Presiden Pastikan Kebutuhan para Pengungsi Tercukupi

JAYAKARTA NEWS – Presiden Joko Widodo pada kunjungan kerjanya ke Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Jumat, 9 April 2021, mengunjungi Desa Amakaka, Kecamatan Ile Ape, yang merupakan salah satu lokasi terdampak bencana yang disebabkan oleh siklon tropis Seroja.

Di lokasi itu, Kepala Negara bersama jajaran terkait meninjau dampak kerusakan di desa yang terletak di Kabupaten Lembata tersebut. Kabupaten Lembata diketahui sebagai salah satu wilayah yang terdampak paling parah akibat banjir bandang yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Siang hari ini saya berada di Desa Amakaka di mana bencana banjir bandang yang ada di Kabupaten Lembata ini korbannya paling banyak,” ujar Presiden.

Atas nama pribadi dan mewakili pemerintah, Kepala Negara menyampaikan belasungkawa kepada para korban bencana. Presiden mendoakan agar arwah mereka diterima di sisi Tuhan dan diberikan tempat terbaik.

“Saya, secara pribadi dan mewakili pemerintah, mengucapkan duka yang mendalam atas korban yang ada. Semoga arwahnya diterima di sisi Tuhan, diberikan tempat yang terbaik, dan yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan kesabaran,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga mengunjungi warga setempat yang kini tengah berada di lokasi pengungsian di Kantor Kecamatan Ile Ape. Di sana Kepala Negara menemui para pengungsi dan ingin memastikan bahwa segala kebutuhan warga telah tercukupi. Presiden juga mendengarkan sejumlah keluhan masyarakat setempat yang nantinya akan ditindaklanjuti selama proses penanganan.

“Untuk pengungsian juga sudah dipastikan untuk logistiknya cukup. Hanya tadi ada dari masyarakat menyampaikan bahwa BBM-nya mahal. Saya terima (masukannya),” tuturnya.

Presiden Joko Widodo mengunjungi Lembata, Nusa Tenggara Timur (9/4/2021). (foto: Setpres)

Melalui kunjungan dan peninjauan ini, Presiden Joko Widodo telah berbicara dengan Gubernur NTT Viktor Laiskodat dan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur mengenai penanganan dan pemulihan pascabencana di wilayah setempat. Atas persetujuan masyarakat, warga di lokasi terdampak bencana ini nantinya akan direlokasi di mana proses pembangunannya akan segera dilakukan secepat-cepatnya.

Selain itu, Presiden juga telah memerintahkan agar proses pencarian di tengah medan berbatuan yang menyulitkan pengoperasian alat berat untuk tetap dilakukan.

“Sampai siang hari ini, total korban di Nusa Tenggara Timur ada 163 yang meninggal dan masih dalam pencarian 45 orang. Ini yang akan terus kita usahakan agar yang dalam pencarian tadi bisa segera ditemukan. Kalau kita lihat di lapangan memang keadaannya berbatuan, batu yang besar-besar, yang itu sangat menyulitkan alat-alat berat kita. Tetapi tadi sudah saya perintahkan untuk terus dicari dan ditemukan yang masih hilang,” ujarnya.

Bupati Lembata, Eliaser Yentji Sunur, sebelumnya juga telah menetapkan status tanggap darurat penanganan bencana banjir bandang, longsor, dan gelombang pasang yang terjadi di wilayahnya. Status tersebut ditetapkan terhitung mulai tanggal 4 hingga 17 April 2021 mendatang untuk mempercepat proses pemulihan wilayah setempat selepas bencana.

Untuk diketahui, Kepala Negara beserta rombongan terbatas tiba di Kabupaten Sikka sekira pukul 09.38 WITA. Setelahnya, Presiden langsung bergerak mengunjungi wilayah di Kecamatan Ile Ape dengan menggunakan helikopter Super Puma TNI AU menuju Bandar Udara Wonopito, Kabupaten Lembata, untuk kemudian menempuh perjalanan melalui jalur darat sampai di lokasi.

Mendampingi Presiden dalam peninjauan di antaranya ialah Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Kepala BNPB Doni Monardo, Kepala Basarnas Henri Alfiandi, Gubernur NTT Viktor Laiskodat, dan Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur. (*/rr)

Sebanyak 10 Warga Nganjuk Masih Dalam Pencarian Pascalongsor

JAYAKARTA NEWS— Tim gabungan masih melakukan pencarian 10 warga yang tertimbun di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Peristiwa ini terjadi, salah satunya dipicu oleh intensitas hujan sedang hingga tinggi, pada Minggu (14/2), pukul 18.30 WIB.

Tim gabungan dari sejumlah unsur melakukan pencarian warga yang masih dinyatakan hilang. Data Pusat Pengendali Operasi BPBD Kabupaten Nganjuk per Senin (15/2), pukul 20.00 WIB, melaporkan bahwa 9 warga telah ditemukan dengan kondisi meninggal dunia, sedangkan total korban yang mengalami luka-luka berjumlah 16 warga. Mereka yang mengalami luka-luka telah mendapatkan perawatan medis dari puskesmas.

Sebanyak 54 KK atau 175 jiwa terdampak, sedangkan 156 jiwa mengungsi ke rumah kepala desa dan kerabat dekat. Sedangkan kerusakan bangunan, sebanyak 8 unit rumah rusak berat.

Dalam mendukung pencarian korban hilang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mengerahkan 5 alat berat. Berdasarkan hasil evaluasi, tim gabungan akan memanfaatkan alat berat yang terbagi ke dalam tiga sektor pencarian. BPBD Kabupaten Nganjuk bersama unsur terkait juga mengoperasikan dapur umum dan pelayanan di pos pengungsian.

Penanganan darurat memperhatikan keamanan responder, khususnya para sukarelawan. Pihak berwenang melakukan pengecekan di pintu masuk wilayah terdampak. Salah satunya untuk menghindari dampak potensi longsor susulan maupun penerapan protokol kesehatan dalam penanganan darurat. Kondisi di lapangan terpantau hujan dengan intensitas ringan.

Unsur-unsur yang terlibat dalam penanganan darurat antara lain BPBD setempat, BPBD Provinsi Jawa Timur, TNI, Polri, SAR Trenggalek, Dinas Kesehatan, PUPR dan Satpol PP Kabupaten Nganjuk, forkopincam, PMI, Tagana, sukarelawan dan warga masyarakat.***ebn

Jatim Kirim Bantuan untuk Korban Bencana Sulbar dan Kalsel

JAYAKARTA NEWS—-Pemprov Jatim akan mengirimkan bantuan untuk korban bencana alam di Sulawesi Barat dan Kalimantan Selatan melalui KRI Banda Aceh, Selasa (26/1/2021).

Pada Senin (25/1/2021) kemarin, dilakukan proses loading barang bantuan pemprov ke KRI Banda Aceh. KRI Banda Aceh akan berangkat dari Surabaya menuju Banjarmasin (Kalsel) pada Selasa (26/1/2021) pukul 13.00 WIB. Perkiraan tiba di Banjarmasin pada Rabu (27/1/2021) pukul 08.00 WITA.

Kemudian, KRI Banda Aceh meneruskan perjalanan ke Mamuju, Sulbar pada Kamis (28/1/2021) pukul 16.00 WITA. Perkiraan tiba di Mamuju pada Minggu (31/1/2021) pukul 07.00 WITA.

Untuk penanganan bencana banjir di Kalsel, pemprov mengirimkan bantuan beras 10 ton dan dana senilai Rp1 miliar.

Sedangkan, untuk penanganan gempa di Sulbar, pemprov mengirimkan bantuan beras 10 ton, dana senilai Rp 1 miliar, mie instan 500 dos, biskuit 1000 pcs, teh celup 1000 box, pampers 400 pack, gula pasir 500 kg, pembalut wanita 500 pack, sabun mandi 500 pcs, shampoo 366 botol, pasta gigi 500 pcs, sikat gigi 200 pcs, handuk 200 pcs, pakaian dalam 351 pcs dan selimut 34 pcs.

“Teruntuk saudara-saudara kami di Sulawesi Barat dan Kalimantan Selatan yang tengah tertimpa musibah bencana gempa dan banjir. Sedikit bantuan yang kami kirimkan ini semoga bisa membantu meringankan beban dan duka saudara-saudara sekalian,” kata Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa di akun Instagram pribadinya, khofifah.ip, Senin (25/1/2021).

“Tetap semangat untuk kembali bangkit dari masa-masa sulit ini. Dan, semoga Allah SWT selalu melindungi bangsa dan negara ini. Aamiin,” imbuh Khofifah.

Berbagai bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini di Indonesia, seperti banjir di Kalimantan Selatan (Kalsel) dan gempa bumi di Sulawesi Barat (Sulbar). Hal ini mendorong berbagai pihak di Jatim untuk terus memberikan kontribusi dan bantuan bagi para korban.

Sekadar diketahui, bantuan 20 ton beras untuk Sulbar dan Kalsel itu datang dari PT Jaya Kirana Sakti. Bantuan tersebut diserahkan kepada Pemprov Jatim, untuk kemudian akan didistribusikan kepada para korban bencana alam di Kalsel dan Sulbar.

Bantuan tersebut diterima langsung oleh Sekdaprov Jatim, Heru Tjahjono di halaman depan Kantor Gubernur Jatim, Jalan Pahlawan 110 Surabaya, Selasa (19/1/2021). Penyerahan bantuan ini disambut baik oleh Sekdaprov Jatim. 

Mewakili gubernur, ia menyampaikan terima kasih. Menurutnya, bantuan ini akan didistribusikan kepada para korban bencana alam di Kalsel dan Sulbar.

Heru mengatakan, sesuai arahan Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, Pemprov Jatim juga akan memberikan bantuan untuk dua daerah tersebut berupa uang masing-masing sebesar Rp1 miliar.

Sementara itu, Direktur Utama PT Jaya Kirana Sakti, Gagah Eko Wibowo, mengatakan, dalam satu minggu ini di Indonesia mengalami rangkaian bencana alam baik di Kalsel dan Sulbar. Untuk itu, pihaknya tergerak untuk memberikan sumbangsih untuk korban bencana.

Tidak hanya itu, 20 ton beras bantuan tersebut merupakan hasil dari para petani di Kediri dan termasuk program pemulihan  ekonomi dampak Covid-19.

“Kami mendengar Pemprov Jatim melalui BPBD akan mendistribusikan bantuan untuk daerah tersebut. Beras yang kami berikan ini berupakan beras dari petani kediri yang merupakan program pemulihan ekonomi. Semoga usaha kami ini bisa sedikit memberikan sumbangsih bagi korban bencana alam,” pungkasnya. (poedji)

Gunung Semeru Luncurkan Awan Panas, Ratusan Warga Mengungsi

JAYAKARTA NEWS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang melaporkan sebanyak 550 warga mengungsi setelah Gunung api Semeru mengeluarkan awan panas guguran. Gunung yang berada di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, mengeluarkan awan panas guguran pada Selasa (1/12), pukul 01.23 WIB.

Berdasarkan data sementara pada Selasa (1/12), pukul 09.00 WIB, pengungsian tersebar di dua titik, yaitu di pos pantau sebanyak 300 jiwa, sedangkan sisanya di Desa Supiturang. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Lumajang mencatat sejumlah kebutuhan mendesak, seperti makanan siap saji, dapur umum dan masker.

Lokasi yang berpotensi terdampak aktivitas vulkanik yaitu Desa Supiturang, Desa Oro-oro Ombo dan Rowobaung di Kecamatan Pronojiwo, serta Desa Sumberwuluh di Kecamatan Candipuro. Sejumlah desa tersebut berada Kabupaten Lumajang.

Sinergi upaya penanganan darurat dilakukan oleh berbagai pihak. Penanganan darurat yang dipimpin oleh BPBD Kabupaten Lumajang membuka pos pengungsian lapangan di Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Di samping itu, untuk menghindari abu vulkanik dan penerapan protokol kesehatan, BPBD dan dinas kesehatan membagikan 4.000 masker, sedangkan dinas sosial mempersiapkan operasional dapur umum. Pihak lain, seperti TNI, Polri dan dinas terkait, turut mendukung penanganan darurat di lapangan.

PVMBG merekomendasikan beberapa poin sebagai berikut, pertama, masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 1 km dan wilayah sejauh 4 km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif yang merupakan wilayah bukaan kawah aktif Gunung Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas, dan kedua,  mewaspadai gugurnya kubah lava di Kawah Jongring Seloko.

Status aktivitas vulkanik Gunung Semeru berada pada level II atau ‘Waspada.’

Melihat secara kronologi, secara visual pada periode 1 Oktober hingga 30 November 2020, gunung api terlihat jelas hingga tertutup kabut. Teramati asap kawah utama berwarna putih dan kelabu dengan intensitas tipis hingga sedang tinggi sekitar 50-500 meter dari puncak.

Erupsi terjadi menerus dan menghasilkan kolom erupsi berwarna kelabu dengan tinggi maksimum 500 m dari atas kawah/puncak. Guguran batuan dari arah puncak terjadi tidak menerus sejak 19 Oktober 2020.

Pada 28 November terjadi kenaikan jumlah guguran secara signifikan diikuti oleh kejadian awan panas guguran yang berasal dari ujung lidah lava dengan jarak luncur maksimum 1 km ke sektor tenggara lereng.

Pada 1 Desember 2020 mulai pukul 01.23 WIB, teramati awan panas guguran dari kubah puncak, dengan jarak luncur 2 hingga 11 Km ke arah Besok Kobokan di sektor tenggara dari puncak Gunung Semeru.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Lumajang untuk mendapatkan perkembangan terkini paska awan panas guguran yang terjadi dini hari tadi. (*/rr)

Longsor Banyumas, Lima Orang Tewas

JAYAKARTA NEWS – Lima warga dari Kecamatan Sumpiuh, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah meninggal dunia akibat tanah longsor. Peristiwa tersebut terjadi pada Selasa (17/11), pukul 02.00 WIB. Keempat korban berhasil dievakuasi oleh petugas sedangkan satu lainnya masih dalam proses evakuasi, dilaporkan pada pukul 21.00 WIB.

Tak hanya korban jiwa, tanah longsor mengakibatkan 4 unit rumah rusak berat. Bencana yang terjadi dini hari ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi serta kontur tanah yang terjal. Dua desa yang terdampak di Kecamatan Sumpiuh ini adalah Desa Bogangin dan Banjarpanepen.

Tim Reaksi Cepat (TRC) Kabupaten Banyumas segera melakukan proses evakuasi kepada para korban pascakejadian longsor. Saat melakukan proses evakuasi, petugas gabungan dari BPBD, SAR, TNI, Polri, sukarelawan dan warga mengalami kendala. Medan terdampak sulit untuk dijangkau para petugas karena akses jalan utama ke lokasi tertutup material longsor.

Setelah proses evakuasi berlangsung, BPBD dan warga setempat membersihkan material longsor. Pembersihan dilakukan dengan dukungan alat berat. Merespons kejadian ini, Bupati Banyumas telah meninjau lokasi dan memberikan arahan penanganan darurat kepada para petugas.

Berdasarkan analisis InaRISK, Kabupaten Banyumas termasuk wilayah dengan kategori kelas bahaya sedang hingga tinggi untuk tanah longsor. Sebanyak 22 kecamatan berada pada kawasan bahaya pada kategori tersebut, salah satunya Kecamatan Sumpiuh. Dilihat dari konteks risiko, sebanyak 126.734 jiwa merupakan populasi yang terpapar potensi bahaya tanah longsor di kabupaten ini.

Sementara itu, berdasarkan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kecamatan Sumpiuh berpeluang hujan ringan hingga lebat dalam dua hari ke depan atau 18 – 19 November 2020. Masyarakat diimbau untuk waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, banjir bandang maupun tanah longsor.

Masyarakat dapat memantau prakiraan cuaca harian hingga tingkat kecamatan melalui aplikasi Info BMKG sehingga setiap keluarga dapat mempersiapkan diri dan mampu terhindar dari bahaya. (*/rr)

Mamuju Diguncang Gempa, Warga Panik

JAYAKARTA NEWS – Gempa dengan magnitudo 5,1 terjadi pada hari ini, Sabtu (7/11/2020), sekitar pukul 06.41 WIB. Guncangan gempa yang terjadi pada pagi hari itu sempat membuat warga Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, panik.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mamuju Tengah masih memantau situasi di lapangan pascagempa. Sekretaris BPBD setempat Awal menyebutkan bahwa gempa dirasakan kuat.

“Warga di daerah pesisir sempat panik, belum ada laporan kerusakan. Tim Reaksi Cepat BPBD sedang memonitor di lapangan,” ujar Awal melalui pesan digital, Sabtu (7/11/2020).

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis parameter gempa M5,1 dengan kedalaman 10 km. Titik gempa berada di darat, sekitar 21 km barat laut Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Di samping itu, BMKG menginformasikan bahwa hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan analisis guncangan dengan skala MMI, gempa bumi dirasakan daerah Mamuju Tengah III-IV MMI dan Mamuju Utara, Mamuju dan Pasangkayu III MMI.

Melihat lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Mamuju atau Mamuju Thrust. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan sesar naik  atau thrust-fault.

Berdasarkan analisis risiko, Kabupaten Mamuju Tengah termasuk daerah dengan kategori kelas bahaya gempa bumi sedang hingga tinggi. Sebanyak 5 kecamatan berada pada kawasan tersebut dengan luas risiko sekitar 39.000 hektar, sedangkan jumlah populasi yang terpapar bahaya gempa bumi sedang hingga tinggi sebanyak 58.671 jiwa.

Setelah kejadian, BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Mamuju. Langkah ini untuk mengantisipasi penanganan darurat yang harus dilakukan sejak dini. Masyarakat diimbau waspada dan siap siaga terhadap bencana gempa bumi, khususnya di tengah pandemi Covid-19. Lakukan upaya kesiapsiagaan di tengah keluarga sehingga terhindar dari risiko yang lebih besar. (*/rr)

Angin Kencang Terjang Empat Desa di Aceh Tenggara

JAYAKARTA NEWS—  Sebanyak 34 unit rumah rusak ringan (RR) dan beberapa pohon tumbang setelah hujan disertai angin kencang menerjang empat desa di Kabupaten Aceh Tenggara, Provinsi Aceh, Minggu (27/9).

Adapun keempat desa tersebut meliputi Desa Pedesi dan Desa Terutung Megakhe Asli di Kecamatan Bambel kemudian Desa Lawe Sumur dan Desa Penosan di Kecamatan Lawe Sumur.

Informasi dari Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati, laporan dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Aceh Tenggara, tidak ada korban dalam bencana tersebut. TRC BPBD Kabupaten Aceh Tenggara telah melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan instansi terkait serta masyarakat setempat.

Sementara itu, menurut monitoring prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Provinsi Aceh masih berpotensi terjadi hujan lebat yang dapat disertai petir/kilat dan angin kencang hingga Senin (28/9).

Selain Provinsi Aceh, wilayah lain yang memiliki prakiraan cuaca yang sama dari BMKG adalah Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat dan Papua.

Melihat adanya prakiraan cuaca yang dapat memicu bencana seperti yang terjadi di Aceh, maka Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau kepada seluruh jajaran pemerintah di daerah dan masyarakat agar dapat meningkatkan kapasitas mitigasi bencana dan mengambil kebijakan yang dianggap perlu, sebagai antisipasi dan pengurangan risiko bencana.***ebn

Peringatan Dini BMKG: Besok Masih Ada Potensi Hujan Lebat dan Petir di Kalteng

JAYAKARTA NEWS— Banjir yang melanda beberapa kecamatan di wilayah Provinsi Kalimantan Timur sudah mulai surut. Namun masyarakat diminta tetap waspada karena berdasarkan peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) masih ada potensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, pada Kamis esok (17/9).

Informasi dari Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati, banjir yang merendam beberapa kecamatan di Provinsi Kalimantan Tengah dilaporkan pagi ini Rabu (16/9) mulai surut. Kendati demikian pemerintah setempat mengimbau masyarakat agar tetap waspada antisipasi jika terjadi banjir susulan.

Hal tersebut juga didukung dengan adanya peringatan dini dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk wilayah Kalimantan Tengah yang berpotensi hujan lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang, pada Kamis esok (17/9).

Sementara itu akibat banjir yang melanda sejak Senin lalu (7/9) tersebut, Bupati Kabupaten Kotawaringin Timur menetapkan Status Tanggap Darurat Penanganan Bencana Banjir selama 14 hari, terhitung sejak tanggal 14–27 September 2020.

banjir di beberapa kecamatan di kalteng mulai surut– foto bnpb

Akibat hujan dengan intesitas tinggi dan melupnya sungai Mentaya mengakibatkan 1.118 unit rumah terdampak dengan Tinggi Muka Air (TMA) 80-120 cm yang terbagi di delapan desa di Kecamatan Antang Kalang, enam desa di Kecamatan Telaga Antang dan empat desa di Kecamatan Mentaya terendam.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur melaporkan banjir di Kecamatan Antang Kalang dengan ketinggian air 20 hingga 70 cm, air sudah mulai surut. Banjir mengakibatkan 245 rumah terendam dengan 247 KK terdampak.

Sementara di Kecamatan Mentaya Hulu dengan ketinggian air 0,5 hingga 1,5 meter, debit air masih bertahan. Banjir mengakibatkan 65 rumah terendam dengan 110 KK terdampak. Selain itu di Kecamatan Telaga Antang dengan ketinggian air 0,5 hingga 1,5 meter, mengakibatkan 104 rumah dengan 195 KK terdampak. Dilaporkan pula debit air di Kecamatan Antang Kalang mulai surut sementara di Kecamatan Telaga Antang dan Kecamatan Mentaya Hulu masih bertahan.

Hingga saat ini, BPBD Kabupaten Kotawaringin Timur terus melakukan koordinasi dengan aparat setempat melalui Camat, Kapolsek dan Kades di wilayah terdampak guna menghimbau masyarakat agar waspada terhadap aliran listrik kabel yg terendam air. Selain itu himbauan untuk persiapan dan keamanan keluarga dan harta benda juga di terus dilakukan.

Pemberian bantuan berupa sembako kepada masyarakat terdampak banjir juga dilakukan. Bantuan yang diberikan dari bank BNI senilai Rp 50 jt (400 paket sembako) tersebut terbagi pada 3 Kecamatan, dengan rincian sebanyak 134 paket untuk Kecamatan Antang Kalang, 132 paket untuk Kecamatan Telaga Antang dan 134 paket untuk Kecamatan Mentaya Hulu.***/ebn

BNPB Pasang Sistem Peringatan Dini Banjir dan Longsor

JAYAKARTA NEWS— Bencana hidrometeorologi masih dominan terjadi di wilayah Indonesia. Melihat data bencana, bahaya seperti banjir dan tanah longsor cenderung meningkat setiap tahun. Data Januari  hingga akhir Agustus 2020, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kejadian banjir mencapai 726 kali dan tanah longsor 367. Total korban meninggal dunia akibat dua jenis bencana tersebut mencapai 225 orang dan hilang 18 orang.

Mengutip rilis BNPB, melihat potensi ancaman bahaya yang tinggi, BNPB bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada (UGM) akan memasang alat sebagai bagian dari sistem peringatan dini, baik untuk banjir dan longsor.

Pada tahun ini, BNPB akan melakukan pemasangan sistem peringatan dini banjir (Flood Early Warning System atau FEWS) dan sistem peringatan dini longsor (Landslide Early Warning System atau LEWS) di dua provinsi, yakni Provinsi Jawa Tengah dan Bangka-Belitung.

Penentuan lokasi di Kota Semarang maupun Kabupaten Belitung akan ditentukan berdasarkan usulan dari masing-masing Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). BNPB akan memasang FEWS di Kabupaten Belitung, sedangkan LEWS di Kota Semarang.

“Tujuan utama dari pemasangan sistem peringatan dini ini untuk membangun kesadaran dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana,” ujar Afrial Rosya, Direktur Peringatan Dini BNPB melalui ruang digital.

Afrial menambahkan, sistem ini dipasang di lokasi-lokasi yang rentan bencana. Di samping itu, sistem ini akan meningkatkan kapasitas masyarakat untuk menghindari korban jiwa serta kerusakan harta dan benda saat terjadi bencana.

“BNPB juga akan mengevaluasi pemasangan sistem ini sebelumnya di seluruh wilayah Indonesia, untuk menjamin keberfungsian sistem peringatan yang telah dipasang sejak tahun 2007,” lanjutnya.

Berdasarkan analisis InaRISK, Kabupaten Belitung memiliki tingkat risiko bahaya banjir sedang hingga tinggi. Ada lima kecamatan dengan luas yang berada di wilayah berbahaya hingga 29.442 hektar. Sedangkan populasi terpapar, di lima kecamatan teridentifikasi sebanyak 42.608 jiwa.

Sementara itu, wilayah Kota Semarang memiliki enam kecamatan dengan tingkat risiko sedang hingga tinggi. Populasi terpapar di kota ini berjumlah 11.129 orang.

Pemasangan sistem peringatan dini didahului dengan penandatanganan kerja sama BNPB dan UGM yang dilakukan melalui ruang virtual.

Pelibatan UGM merupakan wujud sinergi dan kolaborasi pentaheliks dalam penanggulangan bencana. Kepala BNPB dalam berbagai kesempatan mengangkat konsep pentaheliks dimana masing-masing heliks mempunyai peran tersendiri dalam penanggulangan bencana.

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Lilik Kurniawan menjelaskan melalui peran pelibatan lima heliks atau pihak tersebut sekaligus menjadikan masing-masing heliks sebagai katalisator atau pembawa perubahan dan percepatan dalam mencapai visi penanggulangan bencana.

UGM merupakan mitra dalam mengembangkan inovasi sistem peringatan dini banjir dan tanah longsor sejak 2008. Hingga sekarang sistem peringatan dini kerja sama BNPB dan UGM telah terpasang di 32 provinsi dan di luar negeri serta telah diangkat menjadi rujukan nasional melalui SNI dan rujukan dunia melalui ISO.

INOVASI PERINGATAN DINI BENCANA

Dekan Fakultas Teknik UGM Waziz Wildan menyambut baik keberlanjutan kerja sama antara BNPB dan UGM. Hal tersebut untuk terus mendorong inovasi-inovasi baru dari UGM di bidang kebencanaan. Selain sistem peringatan dini longsor dan banjir, UGM juga telah mengembangkan sistem peringatan dini banjir bandang, aliran lahar dan tsunami.

Sementara itu, evaluasi kegiatan pemasangan sebelumnya sangat penting dan UGM berkomitmen untuk terus mengawal operasional sistem ini dan terus mengembangkan inovasi-inovasi baru untuk menjawab tantangan ke depan.

Sepanjang tahun 2008-2019, UGM bekerja sama dengan BNPB dan BPBD telah melaksanakan penerapan sistem peringatan dini bencana longsor dan banjir di lebih dari 100 kabupaten dan kota di 32 provinsi di Indonesia.

Sistem peringatan dini banjir dan tanah longsor yang diterapkan terdiri atas tujuh sub-sistem utama sebagai berikut, sesuai SNI 8235:2017, SNI 8840:2019, ISO 22327:2018, ISO 22328-1:2020 yaitu: (1) penilaian risiko; (2) sosialiasi; (3) pembentukan tim siaga bencana; (4) pembuatan panduan operasional evakuasi; (5) penyusunan prosedur tetap; (6) pemantauan, peringatan dini dan geladi evakuasi; (7) membangun komitmen otoritas lokal dan masyarakat dalam pengoperasian dan pemeliharaan keseluruhan sistem. Dengan demikian penerapan sistem ini merupakan pendukung terbentuknya Desa Tangguh Bencana (Destana) yang merupakan cikal bakal terwujudnya ketangguhan bangsa.

Dekan FT UGM menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan atas dukungan dan kepercayaan BNPB terhadap aplikasi produk-produk riset antar disiplin di bidang kebencanaan yang telah dibangun Fakultas Teknik UGM. Saat ini BNPB bekerja sama dengan UGM dan BSN telah berhasil menyusun SNI 8235:2017, SNI 8840:2019, ISO 22327:2018 dan ISO 22328-1:2020 tentang sistem peringatan multi bencana. BNPB-BMKG-UGM-BSN sedang menyusun SNI dan ISO tentang sistem peringatan dini tsunami, yang berikutnya diikuti dengan sistem peringatan dini banjir dan letusan gunung api.

Turut hadir dalam acara penandatanganan kerjasama ini Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat dan Kerjasama Fakutlas Teknik (FT) UGM Sugeng Sapto Surjono, Kepala Unit Pengembangan Usaha, Kerjasama dan Alumni FT UGM Jarot Setyowiyoto dan juga inovator sekaligus konseptor SNI dan ISO Sistem Peringatan Dini Teuku Faisal Fathani dan Wahyu Wilopo.***/ebn

Sebanyak 14.891 Jiwa Terdampak Banjir di Kalimantan Selatan

JAYAKARTA NEWS— Tingginya intensitas hujan di wilayah Kabupaten Tanah Laut sejak Selasa hingga Rabu menyebabkan  banjir yang terjadi di dua lokasi yakni Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Setidaknya 14.891 orang terdampak banjir di dua daerah tersebut.

Demikian  laporan yang diterima Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Jumat (4/9).

Adapun rincian laporan tersebut yang pertama adalah mulai dari tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Laut yang melaporkan bahwa sebanyak 879 KK/2.598 jiwa terdampak banjir yang disebabkan oleh meluapnya Sungai Kintap.

Banjir tersebut merendam sedikitnya 783 unit rumah dengan tinggi muka air (TMA) 100-150 sentimeter di enam desa di Kecamatan Kintap. Adapun keenam desa tersebut meliputi Desa Kintapura, Desa Kintap, Desa Kintap Kecil, Desa Riam Adungan, Desa Salaman dan Desa Pasir Putih.

foto BNPB

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Tanah Laut telah melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan instansi terkait serta melibatkan tim gabungan guna melakukan evakuasi korban, evakuasi barang milik korban dan menditribusikan bantuan logistik kepada korban terdampak.

Kondisi terkini yang dilaporkan hingga Jumat (4/9) pukul 10.00 WIB, banjir di Kabupaten Tanah Laut berangsur-angsur surut dengan TMA 50 sentimeter.

Kemudian laporan yang berikutnya adalah dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Bumbu, yang mana banjir telah merendam kurang lebih 3.804 rumah, persawahan seluas 8 hektar dan total luas pertanian yang terendam adalah 155 hektar dengan TMA 300-400 sentimeter.

Banjir tersebut berdampak pada 3.804 KK/12.397 jiwa sehingga sebanyak 60 KK/221 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

TRC BPBD Kabupaten Tanah Bumbu telah melakukan kaji cepat, evakuasi warga dan berkoordinasi dengan instansi terkait. Adapun kondisi terkini yang dilaporkan pada Jumat (4/9) pukul 06.00 WIB adalah bahwa banjir berangsur-angsur surut dengan TMA 100-150 sentimeter.

Hingga siaran pers ini diterbitkan, tidak ada laporan mengenai jatuhnya korban jiwa atas bencana banjir tersebut.***/ebn