Esai untuk Pameran Seni Rupa di Bentara Budaya Jakarta, 21-29 November 2025
Tahun 2025, akan mendekati akhir dan puluhan atau mungkin ratusan helatan seni rupa di Tanah Air, baru segelintir topik kuratorial yang menggedor benak penulis setahun ini. Salah satunya, dihelat pada 21 sampai 29 November 2025 di Bentara Budaya Jakarta yang cukup memukau.
Eksibisi yang diikuti lebih dari 25 perupa ini, mempertemukan sakralitas dua bulan bersejarah, yakni tentang ‘Sumpah Pemuda di Oktober’ dan spirit makna ‘Kepahlawanan pada November” yang mengintepretasikan ulang isu-isu sosial dengan tanpa tedeng aling-aling. Yaitu, mempresentasikan juluk kuratorial ‘Dalam satu Tanah, Kita Bertumbuh’ yang didukung kemitraan erat ASTRA dan Bentara Budaya.
Kurator, Hilmi Faiq dan Kepala Bentara Budaya, Ilham Khoiri serta ASTRA rupanya memulai mendekat ke kepekaan hati, menyuruk lebih dalam memaknai tentang Indonesia sebagai entitas bersama dalam berkesenian, utamanya tentang apa dan bagaimana ekspresi seni rupa mampu memberi pencerahan-pencerahan saat negeri ‘gerhana setengah total’.
Tatkala fenomena-fenomena sosial, politik dan lingkungan menyelami ‘luka-luka sekaligus berkah’ silih berganti menyambangi Tanah Air, namun kokoh untuk tetap berharap lebih baik di masa depan, justru saat rezim kekuasaan politik sedang setahun penuh dievaluasi oleh publik dengan tajam.
Dalam Tajuk kuratorial, pengertian ‘Tanah’ semacam ‘simbol-pengikat’ menguak ragam peristiwa dan dimaknai sebagai ingatan tentang bagaimana seniman sebagai “saksi” mengalami goncangan rasa dan nalar dengan mesiu estetika mereka, secara tajam dengan tafsir-tafsir visual melihat Indonesia tetap tangguh dan ada secercah harap bertaburan di karya-karya di Bentara Budaya.
Tanah, seturut Kurator menjadi ruang-tumbuh bersama dengan berimajinasi perjalanan jauh bangsa semenjak era Sumpah Pemuda sampai ‘orde Reformasi’ mengada.
Seni-Moral dan Keterwakilan Sosial
Penulis selalu terpukau para cendikia-cendikia seni, yang membedah dan menukik, membuka tabir substansial bahwa dalam proses mencipta, senimanseniman, tentu dengan tawaran konsep kuratorial pameran merelasikan konsepkonsep tentang mengapa secara moral – dalam konteks ingatan komunal, seni dicipta untuk fundamen pikir secara kolektif, saat sama pengaruh kuat yang datang dari Barat bahwa konsep representasi, yakni keterwakilan memahami dunia diluar seniman wajib dihadirkan di kanvas-kanvas mereka.
Isu-isu sosial bukanlah sesuatu yang ditabukan sejak lama dalam penciptaan karya snei, yang mana seniman dengan caranya sendiri yang personal erat terkait dengan keterwakilan merasai ketimpangan-ketimpangan sosial yang juga bagaimana seniman, dengan cara reflektif personal meyampaikan dalam bahasa artistik.

Kita’ langsung saja mengulik karya-karya yang cukup cakap dengan pertama melihat ‘Roh Tikus Parlemen’, 81x50cm. mixed media on canvas, 2025, karya Fatih Jagad Raya. Rupanya Fatih tersedak hebat nuraninya, fenomena yang belum lama berselang, sebagian penggambaran wakil rakyat yang menari-nari dengan hebat terkait tunjangan jabatan yang dinaikkan, yang menurutnya lebih pada sebuah ‘kesurupan masal di ruang sidang DPR’, saat sama pajak mencekik dan kesejahteraan rakyat ditelantarkan.
Fatih dengan gaya figuratif serta terlihat menggambarkan sosok berkepala binatang, terjulur benang merah—yang mungkin dihasratkan seperti boneka cenayang, gradasi gerakan-gerakan figur berjas hitam terpampang dan menyimbolkan ‘bersenyawanya roh-roh jahat’ di dalam tubuh anggota parlemen tersebut.

Demikian pula dengan seniman Vendy Methodos, yang membangun konstruksi elok antara sebuah lukisan dan di depannya memunculkan semacam bantal berkelir-garis-garis hitam. “sang Penyamun Abad ke-20’, 150x 90 cm lukisan dengan cat akrilik dan arang ini serta karya ‘found object’ dari ‘Uang dan Tembakau di Bawah Bantal Kakek’, dari medium tembakau, koin dan kain batik; juga tanpa tedeng aling-saling menohok rasa.
Vendy, mungkin membayangkan bahwa sejarah 80 tahun Indonesia adalah warisan lama ‘sang kakek’ dalam pengertian generasi terdahulu yang memberi ‘tongkat estafet’ yang tak selalu baik.
Coba kita lihat koherensi lukisan dan karya found object bantal tersebut dengan seksama. Lukisan yang bergambar komikal ‘celeng/ babi hutan’ menaiki tempat tidur bergaris hitam kasurnya dan ia mengais-ais lokasi tertentu diatas bantal.
Segera saja konstruksi tentang judul dua karya, celeng, binatang yang ‘kurangajar’ menaiki kasur adalah gambaran paras kita sendiri, mungkin saja hartakekayaan kita, sejatinya bukan uang? Namun etika yang entah kemana hilang sebab warisan ‘kolonial dan feodalisme’ yang terus saja diwariskan?

Yang tak kalah menggedor, adalah milik seniman senior Setiyoko Hadi, dengan ‘Sarang Penyamun, Sarang Penyayang’, tahun 2025 dengan ukuran kanvas 100cmx 120cm dengan instalasi seni bermateriranting, sarang, dan telor burung.
Sebagai katanya dalam wawancara dengan penulis “saya menggambarkan tanah yang kehilangan ‘nafas’nya di Pulau Kalimantan, saya sering bertandang kesana bersama isteri yang bekerja disana, rasa sayang manusia memelihara hutan menguap entah kemana.
Batang-batang pohon tumbang serta langit menua sebab rusaknya habitat burung Enggang, yang mana dalam lukisan dan instalasi saya melambangkan pulau Kalimanta adalah ‘sarang Penyamun’ dengan sisa-sisa pohon dan sarang burung”.
“Disana, sungguh tempat para perusak lingkungan ekologis, sekaligus juga lukisan saya menerakan jejak-jejak harapan di masa depan, masih ada rasa kasih-sayang; yang mungkin berasal dari generasi penerus kita? Tentu, dengan simbol burungburung yang terbang dan ‘doa’ bagi telur-telur yang akan menetas kelak” imbuh Setiyoko.
Pelukis ini dengan cakap memakai bahasa visual realis, menampilkan bencana ekologi sebab ulah manusia—man made disaster, yang disambung narasinya lukisannya, dengan cara setengah berbisik ke telinga penulis “‘mas, jika Anda peka, ada lapisan tipis di latar lukisan tentang gambaran IKN itu, cuman samarsamar ya!”, sambung Setiyoko pada penulis sedikit harap-harap cemas.

Saat sama, pameran menampilkan juga kaligrafi kontemporer dengan menampilkan figur burung Phoenix yang elok, yang khusuk mengutip kalam Allah SWT dalam kitab sakral Alqur-an dari karya Munna Dianur, tentang ayat indah At Taubah 80, ‘Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah SWT bersama kita’ dengan judul karya ‘I was Born in A New Silence’, 100cm x 130cm di atas kanvas.
Munna piawai merealisasikan ‘Doa’ sebagai harapan tertanam dalam diri dengan karya komposisinya enak dilihat dan tertata rapih, yang ia mengaku melihat begitu banyak kerusakan-kerusakan yang terjadi di Indonesia sebagai ungkapnya dalam caption karya seninya “ figur burung Phoenix muncul dari warna merah, oranye dan kuning sebagai lambang kelahiran baru dari sesuatu kerusakan”.

Optimisme melabur pula di pameran ini dengan karya yang mengingatkan kita sejarah lama tentang seni abstrak model Barat, yang tentunya sangat subyektif diungkap oleh seniman Walid Basalamah dengan karyanya ‘Optimisme Geometrik’, karya cetak saring di kertas dari pengajar di IKJ (institut Kesenian Jakarta) ini yang berukuran 60x40cm.
Walid mengungkap, “karya saya ini semata-mata menempatkan Tanah Air sebagai ruang spiritual dan sosial untuk bangsa kita menanamkan harapan dan menyusun kembali makna kehidupan dengan style abstract-geometric tentunya yakni: ‘ karya saya ini simbol ketahanan dan keseimbangan ditengah kesenjangan”, ujar Walid optimis.
Walid menggugah kita warisan seni Barat dan tata ekspresi abstrak geometric tentu dengan kekuatannya sendiri, dari pegrafis ini, kita belajar menguarkan semangat tetap peduli pada negeri.

Karya-karya abstrak sejenis, yang sublim dari seniman lainnya, semisal pematung dan pelukis Alfiah Rahdini, dengan ‘Sanguine Peach and Slow Gold’, 60x40cm, akrilik diatas kanvas, yang mengirimkan khusus konsep berkaryanya pada penulis, sebagai berikut: “karya saya gambaran pertemuan multi-kultural yang meresap dalam kehidupan sehari-hari dalam sejarah era Nusantara klasik yang terwakili dengan warna Gold sebagai yang dikatakan Slow Gold, juga warna kontemporer ‘Sanguine Peach’ itu,” ujar Alfiah.
Alfiah secara visioner, mengevaluasi ada transformasi ratusan tahun secara afektif dan kognitif warisan lalu dan kini bertaut dalam upayanya memahami lukisan secara abstrak terkini dengan menimbang hal-hal tersebut. Rupanya Alfiah memahami sebuah abstraksi dari warna, bentuk dan idom yang tentu sebuah evolusi ‘jalan panjang’ dari era klasik Nusantara untuk ‘Tanah Air seni rupa’ kita hari ini.
Pada akhirnya, tahun 2026 bisa jadi berakhir segera, mengutip Walid dan Alfiah bahwa warisan lama memberi pencerah dan pemakluman dengan fenomena terkini dan kultur yang makin kompleks tak hanya dari leluhur namun secara global pula menjadi diri kita hari ini.
Kesenjangan wajib dihadapi dengan ketahanan utnuk terus berkarya dan memamerkan yang paling bisa kita lakukan sebagai insan seni, seperti dihelatnya ‘Dalam SatuTanah, Kita Bertumbuh’ di Bentara Budaya Jakarta, serta karya-karya hebat dari para seniman-seniman, yang terus saja menggedor benak kita bersama untuk terus berbuat bagi negeri. *
Bambang Asrini Widjanarko, Kerani seni dan penulis