Keajaban Kayu dan Daun Kelor

Gde Mahesa

Ketika saya masih kecil, setiap halaman rumah pasti ada tanaman pohon kelor yang fungsinya sebagai pagar halaman atau batas tanah. Dahannya getas, mudah patah, sedangkan daunya kecil sekali dibanding besarnya dunia, dan baunya langu.  

Pohon ini jika berada di depan rumah banyak manfaatnya, baik secara praktis (nutrisi, oksigen, penyejuk) maupun secara mitos (menangkal energi negatif/santet).

Mitos yang paling dipercaya masyarakat adalah bahwa daun kelor dapat digunakan untuk mengusir setan. Mereka mempercayai jika dengan menyebarkan daun kelor di sekitar rumah atau tempat-tempat yang dianggap angker, setan akan risih dan memilih pergi.

Sebagian masyarakat tradisional mempercayai jika daun kelor bersifat panas secara energi, sehingga ditakuti oleh makhluk halus.

Di samping itu daun kelor kerap digunakan dalam prosesi pemakaman untuk menghilangkan pengaruh buruk yang mungkin masih melekat pada jenazah.

Selain itu daun ini banyak digunakan oleh paranormal untuk pengobatan non medis, ada yang dibuat lulur (boreh) pemakaiannya dilaburkan ke badan yang sakit, juga untuk mandi, serta mengeluarkan susuk yg dipakai seseorang sehingga bisa keluar dan rontok dari tubuh.

Dengan melakukan ritual tertentu, daun kelor dianggap dapat digunakan untuk mengobati sakit jiwa, narkoba, guna-guna, serangan gaib, dan lainnya. Yang menarik lagi bahwa daun kelor dapat melemahkan atau menundukkan para jawara atau jagoan yang mempunyai kesaktian ilmu mistis.

Sementara paranormal dan spiritualis asyik dengan hal-hal tersebut, masyarakat asyik juga menciptakan trend variasi kuliner hidangan lezat dari daun kelor, seperti bobor atau bubur kelor, lodeh kelor cemilan, dsb.

Daun pohon kelor yang memiliki nama latin Moringa Oleifera ini dianggap sebagai pohon sakti asli India yang tumbuh cepat dan tahan kekeringan. Pohon ini telah digunakan selama berabad-abad karena khasiat nutrisi, obat, dan pemurniannya.

Secara historis, kelor awalnya bernama “Nebedaye”, yang berarti ” tak pernah mati”, sebagaimana diidentifikasi dan digunakan dalam beberapa bahasa Afrika. Tanaman ini ditemukan sekitar tahun 2000 SM di wilayah utara India.

Hal yang mengagumkan lagi ternyata secara medis daun kelor justru dianggap sebagai tumbuhan dengan seribu manfaat yang begitu menyehatkan.

Selain daun, kayu kelor terutama “galih”nya  memiliki nilai penting baik dalam budaya maupun dunia kesehatan. Kayu ini dianggap sakral dan memiliki banyak manfaat juga mempunyai daya tarik tersendiri. Kayu kelor sering digunakan sebagai jimat dalam berbagai bentuk. Kelebihan lainnya kayu ini memiliki aroma alami yang khas, dipercaya memiliki sifat menenangkan dan memberikan efek positif pada suasana hati.

Kayu galih kelor memiliki sifat antibakteri dan anti jamur, sehingga sering digunakan dalam pengobatan tradisional. Air rendaman kayu ini digunakan untuk membersihkan luka, meredakan infeksi, dan sebagai tonik untuk meningkatkan kesehatan.

Kepercayaan terhadap khasiat galih kelor telah melekat erat dalam tradisi budaya dan kepercayaan masyarakat sejak zaman dahulu. Energi alami yang terpancar dari kayu ini diyakini mampu menyeimbangkan emosi, mengurangi rasa cemas, dan membantu seseorang merasa lebih damai. Tidak heran jika galeh kelor sering digunakan dalam praktik meditasi atau ritual spiritual untuk membantu penyelarasan energi tubuh dengan lingkungan sekitar.

Dalam beberapa upacara adat, galih kelor digunakan sebagai simbol perlindungan dan keseimbangan hidup. Hal ini menunjukkan bahwa kayu ini tidak hanya memiliki nilai praktis, tetapi juga makna filosofis yang mendalam.

Namun, perlu diingat bahwa manfaat metafisika galih kelor lebih bersifat subjektif dan tidak dapat dibuktikan secara ilmiah.

Mitos pohon kelor tetap bertahan sebagai bagian dari kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi.

Kepercayaan ini tidak hanya menyangkut hal mistis, tetapi juga mencerminkan kedekatan antara manusia dan alam.

Sruputtt kopi pahitnya… bullll bullll klepussss