Bupati dan Wali Kota Malang yang tidak sepenuhnya mengikuti fatwa MUI menunjukkan adanya ruang interpretasi dan negosiasi dalam implementasi kebijakan.

Untuk mengatasi tantangan yang ditimbulkan oleh fenomena ini, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan sensitif terhadap keberagaman kebutuhan masyarakat. Pemerintah daerah dapat mempertimbangkan penyediaan ruang alternatif yang dapat mengakomodasi kebutuhan hiburan kelompok ini tanpa mengganggu aktivitas publik lainnya. Dukungan DPRD Jatim terhadap regulasi ini bukan sekadar menjaga ketertiban umum, tetapi juga melindungi kesehatan pendengaran masyarakat menunjukkan pentingnya pendekatan kesehatan publik.

Program-program pemberdayaan dan pendidikan dapat dikembangkan untuk memberikan alternatif konstruktif bagi para pelaku Sound Horeg. Seperti yang disampaikan pihak pemprov, masyarakat butuh kepastian, jadi sound horeg perlu diatur sedemikian rupa dengan regulasi yang jelas.

Dialog lintas kelompok masyarakat juga perlu digalakkan untuk membangun pemahaman dan toleransi yang lebih baik. Fenomena Sound Horeg, alih-alih dipandang sebagai masalah sosial semata, dapat diposisikan sebagai bagian dari keberagaman budaya urban yang perlu diapresiasi dan dikelola dengan bijaksana. Dengan demikian, Malang Raya dapat menjadi model kota yang inklusif dan mampu mengakomodasi berbagai bentuk ekspresi budaya masyarakatnya sambil tetap menjaga ketertiban dan kesejahteraan bersama. (*)

Pedang Kebenaran: Seruan Alam dan Teknologi di Zaman Modern

Oleh MJP Hutagaol ‘86

Pembuka – Menggugah dan Mengajak

Sejak manusia pertama kali menuturkan kata, selalu ada dua jalan yang bertemu: kebenaran dan kebatilan. Alam mengajarkan keseimbangan—matahari terbit tanpa pilih kasih, sungai menembus batu, hutan menahan badai. Begitu juga manusia: setiap kata, tindakan, dan inovasi adalah cermin moral, yang bisa menebas atau melukai.

Di era digital, AI, dan teknologi nuklir, kebenaran dapat tersamar di arus informasi yang deras. Hoaks, manipulasi data, propaganda politik, dan kerusakan lingkungan tersebar secepat cahaya. Namun sejarah menegaskan: kebenaran menembus kegelapan, melalui orang-orang yang berani, jujur, dan berpijak pada JIWA Murni—inti moral dan niat baik yang dalam berbagai ajaran disebut dengan nama berbeda.

***

Pedang Kebenaran – Simbol Universal

Pedang ini bukan alat fisik, tetapi integritas, keberanian moral, dan kejujuran, yang menembus kebatilan dan menuntun manusia pada harmoni. Plato mengajarkan bahwa kebenaran adalah bentuk tertinggi dari realitas [^1]. Socrates menekankan: “Hidup yang tidak diperiksa tidak layak dijalani” [^2]. Einstein berkata: ilmu tanpa moral bagaikan tubuh tanpa jiwa [^3]. Dari Nusantara, Mpu Tantular menulis: Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwa—berbeda-beda tetapi tetap satu, menegakkan kebenaran universal [^4].

Di zaman modern, inovasi teknologi adalah pedang bermata dua:

AI dan digital: bisa menyingkap korupsi, menyebarkan ilmu, memprediksi bencana, atau sebaliknya memanipulasi informasi dan memperluas ketidakadilan.

Nuklir: bisa memberi energi bersih dan kemajuan peradaban, namun juga mampu menghancurkan manusia dan alam.

Inovasi ilmiah lain: bila dikendalikan oleh JIWA Murni, menjadi pedang kebenaran yang menegakkan keadilan, pengetahuan, dan harmoni.

***

Foto tahun 1931, Mahatma Gandhi berrbicara kepada rakyat India. (foto:  AP/James A. Mills, File)

Contoh Aplikasi Sejak Dulu hingga Era Modern

Tokoh sejarah: Mahatma Gandhi menegakkan kebenaran melalui non-kekerasan.

Ilmuwan modern: Stephen Hawking tetap meneliti kosmos meski lumpuh, menegaskan pikiran manusia mampu menembus keterbatasan fisik [^5]. Elon Musk mendorong teknologi untuk kemanusiaan, menunjukkan inovasi bisa menjadi pedang kebenaran [^6]. Nikola Tesla berjuang demi kesejahteraan umat manusia walau menghadapi skeptisisme.

Alam: Hujan menembus tanah keras, sungai menembus batu; bencana muncul bila keseimbangan alam dirusak.

Manusia sehari-hari: Setiap kata dan tindakan jujur, setiap inovasi yang bertanggung jawab, adalah pedang kebenaran yang nyata.

***

Pesan Moral untuk Zaman Sekarang

Kebenaran yang teguh adalah seruan universal:

1. Pribadi: Refleksi diri dan pengendalian niat adalah awal keberanian.

2. Keluarga: Tumbuhkan integritas dan kendalikan JIWA Murni agar generasi penerus kuat menghadapi dunia.

3. Lingkungan & Komunitas: Tindakan nyata menular; satu teladan baik dapat membalik arus salah.

4. Bangsa & Dunia: Di era digital, AI, nuklir, dan inovasi global, integritas dan keberanian moral adalah senjata paling ampuh, lebih tajam dari pedang fisik, lebih cepat dari virus digital.

***

Penutup – Seruan Alam dan Teknologi

Seperti alam terus berputar, sungai menembus batu, dan cahaya menembus kegelapan, pedang kebenaran selalu menemukan jalannya. Dengan pengendalian JIWA Murni, inovasi dan ilmu pengetahuan menjadi alat keadilan, kesejahteraan, dan harmoni. Mari menjadi agen moral yang menebas kepalsuan, menebar damai, dan membangun harmoni nyata, agar manusia hidup selaras dengan alam, teknologi, dan sesama. (*)

  • Catatan Kaki (Verifiable References)
  • [^1]: Plato, The Republic, Book VII, tentang teori bentuk dan kebenaran.
    [^2]: Socrates, dikutip oleh Plato dalam Apology, tentang pentingnya refleksi diri.
    [^3]: Albert Einstein, Science, Philosophy, and Religion, 1941.
    [^4]: Mpu Tantular, Sutasoma, abad ke-14, bait 139.
    [^6]: Elon Musk, publikasi tentang SpaceX dan Tesla, 2002–2025.

Government Shutdown Amerika 2025: Ketika Politik Partisan Melumpuhkan Negara Adidaya

Oleh : Heri Mulyono

Washington D.C., 1 Oktober 2025 – Pemerintahan federal Amerika Serikat resmi ditutup pada Rabu dinihari (1/10) setelah Kongres gagal mencapai kesepakatan pendanaan menjelang batas waktu tengah malam tanggal 30 September. Ini merupakan penutupan pemerintahan pertama dalam enam tahun terakhir, menandai kembalinya krisis politik yang telah beberapa kali melumpuhkan fungsi pemerintahan negara adidaya tersebut.

Penutupan ini terjadi di tengah kondisi ekonomi yang lebih rapuh dibandingkan krisis anggaran sebelumnya, dengan pasar tenaga kerja yang melemah dan ketidakpastian global yang meningkat. Kegagalan Kongres dalam mencapai konsensus ini memicu kekhawatiran bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di kalangan mitra internasional Amerika yang mengandalkan stabilitas Washington dalam menghadapi berbagai tantangan geopolitik.

Akar Krisis: Polarisasi Politik yang Semakin Dalam

Penutupan pemerintahan terjadi setelah Partai Republik dan Demokrat menolak untuk mengalah dari posisi mereka yang bertentangan mengenai kesepakatan pendanaan. Kebuntuan ini mencerminkan perpecahan politik yang semakin dalam di Washington, di mana kompromi bipartisan menjadi semakin langka.

Isu utama yang menjadi batu sandungan adalah tuntutan Demokrat untuk memasukkan ketentuan pembiayaan layanan kesehatan dalam rancangan undang-undang pendanaan sementara. Para pemimpin Demokrat khawatir bahwa tanpa perpanjangan pendanaan kesehatan, jutaan warga Amerika akan menghadapi lonjakan biaya premi asuransi kesehatan hingga ratusan dolar per bulan.

Di sisi lain, Partai Republik yang menguasai mayoritas di Kongres menginginkan rancangan undang-undang “bersih” tanpa tambahan ketentuan yang mereka anggap sebagai agenda partisan. Presiden Donald Trump, yang memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025, mengadakan pertemuan dengan para pemimpin Kongres di Gedung Putih, namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil.

Senat memilih 55-45 untuk menolak proposal yang dipimpin Republik yang akan memperpanjang batas waktu dan menjaga agar lembaga-lembaga tetap beroperasi hingga 21 November. Kegagalan dua rancangan undang-undang pendanaan partisan di Senat pada hari Selasa menunjukkan betapa dalam jurang pemisah antara kedua partai.

Dampak Domestik: Jutaan Warga Terdampak

Penutupan pemerintahan federal membawa konsekuensi langsung bagi jutaan warga Amerika. Ratusan ribu pegawai federal akan dirumahkan tanpa gaji, sementara jutaan lainnya yang dianggap “esensial” harus tetap bekerja tanpa kepastian kapan akan menerima pembayaran.

Layanan publik penting seperti pemrosesan paspor, inspeksi keamanan pangan, dan layanan taman nasional akan terganggu atau dihentikan sepenuhnya. Meskipun program-program besar seperti Jaminan Sosial dan Medicare akan terus berjalan karena memiliki pendanaan otomatis, pemrosesan aplikasi dan layanan pelanggan kemungkinan akan mengalami keterlambatan.

Sektor penerbangan juga merasakan dampaknya. Petugas keamanan bandara dan pengontrol lalu lintas udara, meskipun tetap bertugas sebagai pekerja esensial, tidak akan menerima gaji selama shutdown berlangsung. Hal ini berpotensi menyebabkan gangguan pada sistem transportasi udara nasional jika shutdown berlangsung lama.

Yang paling memprihatinkan adalah dampak pada program-program bantuan sosial. Jutaan keluarga berpenghasilan rendah yang bergantung pada bantuan pangan federal (SNAP) dan program nutrisi lainnya berisiko kehilangan akses ke layanan-layanan vital ini. Organisasi nirlaba dan penyedia layanan sosial juga akan terpengaruh karena pembayaran hibah federal tertunda.

Perspektif Ekonomi: Ancaman di Tengah Ketidakpastian

Ekonomi AS pada 2025 terlihat lebih rentan dibandingkan saat pertarungan anggaran sebelumnya, dengan pasar tenaga kerja yang sedang terpuruk. Kondisi ini membuat shutdown kali ini berpotensi memiliki dampak lebih serius terhadap perekonomian.

Dalam shutdown-shutdown sebelumnya, dampak ekonomi cenderung terbatas dan sementara. Congressional Budget Office memperkirakan shutdown 2018-2019 yang berlangsung 35 hari mengurangi pertumbuhan PDB sekitar 0,02% per minggu. Namun, dengan kondisi ekonomi yang lebih rapuh saat ini, dampaknya bisa lebih signifikan.

Indeks dolar Bloomberg spot turun 0,1% setelah batas waktu pendanaan tengah malam berlalu, memicu penutupan pemerintah pertama AS dalam hampir tujuh tahun. Pasar keuangan bereaksi dengan kehati-hatian, mencerminkan kekhawatiran investor tentang stabilitas politik Amerika dan kemampuan pemerintahan Trump untuk mengelola negara secara efektif.

Dolar AS sering mengalami pelemahan awal selama pengumuman shutdown karena ketidakpastian politik merusak kepercayaan terhadap tata kelola Amerika. Aktivitas perdagangan valuta asing biasanya meningkat ketika investor internasional menilai kembali eksposur dolar mereka.

Sektor swasta juga terkena imbasnya. Perusahaan-perusahaan yang bergantung pada kontrak pemerintah akan menghadapi penundaan pembayaran dan ketidakpastian operasional. Proyek infrastruktur bisa terhenti, aplikasi lisensi bisnis tertunda, dan layanan-layanan yang memerlukan persetujuan federal akan mengalami kemacetan.

Para ekonom memperingatkan bahwa jika shutdown berlangsung lebih dari beberapa minggu, dampak kumulatifnya bisa mendorong ekonomi yang sudah rapuh lebih dekat ke resesi. Kepercayaan konsumen dan bisnis, yang sudah tertekan, akan semakin merosot, berpotensi memicu penurunan belanja dan investasi.

Reaksi Internasional: Kekhawatiran Mitra dan Lawan

Penutupan pemerintahan Amerika tidak hanya berdampak domestik, tetapi juga memicu kekhawatiran di kalangan mitra internasional. Negara-negara sekutu yang mengandalkan kepemimpinan Amerika dalam berbagai forum multilateral dan kerja sama keamanan mempertanyakan keandalan Washington sebagai mitra.

Di Eropa, para diplomat dan pejabat menyaksikan dengan keprihatinan bagaimana disfungsi politik di Washington bisa mengganggu koordinasi respons terhadap tantangan global, mulai dari perubahan iklim hingga ancaman keamanan. Uni Eropa, yang telah berupaya memperkuat kerja sama transatlantik, melihat shutdown sebagai pengingat akan ketidakstabilan politik Amerika.

Para pengamat di Asia juga mencermati situasi dengan saksama. Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan, yang mengandalkan payung keamanan Amerika, khawatir tentang potensi gangguan pada koordinasi pertahanan dan respons terhadap ancaman regional. Shutdown pada 2025 ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang tinggi, membuat ketidakpastian politik Amerika semakin memprihatinkan.

Dari perspektif lawan geopolitik, shutdown Amerika dilihat sebagai tanda kelemahan sistem demokrasi. Media di negara-negara seperti Rusia dan China kemungkinan akan mengeksploitasi krisis ini untuk menunjukkan kerapuhan demokrasi liberal dan keunggulan sistem pemerintahan mereka yang lebih sentralistik.

Dampak pada Diplomasi dan Hubungan Luar Negeri

Shutdown pemerintahan memiliki implikasi serius bagi diplomasi Amerika dan posisinya di panggung global. Departemen Luar Negeri, meskipun mempertahankan fungsi-fungsi esensial, akan mengoperasikan staf minimal. Kedutaan dan konsulat di seluruh dunia akan mengurangi layanan, termasuk pemrosesan visa dan bantuan konsuler untuk warga Amerika di luar negeri.

Rancangan undang-undang mengusulkan sekitar $7,9 miliar pemotongan bantuan luar negeri, menunjukkan bahwa perdebatan anggaran ini juga melibatkan pertanyaan fundamental tentang peran Amerika di dunia. Pemotongan bantuan luar negeri bisa merusak pengaruh soft power Amerika dan memberikan kesempatan bagi kekuatan rival untuk mengisi kekosongan tersebut.

Dalam konteks bantuan kemanusiaan dan pembangunan, shutdown berarti penundaan atau penghentian program-program yang sudah berjalan. Negara-negara penerima bantuan Amerika, terutama di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, akan merasakan dampak langsung. Hal ini tidak hanya merugikan populasi yang membutuhkan, tetapi juga merusak kredibilitas Amerika sebagai mitra pembangunan yang dapat diandalkan.

Koordinasi dengan sekutu dalam isu-isu keamanan internasional juga terganggu. Pertemuan-pertemuan tingkat tinggi bisa tertunda, negosiasi perjanjian internasional terhambat, dan respons terhadap krisis global melambat. Dalam era di mana respons cepat sangat penting, keterlambatan yang disebabkan oleh shutdown bisa memiliki konsekuensi strategis jangka panjang.

Organisasi internasional seperti PBB, Bank Dunia, dan IMF, di mana Amerika memainkan peran sentral, juga akan terpengaruh. Kontribusi Amerika terhadap organisasi-organisasi ini, yang sudah menjadi subjek perdebatan politik, bisa tertunda, mempengaruhi operasi dan program global.

Pandangan Pengamat: Krisis Kepercayaan Terhadap Demokrasi Amerika

Para analis politik internasional melihat shutdown 2025 sebagai simptom dari masalah yang lebih dalam dalam demokrasi Amerika. Polarisasi politik yang ekstrem, ketidakmampuan untuk berkompromi, dan politisasi fungsi-fungsi dasar pemerintahan mencerminkan erosi norma-norma demokratis yang pernah menjadi kekuatan Amerika.

Profesor hubungan internasional di berbagai universitas terkemuka menilai bahwa shutdown berulang menunjukkan kegagalan sistem checks and balances Amerika. Sementara sistem tersebut dirancang untuk mencegah konsentrasi kekuasaan berlebihan, dalam praktiknya ia telah menciptakan gridlock yang melumpuhkan kemampuan pemerintah untuk berfungsi.

Para pengamat juga mencatat bahwa shutdown terjadi bukan karena krisis eksternal atau keadaan darurat yang memaksa, melainkan murni karena kalkulasi politik partisan. Hal ini mempertanyakan kemampuan sistem politik Amerika untuk menangani tantangan nyata yang memerlukan respons cepat dan terkoordinasi, seperti pandemi, serangan siber, atau krisis ekonomi.

Dari perspektif tata kelola global, shutdown Amerika menimbulkan pertanyaan tentang masa depan tatanan liberal internasional. Jika negara yang selama ini menjadi penjaga tatanan tersebut tidak mampu mengatur rumah tangganya sendiri, bagaimana ia bisa memimpin dan mempertahankan sistem global? Pertanyaan ini semakin relevan di tengah munculnya kekuatan-kekuatan alternatif yang menawarkan model tata kelola berbeda.

Beberapa pengamat berpendapat bahwa shutdown berulang mencerminkan transformasi fundamental dalam politik Amerika, dari era konsensus bipartisan ke era konflik ideologis yang tidak dapat didamaikan. Mereka melihat ini sebagai bagian dari tren global menuju populisme dan politik identitas yang mengikis kemampuan untuk mencapai kompromi.

Sektor yang Paling Terpengaruh

Dalam shutdown federal, tidak semua sektor terdampak sama. Lembaga-lembaga yang bergantung sepenuhnya pada apropriasi tahunan akan menutup operasi non-esensial, sementara yang memiliki pendanaan multi-tahun atau sumber pendanaan alternatif dapat terus beroperasi dengan beberapa pembatasan.

Departemen Pertahanan, meskipun personel militer terus bertugas, akan menghentikan sebagian besar operasi sipil. Proyek-proyek pengadaan bisa tertunda, pemeliharaan fasilitas dikurangi, dan program-program pelatihan non-kritis ditunda. Hal ini berpotensi mempengaruhi kesiapan jangka panjang militer Amerika.

Lembaga-lembaga sains dan penelitian, termasuk NASA, National Science Foundation, dan institusi penelitian lainnya, akan sangat terdampak. Proyek-proyek penelitian terhenti, misi-misi ilmiah tertunda, dan kolaborasi internasional terganggu. Dalam kompetisi global untuk kepemimpinan sains dan teknologi, penundaan ini memberi keuntungan bagi kompetitor.

Sistem peradilan federal juga merasakan dampaknya. Pengadilan akan terus beroperasi untuk kasus-kasus mendesak, tetapi kasus-kasus sipil bisa mengalami penundaan lebih lanjut dalam sistem yang sudah sangat terbebani. Hal ini mempengaruhi akses keadilan bagi jutaan warga.

Lembaga regulasi seperti EPA, FDA, dan OSHA akan mengurangi aktivitas inspeksi dan penegakan. Ini berpotensi menciptakan risiko kesehatan dan keselamatan publik, terutama dalam industri yang memerlukan pengawasan ketat seperti farmasi, makanan, dan bahan kimia berbahaya.

Preseden Historis dan Pelajaran yang Tidak Dipelajari

Amerika Serikat memiliki sejarah panjang shutdown pemerintahan, dengan kejadian pertama pada 1976. Sejak itu, telah terjadi lebih dari 20 shutdown dengan durasi bervariasi, dari hitungan hari hingga shutdown terpanjang 2018-2019 yang berlangsung 35 hari.

Setiap shutdown mengikuti pola yang familiar: perdebatan anggaran yang alot, posturing politik, ancaman dan kontra-ancaman, diikuti oleh kesepakatan last-minute atau shutdown yang kemudian diselesaikan dengan kompromi yang sebenarnya bisa dicapai sejak awal. Pola berulang ini menunjukkan bahwa pelajaran dari shutdown sebelumnya tidak diinternalisasi.

Shutdown 2013, yang berlangsung 16 hari, diperkirakan merugikan ekonomi $24 miliar dan mengurangi pertumbuhan PDB kuartal tersebut sebesar 0,6 persen. Shutdown 2018-2019 memiliki dampak ekonomi serupa, dengan CBO memperkirakan kerugian permanen $3 miliar terhadap PDB.

Yang mengkhawatirkan adalah normalisasi shutdown sebagai taktik negosiasi politik. Yang dulunya dianggap sebagai kegagalan governance yang memalukan kini dipandang sebagai leverage yang sah dalam pertarungan politik. Pergeseran norma ini berbahaya karena membuat shutdown lebih mungkin terjadi di masa depan.

Negara-negara demokrasi lain dengan sistem parlementer umumnya tidak mengalami shutdown pemerintahan karena struktur institusional yang berbeda. Kegagalan meloloskan anggaran biasanya memicu pemilihan umum baru, menciptakan insentif kuat bagi partai-partai untuk mencapai kompromi. Sistem presidensial Amerika tidak memiliki mekanisme seperti ini, menciptakan potensi gridlock yang lebih besar.

Prospek Penyelesaian dan Skenario ke Depan

Saat shutdown memasuki hari pertama, fokus beralih ke berapa lama kebuntuan ini akan berlangsung dan apa yang diperlukan untuk menyelesaikannya. Sejarah menunjukkan bahwa shutdown cenderung berakhir ketika salah satu pihak menyadari bahwa biaya politik melanjutkan shutdown melebihi manfaat dari mempertahankan posisi mereka.

Dalam kasus ini, dengan Partai Republik menguasai Kongres dan Gedung Putih, tekanan politik lebih besar pada mereka untuk menunjukkan kemampuan mengatur. Namun, dinamika politik internal partai yang kompleks bisa memperpanjang kebuntuan. Faksi konservatif yang ingin pemotongan pengeluaran radikal mungkin tidak mau berkompromi, sementara anggota moderat khawatir tentang dampak shutdown pada konstituennya.

Demokrat, sebagai partai minoritas, memiliki leverage terbatas tetapi bisa menggunakan tekanan publik. Jika polling menunjukkan publik menyalahkan Republik untuk shutdown, ini bisa memaksa negosiasi. Isu kesehatan, yang menjadi fokus tuntutan Demokrat, memiliki resonansi kuat dengan pemilih dan bisa menjadi alat efektif untuk mobilisasi opini publik.

Skenario terbaik adalah kesepakatan dicapai dalam beberapa hari, dengan kompromi yang memungkinkan kedua pihak mengklaim kemenangan. Ini mungkin melibatkan perpanjangan pendanaan jangka pendek sambil negosiasi lanjutan untuk solusi lebih permanen. Skenario terburuk adalah shutdown yang berkepanjangan, melampaui rekor 35 hari, dengan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan.

Ada juga kemungkinan bahwa shutdown ini memicu diskusi lebih luas tentang reformasi proses anggaran federal. Proposal seperti pendanaan otomatis jika Kongres gagal meloloskan anggaran, atau reformasi aturan filibuster Senat, bisa mendapat momentum. Namun, reformasi struktural seperti ini sulit dicapai dalam iklim politik yang terpolarisasi.

Implikasi Jangka Panjang untuk Amerika dan Dunia

Melampaui dampak langsung shutdown, krisis ini memiliki implikasi jangka panjang untuk posisi Amerika di dunia dan kesehatan demokrasinya sendiri. Setiap shutdown mengikis sedikit kepercayaan—kepercayaan warga pada pemerintah mereka, kepercayaan investor pada stabilitas Amerika, dan kepercayaan sekutu pada keandalan Washington.

Dalam kompetisi strategis dengan China, shutdown memberikan narasi tandingan terhadap model demokrasi liberal. Beijing dapat menunjuk pada disfungsi Washington untuk memvalidasi klaim bahwa sistem mereka lebih efisien dan mampu memberikan hasil. Di era di mana banyak negara memilih model tata kelola, contoh negativa dari Amerika merusak daya tarik demokrasi.

Untuk tatanan internasional yang berbasis aturan, shutdown menimbulkan pertanyaan tentang sustainabilitas kepemimpinan Amerika. Jika Washington tidak dapat diandalkan karena krisis politik internal yang dapat diprediksi, sekutu akan mulai membuat contingency plan dan diversifikasi partnership mereka. Ini bisa mengakselerasi tren multipolaritas yang sudah sedang berlangsung.

Di dalam negeri, normalisasi shutdown sebagai taktik politik mencerminkan dan memperkuat polarisasi yang lebih luas. Ketika fungsi-fungsi dasar pemerintahan menjadi sandera pertarungan partisan, ini mengikis kepercayaan pada institusi demokratis. Dalam jangka panjang, ini bisa membuat sistem politik Amerika lebih rapuh dan rentan terhadap krisis.

Kesimpulan: Titik Kritis untuk Demokrasi Amerika

Shutdown pemerintahan federal yang dimulai pada 1 Oktober 2025 adalah lebih dari sekadar gangguan administratif atau manuver politik. Ia adalah simptom dari penyakit yang lebih dalam dalam demokrasi Amerika—ketidakmampuan untuk mengatur diri sendiri secara efektif, untuk berkompromi demi kepentingan umum, dan untuk menempatkan governance di atas politik partisan.

Bagi jutaan warga Amerika yang terdampak langsung, shutdown berarti kehilangan gaji, layanan yang terganggu, dan ketidakpastian tentang masa depan. Bagi ekonomi yang sudah rapuh, ia menambah ketidakpastian dan risiko. Dan bagi posisi Amerika di dunia, ia mengirim sinyal kelemahan dan ketidakandalan di saat kepemimpinan global sangat dibutuhkan.

Para pengamat internasional mencatat dengan keprihatinan bahwa negara yang selama ini menjadi mercusuar demokrasi tampaknya tidak mampu melakukan fungsi paling dasar dari pemerintahan: menjaga agar lampu tetap menyala. Ini memiliki implikasi yang mengkhawatirkan tidak hanya untuk Amerika, tetapi untuk masa depan demokrasi liberal secara global.

Yang paling memprihatinkan adalah pola berulang dari krisis-krisis ini tanpa resolusi struktural. Setiap shutdown diselesaikan dengan janji untuk melakukan lebih baik, hanya untuk mengulang siklus yang sama beberapa bulan atau tahun kemudian. Tanpa reformasi fundamental terhadap proses anggaran atau peningkatan signifikan dalam kultur politik, shutdown masa depan tampaknya tak terhindarkan.

Saat shutdown 2025 berlangsung, pertanyaan yang mendesak bukan hanya kapan ia akan berakhir, tetapi apakah sistem politik Amerika masih mampu mereformasi dirinya sendiri sebelum disfungsi menjadi permanen. Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan tidak hanya masa depan Amerika, tetapi juga tatanan global yang telah dibangun di atas kepemimpinannya. Waktu untuk jawaban tersebut semakin menipis. (*)

  • Glosarium: Panduan Istilah untuk Pembaca
  • Government Shutdown: Penutupan operasional pemerintahan federal ketika Kongres gagal menyetujui atau meloloskan anggaran. Akibatnya, ratusan ribu pegawai pemerintah dirumahkan dan layanan publik dihentikan sementara.
  • Kongres: Lembaga legislatif (pembuat undang-undang) AS yang terdiri dari dua badan: Senat (majelis tinggi) dan House of Representatives/DPR (majelis rendah).
  • Bipartisan: Kerja sama atau kesepakatan antara dua partai politik utama (Demokrat dan Republik) dalam sistem politik Amerika.
  • Apropriasi: Alokasi atau pengesahan dana oleh Kongres untuk membiayai operasional lembaga-lembaga pemerintah.
  • Filibuster: Taktik penundaan dalam Senat di mana senator berpidato tanpa batas waktu untuk menghambat atau mencegah voting atas suatu rancangan undang-undang.
  • PDB (Produk Domestik Bruto): Nilai total semua barang dan jasa yang diproduksi suatu negara dalam periode tertentu, digunakan untuk mengukur kesehatan ekonomi.
  • Soft Power: Kekuatan atau pengaruh suatu negara melalui cara-cara persuasif seperti budaya, bantuan luar negeri, dan diplomasi, bukan melalui kekuatan militer (hard power).
  • Gridlock: Kebuntuan atau kemacetan politik di mana pemerintah tidak dapat membuat keputusan atau meloloskan undang-undang karena konflik antara partai-partai politik.
  • Polarisasi: Perpecahan masyarakat atau sistem politik ke dalam kubu-kubu yang berseberangan dengan perbedaan ideologi yang sangat tajam.
  • Leverage: Daya ungkit atau posisi tawar yang kuat dalam negosiasi politik.
  • SNAP (Supplemental Nutrition Assistance Program): Program bantuan pangan pemerintah federal AS untuk keluarga berpenghasilan rendah.
  • Medicare & Medicaid: Program asuransi kesehatan pemerintah AS. Medicare untuk warga lanjut usia, Medicaid untuk warga berpenghasilan rendah.
  • Congressional Budget Office (CBO): Lembaga non-partisan yang memberikan analisis anggaran dan ekonomi kepada Kongres.
  • Partisan: Bersifat memihak atau mendukung partai politik tertentu secara kuat, sering kali tanpa kompromi.
  • Tatanan Liberal Internasional: Sistem hubungan internasional berbasis aturan, kerja sama multilateral, dan institusi global yang dipimpin AS sejak Perang Dunia II.
  • Multipolaritas: Sistem dunia dengan beberapa pusat kekuatan (seperti AS, China, Uni Eropa) alih-alih didominasi satu negara adidaya. (*)

Deteksi Reinkarnasi dengan Numerologi

Oleh Gde Mahesa

Tidak ada “rumus” pasti untuk mengetahui kehidupan masa lalu, namun kita bisa mencari petunjuk melalui intuisi, meditasi, regresi hipnotis, atau analisis numerologi dan astrologi karma. Beberapa orang juga percaya bahwa ingatan masa lalu bisa muncul melalui mimpi atau déjà vu, yang dianggap sebagai bagian dari proses pemahaman kehidupan sebelumnya. 

Banyak yang percaya, setiap orang pernah hidup sebelumnya. Berbagai peradaban dan agama, seperti Spiritisme dan Teosofi, juga mengakui keberadaan kehidupan lampau. Seiring orang-orang menyadari konsep ini, mereka dapat memahami pengalaman-pengalaman supernatural yang mereka alami dalam mimpi dan kemampuan-kemampuan yang tak terjelaskan.

Beberapa orang menyimpulkan bahwa jika mereka memiliki hubungan yang kuat dengan suatu periode tertentu, mereka menghuni era tersebut di masa lalu.   

Selama bertahun-tahun, banyak orang telah menemukan cara untuk menemukan jati diri mereka di masa lalu. Jika ingin menemukan jati diri, berikut adalah berbagai cara untuk melakukannya sendiri atau dengan bantuan seorang spesialis.  

Dari sekian macam pencarian cara, kita akan mencoba metode Numerilogi.

Kalkulator Poorva Janma adalah konsep Hindu yang merujuk pada kehidupan setelah kematian, kehidupan sebelumnya, reinkarnasi, atau reinkarnasi. Beberapa orang menggunakan numerologi dan kalkulator poorva janma untuk mendapatkan informasi tentang kehidupan lampau seseorang berdasarkan tanggal, waktu, dan tempat lahir saat ini. Idealnya, rumus tertentu digunakan untuk mendapatkan pembacaan kehidupan lampau yang akurat.  

Cara hitung mendapatkan nomor jalur hidup dengan menjumlahkan semua digit tanggal lahir, bulan, dan tahun. 

Lanjutkan menjumlahkan hingga mendapatkan satu digit (kecuali nomor master seperti 11, 22, atau 33). 

Untuk memulai, lihat bulan kelahiran. Jika  lahir di bulan Februari, bulan kedua, berarti akan menggunakan angka dua (2). Maret adalah tiga (3), April adalah empat (4), dan seterusnya. Jika bulan kelahiran memiliki dua digit, cukup jumlahkan keduanya. Untuk Desember, artinya 1 + 2 = 3.

Kemudian, lanjutkan ke tahun. Jika Anda lahir tahun 1992, jumlahkan angka 1 + 9 + 9 + 2 untuk mendapatkan angka 21, lalu kurangi angka tersebut lebih lanjut dengan menambahkan 2 + 1 untuk mendapatkan angka tunggal 3.

Dari sini, jumlahkan semua angka pada tanggal lahir dan teruskan hingga mendapatkan angka tunggal.

Jika Anda lahir pada 17 Februari 1992, hasilnya adalah 2+1+7+1+9+9+2, yang sama dengan 31. Tambahkan 3+1 untuk mendapatkan 4.

Berarti Nomor Jalur Hidup kita adalah 4, yang juga menunjukkan berapa banyak kehidupan lampau yang telah dijalani.

Jawabannya kemungkinan besar adalah 1 sampai 9, tetapi jika hasilnya 11, 22, atau 33, berhentilah menambahkan.

Angka 11, 22, dan 33 dianggap sebagai angka master dalam numerologi. “Anda akan selalu menyederhanakannya menjadi satu digit, tetapi angka master menambahkan lebih banyak pesan, membahas dinamika universal yang berperan dalam hidup yang berkontribusi pada jalan hidup atau takdir.

Sudah menghitung? sekarang singkap maknanya.

Nomor 1: Kekuatan Primal

Angka satu melambangkan awal yang baru, Anda mandiri, berorientasi pada tujuan, dan inovatif, tetapi mungkin bergelut dengan keraguan. (Tidak masalah kan masih benar-benar baru)

Nomor 2: Intuitif

Angka dua melambangkan pasangan atau dualitas. Anda juga intuitif, pemersatu, dan berpengaruh.

Nomor 3: Kreatif

Sebagai angka tiga, Anda optimis, artistik, dan menawan. Namun, jangan heran jika rasa naif mengikuti Anda. Fokus hidup Anda seharusnya pada pertumbuhan dan ekspresi.

Nomor 4: Perencana

Sebagai angka empat yang sangat praktis dan solid, Anda setia dan membumi, tetapi juga bisa membosankan dan kaku. Angka empat juga merupakan angka realitas — bayangkan alam semesta material, akal sehat, dan struktur.

Nomor 5: Kekuatan Dinamis

Di tengah-tengah semua itu, orang berzodiak Five energik, mudah beradaptasi, dan sangat sosial, tetapi terkadang agak sulit diprediksi dan tidak dapat diandalkan. Sebagai orang Five, Anda bisa terus maju atau kembali ke pola lama. Terserah Anda untuk memutuskan.

Nomor 6: Sang Pengasuh

Sebagai seseorang yang menjalani kehidupan keenam, Anda resmi menjadi pengasuh. Harmonis, suportif, dan protektif terhadap semua orang dalam hidup Anda, meskipun terkadang sampai pada titik pengorbanan diri. Enam juga merupakan angka keibuan, pernikahan, dan keharmonisan, yang mungkin menjelaskan mengapa Anda merasa tertarik untuk mengasuh.

Nomor 7: Pencari Kebenaran

Tujuh orang bersifat spiritual dan ingin tahu. Suka menganalisis kehidupan. Angka tujuh juga melambangkan kebijaksanaan dan kesempurnaan, dan dianggap sebagai angka mistik.

Nomor 8: Pembangkit Tenaga Listrik

Sebagai zodiak delapan, Anda sama ambisiusnya dengan zodiak lainnya. Namun, waspadai kecenderungan materialistis. Hal itu dapat membantu Anda mengalihkan fokus ke jenis kesuksesan lain.

Nomor 9: Kemanusiaan

Karena angka sembilan melambangkan kompetisi dan pencapaian, anggaplah diri Anda sebagai salah satu angka yang lebih “terbangun”.

Master Nomor 11: Yang Tercerahkan

Anda berwawasan luas, intuitif, dan sadar sebagai master angka 11. Biarkan kode etik Anda yang kuat membimbing Anda.

Master Nomor 22: Sang Pembangun Utama

Sebagai Master Builder, Anda sedang mewujudkan kebaikan dalam hidup Anda. Rasanya Anda sudah tahu segalanya.

Nomor Master 33: Guru Utama

Sebagai orang dengan angka 33, jiwa Anda dianggap telah berevolusi, terbangun, dan berdedikasi, kata Shine. Akibatnya, Anda mungkin merasa tidak egois dan terpisah.

Hasil numerologi ini hasil suntingan dari berbagai sumber, termasuk :

Tracee Dunblazier , empati spiritual dan penulis

Alison Shine , guru pengembangan intuitif, medium, dan spiritual

Constance Stellas , astrolog

Davida Rappaport , konselor psikis dan spiritual

Kalkulator Poorva Janma, regresi kehidupan lampau, atau mengingat diri sendiri. Namun, mengingat kepercayaan yang meluas pada inkarnasi masa lalu yang dimiliki oleh orang-orang dari berbagai budaya, cara-cara ini kemungkinan besar bukan satu-satunya metode yang tersedia.

Ini adalah salah satu misteri kehidupan yang patut dijelajahi; oleh karena itu, tetap berpikiran terbuka sangatlah penting. 

Jangan lupa tetep bullll bullll klepussss….hirup kopi pahitnya….

Bus Angkutan Perintis Amat Diperlukan di NTT

Ki Darmaningtyas *)

Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan Provinsi yang wilayahnya terdiri dari banyak pulau. Infrastruktur jalannya tidak sebaik di Pulau Jawa dan Bali,  sehingga memerlukan layanan angkutan perintis, baik dengan angkutan darat, laut,  maupun udara guna menunjang mobilitas warga.

Angkutan Perintis amat diperlukan karena apabila menggunakan  layanan komersial biaya transportasinya amat mahal, sehingga tidak terjangkau oleh warga. Meskipun wilayah daratnya cukup luas namun infrastruktur tidak bagus  sehingga kurang menarik swasta untuk memberikan layanan transportasi secara komersial. Selain itu jumlah penduduknya tidak sebanyak di Jawa, sehingga potensi penumpangnya (demand) juga tidak terlalu tinggi. Atas dasar pertimbangan itulah maka Angkutan Perintis yang berbasis bus amat diperlukan kehadirannya.

Layanan bus Angkutan Perintis yang dimaksudkan di sini adalah layanan bus dengan tarif bersubsidi sehingga ongkosnya terjangkau oleh masyarakat NTT, tapi juga tidak merugikan operator.  Selisih antara biaya operasional bus dengan tarif yang dibayarkan oleh masyarakat itu ditanggung oleh Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Batasan suatu rute perlu dilayani oleh Angkutan Perintis  bila tingkat keterisian armada (load factor) di rute tersebut kurang dari 70%. Bila sudah mencapai di atas 70% maka sudah dapat dilayani oleh angkutan komersial.  Namun kalau tingkat keterisiannya di bawah 70% sementara layanan tersebut amat dibutuhkan oleh masyarakat, maka layak untuk dilayani oleh Angkutan Perintis.

Saat ini, Angkutan Perintis berbasis bus  di NTT terdapat di Pulau Timor, relasi Kupang – Ayutopas – Besikama (230 km), Pulau Flores, relasi Ende – Maronggelo (185 km), dan Sumba (Waingapu – Tabundung (190 km). Namun sejak 2024 masuk operator swasta PO Sinar Jaya. Menurut Kepala BPTD NTT Robert Tall, sejak dirinya menjadi Kepala BPTD NTT memang mengundang operator swasta untuk turut melayani Angkutan Perintis di wilayah kerjanya dengan maksud untuk menciptakan peningkatan layanan yang lebih baik. Dan ternyata, operator baru ini mampu menyediakan layanan yang lebih baik, dengan armada yang digunakan lebih baru.

Sebagai Gambaran mengenai pentingnya keberadaan Angkutan Perintis. Angkutan Perintis yang dijalankan oleh Perum DAMRI untuk rute Kupang – Ayotupas sepanjang 232 km, tarifnya hanya Rp. 50.000,-. Tarif yang dibayarkan oleh masyarakat tergantung jarak tempuhnya. Sebagai contoh untuk rute yang sama, tapi warga yang naik dari Soe menuju ke Ayotupas sepanjang 122 km tarifnya Rp. 30.000,-; rute Niki-niki – Ayotupas dengan jarak 96 km tarifnya sebesar Rp. 25.000,-. Tarif  yang dibayarkan oleh masyarakat berdasarkan jarak tempuh ini cukup meringankan beban warga. Dengan kondisi jalan yang naik turun, kalau hujan juga becek, tarif tersebut tergolong amat murah, dan itu hanya terjadi karena tarifnya disubsidi oleh Pemerintah.

Armada bus DAMRI di Terminal Bimoku Kota Kupang. (Dok DAMRI Kupang)

Subsidi dari Pemerintah amat penting mengingat tingkat keterisian bus Angkutan Perintis yang  dioperasikan oleh DAMRI selama lima tahun terakhir cenderung rendah dan fluktuatif. Sebagai contoh, rute Kupang – Naimata dengan jarak tempuh 20 km. Pada tahun 2020 dari 952 ritase hanya mengangkut 2.729 penumpang atau tingkat keterisiannya 7,54% saja. Berturut-turut menjadi 5,78% (2021), 2,11% (2022), kemudian ngedrop menjadi 0,67% (2023), dan naik cukup signifikan pada tahun 2024 menjadi 13,15%. Tingkat keterisian tertinggi pernah terjadi pada rute Kefamenanu – Naob yang pada tahun 2020 dari 600 ritase mampu mengangkut 9.326 penumpang (46,26%). Namun setelah itu turun menjadi 39,78% (2021), 33,80% (2022), kemudian merosot menjadi 8,01% (2023), dan merosot lagi menjadi 1,95% (2024).

Kecenderungan jumlah penumpang yang fluktuatif juga terjadi pada rute Enge – Nggela dengan jarak tempuh 95 km. Pada tahun 2020 tingkat keterisian mencapai 19,22%, kemudian naik menjadi 27,89% (2021), naik lagi menjadi 28,76% (2022),  kemudian merosot menjadi 8,39% (2023), dan kembali naik menjadi 16,14% (2024), dan 2025 hingga bulan Juli mencapai 37,87%.

Fenomena yang sama terjadi pada layanan Angkutan Perintis di Pulau Sumba untuk rute Waingapu – Tanarara – Kananggar sepanjang 119 km. Pada tahun 2020 tingkat keterisian mencapai 25,31%, tapi kemudian merosot menjadi 16,23% (2021), turun lagi menjadi 11,27% (2022), turun lagi menjadi 8,05% (2023), lalu ngedrop tinggal 1,39% (2024), dan pada tahun 2025 ini sampai bulan Juli mencapai 24,92%.

Meskipun ada kecenderungan jumlah penumpang Angkutan Perintis menurun, tapi tidak berarti kebijakan Angkutan Perintis perlu dihentikan. Kebijakan tersebut tetap perlu dijalankan guna memberikan layanan transportasi bagi warga yang tinggal di daerah-daerah dan memerlukan angkutan umum yang terjangkau untuk melakukan mobilitas  geografis. Yang diperlukan adalah kajian khusus mengenai faktor penurunannya dan strategi untuk mengoptimalkan Angkutan Perintis berbasis bus ini.

Kondisi bus perintis di Kupang.

Kebutuhan Sarana  Baru

Boleh jadi salah satu persoalan yang memicu merosotnya jumlah penumpang  Angkutan Perintis berbasis bus ini adalah kondisi sarana yang kurang memadai. Selain terbatas jumlahnya kualitasnya juga rendah. Sebagian armada yang digunakan saat ini sudah berusia lebih dari 10 tahun sehingga wajar memerlukan pembaruan. Hal ini membuka ruang bagi dukungan pemerintah dan operator untuk menghadirkan layanan yang lebih prima.

Keterbatasan sarana memang merupakan kendala utama pelaksanaan Angkutan Perintis di NTT yang dilaksanakan oleh Perum DAMRI. Dengan hanya tersedia satu unit (armada) untuk satu rute, tentu tidak mampu memberikan layanan secara optimal karena tidak dapat melayani dua arah dalam waktu yang bersamaan. Yang terjadi selama ini adalah misalkan Hari Senen pagi berangkat dari Kupang menuju Ayutopas, maka layanan Ayutopas – Kupang baru dapat dilaksanakan Hari Selasa (esok hari), karena menunggu kedatangan bus yang dari Kupang.

Kecuali jumlahnya yang amat minim dan kondisi kendaraannya yang sudah lebih dari 10 tahun, kendala layanan Bus Perintis ini menurut Robert Tall, Kepala BPTD NTT adalah  sarana yang tidak sesuai dengan kondisi geografis dan kebutuhan masyarakat. Kondisi geografis di NTT itu tidak datar, naik turun dan kondisi jalannya banyak yang rusak. Kebutuhan masyarakat juga tidak hanya untuk pergerakan orang saja, tapi juga barang-barang hasil tani, kebon, hutan, ternak, dan laut yang akan mereka jual ke kota (Kupang dan sekitarnya). Oleh karena itu, jenis kendaraan yang dibutuhkan juga yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat NTT akan angkutan orang dan barang. Dengan demikian, warga dari daerah-daerah di NTT bisa menjual barang-barang hasil pertanian, hutan, kebon, ternak, atau laut ke kota dengan biaya yang lebih murah sehingga kesejahteraannya meningkat.

Sebagai gambaran, sampai dengan pertengahan dekade 1990-an di Kota Surabaya itu ada jenis angkutan Angguna, yaitu jenis angkutan yang merupakan penggabungan angkutan orang dan barang. Kursi bagian depan untuk penumpang 3-4 orang dan di bagian belakang untuk barang. Jenis armada seperti inilah yang menurut Robert cocok dikembangkan sebagai bus Angkutan Perintis di NTT, karena menjawab kebutuhan untuk mobilitas orang dan barang. Tentu dengan spek yang lebih besar mengingat bentuk armadanya berupa bus.

Tampaknya, Direktorat Sarana Ditektorat Jendral Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan perlu membuat spek kendaraan bus Angkutan Perintis yang cocok untuk melayani daerah-daerah Indonesia bagian timur.

Selain itu, kebijakan Angkutan Perintis berbasis bus ini juga perlu dibenahi. Sejak 2016 kebijakan subsidi difokuskan pada biaya operasional, sehingga pengadaan armada baru membutuhkan keterlibatan operator maupun alternatif dukungan lainnya. Pola ini mendorong kolaborasi lebih erat antara pemerintah dan operator swasta untuk memperkuat layanan di wilayah timur.”

Terminal sebagai Titik Pemberangkat

Direktorat Prasana Direktorat Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan melalui BPTD NTT telah berhasil membangun termina Tipe A yang cukup bagus dan nyaman di Kota Kupang. Tujuan pembangunan Terminal Tipe A ini  dalam rangka meningkatkan pelayanan angkutan umum di wilayah NTT agar masyarakat NTT juga dapat merasakan layanan infrastruktur transportasi yang berkselamatan, aman, dan nyaman.

Sayang keberadaan terminal yang bagus itu belum dimanfaatkan secara optimal oleh layanan Angkutan Perintis, karena Angkutan Perintis khususnya DAMRI pemberangkatannya tidak dari terminal, melainkan dari pool DAMRI yang tidak jauh dari Lokasi terminal. Sebaiknya ke depan, semua pemberangkatan, baik bus ALBN (Angkutan Lintas Batas Negara) maupun Angkutan Perintis titik pemberangkatannya dari terminal. Selain memudahkan akses penumpang maupun calon penjemput, fasilitas di Terminal Tipe A Kupang juga  lebih lengkap dan nyaman.

Salah satu alasan Angkutan Perintis belum seluruhnya berangkat dari Terminal Tipe A Bimoku Kupang berkaitan dengan persyaratan kelaikan kendaraan. Sebagai penanggung jawab, pihak terminal memiliki kewajiban memastikan seluruh armada yang beroperasi memenuhi standar keselamatan. Ketentuan ini pada dasarnya memberikan perlindungan bagi penumpang dan juga bagi operator, karena hanya kendaraan yang laik jalan yang akan mendapatkan izin. Dengan adanya aturan tersebut, operator pun terdorong untuk terus membenahi armadanya agar dapat memberikan layanan yang lebih aman dan nyaman bagi masyarakat.

Setidaknya ada tiga komponen yang dilakukan pemeriksaan di Terminal Tipe A Kupang, yaitu aspek administrasi (surat-surat kendaraan seperti KIR, kartu AS dan SIM pengemudi), teknis utama (ban, lampu, pengereman, fisik kendaraan, dan sebagainya), serta teknis penunjang, seperti ban cadangan, APAR, segitiga pengaman untuk keselamatan, P3K, dan sejenisnya. Hasil pemeriksaan kendaraan di terminal ini terkoneksi langsung dengan aplikasi Mitra Darat, sehingga kalau ada satu unsur saja yang tidak ada, tidak “ngeklik”, sehingga tidak diizinkan berangkat.

Semua itu dimaksudkan untuk menjaga aspek keselamatan, sehingga apabila hal itu dipatuhi, maka akan menjamin aspek keselamatan Angkutan Perintis berbasis bus di NTT. Semua operator Angkutan Perintis sebaiknya tunduk pada aturan tersebut. Dengan titik pemberangkatan Angkutan Perintis di Terminal Tipe A Kupang, selain memberikan jaminan aspek keselamatan armada, juga akan mengoptimalkan fungsi Terminal Tipe A yang sudah dibangun dengan biaya mahal tersebut. Juga memudahkan antar/ jemput penumpang secara selamat, aman, dan nyaman.

***

*) Ki Darmaningtyas, Pengamat Transportasi dari Institut Studi Transportasi

Indonesia Suarakan Perdamaian Palestina–Israel: Damai Lebih Mulia daripada Dendam

Konflik Palestina–Israel mengguncang nurani dunia. Di Sidang Majelis Umum PBB ke-79 di New York, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyampaikan pidato penuh pembelaan atas kebijakan negerinya.

Di sisi lain, penderitaan rakyat Palestina belum berakhir—korban sipil, khususnya anak-anak dan perempuan, terus berjatuhan.

Dalam forum yang sama, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengambil posisi berbeda: bukan membela satu pihak, melainkan menyuarakan jalan damai yang bermartabat. Indonesia kembali menegaskan dukungannya pada solusi dua negara yang adil: Palestina berhak merdeka, Israel berhak hidup aman.

Amanat UUD 1945

Sikap Indonesia tidak lahir tiba-tiba. Sejak proklamasi, bangsa ini menegaskan pijakan moral yang kokoh. Pembukaan UUD 1945 menyatakan:

> “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.”

Amanat konstitusi inilah yang membuat Indonesia konsisten membela hak bangsa Palestina untuk hidup merdeka. Namun di saat yang sama, Indonesia juga mengingatkan dunia bahwa Israel sebagai bangsa pun memiliki hak untuk hidup aman tanpa ancaman pemusnahan.

Konferensi Asia Afrika Bandung 1955.

Semangat Bandung yang Tak Pernah Padam

Tahun 1955, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung. Konferensi bersejarah itu melahirkan Dasasila Bandung, yang menegaskan penolakan terhadap kolonialisme, penghormatan persamaan derajat bangsa-bangsa, dan penyelesaian sengketa secara damai.

Semangat Bandung masih relevan hingga kini. Dunia diingatkan bahwa kekerasan hanya akan melahirkan lingkaran dendam lintas generasi. Penyelesaian damai, bagaimana pun sulitnya, tetap menjadi jalan yang paling bermartabat.

Prinsip Non-Blok

Enam tahun kemudian, Indonesia turut membidani lahirnya Gerakan Non-Blok (1961) bersama India, Mesir, Yugoslavia, dan negara lain. Prinsipnya jelas: tidak berpihak buta pada blok Barat atau Timur, melainkan menempuh jalur independen yang berpihak pada kemanusiaan dan keadilan.

Hari ini, prinsip Non-Blok kembali mendapat ujian. Indonesia menolak berpihak membabi buta—baik pada Israel maupun Hamas yang didukung Iran. Indonesia memilih berpihak pada kemanusiaan, menempatkan hak hidup manusia lebih tinggi daripada kepentingan geopolitik.

Presiden Prabowo Subianto saat berpidato di PBB, tegaskan komitmen solusi dua negara: Israel – Palestina. (foto: setneg.go.id)

Suara Prabowo di PBB

Dalam pidatonya di PBB, Presiden Prabowo menekankan tiga hal penting:

1. Hentikan segera kekerasan dan korban sipil.

2. Tegakkan keadilan bagi rakyat Palestina.

3. Berikan jaminan keamanan bagi Israel dan Palestina untuk hidup berdampingan.

Pesan ini terdengar sederhana, tetapi justru di situlah kekuatannya. Indonesia tidak berbicara dengan bahasa senjata, melainkan dengan bahasa kemanusiaan. Pesannya tegas: damai lebih mulia daripada dendam.

Nelson Mandela. (Sumber foto: AP/The Star Tribune, Jerry Holt)

Belajar dari Nelson Mandela

Sejarah dunia sudah memberi teladan yang nyata. Nelson Mandela, pejuang anti-apartheid Afrika Selatan, dipenjara selama 27 tahun oleh rezim kulit putih. Ia kehilangan kebebasan, keluarganya hancur, hidupnya terenggut oleh jeruji besi.

Namun ketika keluar dari penjara pada 1990, Mandela tidak menebar dendam. Ia memilih jalan rekonsiliasi, mengajak bangsa kulit hitam dan kulit putih hidup bersama dalam satu negara demokratis. Empat tahun kemudian, Mandela terpilih sebagai Presiden Afrika Selatan—dan menjadi simbol perdamaian dunia.

Apa yang dilakukan Mandela memberi pelajaran penting: luka sejarah tidak harus diwariskan sebagai dendam. Luka bisa disembuhkan jika ada kebesaran hati untuk memilih perdamaian. Inilah pelajaran yang seharusnya menginspirasi para pemimpin Timur Tengah.

Presiden Prabowo pada Pertemuan Multilateral Timur Tengah. Dalam kesempatan itu, Prabowo menegaskan komitmen akhiri perang di Gaza. (foto: setneg.go.id)

Penutup: Pilih Kemanusiaan, Bukan Kebencian

Indonesia pernah menjadi inspirasi dunia lewat Bandung 1955. Kini, melalui suara Presiden Prabowo di PBB, Indonesia kembali menawarkan pencerahan:

Jangan hanya memilih pihak, tetapi pilihlah kemanusiaan.

Jangan hanya mengulang dendam, tetapi hentikan penderitaan.

Kemenangan sejati bukanlah mengalahkan lawan, melainkan mengakhiri perang dan membangun perdamaian.

Seperti Nelson Mandela yang membuktikan bahwa rekonsiliasi lebih kuat daripada kebencian, Indonesia mengingatkan dunia bahwa perdamaian jauh lebih berharga daripada kemenangan semu dalam perang.

***

Penulis: MJP Hutagaol
Jakarta, 1 Oktober 2025

Catatan Kaki

1. Benjamin Netanyahu, Pidato Sidang Majelis Umum PBB ke-79, New York, September 2025.
2. Prabowo Subianto, Pidato Sidang Majelis Umum PBB ke-79, New York, September 2025.
3. Konferensi Asia Afrika, Dasasila Bandung, Bandung, 1955.
4. Nelson Mandela, Long Walk to Freedom, 1994.