Cara Lola Menafsir Pancasila

PRODUSER sekaligus sutradara Lola Amaria gelisah dan resah melihat fenomena sosial politik yang mencabik-cabik nilai-nilai Pancasila, maka lahirlah film berjudul ‘Lima’. Film Lima bercerita tentang sebuah keluarga yang masing-masing anggota keluarganya memiliki masalahnya tersendiri. Masalah-masalah mereka memiliki ‘kedekatan’ dengan kita dalam kehidupan sehari-hari.

Mereka bergelut dengan permasalahannya, dan pada akhirnya semua kembali ke lima hal mendasar yang menjadi akar kehidupan mereka dan kita, yaitu Tuhan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan. “Film ini mengangkat cerita nilai-nilai Pancasila, antara satu cerita dengan cerita lain saling berkaitan,” ujar Lola.

Lola Amaria

Ia tertarik mengangkat nilai-nilai Pancasila dalam sebuah film, karena menurutnya belakangan ini isu soal kebinekaan dan agama di kehidupan sosial berembus sangat kencang.  Tak jarang isu ini memecah-belah persatuan anak-anak bangsa. Ia berharap film ini bisa menjadi pengingat.

“Pancasila bukan untuk dihapalkan, tapi bagaimana cara kita menggunakan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Di mana kita harus bisa menerima keberagaman, toleransi, kemusyawarahan,” katanya.

Dalam film Lima, cerita Lola, Pancasila tidak divisualisasikan dengan adegan-adegan heroik, tapi film ini mencoba menggambarkan bagaimana sebuah keluarga berjuang menanamkan dan mengajarkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. “Tentang sebuah keluarga yang punya tiga orang anak dan satu pembantu yang masing-masing mewakili sila satu sampai lima,” ujarnya.

Film Lima sebuah film utuh yang digarap lima sutradara, yaitu Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, Lola Amaria, Harvan Agustriansyah, dan Adriyanto Dewanto.

Masing-masing sutradara mengembangkan satu tema cerita yang memiliki benang merah dengan lima sila dalam Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Lima cerita yang dibangun lima sutradara ini membentuk satu kesatuan utuh dalam film Lima. Menurut Lola, membuat film Lima merupakan tantangan baru. Ia mengaku tidak mudah menyatukan lima sutradara dalam satu film. “Saya harus mengikuti proses kreatif dari awal. Men-support masing-masing director tanpa harus over budget,” ujarnya.

Skenario film Lima ditulis Tittien Watimena dan Sinar Ayu Massie, dibintangi Prisia Nasution, Yoga Pratama, Ken Zuraida, Baskara Mahendra, Dewi Pakis, Tri Yudiman, Ade Firman Hakim, dll.

Proses pembuatan film Lima sejak Oktober 2017, mulai syuting 4 Februari 2018, dijadwalkan rilis bioskop bertepatan dengan hari lahir Pancasila, 1 Juni 2018. Lima bukan omnibus (banyak cerita dalam 1 film), tapi ceritanya utuh. Kita sebut Pancasila, ya dari sila satu sampai lima. Ini enggak putus di satu film, ini utuh,” tandas Lola Amaria. ***

“Bumi Manusia” Pramoedya Ananta Toer Difilmkan

Iqbaal Ramadhan sebagai Minke,

NOVEL Bumi Manusia karya sastrawan Pramoedya Ananta Toer, buku pertama dari Tetralogi Buru, yang telah sukses dicetak dalam 43 bahasa di seluruh dunia, segera diangkat menjadi film layar lebar. Novel itu ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer ketika mendekam di tahanan pulau Buru, dengan menggunakan kertas bekas bungkusan semen untuk menulis kisah Bumi Manusia, sebelum dituliskan pada tahun 1975.

Tahun 1980, novel Bumi Manusia sempat beredar bebas, hingga pada tanggal 29 Mei 1980 novel ini dilarang oleh Jaksa Agung di era pemerintahan Presiden Soeharto.

Novel ini menceritakan kisah roman Minke, seorang pribumi di zaman kolonial Belanda, yang jatuh cinta kepada Annelies, anak blasteran seorang Belanda dengan seorang nyai bernama Nyai Ontosoroh. Ceritanya sendiri berlatar belakang Kebangkitan Nasional sekitar tahun 1890-1918.

Pengangkatan novel Pramoedya Anantara Toer menjadi film bioskop, digarap oleh Falcon Pictures yang sebelumnya telah sukses dengan sejumlah film seperti Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 dan 2 dan My Stupid Boss. Selaku Sutradara adalah Hanung Bramantyo dan Produser film yakni Frederica.

Sang Produser film, Frederica, mengaku sangat tersanjung bisa mendapatkan kesempatan untuk memproduksi film yang diangkat dari novel karya legenda sastra Indonesia tersebut. “Film ini adalah satu langkah ke depan yang penting buat Falcon Pictures dan ini jadi tantangan buat kami bagaimana film Bumi Manusia akan bisa diterima, bukan hanya oleh pecinta novel ini, tapi juga bisa diterima oleh penikmat film pada umumnya dan generasi muda sekarang,” ujar Frederica, di Sleman, Yogyakarta, Kamis (24/5/18).

Sementara dalam kesempatan yang sama Hanung Bramantyo, sang Sutradara mengungkapkan bahwa dirinya seakan diserahkan beban yang berat untuk menyutradarai film Bumi Manusia. “Saya harus bisa menyuguhkan film ini agar bisa diterima semua kalangan. Bagi saya ini tidak mudah” katanya.

Hal senada juga disampaikan oleh putri ketiga Pramoedya Ananta Toer, Astuti Ananta Toer, yang berharap film ini dapat diserap dunia luar. “Karya-karya Pram (Pramoedya Ananta Toer) dibuat berdasarkan catatan sejarah, statistik dan riset mendalam. Saya berharap, mungkin juga Pram, setelah menonton film ini penonton akan diberikan kekuatan agar lebih berani, mencintai keadilan dan kebenaran, berpihak kepada yang benar, berpihak kepada yang adil dan mencintai keindahan,” paparnya.

Film Bumi Manusia sendiri akan mulai syuting pada pertengahan bulan Juli hingga Agusus 2018. Produksi dan pengambilan gambar akan dilaksanakan di dua negara yakni Indonesia (Yogyakarta dan Semarang) dan Belanda. Pemain utama dalam film ini adalah Iqbaal Ramadhan sebagai Minke, Mawar Eva de Jongh sebagai Annelies dan Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh.

Novel Bumi Manusia merupakan jilid pertama dari serial Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer yakni Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. ***

Slank Luncurkan Sepatu Edisi “Slanked”

GRUP rock legendaris Slank kembali melakukan terobosan dalam perjalanan karier.  Bekerja sama dengan produsen sepatu Eagle, Slank resmi memasarkan sepatu edisi Slanked. “Kami senang berkolaborasi dengan brand asli Indonesia yang juga legend. Kami ingin memajukan kembali produk lokal. Dari dulu pakaian udah made in Indonesia, sekarang sepatu juga udah,” kata Bimbim saat peluncuran Slanked di FX Sudirman, Jakarta Pusat, Rabu (23/5).

“Kami bangga bisa berkolaborasi dengan Slank. Kami produk lama dan sekarang kerja sama dengan band yang legendaris. Kami ingin menggaet anak muda lagi dan menjadikan produk Indonesia nomor satu lagi,” imbuh Cindy Jane, director marketing & communication Eagle.

Nama sepatu edisi Slanked dipilih berdasar hasil diskusi Kaka, Bimbim, Abdee, Ivanka, dan Ridho. Para personel menamakannya sesuai filosofi yang diusung Slank dalam karya-karyanya. “Filosofinya kalau memakai sepatu akan masuk jalan yang benar, ketularan filosofi Slank. Dari dulu memang udah mimpi punya sepatu yang buatan asli Indonesia,” ujar Kaka, sang vokalis.

Slanked merupakan sepatu edisi khusus yang diproduksi terbatas. Kelima personel Slank langsung turun tangan merancang sepatu jenis masing-masing. Lima jenis sepatu itu hanya dicetak sebanyak 1200 pasang per desain.

“Masing-masing kami punya desain sendiri, bisa dipakai dalam suasana apapun. Misal saya biasanya bawa sepatu dua, buat manggung dan olah raga, sekarang saya padukan ke dalam sepatu ini, jadi bisa berguna dua-duanya,” jelas Kaka.

Sepatu Slanked dipasarkan secara online lewat laman Slank maupun Eagle. Menariknya, para pembeli akan diberikan sertifikat setiap pembelian sepatu karena limited edition. Satu pasang sepatu yang bisa dipakai pria dan perempuan (unisex) ini dijual di bawah harga Rp 500 ribu. Daripada produk luar tapi KW, lebih enak beli produk lokal tapi orisinal. ***

Film “Selembar Itu Berarti” Sabet 2 Rekor MURI

FILM karya anak Medan yang berjudul Selembar itu Berarti telah berhasil menorehkan prestasi. Meski belum tayang, film ini sudah mendapat penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI). Tak tanggung-tanggung, film bergenre drama dan diperankan oleh anak-anak Medan tersebut mendapatkan dua rekor dari MURI.

Padahal film yang disutradarai oleh Dedy Arliansyah yang diproduksi Mora Heart Production tersebut baru akan tayang serentak di bioskop pada 24 Mei mendatang.

Sutradara Film Selembar Itu Berarti, Dedy Arliansyah, mengatakan bahwa rekor yang diterima film Selembar Itu Berarti didapatkan dari kategori jabatan terbanyak dalam satu produksi film oleh sutradara dan kategori film yang banyak ditonton walau belum tayang secara resmi di bioskop dan telah ditonton 300.000 penonton.

“Film tersebut dikerjakan oleh enam orang kru dengan proses pengerjaan film selama dua pekan dan lokasi proses pembuatan di daerah Kabupaten Langkat dan Kabupaten Tapanuli Utara (Taput),” ujar Dedy Arliansyah.

Ia menjelaskan, film Selembar Itu Berarti dibintangi oleh Putri Dalilah Siagian, Raihan F Valendiaz Yessica T Simanjuntak, Ratu Rizka Apriani, Cut Indah Rizky dan beberapa pemain lagi yang merupakan asli Anak Medan. Beberapa pemain senior ikut main, seperti Anwar Fuadi, Raslia Rasyidin, dll.

“Selembar Itu Berarti merupakan sebuah film yang terinspirasi dari dunia pendidikan yang belum merata di Indonesia terutama di Sumatera Utara (Sumut) walau telah ada program Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah,” jelasnya.

Ia mengungkapkan, di film dengan durasi sekitar 1,5 jam itu menceritakan bagaimana seorang anak bisa bersekolah tetapi tidak bisa makan karena keterbatasan ekonomi. “Ada banyak pesan moral di film ini terutama pesan untuk dunia pendidikan serta ada beberapa pesan edukasi bahwa dunia pendidikan di Indonesia memang masih belum merata,” ungkap Dedy Arliansyah.

“Film ini dibuat bukan sebagai film yang mengkritik pemerintah, hanya saja ingin memberikan pemahaman serta motivasi agar dunia pendidikan di Indonesia bisa merata dan bisa lebih baik lagi,” imbuhnya.

Selain diperankan oleh anak-anak muda asli Medan, tersebut juga melibatkan beberapa aktris dan aktor papan atas seperti Anwar Fuadi, Raslina Rasyidin dan Jay Wijayanto. “Kita juga sedang fokus untuk mengadakan roadshow di beberapa kota yang ada di Indonesia untuk memperkenalkan film karya Anak Medan yang sebenarnya tidak kalah dengan film-film lainnya,” jelas Dedy.

“Saya berharap film ini dapat memberikan efek positif bagi para penonton dan juga untuk memotivasi penonton terutama pelajar agar semakin giat belajar.” ***

Jeff Smith Ingin Berangkatkan Ibunya Naik Haji

 

AKTOR Jeff Smith berniat memberangkatkan ibunya, Areistiani, naik haji. Hal tersebut adalah hal terbesar yang ingin dilakukan Jeff Smith sebagai anak tunggal.

“Penginnya Mama naik haji sih, tapi gue belum ngerti juga caranya, tapi mau Mama pergi haji,” kata Jeff Smith kepada penulis.

Bukan hanya karena dirinya anak tunggal, namun karena Jeff Smith merasa ibunya adalah orang yang paling mengerti dirinya selama 15 tahun terakhir ini. Pasalnya aktor bernama asli Mark Jeffrey Smith itu hanya tinggal berdua dengan ibunya, setelah ayahnya yang berasal dari Amerika, Milton Carey Smith meninggal dunia 2003 lalu.

“Jadi gue tinggal sama nyokap berdua doang udah lama banget, bokap meninggal 2003. Udah lama banget kan 15 tahun. Jadi 15 tahun berdua satu rumah jadi deket banget, apa jeleknya udah tahu, apa bagusnya juga tahu,” lanjut Jeff Smith.

Tak heran, meski usianya sudah 20 tahu, bintang film Alas Pati itu tak malu mengungkapkan betapa dekat dirinya dengan ibunya. Salah satunya adalah mengunggah foto masa kecil bersama ibunya di Instagram dan menuliskan caption panjang yang menunjukkan dirinya sangat menyayangi ibunya.

Selama berpuasa, Jeff tetap berolahraga basket dan futsal. Bahkan, disela waktu lowong, dia sempatkan belajar mengaji di masjid dekat rumahnya. ***

Kisah Heroik Laksamana Malahayati Difilmkan

KISAH heroik Laksamana Keumalahayati diangkat dalam bentuk komik. Diterbitkan oleh KPG Jakarta.

Kisah tersebut ditulis oleh Edna Caroline, melibatkan dua komikus Ardian Syaf, dan Aris Naka Abee.

Peluncuran komik Keumalahayati ini dilakukan di Gedung Perpustakaan Nasional, Jalan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (21/5/2018) siang.

Tiga seniman Aceh, Rafly Kande, Agus PMTOH dan Teuku Rifnu Wikana hadir memeriahkan peluncuran tersebut.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf hadir memberi sambutan. Hadir juga mantan Panglima TNI, Gatot Nurmantyo, Kapusbang Film Dikbud, Maman Wijaya, Ray Sahetapi, Jajang C Noer dll.

Laksamana Keumalahayati yang tahun lalu ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, adalah perempuan pejuang dari abad ke 16 di Kesultanan Aceh Darussalam.

Ia maju ke medan laga pertempuran memimpin para perempuan pejuang lainnya yang diberi nama “Inong Balee” atau lasykar para janda.

Produser Marcella Zalianty berencana mengangkat sosok perempuan heroik dari Tanah Aceh ini dalam film layar lebar.

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Marcella telah menemui Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansayah di Banda Aceh belum lama ini. ***

“Happy Days”, Single Jazz Karya Nial Djuliarso yang Terinspirasi Suasana New York

 

KESIBUKAN STUDI tak membuat Nial Djuliarso mlempem dalam produksi musiknya. Pianis jazz asal Indonesia yang tengah  menyelesaikan studi Jazz di kota New York ini, kembali meluncurkan single jazznya yang terbaru.

“Waktu itu saya sedang jalan-jalan menikmati kota New York. Lalu tiba-tiba muncullah irama beat lagu ini. Langsung saya ciptakan komposisi baru sebuah lagu, judulnya Happy Days,” kata  Nial  seperti dikutip VOA saat berbincang  di taman Washington Square, New York.

Pekan ini, Nial  sukses menyelesaikan program  Steinhardt Master Program, di Universitas New York (NYU).  New York yang dikenal sebagai kota bisnis di Amerika dipandang Nial sebagai kota yang penuh inspirasi.

“Setiap sudut kota ini, mulai dari Manhattan, Bronx, sampai area kampus NYU, mempunyai daya inspirasi yang sangat menarik,” ujarnya.  Di kampus NYU dia memperdalam ilmu seni musik ini menambahkan, di kampus tersebut dia  memperdalam  musik jazz, komposisi, dan aransemen. Bukan hanya itu, dia  juga  belajar film music score  atau  musik untuk film.

Pemilik album  The Jazz Soul of Ismail Marzuki ini punya gaya permainan piano soft improvisation. Sentuhan nada-nada improvisasinya terdengar simple, indah dan mudah dicerna, padahal dimainkan dengan tingkat progresi kord yang sangat tinggi.

Komposisi Nial pada lagu-lagu heroik Ismail Marzuki seperti Juwita Malam dan Rayuan Pulau Kelapa, mengingatkan pendengarnya pada gaya permainan pianis Nick Mamahit yang populer di tahun 1980an. Gaya permainan inilah yang juga muncul dalam lagu, Happy Days.

Nial menjelaskan, komposisi dasar lagu Happy Days  pernah dibuatnya  pada sekitar 10 tahun lalu, saat dirinya  belajar diploma jazz  di Julliard School, di  New York. Tapi, lagu tersebut baru tahun dirilis,

“Mungkin karena inspirasi kota ini membuat saya semangat kembali membangun komposisi Happy Days”, tambahnya.

Ditanya mengenai karir musiknya, Nial  mengatakan,  setelah wisuda diiriny aakan  kembali berkarir di Jakarta. Dia pun berharap,  karya-karya musik jazz Indonesia semakin dikenal di New York dan Amerika,  sehingga dapat meningkatkan citra musik jazz Indonesia di ajang internasional.***

 

Jefri Nichol Berpuasa di Lokasi Syuting

JEFRI Nichol kembali dipasangakan dengan Amanda Rawles dalam film Hello Salma, sekuel dari Dear Nathan. Jefri Nichol mengatakan, Ramadhan 2018 dirinya akan menghabiskan banyak waktu di lokasi syuting.

“Ini baru proses reading, syutingnya baru pada 19 Mei di Jakarta dan sekitarnya,” ungkap Jefri Nichol, usai acara syukuran film Hello Salma di Kantor Rapi Films di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (16/5).

Jefri Nichol mengaku sudah memperhitungkan risiko yang akan terjadi. Mengingat syuting saat Ramadhan, Jefri Nichol pun mengatur waktu dan tenaganya. Aktor tampan kelahiran 15 Januari 1999 itu optimistis semua akan berjalan dengan baik. “Syutingnya pas Ramadan. InsyaAllah nggak ada yang bolong,” kata Jefri Nichol.

Lebih lanjut, aktor berdarah Sumatera Barat ini, menceritakan soal Hello Salma yang masih berkaitan dengan Dear Nathan.

“Ini cerita tentang setahun pacaran sama Salma. Ceritanya lebih dalam lagi, kalau yang sebelumnya kan unyu-unyuan. Pembahasan film ini tentang problematika yang remaja alami sekarang, soal depresi,” jelas Jefri Nichol.

Meski sebelumnya sudah pernah dipasangkan, tidak dipungkiri Jefri Nichol dan Amanda Rawles harus kembali membangun chemistry. ***

Film Jadul Warkop DKI ‘Sama Juga Bohong’ Direstorasi

NGOMONG film komedi jadul Indonesia, mungkin belum ada yang ngalahin kocaknya trio Dono, Kasino, dan Indro dalam Warkop DKI. Meskipun filmnya telah dibuat versi reborn, kayaknya penggemar versi jadulnya masih banyak. Terbukti jaringan bioskop CGV akan menayangkan kembali film Warkop DKI tahun 1986 ‘Sama Juga Bohong’.

Film yang disutradarai oleh Chaerul Umam tersebut sudah direstorasi. Dijamin gambarnya tajam. Film ‘Sama Juga Bohong’ masuk dalam pilihan CGV dalam rangka ‘Vintage Film Festival’ yang menayangkan kembali film-film Indonesia klasik tahun 1970-1990-an yang telah direstorasi.

‘Sama Juga Bohong’ bisa dinikmati mulai Jumat 18 Mei hingga 10 Juni mendatang pada hari Jumat sampai Minggu saja. Filmnya hanya tayang di Jakarta, Bekasi, Depok, Bandung, dan Yogyakarta. Film ini juga dimeriahkan sederet bintang top masa itu yaitu Nia Zulkarnaen, Ayu Azhari, Chintami Atmanagara dan Ida Kusuma. ***

Langit 7 Bidadari, Libatkan Artis-artis Ternama

Sebuah pagelaran bertajuk Langit 7 Bidadari akan digelar pada 1 Juni mendatang di Theater Garuda TBTI, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Mengangkat kisah Joko Tarub, perhelatan yang digelar oleh Langitpitu ini membawa misi untuk menghargai dan peduli kepada negeri sendiri. Mengangkat betapa kayanya alam dan budaya Indonesia.

Sejumlah artis Tanah Air terlibat dalam pagelaran ini, Samuel Rizal yang berperan sebagai Joko Tarub, Jajang C Noer sebagai Mbok Rondo, Indi Barends, Sofia Latjuba, Ersa Mayori, dan Ririn.

Pertunjukan ini bertujuan untuk membangkitkan kecintaan kembali kepada budaya bangsa dan semangat kebangsaan, mengobarkan kembali semangat kebangsaan dalam 11 Dasawarsa Kebangkitan Nasional NKRI dan Hari Lahir Pancasila.

Ceritanya mengisahkan seorang pemuda bernama Jaka yang berpetualang mencari cinta. Dia bercita-cita seperti legenda Jaka Tarub akan mencari bidadari di suatu pojok negeri tempat diyakini bidadari dari kayangan turun. Singkat cerita para bidadari yang dijumpai menjelaskan mereka dari kayangan justru sangat mengagumi negeri pusaka tempat Jaka tinggal. ***