Trump Siap Melawat ke Mesir

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump berharap dapat melakukan lawatan ke Mesir, menyusul pertemuannya dengan Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dalam kunjungannya Riyadh, Arab Saudi.

“Saya akan ke Mesir. Kami akan memasukkan dalam jadwal segera,” kata Trump, Minggu (21/5/2017) di Riyadh. Trump menggambarkan Presiden al-Sisi telah melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam keadaan sulit. Lawatan Trump ke Riyadh merupakan kunjungan kenegaraan pertama setela dilantik, ditengah isu pembocoran rahasia negara AS kepada Rusia.

Trump membukukan kesepakatan penjualan persenjataan senilai 110 miliar dolar AS (sekitar Rp1,4 biliun) dengan Arab Saudi. Selain itu, dicapai juga kesepakatan investasi, yang menurut Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, total nilainya dapat menyentuh 350 miliar dolar. Hal ini merupakan pencapaian penting pada hari pertama kunjungan Trump di Riyadh.

Arab Saudi merupakan negara pertama yang ia kunjungi dalam lawatan sembilan harinya di Timur Tengah dan Eropa. Ketika berbicara kepada para wartawan setelah upacara peresmian kesepakatan, Trump mengatakan “ini hari yang luar biasa”.

 

Presiden Trump dan Raja Salman menandatangani kerjasama Amerika – Saudi. (Onscreen/Jayakartanews.com)

 
Trump mengatakan, “Ratusan miliar dolar investasi ke Amerika Serikat dan lapangan kerja, lapangan kerja, lapangan kerja. Jadi, saya ingin menyampaikan terima kasih kepada rakyat Arab Saudi”.

Raja Saudi, Salman bin Abdulaziz, menyambut Trump dengan sangat hangat. Saat pesawat tiba, Raja menemui Trump di bawah tangga pesawat kepresidenan AS, Air Force One, menyalami istri Trump, Melania, masuk ke mobilnya bersama Trump dan kemudian menjalani sebagian besar hari itu bersama-sama Trump.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir menyebut hasil pertemuan Trump dengan Raja Salman sebagai “awal dari titik kembali” antara Amerika Serikat, Arab Saudi dan sekutu-sekutunya di Teluk.

Baik al-Jubeir maupun Tillerson menerangkan bahwa kesepakatan persenjataan itu, yang dibukukan pada hari Hassan Rouhani terpilih kembali sebagai presiden Iran, ditujukan untuk mengimbangi Iran.

Tillerson mengatakan Rouhani harus menggunakan periode kedua jabatannya sebagai presiden untuk mengakhiri uji coba peluru kendali balistik Iran serta berhenti mendorong paham garis keras di kawasan.

Menlu Tillerson mengatakan, dirinya tidak berencana melakukan pembicaraan dengan Menlu Iran, seraya menegaskan kemungkinan akan berbicara pada saat yang tepat.

Al-Jubeir mengatakan Trump dan Raja Salman sepakat bahwa tindakan harus diambil untuk memastikan bahwa Iran tidak melanjutkan kebijakan agresif di kawasan. Lawatan Trump ke luar negeri diumumkan Gedung Putih sebagai peluang mengunjungi tempat suci tiga agama utama dunia serta bertemu dengan pemimpin Arab, Israel dan Eropa. ***

Gara-gara 10 Tas Senjata

INI kisah di balik kepulangan Kontingan Force Police Unit (FPU) 8 Polri yang bertugas sebagai pasukan perdamaian di El Fasher, Darfur Utara, Sudan, di bawah payung PBB dan Uni Afrika (UNAMID). Setelah mengalami penundaan beberapa kali, akhirnya mereka tiba dengan selamat di tanah air, Minggu (5/3).

Ada kisah menarik di balik kepulangan pasukan penjaga perdamaian Polri di Sudan. Awalnya, jadwal kepulangan FPU 8 dijadwalkan 27 Desember 2016. Mundur lagi menjadi tanggal 21 Januari 2017. Dan kembali mundur menjadi tanggal 4 Maret 2017.

Nah, kemunduran terakhir, dikarenakan adanya penemuan 10 (sepuluh) tas berisi senjata api dan amunisi di teras Bandara Udara El Fasher pada Kamis tanggal 19 Januari 2017. Kontingan Polri sempat diduga sebagai penyelundup 10 tas berisi senjata dan amunisi, tetapi sejak awal sudah dibantah.

Pada saat itu aktivitas Bandara Udara El Fasher memang dikhususkan untuk mempersiapkan kepulangan kontingen FPU 8, tetapi tidak dapat dipungkiri, bahwa ada rotasi pasukan lain dan kehadiran orang-orang lain di bandara tersebut. Keberadaan anggota FPU 8 di Bandara El Fasher, adalah sedang melakukan proses bongkar muat dan X-ray bagasi dalam rangka rangkaian persiapan kepulangan ke Indonesia.

Lebih tidak berdasar tudingan penyelundupan senjata itu ke FPU 8 Polri, karena tas-tas tersebut tidak beridentitas, tidak dibawa atau tidak dalam penguasaan FPU 8, tidak ada label identitas pemilik yang dimiliki FPU 8 dan tidak termuat dalam daftar manifest barang-barang FPU 8 yang sudah disetujui UNAMID. Sedangkan semua barang yang diakui milik FPU 8 adalah barang-barang yang berada dalam penguasaan FPU 8, semua memiliki identitas dan termuat dalam daftar manifest barang-barang FPU 8 yang disetujui UNAMID.

Apa boleh buat…. seluruh anggota Polri yang tergabung dalam FPU 8 dan siap pulang ke Tanah Air, urung. Mereka harus kembali ke barak, menunggu hasil investigasi. ***