Membaca Ramalan Gus Dur di Era Algoritma

Oleh Brigjen TNI Purn MJP Hutagaol

Memasuki awal 2026, dunia bergerak semakin digital dan cepat, sementara kebijaksanaan manusia tertinggal oleh kecepatan algoritma

Dunia tidak kekurangan informasi, tetapi kehilangan kejernihan untuk membedakan antara kebenaran dan rekayasa. Pada titik inilah pertanyaan paling mendasar bangsa ini muncul: bukan lagi sejauh apa teknologi membawa kemajuan, melainkan siapa yang sesungguhnya mengendalikan arah kesadaran kita.

Almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sering dianggap memiliki “ramalan” yang kelak terbukti. Namun sesungguhnya, Gus Dur bukan peramal dalam pengertian mistik. Ia adalah pembaca zaman. Ia melihat jauh ke depan karena memahami watak manusia, kekuasaan, dan sejarah.

Gus Dur membaca pola. Dan pola itulah yang kini kembali hadir di era algoritma.

Intuisi vs Mesin

Di masa lalu, Gus Dur mengingatkan bahwa demokrasi bisa runtuh bukan oleh senjata, tetapi oleh akal yang dimanipulasi dan nurani yang dilemahkan. Hari ini, kita menyebutnya algoritma, big data, dan rekayasa opini.

Algoritma bekerja tanpa empati. Ia tidak mengenal keadilan. Ia hanya mengenal pola, klik, dan kepentingan.

Di sinilah intuisi kemanusiaan diuji. Gus Dur berdiri pada sisi yang berbeda: keberanian moral, kejujuran batin, dan keberpihakan pada yang lemah—meski itu membuatnya tampak aneh, lambat, atau “tidak strategis” di mata kekuasaan jangka pendek.

Ketika Bangsa Masuk Permainan Curang

Bangsa ini kini menghadapi paradoks: teknologi makin canggih, tetapi kebijaksanaan justru menipis. Informasi melimpah, tetapi kebenaran semakin kabur.

Kita hidup dalam permainan curang modern:

Narasi dibentuk lebih cepat daripada kesadaran.

Opini diciptakan sebelum rakyat sempat berpikir

Yang viral dianggap benar, yang sunyi dianggap salah.

Gus Dur sudah mengingatkan:
“Yang lebih berbahaya dari penindasan adalah ketika rakyat tidak sadar bahwa dirinya sedang ditindas.”

Jalan Kebijaksanaan Nusantara

Nilai-nilai Nusantara—termasuk falsafah Batak tentang hasangapon (kehormatan), haporseaon (iman/kepercayaan), dan hamoraon (kesejahteraan yang bermartabat)—mengajarkan bahwa hidup bukan soal menang cepat, tetapi tegak dalam kebenaran.

Di titik inilah Gus Dur dan kearifan Nusantara bertemu: kekuasaan tanpa nurani akan runtuh oleh sejarah.

Penutup

Jika banyak “ramalan” Gus Dur menjadi kenyataan, itu bukan karena ia memiliki kelebihan gaib, melainkan karena ia setia pada akal sehat yang disinari kebijaksanaan.

Pertanyaan kita hari ini sederhana namun menentukan:

Apakah kita masih mau berpikir merdeka, atau menyerahkan masa depan bangsa pada mesin tanpa hati?

Sejarah selalu berpihak pada mereka yang berani menjaga nurani—meski berjalan sendirian.
“Yang tahu masa depan adalah Tuhan. Yang perlu kita jaga hanyalah hati agar tak salah membaca zaman.” (*)

Aktualisasi Pemikiran Cak Nur dan Gur Dur

Jayakarta News – Reaktualisasi pemikiran para pembaru Islam Indonesia seperti mendiang Prof. Nurcholish Madjid (Cak Nur) dan mendiang KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dinilai penting untuk membendung arus populisme Islam yang merusak kualitas demokrasi.

Demikian salah satu kesimpulan yang muncul dalam orasi kebangsan Saiful Mujani, Ph.D, yang diselenggarakan dalam rangka Hari Kemerdekaan Indonesia dan Dies Natalis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 18 Agustus 2020.

Saiful menyebut gejala tunduknya legislator dan kepala daerah pada agenda kebijakan syari’ah karena alasan dukungan elektoral merupakan karakteristik dari apa yang dikenal sebagai populisme Islam: keyakinan bahwa agenda-agenda dan kebijakan-kebjakan berbasis sentimen Islam yang diskriminatif terhadap non-Islam mendapat dukungan besar dari orang Islam.

Menurut Dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah ini ancaman populisme Islam dan Islamisasi Indonesia harus menjadi perhatian sungguh-sungguh bagi siapa pun yang peduli bagi keberlangsung negara-bangsa ini. “Langkah mendasar pertama adalah pendekatan kebudayaan atau pendidikan,” ungkap Saiful.

Pendiri lembaga penelitian dan konsultansi politik SMRC ini menyatakan bahwa pendekatan kebudayaan dan pendidikan ini adalah dengan reaktualisasi pemikiran-pemikiran keislaman yang dapat menjadi sumber kultural untuk kembali merajut kebinekaan kita yang sudah mulai terkoyak itu.

Saiful mengusulkan agar pemikiran-pemikiran keislaman yang terbuka disuarakan kembali melalui pelbagai forum, kelompok-kelompok sosial, dan lembaga pendidikan terutama pergurun tinggi

Pemikiran-pemikiran keislaman yang dimaksud adalah antara lain berasal dari pemikiran Cak Nur dan Gus Dur.

“Pemikiran Nurcholish Madjid yang saya maksud adalah apa yang saya sebut sebagai ide ‘desakralisasi kehidupan dunia sosial’. Sementara pemikiran Abdurrahman Wahid adalah ‘Pribumisasi Islam'”, tegas Saiful.

Dalam pidato yang disiarkan langsung melalui sejumlah aplikasi daring itu, Saiful menjelaskan pemikiran Cak Nur mengenai desakralisasi kehidupan dunia sosial. Sebagai orang yang beriman, Cak Nur percaya tidak ada yang salah pada dokrin-doktrin dasar Islam. Keterbelakangan itu karena umat Islam secara umum telah lama mengidentikan budaya dan tradisi yang terbelakang yang menyelimuti hidup umat sehari-hari, yang merupakan ciptaan sejarah, hasil tafsiran terhadap Islam yang ketinggalan zaman, dengan doktrin-doktrin dasar Islam.

Saiful melanjutkan bahwa de-sakralisasi kehidupan sosial (social world) secara luas adalah membedakan antara yang sakral dan profan, antara yang ilahiah dan yang duniawi, antara doktrin-doktrin dasar Islam dan tatanan kehidupan sosial yang diciptakan manusia dalam sejarah. Doktrin-doktrin dasar itu universal, sementara tafsiran terhadapnya yang menciptakan tatanan kehidupan sosial adalah ciptaaan manusia yang bersifat hadis, baru, temporer, dan berubah-ubah sesuai dengan perubahan zaman yang bersifat niscaya. Bila Islam diidentikan dengan yang tidak sakral, yang merupakan ciptaan manusia seperti partai atau negara, maka Islam akan lenyap dimakan zaman, dimakan sejarah, atau Islam akan identik dengan masa lalu yang sudah terbelakang.

Saiful menambahkan bahwa wujud de-sakralisasi dalam kehidupan kebangsaan kita adalah membedakan antara doktrin dasar Islam yang sakral dengan kenyataan Indonesia sebagai sebuah negara-bangsa yang merupakan produk sejarah bangsa Indonesia yang bersifat dinamis, yang dibangun dari keragaman budaya, adat isitiadat, suku-bangsa, agama, dan faham kegamaan. Indonesia tidak sakral dan tidak boleh disakralkan. Ia ciptaan kolektif manusia Nusantara dengan segala keragaman karakteristiknya.

“Indonesia sebagai entitas profan niscaya terus berubah, dinamis, sehingga dikenal ungkapan “menjadi Indonesia,” bukan Indonesia yang sudah jadi, dan apalagi disakralkan,” ungkapnya.

“Bila Indonesia disakralkan, katakanlah diislamkan, maka reduksi terhadap doktrin-doktrin dasar Islam terjadi di satu pihak, dan di pihak lain mengingkari kenyataan keragaman dan dinamika dunia sosial Indonesia yang merupakan sebuah keniscayaan,” tambahnya.

Ungkaan “Islam yes, partai Islam no” Cak Nur punya makna dalam dan luas. Beriman pada doktrin-doktrin dasar Islam, dan menegasikan identifikasi Islam dengan institusi-institusi buatan manusia seperti partai atau negara-bangsa.

Sementara itu, pemikiran Gus Dur fokus pada term kontekstualisasi Islam. Islam sebagai doktrin pokok dipercaya universal tapi juga melingkup keragaman sosial budaya dalam rentang sejarah bangsa masing-masing.

Bagi Gus Dur, kata Saiful, Islam tidak identik dengan Arab. Islam universal, sementara budaya Arab adalah lokal. Islam Indonesia tidak harus, dan tidak pantas, mengikuti budaya Arab. Berislam dengan budaya Indonesia yang seharusnya dikembangkan dan digalakan umat Islam Indonesia.

Saiful menyimpulkan bahwa kontektualisasi Islam pada keragaman sosial-budaya akan melahirkan Islam yang beragam secara sosial-budaya, dan karena keragaman ini maka toleransi adalah suatu keniscayaan untuk menegakan keberagaman sosial-buadaya Islam dalam terang universalitas doktrin-doktrin dasar Islam.

“Dalam konteks pemikiran seperti itu,” kata Saiful “Gus Dur adalah pelopor dan aktivis bagi toleransi dan anti-diskriminasi sesama anak bangsa apapun latar belakang identitas sosial politiknya.”

Wujud dari pemikiran Gus Dur ini, tambah Saiful, kemudian muncul dalam sejumlah tindakan seperti meminta maaf kepada keluarga bekas PKI atas pembantaian ratusan ribu orang anggota keluarga mereka hanya karena perbedaan faham dan kepentingan politik; menghapus tanda terlibat PKI pada KTP, perhatian pada kelompok-kelompok minoritas etnik dan agama; mengakomodasi keinginan agar Konghucu diakui secara resmi sebagai agama di Indonesia.

Ilmuan politik lulusan Ohio State University, Amerika Serikat, ini memandang bahwa pemikiran yang dulu dikembangkan Cak Nur dan Gus Dur sekarang kurang mendapat tempat di kampus-kampus.

“Keislaman yang dikonsumsi publik secara luas banyak berupa “Arabisasi Islam,” dan “Arabisasa Indonesia,” kata dia.

Menurut Saiful, kampus-kampus kita dilihat dari banyak segi, apalagi sebagai institusi milik negara, harusnya menjadi lembaga paling depan untuk pemikiran-pemikiran keislaman yang telah diletakan fondasinya oleh Cak Nur dan Gus Dur itu.

“Dari kampus kita harusnya lahir pemikiran-pemikiran keislaman yang memperkuat sikap dan perilaku umat yang memperkuat rajutan kebinekaan negara-bangsa kita,” pungkasnya. (janu)

Melepas Gus Sholah

Jayakarta News – Tepat pukul 09.00 WIB pagi ini, Senin (3/2/2020), jenazah Gus Sholah diberangkatkan dari rumah duka Jalan Bangka Raya ke Bandara Halim Perdana Kusuma untuk diterbangkan ke Juanda, Surabaya. Sebelum pemberangkatan, Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid sempat memimpin doa keberangkatan.

Menurut rencana jenazah akan disemayamkan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Sebelum dimakamkan di lokasi yang sama hari ini pukul 16.00 WIB, di sebelah barat makam Gus Dur. Persis di sisi utara makam ayah dan ibunya, KH Wahid Hasyim dan Nyai Sholichah Wahid.

Tampak Presiden Joko Widodo hadir pagi pukul 08.30  langsung menyalami istri alm Gus Sholah, Nyai Hj Farida dan mendoakan alm KH Dr.Ir. Solahuddin Wahid. Hadir pula mantan Wakil Presiden Jusuf Kala, istri Gus Dur Hj. Sinta Nuriyah, Menteri PUPR Basuki Hadimulyo, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menhankam Prabowo Subianto, dan Wiranto. Menteri LN Retno Marsudi, menteri pertama yang hadir sebelum presiden Jokowi.

Rumah asri yang dirancang oleh anak mantunya sejak dini hari sdh dipenuhi tamu, keluarga, dan pasukan banser. Sejak pukul 07.30 sudah hadir Rachmat Witular, Siswono Yudhohusodo, Jimly Asshiddiqie, Prof Dr Nasaruddin Umar dan beberapa tokoh lain.

Jenazah Gus Sholah sebelum diterbangkan ke Surabaya dan dimakamkan di Jombang sore nanti. (foto: s. resti handini)

Semasa hidupnya, Gus Sholah yang adik kandung mendiang Gus Dur (presiden RI ke-4) merupakan pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang – Jawa  Timur.

Pria kelahiran Jombang 11 September 1942, meninggal dunia hari Minggu tanggal 2 Januari  pukul 20.55 pada usia 77 tahun. Menurut Irfan As’ari Sudirman Wahid yang biasa dipanggil Ipang, dua minggu lalu Gus Sholah mengeluh adanya ritme jantung yang tidak beraturan. Keluhan tersebut membuat Gus Sholah sempat dilakukan ablasi. Semacam kateter untuk mengisolir elektromagnetik liar di jantungnya.

Setelah itu alm sempat pulang. Beberapa hari kemudian kembali lemas dan keluarga langsung membawanya ke RS. Ulama NU yang aktifis, politikus yang juga negarawan di rawat di RS Harapam Kita sejak tanggal 31 Januari 2020.

Ayah tiga orang anak yang merupakan arsitek tamatan ITB. Semasa hidupnya pernah menjadi anggota MPR. Pasca rezim orde baru, pernah menjadi Wakil Ketua Komnas HAM, Calon Wakil Presiden pada Pilpres 2004, dan beberapa aktivitas lain.

Indonesia kehilangan salah satu putra terbaiknya. (s. resti handini)

Kiri, ibu Shinta Nuriyah Wahid. Kanan: Menlu Retno Marsudi di rumah duka. (foto-foto: s. resti handini)
Foto kenangan penulis bersama almarhum Gus Sholahuddin Wahid di Ponpes Tebu Ireng, 2017. (dok.pri)

Mata Hitam Enam Presiden

Jeihan: “Mata Hati Sang Pemimpin” (2014), 300 cm x 800 cm. (foto: roso daras)

JAYAKARTA NEWS – Bung Karno bermata hitam. Soeharto bermata hitam. Begitu pula presiden-presiden selanjutnya. Tentu saja mata mereka hitam pekat, tidak ada bola mata apalagi putih mata. Kita sedang berbicara tentang lukisan-lukisan presiden Republik Indonesia karya Jeihan Sukmantoro.

Lukisan-lukisan itu terpajang di Museum Kepresidenan Balai Kirti, Bogor. Di museum yang terletak di lingkungan Istana Bogor itu, Jeihan menjadi salah satu pelukis yang mendapat kehormatan melukis presiden-presiden, mulai dari Bung Karno sampai Susilo Bambang Yudhoyono.

Cukup beralasan. Jeihan adalah salah satu pelukis senior Indonesia yang namanya sudah menembus apresiasi internasional. Ciri lukisannya khas, semua objek manusia bermata hitam pekat. Pengamat atau kurator acap menyebut corak lukisan Jeihan tergolong beraliran Dadaisme. Karakter figuratif yang seolah memadukan alam mistik timur dan alam analitis barat.

Begitu pula kesan yang kita dapat jika menyaksikan goresan tangan Jeihan mengekspresikan sosok enam orang presiden: Sukarno, Soeharto, BJ Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono. Enam sosok hitam, semua berkopiah, kecuali Megawati. Kedua tangan presiden seperti tersimpan di kantong celana kiri dan kanan, kecuali Megawati yang berkain-kebaya.

Lukisan Jeihan “Mata Hati Sang Pemimpin” di ruang pamer Museum Kepresidenan Balai Kirti, Bogor. (foto: roso daras)

Sapuan kuas dengan dominasi warna hitam-putih itu, spontan mengguratkan kesan mistik. Pada lukisan berukuran 300 cm x 800 cm itu, warna Jeihan benar-benar kental. Tidak mudah memvisualisasikan tokoh-tokoh terkenal di Republik hanya dengan sapuan warna hitam ditambah mata hitam pekat pula. Akan tetapi kita sedang berbicara tentang Jeihan. Pelukis senior kelahiran Solo 26 September 1938 (81 tahun), yang memang kampiun di bidangnya.

Alhasil, Jeihan pun memberi judul “Mata Hati Sang Pemimpin” pada karya lukisnya itu. Lukisan yang dibuat tahun 2014 dengan media akrilik di atas kanvas itu diberi narasi, “Karya ini menggambarkan ketajaman mata dan hati dari 6 pemipin Republik Indonesia, sebagai simbol kekuatan menangkap aspirasi suara rakyat dalam membangun bangsa”. Terkesan “bahasa pemerintah” sekali. (rr)

Mahfud MD Penerus KH Hasyim Asy’ari

Mantan Khatib Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Malik Madani

BAK pepatah: makin tinggi pohon, main kencang angin bertiup. Ketika nama Cawapres Jokowi menempatkan nama Mahfud MD sebagai kandidat yang diunggulkan dengan pertimbangan “kesesuaian zaman”, sontak berembus berita miring yang mencoba menggoyangnya. Termasuk, berita yang sejatinya sangat tidak masuk akal, meragukan ke-NU-an Mahfud MD.

Mahfud MD bergeming dengan sikapnya yang cool. Tidak satu pun kalimat sanggahan keluar dari mulut lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu. Seperti sudah ditebak, sanggahan justru datang dari para pihak, yang mengetahui betul kadar ke-NU-an seorang Mahfud MD.

Mantan Khatib Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (NU) KH Malik Madani yang justru mengeluarkan pernyataan keheranannya. Ia heran dengan pihak yang meragukan ke-NU-an mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) itu. Katanya, meski tak pernah menjabat di jabatan struktural Nahdlatul Ulama (NU), namun darah hijau yang mengalir di Mahfud MD tak pantas diragukan.

“Pak Mahfud ini memang tak pernah menjabat di sturktural NU. Tapi masa iya ada yang menyangsikan Pak Mahfud hanya karena ini. Beliau itu ritual ibadahnya sangat NU. Mondok di pesantren NU. Beliau dan keluarganya NU tulen,” kata Kiai Malik.

Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menyebut, kegiatan dan kontribusi Mahfud MD untuk NU tak terhitung. Bersama Marwan Ja’far, Mahfud pernah mendirikan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Wahid Hasyim di Universitas Islam Indonesia (UII). Mahfud juga aktif di kegiatan-kegiatan GP Anshor dan sejumlah lembaga yang berkaitan erat dengan NU seperti Wahid Institute dan lainnya.

Bahwa Mahfud adalah kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), memang saat kuliah dulu di UII yang ada hanya HMI. Kader NU lain seperti Sekjen PBNU Helmy Faisal Zaini, Khatib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Syaifullah Yusuf atau Gus Ipul juga pernah aktif di HMI. “Justru kita mestinya bangga kader NU menyebar di mana-mana, termasuk HMI. HMI kan juga tidak merepresentasikan bukan NU,” kata Kiai Malik.

Belum lagi bicara kedekatan Mahfud MD dengan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Mahfud pernah menjadi Menteri Pertahanan saat Gus Dur menjabat Presiden. “Dan Pak Mahfud satu-satunya kader PKB, kader NU yang setelah Gus Dur lengser hubungannya sangat baik, baik dengan Gus Dur maupun dengan keluarga,” sambungnya.

Kiai Malik yakin Mahfud MD sangat diterima oleh kiai-kiai sepuh Nahdliyin. Selain itu, di luar kaum sarungan, seperti Muhamamdiyah dan organisasi lain, juga sangat terbuka menerima sosok Mahfud. “Bahkan di kalangan non Islam, banyak pengangum Pak Mahfud. Di NTT, di banyak tempat, komunitas non-islam sangat mengenal Pak Mahfud. Pak Mahfud ini kalangan santri sarungan, tradisional yang menerima moderasi Islam. Persis seperti gurunya, Gus Dur,” ujarnya.

Soal kansnya sebagai Cawapres, Kiai Malik yakin Mahfud bisa menambah elektabilitas Jokowi. “Pak Mahfud diterima di kiai sepuh NU, diterima di luar NU dan bahkan non Islam. Juga memiliki modal integritas, kapabilitas, dan keahliannya di bidang hukum, dapat menambal sisi penegakan hukum yang selama ini dikritik banyak pihak,” pungkasnya. Sikapnya yang tegas terhadap kelompok Islam radikal, justru menempatkan Mahfud sebagai warga NU yang berpendirian. Concern dan keberpihakannya terhadap nilai-nilai kebangsaan yang dibangun founding father, sekali lagi, menempatkan sosok Mahfud sebagai penerus sikap beragama dan berbangsa KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU sekaligus kakek Gus Dur. ***

Moh. Mahfud MD, Insert KH Hasyim Asy’ari

Sarung Gus Dur dan Cangklong Soeharto 

INDONESIA pernah dipimpin seorang relijius bernama Abdurrahman Wahid atau lebih dikenal sebagai Gus Dur. Indonesia juga pernah punya pemimpin yang di masa tahun 1965 bernama Soeharto dengan rupa menawan terkhusus saat menggunakan kacamata hitamnya.

Soeharto dan Gus Dur adalah sosok yang bertolak belakang dari sisi lama berkuasa. Soeharto menjadi presiden selama 30 tahun lebih sementara Gus Dur hanya memimpin negara Indonesia selama tiga tahun saja. Meski demikian keduanya telah memberi kontribusi sebagai orang nomor satu di negeri ini.

Memoribilia kedua presiden itu bisa dilihat masyarakat di museum istana kepresidenan Balai Kirti yang terletak di samping Gereja Zabaoth Bogor. Balai Kirti sangat berdekatan dengan lokasi Kebun Raya Bogor dan Istana Bogor. Bagi yang ingin mengunjungi museum ini tidak susah untuk mendapati lokasinya.

Balai Kirti merupakan museum bagi para mantan Presiden Republik Indonesia. Di lantai dasar museum ini berdiri enam patung mantan presiden berukuran 1,5 kali tinggi aslinya dengan gaya masing-masing, semisal Ibu Megawati dengan kepalan tangannya. Soeharto dengan senyumnya dan Gus Dur dengan kacamatanya.

Setiap mantan presiden memiliki satu ruangan berisi memorabilia masing-masing. Setiap ruangan terdapat lukisan besar, sehingga jika melihat ada lukisan Soeharto berukuran besar maka kita berada di galeri Soeharto. Begitu juga saat memasuki ruangan kemudian ada sosok Gus Dur dalam lukisan maka kita berada di galeri Gus Dur.

Pak Harto, 1965

Ada satu sudut dengan etalase kaca yang memajang pakaian Soeharto yang menarik mata. Pakaian itu berupa seragam militer angkatan darat lengkap dengan kepangkatan jenderal besar (bintang lima) dan satya lancana. Di etalase Soeharto ini terdapat 11 item barang-barang peninggalan Soeharto yang memimpin negara ini selama 32 tahun.

Bukan hanya seragam saja, tetapi baju kedinasan itu disertakan sepatu hitam yang pernah dikenakan Soeharto. Dan seragam itu kurang lengkap jika tak ada tongkat komando. Baju seragam dengan tongkat komando merupakan itu juga merupakan ciri khas Soeharto sebagai Jennderal Besar Agkatan Darat. Soeharto biasa mengenakan seragam itu saat upacara hari ABRI dan bertindak sebagai pemimpin upacara.

Selain itu ada juga sebuah cangklong yang menghias etalase Soeharto. Juga ada dua buah pena, barangkali ini peninggalan bersejarah bagi keluarga Soeharto agar generasi saat ini bisa melihat benda apa saja yang pernah dimiliki mantan presiden. Di etalase ini pelajar masa kini juga bisa melihat rupa telepon yang pernah digunakan Presiden Soeharto. Sebuah telepon kabel berwarna kuning dengan lambang Garuda keemasan menempel di telepon itu.

Bagaimana Soeharto memimpin ini juga bisa dilihat dari slide yang ada pada visualisasi pada sebuah monitor televisi berukuran 32 inchi. Soeharto yang dulu pernah dikenal sebagai Bapak Petani Indonesia ini tak lengkap jika tak ada foto dalam slide saat ia berada di sawah dengan mengangkat hasil panen padinya. Ada juga foto Soeharto saat mengunjungi Posyandu.

Beberapa foto berbingkai berisi foto Soeharto bersama keluarga juga di tata rapi dan bisa dengan jelas dilihat pengunjung. Hampir sebagian besar foto Soeharto menunjukkan senyum khas yang dimiliki bapak enam anak ini.

Gus Dur

Jika Soeharto memajang baju seragam militernya maka etalase Gus Dur berisi pakaian sehari-hari. Sarung adalah salah satu ciri khas yang sering dikenakan Gus Dur. Selain pakaian ada dua buah buku yang dipajang. Buku berjudul Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman dan The Wisdom of Gus Dur berisi biografi Gus Dur. Dari kedua buku itu masyarakat bisa mengetahui buah pikir dari seorang Gus Dur.

Gus Dur berpeci gaun pandan.

Ciri khas Gus Dur lainnya yang berada di etalase adalah sebuah peci terbuat dari anyaman daun pandan.Peci ini kerap digunakan Gus Dur dalam berbagai acara yang ia hadiri di luar kegiatan resmi sebagai presiden. Selain itu ada sebuah jam tangan peninggalan Gus Dur merek Tel Time. Sayang tak disebutkan mengapa jam tangan dihadirkan barangkali memiliki kisah tersendiri bagi Gus Dur.

Foto-foto kegiatan Gus Dur saat mengunjungi beberapa negara juga dipamerkan di galeri Gus Dur. Ada juga foto Gus Dur bersama cucu, anak dan istri Sinta Nuriyah. Momen bearti saat menjabat presiden juga diabadikan dan menjadi foto yang membanggakan bagi keluarga besar KH Abdurrahman Wahid.

Kutipan kata-kata Gus Dur yang dipilih keluarga Gus Dur untuk museum kepresidenan ini mengambil sebagian kata dalam sambutannya saat pidato kepresidenan 2001. Inilah kata-kata Gus Dur yang ingin diingat oleh generasi muda: “Tidak ada kekuasaan yang layak dipertahankan dengan pertumpahan darah”.

Sementara Soeharto memetik ucapannya menjadi kata mutiara bagi generasi zaman now: “Hanya sebutir pasir yang dapet kami beri untuk memperkokoh pondasi negara republik Indonesia”.

Membaca kata-kata itu pengunjung akan semakin bisa lebih dekat dengan mantan presiden negara ini. Suasana museum yang modern di Balai Kirti tak hanya enak untuk dikunjungi namun tetap mampu menghadirkan sebagian kecil saja dari sosok Soeharto dan Gus Dur saat kepemimpinannya sebagai presiden. ***