Presiden Jokowi Tak Ingin Indonesia Hanya Jadi Pasar Ekonomi Digital

JAYAKARTA NEWS – Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam ekonomi digital, yaitu diperkirakan mencapai USD146 miliar pada tahun 2025. Kontribusi ekonomi digital Indonesia juga diproyeksikan naik delapan kali di tahun 2030 yaitu di angka Rp4.531 triliun.

Saat meresmikan Sea Labs Indonesia di Gedung Pacific Century Place, SCBD, Jakarta, pada Selasa, 1 Maret 2022, Presiden Jokowi menginginkan agar Indonesia menjadi pemain dalam ekonomi digital tersebut dan tidak hanya menjadi pasar.

“Seluruh sektor digital juga mengalami pertumbuhan dua digit di tahun 2021. Tapi yang saya tidak ingin adalah Indonesia hanya menjadi pasar saja, Indonesia juga harus menjadi pemain,” ujar Presiden.

Untuk mendukung hal tersebut, Presiden memandang bahwa ekosistem yang kondusif harus dibangun bersama-sama. Selain itu, Presiden juga ingin agar talenta-talenta digital Indonesia, baik di bidang kecerdasan buatan (AI), cloud computing, hingga blockchain, yang ada di luar negeri diundang untuk kembali ke Tanah Air.

“Saya kira banyak yang anak-anak kita yang ada di luar yang perlu kita undang untuk kembali ke Tanah Air dalam rangka membangun sistem digital kita agar lebih baik,” imbuhnya.

Presiden pun mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh Sea dan Sea Labs Indonesia yang telah mengundang talenta digital Indonesia untuk kembali ke Tanah Air. Bahkan, di tahun 2023 pihak Sea mengatakan akan mengundang sekitar 1.000 talenta digital untuk bisa kembali ke Indonesia untuk masuk di Sea maupun Sea Labs Indonesia.

“Saya kira ini, saya harus mengatakan apa adanya, saya sangat menghargai upaya-upaya yang seperti ini. Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Kita harapkan bahwa perkembangan ekonomi digital ini bisa juga memicu pemasaran produk-produk UMKM yang seperti tadi saya lihat dan memberikan kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi yang inklusif, yang merata dan berkeadilan,” tandasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden Jokowi juga berdialog dengan empat talenta digital Indonesia yang berada di luar negeri. Mereka adalah Ainun Najib yang saat ini menjabat sebagai Head of Analytics, Platform & Regional Business Grab Singapura, Rangga Garmastewira yang bekerja sebagai Tech Lead di SeaMoney Singapura, Chairuni Aulia Nusapati yang bekerja sebagai software engineer di Google UK, dan Veni Johanna yang menjabat sebagai Head of Frameworks Engineering di Asana Amerika Serikat.

Untuk diketahui, Sea Labs Indonesia merupakan inisiatif Sea yang hadir untuk menumbuhkan industri digital Indonesia dan memberikan pelatihan intensif bagi talenta digital baru. Melalui kurikulum yang disiapkan oleh pakar teknologi dan digital serta peluang pelatihan kerja, Sea Labs Indonesia

akan membangun tim yang terdiri dari 1.000 talenta digital Indonesia terutama engineer dan

product manager, yang akan siap untuk berkontribusi melalui teknologi. Sea Labs Indonesia akan melibatkan guru dan mentor kelas dunia yang berpengalaman untuk berbagi pengetahuan dengan talenta digital Indonesia.

Turut hadir dalam acara tersebut yaitu Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim, Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki, Chairman & CEO Group SEA Forrest Li, dan COO SEA Ye Gang. (*/mel) 

CS MAYA

Oleh: Joko Intarto

Beginilah model pelayanan pelanggan di era milenial. Pengunjung bisa berkomunikasi secara langsung dengan petugas customer service melalui perangkat komunikasi virtual. Peralatan ini kemungkinan akan segera ngetren.

Ada pengalaman baru saat berkunjung ke kantor perusahaan asuransi asal Prancis di Jl Sudirman, Jakarta Pusat itu. Saya menikmatinya saat mengurus penarikan dana dua polis unit link yang saya buka 10 tahun lalu.

Untuk masuk ke lobi, ada tiga tahap yang harus saya lewati.

1. Check in secara online.

2. Registrasi secara online.

3. Verifikasi secara online.

Setelah melalui tiga tahap itu, barulah bisa menyelesaikan proses permohonan secara onsite atau offline.

Check in secara online, Saya semua sudah tahu caranya. Aplikasi yang digunakan adalah Peduli Lindungi.

Petugas keamanan di pintu gerbang meminta saya memperlihatkan layar smartphone untuk memastikan apakah aplikasi sudah di-update. Setelah itu, saya wajib memindai QR-code yang terpajang di situ.

Lolos tahap pertama, saya bertemu petugas baris kedua yang memegang senjata thermo gun. Fungsi senjata itu untuk memastikan suhu badan saya tidak melebihi batas tertinggi.

Tahap ketiga adalah registrasi secara online. Ada aplikasi lain yang harus saya gunakan: Aplikasi antrean. Saya diminta mengisi tujuan datang ke kantor tersebut. Ada beberapa tombol yang terpampang di layar komputer. Kalau sudah memilih salah satunya, komputer akan memberikan selembar kertas berisi nomor antrean dan konter yang sesuai.

Tiga tahapan sudah selesai. Saya diminta menunggu di ruangan khusus. ‘’Tunggu sampai ada panggilan dari aplikasi,’’ kata petugas keamanan.

Tak sampai 10 menit, nomor antrean saya dipanggil. Jumlah pengunjung Rabu siang memang tidak terlalu ramai. Saat tiba di mesin antrean pukul 10:30, saya menjadi pengunjung urutan 400-an.

Sesuai arahan petugas keamanan, saya segera menuju ke konter customer service di rungan yang lain lagi. Di situ saya celingukan. Sebab petugasnya tidak tampak. ‘’Berdiri saja di depan komputer, nanti petugas customer service akan menyapa,’’ kata petugas keamanan yang lain lagi.

Saya ikuti petunjuknya dengan berdiri di depan komputer.

Tiba-tiba, ‘’Blip!’’

Layar komputer terbuka. Muncul petugas customer service berhijab yang menyapa dengan ramahnya. Sembari bertanya-tanya, petugas itu memandu saya untuk mengisi formulir yang sudah tersedia. Hasilnya diperlihatkan secara fisik melalui kamera khusus.

‘’Semua sudah beres. Silakan serahkan formulir ke petugas onsite di konter selanjutnya,’’ kata petugas itu.

Virtual customer service system merupakan pengembangan sistem pelayanan pelanggan konvensional menggunakan aplikasi video conference. Layanan ini dibangun untuk mengurangi sebanyak mungkin kontak fisik antara nasabah dengan petugas pelayanan pelanggan.

Prosedur kesehatan untuk mencegah penularan virus Covid-19 memang merekomendasi pengurangan kontak fisik. Maka aplikasi video conference menjadi solusinya.

Membangun virtual customer service system seperti itu tidaklah rumit. Setiap konter pelayanan pelanggan hanya perlu dipasang sebuah mini PC dengan web camera beresolusi HD atau full HD, sebuah ghooseneck microphone dan speaker monitor. Video monitornya menggunakan layar PC berukuran 19 inchi.

Di ruangan pelayanan pelanggan itu terdapat 5 meja. Masing-masing dilengkapi satu set perangkat yang sama. Posisinya berjejer dengan jarak masing-masing 1,5 meter. Sesuai prosedur kesehatan standar Covid-19.

Alat yang sama dipasang juga di konter petugas pelayanan yang berada di ruangan lain. Komunikasi secara online bisa diatur, apakah satu perangkat petugas akan melayani satu perangkat nasabah atau beberapa perangkat nasabah.

Bila melayani beberapa perangkat nasabah, petugas akan memberlakukan sistem antrian menggunakan breakout room meeting. Bila hanya melayani satu nasabah, harus disiapkan perangkat dengan jumlah yang sama. Begitu pun jumlah akun aplikasi video conference-nya.

‘’Wah layanannya canggih betul ini,’’ komentar saya kepada petugas keamanan yang memandu.

‘’Ini fasilitas terbaru kami Pak. Memang paling canggih,’’ jawabnya dengan nada bangga.

Mendengar jawabannya, saya hanya tertawa dalam hati. Ingatan saya melayang ke masa lima tahun yang lalu.

Ketika masih sendirian dalam bisnis penyediaan jasa video conference tahun 2016, saya sudah merancang sistem ini. Sistem itu saya namakan CS Maya. Namun CS Maya tidak direspon pasar. Klien-klien merasa belum memerlukannya.

Pandemilah yang membuat kebutuhan terhadap CS Maya itu muncul dan terus meningkat. CS Maya mulai saya perkenalkan kepada eksekutif Lazismu untuk melayani para muzaki yang hendak menunaikan zakat. Sekarang konsep CS Maya telah menjelma dengan aneka nama. (*)

Survei Markplus: E-commerce yang Mendukung Produk Lokal Selama Pandemi

JAYAKARTA NEWS – Tendensi kenaikan minat masyarakat terhadap merek lokal terus meninggi didukung dengan kemudahan berbelanja konsumen melalui kanal e-commerce.

Hal ini diungkap pada riset terbaru “MarkPlus Insight: Peran E-commerce dalam Mendukung Merek Lokal Selama Pandemi” secara virtual melalui Zoom, Kamis (14/10/2021).

Hadir dalam acara ini Tubagus Fiki Chikara Satari – Staf Khusus Menteri Koperasi UKM Indonesia, Ayu Purnamasari – Owner Dakara Indonesia, dan Rhesa Dwi Prabowo – Head of High-Tech, Property & Consumer Goods MarkPlus, Inc sekaligus peneliti dalam riset tersebut.

Dari survei terungkap, peningkatan penjualan produk lokal di kanal online secara signifikan. Meski terdapat angka kenaikan yang fantastis, namun hanya 18% UMKM di Indonesia yang sudah beradaptasi dengan platform penjualan digital.

“Kecenderungan konsumen membeli produk lokal makin meninggi didorong beberapa faktor, di antaranya selama pandemi, pemasaran online menjadi fokus bagi para pelaku usaha produk lokal menggencarkan pemasaran dan mempromosikan produk di media sosial dan e-commerce, mengikuti berbagai program e-commerce, serta membuat berbagai konten yang menarik,” ungkap Rhesa mengenai ketertarikan khalayak terhadap merek lokal.

Di tengah maraknya globalisasi, persaingan dagang merek lokal dengan merek global kian kompetitif. Kemudahan bertransaksi digital saat ini juga menjadi pendorong mudahnya konsumen berbelanja tanpa melihat batasan ruang dan waktu.

“Selain itu, pelaku usaha juga selalu berinovasi terhadap produknya dengan melakukan pembaharuan model, desain, variasi produk, serta mulai menjual produk yang dibutuhkan saat pandemi seperti masker. Pelaku usaha juga kerap membuat promo, menawarkan sample produk mereka kepada pembeli, bahkan garansi,” lanjut Rhesa.

Dari sudut pandang pihak pemerintah, dukungan yang dilakukan oleh e-commerce untuk pengembangan produk lokal adalah melalui pelatihan & pendampingan serta edukasi terhadap produk lokal.

Tubagus Fikri Chikara Satari, Staf Khusus Kementerian Koperasi dan UKM mengungkap target pemerintah pada tahun 2040 yaitu 30 juta UKM akan onboarding untuk digitalisasi. Hal ini kemudian ditindak lanjuti oleh Kemenkop UKM dengan menggelar beragam program kemitraan dan pendampingan yang melibatkan universitas, asosiasi, online delivery platform, serta jejaring ritel termasuk e-commerce.

“Strategi kita mengkonsolidasi usaha mikro ini adalah dengan mendorong UKM dan juga industri usaha besar agar menjadi mitra, konsolidator, dan aggregator,” ujar Fiki.

Lebih lanjut, tokoh Asosiasi E-commerce Indonesia Ignatius Untung, selaku Dewan Pakar idEA pada sesi interview dengan MarkPlus menjelaskan, “Sebetulnya, semua e-commerce sudah punya section khusus yang isinya produk lokal. Tapi kalau saya lihat, e-commerce lokal seperti Tokopedia benar-benar punya inisiatif yang baik untuk mendorong perkembangan produk produk lokal. Bisa dilihat bahwa setidaknya di platform tersebut semua penjualnya dari Indonesia, tidak ada yang dari luar.”

Ayu Purnamasari, Owner Dakara Indonesia yang turut hadir memaparkan sudut pandangnya sebagai pegiat usaha lokal di bidang fesyen. Meniti usahanya sejak 2017, inisiatif Ayu menggunakan platform digital sebagai sarana penjualan dimulai sejak pandemi COVID-19. Setelah omzetnya sempat anjlok hingga hampir 100%, pihaknya mampu kembali meningkatkan omzet dengan memanfaatkan beragam fitur dan program yang dihadirkan platform e-commerce.

“Hampir 100% tidak ada omzet. Akhirnya ketika semua toko offline kami tutup, saya berinisiatif membuka toko di marketplace. E-commerce membantu sekali untuk berjualan online karena mereka punya banyak campaign dan program yang menguntungkan baik bagi penjual maupun pembeli.” pungkas Ayu.

Peranan e-commerce dinilai penting sebagai penyedia kemudahan berbelanja bagi para konsumen saat ini. “Dari hasil survei ini diungkap bahwasanya 51% responden memilih Tokopedia sebagai e-commerce yang paling diminati untuk membeli produk lokal, diikuti Shopee (40,8%), Lazada (4%), Bukalapak (3,4%), JD.ID (0,4%), dan Blibli (0,4%),” jelas Rhesa.

Data lain yang ditemukan dari survei ini, ada 5 (lima) produk lokal favorit konsumen e-commerce Indonesia yaitu fesyen (63,8%), makanan & minuman (49,4%), produk rumah tangga (48,2%), mainan & hobi (40,6%), serta produk ibu & bayi (36,2%). (*/mel)

Lintasarta Hadirkan Cloudeka untuk Korporasi

JAYAKARTA NEWS – Pandemi Covid-19 telah menggagalkan pertumbuhan ekonomi nasional yang diharapkan mencapai 5% pada tahun 2020 namun hanya mampu bergerak diangka 2% hingga 3%.

Aviliani, Senior Economist INDEF menyebut hal itu terjadi karena faktor kesehatan sangat memengaruhi ekonomi sehingga pandemi telah mengakibatkan terpuruknya pertumbuhan ekonomi Indonesia.  

Namun Avialiani memprediksi akhir tahun 2021 Indonesia optimis bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi menjadi 3%-4%. Masa ini menurut Aviliani harus menjadi masa adaptasi bagi perusahaan untuk bergerak menyongsong era baru yakni ekenomi digital berbasis teknologi informasi komunikasi.

Pandemi Covid-19 telah membuktikan ampuhnya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang terlihat dari maraknya berbagai layanan dalam jaringan (layanan daring) atau layanan online.

Hal itu menjadi peluang tersendiri bagi industri yang sudah bergerak dalam penyediaan layanan teknologi informasi.

Aviliani menekankan ke depannya selama tidak ada perkembangan baru varian Covid-19 maka pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih baik. Tantangannya adalah infrastruktur dan sumber daya manusia.

Hal itu disampaikan Aviliani dalam pembukaan konferensi nasional yang diselenggarakan Lintasarta yang mengusung tajuk “Lintasarta Cloudeka Conference : ICT & Business Outlook 2022”.

Selain menghadirkan Aviliani, “Lintasarta Cloudeka Conference : ICT & Business Outlook 2022” mempertemukan para senior eksekutif, praktisi, pembuat kebijakan, dan beberapa perwakilan industri di seluruh Indonesia.

Konferensi ini diikuti lebih dari 1000 peserta lintas sektoral dari industri banking atau finance, manufaktur, e-commerce, retail, otomotif, transportasi, logistik, pertambangan, energi, dan pemerintahan.

“Lintasarta telah hadir dan membangun negeri sejak 1988. Berawal dari perusahaan yang terfokus pada layanan connectivity, kini telah bertransformasi menjadi perusahaan ICT total solutions company yang hadir di 88 kota dan kabupaten seluruh Indonesia,” ucap President Director Lintasarta Arya Damar, saat membuka Lintasarta Cloudeka Conference, Rabu (15/9/2021).

Bersamaan dengan gelaran konferensi maka Lintasarta turut meluncurkan kembali layanan Cloud karya anak bangsa pertama di Indonesia yang didesain untuk membantu perusahaan berdaya saing global di era digital, yakni Lintasarta Cloudeka.

Didirikan oleh perusahaan ICT ternama di tanah air, Lintasarta, Cloudeka hadir menyediakan layanan cloud untuk perusahaan besar, institusi pemerintahan dan UKM.

“Cloud merupakan komponen yang sangat penting dalam perjalanan digital transformasi di dunia bisnis saat ini, sehingga Lintasarta meluncurkan Cloudeka. Cloudeka berdedikasi dan berkomitmen membangun dan memelihara kemitraan yang kuat untuk meningkatkan bisnis lokal melalui layanan cloud end-to-end. Karena visi Cloudeka adalah menjadi penyedia cloud lokal terpercaya nomor satu di Indonesia yang membantu pelanggan meraih kesuksesan dalam bisnis sesuai dengan kebutuhan para pelanggan korporasi, institusi pemerintahan & UMKM,” kata Ginandjar, Marketing & Solution Director Lintasarta, usai melakukan prosesi Launching Lintasarta Cloudeka.

Ginandjar menuturkan, salah satu produk jawara ICT yang digandrungi perusahaan top level saat ini adalah Cloud. Banyak perusahaan yang menjadikan layanan ini sebagai strategi khusus untuk memenuhi tuntutan penggunaan sarana digital.

“Cloud menjadi kunci perusahaan dalam membangun daya saing di era digital. Digitalisasi di seluruh sektor mendorong perubahan cara berkomunikasi untuk dapat terhubung dan mengakses data semudah mungkin dari mana pun dan kapan pun. Hal ini juga menjadikan kebutuhan akan Cloud semakin tinggi dalam mempermudah proses bisnis dan meningkatkan pengalaman pelanggan,” ujarnya. (fien)

Trik Meraup Untung di Pasar Global

JAYAKARTA NEWSDalam iklim ekonomi global saat ini, membawa bisnis e-Commerce malampuai lintas batas, merupakan langkah fantastik untuk memastikan keberlangsungan bisnis Anda dalam jangka panjang.

Ada tip dari Payoneeer yang perlu disimak, yang dapat memandu Anda mempelajari dasar-dasar bagaimana memperluas pasar yang lintas batas. Menariknya, Payoneer juga memberi saran bagaimana cara Anda  memilih pasar yang tepat, termasuk melokalkan toko Anda secara efektif.

Menurut sebuah risett yang dikutip Payoneer,  sebanyak 48% pembeli online di Eropa merupakan  pembeli dari berbagai negara.  Pembeli pasar online di Inggris misalnya, 31,4% berasal dari luar negeri.

Berdasarkan deteksi Bahasa yang digunakan, pasar eCommerce setidaknya menggunakan 23 bahasa. Variasi lainnya adalah, mereka berasal dari berbagai  budaya dengan kebiasaan konsumen yang sangat beragam, menggunakan berbagai mata uang, termasuk euro. Mereka juga menggunakan berbagai metode pembayaran.  Data seperti itu perlu  dipertimbangkan oleh Anda sebagai seller. 

“Memperluas bisnis ke penjualan lintas batas atau negara  membutuhkan penelitian yang kuat dan pemahaman utama tentang sasaran pasar, diikuti dengan strategi yang kuat untuk berhasil di pasar tersebut,” kata Naomi Botting.

Memilih Pasar yang Tepat

Sebelum membuat strategi lintas negara, Anda harus memilih pasar yang tepat untuk ekspansi internasional Anda. Ada beberapa pertanyaan yang perlu Anda tanyakan kepada diri Anda sebelum memilih sasaran pasar Anda:

  • Apakah Anda sudah memiliki pelanggan internasional? Dimana mereka berada?
  • Apakah ada permintaan untuk produk Anda di luar pasar lokal Anda?
  • Dengan siapa Anda akan bersaing di pasar baru Anda?
  • Saluran komunikasi dan apa akuisisi yang dapat Anda gunakan untuk mendapatkan pelanggan dengan cepat?

Langkah selanjutnya adalah bagaimana mengoptimalkan sumber daya Anda dan berapa targetnya terhadap pasar tertentu dengan potensi pertumbuhan bisnis tertinggi. Setelah itu, Anda dapat menetapkan posisi dalam hal nilai dan harga serta mengidentifikasi saluran pemasaran yang tepat untuk bisnis Anda.

Mengidentifikasi Saluran Pemasaran

Konsumen mempercayai pasar dan umumnya mereka lebih cenderung untuk membeli produk Anda di situs terkenal ini. Memang untuk masuk ke marketplace yang kenamaan, persyaratannya ketat. Namun harus disadari,  dengan cara ini memungkinkan pengecer menjangkau jutaan klien potensial.

Strategi yang baik adalah memulai dengan pasar global, seperti Amazon, eBay, dan marketplace lainnya untuk menguji berbagai produk di beberapa pasar. Namun, saat meluncurkan di pasar baru, jangan mengabaikan pemain lokal.

Pasar khusus dominan di beberapa pasar nasional – contohnya  Tokopedia dan Shopee di Indonesia, ASOS di Inggris, Zalando di Jerman. Di Prancis, pasar memainkan peran yang sangat penting dengan berbagai platform utama bersama para pemimpin global, termasuk Cdiscount, FNAC, dan La Redoute.

Berpikir global, bertindak lokal

Saat globalisasi seperti sekarang ini,  juga sangat penting untuk tampil se-lokal mungkin untuk benar-benar terhubung dengan audiens target Anda. Hal ini  berarti menyesuaikan bahasa di toko Anda dengan budaya lokal sambil memenuhi preferensi pasar.

Bahasa Lokal Penting

Sebuah studi yang dilakukan oleh Common Sense Advisory memberi gambaran bahwa  hampir 60% pelanggan online tidak akan berbelanja dari situs web yang tidak menggunakan bahasa asli mereka. Lembar produk dan pemasaran konten Anda harus multibahasa – yang mencakup blog, tutorial, dan video Anda. Kuncinya adalah melokalkan konten, bukan hanya menerjemahkannya: gunakan kosakata, kata-kata, ekspresi, dan bahkan bahasa gaul untuk beresonansi dengan pasar sasaran. Ukuran, bobot, dan volume semuanya harus disesuaikan dengan standar lokal.

Konsumen menghargai alamat email lokal dan nomor telepon untuk dihubungi, terutama agar mereka dapat dengan mudah menghubungi tanpa membayar biaya internasional. Memiliki layanan pelanggan lokal dan tim penjualan adalah kunci untuk memastikan kepuasan pelanggan.

Mengenali Pasar

Promosi pemasaran harus dilakukan sesuai dengan hari libur dan acara yang populer di target pasar Anda. Musim juga dapat berdampak signifikan pada apa yang Anda jual di tempat. Pertimbangkan, misalnya, koleksi musim dingin yang diluncurkan di Australia pada waktu yang sama dengan Inggris – kemungkinan besar akan gagal di pasar yang saat ini bukan musim dingin.

Pengiriman dan Pengembalian

Hal krusial lain yang perlu diperhatikan adalah masalah pengiriman yang cepat  dengan menawarkan bebas ongkos kirim misalnya, akan  meningkatkan loyalitas pelanggan. Dalam hal pengemasan untuk pengiriman lintas batas, yang terpenting adalah meminimalkan biaya. Selain itu, ketahui pasar Anda dan preferensinya. Perlu diantisipasi pula dengan semakin banyaknya pelanggan yang mengharapkan barang dikirim  pada hari yang sama. Pasar matang seperti ini sudah terbentuk di pasar eCommerce yang ada di  AS, Inggris, dan Jerman.

“Sekalipun sebagian besar pasar lebih memilih pengiriman ke rumah, klik dan kumpulkan (pembelian online yang diikuti dengan pengambilan di toko) sangat populer di Inggris, Jerman, dan Prancis,” tambah Naomi Botting.

Biaya pengiriman pengembalian barang, kebijakan pengembalian yang ketat, dan layanan pelanggan yang buruk merupakan  tiga faktor utama yang menyebabkan pengalaman buruk pelanggan saat berbelanja online. Untuk amannya, pertimbangkan untuk membuat seperangkat syarat dan ketentuan terpisah untuk setiap wilayah, negara, atau bahkan industry, agar sesuai dengan persyaratan dan harapan masing-masing.

Masalah Mata Uang

Penggunaan mata uang lokal telah terbukti dapat menghasilkan penjualan yang lebih tinggi. Pada platform tertentu, seperti di Google Shopping mensyaratkan hal tersebut.

Ada asumsi yang menyatakan  bahwa kartu kredit adalah cara terbaik dan satu-satunya alat untuk menerima pembayaran pembelian online. Asumsi tersebut tidak sepenuhnya  benar. Memang kartu kredit merupakan metode pembayaran yang paling populer di seluruh dunia (mendominasi lebih dari 50% pasar di sebagian besar negara pada tahun 2016), tetapi pada prinsipnya ada metode pembayaran lain yang benar-benar diperhitungkan di beberapa negara. Kita mdengenal di Indonesia ada OVO, Gopay, Sopheepay, dan transfer vua ATM.

Karena belanja online menggunakan smartphone telah menjadi norma di Eropa, maka pengecer lintas batas perlu memastikan bahwa metode pembayaran mereka juga ramah dengan smartphone.

Tak Sabar Menanti Bank Infak

Oleh: Joko Intarto

Jayakarta News – Ternyata sudah dua jam lebih. Tahu-tahu sudah pukul 17:00. Tentu karena topik diskusinya sangat menarik. Apalagi kalau bukan bank infak.

Sore tadi saya kembali rapat dengan para programmer di Tower H. Masih melanjutkan pembahasan program bank infak.

Yang membuat saya gembira, sore ini saya bertemu Mas Abi. Pendesain konsep aplikasi Bairuha. Aplikasi untuk membayar zakat, infak, sedekah dan wakaf tunai melalui 13 model transaksi.

Saya berkeinginan agar aplikasi Bairuha menjadi front end system dalam bank infak. Sedangkan back end system-nya menggunakan software bank infak yang berbasis ERP besutan tim BisnisBareng dari Semarang.

Aplikasi Bairuha dan ERP bank infak itu memang harus segera diujicoba untuk mengetahui kinerjanya. Hasilnya akan menjadi ilmu manajemen bank infak yang modern. Pengetahuan ini yang nanti akan menjadi bahan seminar dan pelatihan bagi semua pengurus lembaga keagamaan seperti lembaga zakat, infak dan sedekah serta masjid.

Rencananya, ujicoba bank infak akan dilakukan di Masjid As-Syukur di Bekasi. Pak Zendy ketua DKM Masjid As-Syukur menyatakan sudah siap.

Masjid di kompleks perumahan Bulog itu telah mengumpulkan dana infak Rp 250 juta. Sebagian di antaranya akan disalurkan sebagai modal usaha produktif yang dijalankan warga dhuafa di seputar masjid.

Infak produktif akan dibelanjakan mesin jahit sebagai alat produksi boneka pesanan sebuah pabrik di Bekasi. Anang Sudjana, pengusaha boneka itu, akan membantu melalui pelatihan menjahit, manajemen quality control, menyediakan kain flannel dan spon sebagai bahan baku boneka.

Pekerjaan rumah saya sekarang sudah berkurang. Tinggal menunggu software ERP bank infak dan mempertemukan stakeholder DKM Masjid As-Syukur dengan para programmer. Sesudah itu, menggelar pelatihan teknis untuk pengurus bank infak sebagai persiapan ujicoba. ‘’Pengembangan software terus berlangsung. Apalagi sekarang sudah mendapat support Pak Iwan dari PT Sewiwi Indonesia untuk servernya,’’ lapor Anton Wahyudi, tokoh muda di belakang BisnisBareng.

Memang benar kata Pak Ustadz. Niat baik akan menemukan jalannya sendiri. (*)

Kita Harus Responsif terhadap Perubahan

Wapres Jusuf Kalla sebagai keynote speach diskusi “smart business” yang diselenggarakan PWI Pusat, (foto: ist)

Jakarta News – Setiap perubahan yang dipicu oleh perkembangan teknologi harus direspon dengan cepat dan bijak. Jika tidak, akan terlindas oleh perubahan itu sendiri, atau gagap dan tidak akan nyaman menjalani hidup, apalagi memenangkan persaingan.

Demikian antara lain pesan yang dapat dipetik dari diskusi Smart Business, Making Indonesia 4.0 vs Super Smart Society 5.0, diselenggarakan PWI Pusat, Kamis (11/7) di Jakarta.  Diskusi ini menghadirkan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan pebisnis Chairul Tanjung.

Perkembangan industri di era ini antara lain ditandai dengan prinsip efisiensi, misalnya dengan menggunakan tenaga robot. Namun di sisi lain, efek perkembangan demografi juga memerlukan pemikiran tatanan sosial baru yang juga pelik guna terwujudnya smart society.

Meski sebagai keynote speach, Jusuf Kalla tak banyak bicara tentang industri 4.0 (empatzero/kosong). Sebenarnya, kata JK, seminar, pertemuan atau diskusi masalah industri 4.0 ini sering  dilakukan. Sebelumnya ia juga bicara dalam suatu konferensi di Jepang membahas hal serupa.

Ia mengatakan, dalam industri-industri itu banyak tenaga manusia bisa digantikan robot.  Namun, kalau banyak orang tidak berpendapatan, lantas siapa yang beli barang.  Padahal jika tidak ada yang membeli barang-barang tersebut, perekonomian akan hancur .

“Jadi, gambaran ke depan, tidak seperti itu,“ kata JK. Kebijakan ekonomi 4.0 itu tidak berlaku untuk semua negara. Banyak jenis pekerjaan yang harus dilakukan menggunakan tenaga manusia. Penggunaan teknologi pada industri  tujuannya agar kita bekerja lebih efisien. “Prinsipnya itu, jadi tidak sama sekali menghilangkan tenaga manusia,” tambahnya.

Diakui, setiap perubahan dan perkembangan teknologi mengubah society. Dicontohkan, dulu banyak toko-toko, namun setelah muncul mal-mal, banyak toko tutup. Keberadaan mal kemudian terganggu/ atau berkurang setelah muncul e-commerce. Jadi semua ada tahapannya.

Sementara itu, sebelumnya Chairul Tanjung menekankan agar kita responsip menghadapi perubahan.  Revolusi 4.0 sudah sering dibicarakan, dan kini yang sering dihembuskan revolusi 5.0. karena pengaruh digital dan teknologi itu berdampak baik dan juga buruk.

Khusus di Indonesia, juga dipicu perubahan demografi yang sangat signifikan.  Generasi milenila memiliki cara hidup dan cara pandang yang berbeda dengan generasi sebelumnya, dan ini juga dibarengi dengan perkembangan teknologi.

Mereka menyukai pekerjaan yang menantang kreativitas, dan membuat inovasi-inovasi. Tidak tergantung tempat, yang penting ada internet, laptop dan ponsel atau gatget. Ketergantungan terhadap internet lebih banyak, dan penggunaan teknologi itu pun lebih lama, dan prinsipnya dalam bekerja pun harus hepi.

Mereka juga  sangat konsen terhadap kesehatan. Efek dari semua itu akan memberikan harapan hidup lebih panjang, dan jumlahnya pun meningkat.  Karena itu society-nya menjadi pemikiran pula, bagaimana selanjutnya, bagaimana melahirkan smart society dari revolusi digital yang demikian melesat yang telah mengubah banyak sisi kehidupan. Itulah yang acap dibahas dalam revolusi 5.0.

Dengan harapan usia hidup yang lebih lama, antara lain yang mendasar dipikirkan meliputi koneksitas sosialnya, kesehatannya dan fasilitas transportasinya. “Itulah yang harus dipikirkan bagaimana perkembangan teknologi itu memberikan kebaikan pada umat manusia, “  kata Tanjung

Mengakhiri paparannya, Chairul Tanjung menekankan dengan mengutip sebuah ungkapan bijak, bahwa bukan yang kuat dan pintar yang akan menang dalam persaingan, melainkan mereka yang responsif terhadap perubahan itulah yang akan jadi pemenang(isw/nanang)

Jack Ma: Hati-hati Revolusi Teknologi Bisa Sebabkan Perang Dunia

Jack Ma di Forum Ekonomi Dunia Davos (foto: REUTERS)

Oleh: Leo Patty

Jack Ma Yun, ketua Alibaba, dalam pertemuan puncak Davos, menyatakan dunia harus waspada dan menghindari resiko terjadinya Perang Dunia akibat revolusi teknologi terbaru.

Dia, dalam Forum Ekonomi Dunia di Swiss, memperingatkan munculnya teknologi baru telah menyumbangkan perubahan positif tapi juga menciptakan masalah-masalah sosial lainnya.

Dia juga menekankan keyakinannya akan kemampuan teknologi melakukan hal-hal baik. “Pertama-tama, sebagai perusahaan teknologi, kami percaya teknologi sangat baik untuk umat manusia. Kami percaya teknologi bisa menciptakan lapangan kerja yang luas,” tukas Ma.

“Pada tahap awal, setiap teknologi akan membawa kekuatiran. Kekuatiran, jika tidak dikelola dengan baik, akan menciptakan masalah,” tambahnya.

Dia juga menyatakan, “Perang Dunia pertama disebabkan oleh revolusi teknologi pertama. Revolusi teknologi kedua menyebabkan Perang Dunia kedua. Sekarang sedang terjadi revolusi teknologi ketiga.”

Ma, orang terkaya di Tiongkok dengan nilai kekayaan mencapai 38 miliar dolar AS, juga menekankan perlunya globalisasi dan perdagangan bebas. Kemudian dia menyatakan reformasi berbagai regulasi perdagangan perlu dilakukan. “Globalisasi sepanjang 30 sampai 40 tahun telah membantu banyak negara bertumbuh, terutama negara seperti Cina. Seluruh dunia sedang mengharapkan bentuk baru globalisasi.”

Dia menjelaskan banyak orang tidak menyukai globalisasi karena mereka merasa telah ditinggalkan. Namun melibatkan lebih banyak negara-negara berkembang dan perusahaan-perusahan kecil dalam proses globalisasi akan membantu perbaikan kondisi perekonomian.

Saat ini, globalisasi hanya dikuasai oleh sekitar 60.000 perusahaan besar selama 20 tahun tearkhir, jelas Ma. Dia menambahkan angka ini akan membengkak sampai 60 juta perusahaan jika perusahaan kecil dilibatkan.

“Kebanyakan zona perdagangan bebas, saat ini, dirancang hanya untuk perusahaan besar saja. Kami pikir harus ada zona perdagangan bebas untuk perusahaan kecil untuk melakukan ekspor dan impor.” Dia juga mengusulkan agar perdagangan dibawah 1 juta dolar AS seharusnya bebas dari tarif apapun.

Ma menyebutkan akses terhadap hp (smart phone) berarti orang di seluruh dunia bisa “membeli secara global, menjual secara global, mendistribusikan barang secara global, membayar secara global dan berpergian secara global, bersuka-ria.”

Dia menyebutkan inilah visi dibelakang Electronic World Trade Platform (eWTP), sebuah platform yang dikembangkan Alibaba berkolaborasi dengan WTO dan diperluas masuk ke Afrika akhir tahun lalu.

Platform ini dirancang untuk memfasilitasi transaksi perdagangan bebas tarif dengan nilai dibawah 1 juta dolar AS. Misalnya, petani di Rwanda, negara pertama di Afrika yang menerapkan platform ini, bisa menjual kopi secara langsung dengan pembeli di Cina dengan harga 12 dolar AS per kilo dan nilai ini lebih tinggi 4 dolar jika perdagangan dilakukan secara tidak langsung.

Sumber informasi: South China Morning Post

Kewajiban Pajak bagi Pelaku Usaha E-Commerce

Dengan pertimbangan adanya model transaksi perdagangan melalui sistem elektronik (e-commerce), pemerintah memandang perlu lebih memudahkan pemenuhan kewajiban perpajakan bagi pelaku usaha perdagangan melalui sistem elektronik (e-commerce) sehingga para pelaku usaha dapat menjalankan hak dan kewajiban perpajakan dengan mudah sesuai model transaksi yang digunakan.

Atas pertimbangan ini, pada 31 Desember 2018, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati telah menandatangani Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 210/PMK.010/2018 tentang Perlakuan Perpajakan Atas Transaksi Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (E-Commerce).

Dalam PMK ini disebutkan, Penyedia Platform Marketplace wajib memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) dan wajib dikukuhkan sebagai PKP (Pengusaha Kena Pajak). Kewajiban untuk dikukuhkan sebagai PKP sebagaimana dimaksud, menurut PMK ini, juga diberlakukan kepada Penyedia Platform Marketplace, meskipun memenuhi kriteria sebagai pengusaha kecil sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan mengenai batasan pengusaha kecil Pajak Pertambahan Nilai.

Selain itu, PMK ini menegaskan, Pedagang atau Penyedia Jasa wajib memberitahukan NPWP kepada Penyedia Platform Marketplace. Dalam hal Pedagang atau Penyedia Jasa sebagaimana dimaksud belum memiliki NPWP, menurut PP ini, :  a. Pedagang atau Penyedia Jasa dapat mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP melalui aplikasi registrasi NPWP yang disediakan oleh Direktorat Jenderal Pajak atau yang disediakan oleh Penyedia Platform Marketplace; atau b. Pedagang atau Penyedia Jasa wajib memberitahukan Nomor Induk Kependudukan (NIK) kepada Penyedia Platform Marketplace.

“Pedagang atau Penyedia Jasa yang melakukan penyerahan barang dan/ a tau jasa secara elektronik (e-commerce) melalui Penyedia Platform Marketplace sebagaimana dimaksud melaksanakan kewajiban Pajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan di bidang Pajak Penghasilan,” bunyi Pasal 4 PMK ini.

PKP Pedagang atau PKP Penyedia Jasa yang melakukan penyerahan BKP (Barang Kena Pajak) dan/ atau JKP (Jasa Kena Pajak) secara elektronik (e-commerce) melalui Penyedia Platform Marketplace sebagaimana dimaksud, menurut PMK ini, wajib memungut, menyetor, dan melaporkan: a. Pajak Pertambahan Nilai yang terutang; atau b. Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah. “Pajak Pertambahan Nilai yang terutang sebagaimana sebesar 10% (sepuluh persen) dari Nilai Transaksi penyerahan BKP dan/atau JKP,” bunyi Pasal 5 ayat (2) PMK ini.

Sedangkan Pajak Penjualan atas Barang Mewah yang terutang, menurut PMK ini, mengikuti tarif dan tata cara penyetoran dan pelaporan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Selanjutnya, PMK ini menegaskan, PKP Pedagang dan PKP Penyedia Jasa wajib melaporkan dalam SPT Masa PPN setiap Masa Pajak atas penyerahan BKP dan/ a tau JKP yang melalui Penyedia Platform Marketplace.

Wajib Melaporkan

Menurut PMK ini, Penyedia Platform Marketplace wajib melaporkan rekapitulasi transaksi perdagangan yang dilakukan oleh Pedagang dan/ atau Penyedia Jasa melalui Penyedia Platform Marketplace ke Direktorat Jenderal Pajak. “Rekapitulasi transaksi perdagangan sebagaimana dimaksud merupakan dokumen yang harus dilampirkan dalam SPT Masa PPN Penyedia Platform Marketplace,” bunyi Pasal 7 ayat (3) PMK ini.

Dalam PMK ini ditegaskan, PKP Penyedia Platform Marketplace yang melakukan kegiatan: a. penyediaan layanan Platform Marketplace bagi Pedagang atau Penyedia Jasa; b. penyerahan BKP dan/atau JKP yang dilakukan melalui Platform Marketplace; dan/atau c. penyerahan BKP dan/atau JKP selain sebagaimana dimaksud, wajib memungut Pajak Pertambahan Nilai atas penyediaan layanan dan penyerahan BKP dan/atau JKP, dan wajib membuat Faktur Pajak.

Selanjutnya, pelaporan atas penyerahan BKP dan/atau JKP sebagaimana dimaksud dilakukan dalam SPT Masa PPN.

“Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal 1 April 2019,” bunyi Pasal 15 PMK Nomor 210/PMK.010/2018 yang diundangka oleh Dirjen Perundang-Undangan Kementerian Hukum dan HAM, Widodo Ekatjahjana, pada 31 Desember 2018 itu. (gun)

Amazon untuk kali pertama catat kenaikan laba $ 2 miliar

LABA kuartalan  Amazon melonjak melampaui $ 2 miliar untuk pertama kalinya, ditopang oleh belanja online, komputasi cloud, dan bisnis periklanan yang terus berkembang.

Perusahaan, yang telah berkembang jauh melampaui awal mula penjual buku online, juga bergerak ke perawatan kesehatan dan membangun kehadiran fisiknya, karena ia memupuk kesetiaan pelanggan melalui perangkat pintar dan keanggotaan utama pengiriman dan streaming fasilitas.

Pendapatan melonjak 39 persen pada kuartal kedua, tetapi meleset dari ekspektasi analis.

Hasil keuangan Amazon masih menggembirakan  investor, yang mengirim sahamnya naik lebih dari 3 persen menjadi $ 1,866.55 dalam perdagangan kemarin.  Stoknya sudah hampir 72 persen pada tahun lalu, dan Amazon semakin mendekati Apple  sebagai perusahaan paling berharga di dunia.

Amazon memang mengalami kemunduran yang langka minggu lalu, ketika acara penjualan Perdana Hari dimulai dengan masalah teknis. Beberapa pembeli melihat gambar anjing dengan pesan minta maaf, bukan produk yang ingin mereka beli, dan dibawa ke media sosial untuk mengeluh.

Chief Financial Officer Brian Olsavsky mengatakan pada Kamis, bahwa kesalahan itu disebabkan oleh “lalu lintas lebih besar dari yang diharapkan” ke situs.

Terlepas dari masalah awal, Amazon mengatakan hari perdana tahun ini adalah acara belanja terbesar dalam sejarahnya dan lebih banyak anggota baru yang mendaftar pada 16 Juli dibandingkan pada hari lainnya.

Pendapatan untuk kuartal itu mencapai $ 52,89 miliar, di bawah $ 53,37 miliar yang diperkirakan analis.

Toko fisik perusahaan menyimbang $ 4,3 miliar, sebagian besar berasal dari rantai belanja Whole Foods. Amazon, yang membeli Whole Foods tahun lalu, dan baru-baru ini meluncurkan diskon ekstra untuk anggota Prime-nya di toko AS-nya.

Di luar ritel, unit Layanan Web Amazon – yang menyediakan layanan komputasi cloud untuk perusahaan dan pemerintah – telah menjadi sumber pendapatan yang kuat dan telah membantu mengimbangi biaya tinggi yang terkait dengan menjalankan toko online-nya.

Baru-baru ini, unit iklannya telah menjadi bisnis multi-miliar dolar, menjual iklan ke perusahaan yang ingin produknya muncul pertama kali ketika pembeli menelusuri situs tersebut.

Amazon juga mengumumkan bulan lalu bahwa ia membeli  farmasi online, mendorongnya lebih dalam ke industri perawatan kesehatan. Ketika ditanya tentang kesepakatan Kamis, eksekutif Amazon tidak memberikan rincian tentang rencana untuk PillPack. Kesepakatan itu diperkirakan akan ditutup akhir tahun ini.


Untuk tiga bulan yang berakhir 30 Juni, Amazon yang berbasis di Seattle melaporkan laba bersih sebesar $ 2,53 miliar, atau $ 5,07 per saham, melesat melewati $ 2,48 per saham yang diperkirakan analis Wall Street, menurut FactSet.

Melihat ke depan ke kuartal ketiga, Amazon mengatakan mereka mengharapkan untuk melaporkan pendapatan antara $ 54 miliar dan $ 57,5 ​​miliar, di bawah $ 58,1 miliar yang diperkirakan oleh analis Wall Street.***