Mira Lesmana dan Riri Riza Meluncurkan Film Pendek ‘Aku, Chairil !’

JAYAKARTA NEWS— Siapa tak kenal Chairil Anwar ? Dalam pelajaran Kesusastraan Indonesia, kritikus sastra HB Jassin menyebut Chairil Anwar adalah pelopor Angkatan 45 sekaligus puisi modern Indonesia (bersama Asrul Sani dan Rivai Apin).

Chairil Anwar yang dijuluki ‘si binatang jalang’ (diambil dari karya puisinya berjudul ‘Aku’) ini wafat dalam usia muda (27 tahun) akibat penyakit paru-paru yang dideritanya.
Hidup bohemian dan sepak terjang Chairil dalam dunia puisi ini diinisiasi oleh Mira Lesmana dan Riri Riza dalam film pendek dan serial antologi seni video bertajuk ‘Aku, Chairil !’ pada Hari Puisi Nasional 2023 baru-baru ini.

“Sebagai produser, kami berdua mengkurasi sejumlah puisi Chairil Anwar yang kemudian dipilih dan direspons ulang bersama tujuh perupa seni kontemporer, tujuh aktor pembaca puisi dan seorang musisi muda,” ujar Mira Lesmana di Gedung Sarinah Jakarta.

Sependapat pernyataan Riri Riza bahwa memperkenalkan kembali karya-karya besar Chairil Anwar kepada generasi muda, berarti menghargai kebudayaan dan kesenian Indonesia.
“Kompilasi karya ini adalah sebuah interpretasi terhadap puisi-puisi Chairil Anwar. Semua video dibalut dengan musik hasil karya musisi muda ternama Baskara Putra yang juga dikenal dengan nama Hindia” ungkap Riri Riza.

Ketujuh perupa seni kontemporer adalah Ruth Marbun, Rachmat Hidayat Mustamin, Nani Puspasari, Angki Purpandono, Ria Papermoon, Iwan Effendi dan Tromarama. Sebagai pembaca puisi ada tujuh aktor ternama yaitu Lukman Sardi, Ine Febrianti, Jerome Kurnia, Reza Rahadian, Christine Hakim, Nicholas Saputra dan Happy Salma.

Direktur Perfilman, Musik dan Media (PMM) Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Ristek, Ahmad Mahendra mengemukakan, Kemendikbud Ristek akan terus mendukung program yang dapat memperkuat ekosistem kebudayaan, memperbanyak praktik dan kebermanfaatan yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat umum, khususnya generasi muda.

Cekak aos, Chairil Anwar adalah seorang penyair Indonesia modern dari Angkatan 45 yang karya-karyanya dikenal penuh keberanian, pemberontakan dan membawa perubahan dalam Bahasa Indonesia.

“Bahkan, Chairil Anwar berani melawan pendirian Keimin Bunka Shidoso (Pusat Kebudayaan) yang didirikan Jepang tahun 1943 sebagai gerakan propaganda Asia Timur Raya terutama di bidang seni rupa, film, musik dan sastra,” timpal Mira Lesmana lagi.
Film pendek produksi Miles Films ini mulai tayang di Indonesian TV yang dikelola Balai Media Kebudayaan dan didukung oleh Kemendikbud Ristek RI. (pik)

Film Kuldesak Ditayangkan Kembali

MEMPERINGATI 20 tahun film Kuldesak (yang  bermakna ‘Jalan Buntu’), sutradara film Mira Lesmana, Nan T. Achnas, Riri Riza, dan Rizal Mantovani menyambutnya dengan meluncurkan buku. Buku ini bertutur  tentang bagaimana sebuah karya tetap bisa hadir di masyarakat tatkala  situasi ekonomi, sosial dan politik  tengah tidak kondusif.

“Selain untuk menampung arsip-arsip serta dokumen-dokumen Kuldesak yang selama ini tersebar dan tercecer di berbagai tempat, buku ini juga bertujuan untuk menceritakan kembali bagaimana sebuah karya film dikerjakan di tengah kemelut ekonomi, sosial dan politik, dari 1995 sampai 1998. Dan tentunya juga buku ini adalah album kenangan bagi semua yang terlibat dalam proses film Kuldesak,” ujar Riri Riza saat ditemui di Kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Namun buku ini tidak akan diperjualbelikan. Mira Lesmana mengatakan buku yang penuh sejarah ini hanya akan diberikan secara sukarela. Sebab, harus melalui proses perizinan yang sangat panjang apabila memaksakan untu dikomersilkan.

Dalam acara memperingati 20 tahun film Kuldesak juga akan diisi dengan penanyangan kembali film tersebut. Menariknya, pemutaran film yang akan dilakukan di 9 kota pada 30 Desember mendatang akan menggunakan file hasil digitasi dari materi film print 35mm.

Kuldesak adalah film yang cukup bersejarah dalam industri perfilman tanah air. Film yang tayang pada 27 November 1998 tersebut disaksikan hingga 100 ribu penonton pada masa industri film tanah air tertidur. Bahkan, film ini ditayangkan hingga di kota Bandung, Jogjakarta dan Surabaya.

Film ansambel drama komedi hitam ini dibintangi banyak pemain seperti Ryan Hidayat (almarhum) , Oppie Andaresta, Tyo Pakusadewo, Wong Aksan, Harry Dagoe, Dik Doank, Bucek Dept, Bianca Adinegoro dll. Semua bintang tidak dibayar kala itu demi membangkitkan kembali perfilman Indonesia.

(Ipik Tanoyo)

Bekraf dan Miles Films Gelar Lomba Cipta Lagu Anak 2018

Triawan Muanf, Presiden Jokowi, dan Mira Lesmana

SAAT ini Miles Films tengah proses syuting untuk film anak-anak dengan judul Kulari Ke Pantai yang akan tayang 28 Juni 2018. Dalam rangka pembuatan film ini Mira Lesmana dari Miles Films dan Triawan Munaf, Kepala Bekraf berkesempatan bertemu Presiden Joko Widodo terkait pembuatan film anak ini pada 23 Maret 2018.

Dalam rilisnya Miles Films mengatakan Presiden Joko Widodo sangat prihatin dengan minimnya lagu dan film anak-anak Indonesia dan sudah minta agar kondisi ini bisa segera diatasi. Menurut Mira Lesmana beliau sangat antusias mendengar sedang diproduksinya film Kulari Ke Pantai.

Merespon hal tersebut Bekraf dan Miles Films kemudian menggelar lomba cipta lagu anak yang rencana akan dibuatkan album terinspirasi dari film Kulari ke Pantai yang akan tayang 28 Juni 2018.

Miles Films dan Bekraf mengatakan anak-anak Indonesia berhak juga atas lagu-lagu yang enak didengar melodinya, menarik dan bagus liriknya yang sesuai dengan usia mereka serta bagus aransemennya. Mereka berharap musisi dan kreator di Indonesia mau menciptakan lagu untuk anak-anak Indonesia. Lomba ini berhadiah Rp 100 juta dan akan ditutup 15 Mei 2018.

Sementara itu single perdana yang menjadi soundtrack dari film Kulari Ke Pantai ini sudah rilis dibawakan oleh RAN menghadirkan Maisha Kanna dan Lil’li Latisha berjudul “Selamat Pagi”. Soundtrack film Kulari Ke Pantaiakan rilis lewat Trinity Optima dan Miles Music. ***

‘MILLY&MAMET’, SEMPALAN ‘ADA APA DENGAN CINTA’

Tahun 2002 film yang menceritakan kisah asmara Rangga dan Cinta ini amat booming. Kelanjutannya pun AADC 2 berhasil menggaet kembali para penggemar film tersebut pada tahun 2016. Tidak tanggung-tanggung, 3,6 juta penonton berhasil diraih.

Selain kisah Cinta & Rangga, ada lagi  tokoh yang mencuri perhatian penonton dari film Mira Lesmana itu. Tidak lain adalah hubungan asmara yang dirasakan sahabat Cinta, yakni Milly (Sissy Priscillia). Mengejutkannya pada AADC 2, Milly menikah dengan Mamet (Dennis Adhiswara), pria yang jatuh hati dengan Cinta di AADC 1.

Nah, karena dua karakter ini amat terkenal selain Cinta & Rangga, sang Produser, Mira Lesmana tertarik untuk memperpanjang ‘nafas’ dua karakter tersebut. Berangkat dari inilah, Miles Films bekerjasama dengan Starvision menggarap film Milly dan Mamet. Ernest Prakasa pun dipercaya untuk menggarap film drama komedi itu. Alhasil, film ini merupakan ‘spin off’ alias sempalan kisah dari AADC.

“Sebenarnya dari dulu enggak pernah kepikiran (kolaborasi dengan Starvision) tapi saya dan Parwez sudah kenal puluhan tahun. Sering berkomunikasi dan ngobrol. Ini saya pikir perfilman Indonesia sedang semarak jadi akan lebih seru kita bekerja sama,” papar Mira Lesmana saat temu pers di Menara By Kibar, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (22/3).

Di saat yang sama Ernest pun mengaku tertarik terlibat dalam film ini karena antusias dapat bekerjasama dengan sosok Mira Lesmana. Belum lagi AADC yang merupakan film paling fenomenal membuat Ernest merasa tertantang untuk kembali menghadirkan kisah dari film tersebut agar bisa diterima dan booming di antara para penikmat film.

“Karena AADC adalah salah satu karya paling fenomenal di sejarah layar lebar Indonesia, saya berharap bisa memenuhi ekspektasi penonton dan memberikan kontribusi di dunia AADC,” timpal Ernest.

Produser Starvision sendiri, Chand Parwez mengaku film ini berhasil diwujudkan karena sosok Ernest. Menurutnya Ernest adalah sutradara berbakat yang cocok menggarap film ini. “Ini bisa terjadi karena Ernest,” katanya.

Lebih dalam, film ini akan menceritakan timeline setelah film AADC 2. Kini Milly dan Mamet sedang disibukkan mengurus bayi mereka. Mamet yang sempat bekerja sebagai seorang juru masak kini bekerja di pabrik milik papa Milly. Mamet harus menjadi tumpuan keluarga karena Milly memutuskan resign dari pekerjaannya untuk fokus merawat sang jabang bayi.***