Cara Menjaga Kesehatan di Musim Hujan Menjelang Libur Natal 2024

JAYAKARTA NEWS – Musim hujan menjelang libur Natal kerap menjadi tantangan untuk menjaga kesehatan tubuh.

Dengan cuaca yang tidak menentu, kamu perlu melakukan langkah-langkah pencegahan agar tetap bugar dan menikmati liburan tanpa gangguan kesehatan.

Berikut tips yang bisa diterapkan, dikutip dari Ragam BUMN, Kamis (5/12/2024).

1. Jaga Tubuh Tetap Hangat

Udara dingin saat musim hujan bisa menyebabkan tubuh mudah lemah.

Gunakan pakaian hangat seperti jaket atau sweater saat bepergian, dan jangan lupa membawa payung atau jas hujan.

Selain itu, konsumsi minuman hangat seperti teh jahe atau susu hangat untuk membantu menjaga suhu tubuh tetap stabil.

2. Perbanyak Konsumsi Makanan Bergizi

Asupan makanan bergizi sangat penting untuk meningkatkan imunitas tubuh.

Pastikan menu harian mengandung vitamin C dan D, yang bisa didapatkan dari buah jeruk, stroberi, atau ikan salmon.

Tambahkan sayuran hijau seperti bayam dan brokoli untuk mendukung kesehatan tubuh secara menyeluruh.

3. Tingkatkan Kebersihan Diri

Musim hujan sering kali menjadi waktu berkembangnya berbagai bakteri dan virus.

Selalu cuci tangan dengan sabun sebelum makan atau menyentuh wajah.

Bawalah hand sanitizer sebagai alternatif jika tidak menemukan air bersih. Dengan menjaga kebersihan, kamu dapat mengurangi risiko terkena flu atau batuk.

4. Istirahat Cukup dan Olahraga Teratur

Pastikan kamu mendapatkan waktu tidur yang cukup, yaitu sekitar 7-8 jam per malam.

Selain itu, lakukan olahraga ringan di dalam ruangan, seperti yoga atau peregangan, untuk menjaga kebugaran.

Olahraga membantu melancarkan sirkulasi darah dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Dengan menjaga pola hidup sehat, tubuh akan tetap fit dan siap menikmati libur Natal 2024 dengan penuh semangat, meskipun musim hujan terus berlangsung. Tetap jaga kesehatan, ya!***/mel

Kakorlantas Perkirakan 110 Juta Orang Lakukan Perjalanan Selama Libur Nataru, Ini Daerah Tujuannya

JAYAKARTA NEWS – Libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2024/2025 diperkirakan akan dimanfaatkan oleh jutaan masyarakat untuk melakukan perjalanan. Mobil pribadi tetap menjadi pilihan utama untuk bepergian selama periode liburan tersebut.

Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Polri, Irjen Pol Aan Suhanan, mengungkapkan bahwa survei dari Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan memproyeksikan 110,6 juta orang akan melakukan perjalanan selama libur Nataru tahun ini. Angka tersebut meningkat sebesar 2,8 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

“Artinya, sekitar 39,30 persen masyarakat Indonesia akan melakukan perjalanan atau pergerakan selama libur Natal dan Tahun Baru,” kata Aan dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR RI, Rabu (4/11/2024).

Menurut survei tersebut, daerah asal perjalanan terbanyak meliputi Jawa Timur, Jawa Tengah, Jabodetabek, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Sementara itu, daerah tujuan utama adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, dan Sumatera Utara.

Aan juga menjelaskan bahwa mobil pribadi akan menjadi moda transportasi yang paling banyak digunakan oleh masyarakat, dengan angka sebesar 36,07 persen. Sepeda motor berada di urutan kedua dengan 17,71 persen, disusul oleh bus (15,04 persen), kereta api antarkota (12,85 persen), dan pesawat (8,85 persen).

“Pilihan moda transportasi tertinggi masyarakat akan menggunakan mobil pribadi sebesar 36,07 persen. Yang akan menggunakan sepeda motor 17,71 persen, bus sebesar 15,04 persen, kereta api antarkota 12,85 persen, dan pesawat 8,85 persen,” ujar Aan.

Dari hasil survei tersebut, mayoritas masyarakat yang melakukan perjalanan pada libur Nataru ini bertujuan untuk liburan, dengan persentase sebesar 45,67 persen. “Hasil presentasi survei alasan melakukan bepergian yang paling tinggi adalah melaksanakan liburan 45,67 persen. Artinya kita harus antisipasi tempat-tempat wisata, tujuan wisata terutama akses yang menuju ke tempat-tempat wisata,” jelas Aan.

Selain itu, sebanyak 32,36 persen masyarakat memanfaatkan liburan untuk pulang kampung, 19,96 persen untuk merayakan Natal dan Tahun Baru di kampung halaman, dan 2 persen karena alasan tugas atau pekerjaan.

“Artinya kita harus mempersiapkan jalur-jalur mudik baik di tol maupun di arteri nantinya,” tambah Aan.

Dengan prediksi peningkatan perjalanan ini, pihak terkait diharapkan dapat mengantisipasi lonjakan volume kendaraan dan memastikan kelancaran arus lalu lintas, terutama di jalur-jalur menuju destinasi wisata maupun jalur mudik.***/mel

Cek Pelabuhan Ketapang, Kakorlantas Siapkan Rekayasa Lalin Antisipasi Libur Nataru

JAYAKARTA NEWS – Menuju persiapan libur Natal dan tahun baru (Nataru) 2024/2025, Kakorlantas Polri Irjen Aan Suhaan meninjau pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur.

Dalam tinjauannya, Aan menyebut jalur itu menjadi krusial karena menjadi jalur pergerakan masyarakat untuk melakukan liburan akhir tahun.

“Ketapang adalah salah satu titik yang menjadi perhatian utama kami selama Nataru. Kami berupaya memastikan pengelolaan transportasi berjalan lancar,” kata Irjen Aan Suhanan, Senin (2/12/2024).

Untuk mengantisipasi kepada di pelabuhan Ketapang, Korlantas telah menyiapkan sejumlah rekayasa lalu lintas. Diantaranya menyiapkan 3 buffer zone, dan sistem satu arah atau one way.

“Kami telah mempersiapkan tiga buffer zone yaitu di Terminal Sritanjung, Grand Watu Dodol, dan Bulusan, untuk mengurangi antrean. Sistem satu arah juga akan diterapkan di depan Pelabuhan Ketapang,” jelas Aan.

Aan enggan kejadian 2 tahun lalu, yaitu saat kepadatan parah terjadi di pelabuhan Ketapang. Dermaga baru di Bulusan juga siap difungsikan untuk menampung parkir mobil. Sedangkan kapal juga ditambah untuk menampung penumpang ke Bali.

“Pelabuhan Jangkar di Situbondo juga disiapkan sebagai alternatif, khusus untuk kendaraan barang, guna mengurangi kepadatan di Ketapang-Gilimanuk,” imbuh Aan.***/mel

Polri Siapkan Tiga Skema Pengaturan Jalan saat Libur Nataru

JAYAKARTA NEWS – Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri menyiapkan tiga skema pengaturan jalan untuk pengamanan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023/2024 yaitu skema normal, skema padat dan skema sangat padat.

“Adapun Kami ingin menyampaikan secara khusus bahwa korlantas Polri dan jajaran beserta stekholder terkait terkait berkaitan dengan rekayasa lalu lintas kami tentunya dibagi skema ini ada tiga baik itu pada skema normal, skema padat maupun skema sangat padat,” ujar Kabagops Korlantas Polri Kombes Pol Eddy Djunaedi, Jumat (15/12/2023).

Lebih lanjut, saat skema normal Polri akan melakukan kegiatan-kegiatan pengaturan, penjagaan di strongpoint-strongpoint, titik-titik trouble spot, maupun blankspot.

“Pada skema normal itu sendiri kita masih dalam melakukan kegiatan-kegiatan pada pola-pola pengaturan, penjagaan di strongpoint strongpoint, titik-titik trouble trouble spot maupun blankspot ini harus kita lakukan pengelolaan lebih awal.” Ujar Kombes Pol Eddy

Selanjutnya pada skema kedua yaitu skema padat, yang akan diterapkan jika arus lalu lintas mulai meningkat. Pada skema ini, Korlantas Polri akan melakukan pengalihan arus, mulai dari pembatasan kendaraan sumbu 3 dan lain sebagainya.

“untuk skema padat kita juga akan melakukan Bagaimana pengalihan arus mulai ada pembatasan kendaraan sumbu 3 dan lain sebagainya.” Kata Kabagops Korlantas Polri

Sementara itu, pada skema sangat padat, Kombes Pol Eddy menjelaskan bahwa akan dilakukan rekayasa buka-tutup, baik pada jalur tol maupun arah keluar dari arteri, termasuk implementasi sistem one way untuk mengatasi lonjakan volume kendaraan.

“Adapun skema sangat padat kita untuk melakukan rekayasa buka tutup baik buka tutup yang ada jalur tol maupun arah yang keluar arteri dan termasuk juga bagaimana kita melakukan nanti sampai dengan one way,” ujar Eddy.

Selain menyiapkan tiga skema pengaturan jalan, Korlantas Polri juga akan menerjunkan sebanyak 129.923 personel, yang terdiri dari Polri, TNI, dan stakeholder terkait. Selain itu, Korlantas Polri juga akan mendirikan 1.748 pos pengamanan, 740 pos pelayanan, dan 212 pos terpadu di seluruh Indonesia.***/mel

15.000 Tiket KA Periode Nataru Keberangkatan Awal Daop 5 Purwokerto Ludes Terjual

PURWOKERTO, JAYAKARTA NEWS— PT Kereta Api Indonesia (Persero) telah menetapkan masa Angkutan Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 akan berlangsung pada 21 Desember 2023 sampai dengan 7 Januari 2024. Sementara PT KAI Daerah Operasional (Daop) 5 Purwokerto sendiri mencatat sampai 19 November 2023 sudah 15.000 tiket KA reguler Angkutan Natal 2023 dan Tahun Baru 2024 telah terjual atau sebesar 10% dari total tempat duduk yang tersedia.

Menurut Manager Humas PT KAI Daop 5 Purwokerto, Feni Novida Saragih, pada masa angkutan Natal dan Tahun Baru 2023/2024 ini, Daop 5 Purwokerto menyiapkan total 270 perjalanan KA reguler dengan 155.088 tempat duduk, yang jika dirata-rata maka terdapat 15 perjalanan KA dan 8.616 tempat duduk yang disediakan setiap harinya. Adapun untuk pengoperasian kereta api tambahan pada masa Angkutan Nataru kali ini akan diinformasikan lebih lanjut.

Tarif tiket kereta api komersial di masa Natal dan Tahun Baru tetap mengacu pada ketentuan Tarif Batas Bawah (TBB) – Tarif Batas Atas (TBA), sedangkan tiket untuk KA Public Service Obligation (PSO) tarifnya tetap sesuai dengan yang telah ditentukan oleh pemerintah.

” Kami mengingatkan kepada pelanggan agar teliti dalam menginput tanggal, memilih rute, dan memasukkan data diri pada saat melakukan pemesanan. Serta menginbau agar jangan lupa rencanakan perjalanan sebaik mungkin termasuk estimasi waktu perjalanan menuju ke stasiun,” ujar Fani.

Penjualan tiket KA pada masa libur Nataru 2023/2024 sudah bisa dipesan mulai tanggal 6 November 2023. Tiket dapat dibeli melalui aplikasi Access by KAI, website kai.id, serta seluruh channel resmi pemesanan tiket KA lainnya dan sudah dibuka H-45 sebelum jadwal keberangkatan.

Informasi terkait perjalanan KA, masyarakat dapat menghubungi Contact Center KAI melalui telepon di 121, WhatsApp 08111-2111-121, email cs@kai.id, atau media sosial KAI121. (nan)

Strategi Pembatasan Selama Nataru Dilakukan Secara Situasional Demi Cegah Covid-19

JAYAKARTA NEWS— Pemerintah melakukan pengendalian berlapis untuk mengantisipasi potensi kenaikan kasus jelang periode Natal dan Tahun Baru. Meningkatnya mobilitas masyarakat dapat memicu kenaikan kasus dan dinamika dari varian Covid-19. Terlebih lagi, sejumlah negara di dunia melaporkan kasus varian baru atau varian Omicron. 

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof. Wiku Adisasmito menjabarkan kebijakan pemerintah sebagai strategi pengendalian berlapis. Hal ini penting dipahami masyarakat luas agar dapat dipatuhi dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab yang tinggi.

“Menjelang perayaan natal dan momentum tahun baru, pemerintah terus memantau kondisi pengendalian COVID-19 secara nasional maupun internasional. Untuk dapat mempertahankan kondisi kasus nasional yang cenderung melandai, dan menekan tren kenaikan kasus yang mulai terjadi pada beberapa kabupaten atau kota,” Wiku dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan Covid-19 di Graha BNPB, Selasa (30/11/2021) yang juga disiarkan kanal BNPB Indonesia.

Beberapa kebijakan yang telah diambil pemerintah diantaranya, Pertama, pembatasan mobilitas domestik yang secara situasional. Yaitu sistem ganjil genap di wilayah aglomerasi, ibukota provinsi, lokasi wisata dan wilayah lainnya yang disesuaikan dengan peningkatan mobilitas setempat. 

Melakukan pembatasan mobilitas domestik dengan skrining kesehatan ketat, baik untuk perjalanan jarak jauh, rutin maupun logistik. Dibentuk juga posko checkpoint untuk random testing di daerah masing-masing. Serta memantau mobilitas pada jalur darat yang seringkali lolos dari pengawasan.

Kedua, penyesuaian aktivitas sosial masyarakat dengan mengatur operasional dan pengetatan protokol kesehatan pada jenis aktivitas ibadah. Termasuk himbauan perayaan atau silaturahmi secara virtual saja. Pengaturan aktivitas di tempat wisata dan di fasilitas publik serta peniadaan cuti Nataru, mudik dan libur sekolah.

Ketiga, pemantauan aktivitas sosial masyarakat dengan menetapkan kewajiban pembentukan Satgas Prokes 3M di fasilitas publik. Hal ini sebagai syarat perizinan operasional di masa Nataru dan mengoptimalisasi kembali Satgas Covid-19 ditiap wilayah administratif daerah dari tingkat provinsi hingga desa atau kelurahan. 

“Pemerintah Daerah perlu segera membentuk bagi daerah yang belum memilikinya pastikan melapor pemantauannya ke sistem yang terpusat di Satgas Covid-19 nasional,” jelas Wiku.

Selain dinamika dalam negeri, pemerintah terus memantau dinamika global. Mengingat keterkaitan antara negara yang tidak dapat dipisahkan berpeluang importasi kasus dan persebaran varian baru di suatu negara dapat menembus lintas batas negara. “Untuk itu pemerintah Indonesia juga melakukan antisipasi kenaikan kasus akibat importasi kasus dan varian,” lanjut Wiku.

Pertama, memperpanjang durasi karantina menjadi 14 hari bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang selama 14 Hari terakhir melakukan transit atau perjalanan dari negara yang diketahui mengalami transmisi kasus dengan varian Omicron. Negara-negara itu di Afrika Selatan, Botswana dan Hongkong. Serta Angola, Zambia, Zimbabwe, Malawi, Mozambik, Namibia, Eswatini dan Lesotho. Sedangkan karantina 7 hari untuk WNI atau WNA dalam 14 hari terakhir melakukan transit atau perjalanan dari negara yang tidak disebutkan sebelumnya.

Kedua, penundaan sementara kedatangan WNA kecuali bagi yang berasal dari negara dengan skema perjanjian bilateral dengan Indonesia, pemegang visa diplomatik dan dinas yang sejajar menteri ke atas beserta rombongan dalam kunjungan kenegaraan, pemegang KITAS atau KITAP serta turis asing dengan riwayat perjalanan dari negara yang tidak beresiko memiliki kasus varian Omicron. Serta memenuhi syarat berwisata di Indonesia lainnya.

“Sebagai tambahan, pelaku perjalanan yang masuk atas dasar kesepakatan diplomatik akan dibebaskan dari kewajiban karantina, namun tetap dipantau dengan protokol kesehatan yang ketat yaitu implementasi sistem bubble,” lanjutnya.

Dan perlu diketahui bahwa upaya skrining pelaku perjalanan internasional lainnya tetap dilakukan. Seperti skrining berkas dan kondisi kesehatan umum, serta tes ulang tetap dilakukan dimana entry test di hari yang sama saat kedatangan dan exit tes pada hari ke-6 untuk mereka yang wajib karantina 7 hari dan pada hari ke-13 untuk mereka yang wajib karantina 14 hari.

Selain itu, pemerintah mewajibkan spesimen dari pelaku perjalanan asal negara dengan transmisi komunitas Omicron untuk di-sequencing dan dihimbau juga untuk spesimen dari negara lainnya untuk diintensifkan sequencing-nya.

Dan perlu dipahami ada tiga aspek yang harus dikendalikan untuk mencegah lonjakan kasus. Yaitu mencegah importasi kasus khususnya kasus dengan varian of concern, mengendalikan mobilitas yang aman dan menegakkan protokol kesehatan. 

“Untuk itu mari kita berjuang bersama baik Unsur pemerintah masyarakat, akademisi, swasta dan rekan-rekan media untuk tetap mengendalikan kasus Covid-19 di Indonesia dengan mematuhi setiap butir peraturan yang ada,” tegas Wiku.***/ebn

Cegah Lonjakan Kasus, Masyarakat Diimbau Kurangi Mobilitas Jelang dan Saat Libur Nataru

JAYAKARTA NEWS— Pemerintah mengimbau masyarakat untuk mengurangi mobilitas terutama menjelang dan saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Hal ini dilakukan demi mencegah terjadinya lonjakan kasus atau ancaman gelombang ketiga COVID-19

Juru Bicara Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmidzi, M.Epid mengatakan bahwa Saat ini, pemerintah terus berupaya untuk mempertahankan kasus positif Covid-19 serendah mungkin dengan penurunan kasus yang konsisten.

“Upaya ini akan efektif jika masyarakat patuh, taat dan disiplin terapkan protokol kesehatan termasuk mengurangi mobilitas dan berpartisipasi dalam vaksinasi Covid-19.” tegas dr Nadia dalam Webinar “Libur Nataru dan Varian Baru: Strategi Cegah Gelombang Ketiga Pandemi Covid-19” di Jakarta. Demikian dikutip dari laman sehatnegeriku.kemenkes.go.id

dr. Nadia mengungkapkan, upaya-upaya penanggulangan pandemi di Indonesia dikelompokkan ke dalam lima pilar utama. Pertama deteksi, dilakukan melalui penguatan testing, tracing, karantina/isolasi. Deteksi juga dilakukan melalui surveilans untuk Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dan surveilans genomic untuk mengawasi varian baru serta pengawasan di pintu masuk negara.

Kedua, manajemen klinis dilakukan tatalaksana kasus sesuai perkembangan ilmu pengetahuan termasuk potensi obat baru dan persiapan kapasitas rumah sakit dan fasyankes lain. Ketiga, perubahan perilaku dilakukan melalui penguatan protokol kesehatan berbasis teknologi informasi PeduliLindungi.

Keempat, peningkatan cakupan vaksinasi dan kelima penguatan sistem kesehatan untuk menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan esensial dan memenuhi standar protokol kesehatan

“Situasi (pandemi) yang sudah membaik ini harus kita pertahankan. Laju kasus harus terus kita tekan. Memastikan mobilitas tidak meningkat secara tajam agar laju penularan juga tidak meningkat. Tes dan tracing ditingkatkan dan diperkuat agar secara cepat kita temukan kasus positif. Semakin disiplin terapkan protokol kesehatan dan terus meningkatkan cakupan vaksinasi. Kita harus pastikan setelah libur nataru tidak terjadi lonjakan kasus,” ujar dr. Nadia

Hadir juga sebagai narasumber Mantan Direktur WHO Asia Tenggara yang juga Pengamat Kesehatan Masyarakat Prof. Tjandra Yoga Aditama dan Dubes RI untuk Singapura Suryopratomo.

Prof. Tjandra Yoga Aditama menekankan pentingnya bagi Indonesia untuk terus waspada mengingat umur Covid-19 yang baru dua tahun sehingga masih banyak hal yang tak terduga dari virus ini. Menurutnya, penyebab kenaikan kasus positif di banyak negara saat ini harus menjadi pelajaran bagi Indonesia.

“Ada beberapa penyebab kenaikan kasus di beberapa negara antara lain karena sekelompok masyarakat yang belum divaksinasi, efikasi vaksin menurun, dan pelonggaran mobilitas yang berkorelasi dengan naik turunnya kasus. Kita bersyukur kasus positif kita menurun sangat tajam dan bertahan lama. Tetapi kita juga harus tetap belajar dari negara-negara lain. Kita mesti tetap waspada dari sekarang,” tukasnya.

Vaksinasi memang menjadi salah satu pilar penting untuk mencegah terjadinya gelombang baru. Dubes RI untuk Singapura Suryopratomo mengungkapkan terjadinya lonjakan kasus di Singapura Sejak pertengahan Juli 2021 lalu selain kemunculan varian delta, pelanggaran protokol kesehatan, juga disebabkan masih banyaknya orang yang tidak mau divaksinasi. Terdapat sekitar 60 ribu sampai 100 ribu lansia tidak mau divaksinasi di Singapura. Padahal mereka termasuk dalam kelompok yang paling rentan.

“Ketika Delta masuk, mereka (lansia) yang paling rentan. Kematian paling banyak lansia dan punya komorbid. Pemerintah Singapura mulai memberlakukan kebijakan baru yaitu orang (warganya) dipaksa divaksinasi. Orang yang tidak divaksinasi, kalau sakit harus bayar sendiri,” tukasnya.***/ebn

Pengelola Lokasi Wisata Diminta Membentuk Satgas Untuk Antisipasi Nataru

JAYAKARTA NEWS— Periode libur panjang biasanya dimanfaatkan masyarakat mengunjungi lokasi-lokasi wisata dan fasilitas publik. Umumnya, saat periode tersebut, jumlah pengunjung meningkat cukup signifikan. Adanya hal ini sangat perlu diantisipasi ketika periode Natal dan Tahun Baru 2022 mendatang.

Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito mengatakan pihaknya mengharapkan seluruh penyelenggara fasilitas publik membentuk Satgas Protokol Kesehatan. Satgas yang dibentuk ini akan bertugas mengawasi aktivitas pengunjung selama masa liburan dan menegakkan protokol kesehatan pengunjung. Juga, aplikasi PeduliLindungi sebagai platform skrining pengunjung akan menjadi prasyarat masuk.

“Apabila ada pengunjung yang menolak menggunakan aplikasi tersebut, petugas wajib menolak pengunjung masuk ke dalam areanya. Pengunjung juga diharapkan untuk proaktif mengawasi penggunaan aplikasi PeduliLindungi di area yang dikunjunginya,” Wiku dalam Keterangan Pers Perkembangan Penanganan COVID-19 di Graha BNPB, Kamis (11/11/2021) yang juga disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden. Demikian dikutip dari laman covid19.go.id

Di lain pihak, masyarakat dituntut berperan aktif mematuhi peraturan yang ditetapkan. Sebagai contoh, setiap langkah kecil sesederhana memakai masker saja akan sangat signifikan hasilnya.

“Saya mengajak masing-masing individu untuk menginspirasi orang-orang sekitarnya dalam menegakkan protokol kesehatan. Sehingga mempercepat terciptanya kepatuhan kolektif yang kita cita-citakan selama ini,” imbau Wiku.

Masyarakat juga diajak menghindari sikap antipati terhadap kebijakan yang dikeluarkan pemerintah. Karena kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sebagai bentuk perlindungan bagi masyarakat.

“Meskipun liburan panjang akan menjadi tantangan besar bagi Indonesia, Satgas tetap optimis bangsa ini dapat melaluinya apabila kita semua bersikap bijaksana dan disiplin dalam menjalankan peran kita masing-masing,” pungkas Wiku.***ebn