4 Desa Wisata di Indonesia Berkelas Internasional, Opsi Untuk Dikunjungi Libur Nataru

JAYAKARTA NEWS – Desa wisata adalah daerah tujuan wisata yang menawarkan daya tarik wisata, fasilitas penunjang, dan kemudahan akses. Desa wisata juga merupakan pengembangan pariwisata yang berfokus pada kontribusi masyarakat dan pelestarian lingkungan. Pengelolaan desa wisata yang baik dapat menggerakkan ekonomi lokal serta mendapatkan apresiasi dari dunia internasional. 

Dikutip dari Laman Kemenparekraf, Senin (9/12/2024), sejak 2020, ada 4 desa wisata di Indonesia mendapat penghargaan Best Tourism Village oleh United Nation Tourism. Keempat desa wisata berkelas internasional di Indonesia itu adalah:

Desa Wisata Nglanggeran

Desa Nglanggeran adalah desa wisata yang berlokasi di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Desa ini terkenal karena keindahan alamnya dan kearifan lokal sehingga tak heran desa Nglanggeran diganjar penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik oleh United Nation Tourism pada tahun 2021 bersama dengan 44 desa dari 32 negara lainnya. 

Foto: Desa wisata nglanggerann, menaiki sapi yang sedang membajak sawah (jadesta.kemenparekraf.go.id)

Keunggulan desa Nglanggeran adalah keberadaan Gunung Api Purba Nglanggeran yang merupakan salah satu geosite di kawasan Gunung Sewu UNESCO Global Geopark. Gunung ini memiliki ketinggian 700 meter  dengan luas kawasan pegunungan mencapai 48 hektar di atas permukaan laut dan menawarkan pemandangan matahari terbit dan terbenam. 

Desa Wisata Nglanggeran memiliki tata kelola yang cukup mapan karena masyarakatnya intens berinovasi mengembangkan desa wisata sejak tahun 2007 diantaranya dengan membuat paket wisata edukasi.

Desa Wisata Penglipuran

Desa Penglipuran adalah salah satu desa adat dari Kabupaten Bangli, Bali. Desa Penglipuran terkenal sebagai salah satu destinasi wisata di Bali karena masyarakatnya yang masih menjalankan dan melestarikan budaya tradisional Bali dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Foto: Keunikan desa wisata penglipuran yang sangat bersih untuk di nikmati (indonesia.tavel)

Seperti desa adat lain di Bali, desa Penglipuran memiliki ritual keagamaan yang terus dijalankan. Setiap 15 hari sekali, masyarakat di desa Penglipuran akan datang ke Pura Penataran untuk bersembahyang. Karena masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur nenek moyang, desa Penglipuran terpilih menjadi salah satu dari Best Tourism Villages 2023. 

Desa Wisata Jatiluwih

Desa Jatiluwih merupakan sebuah desa di  kaki gunung Batukaru, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Bali. Tempat ini terkenal dengan wisata alam padi rice terrace dengan suasana yang sejuk karena terletak di ketinggian 700 meter dari permukaan laut. Tempat ini menyajikan keindahan sawah yang berundak-undak terutama jika dinikmati di sore hari sambil menyaksikan matahari terbenam.

Foto: Desa wisata jatiluwih sebuah permata geografis dan budaya yang tersembunyi di lereng Batukaru (jadesta.Kemenparekraf.go.id)

Sawah di desa Jatiluwih menggunakan sistem pengairan subak yaitu sistem pengairan tradisional Bali yang berorientasi masyarakat. Setiap subak memiliki organisasi sendiri-sendiri dengan ketua yang disebut Pekaseh, serta memiliki pura tempat memuja dewi kemakmuran atau dewi kesuburan. Pada tahun 2012, Subak Jatiluwih resmi ditetapkan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.

Prestasi terkini yang diraih oleh desa Jatiluwih adalah predikat Best Tourism Villages oleh UN Tourism  di tahun 2024 bersama dengan desa wisata Wukisari di D.I. Yogyakarta.

Desa Wisata Wukirsari

Desa Wukirsari yang berada di kabupaten Bantul, DI Yogyakarta memiliki kekayaan budaya dan tempat wisata seperti embung Imogiri yang berbentuk mirip gunungan wayang dan Bukit Bego yang mempunyai panorama yang indah. Selain keindahan alam dan kekayaan budaya, di desa Wukirsari juga bisa ditemui produk-produk ekonomi kreatif masyarakat sekitar seperti batik tulis. 

Foto: Menampilkan potensi produk lokal Wukirsari, yang diadakan setiap tahun bertepatan dengan harijadi Wukirsari (jadesta.Kemenparekraf.go.id)

Sentra batik tulis di desa Wukirsari yang ada di Kampung Giriloyo biasa dikunjungi berbagai sekolah dan kampus untuk belajar seputar batik. Hal ini tidak mengherankan karena sebagian besar warganya bekerja sebagai perajin batik.

Itulah empat desa wisata di Indonesia yang meraih penghargaan Desa Wisata Terbaik dari UN Tourism. Desa wisata ini bisa menjadi opsi untuk dikunjungi pada masa liburan Natal dan Tahun Baru.***/mel

5 Desa Wisata di Lombok yang Menawarkan Pengalaman Tak Terlupakan

JAYAKARTA NEWS – Perhelatan MotoGP di Sirkuit Mandalika menjadi magnet baru bagi wisatawan untuk mengunjungi Lombok, Nusa Tenggara Barat. Wisatawan bisa menonton balapan motor sekaligus menikmati bentangan alam yang indah.

Selain pantai dan gunung yang indah, wisatawan juga bisa belajar mengenai kekayaan budaya Lombok yang tidak kalah menarik. Jika tertarik dengan wisata alam dan budaya sekaligus, Lombok memiliki desa wisata yang menawarkan pengalaman autentik dan khas.

Berikut lima desa wisata yang patut dikunjungi di Lombok, dikutip dari Laman Kemenparekraf, Rabu (25/9/2024).

Foto: Seorang Warga Lokal sedang duduk di depan rumah adat Desa Sasak Sade (Wonderfull Images)

1. Desa Sade

Desa Sade adalah salah satu Desa Adat Suku Sasak, yang merupakan suku asli di Pulau Lombok. Di sini, pengunjung dapat melihat rumah-rumah tradisional dengan atap berbentuk unik, tersusun dari ilalang yang harus diganti setiap 8 tahun sekali. Lantai dari tanah, yang secara berkala dilulur dengan kotoran kerbau atau sapi agar tidak retak-retak dan berdebu.

Selain itu, menarik untuk melihat kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Desa ini terkenal dengan kerajinan tenun ikatnya dan teknik pembuatan kain tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.

Jika menonton MotoGP, Desa Sade wajib masuk dalam daftar kunjungan karena letaknya yang tidak jauh dari Sirkuit Mandalika.

2. Desa Sukarara

Masih di sekitar Lombok tengah dan tidak jauh dari Sirkuit MotoGP Mandalika, bisa kunjungi Desa Sukarara. Desa wisata ini merupakan pusat kerajinan tenun ikat Lombok. Di sini, pengunjung dapat melihat langsung proses pembuatan tenun ikat, mulai dari menyiapkan benang hingga teknik menenun yang rumit.

Jika berkunjung kesini jangan kaget kalau di setiap rumah pasti banyak wanita yang duduk di depan rumah sambil menenun. Menenun adalah kegiatan sehari-hari kaum wanita Desa Sukarara, dan sudah menjadi tradisi mendarah daging bagi wanita penduduk desa.

Desa ini juga menawarkan kesempatan untuk membeli kain tenun ikat yang berkualitas tinggi dan menjadi bagian dari upaya pelestarian seni tradisional Lombok.

Foto: Seorang Warga sedang Menenun Kain Khas Desa Sasak Sade (Wonderfull Images)

3. Desa Banyumulek

Di sebelah barat Lombok, tepatnya di Kecamatan Kediri, ada Desa Banyumulek. Desa wisata ini terkenal dengan kerajinan tembikar atau gerabah tradisionalnya. Masyarakat desa ini telah memproduksi gerabah sejak lama, dan pengunjung dapat melihat proses pembuatan kerajinan ini secara langsung.

Masyarakat Banyumulek mempertahankan cara-cara tradisional dalam memproduksi gerabah dan menjadi sebuah kearifan lokal yang asli dan lestari. Jika ingin melihat proses pembakaran gerabah, wisatawan disarankan datang pada jam 10 pagi karena pembakaran gerabah dimulai pada jam 11 sampai selesai. Bisa membeli produk jadi gerabah dari desa ini sebagai oleh-oleh.

4. Desa Tetebatu

Gunung Rinjani juga menjadi destinasi populer di Lombok. Di kaki Gunung Rinjani dengan ketinggian 700 MDPL, ada Desa Wisata Tetebatu yang menawarkan pemandangan alam, termasuk sawah bertingkat dan hutan tropis.

Desa ini merupakan tempat yang ideal untuk trekking dan menikmati keindahan alam. Pengunjung juga dapat berinteraksi dengan petani lokal dan belajar tentang cara tradisional bertani padi serta membuat kopi khas Lombok. Desa ini merupakan salah satu Desa yang mewakili Indonesia di ajang World Best Tourism Village UNWTO 2021.

5. Desa Senaru

Desa Senaru merupakan pintu gerbang menuju Taman Nasional Gunung Rinjani yang lokasinya berada di sebelah utara Lombok. Selain menjadi lokasi awal pendakian Gunung Rinjani, desa ini juga menawarkan keindahan alam yang memukau, termasuk air terjun Tiu Kelep dan Sendang Gile, yang airnya bersumber dari Danau Segara Anak.

Di sini, Pengunjung dapat menikmati udara segar pegunungan dan berinteraksi dengan masyarakat setempat yang ramah. Wisatawan juga bisa menyaksikan Kampung Tradisional Senaru yang merupakan salah satu rumah adat paling tua di Lombok. Rumah adat itu terbuat dari atap rumbia, pagar bedek, dan beralas tanah liat.

Itu dia daftar desa wisata yang bisa dikunjungi untuk mengisi kegiatan selain menonton MotoGP di Mandalika. Mengunjungi desa-desa ini akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan dan memperkaya pengetahuan tentang kehidupan masyarakat Lombok.***/mel

Kemenparekraf Perkuat Peran Masyarakat dalam Pengembangan Potensi Desa Wisata

MAGELANG, JAYAKARTA NEWS – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) terus berupaya meningkatkan peran dan partisipasi masyarakat khususnya desa wisata dalam pengembangan potensi pariwisata dan ekonomi kreatif sehingga dapat memberikan dampak yang besar terhadap kebangkitan ekonomi dan terbukanya lapangan kerja bagi masyarakat. 

Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf Martini M. Paham saat membuka kegiatan “Sosialisasi Sadar Wisata 5.0” di Desa Wisata Sawitan, Minggu (25/6/2023), mengatakan, sumber daya manusia merupakan faktor penting dalam peningkatan kualitas dan pengembangan satu destinasi. 

“Ada tiga komponen penting dalam pengembangan satu destinasi, yakni atraksi, amenitas dan aksesibilitas atau yang bisa disebut 3A. Tapi tiga komponen ini tidak akan bisa berarti kalau human resource-nya atau sumber daya manusia tidak diangkat kualitasnya atau ditingkatkan peranannya,” kata Martini Paham. 

Untuk itu, kata Martini, Kemenparekraf bekerja sama dengan World Bank dalam menyelenggarakan program “Sosialisasi Sadar Wisata” yang merupakan bagian dari payung program “Kampanye Sadar Wisata” guna mendorong peningkatan partisipasi aktif masyarakat dalam pengembangan pariwisata di desanya. 

Acara yang berlangsung pada 24 hingga 25 Juni 2023 ini secara khusus mendorong peningkatan pemahaman masyarakat tentang pentingnya penerapan Sapta Pesona, Pelayanan Prima, CHSE, pengelolaan homestay, perencanaan bisnis serta manajemen konflik. Selain Desa Wisata Sawitan, kali ini kegiatan juga berlangsung di Desa Wisata Tegalarum, Desa Wisata Bumiharjo, Desa Wisata Rambeanak, Desa Wisata Wringinputih, dan Desa Wisata Kembanglimus. 

Di tahun ini Kampanye Sadar Wisata secara keseluruhan akan berlangsung di 90 Desa Wisata di 6 Destinasi Pariwisata Prioritas yakni: Danau Toba, Borobudur Yogyakarta Prambanan, Bromo Tengger Semeru, Lombok, Labuan Bajo, dan Wakatobi.

“Ini peluang yang sangat bagus bagi kita untuk belajar. Peran kita harus terus dijaga supaya kita sama-sama bisa memajukan destinasi, mempromosikan, dan juga memenuhi pendekatan kualitas yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Martini. 

Pemilihan desa wisata sebagai lokasi sasaran program tidak lepas dari peran desa wisata sebagai pandemic winner. Desa wisata tumbuh menjadi destinasi pariwisata yang mampu menawarkan pengalaman otentik. Selain beraktivitas di alam terbuka, wisatawan bisa sembari belajar budaya dan nilai kearifan lokal masyarakat desa. 

Pembangunan desa wisata tidak lagi sebatas bertujuan untuk mendorong pertumbuhan jumlah kunjungan, namun kualitas kunjungan menuju pembangunan pariwisata berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat lokal. 

Martini berharap para peserta sosialisasi dapat memaksimalkan kegiatan ini dan menjadi duta dalam pengembangan pariwisata di daerahnya dengan menyebarluaskan ilmu yang didapat kepada masyarakat yang lain. 

“Bisa menjadi tuan rumah yang baik karena saya yakin salah satu modal utama pariwisata Indonesia adalah manusia-manusianya. Silakan tularkan kepada teman-teman semua, ceritakan kepada keluarga apa yang didapatkan dari acara yang luar biasa ini,” ujar Martini. 

Plt. Kepala Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Magelang, S. Achmad Husein, di kesempatan yang sama berharap kegiatan ini dapat berdampak langsung terhadap peningkatan jumlah Kelompok Sadar Wisata di Kabupaten Magelang. Saat ini, dari 57 desa wisata di Kabupaten Magelang, belum sepenuhnya memiliki Pokdarwis. 

Oleh karena itu, pihaknya akan mempererat sinergi dan kolaborasi untuk mendorong terwujudnya lebih banyak Pokdarwis di wilayah Magelang.

“Pariwisata merupakan sektor yang menjanjikan dan dapat memberikan manfaat pembangunan yang luas serta berkelanjutan bagi masyarakat sehingga membutuhkan kerja sama, kerja kolektif dari berbagai pihak,” ujar Achmad Husein.  

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno di kesempatan terpisah mengatakan “Kampanye Sadar Wisata” merupakan salah satu program unggulan Kemenparekraf dalam peningkatan sumber daya manusia. 

“Para pelaku pariwisata harus mampu menyesuaikan diri dan menjawab keinginan dan kebutuhan spesifik dari para wisatawan saat ini,” ujar Menparekraf Sandiaga. 

Melalui ini kegiatan ini diharapkan melahirkan para penggerak pariwisata dalam pengembangan pariwisata di desa. Menumbuhkembangkan pariwisata dan ekonomi kreatif Indonesia yang maju, berdaya saing, berkelanjutan, serta mengedepankan kearifan lokal yang ditopang dengan keberadaan SDM yang andal dan berdaya saing. 

“Desa wisata menjadi unggulan dalam pencapaian target terciptanya 4,4 juta lapangan kerja di tahun 2024. Juga menopang target 8,5 juta kunjungan wisman dan 1,4 miliar pergerakan wisatawan nusantara,” ujar Menparekraf Sandiaga.***/mel

Tiga Desa Wisata Sumut Raih Penghargaan ADWI 2022

JAYAKARTA NEWS – Tiga Desa Wisata di Sumatera Utara (Sumut) berhasil meraih penghargaan di ajang malam Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) sebagai daftar desa terbaik.

Tiga desa itu yakni Desa Wisata Hilisimaetano di Kabupaten Nias Selatan meraih lima besar kategori Homestay, Desa Wisata Kampung Warna-Warni Tigarihit Kabupaten Simalungun meraih lima besar kategori Cleanliness (kebersihan), Health (kesehatan), Safety (keamanan), dan Environment Sustainability (kelestarian lingkungan) atau disebut CHSE dan Desa Wisata Buluh Duri di Kabupaten Serdang Bedagai memboyong dua penghargaan sekaligus yaitu sebagai Desa Wisata Terfavorit dengan jumlah 140.000 like terbanyak dan kategori Desa Wisata Digital dan Kreatif.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi (Disbudpar) Sumatera Utara, Zumri Sulthony di Jakarta, Minggu malam (30/10/2022) mengatakan keberhasilan ketiga desa wisata di Sumut ini bisa menjadi contoh dan motivasi, agar dapat juga mengembangkan potensi desa lainnya di 33 Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Yang mana dampak positifnya nanti dapat meningkatkan perekonomian dan kesejahteraaan masyarakat sekitar.

“Penghargaan yang diraih ini kami harap dapat memotivasi desa wisata lainnya di Sumatera Utara agar dapat memanfaatkan potensi-potensi yang ada, baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusianya,” ujar Kadisbudpar Sumut.

Zumri juga menambahkan agar prestasi seperti ini dapat lebih ditingkatkan dan dipertahankan. “Kita berharap semoga capaian prestasi atas ketiga desa wisata ini dapat ditingkatkan di masa yang akan datang untuk kepariwisataan keberlanjutan,” tegasnya.

Malam penanugerahan ADWI 2022 yang digelar di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Minggu malam (30/10/2022) yang dihadiri langsung Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian tersebut merupakan bentuk apresiasi atas keberhasilan desa wisata dalam mengembangkan Desa Wisata  berkelanjutan, berdaya saing global, dan berkelas dunia.

Ada 7 kategori penilaian, yakni daya tarik, homestay, toilet, suvenir, CHSE, digital dan konten kreatif serta kelembagaan. Selain itu, akan ada pemenang 3 klasifikasi desa wisata yaitu rintisan, berkembang dan maju.

Rangkaian Malam Puncak Anugerah Desa Wisata Indonesia 2022 dimulai dari Minggu pagi, 30 Oktober 2022. Kegiatan diawali dengan lari bersama para perwakilan 50 desa wisata yang diundang ke Jakarta, mulai dari para kepala daerah (Gubernur, Bupati/Wali Kota), perwakilan dinas pariwisata dari 34 provinsi serta komunitas lari di Jakarta.

Ada juga pameran produk ekonomi kreatif dari 50 Desa Wisata ADWI di halaman depan Gedung Sapta Pesona dan malamnya dilanjutkan dengan pengumuman penghargaan ADWI. (*/Monang Sitohang)

Melongok Desa Wisata Kandri Gunungpati

DESA wisata adalah sebuah kawasan pedesaan yang memiliki beberapa karakteristik khusus untuk menjadi daerah tujuan wisata. Di kawasan ini, penduduknya masih memiliki tradisi dan budaya yang relatif masih asli. Selain itu, beberapa faktor pendukung seperti makanan khas, sistem pertanian dan sistem sosial turut mewarnai sebuah kawasan desa wisata.

Di luar faktor-faktor tersebut, alam dan lingkungan yang masih asli dan terjaga. Saat ini, Kota Semarang memiliki tiga buah kawasan desa wisata yang tersebar di berbagai wilayah Gunung Pati dan Mijen Kota Semarang. Desa-desa wisata tersebut adalah desa wisata Kandri, Wonolopo, dan Nongkosuwit.

Desa Kandri berada di Kecamatan Gunung Pati  Kotamadia Semarang dan merupakan desa yang masih alami dengan pemandangan alam serta keindahannya.

Desa ini merupakan desa wisata karena mempunyai banyak potensi mulai dari alam sampai dengan budaya aslinya yang masih dilestarikan. Terdapat juga kerajinan batik, sulam, serta budidaya belut. Selain itu, ada juga beberapa tempat wisata terkenal di Desa kandri salah satunya adalah Goa Kreo dan Waduk Jatibarang.

Letaknya yang berada di dataran tinggi, mempunyai hawa yang sejuk karena berada di dekat gunung Ungaran. Desa Wisata Kandri terbagi menjadi 4 RW dan total ada 26 jumlah RT. Dari keempat RW tersebut mempunyai ciri khas nya masing-masing. Seperti ada yang namanya wisata edukasi yang akan dijadikan sebagai kampung Inggris dan pendidikan alam.

Ada RW untuk area perkebunan yang dilengkapi dengan aneka buah. Dimana juga bisa dijadikan sebagai tempat untuk outbond. Kemudian Rw berikutnya sebagai kawasan budaya, sebelumnya untuk pementasan kesenian berupa wayang kulit, wayang suket, ketoprak, jathilan, dan kesenian lesung.

Ada RW yang banyak warung makanan khas sebagai wisata kuliner. Jalur ke sini bila dari pusat Kota Semarang langsung saja menuju arah barat sampai di bundaran Kalibanteng belok ke kiri. Ikuti terus saja jalannya ambil arah ke daerah Gunung Pati, lihat petunjuk arah yang tersedia di sepanjang jalan. Dengan kendaraan pribadi kurang lebih 30-45 menit dari pusat Kota Semarang. ***