Bintang-Bintang Indonesia Pemeran Kartini, dari Jenny Rahman hingga Anna Mathovani

JAYAKARTA NEWS – Raden Ajeng (RA) Kartini (1879-1904) termasuk Pahlawan Nasional. Lahir di Jepara, 21 April 1879 dan tiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Tokoh emansipasi, persamaan gender dan pendidikan ini bercita-cita ingin mendirikan sekolah untuk wanita pribumi.

Namun, obsesi yang mulia ini kandas karena kuatnya hukum adat di masa kolonial Belanda saat itu. Kartini dijadikan isteri ke tiga Bupati Rembang (poligami) dan wafat di usia muda : 25 tahun.

Di dunia film, ternyata ada tiga sosok aktris yang pernah memerankan Kartini.

Jenny Rahman di tahun 1982 didaulat oleh sutradara Syumandjaja sebagai pemeran Kartini di film berjudul ‘RA Kartini’.

Film ini dinobatkan sebagai film terbaik di era 1980an yang juga dibintangi sederet pemeran lain yaitu Bambang Hermanto, Nani Wijaya, Adi Kurdi, Dhany Dahlan, DR Wisnu Wardhana dan Andy Auric.

Diangkat dari buku tulisan Sitisoemandari Soeroto. Sewaktu gala premier di President Theater, Jakarta, ibu Tien Soeharto sebagai ‘first lady Indonesia’ hadir menonton film tersebut.

Jejen alias Jenny Rahman secara khusus disalami dan dirangkul oleh Ibu Tien Soeharto.

“Sebelum syuting, saya berziarah ke makam Ibu Kartini di Jepara,” kenang Jejen kepada penulis.

R.A. Kartini garapan Syumandjaja

Pemeran Kartini lain yang tak kalah populer dan berparas cantik adalah Dian Sastrowardoyo.

Dalam film ‘Kartini’ besutan Hanung Bramantyo ini, Dian  benar-benar sukses memancarkan aura nya sebagai Kartini.

Dian Sastro didampingi para pemeran lain yaitu Ayushita (Kardinah, saudara) dan Acha Septriasa (Roekmini, saudara ) serta Christine Hakim (Ngasirah, ibunya). Dan ikut bermain pula Deddy Sutomo sebagai Bupati Rembang, Raden Sosroningrat.

Berbeda dari film sejarah yang menjadi biopic Kartini, film ketiga yang berjudul ‘Surat Cinta untuk Kartini’ yang dibuat 2016 sepenuhnya fiksi.

Disutradarai Azhar Kinoi Lubis, pemeran Kartini adalah Rania Putrisari.

Kisahnya, Sarwadi (Chicco Jerikho) adalah tukang pos berstatus duda satu anak kaget ketika di suatu hari ia bertugas mengantarkan surat untuk Kartini dari temannya di Belanda.

Sarwadi lebih kaget lagi ketika tahu bahwa Kartini adalah seorang wanita ningrat yang memiliki karakter ‘rada lain’ : bergelora, urakan, keras kepala dan vokal.

Kartini dikenal pendobrak tradisi dan mendirikan sekolah untuk wanita pribumi pertama di Jepara.

Anak Sarwadi juga sempat disekolahkan di situ.

Anna Mathovani pemeran Kartini di Operet Kartini

Diam-diam Sarwadi menaruh hati kepada Kartini dan rajin mengantarkan surat (kelak surat-surat ini dikumpulkan dan diterbitkan oleh Kartini berjudul ‘Habis gelap terbitlah terang’).

Kekagetan Sarwadi memuncak dan hatinya hancur tatkala ia mendengar kabar Kartini akan dinikahkan dengan Bupati Rembang, Raden Sosroningrat yang sudah punya 2 isteri.

Ada lagi pemeran lain Kartini yaitu biduanita Anna Mathovani. Dan Chicha Koeswoyo sebagai Kartini kecil.

Dia tidak tampil di film, tapi di layar TVRI yaitu di Operet Kartini karya sutradara Titiek Puspa.

Operet musikal yang khusus dibuat di tahun 1979 ini guna merayakan 100 tahun perjuangan Kartini.

Dipenuhi nyanyian yang didialogkan  – disebut libreto – plus tarian dan musik nan memikat, operet ini berjaya dan ditonton ribuan pemirsa televisi milik pemerintah.

Titiek Puspa juga dikenal sebagai aktris musik dan film penggagas Operet Lebaran di TVRI. (pik)

Dhurandhar The Revenge: Diblokir di Pakistan, Boleh Tayang di Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Meski tayang di satu layar di XXI Plaza Senayan dan Kelapa Gading, film Bollywood ‘Dhurandhar : The Revenge ‘ masih bertahan lebih sebulan paska Lebaran 2026 lalu.

Disutradarai Aditya Dhar, berdurasi hampir 4 jam ini (ada interval) adalah sekuel 2 dari Dhurandhar yang sukses di tahun 2025.

Oleh LSF, film ini masuk kategori A dan ditujukan khusus untuk 21 tahun ke atas karena dipenuhi adegan sadis  (gore) n brutal, balas dendam dan spionase.

Tentang mata-mata India yang menyelundup ke Pakistan guna membongkar jaringan terorisme sukses di India (meraup 880 crore di seluruh dunia dalam tempo 19 hari paska rilis), namun diblokir dan ditolak tayang di Pakistan dan 6 negara Teluk (Saudi Arabia, UEA, Qatar, Oman dll) karena dinilai mendiskreditkan Pakistan.

Sutradara Aditya Dhar (foto india today)

Alhasil, warga Pakistan hanya bisa nonton lewat pembajakan diam-diam  dan diunduh secara ilegal. Bahkan, warga Pakistan menuntut 500 crore (sekitar 70 %) untuk kesejahteraan desanya.

Lolos tanpa gunting sensor di RI, namun di India sendiri, adegan pemenggalan kepala lalu kepala tersebut dijadikan tendangan bola, diedit dan dipangkas selama 2 menit.

Berlokasi syuting di Punjab, Maharasthra Chandigarh, Ladakh dan Himachai Pradesh ditambah Thailand, Dhurandhar 2 dibintangi sederet pemeran yaitu Ranveer Singh (sebagai Hamza Ali Mazain), Sara Arjun (Yulina ), Arjun Rampal (Mayor Iqbal), Rakesh Bedi (Jameel Jamail), Sanjay Dutt, Danish Pandor dan Gauray Gera sertxta ratusan cameo dan figuran.

Berkisah tentang geng-geng yang saling bersaing, pejabat korup dan Mayor Iqbal yang kejam.

Ranveen Singh sebagai Hamza Ali

“Film ini bukan kisah nyata penuh, tapi drama fiksi thriller mata-mata yang terinspirasi  secara longgar dari banyak peristiwa geopolitik, operasi intelijen nyata dan persaingan geng di Lyari, Karachi,” ujar sutradara Aditya Dhar.

Alhasil, film ini campuran fakta sejarah dan spekulasi  dan plot cerita disesuaikan dengan kebutuhan drama.

“Ada fenomena pembajakan K-814 (1999), serangan Parlemen India (2005) dan serangan

ke Mumbai (2008) yang memakan banyak korban jiwa,” imbuh Aditya Dhar.

Hamza Ali dijemput ayah mertua sebagai informan India lama yang berhasil meracuni Dawood sebelum menyusup kedalam jaringan kriminal teroris.

Hamza kemudian meninggalkan identitas samaran dan isterinya, Yulina dan putra nya. Hamza kembali ke India dan menjadi semula Jaskirat  Singh Rangi.

Semula Dhurandhar dibuat satu versi tapi lalu menjadi 2 bagian karena skala nya luas, jumlah cuplikan dan kompleksitas naratif yang seru.

Penutup dwilogi Dhurandhar ini berhasil menjadi film berbahasa Hindi terlaris dan mendepak film Bollywood yang lain. (pik)

Nayato Fio Nuala Wafat: Sutradara dengan Banyak Nama

JAYAKARTA NEWS — Dunia hiburan kembali kehilangan seorang sosok penting. Sutradara Nayato Fio Nuala (63 tahun) wafat setelah enam tahun menderita penyakit stroke dan otak.

Dijadwalkan jenazah Nayato akan dimakamkan di TPU Joglo, Selasa (21/4). Sementara jenazah disemayamkan di Rumah Duka Boen Tek Bio, Karawaci Ilir, Tangsel, Banten.

Pria lajang kelahiran Bireuen, Aceh ini mempunyai banyak nama alias yaitu Koya Pagayo, Pingkan Utari, Ian Jacobs, Ian Nguyen Lampa dan Chiska Doppert. Nama terakhir kemudian dipakai astrada nya.

Jenazah Nayato Fio Nuala akan dimakamkan di TPU Joglo, Selasa (foto noorca)

Raffi Ahmad mengaku bersedih atas wafatnya Nayato dan menganggap Nayato berjasa besar bagi perjalanan karier di dunia film dan televisi.

‘Almarhum membuka jalan saat saya masih berusia 13 tahun di film dan beliau sering memberi pelajaran hidup kepada saya,” kenang Raffi Ahmad.

Sependapat dengan produser Ody Mulya Hidayat dan sutradara Garin Nugroho.

“Nayato sangat disiplin dan bekerja cepat tapi rapi. Dia benar-benar efektif  memanfaatkan waktu di lokasi syuting dan studio,” papar Ody Mulya Hidayat.

Dalam perjalanan kariernya, Nayato membuat 85 film dan 15 sinetron.

Antara lain ‘Ada Hantu di Sekolah’, ‘Hantu Perawan Jeruk Purut’, ‘The Soul’, ‘12.00 AM’, ‘Virgin 2’, ‘Heart 2 Heart’, ‘Kereta Hantu Manggarai’, ‘Ekskul’ dll.

Sinetron yang cukup dikenal antara lain ‘Magic’, ‘Enigma’ dan ‘Cinta Misteri’.

Ekskul film terbaik FFI 2006 (foto indika)

Sebuah film karyanya berjudul ‘Ekskul’ dinobatkan sebagai film dan sutradara terbaik di FFI 2006 namun sempat  ramai menjadi kontroversial.

Nayato dituduh menjiplak tata musiknya yang mencomot dari musik film ‘Gladiator’.

Majelis Film Indonesia yang terdiri atas Mira Lesmana, Riri Riza, Rudi Soedjarwo dan Hanung Bramantyo spontan mengembalikan sebanyak 26 piala Citra ke Mendikbud Jero Wacik.

Dewan Juri FFI 2006 saat itu digawangi tokoh-tokoh terkenal yaitu Noorca Marendra Massardi (Ketua), Rima Melati, Remy Sylado, Embie C Noer dan Eddy D Iskandar.

Badan Pembinaan Perfilman Indonesia (BP2N) kemudian mengetuk palu : membatalkan kembali Ekskul sebagai film terbaik dan Nayato sutradara terbaik di FFI 2006.

Ekskul yang dibintangi Ramon Y Tungka, Metha Yunatria, Shella Mercia, Indra Brasco, Teguh Leo dan Samuel Zylgyn tetap diputar di bioskop dan disesaki penonton.

Ekskul menceritakan pelecehan orang tua di rumah dan penyanderaan siswa SMA.

Selamat jalan Nayato Fio Nuala ! (pik)

Deklarasi Gerakan Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional

JAYAKARTA NEWS—  Mengingat kondisi pengarsipan film Nasional kritis dsn darurat, sejumlah tokoh film  mendeklarasikan dan meneken nota kesepahaman di Sinema Hall, Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail (PPHUI), Jakarta, Kamis (16/4/2029).

Dipimpin Ketua YPPHUI, Sonny Pudjusasono, SH membacakan tuntutan agar  negara merawat dan membantu pengarsipan film secara terpadu dan berkesinambungan.

“Ini sesuai dengan isi UU Perfilman Nomor 33 Tahun 2009 yaitu pemerintah mengambil peran utama,” ujar Sonny mengingatkan kembali bahwa kondisi Sinematek Indonesia telah mendistribusikan sistem analog ke era digital dan dari lokal ke global.

Sonny Pujisasono, SH

Sejak 1974, jadi sudah 52 tahun, Sinematek dan YPPHUI hidup mandiri tanpa bantuan dari Pemerintah.

Master seluloid dan peralatan digital rentan rusak nyaris tak bisa difungsikan lagi.

“Film adalah bukan hanya komoditas melainkan artefak dan peradaban digital ihwal sejarah visual. Sinematek menyimpan rekaman suara dan pengarsipan film agar dapat diwariskan ke anak cucu masa kini dan masa mendatang. Hal ini juga ditegaskan dalam UU Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017,” imbuh Sonny lagi.

UU Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 Tahun 2017  berlandaskan hukum guna meningkatkan ketahanan dan kontribusi budaya Indonesia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan yang berfokus pada objek tradisi lisan, adat istiadat, seni dan permainan rakyat yang terkait jati diri bangsa.

Gerakan Penyelamatan Pengarsipan Film Nasional (foto toto)

Disaksikan Direktur Film, Musik dan Seni (FMS) Kemenbud dan Ketum Badan Perfilman Indonesia (BPI) yang baru terpilih, Fauzan Zidni, deklarasi diteken oleh tokoh-tokoh film yaitu Heidy Hermia (Sekretaris YPPHUI), DR Uri Tadmor (Belanda), Orlando Bass (Bali), Ferry Hanief (Kepala Sinematek RI) dan Maya Sutanti  (Kepala Perpustakaan Film). (pik)

Emir Mahira Jadi Ustad di ‘Kupilih Jalur Langit’

JAYAKARTA NEWS – Jalur langit adalah istilah kekinian guna meningkatkan spiritual seseorang.

Misalnya ketakwaan, doa, salat tahajud, sedekah subuh, istighfar dan membaca Surah Al Waqiah.

Ini dilakukan minta pertolongan Allah SWT untuk melancarkan rezeki dan mendatangkan keajaiban.

Aktor Emir Mahira (28 tahun) didapuk sutradara Archie Hekagery berperan sebagai ustad ganteng di film drama religi berjudul ‘Kupilih Jalur Langit’ yang akan dirilis di bioskop 23 April 2026.

“Sebagai ustad muda bernama Furqon. Mulanya saya terkejut. Kan saya jauh dari Islam. Maklum, selama ini saya studi di Kanada,” ujar Emir Mahira polos.

Namun, akhirnya ia menerima tawaran itu.

“Secara logika, saya ingin mendekatkan diri pada spiritualitas. Ini bukan sekadar profesi pekerjaan tapi tentang perjalanan spiritual saya sebagai hamba Nya,” ungkapnya.

Dengan kata lain, bagi Emir, ini adalah kesempatan terbaik setelah lama ia jeda dalam memahami agama.

“Saya rindu mendalami Islam. Dan di film, ustad studi di Universitas Muhammadiyah di Malang,” imbuh Mahira.

Ia lalu dijodohkan dan menikah penuh emosi dengan Amira (Zee Asadel Jkt 48), santriwati yang rajin beribadah.

Bagaimana liku-liku perjalanan ustad Furqon dan Amira dalam membina rumah tangga digambarkan secara lucu dan tenang.

Amira hudup hampa. Sebagai isteri, ia tak disentuh Furqon yang rajin salat tapi mengabaikan isterinya. Kewajiban biologis sebagai tugas suami tak diterapkan.

“Semoga film ini membawa manfaat bagi penonton. Saya bersyukur jadi ustad yang kembali ke ajaran agama,” harap Emira.

Berdurasi 98 menit, produksi MD Pictures dan Manara Films yang diproduseri Manoj Punjabi ini dibintangi sederet pemeran yaitu Emir Mahira, Zee Asadel, Ratu Rafa, Neneng Wulandari, Dina Lorenza, Surya Saputra, Putri Ayudya, Irgi Fahrezi dan cameo lain. (pik)

Poster ‘Aku Harus Mati’ Diturunkan Satpol PP Jakarta, Jumlah Penonton Naik?

JAYAKARTA NEWS— Poster film ‘Aku Harus Mati’ di Jakarta menuai kontroversi. Satpol PP Jakarta akhirnya menurunkan billboard poster tersebut karena ramainya keluhan dan menimbulkan keresahan serta protes masyarakat.

Poster yang dipasang awal April 2026 berlatar belakang makhluk berwarna biru dan bermata merah.

Kasatpol PP DK Jakarta, Satriadi Gunawan mengaku poster tersebut sangat sensitif dan mengganggu arus lalu lintas.

Dipasang di tiga titik di Jakarta Barat dan Jakarta Pusat yaitu di Purikembangan, Dan Mogot km 11 dan perempatan pos polisi Harmoni.

Poster Film ‘Aku Harus Mati’ sebelum diturunkan satpol PP Jakarta (foto pemprov dkj)

Gubernur Jakarta, Pramono Anung menegaskan hal ini tak boleh terulang lagi.

Kemenkes dan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) juga mengecam pemasangan poster tersebut.

Sutradara ‘Aku Harus Mati’, Hestu Saputra merespon poster yang mencuatkan ketaknyamanan masyarakat. “Dua hari baru dipasang dan secara bertahap telah diturunkan,” ujarnya.

Sutradara Hestu Saputra

Ia merepresentasikan isu yang diangkat dalam film yaitu seorang wanita yang dililit hutang pinjol dan Paylater bertumpuk.

Produser Iwet Ramadhan mengungkapkan akan taat  pada aturan yang berlaku. “Poster dibuat dan dipasang sudah melalui proses penilaian lembaga terkait,” cetus Iwet Ramadhan.

Aku Harus Mati diproduksi oleh Rollink Action dan sudah diputar pada gala premier di XXI Epicentrum Walk, Jakarta Selatan.

Apakah dengan adanya kasus penurunan poster di tiga titik Jakarta akan menimbulkan menaiknya angka penonton (karena penonton ingin tahu ceritanya) ataukah publik akan muak dan menjauhi bioskop yang menayangkan film Aku Harus Mati, kita lihat saja nanti. (pik)

Pernikahan Tanpa Cinta di “Kupilih Jalur Langit”: Saat Masa Lalu Suami Masih Menghantui

JAYAKARTA NEWS — MD Pictures resmi merilis trailer film Kupilih Jalur Langit yang langsung mencuri perhatian publik. Film ini mengangkat kisah pernikahan yang tidak berjalan sesuai harapan, memperlihatkan realita pahit ketika cinta tak sepenuhnya hadir dalam sebuah ikatan suci.
Diadaptasi dari kisah viral di TikTok karya Elizasifaa dan disutradarai Archie Hekagery, film ini menjadi proyek terbaru MD Pictures yang kembali mengangkat cerita emosional tentang hubungan manusia. Kolaborasi dengan Manara Films diharapkan mampu mengulang kesuksesan karya sebelumnya.
Trailer menampilkan kehidupan Amira yang diperankan Zee Asadel, bersama Furqon yang dimainkan Emir Mahira. Alih-alih menikmati kebahagiaan sebagai pasangan baru, Amira justru dihadapkan pada kenyataan bahwa suaminya masih menyimpan perasaan untuk sosok dari masa lalu, Dara.
Konflik batin Amira menjadi sorotan utama, terutama saat ia harus menerima kenyataan bahwa pernikahan yang dijalaninya tidak sepenuhnya dilandasi cinta. Sementara itu, karakter Furqon digambarkan kompleks, tanpa benar-benar ditempatkan sebagai sosok antagonis.
Menurut Manoj Punjabi, kisah ini mencerminkan realitas yang banyak terjadi di masyarakat, terutama tentang hubungan yang tidak selalu berjalan sesuai ekspektasi. Ia menilai cerita ini memiliki kekuatan karena dekat dengan kehidupan nyata.
Zee Asadel mengungkapkan bahwa perannya sebagai Amira menggambarkan pergulatan emosi seorang perempuan yang merasa tidak dicintai sepenuhnya. Di sisi lain, Emir Mahira menilai film ini akan memicu perdebatan karena menghadirkan sudut pandang yang beragam dari tiap karakter.
Trailer ditutup dengan adegan emosional saat Amira mempertanyakan takdir pernikahannya. Ia dihadapkan pada pilihan sulit, antara bertahan atau melepaskan, di tengah luka yang terus menghantui.
Film Kupilih Jalur Langit dijadwalkan tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai 23 April 2026. Kisahnya diharapkan mampu menyentuh perasaan penonton sekaligus menjadi refleksi tentang makna cinta, keikhlasan, dan menerima kenyataan.(Agus Oyenk)

Hari Film Nasional: Quo Vadis?

JAYAKARTA NEWS— Apa itu Film Nasional? Setiap tanggal  30 Maret kita memperingati Hari Film Nasional (HFN) dan tahun ini yang ke 76 (1950 – 2026).

Pada 30 Maret 1950 dimulailah produksi film yang seluruh pemeran dan kru nya orang pribumi Indonesia. Usmar Ismail, sutradara asal Minang membuat film berjudul ‘Darah dan Doa’ (The Long March).

Berbagai acara dan seremoni dihelat memperingati HFN di Banten oleh Pemerintah.

Tanggal 1 April 2026 di jaringan bioskop CGV, Grand Indonesia, Jakarta diputar film ‘Darah dan Doa’ secara gratis dengan pembicara sineas Joko Anwar (Jokan).

Di XXI Epicentrum Walk, Rasuna Said, Jakarta, digelar gala premier film ‘Hostage’s Hero’ yang resmi akan dirilis 2 April 2026.

Memang, suasana HFN masih gegap gempita ber aroma Lebaran.

Ada 6 film nasional tayang sebelum, selama dan paska Lebaran (2 genre drama, 2 horor dan 2 anak). Gedung bioskop dipenuhi penonton yang berjejal membeli tiket secara ‘mtic’ dan antre yang nyaris ‘mengalahkan’ penonton film asing.

“Film adalah wajah kita di mata dunia. Soft diplomacy yang paling terasa. Sebagai negara ‘mega divercity’, dari sana Indonesia dikenal  lewat cerita yang jujur dan dekat’ demikian pesan Menteri Kebudayaan, DR Fadli Zon menyambut HFN.

Noorca Marendra Massardi, Wakil Ketua LSF

Sutradara Adi Suryaabdy menyatakan bahwa 30 Maret sebagai pengingat ada keberanian menyatakan sesuatu :

“Ini film Indonesia !”.

Wajar ?

Adi Suryaabdy (ASA) juga mengeluarkan kritik dan uneg-unegnya.

“Kita sedang membangun industri yang timpang. Sebagian film nasional memenuhi layar bioskop namun sebagian lagi  beroleh sisa nya alias lama menanti jadwal tanggal tayang,” ucap ASA.

HFN lahir untuk memperbaiki kondisi itu.

Dikatakannya, kita tak menolak pasar tapi keberanian tak boleh hilang,” tegasnya.

Masa depan film Indonesia tidak ditentukan oleh penonton di hari Lebaran.

Tapi tetap berani menjaga makna di belakang setiap cerita.

Senada ucap Wakil Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Noorca Marendra Massardi.

“Di tengah tekanan komersial dan eksploitasi pasar, sineas Indonesia tetap berani jujur dalam berkarya. Ini adalah bentuk perlawanan paling sunyi dan paling penting,” urai Noorca yang budayawan dan wartawan yang lama studi sinematografi di Perancis.

Simak puisi budayawan dan aktor Yose Rizal Manua ihwal film.

“Film adalah gambar hidup yang direka dan diramu dari sastra, drama, musik, teater, tari dan senirupa dengan adonan bentuk warna, nada, irama, tempo, ruang, komposisi dan harmoni yang berkelindan dan yang menuntut fiksi menjadi realita,” timpal Yose Rizal Manua yang bermain elok di film ‘Pangku’ debut sutradara Reza Rahadian.

Last but not least, quo vadis  (sedang menuju kemana) film Indonesia ? (pik)

Laut Bercerita Raih 2 Penghargaan di Hong Kong

JAYAKARTA NEWS—  Film ‘Laut Bercerita’ (The Sea Speaks his Name) karya sutradara Yosep Anggi Noen meraih dua penghargaan bergengsi di Hong Kong Asia Film Financing Forum (HAF) 2026.

Laut Bercerita diangkat dari novel laris karya Leila S Chudori dan merupakan produksi perdana dari PAL8 (Palmerah 8) yang diproduseri Budi Setyarso, wartawan senior majalah Tempo.

Dua penghargaan tersebut yaitu HAF Work in Progres (WIP) dan HAF Goes to Cannes 2026.

HAF adalah forum industri tahunan bergengsi yaitu pertemuan dan diskusi dengan sineas dan distributor.

HAF WIP diberikan kepada film dengan orisinalitas dan kreatifitas yang dinilai luar biasa. Sedangkan HAF Goes to Cannes membuka kesempatan kepada pemenang berpartisipasi di Marche du Film dalam rangkaian Cannes FF 2026.

“Saya bersyukur Laut Bercerita bisa meraih dua penghargaan di HAF 2026.Ini memacu saya membuat film berbobot lagi,” ucap Yosep Anggi Noen, sineas asal Sleman, Jogjakarta, di Instagram resminya.

Foto: Instagram lautbercerita

Senada produser Gita Fara.

“Ini langkah strategis bagi masa depan film tersebut,” tutur Gita Fara yang menambahkan, syuting Laut Bercerita dilakukan selama 37 hari di Semarang, Salatiga, Sukabumi dan Jakarta.

Laut Bercerita berkisah tentang penculikan dan penyiksaan aktifis mahasiswa yang menentang Orde Baru.

Saat itu, tulisan dan bacaan adalah bentuk perlawanan sekelompok mahasiswa dari jurusan Sastra Inggris di Kampus yang mendirikan grup Wanatra.

Laut Bercerita dibintangi sederet pemeran yaitu Reza Rahadian, Yunita Siregar, Christine Hakim, Dian Sastrowardoyo, Eva Celia, Kevin Julio, Lukman Sardi, Arswendy Bening Swara, Yoga Pratama, Ben Nugroho, Daya Dayana, Nugra Kautsar, Natalius Chendana dan Afrian Arisandy.

Kelar syuting dan tayang 2026, PAL8 menggebrak lagi dengan memproduksi 2 film tentang biopik Munir dan tragedi bola Kanjuruhan. (pik)

Danur 4 The Last Chapter: Penutup Saga Danur

JAYAKARTA NEWS—  Dalam bahasa Sunda, danur adalah cairan air basah yang keluar dari tubuh jenazah manusia yang sudah membusuk. Dalam konteks agama, dikaitkan dengan deskripsi air yang diminum ahli neraka.

Danur 4: The Last Chapper yang disutradarai Awi Suryadi ini penutup saga Danur yang hampir 10 tahun menemani penonton.

Saga adalah cerita rakyat/kisah epik yang panjang dengan bumbu fantasi yang berkisah ihwal petualangan heroik dan sejarah keluarga.

Produksi MD Pictures yang tayang 18 Maret 2026 sebagai film Lebaran ini di hari pertama sukses meraih banyak penonton dan paling unggul dibanding 5 film Lebaran lain.

‘Gerbang Dialog Danur’

Diangkat dari buku karya Risa Saraswati berjudul ‘Gerbang Dialog Danur’ yang lalu skenarionya ditulis Lele Laila ini merupakan kisah nyata tentang pengalaman indigo Risa Saraswati.

Bertahun-tahun berpisah dengan teman hantu bule nya (peter, william, jansen, hans dan hendrik), Risa kini kembali menjalani hidup tenang dan menutup gerbang komunikasi dengan semua hantunya.

Namun, segalanya berubah saat gerak gerik adiknya yang bernama Riri tampak janggal saat di hari pernikahannya.

“Danur buat aku bukan film saja tapi perjalanan karirku secara emosional dan perjalananku awal di ranah horor. Semoga penonton dapat kesan manis,” ujar Prilly Latuconsina yang berperan sebagai Risa selama empat kali.

Awi Suryadi, sutradara (foto ffi)

Prilly berharap penonton terhanyut dalam alur cerita dan karakter yang mati berulang kali yang fenomena aneh selama bertahun-tahun.

“Ini cara aneh Peter cs dan hantu bule nya untuk menyampaikan pesan,” imbuh Prilly yang di film penutup ini terpaksa membuka mata batinnya guna menguasai kejanggalan yang mengancam keselamatan adiknya, Riri.

Zee Asadel, biduanita dan penari di Jkt 48 di film ini unjuk kebolehan  menari ballet di sebuah gedung pertunjukan tua nan misterius.

“Ini fantastis. Aku menari bersama puluhan ballerina lain kemudian tubuhku  diangkat dan dibopong ke atas. Aku seperti trance (kesurupan) terseret oleh kekuatan gaib. Padahal ini cuma akting,” kenang Zee Asadel.

Sutradara Awi Suryadi berterima kasih atas partisipasi dan antusiasme terhadap Danur 4 ini.

“Ini luar biasa diluar ekspetasi kami. Dan saya akan tetap memfokuskan ke genre horor yang tetap unggul dan laris di Indonesia,” ungkap Awi Suryadi yang sebelumnya berjaya di film horor ‘KKN di Desa Penari’.

Zee Asadel (foto md)

Sebangun pendapat produser Manoj Punjabi.

“Kami akan terus membuat film-film berkelas yang bermutu dan disukai penonton. Horor oke, drama tentang manusia dan kehidupannya juga kami sajikan” urai Manoj Punjabi yang sedang mempromosikan film ‘Children of Heaven’ yang akan tayang di bulan April  nanti.

Selain Prilly Latuconsina dan Zee Asadel, Danur 4 yang berdurasi 1 jam 38 menit ini juga dimeriahkan segerobak pemeran yaitu Dito Darmawan, Dian Nitami, Said Darian, Fajar Nugra, Pritt Timothy, Fillio Dheno, Anya Zen, Gilang Devialdy, Rewis Robert, Muhammad Fauzan, Ayden Jeffrey dan banyak cameo lain. (pik)