Lebih Dekat dengan 5 Pahlawan Nasional Perempuan Lewat Destinasi Ini

JAYAKARTA NEWS – Setiap tanggal 17 Agustus, kita selalu mengenang perjuangan para pahlawan yang telah membawa Indonesia menuju kemerdekaan. Gelar pahlawan tidak hanya disematkan untuk tokoh laki-laki, karena ada banyak perempuan hebat yang turut mengubah sejarah bangsa. 

Melalui destinasi-destinasi bersejarah ini, dikutip dari Laman Kemenpar, Sabtu (8/8/2026), kita bisa mengenal lebih dekat jejak perjuangan para pahlawan nasional perempuan yang telah menginspirasi lintas generasi. Selain menambah wawasan, kita juga bisa melihat langsung jejak perjuangan para pahlawan perempuan Indonesia.

  1. Museum RA Kartini – Rembang, Jawa Tengah

Foto: museumkartinirembang.id

Siapa yang tidak mengenal RA Kartini? Tokoh emansipasi perempuan Indonesia ini memperjuangkan hak perempuan untuk memperoleh pendidikan yang layak. RA Kartini sebenarnya lahir dan tumbuh di Jepara, Jawa Tengah. Namun ia pindah ke Rembang setelah menikah dengan Raden Adipati Joyodiningrat hingga wafat.

Di Museum RA Kartini, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi peninggalan pribadi Kartini, surat-suratnya yang menginspirasi, hingga benda-benda bersejarah yang menggambarkan perjalanan hidupnya. Museum RA Kartini akan membuat kita belajar bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari keberanian menyuarakan pemikiran.

  1. Rumah Pengasingan Cut Nyak Dien – Sumedang, Jawa Barat

Dari namanya saja kita tahu Cut Nyak Dien adalah seorang pahlawan asal Aceh. Namun setelah memimpin perlawanan terhadap penjajah Belanda di Aceh, Cut Nyak Dien diasingkan ke Sumedang dari tahun 1906 hingga akhir hayatnya.

Rumah atau tempat tinggal Cut Nyak Dien di Sumedang berada di Kampung Kaum, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang. Rumah tersebut diwariskan secara turun temurun dan menjadi cagar budaya.

Rumah pengasingan ini menjadi saksi bisu keteguhan seorang pejuang yang tidak pernah menyerah meski harus hidup jauh dari tanah kelahirannya. 

  1. Taman Literasi Martha Tiahahu

Taman Literasi Martha Tiahahu – Instagram @tamanliterasi.jkt

Taman Literasi Martha Christina Tiahahu di kawasan Blok M mengabadikan nama Martha Christina Tiahahu, pahlawan nasional asal Maluku yang dikenal karena keberaniannya melawan penjajahan Belanda. Berkunjung ke taman ini menjadi cara yang menarik untuk mengenal semangat perjuangan Martha Christina Tiahahu sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap literasi.

Martha Christina Tiahahu dikenal sebagai pejuang muda dari Maluku yang ikut mengangkat senjata melawan penjajah pada usia yang sangat muda. Ia ikut melawan penjajah mendampingi ayahnya dalam Perang Pattimura, dan rela berkorban nyawa demi mempertahankan tanah air.

  1. Makam Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang – Yogyakarta

Kompleks Makam Nyi Ageng Serang di Pegunungan Menoreh dibangun untuk mengenang jasa dan perjuangannya dalam melawan penjajah. Dahulu, kawasan perbukitan ini menjadi tempat Nyi Ageng Serang menyusun strategi perang, sementara kini telah berkembang menjadi destinasi wisata religi yang banyak dikunjungi peziarah. 

Pada momen seperti Hari Kemerdekaan, Hari Pahlawan, dan hari besar Islam, kompleks makam ini biasanya dipadati pengunjung yang ingin memberikan penghormatan kepada salah satu pahlawan nasional perempuan Indonesia. Nyi Ageng Serang merupakan salah satu tokoh penting dalam Perang Diponegoro. Ia dikenal sebagai penasihat perang bagi Pangeran Diponegoro saat melawan penjajah Belanda pada masa Perang Jawa (1825–1830).

  1. Rumah Ibu Fatmawati Soekarno – Bengkulu

Tak lengkap rasanya membahas Hari Kemerdekaan tanpa mengenang sosok Fatmawati. Sebagai Pahlawan Nasional, beliau dikenang karena menjahit Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan pada Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. 

Rumah kediaman Fatmawati di Bengkulu kini telah menjadi museum yang terbuka untuk umum. Di dalamnya, pengunjung dapat melihat berbagai koleksi bersejarah, mulai dari foto-foto keluarga, perabot asli, hingga mesin jahit yang menjadi simbol perjuangan beliau. 

Mengunjungi destinasi bersejarah bukan sekadar wisata, tetapi juga kesempatan untuk memahami nilai-nilai yang diwariskan para pahlawan. 

Di momen Hari Kemerdekaan Indonesia, mengenal kembali kisah para pahlawan perempuan menjadi pengingat bahwa perjuangan membangun bangsa dilakukan oleh banyak sosok dengan latar belakang yang berbeda. Semangat mereka dapat menjadi inspirasi untuk terus berkarya, berani menyuarakan hal yang benar, dan berkontribusi bagi Indonesia sesuai peran kita masing-masing.***/mel

Sejarah Nama Kawasan Penting di Jakarta, Ada yang Warisan dari Zaman Hindia Belanda

JAYAKARTA NEWS – Di usianya yang ke-499, sangat banyak perubahan yang dialami DKI Jakarta, termasuk terkait penamaan kawasan.

Beberapa kawasan penting di Jakarta sudah berdiri sejak zaman Hindia Belanda.

Dulunya merupakan kawasan pemukiman kecil, seiring waktu tempat tersebut menjadi besar dan penting.

Berikut kisah menarik dibalik penamaannya, dikutip dari Ragam BUMN, Sabtu (20/6/2026).

Menteng

Kawasan Menteng di Jakarta Pusat ini sudah menjadi pemukiman elit sejak zaman Hindia Belanda.

Lokasinya yang di tengah kota membuat Menteng lokasi pilihan penguasa Belanda dan orang Eropa.

Sebelum daerah perumahan, dulunya Menteng kawasan hutan. Tahun 1810 menjadi tempat tinggal.

Daerah ini semakin ramai di 1912 karena menjadi lokasi perumahan pegawai pemerintah Hindia Belanda.

Karena dulunya hutan, di sekeliling daerah tersebut penuh pohon buah menteng.

Buah ini tampilannya mirip dengan duku namun rasanya manis asam.

Dari sinilah lahirnya nama Menteng yang terus bertahan sampai sekarang.

Matraman

Di sebelah timur Jakarta ada satu kawasan yang sejak dulu selalu padat dan ramai, yaitu Matraman.

Nama Matraman berhubungan erat dengan kerajaan Mataram.

Pada abad 16, Sultan Agung, dari Mataram menyerang Batavia lewat darat.

Untuk memperkuat pasukannya, Sultan Agung membawa banyak prajurit dari Jawa ke Batavia.

Mereka membangun base camp di daerah yang sekarang dikenal dengan nama Matraman.

Tahun 1677, terjadi perjanjian antara VOC dan Mataram.

Daerah tersebut diberikan pada orang-orang Jawa dari Mataram sebagai tempat tinggal.

Disebut Matraman karena merujuk daerah tempat tinggal orang-orang dari Mataram.

Gedung Societeit de Harmonie didirikan pada tahun 1810 atas prakarsa Gubernur Jenderal Reinier de Klerk. (Woodbury & Page, Photographers Java via Kompasiana.com)

Harmoni

Daerah Jakarta Barat sudah berkembang pesat sejak zaman Hindia Belanda.

Salah satu kawasan pentingnya, Harmoni yang terbentang dari jalan Hayam Wuruk sampai jalan Gajah Mada.

Pada zaman Belanda dikenal dengan nama Molenvliet.

Nama Harmoni baru digunakan tahun 1950-an, setelah nasionalisasi nama-nama jalan.

Nama Harmoni diambil dari nama gedung penting di kawasan itu, yaitu Societeit de Harmonie.

Gedung yang dibuka tahun 1815 ini merupakan tempat pesta para kaum sosialita Hindia Belanda di Batavia.

Sayangnya sudah tidak ada sisa gedung Societeit de Harmonie.

Tahun 1985 Pemprov DKI membongkar gedung tersebut dan mengubahnya menjadi kawasan bisnis Duta Merlin.

Kemayoran

Sebelum menjadi kota metropolitan, Jakarta dikelilingi pematang sawah dan lahan kosong.

Pada masa kekuasaan Daendles (1808-1811), banyak lahan tersebut dijual pada orang-orang kaya.

Kebanyakan pembelinya para mayor yang berasal golongan Tiongkok, Arab, Belanda, dan orang Eropa.

Salah satu pembelinya, Mayor Isaac De L’ostal De Saint Martin, yang menempati daerah Kemayoran.

Penduduk pribumi di sana menyebut lahan milik Mayor Isaac sebagai tanahnya mayor.

Dari sinilah kemudian berubah menjadi Kemayoran.

Penggunaan nama Kemayoran secara resmi muncul pada peta Batavia tahun 1840.***/mel

100 Tahun Jam Gadang: Bagaimana Sejarahnya Hingga Jadi Ikon Pariwisata Sumatera Barat

JAYAKARTA NEWS – Menjelang usia satu abad pada tahun 2026, Jam Gadang tetap berdiri megah sebagai simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau dan salah satu ikon pariwisata paling terkenal di Indonesia. Selama 100 tahun, menara jam yang berada di jantung Kota Bukittinggi ini tidak hanya menjadi penunjuk waktu, tetapi juga saksi perjalanan sejarah dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan pariwisata modern Sumatera Barat.

Awal Mula Berdirinya Jam Gadang

Dikutip dari Laman Kemenpar, Jumat 95/6/2026), Jam Gadang dibangun pada 20 Juni 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Menara ini merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada H.R. Rookmaaker, pejabat kontrolir (controleur) Fort de Kock, nama lama Kota Bukittinggi. Pembangunan menara tersebut menghabiskan biaya sekitar 3.000 gulden dan dirancang oleh arsitek Minangkabau, Yazid Abidin atau Jazid Rajo Mangkuto, dengan bantuan tenaga ahli lokal.

Nama “Jam Gadang” berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “Jam Besar”. Nama tersebut merujuk pada empat buah jam berukuran besar yang terpasang pada setiap sisi menara. Hingga kini, nama itu telah melekat sebagai identitas Bukittinggi dan Sumatera Barat.

Arsitektur Unik Jam Gadang

Salah satu keistimewaan Jam Gadang adalah teknik konstruksinya yang tidak menggunakan semen maupun rangka besi. Bangunan setinggi 26 Meter ini dibangun menggunakan campuran kapur, pasir putih, dan putih telur sebagai perekat. Metode tradisional tersebut terbukti mampu membuat bangunan tetap kokoh meskipun telah melewati berbagai peristiwa alam dan perubahan zaman.Mesin jam yang digunakan didatangkan langsung dari Jerman dan dibuat oleh Bernard Vortmann di kota Recklinghausen. Keunikan lainnya adalah penggunaan angka Romawi “IIII” untuk menunjukkan angka empat, berbeda dari penulisan umum “IV”. Hingga kini, ciri khas tersebut masih menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Perubahan Bentuk Atap Jam Gadang

Selama perjalanan sejarahnya, Jam Gadang mengalami beberapa perubahan bentuk atap yang mencerminkan dinamika politik pada zamannya.

  • Pada masa Belanda, atap menara berbentuk kubah dengan gaya Eropa.
  • Saat pendudukan Jepang, bentuk atap diubah menyerupai pagoda khas Jepang.
  • Setelah Indonesia merdeka, atap kembali diubah menjadi bentuk gonjong Rumah Gadang yang mencerminkan budaya Minangkabau dan tetap dipertahankan hingga saat ini.

Transformasi tersebut menjadikan Jam Gadang bukan hanya monumen bersejarah, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Sumatera Barat.

Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Bangsa

Selama satu abad berdiri, Jam Gadang menjadi saksi berbagai peristiwa penting. Menara ini menyaksikan masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan Kota Bukittinggi sebagai pusat pendidikan, perdagangan, dan pemerintahan di Sumatera Barat. Bahkan, Bukittinggi pernah menjadi ibu kota darurat Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan.

Karena nilai historisnya yang tinggi, Jam Gadang sering disebut sebagai “penjaga memori” Kota Bukittinggi dan simbol perjalanan panjang masyarakat Minangkabau.

Ikon Pariwisata Sumatera Barat

Seiring berkembangnya sektor pariwisata, Jam Gadang bertransformasi menjadi destinasi wisata utama di Sumatera Barat. Lokasinya yang berada di pusat kota, dekat Pasar Ateh dan kawasan perdagangan Bukittinggi, membuatnya mudah diakses wisatawan dari berbagai daerah.

Bagi banyak wisatawan, berkunjung ke Bukittinggi terasa belum lengkap tanpa berfoto di depan Jam Gadang. Kehadirannya juga sering muncul dalam berbagai suvenir, promosi wisata, kartu pos, hingga materi promosi daerah. Bahkan, bagi banyak orang Indonesia, Jam Gadang menjadi simbol yang langsung mengingatkan pada Sumatera Barat.

Selain menjadi objek wisata sejarah, kawasan Jam Gadang juga menjadi pusat berbagai kegiatan budaya, festival seni Minangkabau, pertunjukan tari tradisional, hingga perayaan tahun baru yang menarik ribuan pengunjung setiap tahun.

Menyambut Satu Abad Jam Gadang

Pemerintah Kota Bukittinggi menyiapkan beragam kegiatan untuk memeriahkan peringatan 100 tahun Jam Gadang yang akan berlangsung pada 3-21 Juni 2026. Rangkaian agenda tersebut dirancang tidak hanya sebagai perayaan sejarah, tetapi juga menjadi sarana promosi budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif Sumatera Barat.

Salah satu agenda utama yang akan digelar adalah seminar internasional yang membahas nilai sejarah dan warisan budaya Jam Gadang. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang diskusi bagi para peneliti, budayawan, dan akademisi untuk mengulas peran Jam Gadang dalam perjalanan sejarah Minangkabau dan Indonesia.

Peringatan satu abad ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali posisi Jam Gadang sebagai warisan sejarah sekaligus ikon pariwisata yang telah membawa nama Bukittinggi dan Sumatera Barat dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional.

Selama 100 tahun, Jam Gadang telah berkembang dari sebuah hadiah kolonial menjadi simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau. Dengan arsitektur unik, sejarah panjang, serta perannya sebagai pusat aktivitas budaya dan pariwisata, Jam Gadang bukan sekadar menara jam, melainkan representasi identitas Sumatera Barat yang terus hidup dari generasi ke generasi.***/mel

Menjelang Hari Kartini, Rembang Jadi Destinasi yang Tak Boleh Dilewatkan

JAYAKARTA NEWS – Menjelang peringatan Hari Kartini 2026, ada satu destinasi yang terasa pas untuk dikunjungi.

Bukan sekadar tempat wisata biasa, lokasi ini menyimpan kisah penting tentang sosok perempuan yang menginspirasi banyak generasi di Indonesia.

Museum RA Kartini Rembang menjadi pilihan yang sederhana, tapi penuh makna.

Terletak tidak jauh dari pusat kota, museum ini menyimpan berbagai peninggalan Raden Ajeng Kartini, mulai dari foto, surat-surat, hingga benda pribadi yang menggambarkan perjalanan hidupnya.

Suasananya tenang dan tidak terlalu ramai, membuat kunjungan terasa lebih santai.

Setiap sudut museum seperti mengajak pengunjung untuk mengenal Kartini lebih dekat, bukan hanya sebagai pahlawan, tapi juga sebagai sosok perempuan dengan pemikiran yang melampaui zamannya.

Patung R.A Kartini di depan pintu Museum R.A Kartini. (Anisa Fitri via wartafeno.com)

Selain itu, area sekitar museum juga cukup nyaman untuk berjalan santai.

Banyak spot yang cocok untuk duduk sejenak sambil menikmati suasana kota Rembang yang cenderung adem dan tidak terburu-buru.

Mengunjungi tempat ini menjelang Hari Kartini bukan hanya soal wisata, tapi juga cara sederhana untuk mengingat kembali nilai perjuangan dan semangat emansipasi yang masih relevan hingga sekarang.

Tak perlu rencana besar atau perjalanan jauh.

Cukup luangkan waktu sejenak, dan biarkan perjalanan singkat ini memberi pengalaman yang berbeda.***/mel

Tawur Agung Prambanan 2026: Ajakan Bangun Ekoteologi dan Persaudaraan

JAYAKARTA NEWS – Kementerian Agama mengajak Umat Hindu untuk menjadikan Tawur Agung sebagai titik balik memperkuat kepedulian terhadap alam dan mempererat persaudaraan.

Ajakan ini disampaikan Dirjen Bimas Hindu Kemenag, I Nengah Duija, dalam puncak pelaksanaan Tawur Agung rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 di pelataran Candi Prambanan Yogyakarta, Rabu (18/3/2026).

“Tawur Agung mengajarkan ekologi spiritual, solidaritas sosial, dan integritas pribadi. Ini menjadi strategi peradaban dalam menghadapi krisis lingkungan dan sosial di era modern,” tegas I Nengah Duija di dahapan sekitar 20ribu umat Hindu yang datang dari berbagai daerah.

Tawur Agung memiliki makna filosofis yang mendalam sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Ritual ini dapat dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab moral manusia kepada alam setelah memanfaatkan sumber daya yang terkandung di dalamnya sepanjang tahun.

“Tawur Agung adalah upacara yajña yang bukan sekadar ritual, tetapi bentuk nyata penyucian alam semesta serta upaya mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Hyang Widhi Wasa,” ungkap Duija.

“Keseimbangan bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Tawur Agung adalah bentuk tanggung jawab moral manusia kepada alam melalui persembahan suci,” lanjutnya.  

Pelaksanaan Tawur Agung di Prambanan memiliki nilai strategis dan spiritual karena merupakan pusat peradaban Hindu Nusantara.

“Prambanan bukan sekadar situs sejarah, melainkan ruang sakral yang menghubungkan manusia dengan jagat raya, simbol penyatuan spiritual dan kebudayaan bangsa,” ujar Duija.

Pelaksanaan Tawur Agung ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Suci Nyepi yang berpuncak pada pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Melalui keheningan Nyepi, umat Hindu diajak melakukan refleksi diri guna mencapai kedamaian batin dan harmoni semesta.

Dengan kehadiran puluhan ribu umat serta dukungan berbagai pihak, Tawur Agung di Prambanan tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol penguatan spiritualitas, persatuan, dan komitmen menjaga keseimbangan kehidupan di tengah dinamika zaman.

Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum PHDI Pusat, perwakilan Gubernur melalui Kepala Dinas Kebudayaan Jawa Tengah, Ketua Dharma Shanti Nasional, Bupati Klaten, jajaran Kanwil Kemenag Jawa Tengah dan DIY, pimpinan organisasi kemasyarakatan Hindu tingkat nasional maupun provinsi, serta tokoh masyarakat.***/mel

Sampaikan Selamat Hari Suci Nyepi, Menag: Satu Bumi, Satu Keluarga

JAYAKARTA NEWS – Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 sebagai momentum memperkuat persaudaraan dan merawat harmoni di tengah keberagaman.

“Atas nama Pemerintah Republik Indonesia maupun pribadi, saya menyampaikan Selamat Hari Suci Nyepi dan Tahun Baru Saka 1948,” ujar Menag Nasaruddin Umar di Jakarta, dikutip dari Laman Kemenag, Rabu (18/3/2026).

Menurut Menag, perayaan Nyepi tahun ini terasa istimewa karena berlangsung dalam suasana bulan suci Ramadan serta berdekatan dengan Idulfitri 1447 H. Ia menilai, pertemuan dua momentum keagamaan tersebut menjadi simbol kuat nilai kebersamaan lintas iman.

“Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan pengingat bahwa kita berada dalam satu semangat Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga,” tegasnya.

Menag menjelaskan, tema tersebut menegaskan bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan kekuatan untuk mempererat persaudaraan sebagai bangsa. Nilai itu, kata dia, juga tercermin dalam ajaran Catur Brata Penyepian yang dijalankan umat Hindu saat Nyepi.

Melalui Amati Geni, umat diajak memadamkan api dalam diri seperti amarah dan egoisme. Sementara Amati Karya menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari aktivitas fisik dan melakukan introspeksi.

Kemudian, Amati Lelungan mengajarkan untuk tidak bepergian, memberi kesempatan bagi alam untuk beristirahat dan memulihkan keseimbangan. Adapun Amati Lelanguan mendorong umat melepaskan hiburan duniawi demi menemukan kejernihan batin.

“Dengan menjalankan Nyepi, umat Hindu sesungguhnya sedang memberikan jeda kepada alam semesta. Jika kita memuliakan alam, maka alam pun akan memuliakan harkat kemanusiaan kita,” ujar Menag.

Menag optimistis, semangat Vasudhaiva Kutumbakam akan terus mendorong umat Hindu berperan aktif dalam menjaga kerukunan dan memperkuat kohesi sosial di Indonesia.

“Semoga Ida Sanghyang Widhi Wasa senantiasa melimpahkan kedamaian, kesehatan, dan kesejahteraan bagi kita semua,” tandasnya.***/mel

Jelang Lebaran, 97.122 Guru Binaan Kemenag Lolos Sertifikasi

JAYAKARTA NEWS – Kementerian Agama hari ini mengumumkan ada 97.122 guru binaannya yang lulus sertifikasi guru. Mereka adalah peserta Sertifikasi Guru angkatan ke-4 yang prosesnya berlangusung sejak 2025.

Data ini menggenapi 304.661 guru Kemenag yang lulus sertifikasi pada angkatan 1-3 di 2025. Selain potret peningkatan profesionalitas, capaian ini menggambarkan komitmen Kemenag terhadap kesejahteraan guru madrasah dan pendidikan keagamaan.

“Ini menjadi kabar baik menjelang lebaran yang menghadirkan kebahagiaan tersendiri bagi guru dan keluarga,” tutur Dirjen Pendidikan Islam Amien Suyitno di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Panitia Nasional PPG Kementerian Agama yang juga Direktur Pendidikan Agama Islam M. Munir menambahkan, sertifikasi guru  merupakan bagian dari upaya Kemenag kompetensi profesional guru yang terstandar sekaligus mendapatkan pengakuan yang layak atas dedikasinya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Kelulusan 97.122 guru pada angkatan 4 ini juga menegaskan keberpihakan nyata Kementerian Agama terhadap peningkatan kesejahteraan guru. Dengan status tersertifikasi, para guru berhak memperoleh tunjangan profesi guru sesuai ketentuan. Ini diharapkan dapat semakin memotivasi guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran serta memperkuat peran guru sebagai pilar utama pembangunan sumber daya manusia Indonesia,” tegas M. Munir.

Sebanyak 97.122 guru yang lulus sertifikasi pada 2026 ini terbagi dalam 31 bidang studi, mulai dari Guru PAI di sekolah, guru madrasah mapel agama maupun umum, guru agama Katolik, Kristen, dan Khonghucu. Menurut Munir, keberhasilan ini tidak terlepas dari kerja keras berbagai pihak, mulai dari unit-unit teknis di lingkungan Kementerian Agama, perguruan tinggi penyelenggara pendidikan profesi guru, hingga para guru yang dengan penuh dedikasi mengikuti seluruh tahapan sertifikasi secara serius dan bertanggung jawab.

“Pengumuman kelulusan ini diharapkan menjadi energi baru bagi para guru untuk terus meningkatkan dedikasi, profesionalitas, dan kualitas layanan pendidikan, sekaligus menjadi penguat komitmen pemerintah dalam memuliakan guru sebagai penjaga masa depan bangsa,” pungkas M. Munir.***/mel

Erpangir Ku Lau, Jejak Spiritual Hindu Pemena di Tepian Sungai Sembahe

DELI SERDANG, JAYAKARTA NEWS – Ritual penyucian diri Erpangir Ku Lau kembali dilaksanakan oleh umat Hindu Pemena di kawasan sungai Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara, Jumat (13/3/2026).

Kegiatan ini diselenggarakan Persatuan Hindu Pemena dengan dukungan Bimbingan Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama dan PHDI Provinsi Sumatera Utara sebagai bagian dari upaya pelestarian tradisi spiritual masyarakat Karo.

Ritual yang berlangsung di tepi aliran sungai Sembahe tersebut diikuti oleh tokoh adat, pemuka agama, serta umat Hindu Pemena dari berbagai daerah di Sumatera Utara. Prosesi berlangsung khidmat dengan tetap mempertahankan tata cara adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Ketua panitia kegiatan dari Persatuan Hindu Pemena Ari Riandi Surbakti menyampaikan bahwa pelaksanaan Erpangir Ku Lau bukan sekadar ritual tradisional, tetapi juga sarana memperkuat identitas spiritual dan budaya masyarakat Karo. Menurutnya, tradisi ini merupakan warisan leluhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan oleh generasi muda.

“Ritual ini mengandung nilai spiritual yang sangat dalam. Selain sebagai bentuk penyucian diri, Erpangir Ku Lau juga menjadi pengingat bagi kita untuk selalu menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Dibata (Tuhan),” ujarnya, dikutip dari Laman Kemenag, Senin (16/3/2026).

Prosesi kegiatan diawali dengan doa (Ersudip) bersama yang dipimpin oleh pemuka adat dan pemangku ritual. Selanjutnya dilakukan pemberkatan air pangir, yaitu air yang telah dicampur dengan berbagai tumbuhan aromatik (berbagai macam jeruk dan daun daun) dan bunga sebagai simbol kesucian dan keseimbangan alam.

Setelah prosesi doa, para peserta mengikuti ritual Erpangir Ku Lau dengan melakukan penyucian diri menggunakan air pangir di aliran sungai. Ritual ini dipercaya mampu membersihkan diri dari unsur-unsur negatif serta memohon keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan bagi kehidupan.

Pembimbing Masyarakat Hindu Elirosa Tarigan yang hadir mewakili Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sumatera Utara mengapresiasi terselenggaranya ritual ini. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan bagian penting dari pelestarian kearifan lokal sekaligus memperkaya khazanah praktik keagamaan Hindu di Indonesia.

Ia menambahkan bahwa pemerintah melalui pembinaan keagamaan terus mendukung kegiatan-kegiatan yang bertujuan menjaga tradisi spiritual masyarakat, khususnya yang memiliki nilai budaya dan filosofi yang kuat.

“Secara filosofis, ritual Erpangir Ku Lau mengandung makna penyucian lahir dan batin. Air dalam ritual ini dipandang sebagai simbol kehidupan dan pemurnian, sedangkan pelaksanaan di sungai mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dengan alam semesta,” ungkapnya.

Pembimas Hindu menyampaikan, ritual ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai spiritual dan kebijaksanaan hidup kepada masyarakat Karo. Melalui pelaksanaan Erpangir Ku Lau, masyarakat diharapkan mampu menjaga keseimbangan hidup, baik secara spiritual maupun sosial.

“Pelaksanaan ritual ini tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga momentum mempererat kebersamaan masyarakat. Kehadiran generasi muda dalam kegiatan tersebut menjadi harapan agar tradisi Erpangir Ku Lau tetap hidup dan terus diwariskan di masa yang akan datang,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, Persatuan Hindu Pemena bersama pemerintah berharap nilai-nilai spiritual, budaya, dan kearifan lokal masyarakat Karo dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.***/mel

Fakta Menarik Tentang Pantangan yang Dilakukan Umat Hindu Saat Hari Raya Nyepi

JAYAKARTA NEWS – Hari Raya Nyepi merupakan momen umat Hindu Bali merayakan tahun baru Saka (penanggalan kalender Bali).

Bila perayaan tahun baru identik dengan kemeriahan, berbeda dengan Nyepi, yang justru dijalani dalam keheningan.

Tujuannya untuk membersihkan diri, mendekatan diri pada Tuhan, dan menciptakan harmoni dengan alam semesta.

Umat Hindu Bali wajib menjalankan catur brata atau empat pantangan utama selama Hari Raya Nyepi. Dikutip dari Laman Ragam BUMN, Senin (16/3/2026), empat pantangan utama selama Hari Raya Nyepi sebagai berikut.

Amati Geni
Bila diterjemahkan artinya dilarang menyalakan api atau lampu.

Pantangan ini melarang masyarakat di Bali menyalakan api, petasan, dan lampu penerangan.

Karena itu semua rumah dan bangunan di Bali harus dimatikan atau dalam keadaaan gelap.

Prinsip Amati Geni ini juga termasuk mengendalikan api amarah dan hawa napsu dalam diri.

Amati Karya
Ini bisa diartikan sebagai dilarang bekerja.

Sesuai dengan pantangan ini, masyarakat di Bali tidak boleh bekerja pada Hari Nyepi baik secara luring dan daring.

Tujuannya alih-alih kegiatan fisik, orang lebih fokus pada kegiatan rohani sebagai bentuk penyucian diri.

Karena tidak boleh bekerja, maka semua jenis transportasi di Bali tidak boleh beroperasi.

Layanan ferry di sejumlah pelabuhan utama dihentikan sementara saat Nyepi (Ragam BUMN)

Amati Lelung
Dalam pantangan ini, saat perayaan Nyepi, masyarakat di Bali dilarang bepergian keluar rumah.

Seperti ke tempat publik, jalan raya, dan lainnya. Semua restoran, supermarket, kantor, dan perniagaan ditutup.

Tujuannya adalah memanfaatkan waktu untuk merenung, meditasi, dan berdoa.

Serta mempersembahkan bhakti pada Ida Sang Hyang Widhi.

Amati Lelagung
Artinya adalah dilarang menonton hiburan atau bersenang-senang.

Masyarakat di Bali dilarang menonton, melakukan, mencari hiburan atau yang bersifat senang-senang.

Karena itu lembaga penyiaran seperti radio, televisi dilarang beroperasi.

Penyedia provider juga mematikan data selular selama perayaan Nyepi berlangsung.

Hal yang diharapkan dilakukan
Pada masa Nyepi ini masyarakat diharapkan fokus pada ketenangan dan penyucian diri.

Disarankan pada masa hening, melakukan meditasi sebagai bagian dari pembersihan diri.

Termasuk evaluasi diri tentang semua aspek kehidupan terutama aspek kerohanian.

Selama Nyepi juga bisa menjadi momen untuk berkumpul bersama keluarga dan menjalin harmonisasi yang lebih erat lagi.***/mel

Bedug Tertua di Indonesia, Umurnya Lebih dari 200 Tahun

JAYAKARTA NEWS – Alih-alih bedug, kini banyak masjid, terutama yang modern, di perkantoran, lebih mengandalkan speaker untuk adzan.

Meskipun begitu, bedug masih bisa ditemukan di masjid tradisional di Indonesia.

Bedug sendiri telah menjadi bagian dari tradisi Islam Nusantara sejak beratus-ratus tahun silam.

Tidak sedikit bedug yang telah berusia ratusan tahun, dan sebagian masih digunakan. Seperti di bawah ini, dikutip dari Ragam BUMN, Selasa (10/3/2026).

Bedug Masjid Al Osmani
Masjid Al Osmani merupakan salah satu masjid tertua di Medan.

Lokasinya di jalan Kolonel Yos Sudarso, Labuhan, Pekan Labuhan, Medan.

Masjid ini berdiri tahun 1854 tapi bedugnya baru dibuat dan digunakan pada tahun 1870.

Bedug dan masjid dibangun pada masa Raja Deli Ketujuh, Sultan Osman Perkasa Alam.

Selain panggilan shalat, bedug jadi penanda waktu berbuka puasa bagi masyarakat di sekitar Belawan.

Bedug terbuat dari kayu ulin yang sampai sekarang masih kokoh.

Saat ini bedug Masjid Al Osmani dikategorikan benda bersejarah dan diletakkan di depan pintu masuk masjid.

Bedug Nyai Pringgit
Lokasinya di Masjid Gede Mataram di Dusun Sayangan, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.

Bedug dibuat sekitar abad 15 pada masa Sunan Kalijaga, pemberian Nyai Pringgit dari Kulon Progo.

Konon Sultan Kalijaga melihat pohon di rumah Nyai Pringgit.

Ia mengharapkan bila pohon tersebut sudah besar ingin kayunya menjadi kerangka bedug. 

Setelah pohon ditebang, Nyai Pringgit menggendong sendiri bedug ini dari Kulon Progo sampai Bantul.

Bedug Nyai Pringgit memiliki diameter 1 meter.

Nyai Pringgit kemudian diangkat menjadi abdi dalem oleh Sunan.

Keturunannya pun diberi hak tinggal di sekitar Masjid Gede Mataram dan jadi pengurus masjid.

Permukaan kulit bedug di Masjid Jami Sabilul terdapat bagian yang bolong. Meskipun sudah diganti berkali-kali tapi selalu saja bolong lagi. (banggabersarung.com)

Bedug di Masjid Jami Sabilul Huda
Ini bedug tertua di Indonesia. Lokasinya di Masjid Jami Sabilul Huda, Desa Benda, Karangampel, Indramayu.

Bedug dibuat Sunan Welang sekitar tahun 1692 dengan ukuran 1 meter diameter 60 sentimeter.

Begug terbuat dari kayu sidaguri dan bagian untuk memukulnya terbuat dari kulit kerbau.

Pada bagian dalam bedug tertera tulisan dalam bahasa Arab.

Bedug menghasilkan suara yang sangat kuat. Konon bisa terdengar sampai Cirebon.

Uniknya, permukaan kulit bedug terdapat bagian yang bolong.

Meskipun kulit itu sudah diganti berkali-kali tapi selalu saja bolong lagi.

Bedug Kyai Bagelen
Selain salah satu bedug tertua, Bedug Kyai Bagelen juga merupakan bedug terbesar di Indonesia.

Bedug Kyai Bagelen berada di Masjid Agung Bagelen atau sekarang dikenal dengan nama Masjid Agung Purworejo.

Masjidnya sendiri selesai dibangun tahun 1834.

Bersaman dengan selesainya pembangunan masjid, Bupati Bagelen saat itu memerintahkan pembuatan bedug.

Bedug dibuat dari pangkal pohon jati dengan ukuran panjang 292 cm, diameter 194 cm.

Bagian memukul bedug dulunya dari kulit banteng.

Karena sudah rusak, sekarang diganti dengan kulit sapi benggala.***/mel