TD Bank didenda $3 miliar, Kasus Pencucian Uang di AS

JAYAKARTA NEWS – Jaksa Agung AS, Merrick Garland, mengatakan TD Bank, bank asal Kanada ini “menciptakan lingkungan yang memungkinkan kejahatan keuangan berkembang.”

Daolam kasus pencucian uang, TD Bank setuju untuk membayar denda untuk menyelesaikan tuduhan bahwa mereka gagal mencegah pencucian uang dan pengedar narkoba mengalirkan ratusan juta dolar dana ilegal melalui sistem keuangan AS.

Bank ini mengakui bersalah melanggar Undang-Undang Kerahasiaan Bank di pengadilan federal New Jersey dan juga menyelesaikan sejumlah investigasi sipil dengan FinCEN, Federal Reserve, dan Office of the Comptroller of the Currency. Total denda yang harus dibayar lebih dari $3 miliar, termasuk $1,3 miliar kepada FinCEN yang dianggap bersejarah.

Menurut jaksa, TD Bank gagal menjalankan kontrol anti pencucian uang selama hampir satu dekade (2014-2023), memungkinkan kelompok kriminal untuk melakukan transaksi, termasuk kelompok pengedar narkoba asal China yang berhasil mencuci lebih dari $470 juta dari penjualan fentanyl dan narkoba lainnya.

TD Bank juga menjadi bank terbesar dalam sejarah AS yang mengakui kegagalan program Undang-Undang Kerahasiaan Bank dan yang pertama kali mengakui bersekongkol melakukan pencucian uang.

Selain denda, TD Bank akan menjalani pemantauan selama tiga tahun dan masa percobaan lima tahun, serta pembatasan pertumbuhan bisnis ritel mereka di AS.

Kasus ini dianggap sebagai peringatan bagi bank lain untuk lebih ketat dalam mencegah pencucian uang. (sm/icij.org)

Hasil Riset Beda Picu Debat Aman Tidaknya Penggunaan Pestisida Terlarang

KEAMANAN penggunaan pestisida neonicotinoids menjadi perdebatan sengit  menyusul perbedaan signifikan hasil riset yang meneliti pengaruh penggunaan sejumlah pestisida  terhadap  lebah.

Kegaduhan muncul setelah dipicu perdaan dua  studi penting,  yang mempelajari bagaimana lebah terpengaruh oleh pestisida. Hasil riset yang menunjukkan perbedaan tersebut yang diumumkan pada Kamis (29/6/2017) itu,  mengundang perdebatan  mengenai aman tidaknya penggunaan  bahan kimia neonicotinoids itu.

Dua studi tersebut masing-masing dilaksanakan di kawasan Eropa dan sebuah lainnya di Kanada. Hasilnya menunjukkan,  ada beberapa dampak negatif terhadap lebah setelah mereka terpapar neonicotinoids di alam liar.Namun demikian, ada dampak positifnya, yakni kondisi itu tergantung pada konteks lingkungannya.

Para peneliti yang melakukan riset  di Eropa  (yakni di  Inggris, Hungaria, dan Jerman), menjelaskan secara keseluruhan  neonicotinoids berbahaya bagi lebah madu dan populasi lebah liar dan menyadi “penyebab keprihatinan.” Namun para ilmuwan yang risetnya disponsori oleh   Bayer AG Jerman dan Syngenta AG Swiss mengungkapkan,  hasilnya menunjukkan “dampak yang tidak konsisten.” Dalam pada itu para pakar  independen berpendapat,  temuan-temuan tersebut hasilnya bercampur aduk  dan tidak konklusif.

Semenjak  2014 Uni Eropa memutuskan untuk  moratorium  penggunaan neonicotinoids, yang produknya dibuat dan diual antara lain oleh  Bayer dan Syngenta, menyusul  riset laboratorium yang menggambarkan  beragam potensi risiko bagi lebah. Di luar kepentingan produksi madu, lebah (termasuk lebah liar), sangat dibutuhkan perannya  untuk penyerbukan tanaman.

Kalangan produsen neonicotinoid menyatakan,  faktanya menunjukkan, bahwa  merosotnya populasi lebah tidak dapat dibebankan kepada  bahan kimia tersebut.  Dalam pandangan mereka, hal ini ada berbagai faktor yang melingkupinya yang terjadi oleh  kompleksnya fenomena.

Juru tutur  untuk pemantau keamanan pangan Uni Eropa, EFSA berpendapat, pihaknya  tengah memproses untuk mereview semua  studi dan data, guna dilakukan  re-evaluasi  secara menyeluruh terhadap neonicotinoids. Re-evaluasi diharapkan dapat dilaksanakan pada  November 2017 mendatang.

Hasil kajian  EFSA tersebut, kelak akan menjadi dasar keputusan  Komisi Eropa dalam mengkonsultasikan kepada  negara-negara Uni Eropa, apakah moratorium terhadap neonicotinoid tetap harus  diberlakukan atau sudah perlu disudahi.

Menurut para periset di Kanada,  lebah pekerja yang terpapar  neonicotinoids,  yang  acapkali berasal dari serbuk sari yang terkontaminasi  dari tanaman-tanaman sekitar, bukan dari tanaman-tanaman yang mendapatkan perlakuan, ternyata punya tingkat harapan hidup yang lebih rendah. Koloni ini juga berkemungkinan kehilangan  ratu lebahnya.

Berkaitan dengan hasil riset di Eropa, para peneliti di Kanada ini  berpendapat,  bahwa tanaman yang terpapar pada neonicotinoid, ternyata membahayakan koloni lebah di dua dari tiga negara. Riset itu juga memberi gambaran bahwa  keberhasilan reproduksi lebah-lebah liar di ketiga negara tersebut mengalami persoalan. Menariknya, hasil riset di Jerman  menunjukkan dampak positif pada lebah yang terpapar neonicotinoids. Dampak positif ini bersifat sementara,  dan apa alasan terjadinya hal tersebut, masih perlu dikaji.

“Ini mencerminkan kompleksitas dunia nyata,” ujar Richard Pywell, guru besar  di Pusat Ekologi dan Hidrologi Inggris. “Dalam keadaan-keadaan tertentu, anda mungkin akan mendapatkan dampak positif … dan pada keadaan-keadaan lainnya and mungkin akan menemukan dampak negatif,” tambah Pywell, yang juga pemimpin dalam studi ini.

Secara keseluruhan menurutnya, terdapat dampak negatif  yang signifikan pada tahapan-tahapan siklus kehidupan lebah yang penting, yang menyebabkan timbulnya keprihatinan. Ditambahkan, beberapa  spesialis yang tidak terlibat langsung dalam riset  ini, yang diminta untuk meriview temuan riset ini  mengatakan, hasilnya bercampur aduk.

Guru besar di  the University of Huddersfield Inggris, Rob Smith mengatakan,  “penting untuk menunjukkan adanya dampak yang dapat dideteksi dari perlakuan neonicotinoid pada lebah madu di dunia nyata,” ujarnya.  Hanya saja, tambahnya, “Dampak-dampak yang ditimbulkan bersifat tidak konsisten.” Hasil temuan yang berbeda itu menggambarkan betapa  kompleksitasnya ilmu lingkungan hidup.***

 

Kasar Bersikap, Trump Menuai Viral

PRESIDEN  Amerika Serikat Donald Trump menunjukkan kekasarannya di depan forum dunia yang berlangsung di Brussels, Kamis (25/5/2017) waktu setempat, tatkala  dia memepet dan mendorong ke samping Perdana Menteri Montenegro, Duski Markovic. Pada KTT pakta pertahanan Atlantik Utara tersebut, Montenegro bakal  ditetapkan menjadi  anggota NATO.

Berdasarkan  cuplikan video yang beredar di dunia maya,  Trump tampak menerobos barisan para pemimpin NATO. Trump tampak  mendorong dengan kasar Markovic,  untuk kemudian dengan penuh percaya diri Trump merapikan jasnya, saat dia tampil di barisan depan kelompok pemimpin NATO. Trump mengambil posisi dengan mendekat ke arah Sekjen NATO Jens Stoltenberg.

Video tersebut  diviralkan, terutama terjadi setelah Trump menyampaikan pesan yang pedas kepada sekutu-sekutu NATO. Trump menginginkan agar anggota NATO  meningkatkan  belanja pertahanan mereka agar beban yang harus ditanggung Amerika tidak terlalu berat.

Juru Bicara Gedung Putih, Sean Spicer yang dikonfirmasi  mengenai tindakan  Trump dengan mendorong  Markovic, berkelit  bahwa Spicer tidak menyaksikan video itu. Dia menganggap, apa yang dilakukan Trump  lebih karena ingin bergeser ke posisi yang dianggapnya tepat.

Pihak  Montenegro di NATO yang, menolak mengomentari insiden itu. Dalam pada itu masuknya Montenegro ke NATO  ditentang keras oleh Rusia.

Negara kecil di kawasan Balkan itu, akan resmi menjadi anggota NATO ke-29 pada Juni mendatang.  Sekalipun demikian, Markovic sudah mengikuti KTT NATO di Brussels, dimana ini adalah KTT NATO  pertama yang  dihadiri Trump, sekaligus bersamaan dengan acara pembukaan markas besar baru NATO.

Dalam sesi foto bersama di gedung baru itu, Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau meminta rekan-rekan pemimpin NATO lainnya melambaikan tangan ke arah kamera wartawan, tetapi Trump tampak tak  mengangkat tangannya. Trump kemudian tersenyum singkat, lantas  kembali menunjukkan ekspresi wajah serius dalam sesi foto itu, demikian Reuters.