Ngabuburit Seru! Belajar Membatik di Taman Indonesia Kaya Semarang

JAYAKARTA NEWS – Menunggu waktu berbuka puasa tak harus membosankan. Taman Indonesia Kaya, Mugassari, Semarang, bisa menjadi tempat mengisi waktu jelang berbuka dengan kegiatan yang kreatif dan penuh makna.

Bersama Setitik, kamu bisa belajar membatik dalam acara bertajuk “Canting Nusantara”, yang akan digelar pada 9 Maret 2025 pukul 15.00 WIB hingga selesai.

Di workshop batik ini, kamu akan mengenal seni mencanting dan teknik dasar membatik yang khas Nusantara.

Tak hanya belajar membatik, acara ini juga akan dimeriahkan dengan penampilan musik keroncong yang menambah suasana syahdu, serta tausiyah Ramadan yang memberikan inspirasi spiritual sebelum berbuka puasa.

Kegiatan ini gratis, namun kuotanya terbatas dan hanya diperuntukkan bagi peserta berusia 12 tahun ke atas. Jadi, jangan sampai ketinggalan kesempatan ini!

Untuk ikut serta, kamu cukup:

1. Follow Instagram @tamanindonesia_kaya

2. Kirim nama, usia, domisili, dan nomor telepon melalui Direct Message (DM) ke akun tersebut.

Pastikan kamu mengenakan atasan hitam dan bawahan bernuansa batik saat mengikuti acara ini.

Jangan lewatkan pengalaman ngabuburit yang seru dan penuh budaya ini!

Segera daftarkan diri dan jadilah bagian dari “Canting Nusantara” di Taman Indonesia Kaya, Semarang.***/mel

7 Tempat Ngabuburit Gratis di Jakarta, Suasana Meriah Saat Bulan Ramadan

JAYAKARTA NEWS – Menjelang waktu berbuka puasa, banyak orang mencari  tempat  ngabuburit yang seru dan menyenangkan.

Jakarta sebagai ibu kota memiliki berbagai lokasi menarik yang bisa dikunjungi tanpa harus mengeluarkan biaya.

Berikut beberapa rekomendasi tempat ngabuburit gratis di Jakarta yang bisa dicoba saat bulan Ramadan, dikutip dari Laman BUMN, Jumat (28/2/2025).

1. Monumen Nasional (Monas)

Monas (Unsplash/Affan Fadhlan)

Monas adalah salah satu ikon Jakarta yang selalu ramai dikunjungi.

Anda bisa menikmati suasana sore yang sejuk sambil berjalan-jalan di sekitar taman Monas atau bersantai di bawah pepohonan rindang.

2. Kota Tua Jakarta

Jajaran sepeda ontel yang banyak disewakan di kawasan Kota Tua Jakarta. (indonesia.go.id)

Bagi pecinta sejarah dan arsitektur, Kota Tua adalah tempat ngabuburit yang sempurna.

Di sini, Anda bisa berfoto dengan latar bangunan kolonial, mengunjungi museum, atau sekadar menikmati pertunjukan seni jalanan.

3. Taman Suropati

Di Taman Suropati sering banyak kegiatan masyarakat yang bisa diikuti atau cukup ditonton saja. (wisatahits.blog)

Taman yang terletak di Menteng ini dikenal dengan suasananya yang asri dan menenangkan.

Banyak komunitas yang berkumpul untuk bermain musik, olahraga ringan, atau sekadar bersantai menikmati udara segar.

4. Taman Ismail Marzuki (TIM)

Penampilan Taman Ismail Marzuki di malam hari. (Instagram/@wajahbaru_tim )

Selain sebagai pusat seni dan budaya, TIM juga menjadi tempat ngabuburit favorit.

Anda bisa menikmati berbagai kegiatan seni yang sering diadakan di area ini.

5. Ancol (Pantai Karnaval dan Pantai Indah)

Pantai Ancol Jakarta. (Instagram/@nuring.captures)

Meskipun masuk Ancol berbayar, beberapa area seperti Pantai Karnaval dan Pantai Indah bisa dikunjungi secara gratis.

Menikmati sunset di tepi pantai bisa menjadi pengalaman ngabuburit yang menyenangkan.

6. JPO Phinisi Sudirman

JPO Pinisi (Twitter/Pemprov DKI Jakarta)

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Phinisi di Sudirman menawarkan pemandangan kota yang indah.

Sore hari menjadi waktu yang pas untuk berfoto dan menikmati pemandangan gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

7. Setu Babakan

Kawasan Setu Babakan tampak dari atas. (kemenparekraf.go.id)

Bagi yang ingin menikmati suasana perkampungan Betawi, Setu Babakan bisa menjadi pilihan menarik.

Anda bisa berkeliling dan mengenal budaya Betawi secara lebih dekat tanpa harus membayar tiket masuk.

Dengan banyaknya pilihan tempat ngabuburit gratis di Jakarta, Anda bisa menikmati waktu menunggu berbuka dengan lebih menyenangkan tanpa harus merogoh kocek.***/mel

Bahaya Mengancam, KAI Ingatkan Larangan Ngabuburit di Sekitar Jalur Kereta Api

JAYAKARTA NEWS – Pada bulan Ramadhan, momen ngabuburit menjadi salah satu waktu yang paling dinanti untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa dengan beragam kegiatan, seperti mengaji, jalan-jalan sore, berbelanja takjil untuk berbuka puasa, serta berbincang dengan teman dan keluarga.

Namun, akhir-akhir ini, fenomena ngabuburit di sejumlah daerah mulai mencuat dengan aktivitas “nongkrong” atau beraktivitas di sekitar rel atau jalur kereta api. Hal ini sangat membahayakan keselamatan perjalanan kereta api dan masyarakat itu sendiri.

“Banyak masyarakat yang melakukan aktivitas ngabuburit di sekitar jalur kereta api dengan duduk atau nongkrong sambil melihat kereta api lewat, berjualan, bahkan ada yang menaruh benda asing atau memindahkan batu balas (kerikil) di jalur kereta api. Hal ini tentunya dapat merusak prasarana kereta api dan bahkan dapat membahayakan perjalanan kereta api,” ungkap VP PR KAI Joni Martinus.

Joni menegaskan bahwa KAI sangat keras melarang masyarakat untuk melakukan aktivitas di sekitar jalur kereta api. 

“KAI dengan tegas melarang masyarakat berada di jalur kereta api untuk aktivitas apapun selain untuk kepentingan operasional. Selain membahayakan diri, beraktivitas di jalur kereta api termasuk ngabuburit juga dapat mengganggu perjalanan kereta api,” tegas Joni.

Joni menyatakan, larangan beraktivitas di jalur kereta api telah diatur dengan jelas dalam UU No 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian pasal 181 ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap orang dilarang berada di ruang manfaat jalur kereta api, menyeret, menggerakkan, meletakkan, atau memindahkan barang di atas rel atau melintasi jalur kereta api, ataupun menggunakan jalur kereta api untuk kepentingan lain, selain untuk angkutan kereta api. 

“Selain dapat membahayakan keselamatan, masyarakat yang melanggar juga dapat dikenai hukuman berupa pidana penjara paling lama tiga bulan atau denda paling banyak Rp 15.000.000. Hukuman tersebut sebagaimana yang dinyatakan dalam pasal 199 UU 23 tahun 2007,” ungkap Joni.

Permasalahan ini juga disebabkan oleh banyaknya bangunan liar yang berdiri di sekitar jalur kereta dalam area rumaja (ruang manfaat jalan), rumija (ruang milik jalan), dan ruwasja (ruang pengawasan jalan).

Rumaja diperuntukkan untuk pengoperasian kereta api dan merupakan daerah yang tertutup untuk umum. Rumija diperuntukkan untuk pengamanan konstruksi jalan rel, dapat dimanfaatkan atas izin pemilik jalur dengan ketentuan tidak membahayakan operasi kereta api. Sedangkan ruwasja diperuntukkan untuk pengamanan dan kelancaran operasi kereta api, serta dapat dimanfaatkan untuk kegiatan lain dengan ketentuan tidak membahayakan operasi kereta api.

“Masyarakat diharapkan untuk mematuhi aturan yang ada dan tidak mendirikan bangunan secara ilegal di area-area tersebut. Hal ini diatur dalam Pasal 178 UU 23 Tahun 2007 yang menyatakan bahwa setiap orang dilarang membangun gedung, membuat tembok, pagar, tanggul, bangunan lainnya, menanam jenis pohon yang tinggi, atau menempatkan barang di jalur kereta api yang dapat menghalangi pandangan bebas dan membahayakan keselamatan perjalanan kereta api,” ungkap Joni.

Dampak dari ketidakpatuhan masyarakat terhadap aturan yang berlaku, KAI mencatat bahwa selama tahun 2023 sampai dengan Maret 2024, terdapat 575 kasus kecelakaan orang tertabrak kereta dengan rincian 474 meninggal, 55 luka berat, dan 46 luka ringan.

KAI tetap konsisten dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat dan berkoordinasi dengan kewilayahan setempat mengenai risiko beraktivitas di sekitar jalur kereta api. Tidak hanya itu, KAI juga rutin melakukan pengawasan dengan menempatkan personel untuk melakukan patroli di titik-titik rawan.

“KAI sangat melarang kegiatan di sekitar jalur kereta api. Kami mengajak masyarakat untuk turut berpartisipasi dalam menciptakan keselamatan bersama dan kelancaran perjalanan kereta api. Kami juga mengimbau kepada masyarakat agar ikut memberi pengertian atau teguran apabila ada yang bermain atau melakukan aktivitas di jalur kereta api,” tutup Joni.***/mel

Ngabuburit di Maguwoharjo, Yogya

Di Yogyakarta, ada banyak spot ngabuburit yang asyik. Salah satunya di sekitar Stadion Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Setiap sore, area sekitar stadion muncul “pasar tiban”.

Keberadaan mereka justru didukung oleh Pemkab Sleman, untuk lebih menggairahkan perekonomian sektor UKM. Aneka jajanan pasar, buah, menu berbuka, tersedia di sini. Kita simak videonya.

95% Pengendara Memakai Masker

Jayakarta News – Ngabuburit. Itu sudah menjadi tradisi Ramadhan. Kegiatan sambil menunggu saat berbuka puasa, dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang berburu kuliner, ada yang sekadar jalan-jalan sore.

Bisa juga dengan keliling melihat situasi dan kondisi Ibukota DKI Jakarta di era pandemi Covid-19 yang sudah memasuki tiga bulan lamanya serta masa berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sejak 10 April 2020, dan telah dua kali diperpanjang.

Perjalanan siang hingga sore mengitari Cibubur, Jakarta Timur, menuju Jalan Akses UI, Depok. Kemudian, ke arah UI melewati Srengseng Sawah, lalu Lenteng Agung, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Setelah itu masuk ke jalan Tol Cawang menuju Cengkareng, menuju Jalan Raya Francis, Tanggerang, Banten dan kembali masuk Jalan Tol lingkar Barat.

Perjalanan hari ini, Selasa (12/5) tidak sampai dua jam kami lalui. Padahal jika tidak lagi situasi Covid-19 perjalanan itu bisa sampai tiga jam bahkan lebih. Bisa dibayangkan masih di sekitar Depok UI menuju Jakarta Selatan saja bisa mencapai satu jam, seperti yang dikatakan salah seorang di antara kami.

Jalan Lenteng Agung pembangunan fly over menuju Pasar Minggu. (Foto. Monang Sitohang)
Salah satu ruas jalan utama ibukota yang lengang. (foto: monang sitohang)

“Tadi bang, yang kita lewati itu pembangunan fly over, kalau tidak pandemi Covid-19 seperti ini, mulai dari stasiun Kereta Api Lenteng Agung menuju Pasar Minggu, dan underpas Pasar Minggu menuju Pejaten, bisa hampir satu jam,” ujar Nurdin salah satu di antara kami yang membawa mobil.

Memang beberapa ruas jalan yang dilalui tadi, situasi tampak sepi, suara klakson juga sangat jarang terdengar, walaupun ada beberapa ruas jalan yang ramai kendaraan. Dan hampir rata-rata terlihat pengendara memakai masker.  

Begitu juga saat hendak pergi dan pulang memasuki pintu tol, pengendara sepi. Bahkan hendak masuk di pintu tol saja tidak ada antrean. Ruas jalan tol yang biasanya hampir terisi kendaraan ini bebas melenggang saking sepinya. Padahal sebelum Covid-19 yang dikenal dengan macetnya itu bukan hanya di jalan raya saja, jalan tol juga bisa macet. Dan selalu tampak pengendara yang di dalam mobil juga menggunakan masker.

Setelah memasuki Jalan Raya Francis, Tanggerang, Banten mobil diputar balik jalan yang kami lalui dari belakang Bandara Cengkareng, dan tampak terlihat pesawat berbaris rapi. Dan jalan dilalui sepi.

Sampai akhirnya kami pulang keluar dari Jalan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Di sekitar jalan ini mulai tampak kendaraan sepeda dan mobil ramai. Namun tidak membuat macet. Apa lagi saat di persimpangan lampu merah, kelihatan para pengendara sepeda motor menggunakan masker.

Tak lama lampu hijau kami lanjutkan jalan, tampak mulai dari perjalanan beberapa pos-pos penjaga para petugas Covid-19. Kemudian kami masuk kembali ke Jalan Akses UI melalui jalan Raya Bogor. Jadi menurut amatan sepanjang jalan ada sekitar 95% pengendara menggunakan masker. (Monang Sitohang)

Saat hendak memasuki Jalan Benda Raya, Kamal, Jakarta Barat. (Foto. Monang Sitohang)
Di perempatan Pasar Rebo. Tampak kendaraan ramai dan para pengendara menggunakan masker. (Foto. Monang Sitohang)