Membangun (Kembali) Demokrasi Di DPRD DIY

JAYAKARTANEWS – Buku kumpulan esai berjudul ‘Membangun (Kembali) Demokrasi’ akan diluncurkan, Sabtu (30/11/2024) di kantor DPRD Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Buku itu ditulis oleh sejumlah aktivis, politisi, dan akademisi.

“Peluncuran buku ditandai dengan diskusi terbatas untuk 77 orang. Peminat yang tidak kebagian tempat tak perlu khawatir, karena kami akan menayangkan langsung secara streaming melalui akun YouTube Sastra Bulan Purnama,” ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Dalam diskusi tersebut, akan hadir para penulis. Adapun yang bertugas sebagai pemantik, Siti Noor Laila, Hakim Ad Hoc HAM, sekaligus mewakili penulis. Pembicara lain, AB. Widyanta, akademisi, pengajar di Departemen Sosiologi, Fisipol UGM, dan Osrmar Tanjung, seorang aktivis yang akan bertindak sebagai moderator.

Inisiator penulisan buku, Ons Untoro dan Abidin Fikri, yang sekaligus sebagai penyelenggara, mengajak para aktivis, akademisi dan politisi untuk merenungkan Indonesia dengan membuat satu tulisan. Mereka dipersilakan memilih topik sendiri.

“Pasca reformasi 26 tahun ada periode buram dalam lima tahun terakhir. Seketika saya teringat buku Renungan Indonesia karya Sjahrir. Untuk itulah saya mengajak kawan-kawan merenungkan Indonesia dalam bentuk tulisan,” ujar Ons Untoro.

AB Widyanta dan Osmar Tanjung.

Ada 25 penulis yang mengirinkan tulisan. Mereka berasal dari berbagai kalangan, namun semuanya dipertemukan sebagai aktivis pada tahun 1980-an. Saat ini mereka memiliki profesi berbeda-beda. Ada yang menjadi anggora DPR RI, DPRD, Pengajar, Komisaris, Wartawan, peneliti dan lainnya.

Para penulis itu ialah, Abidin Fikri, Ahmad Taufan Damanik, Antie Solaiman, Bambang Kusumo Prihandono, Bambang Sigap Sumantri, Baskara T. Wardaya, Darmanto, Diah Dharma Yanti, Eko S. Dananjaya, Eva K. Sundanri, Giovanni Christy, Halim HD, Ignatius Ismanto, Indro Suprobo, Marlin Dinamikanto, Ons Untoro, Osmar Tanjung, Panca Saktiani, Pril Huseno, Riwanto Tirto Sudarmo, Simon HT, Sinta Herindrasti, Siti Noor Laila.

Sementara itu, Abidin Fikri, anggotan DPR RI Frkasi PDIP menyampaikan apresiasi atas terbitnya buku “Membangun (Kembali) Demokrasi”. “Terima kasih kepada teman-teman yang berkenan mencurahkan energinya untuk tetap kritis dan kembali membawa kita tetap berada dalam alam kesadaran, eling,” katanya.

Dengan membaca buku ini, kita kembali diingatkan bahwa elektoralisme atau demokrasi politik menang-kalah belumlah cukup untuk memenuhi agenda bangsa dan negara, khususnya pemenuhan hak-hak asasi warga negara.

“Kemandegan demokrasi yang saat ini seperti terjebak dalam kubangan demokrasi elektoralisme mesti dikritisi dan dibongkar sedemikian rupa sehingga pendalaman makna demokrasi yang sejati-jatinya untuk memerdekakan rakyat dapat menjadi kenyataan. Peran mulia inilah yang telah diisi oleh kawan-kawan yang menulis buku ini,” tambah Abidin Fikri.

Buku ‘Membangun (Kembali) Demokrasi’ diterbitkan Tonggak Pustaka kerjasama dengan Sastra Bulan Purnama. (*)

Kampus Timoho Sajikan “Kitab Puisi Tiga Bait”

JAYAKARTA NEWS – Ini menjadi momen kedua, interaksi Sastra Bulan Purnama dengan perguruan tinggi. Yang pertama November 2023, dan yang kedua November 2024. Perguruan tinggi yang berinteaksi sama, yakni Sekolah Tinggi Pengembangan Masyarakat Desa ‘APMD’, yang kampusnya di Timoho, Yogyakarta.

Sastra bulan purnama edisi 158 akan diisi peluncuran buku puisi, yang disebut Kitab Puisi Tiga Bait, atau sering disingkat menjadi Putiba. Semua puisi terdiri atas tiga bait.

Peluncuran Kitab Puisi Tiga Bait ini akan diselenggarakan, Sabtu, 23 Novembeer 2024, pukul 15.30 di Kampus STPMD “APMD” Jl. Timoho No.317, Baciro, Kota Yogyakarta. Tajuk dari acara ini ‘Purnama di Latar Timoho’.

“Tajuk acara ini merupakan gabungan dari tiga kata. Kata Purnama diambil dari Sastra Bulan Purnama, kata latar diambil dari judul Kitab Puisi Tiga Bait, yang berjudul Latar Yogya. Serta kata Timoho, nama tempat di mana STPMD ‘APMD’ berlokasi,” ujar Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Kampus STPMD “APMD” Jl. Timoho No.317, Baciro, Kota Yogyakarta.

Ruang Sastra

Sementara itu, Wakil Direktur STPMD ‘APMD’, Tri Agus Susanto Siswowijarjo menyebutkan, dua kali Sastra Bulan Purnama berinteraksi dengan STPMD. “Kampus di mana saya mengabdikan ilmu, membuka ruang terhadap pertunjukan sastra sebagai bentuk dari pengembangan literasi, dan STPMD sangat peduli pada pengembagan literasi,” kata Tri Agus Susanto Siswowiharjo, yang biasanya dipanggil Tass.

Kitab Puisi Tiga Bait yang diberi judul ‘Latar Yogya’, ditulis oleh 54 penulis yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Dari 54 penulis, tidak semuanya bisa hadir.

Beberapa yang akan hadir dan membacakan puisi tiga bait karyanya, di antaranya Tengsoe Tjahjono (Malang), Yonas Suharyono, Warsono Abi Azzam (Cilacap), Bambang Widiatmoko (Bekasi), Ida Nur Chasanah (Surabaya), Herry (Lamongan).

Nama-nama penyair lain, Ari Basuki, Heru Marwata, Ida Yani, Menik Sithik, Yuliani Kumudaswari, Sri Rahmayati (Yogyakarta), dan pembaca tamu Sri Surya Widati, Bupati Bantul periode 2010-2015. Sedangkan, Joshua Igho, seorang penyair akan memainkan keybord, akan tampil mengiringi pembaca puisi dan yang akan menyumbangkan suara lewat nyanyian.

Tengsoe Tjahjono, pengajar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, Malang.

Lensa Sosiologi

Di kesempatan terpisah, Tengsoe Tjahjono, pengajar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya, Malang, inisiator Putiba mengatakan, dalam antologi puisi ‘Latar Yogya’ kita diajak untuk merenungkan kehidupan sehari-hari di Yogyakarta melalui lensa sosiologi dan budaya. Puisi-puisi ini menawarkan perspektif yang kaya akan dinamika sosial dan keunikan budaya kota yang dikenal sebagai pusat kebudayaan Jawa.

“Melalui tiga bait yang padat dan bermakna, para penyair membawa kita menyelami berbagai aspek kehidupan di Yogyakarta, mulai dari interaksi manusia dengan alam, kenangan yang tertinggal di pantai, hingga kebanggan yang terjaga di tengah kota tua,” ujar Tengsoe Tjahjono.

Sebelum membawa Kitab Puisi Tiga Bait, Tengsoe Tjahjono, beberapa tahun lalu pernah membawa pentigraf di Sastra Bulan Purnama. Pentigraf kependekan dari cerpen tiga paragraf.

Tengsoe memang sedang mencari formula penulisan sastra, dalam hal ini puisi dan cerpen dalam paragaf yang tidak banyak. Pentigraf dan putiba adalah dua formula yang terus dikembangkannya.

“Sastra Bulan Purnama memberi ruang berbagai formula dan genre sastra. Berbagai bunga diberi ruang untuk berkembang di Sastra Bulan Purnama,” kata Ons Untoro. (*)

Landung, Butet, dan Ons Mendapat Penghargaan Badan Bahasa

JAYAKARTA NEWS – Tahun 2024 Badan Bahasa di Jakarta memberikan penghargaan para sastrawan berbagai daerah di Indonesia, yang telah berkarya selama 50 dan 40 tahun. Sekitar 100 sastrawan mendapat penghargaan, 9 di antaranya dari Yogyakarta.

Ratun Untoro, dari Balai Bahasa Yogyakarta sebagai UPT Badan Bahasa menyampaikan, ada dua kategeori yang mendapat penghargaan, ialah sastrawan yang sudah berkarya sejak sebelum tahun 1974 disebut kategori 50 tahun berkarya, dan sastrawan yang sudah berkaya sejak sebelum tahun 1984, kategori 40 tahun berkarya,

“Untuk menentukan diterima tidaknya, diperlukan konfirmasi dan bukti karya sesuai kategori, dan bukti-bukti kegiatan lain, akan lebih mendukung apabila ditemukan aktivitas dan karyanya ketika di googling,” ujar Ratun Untoro.

Dwi Pratiwi, Kepala Balai Bahasa Yogya menyampaikan, bahwa Balai Bahasa mempunyai perhatian terhadap para sastrawan yang memiliki konsistensi dalam berkarya, dan Balai Bahasa Yogya hanya bisa mengusulkan yang disertai bukti karya yang kuat, dan yang menentukan Badan Bahasa di Jakarta.

“Tugas Balai Bahasa Yogya selaku UPT dari Badan Bahasa memperhatikan dan menumbuhkan dalam proses berkarya para sastrawan, mengusulkan untuk mendapat penghargaan merupakan salah satu bentuk dari perhatian itu,” kata Dwi Pratiwi.

Butet Kartaredjasa, yang sudah berkarya sejak umur 17 tahun, dan mendapat penghargaan dari Badan Bahasa dalam kategori 40 tahun berkarya mengatakan, saya tidak menduga negara memberikan perhatian seperti ini. Sebab tanpa ada bantuan pun, siapa pun yang mencintai sastra tetap akan berkarya. Tetap memcipta.

“Ini semacam bonus yang pantas disyukuri. Saya kira Badan Bahasa bisa mengutamakan memberi bantuan kepada saatrawan sepuh/senior yang mungkin sangat membutuhkan bantuan seperti ini,” ujar Butet Kartaredjasa.

Ons Untoro, penyair yang mendapat penghargaan 40 tahun berkarya menyampaikan,  rupanya selain konsistensi dalam berkarya, dokumentasi karya merupakan kerja kreatif yang lain, sehingga ketika mendapat penghargaan dari Badan Bahasa dan diminta menunjukkan karyanya, bisa dengan segera ditunjukkan.

“Ketika saya diminta Mas Ratun dari Balai Bahasa Yogya untuk mengirim bukti karya yang dipublikasikan sebelum tahun 1984, dengan segera saya membuka kliping yang ada karya saya sejak tahun 1978, dan karya-karya berikutnya sampai tahun 2024,” ujar Ons Untoro.

Mustofa W. Hasyim, Cicit Kaswami, Budi Sardjono.

9 Sastrawan Yogya

Di Yogya ada 9 sastrawan yang mendapat penghargaan Badan Bahasa ialah Landung Simatupang, Butet Kartaredjasa, Ons Untoro,  Krishna Miharja, Mustofa W. Hasyim, Budi Sardjono, AY. Suaryono, Fauzi Absal, dan Cicit Kaswami.

Fortuna Sri Kaswami Rahayu, yang lebih dikenal dengan nama Cicit Kaswwami, mendapat penghargaan 50 tahun berkarya dari Badan Bahasa tersebut mengejutkan baginya, dan sama sekali tidak menyangka, sehingga Cicit seolah  seperti menang lotre.

“Kok tidak dari dulu ya, coba kalau dari dulu, pasti aku tidak perlu jungkir balik mencari dana untuk biaya setiap kali pentas,” kata Cicit.

Fauzi Absal, penyair Yogya yang menulis puisi sejak tahun 1970-an, dan mendapat penghargaan 50 tahun berkarya mengatakan, para penulis rupanya merasa bangga dan tambah bahagia. Dalam acara silaturahmi yang digelar di Jakarta bisa bertemu muka dengan para penulis dari berbagai daerah Nusantara.

“Sungguh merupakan event yang mengesankan dan menambah semangat penulis dalam berkarya,” kata Fauzi Absal

Krishna Miharja, yang mendapat penghargaan 40 tahun berkarya melihat, pada waktu lalu, kadang bisa mendapatkan honor dari penerbit koran dan majalah. Semakin banyak menulis semakin banyak mendapatkan yang cukup lumayan untuk sekedar menopang biaya hidup, meski tidak sedikit yang menjadi kaya. Tapi seiring terpinggirkannya penerbitan media masa cetak, tentu menjadi masalah yang serius bagi para penulis. Dengan adanya pengahrgaan ini rasanya bisa membantu dalam segalanya bagi penulis.

“Bagi saya pribadi, penghargaan ini akan saya gunakan untuk menerbitkan 5 naskah buku saya yang sebenarnya sudah lama ngendon dalam computer, tiga kumpulan cerita pendek, satu kumpulan puisi, dan satu novel yang akan segera saaya rampungkan penulisannya,” kata Krishna Miharja.

Tiga dari sembilan orang yang mendapat penghargaan, ialah Cicit Kaswami, Krishna Miharja dan Ons Untoro, sebagai rasa terimakasih masing2 akan menerbitkan buku, Cicit akan menerbitkan kumpulan cerkak, Krishna Miharha akan menerbitkan kumpulan puisi dan Ons Untoro akan menerbitkan kumpulan cerpen. Ketiga buku tersebut akan diluncurkan bulan Desember 2024 di Sastra Bulan Purnama.

“Anggap saja ini merupakan pesta bersama di kalangan penulis, pegiat, dan pecinta sastra.” ujar Cicit Kaswami. (*)

“Hierofani”, Sebuah Novel yang Difragmenkan

JAYAKARTA NEWS –“Hierofani” adalah judul sebuah novel. Menurut penulisnya, Kris Budiman, Hierofani, bermakna pengejawantahan dari Yang Suci, manifestasi dari Yang Kudus. Novel itulah yang akan menjadi materi Sastra Bulan Purnama (SBP), Sabtu (20/7/2024) di Museum Sandi, Kotabaru, Yogyakarta.

Novel ini terdiri atas 7 bab. Dalam acara Sastra Bulan Purnam tersebut, semua bab akan dibacakan dalam bentuk fragmen-fragmen.

Sebagai penulis, Kris Budiman yang Sarjana Sastra Indonesia, Fakultas Sastra UGM Yogyakarta itu meringkas setiap bab menjadi fragmen dan masing-masing fragmen akan dibacakan oleh 7 pembaca. Mereka adalah Ana Ratri, seorang pemain teater yang akan membacakan fragmen 1. Kemudian Nanik Indrati, membacakan fragmen 2, Meuz Prazt, seorang perupa membacakan fragmen 3.

Fragmen 4 akan dibacakan oleh Ida Fitri. Sedangkan, Ikun Kuncoro, cerpenis, membacakan fragmen 5. Kemudian Savitri Damayangi, alumnus Sastra Jawa FIB UGM membacakan fragmen 6 dan Bey Saptomo, penulis sastra Jawa dan pemain ketoprak membacakan fragmen 7.

Yang menarik, para pembaca tidak maju satu per satu secara bergantian, melainkan semua maju di depan. Formatnya duduk di  kursi yang ada meja panjang, dan secara berurutan, tanpa jeda pera pembaca membacakan fragmen dengan cara dan gaya berbeda-beda.

“Pembacaan fragmen novel karya Kris Budiman ini seperti pertunjukan,” kata Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Lagu Puisi

Sebelum pertunjukkan, Yupi, seorang pelantun lagu puisi sambil memainkan keyboard, akan mengawali lagu puisi, yang sudah cukup banyak dia buat. Kemudian saat closing, Yupi kembali menutup pertujukan dengan lagu puisi.

“Sebagai fiksi perjalanan (travel fiction), novel ini mengisahkan perjalanan atau petualangan Toni, sang tokoh utama, mencari sebuah arca (Bagian I), tirta atau air suci (Bagian II), serta batu mustika (Bagian III). Dalam pencarian-pencarian ini dia didampingi sahabat-sahabatnya: Wawan, Sartika, dan Indah,” ujar Kris Budiman, Magister Antropologi, UGM itu.

Pada Bagian I, perjalanan mencari arca, Toni bertualang hingga ke pelosok Pulau Bali, Semarang, dan Lasem, Jawa Tengah. Di sana, ia menyusuri jejak para pengungsi/pemberontak Tionghoa pasca-Tragedi Berdarah di Batavia (1740).

“Sebaiknya ikuti pembacaan fragmen atau membaca bukunya, saya tidak perlu menjelaskannya di sini,” kata Kris Budiman, yang juga lulusan S3 (Doktor) Program Studi Kajian Budaya dan Media, UGM Yogyakarta itu.

Perjalanan Krisbudiman

Christina Udiani, pimpinan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), yang menerbitkan Hierofani menyebutkan, novel karya Kris Budiman adalah bacaan penting. Sebuah perjalanan Krisbudiman yang dituliskan dalam bentuk novel.

Pembacaan fragmen novel ini merupakan salah satu bentuk ajakan kepada orang lain untuk membaca novel ini. Bukan hanya novel Hierofani, melainkan novel Kris Budiman yang sudah diterbitkan.

Selama ini, demikian Ons Untoro menyampaikan, Sastra Bulan Purnama banyak menampilkan pembacaan puisi dan cerpen, sesekali geguritan dan cerkak, karya sastra yang ditulis menggunakan bahasa Jawa. Kali ini, novel perjalanan mengisi acara Sastra Bulan Purnama.

“Pembuatan fragmen oleh penulis, membuat format acara nanti tidak memerlukan waktu panjang. Berbeda kalau membaca novel secara utuh,” ujar Ons Untoro. (*)

“Prahara Watusungsang” Novel Jawa yang Mirip Situasi Politik Negeri Kita

JAYAKARTA NEWS –  Seperti halnya sastra Indonesia, sastra Jawa tak berhenti ditulis. Selalu ada penulis sastra Jawa dari usia berbeda-beda menulis sastra Jawa, baik berupa geguritan, cerita cekak dan novel.

Ini ada naskah lakon berjudul ‘Prahara Watusungsang’ ditulis Cicit Kaswami Rahayu. Tulisan ini mendapat penghargaan “Hadiah Sastra Rancage” tahun 2024 dari Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikan oleh sastrawan Ajip Rosidi.

Kisah Prahara Watusungsang, seolah seperti situasi politik negeri kita yang muram, yang membuat sesak dada banyak orang. Seorang raja, yang menikahi perempuan anak pekathik atau perawat kuda. Di kemudian hari, istri raja tersebut, yang berasal dari rakyat, lebih berkuasa ketimbang rajanya, sehingga membuat rakyatnya menderita.

Begitulah rakyat yang mendapat kekuasaan, Mentalnya tidak kuat dan mempunyai keinginan untuk terus berkuasa. Lalu dengan berbagai cara, termasuk merusak pranata hukum, merobek moral, meluruhkan etika, agar kekuasan tidak lepas darinya.

Pertunjukan pentas baca ini, akan dimainkan Komunitas Kembang Adas, pimpinan Cicit Kaswami Rahayu. Ia bagian dari agenda Sastra Bulan Purnama edisi 149, Sabtu, 24 Februari 2024, pkl. 15.30  WIB di Museum Sandi Jl. Faridan M Noto No.21, Kotabaru, Yogyakarta. Tepatnya di utara Raminten dan Balai Bahasa Yogyakarta. Sebelah barat SMA Stella Duce 1, Kotabaru, atau juga sebelah selatan ban-ban Gondolayu.

Komunitas Kembang Adas

Anggota Komunitas Kembang Adas terdiri dari berbagai usia, Mereka sudah sering mengadaikan pentas di berbagai kesempatan, termasuk di Sastra Bulan Purnama. Para pemain pentas baca Prahara Watusungsang di antaranya Ami Simatupang dan Cicit Kaswami. Nama-nama lain, Choen Supriatmi, Martini, Purwanti, dan Plenok. Kemudian ada Lisa, Titik Y, Tutik W, Wening, Yohana, dan Imam Widyoko. Di samping, Patah Ansori, Gati, Eko, Dito, Tri R., Wahyu, Guri, Latih.

“Disebut pentas baca, karena para pemainnya pentas sambil membaca naskah. Masing-masing tidak perlu menghapal naskah sebagaimana pentas drama,” ujar Cicit Kaswami.

Bu Cicit (82 th), demikian ia biasa dipanggil, dalam usianya yang sudah lanjut masih terus produktif berkarya. Ia menulis cerkak, cerpen maupun naskah lakon.

Sastra Jawa dan Etnik

Sastra Bulan Purnama (SBP), kata Ons Untoro, koordinator SBP, sudah lebih dari 2 kali memberi ruang karya Cicit Kaswami. Keduanya berupa pentas baca.

“Sastra Bulan Purnama memang bukan hanya untuk sastra Indonesia. Terbuka terhadap sastra Jawa dan sastra etnik lainnya,” ujar Ons Untoro.

Sementara Setyo Budi Prabawa, Kepala Museum Sandi, menyambut baik sinergi Sastra Bulan Purnama dan Muesum. Menurutnya, keduanya sama-sama mengembangkan produk kebudayaan dalam rupa dan bentuk yang berbeda.

“Rasanya, sudah satu tahun lebih Sastra Bulan Purnama bersama Museum Sandi memberi ruang terhadap sastra. Bukan hanya pertunjukkan, tetapi juga diskusi buku sastra dan kebudayaan,: ujar Setyo Prabawa. (*)

Ada Bulan di Pohon Trembesi

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – “Bulan di Pohon Trembesi” adalah judul buku kumpulan cerpen karya 11 perempuan cerpenis. Cerpen-cerpen dalam buku itulah yang akan menjadi konten Sastra Bulan Purnama (SBP) edisi ke-147, Jumat, 15 Desember 2023.

Acara yang digelar mulai pukul 15.00 itu, bertempat di Balai Bahasa Yogyakarta, Jl. I Dewa Nyoman Oka, Kotabaru, Yogyakarta. Balai Bahasa Yogyakarta adalah lembaga pemerintah yang peduli pada pengembangan literasi.

Belakangan ini, SBP bersinergi dengan beberapa lembaga, di antaranya Akademi Komunitas Negeri Yogyakarta, Museum Sandi Yogyakarta, Sekolah Tinggi Pengembangan Masyarakat Desa ‘APMD’ Yogyakarta, Balai Bahasa Yogyakarta, dan Komunitas Sanggaragam.

“Sepanjang tahun 2023, dan diteruskan tahun berikutnya, Sastra Bulan Purnama akan melakukan sinergi dengan berbagai pihak. Tentu, lembaga-lembaga yang telah melakukan sinergi akan terus dijaga,” ujar Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama.

Sedang Dwi Pratiwi, Kepala Balai Bahasa Yogyakarta mengatakan, Balai Bahasa sudah lama mempunyai kegiatan sastra Indonesia. Untuk kali ini, ia bersinergi dengan Sastra Bulan Purnama, yang sudah 12 tahun diselenggrakan secara rutin setiap bulan.

“Selain pertunjukkan sastra, sinergi yang sudah dilakukan dengan SBP ialah ‘Obrolan SBP’, yang setiap bulan membuka bincang-bincang sastra dan sudah memasuki putaran ke-7,” ujar Dwi Pratiwi.

Tema Perempuan

Penulis cerpen dalam buku ini tidak hanya berasal dari Yogyakarta, melainkan ada yang tinggal di luar Yogya. Di antaranya Antarini Arna, Lies Wijayanti (Jakarta), Sriyanti Sastro Prayitno (Semarang). Sedangkan, delapan penulis lainnya dari Yogya. Mereka adalah Ninuk Retno Raras, Dwi Pratiwi, Yuliani Kumudaswari, Umi Kulsum, Savitri Damayanti, Margerteh Widhy Pratiwi, Tri Wahyuni, Ika Zardi Zaliha.

Semua cerpen menggarap tema perempuan dan ditulis oleh perempuan. Tidak semua menulis menyangkut dirinya sendiri. Ada juga yang mengangkat kisah nyata. Cerpen merupakan karya fiksi, sehingga meskipun ditulis dari kisah nyata, ia tetap sebagai karya fiksi, karena selalu diberi dimensi lain, sehingga kisah nyata terasa hidup.

“Sastra Bulan Purnama sebagai ruang pertunjukkan tidak hanya diisi pembacaan puisi, tetapi terbuka pembacaan cerpen dan cerkak, cerita pendek yang ditulis menggunakan bahasa Jawa, pertunjukkan musik puisi dan lainnya,” kata Ons Untoro

Sepanjang tahun 2023, Sastra Bulan Purnama bersama penerbit Tonggak Pustaka, setiap bulan menerbitkan satu buku puisi dan diluncurkan di Sastra Bulan purnama, termasuk untuk mengisi acara Obrolan SBP, yang diselenggarakan setiap jumat minggu pertama di Balai Bahasa Yogyakarta. (pr)

Jatuh Cinta di Bulan Purnama

JAYAKARTA NEWS – Sastra Bulan Purnama edisi 137, akan diselenggarakan Minggu, 26 Februari 2023, pkl. 15.00 WIB di Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya, Jl. Parangtritis No.364, Pandes, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (timur Piramid atau depan SMA N 1 Sewon). Materi acara adalah peluncuran buku puisi ‘Bukan Jatuh Cinta’ karya 18 perempuan yang gemar menulis puisi.

Mereka adalah para perempuan penyuka menulis puisi dari berbagai kota di Indonesia. Antara lain dari Jakarta, Semarang, Kendal, Temanggung, Yogyakarta, dan lain-lain. Bahkan salah satu di antara mereka tinggal Jepang. Eni Takahashi namanya.

Beberapa di antara mereka sudah sering tampil membaca puisi di Sastra Bulan Purnama, termasuk peluncuran buku puisi tunggal karyanya, seperti Yuliani Kumudaswari, yang bulan Januari 2023 lalu meluncurkan puisi dalam bentuk soneta.

Nama-nama yang puisinya ada di dalam buku ‘Bukan Jatuh Cinta’ ialah, Ninuk Retno Raras/Yanti S. Sastroprayitno/Yuliani Kumudaswari/Eni Takahashi/Diah Rofika/Asmariah/ Menik/Ardhini Pangastuti/Margareth Widhi P/Ratih Alsaira/Endang Wahyuningsih/Sashmytha Wulandari/Umi Kulsum/ Endah Nursinta/Any Faiqoh /Selsa/Atun Pratiwi/Ana Ratri

Selain para penulis puisi yang akan tampil membacakan puisi karyanya, akan tampil juga beberapa  pembaca tamu: Joko B. Purnomo, Wakil Bupati Bantul, Sri Surya Widati, Bupati Bantul periode 2010-2015, Nonon Diah Setyowati  dan Astuti Hasiwulan. Tampil musik puisi Menik dan TM ON.

Beberapa nama yang tampil membaca, dua di antaranya juga dikenal penggurit  dan penulis novel Jawa, yaitu Ardhini Pangastuti dan Margareth Widhi P. Seorang penggurit lainnya, Yanti S. Sastro Prayitno dari Semarang, buku geguritannya mendapat penghargaan dari Balai  Bahasa Jawa Tengah.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, beberapa kali, sejak Sastra Bulan Purnama diselenggarakan bulan Oktober 2011 sudah menampilkan perempuan penyair tampil membacakan puisi karyanya.

“Di Indonesia, di era mileneal ini banyak hadir penulis perempuan, bukan hanya menulis puisi, tetapi juga menulis cerpen ataupun novel. Para penulis mileeal tidak selalu berusia muda, atau mereka yang lahir tahun 1999 atau awal tahun 2000-an, tetapi termasuk mereka yang mulai menulis ketika media sosial milai marak,” ujar Ons Untoro.

Selama ini, sejak pertamakali diselenggarakan, Sastra Bulan Purnama mengambil tempat di ruang terbuka dan dihiasi bulan purnama. Pada awal pandemi covid 19, Sastra Bulan Purnama, yang biasa disingkat menjadi SBP diselenggarakan secara daring, dan live di youtube yang diberi  tajuk Poetry Reading From Home.

“…dan ketika kembali hadir offline, karena pandaemi covid 19 belum tuntas, diselenggarakan pukul 16.00, jika musik penghujan di ruang tertutup, dan musim kemarau di ruang terbuka,” ujar Ons Untoro (pr)

Yuliani Luncurkan 100 Soneta di Sastra Bulan Purnama

YOGYAKARTA, JAYAKARTA NEWS – Mengawali tahun 2023, Sastra Bulan Purnama meluncurkan buku puisi karya Yuliani Kumudaswari. Acara bulanan yang sudah berlangsung selama 11 tahun itu, akan diselenggarakan 28 Januari 2023 di Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya, Jl. Parangtritis 364, Pandes, Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Yuliani Kumudaswari adalah perempuan penyair yang tinggal di Semarang. Bukunya berjudul ‘Tunjung Hati’, yang diterbitkan Tonggak Pustaka Yogya, memuat 100 soneta.

Pergelaran Sastra Bulan Purnama di  tahun baru ini mengambil lokasi yang berbeda dari selama ini diselenggarakan.

Menyangkut apa yang dimaksud soneta, Wikimedia menuliskannya seperti berikut: “Soneta adalah bentuk kesusastraan Italia yang muncul sejak pertengahan abad ke-13 di Kota Firenze. Soneta lebih digolongkan ke dalam suatu bentuk sastra puisi  oleh para Sastrawan.. Bentuk puisi soneta muncul di Indonesia karena dibawa oleh para pemuda Indonesia yang bersekolah di Belanda.. Soneta disenangi oleh para pujangga sebab secara garis besar hampir sama dengan pantun..

“Jumlah barisnya cukup luas untuk mencurahkan isi hati sehingga bisa menyatakan berbagai perasaan penyair. Pada zaman Balai Pustaka banyak penyair Indonesia yang menerjemahkan soneta dan akhirnya mengembangkan puisi dengan gaya soneta juga.. Puisi soneta merupakan puisi baru yang terdiri atas 14 baris yang dibagi menjadi 4 bagian” tulisa Wikimedia

“Penyair Indonesia banyak yang kembali menulis soneta, jumlah barisnya tetap dijaga 14 baris, yang terdiri dari 4 bait. Bait pertama dan kedua terdiri dari 4 baris dan bait ketiga dan keempat terdiri dari tiga baris” kata Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama.

Yulisani Kumudaswari, bersama sejumlah penyair lainnya dari berbagai kota di Indoensia, telah menulis soneta dan bukunya diterbitkan KKK, penerbit di Jakarta, yang dikelola sastrawan Kurniawan Djunaedie.

“Ini kali Yulani menulis 100 soneta dan diterbitkan menjadi buku dan dilaunching di Sastara Bulan Purana,” lagi-lagi kata Ons Unttoro.

Sejumlah pembaca, yang terdiri dari penyair dan pembaca puisi, dan pembaca tamu akan tampil membacakan puisi soneta karya Yuliani Kumudaswari. Mereka ialah, Landung Simatupang, dikenal sebagai aktor dan penyair, Dhanu Priyo Prabowo, peneliti sastra Jawa, Ninuk Retno Raras, penulis cerpen, Yantoro, pemain teater, Meuz Prazt, perupa, Tosa Santosa event organizer dan para pembaca lainnya, Bilya Al-wajdi, Chacha Baninu, Dani Saputra, Vivin Rachmawati dan Zee Susana.

Selain para pembaca di atas, demikian Ons Untoro menjelaskan, akan tampil pembaca tamu, ialah Sri Surya Widati, Bupati Bantul periode 2010-2015 dan Nugroho Eko Setiyanto, Kepala Dinas Kebudayaan Bantul.

Seorang penyair dari Magelang, yang produktif menulis puisi, dan piawai memainkan alat musik. Joshua Igho namanya, akan melagukan dua puisi karya Yuliani Kumudaswari. (pr)

Banyuwangi dalam Esai dan Fotografi

JAYAKARTA NEWS – Kali ini, satu buku yang memadukan esai dan fotografi, dilengkapi pertunjukkan pembacaan puisi, akan ditampilkan di Sastra Bulan Purnama edisi 134. Acara akan diselenggarakan Sabtu, 5 November 2022, pkl. 15.00 di Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km 8,5, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Buku esai fotografi tersebut diberi judul ‘Banyuwangi: Ratna Mustika di Penghujung Timur Jawa” karya Novi Indrastuti dan Harno Dwi Pranowo. Novi sehari-harinya sebagai pengajar di Jurusan Sastra Indonesa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM), dan Harno Dwi Pranowo pengajar di Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam UGM.

Keduanya sering melakukan kolaborasi dalam hal karya tulis. Novi menyajikan karya tulis, misalnya puisi, dan Harno menyajikan fotografi. Kedua karya disajikan dalam satu buku. Ini kali, karya esai Novi Indrastuti dipadukan dengan fotografi karya Harno Dwi Pranowo, dan mengambil obyek Banyuwangi.

Peluncuran buku karya Novi Indrastuti ini akan diisi pembacaan puisi dari Kagama Poetry Reading, yang dipimpin oleh Novi. Sejumlah alumni UGM dari berbagai tahun dan jurusan akan membacakan puisi, baik puisi karya sendiri ataupun puisi karya penyair lain. Para alumni  yang akan membacakan puisi, ialah Achmad Carris Zubair, Armansyah Prasakti, Darwito, Kamal Firdaus, Jaka Marwasta, Mas Yanto Herlianto, Paiman, Risma Nur Rahmawati, Sriyanti S. Sastroprayitno dan Wahjudi Jaya.

Selain pembacaan puisi, peluncuran buku ini juga akan dipadukan peragaan busana rancangan Essy Masita, seorang perancang busana yang dikenal luas, dan rancangannya selalu memikat. Para peragawati muda via Ardania dkk., akan diarahkan, Tosa Santisa selaku penata gaya, yang mempunyai pengalaman menyelenggarakan peragaan busana di Yogyakarta.

 “Peragaan busana ini bukan sekedar tempelan dalam pertunjukkan sastra di Sastra Bulan Purnama, melainkan satu kesatuan dan akan memberi makna baru dalam pertunjukkan ini” kata Tosa Santosa.

Dua orang tokoh dibidangnya, Sri Margono, sejarawan, pengajar jurusan sejarah di FIB UGM, dan Risman Marah, seorang fotografer dan pengajar di ISI Yogya, akan memberikan testimoni mengenai buku tersebut dari perspektif masing-masing.

Memilih Destinasi Wisata

Mengenai buku yang ditulisnya, Novi Indrastuti mengatakan, melalui buku esai fotografi ini diharapkan dapat menimbulkan perhatian (attention), menimbulkan ketertarikan (interest), dan membangkitkan keinginan atau hasrat (desire) dalam diri pembaca sehingga akhirnya memutuskan untuk melakukan perjalanan (action) menuju ke destinasi wisata yang sesuai keinginan, selera, dan kebutuhannya masing-masing. 

“Jadi, buku esai fotografi ini dapat membantu pembaca untuk mengambil keputusan yang tepat dalam memilih destinasi wisata yang sesuai dengan tujuan dan harapannya. Berbagai destinasi wisata yang termaktub dalam buku ini dinarasikan dan dilengkapi dengan suguhan foto yang memvisualisasikannya sehingga para pembaca dapat memperoleh gambaran yang jelas,” ujar Novi Indrastuti.

Sedang Harno Dwi Pranowo, fotografer, mengatakan, selain keindahan alam yang memikat di Banyuwangi, ada lagi jenis wisata yang menarik di bumi Blambangan ini, yaitu budaya. Tari Gandrung yang mendunia melalui penyelenggaraan festival Gandrung Sewu, makanan khas yang menarik dan ekonik seperti rujak soto, juga batik yang elegan dengan motif Gajah Oling.

“Mengabadikan keindahan yang tersebar di bumi Blambangan ini menjadi sebuah tantangan tersendiri untuk diabadikan dengan fotografi. Memberikan dan menyebarkan informasi ini untuk dunia agar dapat dinikmati oleh banyak orang, dan ujung-ujungnya juga untuk menjadikan Banyuwangi semakin menarik sebagai tujuan wisata yang menjanjikan untuk dijadikan agenda liburan”, ujar Harno Dwi Pranowo

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama, menyebutkan, pada edisi ini, SBP memberi ruang kolaborasi esai dan fotografi, yang dipadukan pertunjukkan sastra dan peragaan busana. Masing-masing akan saling mengisi dan memberi makna terhadap produk kebudayaan.

“Ekespresi kebudayaan memang tidak tunggal, akan selalu berinetaraksi dengan karya yang berbeda, sehingga ekspresi budaya terlihat penuh warna,” kata Ons Untoro. (pr)

Yang Gaib di Bulan Purnama

JAYAKARTA NEWS – Di bulan Oktober 2022, Sastra Bulan Purnama memasuki edisi 133. Itu artinya, sudah genap 11 tahun. Dalam edisi ini, satu buku berjudul ‘Yang Gaib dan Yang Kasatmata’, diterbitkan penerbit Ombak Yogyakarta. Penulisnya, Dewi Anggraeni.

Peluncuran buku itu akan mengisi Sastra Bulan Purnama Sabtu 15 Oktober 2022. Acara berlangsung pukul 15.00 di Tembi Rumah Budaya, Jl. Parangtritis Km 8,4, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Dua narasumber akan membahas buku tersebut. Selain itu, ada dua aktor teater Yogyakarta akan membacakan pethilan dari naskah yang ada di dalam buku tersebut. Mereka ialah, Wahid Supriyadi, mantan Dubes RI di UAE dan Rusia, tinggal di Jakarta. Yang kedua, Roswita Nimpuno Khaiyath, jurnalis dan penyiar radio Australia. Dua orang pembaca petikan naskah, Eko Winardi, aktor teater dan Nuning Deni Puspitasari, aktris teater.

Dewi Anggraeni, selain dikenal sebagai penulis buku ‘Yang Gaib dan Yang Kasatmata’ dan sejumlah buku fiksi lain, juga seorang jurnalis. Ia menjadi koresponden majalah mingguan berita ‘Tempo’ di Australia. Untuk peluncuran buku ini, Dewi, yang menetap di Australia akan hadir di Tembi Rumah Budaya, Yogyakarta.

Dalam buku ini, tidak semua cerita terjadi di satu negeri, dan kebetulan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris adalah bahasa primernya. Jadi ia dapat menyampaikannya dalam masing-masing bahasa. “Sekalipun begitu, saya bisa merasa langsung bertatap muka dengan pendengar atau pembaca yang berminat mengikuti alur peristiwanya,” ujarnya.

Cocok dengan Mood

“Kesenangan yang saya dapat dari pengalaman berkisah ini, saya harapkan dapat diresap ke dalam kalbu yang membacanya. Kendati banyak pembaca menguasai kedua bahasa, ada pilihan untuk membaca dalam bahasa yang lebih cocok dengan moodnya waktu itu. Yang menguasai salah satu bahasa, tapi juga ingin tahu bagaimana alurnya tampil dalam bahasa yang lain, dapat juga mengaksesnya.  Itulah persembahan saya untuk pembaca,” kata Dewi Anggraeni.

Ons Untoro, koordinator Sastra Bulan Purnama menyebutkan, tidak terasa, SBP (Sastra Bulan Purnama) sudah memasuki usia 11 tahun. Pertama kali diselenggarakan bulan Oktober 2011. Satu kegiatan sastra, yang pada awalnya diisi pembacaan puisi penyair Yogyakarta, kemudian berkembang. Kini, para penyair berbagai kota di Indonesia hadir dan membacakan puisi karyanya di Sastra Bulan purnama.

“Dan pada perkembangannya, tidak hanya puisi yang ditampilkan, tetapi kumpulan cerpen dan novel dihadirkan di Sastra Bulan Purnama. Tidak hanya dibacakan, tetapi juga dibincangkan. Setidaknya seperti buku ‘Yang Gaib dan Yang Kasatmata’ karya Dewi Anggraeni ini,” ujar Ons Untoro

Para penampil di Sastra Bulan Purnama, selain penyair dari Yogyakarta, juga datang dari kota-kota lain. Di antaranya dari Jakarta, Bekasi,  Surabaya, Semarang, Malang, Mojokerto, Solo, Salatiga, dan Cilacap. Selain itu, ada juga yang dari Purwokerto, Purworejo, Tulungagung, Magelang, Blitar, Kudus, Padang, Aceh, Riau, Sumatra Utara, dll.

“Di masa pandemi covid 19 Sastra Bulan Purnama terus diselenggarakan. Karena larangan berkumpul, maka acara diselenggarakan secara daring disiarkan secara live di youtube. Dari kota masing-masing, para penampil hadir secara daring. Mereka saling berinteraksi, dan dimulai sejak awal pandemi april 2020, yang diberi tajuk Poetry Reading  From Home,” kata Ons Untoro. (pr)