• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Risna Hasanudin dan NKRI Harga Mati

Risna Hasanudin dan NKRI Harga Mati

November 21, 2020
Kementerian UMKM Targetkan Penyaluran KUR 2025 Sebesar Rp 300 Triliun

Rasio Kewirausahaan Indonesia Ditargetkan Meningkat Hingga Delapan Persen

September 17, 2026
FIFA ASEAN Cup 2026 Berpotensi Ditonton Lebih dari 1 Miliar Orang, Ini Dampak Ekonominya!

FIFA ASEAN Cup 2026 Berpotensi Ditonton Lebih dari 1 Miliar Orang, Ini Dampak Ekonominya!

September 17, 2026
45 CPMI Sektor Perikanan Bersiap ke Korsel, Wamen Christina Ingatkan Soal Menjaga Kepercayaan Pemberi Kerja

Perluas Pasar Kerja Pekerja Migran, Kementerian P2MI Jajaki Kebutuhan Tenaga Kerja Agrikultur Jepang

September 16, 2026
25 Merek Beras Fortifikasi tak Sesuai Standar, Dirut BULOG: Bahan Evaluasi Perkuat Pengawasan

25 Merek Beras Fortifikasi tak Sesuai Standar, Dirut BULOG: Bahan Evaluasi Perkuat Pengawasan

September 17, 2026
Marak Upaya Gusur dan Geser Suara, Mahfuz Sidik: Ini Bentuk Praktik Kecurangan Pemilu Legislatif

Targetkan Jadi Peserta Pemilu 2029 dan Lolos ke Senayan, Partai Gelora Bentuk Desk Rekrutmen Anggota

September 17, 2026
Sastra Bulan Purnama Spesial: Puisi Dalam Diplomasi Budaya dan Komunikasi Politik

Sastra Bulan Purnama Spesial: Puisi Dalam Diplomasi Budaya dan Komunikasi Politik

September 16, 2026
Kijang Kencana: Ada Spider Man dalam Ceritanya

Kijang Kencana: Ada Spider Man dalam Ceritanya

September 16, 2026
Kejuaraan Layar Piala Panglima TNI 2026 Siap Digelar di Batam

Kejuaraan Layar Piala Panglima TNI 2026 Siap Digelar di Batam

September 16, 2026
BULOG Gelontorkan Lebih 1,8 Juta Kilogram Beras untuk Korban Bencana NTT

BULOG Gelontorkan Lebih 1,8 Juta Kilogram Beras untuk Korban Bencana NTT

September 16, 2026
SIPA 2026 Resmi Ditutup, Panggung Seni Jadi Ruang Dialog Budaya Indonesia dan Dunia

SIPA 2026 Resmi Ditutup, Panggung Seni Jadi Ruang Dialog Budaya Indonesia dan Dunia

September 13, 2026
Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3 TP

Peran Strategis Inpres Jalan Daerah untuk Pemerataan Ekonomi dan Kawasan 3 TP

September 13, 2026
Presiden FIFA Gianni Infantino Terancam Dipecat! Ia Dikabarkan Minta Trump Selamatkan Jabatannya

Krisis Kepercayaan FIFA Makin Panas, DBU Desak Pergantian Presiden

September 13, 2026
  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact
Monday, October 5, 2026
Jayakarta News
  • Home
  • News
    • All
    • Business
    • Politics
    • Science
    • World

    Meet the woman who’s making consumer boycotts great again

    New campaign wants you to raise funds for abuse victims by ditching the razor

    Twitter tweaks video again, adding view counts for some users

    A beginner’s guide to the legendary Tim Tam biscuit, now available in America

    India is bringing free Wi-Fi to more than 1,000 villages this year

    Betterment moves beyond robo-advising with human financial planners

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    Oil spill off India’s southern coast leaves fisherman stranded, marine life impacted

    You can now play Bill Gates’ first PC game and run over donkeys on your iPhone, Apple Watch

    Trending Tags

    • Donald Trump
    • Future of News
    • Climate Change
    • Market Stories
    • Election Results
    • Flat Earth
  • Tech
    • All
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup

    Rap group call out publication for using their image in place of ‘gang’

    Meet the woman who’s making consumer boycotts great again

    New campaign wants you to raise funds for abuse victims by ditching the razor

    Twitter tweaks video again, adding view counts for some users

    A beginner’s guide to the legendary Tim Tam biscuit, now available in America

    India is bringing free Wi-Fi to more than 1,000 villages this year

    Betterment moves beyond robo-advising with human financial planners

    People are handing out badges at Tube stations to tackle loneliness

    Trump’s H-1B Visa Bill spooks India’s IT companies

    Oil spill off India’s southern coast leaves fisherman stranded, marine life impacted

    Trending Tags

    • Flat Earth
    • Sillicon Valley
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Golden Globes
    • Future of News
  • Entertainment
    • All
    • Gaming
    • Movie
    • Music
    • Sports

    Meet the woman who’s making consumer boycotts great again

    New campaign wants you to raise funds for abuse victims by ditching the razor

    Twitter tweaks video again, adding view counts for some users

    A beginner’s guide to the legendary Tim Tam biscuit, now available in America

    People are handing out badges at Tube stations to tackle loneliness

    Trump’s H-1B Visa Bill spooks India’s IT companies

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    Oil spill off India’s southern coast leaves fisherman stranded, marine life impacted

    You can now play Bill Gates’ first PC game and run over donkeys on your iPhone, Apple Watch

  • Lifestyle
    • All
    • Fashion
    • Food
    • Health
    • Travel

    Rap group call out publication for using their image in place of ‘gang’

    Meet the woman who’s making consumer boycotts great again

    New campaign wants you to raise funds for abuse victims by ditching the razor

    Twitter tweaks video again, adding view counts for some users

    India is bringing free Wi-Fi to more than 1,000 villages this year

    Betterment moves beyond robo-advising with human financial planners

    People are handing out badges at Tube stations to tackle loneliness

    Trump’s H-1B Visa Bill spooks India’s IT companies

    Magical fish basically has the power to conjure its own Patronus

    This Filipino guy channels his inner Miss Universe by strutting in six-inch heels and speedos

    Trending Tags

    • Golden Globes
    • Mr. Robot
    • MotoGP 2017
    • Climate Change
    • Flat Earth
No Result
View All Result
Jayakarta News
No Result
View All Result
Home Feature

Risna Hasanudin dan NKRI Harga Mati

by admin
November 21, 2020
in Feature
0
Risna Hasanudin dan NKRI Harga Mati

Wanita-wanita Kobrey dengan berbagai keterbatasan, sangat bersemangat untuk belajar baca-tulis. (foto: dokpri)

491
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Sesaat setelah pemerintah mengumumkan kebijakan pembelajaran jarak jauh akibat pandemi corona, banyak kegiatan di RC-KPA berhenti. Namun kendati dihadang pandemi, langkah Risna berdinamika di Papua tak lantas mati. Baginya, tetap tersedia celah untuk memajukan anak bangsa di tanah Papua.

“Masyarakat memilih menaati anjuran pemerintah untuk libur di rumah, tak ada aktivitas di sekolah,” papar Risna memberikan alasannya menyetop sementara aneka rupa kegiatannya di RC-KPA. Risna sadar diri, kalaupun dipaksakan, tak ada fasilitas memadai untuk penyelenggaraan belajar dari rumah di seantero Kobrey.

Seperti yang diceritakan Risna, fasilitas perangkat pembelajaran jarak jauh ini minim sekali. Tidak semua keluarga memiliki piranti berupa laptop atau hape. Sinyal internet pun terbatas.  Terkadang sinyal itu tak sekadar lemot, di lereng gunung atau tepian hutan ia raib.

Fasilitas listrik pun sering kali tak tersedia dalam tempo 24 jam penuh. Lokasi ini langganan pemadaman. Sumber daya manusia (SDM) yang diandalkan untuk mendampingi anak belajar di rumah pun bisa dipastikan tak ada. Ibu-ibu terbatas skill-nya dan telah habis waktu mereka untuk berkutat dengan kesibukan rumah tangga, berladang atau berburu di hutan.

Di luar SDM dan ketersediaan perangkat, hambatan besar dirasakan Risna adalah persoalan tanggung jawab. “Kalau pembelajaran tetap berjalan, dan kemudian anak sakit, maka kamilah para guru yang harus bertanggung jawab,” tambahnya.

Akhirnya, hanya beberapa kegiatan saja yang masih berjalan di RC-KPA sejak pandemi Covid-19 merebak, salah satunya penimbangan balita. Karena itu Risna memiliki banyak waktu luang. Tak ada kamus berleha-leha dalam hidupnya. Ia lantas begerak ke distrik Oransbari yang masih berada di wilayah Manokwari Selatan (Mansel).

Di Oransbari ada sepuluh desa yang dihuni transmigran, mayoritas asal Jawa. Risna berdinamika di Desa Akeju. “Saya mengajar ngaji untuk anak-anak,” kata Risna. Ia mengaku bahwa kegiatan ini dilakukan secara sukarela, tanpa bayaran.

Perjalanan ke Akeju ditempuh Risna dengan sepeda motor. “Tigapuluh menit perjalanan saya dari Kobrey ke sini (Akeju),” tuturnya. Kendaraan roda dua itu itu dibelinya dengan cara kredit pada tahun 2017, dan kini sudah lunas. Sebelumnya, sejak pertama keberadaanya di Kobrey, ia mengandalkan ojek motor untuk mobilitasnya sehari-hari bila tempat yang akan dikunjunginya terhitung jauh. Di seputaran Kobrey yang terbilang dekat, pergerakan Risna ditempuh dengan berjalan kaki.

Risna mengajar mengaji anak-anak di perkampungan Transmigran di Akeju, masih di wiayah Manowakri Selatan. (foto: dokpri)

Kendati Kobrey-Akeju relatif dekat, namun untuk saat ini Risna memilih menginap di Akeju. Warga di tempat ini mayoritas Muslim, dan tak tersedia guru mengaji untuk buah hati mereka yang mayoritas masih berada di usia anak-anak. Risna tak sampai hati jika di masa pertumbuhannya, para bocah trans itu tak memiliki pendamping spiritual.

Jadwal Risna di Akeju cukup padat. Di tempat ini ada Taman Pendidikan Al’Quran (TPA) Miftahul Huda. Setelah acara pengajian usai, kelas dibagi menjadi tiga kelompok. Pertama, Iqra untuk anak laki-laki usia 5-8 tahun. Kedua, Iqra untuk bocah perempuan usia 4-5. Ketiga, kelompok besar usia 4-13 tahun belajar Iqra dan Al’Quran. Tak sebatas mengajar anak-anak membaca Al’Quran, di tempat ini pula Risna berkecimpung membangun kegiatan lingkungan.

Risna menjelaskan, masyarakat trans di Akeju tetap melaksanakan kegiatan dengan mematuhi protokol kesehatan sesuai anjuran pemerintah. Sementara di Kobrey dan mayoritas desa-desa di Papua, warga memilih libur dan menghentikan aktivitas belajar mengajar. Risna bisa memahami dan menyesuaikan diri.

Mama dan Helen Keller

Bila ditarik jauh ke belakang, ternyata ada dua figur yang amat mempengaruhi jalan hidup Risna, Wa Ani Lapai dan Helen Keller. Yang pertama bunda kandungnya, yang kedua tokoh wanita asal Amerika. 

Helen Keller. (foto: wikipedia)

Yang pertama dekat, menyayangi, mendampingi serta melindunginya, sementara yang kedua buta, tuli, bisu sejak usia 19 bulan, menjadi orang multituna pertama yang lulus dari Redcliffe College di Cambridge Massachusetts dan menyabet gelas Bachelor of Art dengan predikat magna cum laude. Yang pertama berjuang untuk masa depan anaknya yang pernah menderita sakit saat anak-anak hingga remaja, dan yang kedua penulis buku, aktivis politik dan pejuang kemanusiaan yang mendunia.

Seperti peribahasa asam di gunung garam di laut bertemu dalam satu belanga, Wa Ani Lapai dan Helen Keller yang berjarak ribuan kilometer dan berbeda waktu hidupnya itu berjumpa di belanga hati Risna. “Mama dan Helen Keller sangat menginspirasi saya,” kata Risna mantap.

Risna bercerita, ia pernah sakit lama semasa duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Kalau lelah, tiba-tiba saya tidak bisa berjalan,” katanya. Kondisi mirip lumpuh itu tak kenal tempat dan waktu. Ia bisa menyerang kapan saja juga dimana saja, termasuk saat Risna sedang belajar di sekolah. “Saya sering libur sekolah karena harus berobat ke Ambon,” tambahnya. Serangan paling parah ia alami saat di SD.

Sakit layuh kaki itu membuat Risna minder. Karenanya, ia lebih nyaman belajar di Taman Pendidikan Al’Quran (TPA) ketimbang masuk ke sekolah formal. Untunglah, Risna mempunyai keluarga yang menyayanginya. Ia memiliki Wa Ani Lapai yang begitu mengerti keadaannya. “Mamalah yang menyuruh saya belajar ngaji, dan saya sering ikut lomba Tilawah tingkat kecamatan saat masih di SD dan SMP,” tutur Risna. Dukungan sang mama itu membesarkan hati sekaligus membangkitkan semangatnya. Ijazah SMP pun ia genggam.

Di SMA, Risna membaca biografi Helen Keller, seorang wanita penyandang disabilitas buta-bisu-tuli. Dari buku yang ia peroleh di perpustakaan sekolahnya itu Risna mendapatkan fakta bahwa multituna Helen itu tak membuatnya patah lalu menyerah. Seperti air sungai di musim penghujan, motivasi Helen untuk bangkit dari kegelapan agar menjadi berkah bagi orang lain justru meluap-luap. Helen kecil memiliki semangat tinggi untuk belajar. Helen dewasa menjadi mahasiswa difabel pertama yang mampu menembus Redcliffe College cabang Harvard khusus wanita. Akhirnya manusia sejagad mengenal Helen Adams Keller, wanita kelahiran 27 Juni 1880 di Tuscumbia, Alabama, Amerika Serikat ini sebagai penulis, aktivis politik sekaligus dosen dan pejuang bagi anak-anak difabel seperti dirinya.

Pikiran Risna menangkap, mengingat dan kemudian meramu semua hal ihwal yang memikat hatinya dari kedua wanita idolanya itu. Proses ini mengendap jauh di lubuk hatinya dan tak pernah tersapu oleh apapun juga. Cinta sang mama dan kisah heroik Helen Keller membentuk dan mempengaruhi jalan hidup yang kelak ia perjuangkan dengan teguh, ulet, lentur, pantang menyerah, ibarat perpaduan karet dan baja.

Karena inspirasi sang mama dan Keller itulah, Risna bertekad kuliah dan aktif di organisasi setelah meraih ijazah SMA-nya. “Cita-cita saya, kalau tidak menjadi penyiar radio ya jadi guru untuk anak-anak berkebutuhan khusus,” tutur alumni FKIP Universitas Pattimura (Unpatti) ini.

Akhirnya, angin membawa Risna ke Papua, bukan ke ibu kota atau kota-kota besar yang acapkali menjadi tujuan para sarjana baru. Di bumi Cendrawasih ini bukan kota besar yang menjadi pusat kegiatan ekonomi tetapi Desa Kobrey, Distrik Ransiki Manokwari Selatan yang menjadi tempatnya mengabdi. Ia bisa saja meninggalkan pelosok kepala burung ini setelah masa PSP3-nya usai. Tetapi itu tak dilakukannya. Ia memilih tetap berada di sini. Sang mama pun merestui. Dari 20 mahasiswa PSP3 yang dikirim ke Mansel, sembilan orang terus bertahan termasuk dirinya.

Endang Manusiwa (kanan) dan Berselina Indwek (kiri) bersama anak-anak Kobrey di lokasi pembangunan rumah belajar yang disuport Yayasan Wadah. (foto: dokpri)

Tak hanya sekedar bertahan. Di Kobrey Risna melakukan lompatan agar memiliki energi lebih untuk mengubah keadaan. Untunglah, sejak memenangkan Satu Indonesia Award (SIA) yang digelar Astra, Risna memiliki banyak relasi yang membantu program-programnya. Baik dari kalangan pejabat atau instansi nirlaba. Salah satu yang sampai sekarang menjadi mitra utamanya adalah Yayasan Wadah yang khusus membantu perempuan pemberdaya masyarakat di tingkat akar rumput. “Saat ini kami sedang membangun rumah untuk kegiatan belajar yang dibiayai Yayasan Wadah dan pemerintah Desa,” tutur Risna.

Di Kobrey, salah satu fokus Risna adalah pemberdayaan perempuan. Ia mengakui, para perempuan Kobrey adalah wanita hebat yang dalam keterbatasannya mereka masih memiliki semangat juang untuk belajar. Setelah berdinamika di RC-KPA, Risna mendapati rupa-rupa progres. “Ada wanita yang berhasil mendapatkan ijazah kesetaraan Paket C dan menjadi PNS, ada juga yang menikah dan hamil di usia yang sangat muda dan ia kini menjadi guru PAUD,” tutur Risna menceritakan muridnya di sekolah buta huruf.

Untuk bisa lebih mengubah keadaan di Kobrey Risna membutuhkan lompatan. Karena itu ia ingin sekali melanjutkan studinya. “Saya ingin mengambil studi lanjut dan mengambil gender,” kata Risna. Pilihan S2-nya itu tidak linier dengan bidang yang diambilnya di tingkat S1, tetapi sangat ia butuhkan. “Saya ingin belajar soal perempuan dan sistem pangan masyarakat adat,” tegas Risna.

Risna menyetujui bahwa politik padi membuat OAP melupakan kearifan lokal.  Saat ini, sumber karbohidrat mereka mengandalkan mie dan padi. “Warga Kobrey mendapat bantuan beras miskin (raskin) dua kali setahun,” tambahnya. Penghasil beras di kawasan Manokwarui adalah sentra-sentra desa transmigran. Pembangunan jalan mendukung mobilitas warga dan memudahkan mereka mendapatkan beras.

Kelak, setelah mampu meraih ijazah S2-nya, Risna akan kembali ke Kobrey. Risna ingin mengembalikan pengetahuan OAP perihal sistem pangan masyarakat adat. Menurut Risna akibat penyeragaman, warga asli Papua kian melupakan bahan pangan lokal. “Dalam kurun waktu 40 tahun, mereka sudah jarang mengkonsumsi umbi-umbian sebagai sumber karbohidrat, sayuran di sini juga sangat banyak dan beragam, tetapi mereka mengalami kelaparan yang hebat, anak-anak kekurangan gizi bahkan angka stunting tinggi. Mereka seakan mati di lumbung pangan sendiri,” papar Risna panjang lebar

Sebelum meraih S2-nya pun Risna sudah memulai niatnya. Bersama para mahasiswa di Mansel, ia acapkali menggelar workshop soal perempuan dan pangan adat.

NKRI Harga Mati

Sejak berada di bangku kuliah, Risna Hasanudin banyak mendengar perihal keinginan merdeka warga Papua. Kobrey pun tak berbeda. “Yang saya temukan dalam pembicaraan di forum-forum diskusi bersama OAP, mereka selalu menekankan dan menganggap Papua bukan bagian dari negara,” kata Risna memberikan kesaksiannya.

Papua menjadi bagian dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) harus menjadi doktrin bersama yang masif. Begitulah pendapat Risna. Cara yang bisa ditempuh adalah dengan mencerdaskan dan mensejahterakan seluruh masyarakat Papua.

Jauh dari Papua banyak orang yang berdiri di atas “panggung” dan berteriak: “NKRI harga mati… NKRI harga mati…!”  Bagi para orator yang suara lantangnya mesti ditebus dengan mulut menganga,  bibir berbusa-busa plus tarikan urat leher sekencang tiang pancang, bisa jadi, pemahaman mereka tentang NKRI sekadar garis batas. Rasa marah dan emosi mereka meledak-ledak ketika garis wilayah NKRI diserobot tanpa permisi. Pun urat leher mereka seperti putus rasanya ketika mendapati sesama warga negara berkehendak merdeka, melepaskan diri dari NKRI.

Begitu kuatnya slogan NKRI harga mati membius banyak orang. Anehnya, rasa marah dan emosi itu mendadak tumpul tak lagi sensitif tatkala melihat manusia-manusia di titik-titik terpencil NKRI bertabur keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan dan aneka varian yang bernada kekurangan lainnya.

Bagi Risna, bicara soal NKRI tak cukup sekadar hitung-hitungan batas wilayah.  Tetapi ia mesti dibarengi tanggung jawab sepenuhnya, bahwa setiap titik yang berada di lingkup NKRI harus maju, berpendidikan, sejahtera, bahagia tanpa terkecuali.

Risna seakan-akan dilahirkan untuk menjadi duta di negeri sendiri. Ia sesosok jiwa muda yang terbakar komitmen untuk memajukan anak bangsa yang jauh dari pusat kekuasaan, pusat perekonomian, pusat perdagangan, pusat pendidikan atau tempat-tempat lain yang acapkali mendapatkan jatah pertama dan utama dalam program pembangunan.

Cinta Risna untuk Kobrey Papua adalah wujud NKRI harga mati yang sesungguhnya. (Ernaningtyas)

Artikel terkait:

Cerita Cinta Dari Kobrey

Rumah Cerdas Komunitas Perempuan Arfak

Ke Kobrey Ku Kan Kembali

Tags: jayakartanewsKitaSATUIndonesiaRC-KPASemangatMajukanIndonesia
Share196Tweet123
admin

admin

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

Kisah Prof Yuddy Chrisnandi, Ditonjok dan Diusir

April 22, 2018
Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

Ken Dedes dan Vagina yang Bersinar

June 22, 2018
Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

Asia Trans, Transportasi Online Baru Milik Putra Bangsa

January 30, 2019
Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

Aufa, Bangga Ditonton Bima Arya

19
SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

SCTV 30 Tahun Dimeriahkan 30 Bintang 30 Pemirsa dan 30 Kejutan Bayi

11
Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

Pesona Tersembunyi, Curug Leuwi Hejo

8
Kementerian UMKM Targetkan Penyaluran KUR 2025 Sebesar Rp 300 Triliun

Rasio Kewirausahaan Indonesia Ditargetkan Meningkat Hingga Delapan Persen

September 17, 2026
FIFA ASEAN Cup 2026 Berpotensi Ditonton Lebih dari 1 Miliar Orang, Ini Dampak Ekonominya!

FIFA ASEAN Cup 2026 Berpotensi Ditonton Lebih dari 1 Miliar Orang, Ini Dampak Ekonominya!

September 17, 2026
45 CPMI Sektor Perikanan Bersiap ke Korsel, Wamen Christina Ingatkan Soal Menjaga Kepercayaan Pemberi Kerja

Perluas Pasar Kerja Pekerja Migran, Kementerian P2MI Jajaki Kebutuhan Tenaga Kerja Agrikultur Jepang

September 16, 2026
Jayakarta News

Copyright © 2017 JNews.

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Politics
    • Business
    • World
    • Science
  • Entertainment
    • Gaming
    • Music
    • Movie
    • Sports
  • Tech
    • Apps
    • Gear
    • Mobile
    • Startup
  • Lifestyle
    • Food
    • Fashion
    • Health
    • Travel

Copyright © 2017 JNews.

Go to mobile version