Swara Maharddhika 40 Tahun Lalu

 

NASIONALISME dan patriotisme selalu menjadi warna utama yang tebal pada setiap ulang tahun Swara Maharddhika (SM). Biasanya, sore hari dimulai upacara bendera lengkap dengan inspektur dan komandan upacara.

Menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’, mengheningkan cipta, pembacaan Pancasila, dilanjutkan lagu ‘Mars SM’ dan pembacaan Ikrar SM. “Prinsip kami Pancasila Jiwaku harus tertanam di jiwa setiap anggota. Sebelum ribut-ribut slogan ‘Kami Indonesia, Kami Pancasila’ belakangan, SM sudah menerapkan hal tersebut 40 tahun silam,” ujar anggota Restu Imansari, penggagas Pameran Buku 40 Tahun SM.

“Anggota SM dari Angkatan 1 sampai Xll juga dilatih untuk fasih dalam soal seni budaya tradisional Indonesia. Mulai dari cara mengenakan kostum tradisional, sampai belajar tarian dan alat musik daerah, seperti gamelan ” papar Guruh Soekarno Putra, pendiri SM.

Sejarah mencatat, SM ikut memberi corak, warna dan gaya yang khas seni budaya Indonesia. Dan gaungnya masih terasa hingga kini serta dijadikan panutan untuk banyak insan kreatif.

Swara Maharddhika bermula dari kelompok grup vokal beberapa SMA yang diresmikan pada 1977. Dalam perjalanannya SM telah meninggalkan jejak dalam seni panggung hiburan di Indonesia.

Bukan hal yang lazim diketahui masyarakat luas, terutama generasi sekarang, bahwa Swara Maharddhika tidak hanya sekadar mengangkat seni tari, seni musik, dan seni peran ke atas panggung. SM juga  sebuah paguyuban seni remaja yang telah membuka mata banyak anggotanya (dari angkatan I – XII) akan kayanya seni tradisional Indonesia. SM mengajak bagaimana menghargai dan mencintai Indonesia melalui seni, dan yang paling penting berhasil membentuk pribadi anggota-anggotanya menjadi tangguh, luwes, nasionalis, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.

Sebut saja anggota yang sukses dibidangnya; Denny Malik, Soraya Haque, Marissa Haque, Titi DJ, Memes, Ati Ganda, Irianti Erningpraja, Restu Kusumaningrum, Ai Syarif, Harry de Fretes, Kris Soewardjo, Andri Sentanu, Rama Soeprapto, Dewi Soeharto, Sitta Chirana, Elmo Hillyawan, Benny Rahardjo, Trisna Chandra Idham, Benny Adrianto, Yunita Ayu Kemala, Jazz Pasay, Ibnu Faisal, Fani Wiryawan.

Prilly Latuconsina Alami Kejadian Mistis dalam Film ‘DANUR 2: MADDAH’

 

SEKUEL film DANUR akan segera dirilis. Masih dibintangi oleh Prilly Latuconsina sebagai pemeran utama, DANUR 2: MADDAH akan membawa cerita baru yang lebih kompleks dan menegangkan. Diakui oleh Prilly, proses syuting film tersebut membawa pengalaman mistis yang sulit ia lupakan.

“Pengalaman aneh banyak sebenarnya di film ini, karena mata batin aku memang belum ditutup. Aku memang enggak bisa berinteraksi langsung kayak Kak Risa. Karena kalau Kak Risa kan bakat dari lahir ya, tapi kalau aku kan memang dipaksa buka. Jadi memang enggak lihat tiap hari, ngalamin kejadian aneh,” ungkap Prilly Latuconsina, saat ditemui usai jumpa pers perilisan poster dan trailer film DANUR 2: MADDAH di MD Place, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (6/2).

Prilly menuturkan, pengalaman gaib tersebut ia alami saat melakukan suatu adegan. Sesaat setelahnya, ia sampai merasa pegal-pegal sekujur badan. Menurut Prilly, hal mistis tersebut merupakan ‘kiriman’ spesial dari sang author buku, Risa Sarasvati.

“Pas aku lagi adegan yang aku paling suka, adegan paling seram menurutku. Aku ngerasa kayak enggak mau nengok tapi kok kayak ada yang lihatin terus. Setelah aku ngelakuin adegan itu, badan aku sakit kayak habis lama enggak olahraga. Terus tiba-tiba Kak Risa nge-Whatsapp aku, bilang, ‘Pril, kamu ngerasa enggak dia datang, soalnya aku nyuruh dia datang?’ Aku langsung kaget, ‘Haaah? Aduh kak please dong, pantesan badan aku sakit semua kayak abis olahraga’,” lanjutnya.

“Ada adegan di mana aku buka korden, terus ada bayangan. Tapi anehnya bayangan ini semua orang lihat. Jadi dikirain kru itu adalah bayangan orang, ‘Wei siapa tuh? Bocor, bocor!’ pas dilihat, enggak ada, enggak ada refleksi siapa-siapa. Terus kita shock, karena semuanya bisa lihat, bukan cuma aku doang. Dan itu disimpan sih filenya, semoga nanti aku bisa share deh,” pungkasnya.**
——————-

Swara Maharddhika 40 Tahun Lalu

NASIONALISME dan patriotisme selalu menjadi warna utama yang tebal pada setiap ulang tahun Swara Maharddhika (SM). Biasanya, sore hari dimulai upacara bendera lengkap dengan inspektur dan komandan upacara. Menyanyikan lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’, mengheningkan cipta, pembacaan Pancasila, dilanjutkan lagu ‘Mars SM’ dan pembacaan Ikrar SM. “Prinsip kami Pancasila Jiwaku harus tertanam di jiwa setiap anggota. Sebelum ribut-ribut slogan ‘Kami Indonesia, Kami Pancasila’ belakangan, SM sudah menerapkan hal tersebut 40 tahun silam,” ujar anggota Restu Imansari, penggagas Pameran Buku 40 Tahun SM.

“Anggota SM dari Angkatan 1 sampai Xll juga dilatih untuk fasih dalam soal seni budaya tradisional Indonesia. Mulai dari cara mengenakan kostum tradisional, sampai belajar tarian dan alat musik daerah, seperti gamelan ” papar Guruh Soekarno Putra, pendiri SM. Sejarah mencatat, SM ikut memberi corak, warna dan gaya yang khas seni budaya Indonesia. Dan gaungnya masih terasa hingga kini serta dijadikan panutan untuk banyak insan kreatif.

Swara Maharddhika bermula dari kelompok grup vokal beberapa SMA yang diresmikan pada 1977. Dalam perjalanannya SM telah meninggalkan jejak dalam seni panggung hiburan di Indonesia. Bukan hal yang lazim diketahui masyarakat luas, terutama generasi sekarang, bahwa Swara Maharddhika tidak hanya sekadar mengangkat seni tari, seni musik, dan seni peran ke atas panggung, melainkan sebuah paguyuban seni remaja yang telah membuka mata banyak anggotanya (dari angkatan I – XII) akan kayanya seni tradisional Indonesia, bagaimana menghargai dan mencintai Indonesia melalui seni, dan yang paling penting berhasil membentuk pribadi anggota-anggotanya menjadi tangguh, luwes, nasionalis, dan memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat.

Sebut saja anggota yang sukses dibidangnya; Denny Malik, Soraya Haque, Marissa Haque, Titi DJ, Memes, Ati Ganda, Irianti Erningpraja, Restu Kusumaningrum, Ai Syarif, Harry de Fretes, Kris Soewardjo, Andri Sentanu, Rama Soeprapto, Dewi Soeharto, Sitta Chirana, Elmo Hillyawan, Benny Rahardjo, Trisna Chandra Idham, Benny Adrianto, Yunita Ayu Kemala, Jazz Pasay, Ibnu Faisal, Fani Wiryawan. ***

Pai Kau – Film Indonesia Rasa Hongkong Untuk Imlek

 

FILM  Pai Kau karya sutradara Sidi Saleh, siap tayang di bioskop Indonesia pada tanggal 8 Februari 2018.

Film ini dibumbui dengan konflik percintaan dan adegan sensual didukung oleh visual yang memberikan kesan menantang dan membuat penonton masuk kedalam susasana rumitnya cinta.

Tak hanya menonjolkan sisi sensualitas, film Pai Kau juga menyajikan unsur khas ala film Hongkong yang menggunakan senjata api dengan setelan jas rapi dan kacamata hitam.

Ketika Sidi Saleh menyanpaikan ide cerita untuk film Pai Kau, produser film membayangkan film Pai Kau akan seseru film Internal Affair yang berbaur dengan In The Mood of Love, namun dengan sentuhan lokal.

 

“Dengan film Pai Kau yang berlatar belakang keluarga etnis tapi kultur tersebut sebagai latar dalam film, Inonesia memiliki kebudayaan yang beragam, dan menurut kami menarik kalau kekayaan itu dapat direfleksikan dalam film Indonesia yang tidak stereotipikal,” ujar Tekun Ji selaku produser film Pai Kau.

Film Pai Kau sendiri bercerita tentang pernikahan seorang anak pengusaha kaya raya serta terpandang bernama Lucy yang diperankan oleh Irina Chiu.

Lucy ingin menikah dengan seorang pria tampan bernama Edy yang diperankan oleh Anthony Xie.

Akan tetapi saat hari pernikahannya Edy dan Lucy tiba muncullah sosok wanita cantik bernama Siska yang diperankan oleh Ineke Valentina. S

iska mengaku bahwa ia merupakan sepupunya Edy yang baru saja datang dari luar kota untuk menghadiri pernikahan mereka.

Hanya saja saat pesta berlangsung ada sebuah niat tersembunyi dalam diri Siska. Ia mencoba untuk menyelinap masuk kedalam sebuah gedung serta menjalankan rencana jahat sebagai bentuk pembalasan yang pernah dibuat Edy pada masa lalunya. Film berlatar belakang pernikahan keluarga dengan tekstur Chinese-Indonesia ini sangat pas ditonton jelang Imlek.***

Angelica Simperler Perankan 7 Kepribadian

 

 

AKTRIS Angelica Simperler berusia 31 tahun ini menjelaskan, dirinya didapuk sebagai pemeran utama dalam film Keira. Ia menjadi seorang gadis asli Lampung yang memiliki banyak kepribadian. Hal itu dikarenakan, sejak kecil kondisi psikologis Keira sudah terguncang dengan keadaan keluarganya. Keira menjadi sosok yang lemah, pendiam, tak punya teman, dan juga depresi.

Melakoni tokoh Keira, ternyata telah membangun rasa kekhawatiran yang besar pada diri Angelica. Ia mengaku, sebelum berangkat ke Lampung untuk menjalani proses syuting, dirinya sempat tertekan. Ia mengatakan bahwa, membawakan satu atau dua karakter dalam satu tokoh saja sudah membuatnya kewalahan. Terlebih dalam film ini, dirinya harus bertransformasi menjadi 7 karakter yang berbeda dalam diri Keira. Kekhawatiran semakin menekan dirinya ketika mengetahui dirinya tidak mendapatkan waktu yang lama untuk mendalami tujuh karakter itu.

“Dalam film ini, PR-nya banyak dan berat. Jujur, sebelum berangkat aku nangis. Takut saya tidak bisa menyampaikan karakter di film ini dengan baik. Ada tujuh karakter, dan masing-masing karakternya amat berat. Ini tantangan yang sangat besar dalam diri aku,” terangnya.

Meski demikian, dirinya sudah membulatkan tekad untuk berkecimpung di film garapan Harry Dagoe. Ia mengatakan sejak lama sudah mendambakan untuk bermain dalam film thriller psychologis. Ketika dirinya diberi kesempatan untuk membaca naskah, Angelica pun langsung jatuh hati.

“Ya saya terima tawaran ini, karena awal sinopsis sudah menarik. Tapi aku masih harus banyak belajar. Untuk mendalami peran ini, saya sering sharing kepada senior-senior yang juga ada di film ini. Karena di Indonesia juga belum banyak film seperti ini, jadi aku mencari referensi dari luar juga,” terangnya.

Rencananya film ini akan ditayangkan pada pertengahan tahun ini. Beberapa pemain senior pun ikut berkecimpung di film ini,seperti Ray Sahetapy, Djenar Maesa Ayu, bahkan Gubernur Lampung, Muhammad Ridho Ficardo, turut andil mengambil peran dalam film ini.***

Kolaborasi Mega Malaysia-Indonesia

DO[S]A adalah karya perdana Nusantara yang menjadi ‘An Astro Original Series’ dan dibandrol seharga RM 19.10 (termasuk 6% GST), penonton boleh menikmati delapan episode (berdurasi satu jam untuk tiap episode).

DO[S]A adalah sinergi dari Malaysia dan Indonesia yang menggabungkan Saniboey Mohd Ismail dan Salman Aristo, duo penulis skenario. Salman, satu nama yang cukup disegani di Indonesia sebagai penulis skrip untuk karya-karya box office seperti ‘Ayat-Ayat Cinta’, ‘Laskar Pelangi’, ‘Garuda di Dadaku’ dan ‘Sang Penari’.

Pencapaian terkini Salman adalah di Festival Film Indonesia 2016 yang mana beliau telah dinobatkan anugerah Penulis Terbaik untuk film ‘Athirah’. Turut sama terlibat sebagai penulis skrip untuk karya ini adalah saudara M Rino Sarjono.

Apalagi Sutradara terbaik FFi 2011 yakni Ifa Isfansyah. Ifa Isfansyah sudah menyutradarai ‘Sang Penari’, ‘Garuda Di Dadaku’ dan ‘Pendekar Tongkat Emas’. Ifa didampingi oleh DOP kondang Yadi Sugandi yang melahirkan gambar-gambar yang mempesona di karya-karya seperti ‘Ada Apa Dengan Cinta 2’, ‘Laskar Pelangi’, ‘Sang Penari’, ‘Darah Garuda’ dan banyak lagi.

Selain itu, ia turut menampilkan Cecep Arif Rahman sebagai Pengarah Koreografi adegan aksi untuk melatih dan mempersiapkan para aktor dan aktris dengan disiplin silat dan koreografi seni mempertahankan diri. Cecep sebelum ini dikenali terlibat dalam film Indonesia ‘The Raid: Berandal’. DO[S]A juga bertabur bintang gabungan tiga negara yakni Malaysia, Indonesia dan Singapura bagi menggerakkan setiap peran dalam jalan cerita. Nama-nama yang terlibat adalah seperti Dato’ M.Nasir, Remy Ishak dan Daniella Sya dari Malaysia, Ashraf Sinclair, Roy Marten, Maudy Koesnaedi, Hannah Al Rashid, Reuben Elishama dan Tegar Satrya dari Indonesia, serta Shenty Feliziana dan Hisyam Hamid dari Singapura.

Adapun judul tiap episode adalah; ‘Khianat’, ‘Tamak’, ‘Nafsu’, ‘Dengki’, ‘Derhaka’, ‘Fitnah’, ‘Munafik’ dan ‘Fitnah’ yang bersumber pada tagline DO[S]A, “Niat Tidak Menghalalkan Cara”.

DO[S]A sarat dengan adegan yang mendebarkan, aksi mengejutkan dan ganas. Namun begitu, pada masa yang sama turut diapit dengan pergolakan emosi, pengorbanan, ikatan kekeluargaan serta bibit percintaan. Kerjasama di antara Astro, Arie Zaharie Production dan Capitol Entertainment Production (produksi dari Indonesia).

Waktu syuting berlangsung selama 58 hari, dari bulan Julai 2017 hingga September 2017. Lokasi penggambaran rata-ratanya dilaksanakan di Jakarta Timur dan Jakarta Barat, Indonesia (sekitar 90% jumlah shooting days di Indonesia) dan selebihnya di Malaysia termasuklah di lokasi-lokasi utama sekitar Kuala Lumpur, Kampung Baru, Klang and Putrajaya. DO[S]A juga akan memasuki pasar Indonesia menerusi platform OTT (Over-The-Top); Tribe Indonesia dan di saluran Astro Citra dalam waktu terdekat ini.

Sementara itu DATO’ KHAIRUL ANWAR SALLEH berucap bahwa, “Sejujurnya, saya berasa cukup teruja dengan karya DO[S]A ini kerana ia merupakan kerjasama sulung Astro yang melibatkan Malaysia – Indonesia dalam melahirkan siri original Nusantara premium eksklusif istimewa untuk tontonan ramai. DO[S]A turut merupakan karya pertama Nusantara yang kami tampilkan dalam slot ‘An Astro Original Series’.

Sebelum ini, Astro telah memulakan beberapa projek bagi menembus pasaran nusantara seperti ‘3 A.M. Bangkok Ghost Stories’ dengan pihak produser dari negara Thailand, naskhah seram bertajuk ‘Door’ dengan produser Filipina, serta ‘Cinta Paling Agung’ dan ‘Polis Evo2’ dengan kerjasama republik Indonesia. Pada masa yang sama, filem-filem terbitan Astro seperti ‘The Journey’ turut menarik minat pemain industri dari luar negeri untuk diadaptasikan bagi siaran di negara masing-masing. Ini secara tidak langsung memberi indikasi bahawa karya terbitan Astro diterima ramai, baik audiens dari dalam mahupun luar negara. Melihat akan kejayaan yang berjaya dilakar menerusi kolaborasi-kolaborasi mega yang dilaksanakan ini, Astro akan terus melahirkan banyak lagi naskhah-naskhah hebat untuk tontonan semua. Akan datang, ‘Sembilan’, sebuah lagi miniseri original gandingan Malaysia – Indonesia yang bakal menemui pebonton pada akhir tahun ini. Naskhah bergenre horror ini akan memulai produksi pada bulan Mei 2018. Kami menyasarkan akan ada lebih banyak lagi sinergi dan projek serupa untuk dihasilkan di masa-masa yang akan datang.

Jalan ceritanya ternyata ‘luar dari kebiasaan’, cukup kompak dan ‘mind-blowing’. Ternyata, kerjasama dan keserasian yang tercetus di antara pemain utama di bahagian hadapan dan belakang naskah ini adalah sebuah kekuatan yang wajar diakui ramai publik. Bakat mereka ini terletak di kelasnya yang tersendiri dan saya yakin, gandingan sehebat ini mampu mencetuskan satu fenomena baru dalam industri seni serumpun khususnya.

Dari segi produksi , saya lihat penggunaan visual efek khas dan aspek sinematografi yang dipersembahkan DO[S]A mampu memenangi hati penonton. Pada pendapat saya, pemilihan aktor, scoring, penyutradaraan dan pengolahan cerita berjaya dibuat dengan baik sekali. Do[s]a dilengkapi dengan adegan action yang mendebarkan, pergelutan, drama, khianat dan dendam kesumat. Saya berharap agar karya DO[S]A ini mampu mencipta satu penanda milestone baru dalam industri seni lokal mahupun serantau. Semoga anda semua terhibur”.

SINOPSIS “DO[S]A”

DO[S]A mengisahkan tentang empat beradik dibesarkan oleh bapa tunggal mereka, Latif (Dato’ M. Nasir), dengan nilai-nilai kesederhanaan, pegangan agama yang kuat, dan disiplin persilatan. Fuad (Ashraf Sinclair), Farid (Remy Ishak), Fahad (Hisham Hamid), dan Fara (Shenty Feliziana) hidup bersama bapa mereka dipelusuk paling sunyi Kampung Baru, Kuala Lumpur. Di situ, mereka menjalani kehidupan hampir tersembunyi daripada masyarakat, berlatih ilmu persilatan hari demi hari. Seolah-olah bersiap-siaga untuk menghadapi sesuatu. Rungutan mereka, terutama daripada Fara yang semakin memberontak langsung tidak diendahkan oleh bapa mereka. Rutin harian yang memerlukan adik-beradik ini bertumbuk, bertendang dan berhayun parang sesama sendiri akhirnya turut mewujudkan ketegangan di antara mereka di luar gelanggang.

Perhubungan keluarga ini semakin bergolak apabila Fara berkenalan dengan seorang lelaki Indonesia, Arian (Reuben Elishama), yang tiba dari Jakarta semata-mata untuk berjumpa dengan Latif. Dalam usaha Arian melembutkan hati Fara untuk membawanya bertemu dengan Latif, mereka menjadi semakin rapat. Menyedari akan hal ini, abang sulung Fara, Fuad yang seolah-olah mengetahui tujuan Arian mencari Latif menghalang Fara untuk terus bertemu dengan Arian. Fuad kemudian bertindak mengusir Arian pulang ke Jakarta. Menjanjikan bahawa Latif tidak mahu lagi ada kaitan dengan ‘orang-orang seperti Arian’.

Berang dengan tindakan Fuad, Fara bertindak mengekori Arian ke Jakarta, tanpa mengetahui bahaya yang menanti dirinya di situ. Sebaik sahaja Fara keluar daripada pintu ketibaan di lapangan terbang Jakarta, dia terus diculik, dihumban ke dalam van, lalu dikurung di dalam sebuah gudang.

Tidak mengetahui nasib adik mereka, Fuad, Farid dan Fahad dihantar Latif ke Jakarta untuk membawa adik mereka pulang. Di sana, ketiga-tiga beradik itu sering mendapati diri mereka diserang tanpa sebab yang pasti, sekaligus memaksa mereka untuk mempertahankan diri di dalam pertempuran-pertempuran yang ganas. Arian yang baru mendengar mengenai berita penculikan Fara turut berganding bahu membantu abang-abang Fara. Semakin lama mereka di Jakarta, semakin banyak yang mereka mula fahami tentang asal usul keluarga mereka dan siapa bapa mereka yang sebenarnya. Sebelum mereka sedari, mereka terjerumus di tengah-tengah pergelutan kuasa di dalam dunia kongsi gelap Jakarta. Hanya mereka yang mampu menamatkan perang ini, walau sebesar mana pengorbanan yang diperlukan. ***

Ingin Tingkatkan Pariwisata, Gubernur Lampung Main Film

 

BANYAK cara dilakukan para pemimpin daerah untuk mempromosikan daerahnya. Salah satunya yang dilakukan Gubernur termuda di Indonesia, Gubernur Lampung, Muhammad Ridho Ficardo. Pria yang diusung oleh Partai Demokrat ini turut bermain di film berjudul Keira.

Ridho berharap dengan film yang digarap sutradara Harry Dagoe dari rumah produksi 7 itu mampu meningkatkan sisi pariwisata Lampung. Terlebih mimpinya ia menginginkan Lampung setara dengan Bali dan Lombok.

“Salah satu kebijakan strategis Lampung yakni pengembangan pariwisata dalam bentuk apapun. Setiap objek dan segi memiliki nilai sudut yang dapat dijual, baik dari sisi keindahan maupun sisi lainnya, sehingga mampu meningkatkan pariwisata di Lampung,” ujarnya di Bandarlampung, Selasa (30/1) dalam selamatan film Keira yang bergenre thriller psichologis di Lampung.

Ridho optimis setiap daya tarik yang muncul di film mampu mendatangkan orang ke Lampung untuk berwisata. “Semoga dengan adanya film Keira maka akan mampu meningkatkan pariwisata Lampung,” katanya.

Meski demikian, Ridho tak ingin membocorkan cerita pada film tersebut. Seperti aktor profesional ia mengatakan ingin membuat para pencinta film Indonesia penasaran.

“Saya belum bisa membocorkannya, karena akan mengurangi rasa penasaran terhadap film ini,” kata Ridho.

Sementara itu, salah satu pemain film Keira, Ray Sahetapy berharap film ini mampu menjadikan Lampung menjadi lebih berani, sehingga mampu mengambil peran di tingkat nasional.

“Semoga kita bersama mampu memberikan yang terbaik untuk membangun Lampung, bukan hanya film tetapi juga ruang lainnya,” harap Ray.

Pemeran utama film Keira di antaranya Tiga Setia Gara, Gebriella, Rocky Jeff, Djenar Maesa Ayu, Angelica Simperler, Erlando Saputra, Ferly Putra, Artha Pratama, dan Yan Wijaya.

Jalani Masa Berat, Ranty Jadi Sosok Luar Biasa bagi Ammar

Ranty Maria dan Ammar Zoni

PESINETRON Ammar Zoni sangat bersyukur dengan pelajaran yang ia dapatkan selama berada dalam penjara. Walaupun kini ia tetap menjalani masa rehabilitasi selama 7 bulan ke depan melalui rawat jalan. Salah satunya keluarga, sang kekasih Ranty Maria, dan sahabat-sahabatnya seperti Giorgino Abraham dan lain-lain.

“Saya bersyukur sekali dan terima kasih kepada Ranty. Bagi saya Ranty itu luar biasa sekali dengan problem kasus saya kemarin. Dan pasti Ranty sempat dapat imbasnya, karena dia pacar saya,” ujar Ammar Zoni. Mereka berdua telah 4 tahun pacaran, Ammar yang asal Sumatera Barat dan Ranty campuran Korea-RI kayaknya tak mungkin berpisah. Saat ini, Ammar jalani vonis lewat rawat jalan. Selama di penjara karena kedapatan penggunaan narkoba, Ammar minta dibawakan buku-buku agama Islam. Dia tampak gemuk dan putih. “Ini karena air wudhu dan tiap hari saya terus berzikir,” kata Ammar.

Kapan dilamar? “Belum terpikirkan,” jawabnya. Ada kendala, karena perbedaan keyakinan? “Enggak. Soal kami berdua saling hargai keyakinan masing-masing. Doakan ya,” tegas Ammar.

Ditambah lagi, pria yang memiliki banyak penggemar wanita itu sangat terharu karena Ranty tetap menemaninya dalam keadaan apapun.

“Dia sama sekali tidak bergeming dan menunjukkan loyalitas dia terhadap saya, bagaimana rasanya dia. Dan dia selalu menemani saya. Waktu saya ditahan di Polres 10 hari dan hampir setiap hari nemenin saya dengan kesibukan dia yang padat,” tukasnya.

“Waktu saya pindah rehabilitasi datang juga. Jadi benar-benar luar biasa sekali sosok Ranty di mata saya karena dia menunjukan besarnya loyalitasnya,” tambah Ammar terharu.

Ammar ditangkap karena mengkonsumsi ganja pada 7 Juli 2017 lalu di kediamannya di kawasan Depok, Jawa Barat. Beberapa serial tv yang dibintangi Ammar adalah Manusia Harimau, Anak Jalanan, dan Anak Langit.

Sejak tanggal 23 November lalu, Ammar telah diputuskan untuk menjalani rawat jalan selama sisa masa tahanan 7 bulan di rehabilitasi Natura, Lebak Bulus, Jakarta Selatan. Ia pun diperkenankan untuk kembali ke rumahnya. ***

Cinta 2 Kodi, Hadirkan Kisah Sukses Wanita Pengusaha

DIANGKAT dari novel kisah nyata Cinta Dua Kodi tulisan Asma Nadia, film ini mengisahkan sosok Tika Kartika. Pengusaha wanita sukses yang merintis dari bawah dan juga intrik kehidupan keluarga yang harus dihadapinya dalam proses mencapai kesuksesan tersebut.

“Film ini berdasarkan pengalaman hidup saya mengenal sosok Bunda Tika yang merupakan ibu angkat saya. Sosok ini punya potensi diteladani semangatnya, ketekunannya, cara kerja dan ketegasannya. Kemudian, bagaimana dia menyikapi berbagai masalah dan memberdayakan orang-orang di sekitanya,” kata Produser Inspira Pictures, Rendy Saputra saat press screening, di Epicentrum XXI, Jakarta, Kamis (25/1).

Oleh karena itu, Rendy mengharapkan film ini mampu menginspirasi para ibu muda untuk menjadi pengusaha tetapi tidak melupakan keluarganya.

Sementara itu, sang sutradara, Ali Eunoia mengatakan bahwa film ini diangkat dari film dokumenter yang dibuatnya. Kemudian, karena kisahnya yang sangat menginspirasi maka diangkat ke layar lebar.

“Ini kan dari kisah nyata. Cerita ini akan relate sama banyak ibu-ibu yang punya peran ganda. Bukan cuma ibu tetapi istri yang jadi kepala keluarga. Drama yang ada di film ini juga sangat menarik. Ini drama keluarga yang tidak jauh dari kehidupan masyarakat Indonesia,” katanya.

Bahkan, Ali mengaku merasa menjadi hangat dengan keluarga dan lebih mencintai keluarganya setelah menggarap film tersebut.

Film Bunda: Kisah Cinta 2 Kodi menceritakan perjalanan seorang Tika Kartika yang diperankan oleh Acha Septriasa menjadi pengusaha sukses. Namun, saat prosesnya sudah pasti tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Dia harus bertarung melawan ego-nya sendiri ketika tujuannya membangun usaha sudah membuat keluarganya terluka. Meskipun, sudah ditebak akhirnya dia berhasil menjadi pemenang ketika menomorsatukan keluarga.

Lalu apa makna di balik cinta dua kodi. Ternyata, itu mengisahkan usaha pakaian yang dirintis oleh Tika Kartika dimulai dari membuat dan menjual pakaian muslim anak sebanyak dua kodi. Hingga, akhirnya sukses dengan nama Keke Collection.

Film drama keluarga ini, tidak hanya menghadirkan Acha sebagai tokoh utama. Tetapi, didukung juga oleh Ario Bayu, Wulan Guritno, Sheila Dara, Arina Mindhisa, Shaquilla Nugraha, Mumu Gomez, Tri Yudiman, Inggrid Widjanarko, Budi Dalton, dan lain lain. ***

Tidak Suka Foya-foya, Cinta Laura Rajin Menabung

 

cinta laura–sumber instagram cinta laura

Kampanye menabung terus digalakkan. Menabung yang dimaksud adalah bukan hanya menabung konvensional seperti menyimpan uang di bank melainkan juga pada berbagai produk jasa keuangan seperti asuransi, saham hingga emas. Namun artis Cinta Laura mengaku merasa lebih aman menabung dengan mendepositokan uangnya.

Dibanding produk jasa keuangan lainnya, bisa jadi hasil atau bunga yang didapat tidak lah sebesar produk lainnya. Namun Cinta merasa lebih safe dan nyaman dengan deposito.

“Sejak aku kecil, mami dan papi selalu mengajarkan untuk rajin menabung, bagaimana mengelola keuangan dengan baik dan hidup sederhana. Karena itu sekalipun aku telah menjadi artis dan memiliki penghasilan lumayan, gaya hidup ku tidak berubah drastis. Aku menabungkan sebagian besar penghasilan aku dari kerja di dunia entertainment. Itu sudah sejak kecil aku lakukan hingga sekarang,” ungkap Cinta Laura.

Karena didikan orangtua juga lah maka dia tumbuh menjadi orang yang menjalani hidupnya biasa-biasa saja, tidak masuk dalam golongan shopaholic. Meskipun secara penghasilan hal itu memungkinkan. “Aku nggak pakai mobil mewah ataupun barang-barang branded, semuanya normal saja. Hanya saja aku beruntung, karena kesuksesan aku di dunia entertainment membuat banyak pihak kerap meng-endorsed or kasih barang-barang mewah untuk dipakai,” ujar gadis kelahiran Quakenbruck Jerman 1993.

cinta laura–sumber instagram cinta laura

Supaya aman, kata anak semata wayang pasangan Herdiana-Michael Kiehl, dia lebih memilih menyimpan uangnya dalam bentuk tabungan deposito. “Meski keuntungannya tidak besar, namun aku lebih merasa nyaman dan aman jika uang aku dideposito karena tahu itu dijamin oleh pemerintah,” ucap pemeran film ‘Crazy for the Boys’, ini. Karena rajin menabung pula lah, lanjut Cinta, dia bisa hidup nyaman di Amerika tanpa harus merepotkan orangtuanya.

Sebenarnya, kata Cinta lagi, sebelumnya dia juga sempat menginvestasikan sebagian uangnya untuk bisnis di antaranya adalah bisnis fashion. Namun karena dirinya terlalu sibuk dengan berbagai kegiatan, bisnis tersebut untuk sementara dia hentikan.

“Itu karena aku sibuk sekali. Apalagi saat ini karier aku tengah berkembang di Amerika, kesibukannya menjadi luar biasa. Aku pikir, dari pada tidak fokus, lebih baik aku lepas bisnis fashion. Ini karena aku ingin fokus pada apa yang aku kerjakan sekarang. Karena kalau bisnis, kalau kita tidak menangani sendiri, biasanya hasilnya kurang memuaskan,” papar Cinta.

Untuk keuangan, lanjut , dirinya meminta bantuan orangtuanya untuk mengaturkan. Dengan begitu ia bisa lebih fokus pada kariernya. “Mami dan papi yang membantu mengatur keuangan aku. Jadi belum perlu konsultan jasa keuangan. Mungkin nanti ya kalau aku benar-benar sukses,” katanya. Sebenarnya, tambah Cinta lagi, ada  tawaran dari sejumlah perusahaan yang mengajak bekerjasama untuk memakai namanya pada sebuah produk. Namun, kata Cinta, hal itu belum diiyakannya.

“Sekarang aku belum tertarik ya, masih mikir-mikir. Aku juga mikir mami, kasihan kalau harus mengurus sendiri semuanya di Indonesia. Beliau ingin menikmati masa tua di Bali dengan kegiatan sosial. Jadi kalau harus aku ‘ganggu’ dengan hal-hal seperti itu, kan kasihan. Makanya aku belum memutuskan apa-apa,” jelasnya.

Dia mengaku sangat bersyukur berkat kerja keras dan ketekunannya, kariernya di dunia perfilman Hollywood  berjalan baik. Sebagaimana diketahui persaingan insan perfilm di industri film Hollywood sangat ketat, namun perlahan Cinta berhasil menembusnya.

Sejauh ini dia telah membintangi tiga film Hollywood yakni, ‘After The Dark’, ‘The Ninth Passengers’ dan ‘Crazy for the Boys’. Saat ini kata Cinta, dia tengah syuting film hollywood-nya yang keempat. “Tapi aku belum boleh mempublikasikan judulnya. Aku yakin dengan doa dari mami-papi dan fans aku di Indonesia, suatu saat aku akan membuat orangtua juga fans aku di Indonesia bangga,” ujarnya.***