Soal Wacana Ekspor Benih Lobster, Rahmad Handoyo: Ditutup Saja Banyak Penyelundupan, Apalagi Dibuka

JAYAKARTA NEWS—Anggota DPR RI Rahmad Handoyo meminta wacana membuka kembali ekspor benih lobster seperti yang dilontarkan Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo, perlu dipertimbangkan  dan dikaji secara lebih mendalam lagi.

 “Wacana itu (membuka ekspor benih lobster) mohon dipertimbangkan kembali.  Saya sangat khawatir, wacana yang sudah menuai kontroversi ini bukan semata untuk kepentingan perekonomian kita, tapi untuk kepentingan para rente,” kata Rahmad Handoyo dalam rilis yang diterima Parlementaria.). Demikian dikutip dari laman dpr.go.id

Rahmad sendiri mengaku sangat tidak sependapat dengan alasan yang dikemukakan Edhy Prabowo. Anggota Fraksi PDI Perjuangan ini mengatakan, saat ekspor benih lobster ditutup penyelundupan baby lobster marak. “Lah, ekspor ditutup saja penyelundupan masih banyak. Apalagi kalau keran ekspor sampai dibuka,” kata Rahmad.

 Dikatakannya, Indonesia merupakan negara penghasil benih lobster terbesar di dunia yang berasal dari hasil tangkapan di alam. “Memang untuk budidaya lobster, Indonesia masih tergantung ke alam. Tapi kendala tersebut tidak membuat kita serta merta menyerah dan mengekspor benih lobster kita ke Vietnam,” ucapnya. 

Menurutnya, Indonesia boleh saja mengembangkan budidaya lobster dengan cara memberi kesempatan kepada investor Vietnam berinvestasi di Indonesia agar ada transformasi. 

Rahmad meminta agar Kementerian Kelautan dan Perikanan membatalkan niat untuk membuka keran ekspor benih lobster. Ia menegaskan, penutupan keran impor juga harus dibarengi dengan upaya penegakan hukum. “Saatnya mengedepankan penegakan hukum. Para penyelundup benih lobster harus dikejar dan diberikan sanksi yang tegas sesuai hukum yang berlaku,”tandasnya.

Seperti diketahui, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat ini sedang mengkaji kemungkinan membuka keran ekspor benih lobster. Alasan yang dikemukan Menteri KKP  Edhy Prabowo, adalah potensi pasar ekspor benih lobster itu sangat besar. 

Potensi tersebut baru disadari oleh Edhy saat mengirimkan tim ke Vietnam untuk memantau harga benih lobster. Edhy mengaku kaget karena benih lobster yang dijual di Vietnam harganya lebih tinggi dibanding harga jual dari nelayan Indonesia. Selain itu, kata Edhy penyelundupan benih lobster ke luar negeri juga marak terjadi sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu keberlanjutan ekosistem lobster di alam.***/ebn

Pemerintah Jangan Tunduk dengan Spekulan

ANGGOTA DPR RI Komisi IV Rahmad Handoyo meminta Bulog melakukan langkah antisipasi atas kemungkinan kenaikan harga bahan pokok yang rutin terjadi menjelang puasa dan lebaran.

“Jangan sampai tradisi kenaikan harga ini terulang kembali pada tahun 2017 ini,” kata Rahmad Handoyo kepada wartawan di Gedung Parlemen, Senayan Jakarta, Kamis (18/5). Dikatakan Rahmad, Bulog sebagai perpanjangan tangan negara merupakan instrument utama dalam menstabilkan harga pangan.
“Bulog harus dikedepankan, karena fakta dilapangan selama ini, yang mengemuka justru perburuan rente yang dilakukan para spekulan,” tegas Rahmad Handoyo.
Rahmad Handoyo menilai, sejauh ini langkah-langkah antisipasi guna menstabilkan harga pangan jelang Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri yang telah dilakukan pemerintah, sudah cukup baik.
“Operasi pasar yang belakangan ini nyaris setiap hari digelar Bulog, serta sidak yang dilakukan satgas pangan sudah cukup efektif,” kata Rahmad Handoyo.

Politisi PDI Perjuangan asal Boyolali ini mengungkapkan, keberhasilan Satgas Pangan menggerebek gudang penimbunan 183 ton bawang putih di Marunda, Jakarta Utara, (17/5/2017), layak diapresiasi semua pihak.
“Sudah semestinya para penimbun yang memainkan harga dan merugikan masyarakat ditindak sesuai hukum. Pemerintah tak boleh ragu dan tak boleh kalah dengan para spekulan,” kata Rahmad Handoyo.

Seperti diketahui, Satas Pangan berhasil menggerebek tersebut milik PT TPI dikawasan Marunda, Jakarta Uraea. Adapun, bawang putih itu diimpor oleh dua perusahaan yaitu PT NBM dan PT LBU sejak April lalu.

Berdasarkan penyelidikan Bareskrim, bawang putih itu diselundupkan dari Tiongkok dan India. Masuknya barang tersebut ke Indonesia tidak memenuhi dokumen importasi yang lengkap.

 

Warga saat membeli sembako pada bazar sembako murah yang digelar Pemko Batam beberapa waktu lalu di Lubukbaja. Foto Courtesy: Cecep Mulyana

 

Apresiasi Kapolri
Terkait upaya antisipasi harga pangan, Rahmad Handoyo juga mengapresiasi langkah-langkah yang telah dilakukan Satgas Pangan.dalam menjaga stabilitas harga sembako dan pangan. jelang dan saat Lebaran kali ini.
“Pak Tito mengatakan akan memcat anak buahnya yang lalai memantau permainan harga pangan. Ketegasan ini kita apresiasi,”kata Rahmad Handoyo.

Dikatakan, Polisi memang harus pro aktif, turun langsung ke lapangan memantau serta menindak tegas para spekulan dan mafia pangan yang mempermainkan harga-harga kebutuhan pokok. “Mereka (tengkulak) biasanya memanfaatkan moment menjelang dan pada saat Lebaran untuk meraup keuntungan yang tidak wajar,” tegas Rahmad Handoyo.

Rahmad Handoyo menambahkan, jika melihat kebelakang, kenaikan harga kebutuhan pokok menjelang dan pada saat lebaran nyaris tak pernah terbendung. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah sebelumnya, sepertinya tidak mampu menstabilkan pasar. Akibatnya, setiap Lebaran, masyarakat kecil pun tercekik mahalnya harga kebutuhan pokok.

“Kita berharap, satgas pangan kali ini, kesulitan yang dialami masyarakat akibat melonjaknya harga pangan disetiap Lebaran, tidak akan terulang kembali,”kata Rahmad Handoyo
Melva

Praktek Jahat Pengepul Cabai

DUGAAN adanya mafia yang selama ini mengatur harga cabai ternyata bukan isapan jempol. Terbukti, Polri dan KPPU baru saja membongkar konspirasi jahat sejumlah pengepul besar dengan perusahaan pengolah industri makanan. “Permainan ini sudah kita duga sebelumnya. Karena itu, sangat berharap agar pengungkapan kasus ini bisa jadi pelajaran untuk semua pihak,” kata Rahmad Handoyo, Anggota Komisi IV DPR RI.

Anggota Komisi IV DPR RI, Rahmad Handoyo

Lebih jauh, politisi PDI Perjuangan ini mengatakan melonjaknya harga cabai yang tak masuk akal adalah sebuah ironi. Pasalnya, kata Rahmad, petani tidak menikmati keuntungan atas kenaikan harga cabai. Harga jual cabai di tingkat petani sangat rendah, hanya berkisar Rp 20 ribu per kilogram, sedangkan konsumen harus membeli di atas Rp 100 ribu per kilo.

Rahmad juga menyoroti semakin membanjirnya cabai impor, terutama dari India dan Cina di sejumlah pasar besar di Indonesia. “Pemerintah harus berupaya meningkatkan produksi petani kita. Kalau tidak, nasib petani kita akan semakin terpuruk,” kata Rahmad.

Menurut Rahmad, adanya praktek kecurangan pengaturan harga yang dilakukan para pengepul cabai sangat merugikan petani dan konsumen. Seharusnya yang mengatur harga cabai itu pemerintah bukan pengepul. Karena itu, Rahmad meminta pemerintah menyiapkan regulasi yang mampu menjaga stabilitas harga cabai.

Rahmad mengatakan, DPR sangat mengapresiasi  langkah yang telah dilakukan Kementan, Polri dan KPPU yang berhasil membongkar konspirasi jahat antara pengepul dan perusahaan pengguna cabai rawit merah yang membuat harga cabai naik. “Ke depan kita harus sama-sama dalam melakukan pengawasan sehingga tidak ada lagi praktek jahat seperti itu,” ucapnya. ***