Investasi Negara ASEAN di IKN, Minati Properti dan Energi Terbarukan

JAYAKARTA NEWS – Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) mencatat total investasi swasta ke sektor hiburan di Ibu Kota Nusantara telah mencapai Rp20 triliun atau hampir sekitar seperempat persen dari total pendanaan pembangunan untuk swasta.

“Kalau yang dari swasta, tetapi tadi sudah ada Rp20 triliun. Ini mainly play  artinya  entertainment, hotel, dan sebagainya termasuk ada ruang terbuka hijau,” kata Deputi Bidang Pendanaan dan Investasi Otorita IKN Agung Wicaksono usai menjadi pembicara pada ASEAN Investment Forum Day 2 di Jakarta, Minggu (3/9/2023).

Lebih lanjut Agung mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima 270 minat investasi dari calon investor atau letter of intent (LOI) untuk IKN baik dari dalam negeri maupun luar Indonesia.

“Terbanyak memang perusahaan nomor satu dari Indonesia, lebih dari setengahnya. Kemudian dari ASEAN, ada Singapura dan Malaysia. Yang lainnya, Jepang dan Korea,” ungkapnya.

Khusus untuk ASEAN yakni Malaysia terdapat dua perusahaan properti yang telah berkomitmen untuk membangun 20 tower rumah susun atau rusun di IKN. Dua perusahaan tersebut tengah melakukan studi kelayakan untuk kemudian menunggu evaluasi dari pemerintah sebelum mendapatkan izin untuk memulai pembangunan.

“Kalau Singapura itu yang mereka paling minat renewable energy (energi terbarukan), kemudian pengolahan waste,” tambahnya.

Deputi Agung menyampaikan pada RPJMN 2020-2024 tercantum kebutuhan pendanaan IKN sebesar Rp466 triliun yang dibagi menjadi tiga indikasi pendanaan, yaitu APBN sebesar Rp90,4 triliun, badan usaha/swasta sebesar Rp123,2 triliun, dan KPBU sebesar Rp252,5 triliun.
Pendanaan swasta yang didominasi oleh sektor swasta asal domestik tersebut pada utamanya masuk kepada zona 1A yang akan menjadi titik lokasi pembangunan Istana Kepresidenan dan beberapa kantor kementerian.

“Kawasan 1 ini seperti sekitar istana, Monas, dan sebagainya. Ini kita fokus yang di situ dulu, KIPP (Kawasan Inti Pusat Pemerintahan) ini arrange sekitar 6.000 hektar. Terus KIPP kita fokus lagi yang area 1A, ini baru yang 1 A saja yang 2024 ini kita targetkan setelah itu masih banyak lagi,” ucapnya.***/mel

Pemda Diminta Anggarkan Pembiayaan Energi Terbarukan dalam RAPBD 2023

JAYAKARTA NEWS— Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) meminta pemerintah daerah (Pemda) menganggarkan pembiayaan energi terbarukan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Tahun Anggaran 2023. Hal itu disampaikan Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Keuangan Daerah (Keuda) Kemendagri Agus Fatoni dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan (ADPMET) 2022 di Anvaya Beach Resort Bali, Rabu (9/11/2022).

“Di dalam RAPBD itu, wajib menganggarkan, baik urusan wajib maupun urusan pilihan,” kata Fatoni.

Dia menjelaskan, sebagaimana Undang-Undang (UU) Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM masuk ke dalam kategori urusan pilihan, sehingga selama ini cenderung tidak diprioritaskan.

“Dari sisi keuangan daerah, rata-rata daerah itu menganggarkan untuk ESDM itu kecil karena merupakan urusan pilihan,” ujarnya.

Padahal menurutnya, penganggaran itu dapat disesuaikan dengan kemampuan daerah masing-masing sehingga tak memberatkan APBD.

“Bukan berarti urusan pilihan itu tidak dilaksanakan tetapi tetap harus dianggarkan dengan anggaran yang cukup sesuai dengan prioritas daerah masing-masing,” ujarnya.

Selain berkenaan dengan penganggaran, pihaknya juga berharap urusan pilihan di bidang energi terbarukan dapat diatensi Pemda lewat regulasi, seperti Peraturan Daerah atau Perda misalnya. Keberadaan Perda dan anggaran yang memadai, dinilai sebagai bentuk komitmen Pemda dalam mewujudkan energi terbarukan.***/ebn

Pembangunan Green Fuel Berbasis Kelapa Sawit

JAYAKARTA NEWS – Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit terbesar di dunia. kapasitas produksi andalan komoditas tersebut sekitar 40 juta ton per tahun. Dengan potensi tersebut, pemerintah menargetkan terwujudnya pembangunan energi terbarukan yang akan dicapai pada tahun 2025.

Menteri PPN/ Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menjelaskan, implementasi pembangunan energi terbarukan berbasis kelapa sawit akan dilaksanakan secara bertahap. Pada tahun 2020 pemerintah telah melakukan penyusunan BEDP yaitu (basic engineering design project) dan tender DFC (Dual Feed Competition). Pada tahun 2021 pemerintah menargetkan penyusunan dokumen FEED dan persetujuan FID (Final Investment Decicion). Pada kurun tahun 2022 sampai dengan 2023 pemerintah menargetkan untuk membangun EPC.

Pembangunan energi terbarukan berbasis kelapa sawit diperkirakan akan memakan biaya sebesar Rp 32,0 triliun, sebanyak Rp 1,1 triliun ditargetkan bersumber dari APBN, Rp 11,9 triliun dari BUMN dan swasta sebesar Rp 19 triliun. “Pembangunan proyek green fuel ini akan ditangani oleh tiga Kementerian, yakni Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Dalam Negri, serta melibatkan BUMN dan swasta,” katanya.

Pada perkebunan sawit rakyat, produktivitas dan efisiensi harga sangat sulit dicapai karena penggunaan bibit yang tidak berkualitas, lemahnya kelembagaan dan managemen produksi, serta kurangnya pengetahuan dan SDM perkebunan rakyat, jelas Menteri PPN.

Minyak kelapa sawit merupakan komoditas perdagangan dunia, sehingga sebagai produk global sawit harus mengikuti isu perdagangan global yakni kompetitif dan diproduksi secara terus menerus (sustaibable). Sementara itu menurut Suharso, daya saing perkebunan kelapa sawit sangat tergantung dari produktivitas dan efisiensi biaya produksi.

“Untuk mengatasi masalah produktivitas dan efisiensi kelapa sawit yang akan menunjang pembangunan energi terbarukan, pemerintah telah menetapkan langkah strategis yaitu akselerasi peremajaan sawit rakyat,” tutur Suharso.

Langkah tersebut akan direalisasikan dengan lima program. (1) Yaitu melakukan penataan sawit rakyat seluas 2,4 ha; (2) Akselerasi replanting sawit rakyat dengan sumber pembiayaan campuran (APBN, BPDPKS dan dunia usaha); (3) Penerapan good agricultural practices (GAP) untuk peningkatan produktivitas sawit rakyat dan sertifikat ISPO; (4) Integrasi kebun sawit rakyat dengan pengolahan hasil produksi skala kecil; (5) Akselerasi keterkaitan antara basis produksi sawit rakyat dengan distribusi hasil.

Pemerintah berharap, pembangunan energi terbarukan berbasis kelapa sawit dapat mewujudkan kemakmuran masyarakat dan mengurangi ketergantungan kita terhadap energi fosil. Hal itu sangat penting mengingat penggunaan energi terbarukan dapat mengurangi polusi udara dan berbagai pencemaran yang berbahaya bagi manusia.[sm]

Pembangkit Listrik Green Energy Siapkan 1.000 Pekerjaan Baru di Inggris

JAYAKARTA NEWS – Pembangkit listrik green energy (energi ramah lingkungan) akan menjadi primadona di masa depan. Penggunaan energi hijau, bahkan membuka peluang bagi terciptanya lapangan kerja baru, seperti yang dijanjikan oleh sebuah perusahaan penyedia tenaga listrik berbasis energi terbarukan di Inggris.

Perusahaan berbasis energi bersih di Inggris, Octopus Energy Ltd., meyakini akan mampu menciptakan 1.000 pekerjaan pada akhir tahun 2021 mendatang. Perusahaan itu juga siap untuk memperluas teknologinya guna menyederhanakan cara konsumen membeli listrik.

Octopus Energy berambisi untuk membangun “Silicon Valley of Energy” di Inggris. Perusahaan itu juga siap merinci rencananya untuk memperluas platform komputasi clouds (awannya), yang dikenal sebagai Kraken. Tujuannya, untuk mempermudah, sekaligus membuat orang dapat menggunakan energi terbarukan dengan harga yang lebih murah.

Pekerjaan baru akan diberikan terutama untuk lulusan baru, dimana mereka akan menjadi pekerja Octopus pada akhir 2021. Posisi akan tersebar di seluruh situsnya pembangkitnya di London, Brighton, Warwick, dan Leicester. Perusahaan juga akan membangun pusat teknologi, ilmu data dan kecerdasan buatan di Manchester, kawasan utara Inggris.

Perdana Menteri Boris Johnson, yang berupaya untuk mendongkrak industri ramah lingkungan sebagai cara untuk membantu ekonomi Inggris pulih dari pandemi virus korona, menyambut baik pengumuman perusahaan tersebut.

“Perusahaan teknologi Inggris seperti Octopus-lah yang akan memastikan kami terus membangun kembali lebih hijau dan tetap menjadi pemimpin dunia dalam perintis energi terbarukan, memimpin jalan menuju nol bersih sekaligus menciptakan ribuan pekerjaan terampil,” kata Johnson.

Minggu lalu, Octopus Energy yang berusia empat tahun membeli startup AS Evolve Energy sebagai bagian dari dorongan $ 100 juta ke pasar Amerika. Chief Executive Officer Greg Jackson mengatakan teknologi Kraken Octopus memiliki potensi yang sama dengan App Store Apple ketika pertama kali diluncurkan.

“Melalui Kraken, platform energi berbasis cloud kami, kami merevolusi industri energi dengan cara yang sama, menciptakan lapangan kerja, bukan hanya melalui peningkatan permintaan untuk energi terbarukan yang terjangkau, tetapi dengan memfasilitasi pengembangan industri baru dan yang sedang berkembang seperti kendaraan listrik, pemanas listrik dan pertanian vertikal, ”kata Jackson. (bloomberg/sm)

Alogaritma Meningkatkan Efisiensi Produksi Energi PLTB

Presiden Joko Widodo memperhatikan turbin kincir angin usai meresmikan Pembangkit Listirk Tenaga Bayu (PLTB) di Desa Mattirotasi, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Senin 2 Juli 2018. [ant]
RISET alogaritma untuk energi terbarukan yang dilakukan oleh sejumlah peneliti  memberi angin segar, untuk bagaimana meningkatkan efisiensi dalam menghasilkan energi yang bersumber dari tenaga angin.

Para peneliti  di Penn State Behrend dan University of Tabriz, Iran, dikabarkan telah  menyelesaikan algoritma yang dirancang untuk ladang angin pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) yang lebih efisien, sehingga  membantu meningkatkan pendapatan sekaligus sumpai tenaga  listrik terbarukan untuk pelanggan mereka.

Para peneliti menggarisbawahi bahwa untuk  membangun ladang angin yang lebih efisien, perancang harus mempertimbangkan faktor-faktor seperti kecepatan angin dan jarak turbin, serta ukuran tanah, geografi, jumlah turbin, jumlah vegetasi, kondisi meteorologi, biaya pembangunan.

Semua faktor tersebut harus diseimbangkan,  mengingat sulitnya untuk menemukan dan menentukan tata letak yang optimal. Meskipun turbin angin efisien, tata letak ladang angin dapat mengurangi efisiensi ini, apabila  tidak dirancang dengan baik.

“Pemanfaatan energi angin kini sedang meningkat, dan ini tidak hanya terjadi di AS,” kata Mohammad Rasouli, asisten profesor teknik listrik di Penn State Erie, Behrend College.

Mohammad Rasouli, Ph.D

“Efisiensi panel surya kurang dari 25 persen, dan masih menjadi subjek penelitian saat ini. Turbin angin, di sisi lain, jauh lebih efisien dan mengubah lebih dari 45 persen energi angin menjadi listrik, ” katanya menambahkan.

Untuk riset ini, para peneliti tengah berfokus pada satu pendekatan, yang disebut biogeographical-based optimization (optimasi berbasis biogeografisatau BBO). Pendekatan BBO dibuat pada tahun 2008 yang terinspirasi dari alam.

Rasouli menjelaskan, BBO didasarkan pada bagaimana hewan secara alami mendistribusikan diri mereka sendiri untuk memanfaatkan lingkungan mereka berdasarkan kebutuhan mereka. Dengan membuat model matematika dari perilaku hewan, maka dimungkinkan bagi para peneliti untuk menghitung distribusi optimal objek dalam skenario lain, seperti turbin di ladang angin.  “Kami menggunakan  multi-objective approach,” kata Rasouli.

“BBO memiliki fungsi dan kami ingin mengoptimalkannya dengan mempertimbangkan berbagai kendala. Biasanya metode analitik membutuhkan banyak perhitungan, sedangkan metode BBO ini meminimalkan komputasi dan memberikan hasil yang lebih baik, menemukan solusi optimal dengan biaya komputasi yang lebih rendah,” jelas Rasouli.

 

Peneliti lain menggunakan versi sederhana dari pendekatan BBO pada 2017 dan 2018 untuk menghitung tata letak ladang angin yang lebih efisien, tetapi versi yang disederhanakan ini tidak memperhitungkan semua faktor yang memengaruhi tata letak optimal.

Menariknya, para peneliti dari Penn State dan University of Tabriz ini, menyelesaikan pendekatan dengan memasukkan variabel tambahan, termasuk data pasar nyata, kekasaran permukaan dan berapa banyak angin yang diterima setiap turbin.

Tim peneliti juga meningkatkan pendekatan BBO dengan memasukkan model yang lebih realistis untuk menghitung baling-baling (daerah dengan kecepatan sayap lebih lambat yang dibuat setelah angin bertiup melewati turbin) dan menguji seberapa sensitif model itu terhadap faktor-faktor lain seperti suku bunga, insentif keuangan, dan perbedaan dalam biaya produksi energi.

 


“Ini adalah pendekatan optimasi yang lebih realistis dibandingkan dengan beberapa metode penyederhanaan yang ada di luar sana,” ungkap  Rasouli. “Ini akan lebih baik untuk pelanggan, untuk produsen, dan ke ladang angin gaya grid dengan ukuran lebih besar.”

Dengan memasukkan lebih banyak data, seperti catatan meteorologi yang diperbarui dan informasi pabrikan, para peneliti akan dapat menggunakan pendekatan BBO untuk mengoptimalkan tata letak ladang angin di banyak lokasi berbeda, membantu perancang ladang angin di seluruh dunia memanfaatkan tanah mereka dengan lebih baik dan menghasilkan lebih banyak energi untuk memenuhi permintaan energi masa depan dari konsumen.

“Sekarang ini merupakan akhir masa untuk penggunaan bahan bakar fosil,” kata Rasouli. “Dengan metode ini dan yang akan datang atau pendekatan optimasi yang lebih baik, kita dapat menggunakan energi angin dengan lebih baik.”

Kabar baik ini mungkin ada baiknya kalau pemerintah melalui kementrian ESDM mengirim para peneliti Indonesia untuk mempelajari lebih lanjut, agar dapat diaplikasikan di tanah air, yang sekarang ini sudah mulai memanfaatkan energi terbarukan.

 

 

Energi Terbarukan: China Pimpin Ekspansi Energi Surya

 

PENGEMBANGAN energi terbarukan telah  membuat catatan baru, dimana  tenaga surya kini  menjadi makin lebih murah  daripada energi  pembangkit listrik tenaga batubara atau nuklir baru sekalipun. China dan pemain lain di Asia,  melakukan terobosan serius ke pasar untuk energi terbarukan ini.

Menurut Laporan tahunan energi terbarukan global  yang diterbitkan Jaringan Kebijakan Energi Terbarukan untuk abad ke-21 (REN21) belum lama ini,  sebanyak  161 gigawatt (GW) telah dipasang di seluruh dunia pada tahun 2016, sehingga meningkatkan  kapasitas global menjadi hampir 2.017 GW, naik  hampir 9 persen dari tahun 2015. Dan tenaga surya mewakili sekitar 47 persen dari kapasitas itu, dengan tenaga angin mencapai porsi 34 persen,  dan tenaga air sebesar 15,5 persen.

“Dunia menambahkan kapasitas daya terbarukan lebih banyak setiap tahun daripada menambahkan kapasitas baru dari semua bahan bakar fosil yang digabungkan,” kata Arthouros Zervos, ketua REN21.

Generasi surya, khususnya, melonjak di seluruh dunia dengan kecepatan yang jauh lebih cepat dari perkiraan, menurut Global Market Outlook terbaru.

Laporan tersebut —yang diterbitkan setiap tahun oleh asosiasi industri SolarPower Europe— memberikan gambaran menyeluruh mengenai proyek di sektor fotovoltaik. Ini memprediksi booming energi matahari akan terus berlanjut, dengan jumlah  pemanfaatan sistem tata surya baru yang terus meningkat setiap tahun.

Tahun ini, mereka berharap pembangkit mampu menghasilkan tenaga surya sebesar 81 GW untuk ditambahkan pada  produksi energi secara global. Hal itu jika  dibandingkan dengan 77 GW yang ditambahkan pada tahun 2016 dan 50 GW pada tahun 2015. Bayangkan, pada satu dekade sebelumnya, capaiannya  hanya 1 GW.

Jika laju pertumbuhan tidak melambat, demikian  laporan itu memberi catatan, pembangkit tenaga surya bisa berlipat ganda pada akhir 2019 dan tiga kali pada tahun 2021.

 

Cina memimpin jalan?

Cina adalah salah satu kekuatan pendorong di balik ledakan pemanfaatan tenaga surya. Tahun lalu, sekitar 45 persen instalasi tenaga listrik surya baru di dunia dibangun di sana. Amerika Serikat, Jepang dan India juga merupakan pengadopsi teknologi ini, meskipun secara signifikan berada di belakang China.

Jerman, yang pernah dianggap sebagai pelopor energi matahari, tertinggal lebih jauh lagi. Pada 2016, misalnya, dipasang di bawah 2 persen kapasitas surya baru di dunia. Sekarang posisi Jerman ada di peringkat keenam di dunia, setelah menyerahkan posisi teratas ke China pada tahun 2015.

 

Negara-negara Eropa lainnya,  juga telah turun dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2012, lebih dari setengah dari semua sistem energi  surya dipasang di Eropa, tapi bukan itu lagi masalahnya.

“Pemerintah China  secara konsisten telah mempercepat pengembangan energi surya untuk pabrik kecil dan besar, membangun tenaga surya menjadi sektor industri strategis,” James Watson, chief executive SolarPower Europe.

“China telah banyak berinvestasi dalam teknologi ini, karena mengetahui bahwa ini adalah fondasi masa depan pasokan listrik. (Sebenarnya) sepuluh tahun yang lalu, di Eropa dan Amerika Serikat,  juga memiliki kesempatan yang sama untuk melakukan ini.”

 

Berjalan di bawah sinar matahari

Turunnya harga teknologi solar juga mendorong pertumbuhan pemanfaatan energi matahari. Pada 2010, biaya energi matahari mencapai 35 sen per kilowatt hour. Kini, negara dengan banyak sinar matahari, seperti Arab Saudi dan Cile, sedang membangun pembangkit tenaga surya besar yang menghasilkan listrik 2-3 sen per kilowatt hour. Nilai ekonomis semacam bahkan bisa dicapai di Jerman, yang memiliki wilayah I yang tidak mendapatkan sinar matahari hampir sama banyaknya.

“Kami telah mengajukan penawaran untuk sistem tenaga surya yang besar dan kami telah melihat bahwa harga di Jerman sekitar 6 sen per kilowatt jam,” kata Udo Möhrstedt, kepala perusahaan energi Jerman IBC Solar. “Dan di India, pembangkit listrik di proyek kami berharga 4,6 sen.”

Menurut laporan SolarPower Europe, listrik dari pembangkit matahari besar menghabiskan biaya setengah dari pembangkit listrik tenaga batubara dan nuklir baru. Ini juga mendapat keuntungan dari gas.

“Saat ini, proyek pemanfaatan energi surya besar, umumnya lebih murah daripada pembangkit listrik tenaga gas, batubara dan nuklir baru. Dan tenaga surya dari panel atap rumah biasanya juga lebih murah daripada listrik dari grid,” kata Watson.

Laporan REN21 mencatat bahwa grid mini dan sistem energi yang berdiri sendiri berkembang dengan cepat, seperti juga pertumbuhan model bisnis bayar-as-you-go yang didukung oleh teknologi mobile.

Pada tahun 2012, investasi di perusahaan surya yang menggunakan teknologi ini hanya $ 3 juta (2,6 juta euro). Pada tahun 2015, angka itu meningkat menjadi $ 158 juta, dan $ 223 juta pada tahun 2016.

REN21 mengatakan, inovasi dan terobosan teknologi penyimpan energi memberikan fleksibilitas tambahan bagi produsen energi terbarukan. Perusahaan energi konvensional juga tertarik untuk memanfaatkan popularitas matahari yang meningkat dan pergeseran global menuju energi terbarukan. Awal tahun ini, Innogy – salah satu anak perusahaan produsen energi terbesar kedua Jerman RWE—  mengambil alih pengembang surya Belectric Solar & Battery.

Saat diminta untuk menjelaskan langkah tersebut, CEO Innogi Peter Terium mengatakan, bahwa perusahaan tersebut ingin “mengembangkan permintaan energi dan membuka perspektif baru.” Dia menambahkan bahwa proyek fotovoltaik dengan kapasitas total 1.000 megawatt untuk kawasan Teluk sudah berada dalam jalur pipa.

 

Pertumbuhan tak terbendung

Sejauh ini, Eropa, Asia dan Amerika Serikat terutama bertanggung jawab atas perluasan tenaga surya. Selama lima tahun ke depan, menurut laporan Global Market Outlook, pembangkit tenaga surya akan naik tajam  atau bahkan berlipat ganda, di China dan AS. Di Eropa, diperkirakan akan meningkat sekitar 50 persen.

India juga meningkatkan investasinya di bidang solar sejalan dengan rencana untuk menghentikan pembangunan pembangkit listrik tenaga batu bara baru. Laporan itu juga mengatakan, saat ini 10 GW tenaga surya yang terpasang bisa meningkat menjadi sekitar 76 GW dalam lima tahun ke depan.

Negara lain, termasuk Brasil, Meksiko, Aljazair, Mesir, Arab Saudi, Irlandia, Swedia, Turki dan Pakistan, baru saja mulai memasuki pasar ini.

Perjanjian Iklim Paris yang ditandatangani pada tahun 2015 juga telah menambahkan momentumnya. “Memenuhi target Paris membatasi pemanasan global menjadi 1,5 derajat akan membawa upaya besar,” Watson menekankan.

“Pada Konferensi Iklim Paris ada banyak kesadaran yang ditunjukkan oleh pemerintah kita, dan inilah kesadaran yang akan membawa banyak manfaat bagi pembangunan matahari.”

Namun, laporan REN21 memperingatkan bahwa transisi ke energi terbarukan tidak terjadi cukup cepat untuk mencapai tujuan kesepakatan Paris. Dikatakan bahwa investasi di sektor ini telah turun, dengan dana untuk instalasi energi terbarukan baru turun 23 persen dibandingkan tahun 2015.

Di negara berkembang dan emerging markets, investasi energi terbarukan – terutama di angin dan matahari – turun 30 persen menjadi $ 116,6 miliar (103 miliar euro) pada 2016. Di negara maju, investasi turun 14 persen menjadi $ 125 miliar. Laporan REN21 menunjukkan bahwa subsidi untuk bahan bakar fosil dan tenaga nuklir masih “secara dramatis melebihi teknologi terbarukan.”

“Dunia berkejar-kejaran melawan waktu. Hal terpenting yang bisa kita lakukan untuk mengurangi emisi CO2 dengan cepat dan hemat biaya adalah mengurangi batubara dan mempercepat investasi dalam efisiensi energi dan energi terbarukan,” kata Christine Lins, sekretaris eksekutif REN21.

“Ketika China mengumumkan pada  Januari lalu bahwa pihaknya telah membatalkan lebih dari 100 pabrik batubara yang saat ini dalam pembangunan, mereka memberi contoh bagi pemerintah di dunia bahwa  perubahan terjadi dengan cepat ketika pemerintah bertindak —dengan menetapkan sinyal kebijakan dan keuangan yang jelas, jangka panjang dan insentif,” katanya.