• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Thursday, October 1, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

100 Tahun Jam Gadang: Bagaimana Sejarahnya Hingga Jadi Ikon Pariwisata Sumatera Barat

100 Tahun Jam Gadang: Bagaimana Sejarahnya Hingga Jadi Ikon Pariwisata Sumatera Barat

Redaksi by Redaksi
June 5, 2026
in Histori
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAYAKARTA NEWS – Menjelang usia satu abad pada tahun 2026, Jam Gadang tetap berdiri megah sebagai simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau dan salah satu ikon pariwisata paling terkenal di Indonesia. Selama 100 tahun, menara jam yang berada di jantung Kota Bukittinggi ini tidak hanya menjadi penunjuk waktu, tetapi juga saksi perjalanan sejarah dari masa kolonial, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan pariwisata modern Sumatera Barat.

Awal Mula Berdirinya Jam Gadang

Dikutip dari Laman Kemenpar, Jumat 95/6/2026), Jam Gadang dibangun pada 20 Juni 1926 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Menara ini merupakan hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada H.R. Rookmaaker, pejabat kontrolir (controleur) Fort de Kock, nama lama Kota Bukittinggi. Pembangunan menara tersebut menghabiskan biaya sekitar 3.000 gulden dan dirancang oleh arsitek Minangkabau, Yazid Abidin atau Jazid Rajo Mangkuto, dengan bantuan tenaga ahli lokal.

Nama “Jam Gadang” berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “Jam Besar”. Nama tersebut merujuk pada empat buah jam berukuran besar yang terpasang pada setiap sisi menara. Hingga kini, nama itu telah melekat sebagai identitas Bukittinggi dan Sumatera Barat.

Arsitektur Unik Jam Gadang

Salah satu keistimewaan Jam Gadang adalah teknik konstruksinya yang tidak menggunakan semen maupun rangka besi. Bangunan setinggi 26 Meter ini dibangun menggunakan campuran kapur, pasir putih, dan putih telur sebagai perekat. Metode tradisional tersebut terbukti mampu membuat bangunan tetap kokoh meskipun telah melewati berbagai peristiwa alam dan perubahan zaman.Mesin jam yang digunakan didatangkan langsung dari Jerman dan dibuat oleh Bernard Vortmann di kota Recklinghausen. Keunikan lainnya adalah penggunaan angka Romawi “IIII” untuk menunjukkan angka empat, berbeda dari penulisan umum “IV”. Hingga kini, ciri khas tersebut masih menjadi daya tarik bagi wisatawan.

Perubahan Bentuk Atap Jam Gadang

Selama perjalanan sejarahnya, Jam Gadang mengalami beberapa perubahan bentuk atap yang mencerminkan dinamika politik pada zamannya.

  • Pada masa Belanda, atap menara berbentuk kubah dengan gaya Eropa.
  • Saat pendudukan Jepang, bentuk atap diubah menyerupai pagoda khas Jepang.
  • Setelah Indonesia merdeka, atap kembali diubah menjadi bentuk gonjong Rumah Gadang yang mencerminkan budaya Minangkabau dan tetap dipertahankan hingga saat ini.

Transformasi tersebut menjadikan Jam Gadang bukan hanya monumen bersejarah, tetapi juga simbol identitas budaya masyarakat Sumatera Barat.

Saksi Bisu Perjalanan Sejarah Bangsa

Selama satu abad berdiri, Jam Gadang menjadi saksi berbagai peristiwa penting. Menara ini menyaksikan masa penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, perjuangan kemerdekaan, hingga perkembangan Kota Bukittinggi sebagai pusat pendidikan, perdagangan, dan pemerintahan di Sumatera Barat. Bahkan, Bukittinggi pernah menjadi ibu kota darurat Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan.

Karena nilai historisnya yang tinggi, Jam Gadang sering disebut sebagai “penjaga memori” Kota Bukittinggi dan simbol perjalanan panjang masyarakat Minangkabau.

Ikon Pariwisata Sumatera Barat

Seiring berkembangnya sektor pariwisata, Jam Gadang bertransformasi menjadi destinasi wisata utama di Sumatera Barat. Lokasinya yang berada di pusat kota, dekat Pasar Ateh dan kawasan perdagangan Bukittinggi, membuatnya mudah diakses wisatawan dari berbagai daerah.

Bagi banyak wisatawan, berkunjung ke Bukittinggi terasa belum lengkap tanpa berfoto di depan Jam Gadang. Kehadirannya juga sering muncul dalam berbagai suvenir, promosi wisata, kartu pos, hingga materi promosi daerah. Bahkan, bagi banyak orang Indonesia, Jam Gadang menjadi simbol yang langsung mengingatkan pada Sumatera Barat.

Selain menjadi objek wisata sejarah, kawasan Jam Gadang juga menjadi pusat berbagai kegiatan budaya, festival seni Minangkabau, pertunjukan tari tradisional, hingga perayaan tahun baru yang menarik ribuan pengunjung setiap tahun.

Menyambut Satu Abad Jam Gadang

Pemerintah Kota Bukittinggi menyiapkan beragam kegiatan untuk memeriahkan peringatan 100 tahun Jam Gadang yang akan berlangsung pada 3-21 Juni 2026. Rangkaian agenda tersebut dirancang tidak hanya sebagai perayaan sejarah, tetapi juga menjadi sarana promosi budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif Sumatera Barat.

Salah satu agenda utama yang akan digelar adalah seminar internasional yang membahas nilai sejarah dan warisan budaya Jam Gadang. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang diskusi bagi para peneliti, budayawan, dan akademisi untuk mengulas peran Jam Gadang dalam perjalanan sejarah Minangkabau dan Indonesia.

Peringatan satu abad ini menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali posisi Jam Gadang sebagai warisan sejarah sekaligus ikon pariwisata yang telah membawa nama Bukittinggi dan Sumatera Barat dikenal luas di tingkat nasional maupun internasional.

Selama 100 tahun, Jam Gadang telah berkembang dari sebuah hadiah kolonial menjadi simbol kebanggaan masyarakat Minangkabau. Dengan arsitektur unik, sejarah panjang, serta perannya sebagai pusat aktivitas budaya dan pariwisata, Jam Gadang bukan sekadar menara jam, melainkan representasi identitas Sumatera Barat yang terus hidup dari generasi ke generasi.***/mel

Tags: 100 Tahun Jam GadangIkon Pariwisata Sumatera Baratjayakartanews
Previous Post

BRIN Temukan Probiotik dari Madu Lebah Tanpa Sengat, Berpotensi Jadi Pangan Fungsional dan Antikanker

Next Post

Menteri Mukhtarudin Bicara Pelindungan Ibu dan Anak Pekerja Migran

Redaksi

Redaksi

Next Post
Menteri P2MI Sebut Pencarian 3 WNI yang Hilang di Selat Hormuz Masih Dilakukan!

Menteri Mukhtarudin Bicara Pelindungan Ibu dan Anak Pekerja Migran

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version