• Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
Friday, October 2, 2026
  • Login
Jayakarta News
Advertisement
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result

Sosok “Antigone” di Mata Silvia Purba

Sosok “Antigone” di Mata Silvia Purba

admin by admin
September 30, 2025
in Drama & Teater, Feature
0
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

PENGANTAR REDAKSI: Repertoar teater intermedial “Dialog Antigone” yang digelar di Auditorium WS Rendra, ISI Yogyakarta, 21 – 22 September 2025, menggoreskan banyak catatan. Tak terkecuali bagi para pemain dan kru yang terlibat proses produksi. Catatan-catatan mereka, dirangkum lalu disajikan secara berseri di JayakartaNews.

***

Adalah Silvia Anggreni Purba, S.Sn, M.Sn yang dipercaya memerankan Antigone. Sang sutradara, Prof Dr Yudiaryani, MA tentu saja tidak salah pilih. Bagi Yudi, Silvi bukan orang baru. Ia telah 10 tahun membersaimainya di Lembaga Teater Perempuan M.A.S. yang didirikannya tahun 2001.

Bersama LTP M.A.S., Silvia yang pengajar jurusan teater Fakultas Seni Pertunjukan, ISI Yogyakarta itu, telah terlibat di berbagai peran, selain peran aktris tentunya. Wanita bertubuh gemoy ini pernah menjadi pimpinan produksi, asisten sutradara, bahkan stage manager.

Apa yang membuatnya excited terlibat dalam proses produksi “Dialog Antigone”?

Silvia Purba (kiri). (foto: Bambang Wartoyo)
Silvia Purba sebagai Antigone dalam Dialog Antigone. (foto: Bambang Wartoyo)

Terlibat Secara Dalam

Silvia mengaku sudah terlibat sangat dalam bersama Prof Yudi dan teman-teman yang lain. “Sudah jauh-jauh hari Prof Yudi memimpikan pementasan ini. Saya juga mengikuti prosesnya. Dari jauh-jauh hari juga dalam berbagai kesempatan pertemuan, beliau selalu meminta saya siap menjadi Antigone,” tutur Silvia.

Pemeranan adalah pemeranan. Yang membuatnya beda, menurut Silvia, karena naskah Antigone karya Jean Anouilh (1944) yang bertemakan kisah kepahlawanan ini diversikan secara konteks oleh Prof Yudiaryani. Penulis drama Perancis Jean Anouilh (1910- 1987) mengembalikan memori jejak kisah Antigone Sophocles (441 BC) yang diklaim menginspirasi perlawanan kaum perempuan dan generasi muda terhadap kekuasaan semena-mena.

“Antigone adalah simbolisasi tokoh perlawanan, kesetiaan, kemerdekaan, dan kepahlawanan,” tegasnya.

Yang membuatnya lebih menarik adalah sutradara menampilkannya melalui disiplin pertunjukan teater intermedial. “Ini juga melalui proses pematangan,” kata Silvia pula.

Sebagai guru besar teater, Yudi menampilkan sisi pentingnya penggunaan teknologi pada teater masa kini. Sepanjang dua tahun penelitian fundamental (2023 dan 2024), peneliti menemukan perluasan teori Dramaturgi yang dapat digunakan menganalisis praktik pertunjukan kontemporer. Penelitian juga menemukan perubahan teori Dramaturgi menjadi teori “praktik Dramaturgi”, kinerja.

Nah, perubahan tersebut menginspirasi masyarakat untuk memanfaatkan sain, teknologi, seni bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk di bidang seni. Penelitian tahun 2025-2026 ini merupakan pengembangan dan perluasan praktik Dramaturgi menjadi praktik Dramaturgi intermedial. “Dan basis penelitiannya memang naskah drama berjudul Antigone karya dramawan Perancis Jean Anouilh yang diterjemahkan secara kontekstual dan intermedial oleh Prof Yudiaryani,” terang Silvia.

Alhasil, terciptalah karya pertunjukan hasil eksplorasi teknologi mise en scene pertunjukan interkultur pada Dialog Antigone, dan penemuan Desain Proyeksi Intermedial (DPI). Sebuah penerapan teknik proyeksi piktoral. Melalui projection mapping, tata panggung menjadi lebih sophisticated. Mengubah ruang panggung menjadi pengalaman visual yang dinamis.

“Terus terang, ini pengalaman baru sepanjang kehidupan saya berteater, baik sebagai seniman maupun pengajar,” ujar Silvia yang pernah menulis dan menampilkan Pertunjukan Teater Karo Hip Hop Kontemporer KAI itu.

Creon (kiri) diperankan oleh Widan, Ajudan Creon (Ninit Ungu), dan Antigone yang diperankan Silvia Purba. (foto: Bambang Wartoyo)

Perjuangan Prinsip

Berbicara tentang peran Antigone, Silvia mengaku sangat menikmati. Antigone digambarkan sebagai remaja yang muda secara usia, tetapi memiliki prinsip dan teguh dalam memperjuangkan prinsipnya.

Bagi Antigone, tidak masalah jika ia harus memberontak atau melawan. Baginya, yang utama adalah menjalankan prinsip.

Tentu saja dalam tafsir, setiap orang bisa berbeda perspektif. Menurut Silvia, Antigone adalah tokoh dengan perspektif yang kuat tentang nilai-nilai keluarga, tentang hakikat kewajiban membela yang lemah, membela yang serba kekurangan.

Atas sikapnya, tentu saja menimbulkan sikap setuju dan tidak setuju. “Bahkan ada yang melihatnya negatif, serta ada pula yang melihatnya positif. Tapi esensinya, jika kita melihat ada yang tidak benar, maka kita harus berani memberikan perlawanan. Setidaknya bersuara,” tutur Silvia.

Secara konteks, lakon Dialog Antigone ini sangat relevan dengan zaman. Saat diminta mengulang dialog paling berkesan pada peran Antigone yang baru saja dilakoninya, segera saja Silvia berkata:

Dimanakah arti kebahagiaan Antigone?

Sengsara demi seserpih kebahagiaan?

Katakan, pada siapa dia harus bertaruh? Bermanja, menjual nyawanya? (*)

Tags: Dialog Antigoneprof yudiaryanisilvia purbateater intermedial dialog antigoneteater yogyakarta
Previous Post

Gubernur Khofifah: Maksimalkan Evakuasi Korban Ambruknya Musholla  Ponpes Al-Khoziny Sampai Tuntas

Next Post

Persada Soekarno dan Berbagai Komunitas Ajak Gelar Syukuran, Pancasila Menggema di PBB 30 September 1960

admin

admin

Next Post
Persada Soekarno dan Berbagai Komunitas Ajak Gelar Syukuran, Pancasila Menggema di PBB 30 September 1960

Persada Soekarno dan Berbagai Komunitas Ajak Gelar Syukuran, Pancasila Menggema di PBB 30 September 1960

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TERPOPULER

Plugin Install : Popular Post Widget need JNews - View Counter to be installed
  • Activity
  • Blog
  • Feature Terbaru Hari Ini
  • Home
  • INDEKS
  • KODE PERILAKU PERUSAHAAN PERS
  • Konfirmasi Pembayaran
  • Kontak
  • Members
  • Pasang Iklan
  • PEDOMAN PEMBERITAAN MEDIA SIBER
  • PENGELOLA JAYAKARTA NEWS

© 2018 JayakartaNews

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Features
  • LIFE STYLE
    • Traveling
    • Kuliner
    • Fashion
    • Entertainment
  • Kabar
  • Kesehatan
  • EkoBis
    • Ekonomi & Bisnis
    • e-Commerce
    • Entrepreneur
  • TELKO
  • Sport
  • Video
  • Majalah

© 2018 JayakartaNews

Go to mobile version