Lukisan “Lautan Kuda Laut” Apresiasi untuk Menteri Susi Pudjiastuti

Sarwozen, Bunda Yani dan “Lautan Kuda Laut” sebuah lukisan untuk mengapresiasi kerja keras, berani dan bernyali Dari menteri Susi Pudjiastuti.

Oleh: NIna Hafez

Selama ini, ajang pameran karya seni khususnya seni rupa baik patung maupun lukis didominasi orang-orang dewasa.  Wadah serupa untuk perupa anak-anak sangat minim.

“Pelukis  anak-anak kurang diperhatikan.  Mereka tidak mendapatkan wadah yang optimal untuk memamerkan karyanya seperti orang dewasa.  Sementara di Yogya ini saja banyak pelukis anak yang memiliki potensi luar biasa.  Saya yakin  mereka akan menjadi pelukis-pelukis besar dunia,” tutur Yani Saptohudoyo di sela-sela Pameran Seni Rupa “Keluarga Nusantara”  Sabtu malam (12/1), di Jogja Gallery, Yogyakarta.  Pameran akan berlangsung hingga tanggal 21 Januari.

Bunda Yani, demikian ia akrab disapa, bertindak sebagai pembuka acara pameran seni rupa yang diikuti oleh sekitar 80-an peserta, baik  pelukis maupun  pematung.  Usia peserta beragam, mulai dari anak-anak sampai dewasa.  Mereka berasal dari berbagai tempat di Indonesia antara lain Yogyakarta,  Bali, Jakarta, Semarang, Purworejo, Bekasi, Bandung, Surabaya dll.  “Kolaborasi antara perupa anak dan dewasa seperti ini sangat penting.  Anak-anak bisa belajar dari seiornya, sementara yang dewasa bisa memberikan bimbingan kepada para yuniornya, “ tutur Bunda Yani.

Setelah Bunda Yani Saptohudoyo, Torres si pemilik 600 piala lomba melukis, menggoreskan cat pada Pembukaan Pameran seni Rupa “Keluarga Nusantara” di Jogja Gallery.

Ada 15-an peserta anak yang ikut ambil bagian dalam pameran yang diselenggarakan berkat kerja bareng komunitas seni  Yogya antara lain “Sedulur Nyeni” dan “Sanggar Arundaya”.  Sementara peserta dewasa ada sejumlah 60 lebih,  5 diantaranya pematung.

Pelukis anak-anak yang ikut ambil bagian antara lain Torres, Nufail, Dora Pnasti, Jeva Dananjaya, Sarwozen Pikir, Bhagaskara Taylor, Renate Taylor, Carolina Taylor dll.   Torres  pelukis anak berbakat Yogya sudah mengantongi 600 piala dari berbagai lomba lukis.  Ia menampilkan karya berjudul “Jogja Q”.  Dora Pinasti asal Madiun tampil dengan karya “The Jungle”.  “Pesona Pulau Dewata dipersembahkan Nufail.  Arya  Riring mempersembahkan lukisan “Perkotaan Yang Padat”.

“Berman Sepeda” karya perupa 3D Sukoco Hayat ini mengajak setiap anggota Keluarga kembali menggoes. ramah lingkungan dan sehat.

Apresiasi Untuk Menteri Susi  

Sarwozen Pikir, pelukis anak yang baru pertama kali ikut pameran,  menampilkan karya “Lautan Kuda Laut”.  Lukisan keluarga kuda laut yang sedang berkumpul menyambut kelahiran bayi-bayi baru ini merupakan apresiasi untuk Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti yang telah berhasil merebut kembali kemerdekaan laut Indonesia dari kapal-kapal pencuri ikan berbendera asing.

Akibat kerja keras, berani dan bernyali si  Menteri Susi itulah terjadi ledakan populasi makhluk-makhluk laut.  Tidak ada lagi anggota keluarga mereka yang terjaring dalam jumlah yang sangat besar oleh kapal-kapal pukat harimau.  “Kapal dengan bendera patah di latar samping itu yang ditenggelamkan Bu Susi,” kata Zen, demikian ia akrab disapa.

Di ajang pameran kolaborasi anak dan dewasa ini, perupa kecil bisa belajar dari para seniornya, baik dari segi ide maupun teknis.   Bunda Yani berharap, di waktu mendatang,  wadah untuk ruang pamer karya anak semakin terbuka lebar.

Suasana Pameran “Keluarga Nusantara” Di Jogja Galerry

“Ini bisa dimungkinkan karena kini Yogya telah memiliki Museum Seni Imogiri yang bisa digunakan untuk berpameran disamping tempat untuk belajar dari para pelukis pendahulu lewat karya-karya mereka ,” imbuh ibu dari perupa Sekarlangit Saptohoedojo ini.

Di usia kepala enam, Bunda Yani istri dari pelukis top Saptohoedojo ini tampak awet muda.  Malam itu ia tampil dalam balutan stelan kebaya modern warna oranye dengan rambut disanggul.  Tak sampai satu menit, pelukis Kirman melukisnya dalam bentuk siluet saat Bunda Yani tampil di atas panggung.  “Seratus ribu untuk siluet ini” kata Bunda Yani.  Malam itu, pelukis Kirman menerima order lukisan siluet wajah.  Semua hasilnya disumbangkan untuk  korban tsunami Selat Sunda.

Joseph Wiyono, perupa sekaligus dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menyatakan bahwa Pameran “Keluarga Nusantara” ini mengakomodir  bermacam-macam potensi artistik setiap anggota keluarga dalam satu wadah ruang karya.

“Di tempat ini anak-anak mendapatkan ruang kegembiraan kreatif yang membuat mereka menemukan semangat, penghargaan dan kepercayaan diri atas talenta mereka,” papar Wiyono.  Dia menambahkan bahwa Pameran Sei Rupa “Keluarga Nusantara” ini memiliki daya spirit untuk mengasah, mengasih dan mengasuh setiap anggotanya sehingga bisa melahirkan karya-karya yang membanggakan.***

 

Srikandi, Putri Campa dan Roro Jonggrang ‘Bersaing’ Penggemar

Tokoh Roro Jonggrang–foto eben

Sekitar enam tokoh legenda tanah Jawa dihadirkan dalam event pameran Batik, Craft & Gift 2018 yang berlangsung di Jakarta Convention Center 7-11 Maret 2018. Para tokoh legenda ini bukan hanya berkesempatan berlenggak-lenggok di panggung tapi mereka juga berkeliling areal pameran menyapa para pengunjung juga penjaga stan. Pengunjung juga diberi kesempatan untuk foto bersama.

Dari enam tokoh ini ada tiga tokoh yang paling diburu pengunjung untuk foto bareng salah satunya adalah Srikandi. Tak heran, selain  membawa panah emas dia juga cantik. Tokoh lain yang juga dikerubuti pengunjung adalah Roro Jonggrang yang tampil megah serta Putri Campa yang mewah.

berikut ini foto-foto penampakan tokoh-tokog legenda  tanah Jawa:

 

The Legend of Java Memukau Pengunjung JCC

Dewi Sekartaji,Srikandi,Putri Campa–foto eben

Ada yang menarik dari pameran Batik,Craft & Gift 2018 yang berlangsung di Jakarta Convention Center. Betapa tidak, sejumlah tokoh legenda tanah Jawa dihadirkan dalam show mini yang menarik. Mulai dari Dewi Sri, Dewi Sekartaji, Srikandi, Putri Campa hingga Roro Jonggrang mampu menghibur pengunjung yang hadir dalam event tersebut.

Para pemeran tokoh-tokoh legenda tanah Jawa ini adalah komunitas waria yang kerap tampil dalam acara-acara fashion show di berbagai festival di tanah air, salah satunya adalah Festival Jember yang populer itu. “Selain untuk menghibur pengunjung pameran, sebenarnya mengangkat tema ‘The Legend of Java’ ini memiliki tujuan mengingatkan masyarakat khususnya generasi muda  bahwa Indonesia memiliki banyak cerita legenda yang menarik.

Kisah Dewi  Sri, Dewi Sekartaji, Roro Jonggrang maupun kisah Putri Campa dulu bergitu dikenal masyarakat, namun  cerita rakyat itu perlahan menghilang seiring dengan kemajuan jaman. “Jadi kami ingin mengingatkan lagi,” ucapnya, sembari menambahkan,”Mereka (pemeran tokoh legenda) berasal dari Jawa Timur, kerap hadir memeriahkan festival-festival budaya di tanah air. Karena mereka dari Jawa Timur maka batik yang dipakai pun berasal dari Jawa Timur”.

Yang membuat pengunjung makin antusias karena para tokoh legenda ini tidak hanya wara-wiri di panggung tapi mereka berjalan mengelilingi areal pameran dan pengunjung diberi kesempatan berfoto bersama mereka. ***

 

Semangat Pantang Menyerah Seorang Tuna Daksa

CACAT bukan berarti tidak berdaya. Cacat bukan berarti tidak bisa hidup mandiri. Itulah prinsip yang dipegang Wibowo sejak tahu fisiknya tidak sempurna. Wibowo, pria asal Wonogiri yang terkena polio saat berusia delapan bulan.

“Tidak ada manusia yang ingin cacat anggota tubuhnya, namun ketika hal itu terjadi—entah karena cacat sejak lahir atau sebab kecelakaan atau penyakit— tak ada yang mampu menolak. Takdir!” Kata Wibowo yang berjuang menghidupi dirinya lewat penjualan lukisan karyanya.

Pelukis tuna daksa ini lahir tahun 1959. Menurutnya ketika itu di kampungnya Wonogiri, Jawa Tengah, belum ada imunisasi polio. Kalaupun ada, mungkin, sulit didapat oleh warga biasa seperti dirinya. Karena di Indonesia sendiri, imunisasi baru dimulai sekitar tahun 1956 yakni untuk cacar. Sedang polio baru diperkenalkan sekitar tahun 1980.

Maka tak heran pada masa itu banyak orang, khususnya yang tinggal di daerah, terkena virus polio yang memang mudah menular. Kasus tersebut tak berbeda dengan di Amerika pada tahun 50-an dimana polio menjadi momok bagi masyarakat. Sampai akhirnya vaksin polio ditemukan dan mulai digunakan untuk imunisasi tahun 1956 di Amerika.

“Orangtua saya tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi kami orang kampung. Yang bisa dilakukan orangtua hanya mempersiapkan masa depan saya dengan kemampuan yang disesuaikan dengan kondisi fisik saya,” ujar Wibowo yang bersyukur meski menyandang tuna daksa orangtuanya tetap menyekolahkannya hingga lulus SMA.

Wibowo bertutur, sejak menyadari dirinya berbeda dengan yang lain, termasuk ketidakmampuannya bekerja berat, membuat ia memperdalam kemampuannya dalam hal melukis. Ketrampilan melukis jadi pegangan hidup karena disadari, meski lulus SMA namun untuk mendapat pekerjaan kantoran tidak lah mudah untuk seorang penyandang cacat.

“Pada saat saya muda, akses penyandang cacat untuk dapat pekerjaan kantoran kecil sekali, meski lulus SMA. Penyandang disable sejak dulu seolah menjadi  ’warga negara kelas dua’ yang sulit mendapat akses kemana-mana seperti halnya orang normal,” tambahnya.

Tapi, sejak dulu pula, ia mengaku sudah menerima keadaannya, bahkan merasa bersyukur karena memiliki keahlian tertentu untuk kehidupannya. “Semua saya jalani dengan penuh keikhlasan dan syukur. Dengan begitu kesusahan apapun yang mampir dalam hidup saya tidak akan menjadi terlalu menyusahkan,” tutur Wibowo yang beberapa waktu lalu bersama tujuh temannya menggelar pameran lukisan di Gedung DPR/MPR RI.

Dari kerja kerasnya melukis, tambahnya, ia mampu menghidupi anak-istri meski sederhana. Namun, kata Wibowo, ‘ruang’ untuk mengais penghasilan dari melukis kian hari terasa kian sempit, khususnya di daerah yang selain jumlah pelukis makin banyak juga konsumen yang terbatas jumlahnya. Untuk orang seperti dirinya tentu hal tersebut menjadi sangat menyulitkan karena tidak memiliki pekerjaan sampingan lain. “Saya tidak memiliki pekerjaan sampingan selain melukis. Istri saya petani, saya tidak bisa bantu. Saya tidak kuat angkat berat,” tambahnya.

Karena itu pula, meski dengan penuh keterbatasan ia merantau ke Jakarta untuk mengadu nasib. “Saya berangkat sendiri, istri dan anak tetap di kampung. Istri tetap bertani,” katanya. Sudah 16 tahun, aku Wibowo, ia merantau, dan kini menetap di Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Meski diakuinya hidup di kota Jakarta dan sekitarnya lebih sulit ketimbang di kampung, namun dalam hal mendapatkan rejeki dari melukis terasa lebih mudah.

Wibowo mengaku punya semangat tinggi untuk memperjuangkan kehidupannya. Kondisi yang penuh keterbatasan tidak menyurutkan langkah untuk menjual karyanya. Bahkan kalau perlu, katanya, door to door ke berbagai tempat untuk menawarkan ketrampilannya. “Upaya door to door tidak selalu berhasil tapi saya tidak patah semangat karena akhirnya ada saja yang mau membeli lukisan saya. Bagi saya penghasilan besar atau kecil, tetap harus disyukuri, jangan mengeluh,” katanya.***

Bangkit dari Laut

WAGUB Maluku Zeth Sahuburua didampingi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PWI Hendrik Ch. Bangun membuka Pameran Hari Pers Nasional (HPN) ke-69 dan Maluku Expo 2017 yang dipusatkan di Lapangan Merdeka Ambon, Senin (6/2). Zeth Sahuburua menandai pameran HPN dengan pemukulan tifa.

Menurut wakil gubernur, dalam era globalisasi, para pelaku usaha di Maluku harus bisa menghasilkan produk-produk berkualitas, sehingga bisa bertahan dan berkompetisi, tidak hanya di dalam negeri tapi juga internasional. Berkembangnya usaha juga tidak bisa terlepas dari promosi yang dilakukan para pelaku usaha, salah satunya adalah melalui media massa.

Karena itu, melalui Pameran HPN dan Maluku Expo 2017 diharapkan dapat menjadi ajang kolaborasi antara para pelaku usaha dan insan pers, sehingga industri kreatif dan kerajinan Maluku semakin berkembang, juga meningkatkan. “Pameran HPN dan Maluku Expo 2017 adalah kolaborasi antara dunia usaha dan media massa, serta memasarkan  produk-produk kerajinan bernuansa pers,” katanya.

Wagub juga mengajak semua pihak bangkit dari ketertinggalan. Dia berharap, sesuai tema pelaksanaan HPN 2017, “Pers dan Rakyat Maluku Bangkit dari Laut”, sektor perikanan yang menjadi unggulan daerah itu dapat berkembang dengan baik.  Kami sangat berharap kepada Bapak Presiden melalui peringatan HPN 2017 di Ambon ini bisa menghasilkan sesuatu yang positif untuk sektor perikanan kami, khususnya terkait Lumbung Ikan Nasional,” katanya.

Sementara Sekjen PWI Hendrik Ch. Bangun mengatakan sedikitnya ada 3.000 peserta dari 34 provinsi di Indonesia turut berpartisipasi dalam HPN ke-69 di Ambon. “Ini dukungan luar biasa untuk pelaksanaan HPN di Ambon, kami tidak menyangka peserta bisa sebanyak itu,” ucap Hendri. Dalam acara itu, panitia juga meluncurkan buku ‘’Bersatu Manggurebe Maju” karya sejumlah wartawan dan putera Maluku antara lain Noeh Hatumena, James Luhulima,  Letjen Purn. Suaidi Marasabessy, dan Ketty M Saukoly. ***