KLA Project Rilis Vinyl Klakustik

JAYAKARTA NEWS— Grup band KLA (Katon, Lilo dan Adi Adrian) Project kini sudah berusia 36 tahun.

Baru-baru ini, KLA resmi merilis double album vinyl (piringan hitam) live ‘KLakustik’ dibawah naungan label Pro Sound. Album yang berisikan 16 lagu ini terbaik ini direkam ketika mereka berkonser di GKJ tahun 1996.

“Kami buat album rekaman live enggak sekedar audio, tapi ada juga visual-nya. Ini proyek langka dari record live,” kata Katon Bagaskara (vokal, gitar).

“Kala itu, khalayak dan jurnalis diundang secara gratis tanpa membayar. Video klip dibuat di TVRI. Audionya di Pro Sound,” ujar Lilo alias Romulo Rajadin (vokal, gitar).

KLA dan vinyl ‘KLakustik’ (foto ipik)

Diungkapkan Adi Adrian (piano), 16 lagu terbaik dipilih dari banyak nomor hits KLA. “Antara lain lagu ‘Terpuruk Ku Disini’, ‘Tentang Kita’, ‘Tak Bisa Ke Lain Hati’, ‘Yogyakarta’ dan dua lagu baru yang dirilis hari itu yaitu ‘Gerimis’ dan satu lagu baru lain,” tutur Adi Adrian.

Katon menambahkan, sejak kecil ia kerap membaca puisi-puisi cinta khususnya dari penyair Sapardi Joko Damono dan WS Rendra. “Yah pas dan cocok ketika saya menulis lagu tentang cinta. Ini formula lagu-lagu KLA. Puitis dan romantis,” imbuh Katon.

Dipaparkannya, puisi yang indah adalah kekuatan sebuah lagu. “Kita mendesainnya secara puitis dan sentimental. Enggak harus susah,” “Saya ingin membuat lagu yang didengar orang sampai 100 tahun lagi,” tegas Katon.

Produser Pro Sound, Adi Nugroho mengaku KLA Project layak menghadirkan vinyl dari album ‘KLakustik’. “Sebagai bukti perjalanan KLA di dunia musik sejak dulu,” jelas Adi Nugroho.

Double album vinyl KLakustik dibanderol seharga Rp 888.000,- dan sudah bisa didapatkan di PHR Senayan dan Atlas.

Guna menyapa KLAnis (fans fanatik KLA Project), KLA Corp akan menggelar konser ultah ke 36 di Istora Senayan pada 25 Oktober 2024 mendatang. “Tiket 90 % sudah sold out,” demikian Lilo mengakhiri perbincangan. (pik)

Kadri Remake ‘Karmila’: Suaranya Anugerah Alam

JAYAKARTA NEWS— Ingat lagu ‘Karmila’ ingat pencipta dan penyanyinya Farid Harja, vokalis band Bani Adam (1977). Kini, lagu klasik ini diremake oleh Kadri dengan label Nagaswara dan diproduseri Lilo KLA. Single ini diluncurkan di anjungan Sarinah Jakarta baru-baru ini.

Vokal Kadri yang berciri vibrato dan tidak biasa membuktikan musikalitas penyanyi yang dijuluki ‘the singing lawyer’ ini. “Kadri enggak meniru Farid Harja namun karakter kuat dirinya adalah anugerah alam,” ujar Lilo.

Lilo memang piawai mencari suara vibrato Kadri dan mengubahnya dari zona nyaman.
“Saya mau generasi kiwari bisa merespon dengan mudah lagu ini. Saya menerjemahkan aransemen Karmila lewat bahasa jelajah masa lalu dan pendekatan musik modern. Dan ini merupakan single pertama Kadri setelah bertahun-tahun bernyanyi dengan band,” estimasi Lilo.

Bagaimana pendapat dan kesan Kadri ?

“Saya merasa bisa melakukan power pop yang kuat bersama Lilo,” tutur Kadri.
Dikatakannya, bahasa visual menjadi elemen sangat penting di narasi lagu Karmila.

“Visual di musik video Karmila ini juga diharapkan menjadi materi yang sesuai untuk profesi saya sebagai rocker dan biduan, namun juga mumpuni di jalur karir lewat profesi lawyer yang saya tekuni,” imbuh Kadri yang sudah membentuk band Kadri Karmila yang melibatkan unsur musik, gaya dan fashion.

CEO Nagaswara, Rahayu Kertawiguna mengaku sudah lama memerhatikan ciri vokal Kadri.
“Dikiranya Kadri bercanda. Tahunya dia serius. Harapan saya semoga single Karmila menjadi narasi dan tafsir musik power pop dan dapat menarik perhatian pencinta musik Indonesia khususnya anak-anak gen Z berkualitas,” tegas Rahayu Kertawiguna penuh doa. (pik)

Sekawan Limo: Berdamai dengan Masa Lalu

JAYAKARTA NEWS— Komedian Bayu Skak kembali membawa film berbahasa Jawa (seperti ‘Yo Wis Ben’) dengan sentuhan berbeda dari sebelumnya. Kali ini, melalui ‘Sekawan Limo’, ia ingin menawarkan genre komedi horor yang menyinggung soal mitos dalam dunia pendakian gunung di Jawa Timur.

“Horor yang saya usung bukanlah kengerian yang membuat merinding dan teror. Justru, di sini horornya ingin ditertawakan dan menjadi hiburan penuh tawa,” kata Bayu Skak.
Melalui para karakter di film produksi Starvision dan Skak Studios ini, ia ingin mengajak penonton ingin berdamai dengan masa lalu mereka.

“Apa yang dibutuhkan adalah menghadapinya, alih-alih lari dari menghindar,” ungkapnya.
Bayu Skak menambahkan dengan menonton film ini bisa bikin kita lupa sejenak sama beratnya kehidupan.

“Apa pun situasinya. Entah itu buruk, bahagia, semua ya dihadapi dan jangan menghindari,” gelak Bayu yang juga jadi pemeran utamanya.

Produser Chand Parwez Servia menerangkan, cerita ‘Sekawan Limo’ akan menjadi sajian hiburan yang mampu membawa penonton rileks sejenak dari penatnya rutinitas.

“Bayu Skak kembali membawa kesegaran humor ringan universal digabung humor khas Jawa Timuran dengan mitos wewe gombel, pocong dan genderuwo yang kerap kita temui di pendakian gunung,” beber Chand Parwez Servia.

Film yang akan beredar 4 Juli 2024 ini mengikuti kisah Bagas, Lenni, Dicky, Juna dan Andrew yang dipersatukan ketika mendaki Gunung Madyopuro. Penjaga pos pendakian mewanti-wanti rombongan harus genap dan dilarang menoleh ke belakang atau akan ada yang mengikuti!

Namun, mereka gagal mematuhi mitos. Dan sepanjang perjalanan terus menerus, dihantui.
Setelah tersesat hingga malam 1 Suro, akhirnya mereka sadar kalau dari berlima, salah satunya bukanlah manusia, dan mulai saling tuduh siapa yang sebenarnya hantu di antara mereka

Film ini dibintangi oleh Bayu Skak, Nadya Arina, Keisya Levronka, Dono Pradana, Benidictus Siregar, Indra Pramujito, Firza Falaza, Devina Aureel, Cak Kartolo, Tini Kartolo, Tri Karnadinata, Beta Sofiansyah, Audya Ananta, Angie Williams, Sarah Tumiwa, Arif Alfiansyah dan Cak Ukil dll. (pik)

Lagu Karya Tono Supartono Direkam Ulang

JAYAKARTA NEWS— Musikus dan komposer Tono Supartono telah wafat beberapa tahun silam. Namun, kali ini karyanya direkam ulang atas inisiatif anaknya, Dimas Supartono.

Single berjudul ‘Jujur Saja’ yang dilantunkan Ira Batti dan diiringi piano oleh Andi Rianto sudah bisa didengar di banyak radio di Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Kediri, Malang, Solo dan Bali.

Video clipnya di Youtube Channel juga sudah bisa dinikmati.

“Saya bangga dan bahagia karya ayah saya berkumandang lagi. Semoga lagu ini bisa dinikmati dan abadi,” ucap Dimas Supartono.

Anak pertama dari pasangan almarhum Toni Supartono dan almarhumah Upiek Supartono ini belakangan memang sibuk di properti dan bisnis kuliner. Akan tetapi Dimas tetap melanjutkan kegiatan ayahnya di industri musik.

“Industri musik terus berkembang pesat. Dan penyanyi pendatang baru berbakat tetap tampil baik di layar televisi maupun di panggung pertunjukan,” tutur Dimas lagi.

Tono Supartono selama hidupnya kerap mengajak banyak penyanyi muda merekam lagu.
Sebuah karya lagunya bertajuk ‘Keagungan Tuhan’ yang dibawakan Eddy Silitonga pernah masuk dalam ajang Lagu Cipta Lagu Radio Prambors tahun 1978.

Toni Supartono juga mendirikan Magenta Orkestra bersama Indra U Bakrie dan Andi Rianto. (pik)

Billy Christian Rilis Film ‘Marni, Story of Wewe Gombel’

JAYAKARTA NEWS— Film bergenre horor masih marak di tahun 2024 – 2025. Salah satu film horor yang akan beredar Kamis (27/6) berjudul ‘Marni, the Story of Wewe Gombel’ yang disutradarai Billy Christian.

Billy lulusan Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Dari 10 film yang dibuatnya, 7 adalah bertema horor/thriller (‘Petak Umpet Minako’, ‘Rumah Malaikat’, ‘Tuyul’, ‘Mereka Yang Tak Terlihat’ dan ‘Losmen Melati’).

Sutradara ini juga aktif sebagai konten kreator yang membahas dunia supra natural.
Dalam film terbarunya produksi Sien Entertainment, RA Pictures, Legacy, A & Z Film dan JJ Global Group ini memadukan horor dan laga (action).

“Ini hasil pikiran saya. Pengarah laga saya tunjuk Uwais Team yang menggabungkan koreografi fighting. Penggabungan ini belum diekspose sineas kita,” kata produser Fransen Susanto mantap.

Ihwal kerapnya membuat genre horor dan dunia hantu, Billy Christian mengaku hantu itu dinamis, tidak statis. “Untuk adegan laga semua pemeran melakukannya asli. Jadi bukan stunt man (pemeran pengganti),” beber Billy.

Iko Uwais dari Uwais Team memaparkan film ‘Marni’ ini warnanya beda. “Selain kita tampilkan adegan seram dan mencekam, film ini juga menyandang pesan feminisme, tentang keutuhan keluarga dan perjuangan single parent,” tutur Iko Uwais.

Sederet pemeran senior dan junior membintangi film ini : Ismi Melinda, Hannah Al Rashid, Amanda Rigby, Shaarifa Daanish, Reza Hilman, Mathias Muchus, Roy Marten, Volland Humonggio, Djenar Maesa Ayu dan Athar Barakhah.

Mitos Wewe Gombel dipercaya masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Barat kedua payudaranya panjang dan besar, rambut acak-acakan dan pakaiannya lusuh dan kotor.

“Ada yang bilang Nenek Gombel dan kerap menculik anak-anak yang diabaikan orang tua nya. Muncul saat matahari terbenam. Di Kalimantan juga ada cerita nenek Belau yang doyan kotoran kucing,” imbuh Billy lagi.

“Saya optimis cerita Wewe Gombel bisa diterima masyarakat kita. Bahkan, film ini juga akan tayang di Korea Selatan. Jadi kedepannya kita akan mengimpor hantu gombel, pocong, sundel bolong dan kuntilanak ke Korea dan negara lain,” timpal Fransen Susanto yang bekerjasama dengan Raffi Ahmad (RA Picture) dan Iko Uwais. (pik)

Syaharani Ibrahim: Saya Nggak Pernah Bermimpi Jadi Penyanyi Jazz

JAYAKARTA NEWS— Meski Saira Syaharani Ibrahim sudah berkali-kali menyanggah dirinya bukan penyanyi jazz, namun khalayak tetap berpendapat sebaliknya.

“Saya enggak pernah bermimpi jadi penyanyi jazz,” ujar Rani sewaktu unjuk diri dalam konser musik di Lounge XXI Plaza Senayan, Jakarta, baru-baru ini.

Namun, karena dia dikelilingi musisi jazz, lama kelamaan Rani menemukan jiwanya ke jazz.
“Jadi saya dikenal karena menyanyikan lagu jazz. Sejak kecil saya akrab dengan jazz. I love jazz,” tuturnya.

Dia bilang sudah bikin pagar. “Tapi larinya ke sini lagi. Jazz. Saya bertemu banyak dedengkot jazz dan juga blues. Aransemen dan warnanya ke sini lagi,” sambung Rani yang malam itu dia melantunkan empat nomor jazz.

Lagu pertama, digebrak ‘What A Wonderful World’ yang aslinya dibawakan Louis Armstrong.
“Saya juga merekam lagu ini di Sangaji Musik. Musiknya dibuat oom Bubi Chen. Ini versi saya,” cerita Rani.

Menyusul lagu ‘Come Fly to Me’ yang dicomot dari album Frank Sinatra.

Baru lagu ke tiga berlirik bahasa Indonesia. Judulnya ‘Tersiksa Lagi’.

Rani dan Alfred Ayal (foto ipik)

Dan Rani mengakhiri lagu pamungkas bertajuk ‘You to Me are Everything’ milik The Real Thing. Rani berduet dengan biduan Alfred Ayal dan biduanita Nathalie.

Rani tarik suara ramai-ramai. Ia turun panggung dan mengajak khalayak ‘joget tipis-tipis’ mengelilingi arena.

Vokal Rani serak-serak berkarakter. Dijuluki ‘lady jazz Indonesia’ kelahiran Batu, Malang (Jawa Timur) ini lihai berkomunikasi dan menyapa khalayak dan mengajaknya bernyanyi bareng.

Sekali-sekali dia duduk di sebelah fans nya dan menyodorkan mick ke khalayak. Menyapanya dan beruluk salam.

“Selamat buat pak Benny Suherman dan ibu yang malam ini merayakan 52 tahun pernikahan. Juga pak Antonius yang ultah ke 62. Happy buat semua,” imbuh Rani. Ini salah satu kiat dan gimik Rani menambah semarak suasana.

Penyanyi berdarah Bugis ini meniti karir musiknya sejak kecil. Mendirikan band Queenfireworks pimpinan Donny Suhendra dan merekam album perdana bertajuk ‘Love’ (1999) berisi 11 lagu bernuansa jazz, fusion, elektronik n hip hop.

“Saya sebut ini psikedelik musik ‘Magma’. Irama musiknya ringan, simpel, segar, kreatif, dan komunikatif,” urainya.

Rani juga berkolaborasi dengan penyanyi bergenre pop, seperti Iwan Fals, Slank, Dian Pramana Putra, Fariz RM dan Erwin Gutawa.

Rani yang pernah mewakili Indonesia ke North Sea Jazz Festival di Belanda ini juga pernah mendampingi beberapa artis musik yang konser di Jakarta dan beberapa kota diantaranya Al Jarreau, Dave Koz, Yellow Jackets, Keith Martin dan Fourplay.

Sepanjang karir musiknya Rani kerap tampil di perhelatan jazz di dalam negeri seperti Jak Jazz, Java Jazz, Jazz Gunung, Ngayogjazz dan Asean Jazz di Batam.

Menutup konser, Alfred Ayal dan Ayalas Band mempersembahkan beberapa nomor Queen seperti ‘Somebody to Love’, ‘Bohemian Rhapsody’ dan ‘We Are the Champion’. Plus dua lagu bernuansa progresif rock dari Chicago ‘It’s Hard to Say I’m Sorry’ dan ‘Give it Up’ lagu lawas bernada riang milik KC & Sunshine Band.

Hampir seluruh khalayak berjoget membentuk polonaise dan ular-ularan.
Malam semakin larut. Dan semoga bermimpi indah. (pik)

Anggun Pradesha: Melawan Stigma Seksual Jadi Sutradara Film

JAYAKARTA NEWS— Delapan tahun meninggalkan rumahnya di Jambi. Hengkang ke Bandung. Ditemani 2 kawannya sesama waria, Agung alias Anggun Pradesha (30 tahun) akhirnya berani balik ke Jambi menemui ayahnya.

“Orang-orang minoritas seperti saya perlu waktu. Rumah dulu adalah tempat aman dan nyaman,” cerita Anggun di at-america, Jakarta dalam diskusi usai pemutaran film ‘Balek ke Jambi’ karya Anggun.

Namun, rumah dalam dirinya juga merupakan neraka. Pasalnya, ayahnya tidak bisa menerima anaknya yang berstatus transgender alias waria.

“Masalah hidup kan beda dalam diri kita. Saya keluar dari rumah membangun kehidupan baru. Risikonya, mental harus kuat,” beber Anggun.

Kesulitan ekonomi, ejekan dan ancaman aparat makin menyudutkan Anggun. Ejekan dan cercaan seperti ‘penis kamu udah mati. Enggak bisa bangun ya?’ atau ‘ukuran penis kamu kecil?” kerap diterimanya.

Tapi telinganya sudah berdinding tebal.

Awalnya, Anggun melacurkan di jalanan, tapi ia sering dikejar dan digebuki polisi.
Ia banting setir. ‘Learning by doing’, jika ada kesempatan ia ingin belajar dan berkarya.
Kepada produser dan sineas Nia Dinata yang dikenalnya, Anggun belajar tentang kiat membuat film pendek.

“Saya berjuang sendirian dan harus bisa merebut ruang ini yaitu film,” urainya.
Dan jadilah karya film pendeknya bertajuk ‘Balek ke Jambi’ yang berdurasi 24 menit.

Harapan pertama adalah ibu kandungnya. Lalu teman-teman lama dan guru SMK.
Melalui Impact dan Kalyana Shira milik Nia Dinata, film ‘Balek ke Jambi’ memperoleh apresiasi yang hangat dan simpati berlimpah.

Saat diputar di Riau, Bengkulu, Sumsel, Lampung, Sulsel, Kalsel, Jambi dan Jakarta, film ini disambut gegap gempita.

“Jujur, saya ingin melawan stigmatisasi seksual melalui film. Produk film ‘halal waria’ yang saya buat ini menciptakan inklusivitas yang sangat besar,” papar Anggun.

Dukungan penuh datang dari Nia Dinata (‘Arisan’, ‘Ca Bau Kan’, ‘World Without…’) yang ingin mengubah persepsi waria melalui film.

“Harapan saya, orang tua mau menerima anaknya yang transgender secara utuh. Kita harus bisa membangun ruang bersama yang aman dan nyaman,” timpal Nia Dinata.

Nia Dinata juga mendirikan program dan ruang dialog serta diskusi yang diberi nama ‘Rumah’.
“Semua film dan produk budaya Rumah dan Kalyana Shira ini non-profit alias gratis. Bagi LSM, organisasi, komunitas dan lembaga lain, kontak kami dan kami akan merespon secepatnya,” janji Nia Dinata optimis. (pik)

Ipar Adalah Maut: Gara-gara Berselingkuh, Dihujat dan Dimaki

JAYAKARTA NEWS— Aktor Deva Mahenra semula terkejut menerima tawaran dari sutradara Hanung Bramantyo dalam film ‘Ipar adalah Maut’. Pasalnya, Deva dikisahkan terlibat hubungan terlarang dengan ipar alias adik isterinya.

“Saya sebagai Aris menikah dengan Nisa. Sejak iparnya bernama Rani tinggal serumah, timbul bencana. Rani kerap berpakaian seksi dan mulai pdkt terhadap Aris,” cerita Deva Mahenra polos.

Perselingkuhan semakin intens. Semula Nisa curiga. Suatu hari, Nisa memeriksa hp Aris dan betapa kagetnya Nisa melihat video tak senonoh yang dilakukan antara suaminya, Aris dan adik kandungnya, Rani.

Marahlah Nisa. Ia tak mengira Aris berkhianat dan adik kandungnya melakukan perselingkuhan dan hubungan terlarang terhadap Nisa. “Saya siap dihujat dan dimaki emak-emak dan penonton se Indonesia,” tutur Deva Mahenra tersenyum.

“Saya menantang orang yang menghujat saya. Akan saya lawan mereka. Tokoh Aris yang saya perankan itu hanya ada di film. Dalam kenyataannya, saya enggak punya ipar. Jadi, aman,” aku Deva Mahenra lagi.

Memang, isteri Deva, Mikha Tambayong adalah anak tunggal dan enggak punya saudara.
Sebaliknya, sosok Nisa yang diperankan Michelle Ziudith selama syuting selalu marah-marah dan emosi.

“Hingga Michelle Ziudith pingsan dan kakinya yang terluka menginjak pecahan beling harus diobati. Saya merasa salut melihat akting dia yang enggak mau diduakan Aris,” imbuh Deva Mahenra.

Film produksi MD Pictures ini diangkat dari kisah nyata berdasar utas dari medsos, hanya nama-nama tokohnya dirahasiakan. Cerita ini kemudian ditulis ulang oleh Eliza Sifaa dan beroleh simpati dari pembaca terutama kaum wanita.

Diakurasi 13 tahun oleh LSF, ‘Ipar adalah Maut’, juga dibintangi Davina Karamoy, Alesha Fadillah, Dewi Irawan, Asri Welas, Adam Farrel, Rukman Rosadi, Devina Aureel dan Akbary Noor.

Bagi suami yang akan berselingkuh, perhatikan saja gesture dan improvisasi Deva Mahendra, aktor berbakat dari Makassar ini. (pik)

Hanny R Saputra Angkat Klenik Jawa ke Film

JAYAKARTA NEWS— Malam Satu Suro adalah malam Tahun Baru dalam kalender Jawa.
Bagi orang Jawa yang masih percaya tradisi dan budaya klenik dan mistis, malam Satu Suro diperingati secara sakral.

Menyambut bulan Suro (satu Muharram dalam kalender Hijriyah), penganut Kejawen melaksanakan tirakatan, melarung sesaji ke laut dan gunung, memandikan pusaka seperti keris dll. Juga, ada beberapa larangan.

Sutradara Hanny R Saputra kali ini mengangkat cerita klenik Jawa ke ranah film. Judulnya agak panjang ‘Sengkolo, Malam Satu Suro’ yang akan dirilis 20 Juni 2024. Sengkolo adalah musibah atau malapetaka.

“Ini istilah Jawa. Hari apes, hari naas. Tepat malam Satu Suro, makhluk gaib akan mencari manusia yang memiliki weton Senin pahing, Selasa legi, Kamis pon, Jumat pahing dan Sabtu kliwon,” tutur Hanny R Saputra.

Syuting selama 15 hari di Imogiri dan Parangtritis.

Di film, kisahnya menyangkut seorang pria pemandi jenazah yang terpuruk dan hilang keyakinan setelah mengalami tragedi isteri dan anak meninggal pada malam Satu Suro.
Percaya atau tidak yakin, wallahu alam bissawab.

Diakurasi oleh LSF 13 tahun ke atas, film produksi Multi Vision Plus (MVP) ini dipenuhi ketegangan dari adegan awal sampai menjelang ending.

Hampir seluruh pemeran adalah pendatang baru : Fauzan Nasrul, Kenya Winata, Anantya Kirana, Nesia Waruza Puspa, Rahmet Ababil, Dasha Nindia dan Dayinta Melira. Hanya seorang aktor lawas dan senior yang main yaitu Donny Alamsyah.

“Memang ceritanya horor, tapi dibumbui unsur drama dan kemanusiaan. Ada jumpscare yang enggak terduga : suami ke isteri, suami ke anak dan kakak ke adik,” beber Donny Alamsyah yang berperan sebagai Ibrahim, pemandi jenazah.

Apa enggak takut melakukan memandikan jenazah, Donny Alamsyah bilang dia sudah belajar memandikan jenazah dan doa-doa secara Islam.

“Adegan awal, unsur suspence sangat kental. Menggiring penonton menjerit. Bayangkan ! Dua mayat yang saya mandikan mendadak bangkit dan matanya terbuka,” kenang Donny Alamsyah.

Ody Mulya Hidayat dan Soemijato Muin selaku produser mengaku sangat antusias dan tertarik memvisualkan kisah budaya dan klenik Jawa. “Orang Jawa kaya cerita mistik dan klenik. Akulturasi Jawa dan spiritual sangat membumi,” ujar Ody Mulya Hidayat.

Lain lagi Raam Punjabi yang juga produser dan CEO MVP. “Saya sengaja duduk bersama jurnalis yang nonton Sengkolo. Melihat reaksi para jurnalis. Hai lihat ! Heboh. Pecah !” Terang Raam Punjabi.

Bagaimana ending film ? “Dalam menjalani kehidupan, penting kita memiliki iman kepada Tuhan. Kalau kita murtad dan menduakan Tuhan, sengkolo (musibah, malapetaka) akan datang. Baca saja Surah An Nissa,” pesan Hanny R Saputra. (pik)

Penghargaan IKJ 2024

JAYAKARTA NEWS— Setelah hampir 10 tahun tidak digelar, kini Penghargaan Institut Kesenian Jakarta (IKJ) III akan dihelat di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2024).

“Bukan tidak disengaja. Evaluasi tiap tahun tetap dilakukan. Juga karena adanya pandemi Covid selama tiga tahun,” ujar Rahman Yakob selaku Ketua Kurator Penghargaan IKJ 2024 kepada penulis baru-baru ini.

Acara ini dianugerahkan kepada mereka yang telah berjasa memberi nilai tambah yang signifikan terhadap seni peran (film, teater dan televisi) di Indonesia.

Nilai tambah dapat berupa kekaryaan atau kontribusi yang menginspirasi daya kreatif, penentu kecenderungan, ketauladanan, keilmuan maupun kebijakan yang dapat meningkatkan mutu hidup Indonesia.

Alhasil, penghargaan diberikan kepada beberapa kategori berikut : aktor, aktris, sutradara, penulis cerita/skenario, lifetime achievement, pengamat, media, organisasi/yayasan dan pejabat publik.

“Ada dua syarat penerima penghargaan IKJ bidang Seni Peran yaitu belum pernah kuliah di IKJ dan belum pernah memperoleh penghargaan IKJ,” imbuh Rahman Yakob.

Anggota Tim Kurasi Penghargaan IKJ 2024, Jose Rizal Manua menandaskan mekanisme penetapan penerima penghargaan ditempuh melalui musyawarah untuk mufakat atau pemungutan suara

“Namun, jika terjadi pemungutan suara, Ketua Kurator Rahman Yakob enggak mau ikut memilih,” beber Jose Rizal Manua yang pernah terlibat dalam beberapa drama dan film.
Jika perolehan suara seimbang, maka Rahman Yakob wajib memilih guna menentukan pemenang.

Focus Group Discussion (FGD) untuk meneliti potensi calon-calon penerima penghargaan, sejak April s/d Juni 2024. “Sidang Pleno pada FGD dilaksanakan tanggal 3 Juni 2024 dan sidang terakhir untuk menentukan nama-nama penerima penghargaan,” sambung Jose Rizal Manua.

FGD dihadiri sekitar 30 anggota Tim Kurasi, antara lain Dr Sudibyo, Cok Simbara, Gandung Bondowoso, Yosef Ginting, Dwi Yan, Herdin Hidayat, Matias Muchus, Sigit Hardadi, Derry Drajat, Ayu Basir Nurdin, Irwan Siregar, Robinsar Simanjuntak, Rudi Aryanto dan lain-lain.

Dr Sudibyo selaku Wakil Ketua Kurator menawarkan Pola Penghitungan Mutu Penerima Penghargaan IKJ. Pola tersebut berguna untuk mengukur kapasitas dan kapabilitas kandidat penerima Penghargaan IKJ. (pik)