Talkshow Kesehatan Mental di Stikosa AWS, Prevalensi Gangguan Mental Emosional di Surabaya 18,8%

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS – Masalah kesehatan mental menjadi tema utama dalam acara talk show yang diadakan mahasiswa Stikosa AWS di ruang Multimedia kampus Stikosa AWS, Kamis (16/1/2025).

Bertema Mental Health – Together We Can Because I Can, acara ini menghadirkan narasumber Indira Restra Dewanty, M.Psi, Psikologi Klinis dipandu Ratna Puspita Sari, M.Med.Kom, dosen pengampu mata kuliah MICE.

Menurut ketua panitia, Tiko Pranata, acara ini merupakan tugas akhir dari mata kuliah MICE (meetings, incentives, conventions and exhibitions) di Semester 5, yang mewajibkan mahasiswa secara berkelompok mengadakan event untuk umum.

Kelompok yang dikordinir Tiko bekerja sama mengerjakan event, mulai tahap perencanaan, mencari sponsor sampai eksekusi acara.

Dalam kata sambutannya, mewakili Ketua Stikosa AWS, Kaprodi Ilmu Komunikasi, Riesta Ayu Octarina, M.I.Kom mengatakan, acara bertema kesehatan mental ini sangat sejalan dengan nilai-nilai Stikosa AWS sebagai institusi pendidikan yang mendukung pengembangan holistik mahasiswa, terutama aspek intelektual maupun emosional.

Riesta berharap kegiatan ini merupakan langkah awal untuk meningkatkan kepedulian tentang kesehatan mental.

Hal senada dikatakan Ratna Puspita Sari dalam pengantar talk show. Wakil Ketua Stikosa AWS ini mengatakan kesehatan mental menjadi isu penting di tengah tantangan kehidupan modern.

Kurangnya pemahaman mengenai kesehatan mental seringkali menyebabkan masalah di lingkungan personal maupun profesional.

Banyak masyarakat yang segan mendatangi psikiater maupun psikolog karena takut dianggap gila. Padahal anggapan itu tidak benar.

Hal menarik diungkapkan narasumber Indira Restra Dewanty, founder dan psikolog dari Eudaimonia Psychology Surabaya. Ia menyitir data dari Dinas Kesehatan Jawa Timur bahwa kota Surabaya memiliki prevalensi gangguan mental emosional (depresi, kecemasan, dsb) sebesar 18,8 %. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat di Surabaya adalah 0,2%.

Indira menyebut beberapa contoh seseorang yang terkena gangguan mental health. Antara lain, depresi, kecemasan, gangguan bipolar, kecanduan dan penyalahgunaan alkohol dan narkoba serta gangguan makan seperti anoreksia nervosa (ketakutan berlebihan terhadap kelebihan berat badan) dan bulimia nervosa (gangguan makan yang membuat penderitanya cenderung ingin memuntahkan kembali makanan yang dikonsumsinya).

“Oleh karena itu jangan segan-segan berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater” ujarnya.

Menurut Indira, upaya untuk meningkat kesehatan mental antara lain dengan melakukan terapi psikologis, meditasi & relaksasi, olahraga & menjaga kesehatan fisik, mengatur pola makan dan tidur serta menghindari kebiasaan buruk yang menimbulkan stress.

Acara talkshow yang terbuka untuk umum ini banyak diikuti mahasiswa dan ibu-ibu. Apalagi setiap peserta talkshow bisa menikmati cek kesehatan gratis dari Mayapada Hospital dan informasi detil mengenai penyakit TBC dari laportbc.id sebagai salah satu sponsor acara.***poedji

Cegah Bunuh Diri, Kemenkes Ajak Remaja Bicara Soal Kesehatan Mental

JAYAKARTA NEWS – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui Direktorat Kesehatan Jiwa menggelar seminar bagi remaja untuk memperingati Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia 2024 di Jakarta pada Selasa (17/9). Seminar ini berlangsung secara hibrida dan dihadiri oleh perwakilan SMA/SMK serta para remaja perwakilan dari forum pemuda.

Direktur Jenderal Tenaga Kesehatan Maria Endang Sumiwi mengapresiasi Direktorat Kesehatan Jiwa dan UNICEF atas penyelenggaraan seminar pencegahan bunuh diri pada remaja ini. Ia berharap, kegiatan positif ini dapat menjadi sarana edukasi, berbagi pengalaman, dan diskusi terbuka tentang kesehatan mental di kalangan remaja.

Selama ini, kesehatan jiwa sering dianggap sebagai isu sensitif yang jarang dibahas secara terbuka. Akibatnya, gangguan jiwa sering kali disikapi dengan pandangan negatif. Padahal, isu ini sangat penting dan serius karena berdampak pada berbagai aspek kehidupan manusia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) pun telah menganggap bunuh diri sebagai isu yang sangat serius.

Berdasarkan data WHO, lebih dari 700.000 orang meninggal akibat bunuh diri setiap tahun. Di Indonesia, data dari POLRI menunjukkan bahwa angka kematian akibat bunuh diri pada 2023 meningkat menjadi 1.350 kasus, dari 826 kasus pada tahun sebelumnya.

“Jika tidak ada upaya pencegahan bunuh diri, angka tersebut dapat terus meningkat setiap tahunnya,” ucapnya. 

Dirjen Endang menjelaskan, alasan seseorang melakukan bunuh diri sangat kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti faktor biologis, genetik, psikologis, budaya, dan lingkungan. Untuk itu, ia menekankan bahwa upaya terkait kesehatan mental, khususnya untuk mencegah kejadian bunuh diri, harus menjadi perhatian semua pihak.

“Melalui tindakan kecil seperti kebaikan sederhana, percakapan terbuka dan mendengarkan tanpa menghakimi, dapat berpengaruh secara signifikan,” ucap Dirjen Endang. 

Untuk mencegah bunuh diri, Direktur Kesehatan Jiwa Imran Pambudi menekankan pentingnya penerimaan terhadap diri sendiri, fokus pada kemampuan diri, dan tanpa perlu membandingkan dengan orang lain.

“It’s okay not to be okay. Jadi, kita harus memiliki kesadaran bahwa kita tidak apa-apa enggak oke, supaya kita enggak stres. Manusia ada kelebihan dan kekurangannya, kita harus bisa menerima hal ini,” katanya. 

Ia juga menekankan pentingnya menjadi penerang atau sumber cahaya bagi orang lain, terutama bagi mereka yang sedang mengalami masa sulit. Seperti pada lagu “Flashlight” yang dinyanyikan oleh Jessie J, Imran berharap setiap orang bisa menjadi flashlight bagi diri sendiri dan orang lain.

“Inilah yang kita harapkan, kita bisa bersama-sama membuka diri dan bisa membantu kalau temannya ada yang lagi down, menjadi flashlight bagi dirinya sendiri, bagi teman maupun keluarga,” ucapnya. 

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia diperingati setiap tanggal 10 September. Tema peringatan tahun ini, yang akan digunakan selama tiga tahun ke depan, adalah “Changing the Narrative on Suicide” atau “Mengubah Narasi Bunuh Diri”, dengan ajakan untuk “Start the Conversation” atau “Memulai Percakapan”.

Tema ini bertujuan meningkatkan kesadaran semua pihak tentang pentingnya mengurangi stigma dan mendorong percakapan terbuka guna mencegah bunuh diri.***/mel

Arumi Bachsin: Penting Jaga Kesehatan Mental dalam Mendidik Anak

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Ketua TP PKK Provinsi Jawa Timur Arumi Bachsin Elestianto Dardak menyebut sebagai orang tua penting untuk menjaga kesehatan mental dalam mendidik anak-anak generasi penerus bangsa.

“Menjadi orang tua tuntaslah dulu ke diri sendiri, supaya bisa kita maksimal kepada anak-anak,” ungkap nya usai menjadi narasumber Talkshow Hari Kesehatan Jiwa Sedunia dengan tema ‘Kesehatan Jiwa Untuk Kita Semua’ di RSJ Menur Surabaya, Minggu (29/10).

Bukan tanpa alasan, pasalnya menurut Arumi banyak sekarang terjadi kekerasan terhadap anak-anak yang dilakukan oleh orang tuanya, ini dikarenakan kesehatan mentalnya mengalami gangguan atau tidak stabil.

“Banyak orang tua yang tidak terdeteksi memiliki kesehatan mental yang kurang atau ada yang terganggu, itu akhirnya menjadi pelampiasan ke anak-anak,” katanya.

Oleh karenanya, Ia berharap adanya kesadaran yang tinggi yang harus dimiliki oleh semua orang tua dalam menjaga kesehatan mentalnya, dengan membuka diri terhadap kesehatan mental, sehingga mampu secara mandiri untuk menangani kesehatan mentalnya.

“Kesehatan mental yang stabil, yang baik dan yang luar biasa itu akan menunjang produktivitas generasi-generasi muda yang akan datang,” ungkapnya.

Kemudian, Arumi menyampaikan ada beberapa kasus terjadinya pada anak-anak terkait dengan terganggunya kesehatan mental. Oleh sebab itu, ia berharap kepedulian terhadap diri sendiri dan lingkungan akan menjadi kunci dalam menjaga kesehatan mental.

“Tidak ada manusia hidup tanpa ujian, dan setiap orang punya caranya masing-masing untuk menghadapi, tidak ada salahnya kita bisa hadir dan membantu, kalau memang butuh bantuan,” tandasnya.(poedji)

Kebiasaan Phubbing Membuat Telinga Mendadak ‘Pekak’

JAYAKARTA NEWS – Terlihat sepasang suami isteri asyik bermain handphone di kursi panjang di warung pecel lele, kala itu di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, walaupun berdua duduk berdekatan tapi tidak ada sepatah kata pun terdengar dari mereka berdua. “Hmmm..langsung terlintas teringat dalam benak ini, dengan istilah phubbing atau phone-snubbing.

Mungkin asing bagi kita istilah phubbing ini namun sebenarnya kerap dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.

Phubbing adalah kata yang menggambarkan perilaku seseorang yang mengabaikan kehadiran orang lain saat berbicara atau berkomunikasi langsung karena terlalu asyik atau fokus dengan ponselnya. Kebiasaan ini sering dianggap tidak sopan.

Tapi begitulah hidup di era digital saat ini. Asyikk sendiri tak perduli orang lain. Walaupun berdekatan secara fisik namun ‘terasa jauh’ karena tidak berkomunikasi.

Nah, kembali ke cerita sepasang suami isteri yang asyik dengan ponselnya masing-masing di warung pecel lele tadi.

Satu persatu silih berganti pembeli di warung pecel lele itu datang dan pergi. Ada yang makan di tempat ada yang membawa pulang makanan pesanannya.

Tetapi pasangan suami isteri ini tetap saja tidak terusik, bergeming. Diam tanpa suara. Mata hanya tertuju pada ponselnya. Bahkan mungkin, jika ada yang pingsan pun di sekitarnya, mereka tidak peduli.

Entah mengapa sepasang suami istri ini menjadi objek amatan saya? Mungkin karena jarak duduk di antara kami yang tidak begitu berjauhan dan sama-sama sedang antri menunggu pesanan.

Tidak lama kemudian, oleh si ibu pemilik pecel lele pesanan sepasang suami isteri kembali diulang agar tidak ada kesalahan, karena memang pembeli pecal lelenya itu lumayan ramai.

Lalu si Ibu berkata, “Mas, Mbak..Ayam dan lelenya digoreng kering?”

Walaupun jaraknya dekat, sekitar setengah meter sepasang suami istri tersebut tidak mendengar atau mengabaikan kata-kata dari ibu itu karena fokus ke handphone masing-masing. Kemudian diulang, dan ketiga kali baru didengar, “Iya Bu, lele dan ayam gorengnya digoreng kering,” ujar si isteri sambil melanjutkan perhatiannya ke handphone.

Si Ibu senyum melihat tingkah laku pasangan ini. Beberapa menit kemudian pesanan siap, langsung dibungkus. Dan si ibu berkata kembali, “Mas, pesanannya sudah siap ini..!!” itu pun tidak didengar. Kembali diulangi si ibu, “Mbak, pesanannya sudah siap ini,” tetap tidak didengar juga.

Akhirnya karena mereka berdua lebih dekat dengan saya, saya pun ikut memanggil. “Bangggg dengan nada tinggi, itu dipanggil si ibu, pesannya sudah siap,”

Langsung ia menjawab, “iya..iya,”

Setelah dibayar mereka pergi. Lalu si Ibu ngomong ke saya, “Kenapa bisa mendadak “pekak” (tuli) telinganya ya, sepasang suami isteri itu, padahal saat datang dan memesan tadi, tidak?” Kata si ibu sambil tertawa.

“Begitulah kehidupan di era digital sekarang Bu. Bisa mendadak pekak padahal tidak. Itu karena perilaku phubbing, asyik dengan handphone masing-masing sehingga orang yang sedang berbicara di sekitarnya diabaikan padahal jaraknya cukup dekat jadi serasa seakan jauh,” ucap saya.

Seperti itulah fenomena kehidupan saat ini, di era digital, perilaku phubbing ini mengganggu kemampuan seseorang untuk benar-benar hadir dan terlibat dengan orang-orang di sekitarnya. Mungkin kita hadir secara fisik di hadapan orang lain namun dengan perhatian yang sepenuhnya justru teralihkan. (Monang Sitohang)

Menjaga Kesehatan Mental Para Penerus Bangsa

JAYAKARTA NEWS – Gangguan kesehatan mental atau depresi merupakan masalah kejiwaan yang rentan terjadi pada remaja. Data di Indonesia menunjukkan sebanyak 6,1 % penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental.

Dr. Khamelia Malik dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dalam temu media luring Selasa (12/10) di Jakarta menyampaikan bahwa terdapat paradoks pada kesehatan remaja. Di sisi lain secara fisik masa remaja merupakan periode paling sehat sepanjang hidup dari segi kekuatan, kecepatan, kemampuan penalaran, lebih tahan terhadap kondisi dingin, panas, kelaparan, dehidrasi dan berbagai jenis cedera.

“Justru angka kesakitan dan kematian meningkat hingga 200% di masa remaja akhir ini” Kata Dr. Khamelia.

Dimana salah satunya disebabkan oleh ketidakmampuan dalam mengendalikan perilaku dan emosi yang mengakibatkan kesakitan dan kematian, lanjutnya.

Menurutnya yang membuat remaja sulit dipahami adalah ada area otak yang mengalami maturasi lebih cepat dibanding area lainnya. Otak remaja berkembang dalam keadaan konstan yang berarti remaja lebih cenderung melakukan perilaku berisiko dan implusif, kurang mempertimbangkan konsekuensi dibanding orang dewasa.

Inilah sebabnya penting bagi orang tua untuk membimbing dan menjadi panutan para remaja dalam membangun kecerdasan emosi dan mengambil pilihan yang lebih sehat.

Orang tua ataupun guru perlu membantu remaja untuk mengevaluasi risiko dan mengantisipasi konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil remaja. Selain itu juga mengembangkan strategi untuk mengalihkan perhatian dan energi ke aktivitas yang lebih sehat agar kesehatan mental juga terjaga.

Senada, anggota perhimpunan psikolog Indonesia Nimaz Dewantary mengatakan bahwa edukasi diri sendiri mengenai apa yang tengah dialami anggota keluarga itu akan sangat membantu kestabilan emosi.

Upaya lain yang dapat dilakukan dengan membantu mendapatkan bantuan professional ke psikolog, memberi dukungan dalam menjalani terapi, menghilangkan stigma dan meluangkan waktu untuk diri sendiri akan sangat membantu dalam menangani masalah kesehatan mental.***/mel