Gempa Bertubi, Dua Dandim, Satu Komando

Kenangan Anggota Doni Monardo dari Singaraja dan Kariango

Kisah tercecer ini adalah kesaksian dua perwira menengah yang berada pada pusaran komando Doni Monardo.

JAYAKARTA NEWS – Mereka adalah Kolonel Inf Tri Aji Sartono dan Letkol Inf Yudi Rombe. Saat itu, Tri Aji adalah Dandim 1418/Mamuju. Sedangkan Yudi Rombe adalah Dandim 1401/Majene. (Saat ini Letkol Inf Yudi Rombe mendapat tugas baru sebagai Irdya Intelter Itutum It Kostrad). Dua teritori Kodim di Sulawesi Barat, di bawah Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin.

Dua wilayah itulah yang tertimpa bencana alam gempa bumi dahsyat pada hari Jumat tanggal 15 Januari 2021. Gempa berkekuatan 6,2 SR tadi, meluluhlantakkan rumah-rumah, gedung-gedung perkantoran, hotel-hotel, jembatan, dan berbagai bangunan lain.

“Guncangan yang pertama kami rasakan sore hari tanggal 14, tapi tidak signifikan. Guncangan gempa besar justru yang kedua, keesokan harinya 15 Januari sekitar jam 03.00 pagi. Gempa pagi menjelang subuh itulah yang berdampak serius, karena memang kami rasakan sangat kuat,” ujar Tri Aji.

Seketika Tri Aji mengecek pangkalan, asrama, kantor, dan lain-lain di lingkungan Kodim Mamuju. ” Kami mengevakuasi keluarga, lalu pukul lima semua anggota Kodim saya kumpulkan di Makodim,” ujarnya.

Pagi itu juga, ia melapor kepada atasan langsung, Danrem 142/Taroada Tarogau, Brigjen TNI Firman Dahlan. Aji juga meminta bantuan tambahan pasukan. “Kami mendapatkan tambahan 40 personel dari Korem 142/TT,” ujarnya.

Sejurus kemudian, melalui Sekda Tri Aji mendapat amanat Bupati, untuk “mengambil-alih situasi”.

Secara kronologis, Tri Aji menyebutkan, pukul 05.30 bantuan pasukan Korem sudah datang di kantor Makodim Mamuju di Jl. Ahmad Yani, Binanga. Juga tiba bantuan Basarnas Kabupaten Mamuju.

Sebanyak 20 personel Basarnas datang membawa truk dan berbagai peralatan. Tak hanya itu, Kalak BPBD Mamuju juga merapat ke Makodim.

“Semua unsur sudah berkumpul, lalu saya bagi tugas. Ada yang bertugas mengidentifikasi, pemetaan dan evakuasi. Fokus pertama adalah evakuasi atau pertolongan kepada korban yang terjebak reruntuhan bangunan,” ujarnya.

Hasil identifikasi diketahui ada beberapa titik yang terbilang parah. Satu bangunan rumah sakit, satu lagi bangunan minimarket, dan satu lagi bangunan di Jalan Pababari.

Dandim Tri Aji lalu membagi personel menjadi kelompok-kelompok. Per kelompok antara 5 – 7 orang dipimpin oleh bintara. Mereka dibekali Handy Talky sebagai alat komunikasi.

Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo dan Dandim Mamuju Kolonel Inf Tri Aji Sartono, saat Gempa Mamuju Januari 2021.

Telepon Doni

Selagi mengatur aktivitas evakuasi korban, telepon genggam berdering. Jam tangan menunjuk angka tujuh. Tri mengangkat telepon, dan terdengar suara yang tak asing baginya. Suara komandannya dulu ketika berdinas di Yonif 741/Satya Bhakti Wirottama, Singaraja, Bali. Ya, itu suara Doni Monardo. Correct Tri menyahut, “Siap. Selamat pagi Komandan!”

Di ujung telepon, pertama-tama Doni bertanya, “Bagaimana kamu Tri?.” Setelah dijawab “Siap, alhamdulillah selamat!” Disusul pertanyaan kedua Doni, “Keluargamu bagaimana?” Kembali Tri Aji menjawab, “Siap, alhamdulillah selamat.”

Tri pun melaporkan keadaan sejauh informasi yang ia dapat hingga pukul 07.00. Itu artinya empat jam dari gempa dahsyat yang terjadi pukul 03.00 pagi. Informasi yang ia sampaikan kepada Kepala BNPB Doni Monardo antara lain kerusakan kantor gubernur dan rumah saki. Kerusakan juga menimpa sejumlah bangunan lain dengan tingkat kerusakan parah.

Ubah Tujuan

Pagi itu 15 Januari 2021, di Jakarta, semula Kepala BNPB siap siap melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Agenda kunjungan dijadwalkan bersama sejumlah anggota DPR RI dari Komisi 8.

Seketika mendengar kabar terjadinya gempa, Doni segera merubah rencana, berangkat ke Mamuju Sulawesi Barat.

Kami semua masih menginap di lantai 10, Graha BNPB. Gesit berkemas, kami meluncur ke Base Ops Bandara Halim Perdana Kusuma. Dalam perjalanan, karena satu mobil, saya menyimak Doni berbicara dengan Presiden Jokowi Widodo via sambungan telpon. Doni melaporkan apa yang terjadi di Sulbar kepada presiden.

Nah kembali ke kisah Tri Aji. Selesai menerima laporan dari Tri Aji, Doni menutup telepon dengan kalimat, “Tetap laksanakan dan lanjutkan kegiatan. Utamakan evakuasi korban. Selamatkan nyawa.”

Memang itulah yang terjadi hari pertama gempa. Seluruh aparat TNI-Polri, Basarnas, BPBD, dan berbagai unsur lain bahu-membahu melakukan evakuasi korban. Terik matahari tak terasa. Haus lapar tak dirasa. Matahari pun kian condong ke barat. Mereka seperti berkejaran dengan waktu untuk bisa mengevakuasi sebanyak-banyaknya korban, dan melarikannya ke rumah sakit.

Telepon kedua Doni Monardo kembali berdering. Doni dan rombongan siang itu sudah mendarat di Mamuju menggunakan Hercules TNI AU. “Tri, kamu di mana, saya di depan Kodim. Ayo kita ke rumah dinas gubernur,” terdengar perintah Doni di ujung telepon. Rupanya, Doni mampir Kodim untuk mengajak Tri bersama-sama ke rumah dinas Gubernur Sulbar Ali Baal. Sementara Tri masih berada di lapangan.

Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo mengamati anjing pelacak pencari korban yang tertimbun reruntuhan bangunan akibat gempa di Mamuju, Januari 2021.

Rapat Dadakan

Di rumah dinas gubernur, kondisi relatif aman. Bangunan itu tampak retak di beberapa bagian, tetapi masih relatif utuh. Di sana, selain Doni Monardo, juga hadir Mensos Tri Rismaharini dan Pangkogabwilhan II, Marsekal Madya TNI Imran Baidirus.

Setelah meminta laporan perkembangan serta situasi terakhir di lapangan, Doni Monardo langsung memberi arahan. Personel BPBD Mamuju diminta mencari lokasi yang representatif dibangun barak pengungsian. Semua pengungsi yang terpencar-pencar, harus segera dikonsentrasikan ke titik-titik pengungsian.

Malam itu juga ketemu 13 lokasi yang bisa dijadikan titik pengungsian. Sebagian bisa menampung hingga ribuan orang, sebagian lain ratusan pengungsi. Ke-13 titik itu tersebar di berbagai daerah di Mamuju.

“Bangun titik pengungsian yang memadai, perhatikan masalah air dan sanitasi. Mereka akan tinggal di tenda pengungsian untuk waktu yang relatif lama, sampai proses rehab-rekon selesai,” ujar Doni.

Setelah itu, Doni meminta Danrem Brigjen TNI Firman Dahlan mengkoordinir dua Kodim yang tertimpa bencana Mamuju dan Majene. Dandim Mamuju dan Dandim Majene masing-masing menjadi Komandan Sektor di teritori binaannya.

Usai briefing di rumah dinas gubernur, masing-masing kembali ke lapangan. Sebelum bubar, Doni memanggil Tri dan memberinya tugas khusus, mendampingi Mensos ke stadion Manakarra Mamuju melihat para pengungsi di sana. Ketika itu, situasinya hujan.

Doni Monardo di Mamuju, Sulawesi Barat, Januari 2021.

Lacak Tengah Malam

Pukul 23.00, kondisi masih hujan, telepon berdering. Nama Doni Monardo muncul di layar HP. “Waktu itu saya di Kantor Kodim setelah selesai mendampingi bu menteri. “Tri, kamu di mana. Saya di Jalan Nomor 5,” kata Doni. Ia menangkap sinyal perintah, untuk segera meluncur ke sana.

Mendekati titik pertemuan, ia melihat Doni Monardo berdiri di pinggir jalan dalam kegelapan, karena aliran listrik padam.

Malam itu saya ikut menemani Doni. Rombongan pun mengecek sebuah bangunan yang runtuh di dekat Doni berdiri. Di rumah itu, pagi hari tadi viral seorang anak tertimpa reruntuhan dan diberi minum oleh penolong. Sementara ibunya meninggal tak jauh darinya.

“Tri, di mana anak yang tadi pagi masih tertimbun di rumah ini,” tanya Doni.

“Siap, kebetulan tadi pagi yang bertugas di area ini teman-teman dari Paskhas TNI-AU. Menurut informasi, anak itu sudah berhasil dievakuasi,” jawab Tri.

“Yakin?”

“Yakin!”

“Kalau yakin, cari di mana sekarang. Saya mau ketemu. Tapi kalau ternyata masih ada, itu pembiaran namanya. Besok pagi saya mau ketemu dia,” kata Doni.

Dengan basah kuyup Doni dan Tri kembali ke tempat masing-masing.

Helikopter mengedrop bantuan logistik kepada korban gempa bumi di Sulawesi Barat, Januari 2021.

Terus Mencari

Malam pertama Doni dan rombongan BNPB melantai istirahat di rumah dinas gubernur. Sementara Tri kembali ke markas Kodim. Ia masih harus menuntaskan tugas mencari keberadaan si anak kecil yang selamat dari reruntuhan tadi.

Hingga fisik letih dan mata lelap, kabar itu belum juga didapat. Pagi-pagi sekali, ia kembali ke lokasi reruntuhan rumah yang semalam ia datangi bersama Doni Monardo. “Jam tujuh saya harus lapor. Wah, gawat kalau belum dapat info,” kata Tri, mengenang.

Tuhan maha baik. Seorang laki-laki yang rupanya tetangga korban, sedang berada di situ. Ia tengah melihat dan mencoba mengambil barang-barang di reruntuhan rumah yang masih bisa diambil dan diselamatkan. Nah, bapak-bapak itu yang memberi nomor HP orang yang menolong korban.

Tri segera menghubungi nomor telepon itu dan menanyakan keberadaan si anak. Info pun didapat, bahwa anak itu sudah selamat dan saat ini sudah berada di RS Palu untuk mendapat perawatan. Jarak Mamuju ke Palu lebih 400 km, dan jika lewat jalan darat harus ditempuh dalam waktu sekitar 10 jam.

Tri pun melapor ke Doni. “Jadi saya tidak bisa bertemu dia?” Tri spontan menjawab, “Bisa komandan. Pakai helikopter!” Doni menutup telepon dengan kalimat, “Ya sudah, pastikan dia baik-baik saja. Itu artinya tidak ada pembiaran terhadap korban.”

Apakah tugas selesai? Oh, belum. Doni memerintahkan Tri Aji untuk menyiapkan stadion bagi penampungan pengungsi. “Tri, siapkan stadion untuk menampung pengungsi yang layak dikunjungi Presiden,” perintah Doni.

Sejak itu, Tri fokus menata Stadion Manakarra menjadi lokasi pengungsian yang representatif dan tertata dengan baik. Manajemen terkelola dengan baik. Tidak saja terbangun tenda-tenda yang memadai, tetapi juga dilengkapi fasilitas kesehatan, dapur umum, serta gudang logistik dan sarana lain.

Tanggal 19 Januari, empat hari setelah gempa, Stadion Manakarra pun dikunjungi Presiden Joko Widodo. Presiden mengapresiasi kerja keras penanganan gempa Mamuju. “Tanpa arahan, bimbingan, dan dukungan pak Doni, mungkin tidak akan secepat itu penanganannya. Kebetulan saya paham sekali kepemimpinan beliau,” ujarnya.

Kantor Gubernur Sulawesi Barat luluh lantak akibat gempa dahsyat Januari 2021.

Lomba Militer, Ibarat Persiapan Perang

Tri Aji pun mengisahkan, saat-saat berada di bawah komando Doni. “Waktu itu saya Letnan Dua, baru selesai tugas operasi Timtim, dan langsung ditempatkan di Batalyon Singaraja. Saat saya masuk, masih komandan lama. Dua bulan kemudian, masuk pak Doni menjadi Danyon berpangkat letnan kolonel,” ujarnya.

Yang terkesan ketika itu, bagaimana Doni menggembleng kesamaptaan prajurit batalyon yang dipimpinnya. Ia bahkan membentuk Peleton Tangkas, di mana Tri Aji yang ditunjuk menjadi komandan peleton (Danton).

“Setiap hari kami digembleng fisik, lalu diarahkan untuk menciptakan rekor-rekor tertentu dalam cabang olahraga. Baik olahraga militer maupun cabang olahraga umum,” kenang Tri Aji.

Doni menginginkan prajuritnya bisa mengukir prestasi di Porad, Pekan Olahraga TNI Angkatan Darat. Porad mempertandingkan cabang-cabang olahraga militer dan cabang-cabang olahraga umum.

“Sebelum ikut Porad, batalyon kami nyaris tidak ada yang kenal. Tapi setelah kami keluar sebagai Juara IV, barulah batalyon Singaraja mulai dilihat orang,” ujar Tri Aji bangga.

Betapa tidak, di event Porad, atlet-atlet Batalyon Singaraja harus bertanding dengan atlet-atlet prajurit dari kesatuan lain yang sudah kesohor.

“Juara 1 Kopassus. Ya, itu kesatuan lama pak Doni kan? Pantaslah. Kemudian juara 2 Kostrad Cilodong, juara 3 Kodam Jaya, dan juara 4 batalyon Singaraja. Wah kami bangga sekali bisa berprestasi di tingkat nasional,” katanya.

Tri bahkan yakin, jika waktu latihan lebih lama, bisa berprestasi lebih bagus. “Kami digembleng enam bulan. Dan saya kira semua prajurit yang pernah dipimpin beliau, pasti tahu. Dalam menggembleng beliau tidak hanya memberi perintah, tetapi terlibat langsung. Ketika itu, beliau adalah sosok paling tangguh. Tidak ada prajurit lain yang mampu mengalahkan fisiknya,” puji Tri.

Kontingan terdiri atas 31 orang. Kesemuanya harus bisa dan siap diterjunkan di cabang mana pun. Baik olahrara militer, seperti lari lintas medan, renang militer, menembak, dan lain-lain. Olahraga umum seperti sepakbola, voli, tenis dan lain-lain. “Di cabang umum, saya masuk tim sepakbola,” ujar lulusan Akmil 1997 itu.

Doni Monardo di Mamuju.

Seni Perang

Suatu ketika saya bertanya kepada Doni, mengapa ia begitu all out menyiapkan anggotanya untuk lomba olahraga. Padahal, mereka kan unsur militer, bukan atlit?

Menurut Doni, menyiapkan pasukan untuk ikut lomba olah raga militer adalah ibarat persiapan menuju medan perang perang.

“Ini semacam latihan mengukur kemampuan pasukan. Kita siapkan latihannya, makanannya, juga mentalnya. Jadi kegiatan lomba olah raga militer adalah juga persiapan berangkat bertempur, berangkat ke medan perang. Komandan Kompi, Komandan Batalyon wajib belajar mengatur strategi. Mengatur dan mengukur kekuatan anak buah. Ini sebuah seni,” ungkap Doni.

Dalam pertandingan olah raga sipil, seorang atlit umumnya bertanding cukup dalam satu kecabangan. Namun dalam lomba olah raga di dunia militer, seorang atlit bisa ditugaskan bertanding beberapa cabang. “Misalnya seorang atlit militer bertanding di cabang lari, terus renang, sepak bola dan juga menembak. Satu orang ikut lomba di empat cabang,” kata Doni memberi contoh.

Intinya, Doni menanamkan ruh slogan “lebih baik mandi keringat di dalam latihan daripada mandi darah dalam penugasan di medan tempur”.

Hukuman Doni

Ketika ditanya, apa pernah mendapat hukuman dari Doni Monardo selaku komandannya? Tri Aji spontan tertawa terbahak. “Pernah. Malam-malam ketahuan merokok. Padahal, saya sudah sembunyi-sembunyi… eh ketahuan. Ya habislah dimarahi, dijungkir-balik. Waktu itu usia saya 25 tahun, dan ya itu memang karena kebandelan saya,” ujar Tri masih dalam derai tawa.

Doni Monardo diakui mengajarkan banyak hal. Prinsip-prinsip kepemimpinan militer ditanamkan betul dan melekat hingga sekarang. “Selama di Mamuju saya ingat betul pesan beliau, agar mengutamakan keselamatan warga. Selama beliau di Mamuju, selalu memanggil dan memberi perintah. Mulai dari tugas evakuasi, penyiapan pos pengungsi hingga penyaluran sembako. Termasuk penyiapan fasilitas Rumah Sakit Darurat, membuka jalan terisolir di Desa Bela dan Kopeang, dan lain-lain. Ya begitulah beliau, perintah mengalir seperti air,” ujar Tri lagi-lagi diiringi tawa senang.

Perhatian Doni sehari-hari tertuju kepada persoalan-persoalan yang belum terselesaikan, lalu menuntaskannya. “Saya termasuk mendampingi beliau ke lokasi-lokasi bencana menggunakan helikopter. Selama itu pula, saya harus siap menerima perintah-perintah baru,” katanya.

Letkol Inf Yudi Rombe (kanan) mengevakuasi korban gempa bumi yang hendak melahirkan.

Bahasa Militer

Beda tempat, beda situasi, tetapi ada sedikit kemiripan. Ini kisah yang disampaikan Dandim Majene Letkol Inf Yudi Rombe. Jarak Mamuju ke Majene sekitar 228 km atau 25 menit menggunakan helikopter. Tak heran jika dampak gempa Mamuju juga ikut meluluhlantakkan sebagian wilayah Majene.

Sama seperti yang terjadi di Mamuju, maka di Majene pun merasakan gempa besar kedua 15 Januari 2021 pagi dinihari.

Yudi pun langsung menghubungi dan mengecek kondisi Koramil yang ada di wilayahnya. Koramil Tapalang, Koramil Mambi, Koramil Sendana, dan Koramil Malunda. Dari semua, hanya Koramil Malunda yang tingkat kerusakannya terbilang lumayan. Selebihnya relatif aman.

Hari itu juga, Yudi Rombe berinisiatif mengumpulkan Forkopimda Majene. Unsur kepala daerah, BPBD, PUPR, Dinkes, Dinsos, dan lain-lain. Rapat dadakan itu menunjuk Yudi Rombe sebagai Komandan TCR (Tim Reaksi Cepat) bersama Wakapolres.

Dinas terkait bekerja bersama-sama unsur TNI-Polri dalam bidang-bidang yang sudah disepakati. Dinsos dan Pasiter misalnya, menghimpun para pengungsi dan mencarikan titik-titik pengungsian. Titik-titik pengungsian yang kecil-kecil, disatukan menjadi satu titik besar agar lebih mudah penanganannya.

Kesulitan lain, yakni sarana komunikasi. Signal selular timbul-tenggelam, menyulitkan kerja koordinasi. Dandim Yudi bersama Bupati Majene, Lukman menginisiasi penggalangan model swadaya. “Bupati menggunakan dana yang ada. Kodim juga begitu, Polres juga demikian. Semua berinisiatif mengeluarkan anggaran untuk pengadaan logistik bagi keperluan para pengungsi,” ujar Yudi.

Tentu saja masih belum memadai. Akibatnya, ada pengungsi kelaparan karena bantuan logistik yang tidak mencukupi untuk dibagi rata kepada pengungsi yang berjumlah hampir 800 orang. Beruntung, hari kedua bantuan logistik mulai berdatangan.

Di awal-awal, sempat terjadi kegaduhan akibat ulah sekelompok orang yang kurang betanggung jawab. Pernah terjadi kasus pengambilan paksa bantuan logistik dengan mengatasnamakan kepala desa atau kepala dusun. Padahal, untuk kelompok tendanya sendiri. Akibatnya, bantuan tidak merata. Ada tenda yang berlimpah logistik, sementara ada tenda pengungsi yang kekurangan.

Teritori Yudi Rombe yang terkoyak terdiri atas dua kecamatan: Malunda dan Ulumanda. Yudi memanggil Danramil dan Camat, termasuk para kepala desa saat itu juga. Yudi menerapkan peraturan, tidak akan ada bantuan tanpa disertai kebutuhan tertulis dari masing-masing Kades. Pak Camat juga diminta memantau setiap aliran bantuan. “Prinsipnya tidak melayani permintaan yang bersifat pribadi. Saat itu saya menerapkan kebijakan yang agak keras. Tapi tujuannya agar pembagian logistik, merata dan tepat sasaran,” tegas Yudi.

Hari kedua itu pula saya dan Kepala BNPB Doni Monardo tiba di Majene menggunakan helikopter.

“Rombe, saya perintahkan kamu bikin stiker, Petakan kelompok-kelompok pengungsian, pisahkan yang usia tua dengan yang muda. Pisahkan kelompok rentan dan komorbid. Atur posisi bagian logistik, keamanan dan kesehatan,” ujar Yudi menirukan perintah pertama Doni Monardo sesaat setelah tiba di Majene.

Setelah mendapat instruksi Doni Monardo, Yudi Rombe langsung menggelar rapat kilat. Ia mendistribusikan penugasan sesuai arahan Doni Monardo. Hari ketiga, aliran bantuan makin kencang. “Karena sudah dibentuk kelompok-kelompok, jadi saya tinggal panggil para ketua kelompok didampingi bagian logistik,” ujar Yudi.

Manajemen Alur Bantuan

Para Kades dan Camat juga hadir di setiap kelompok. Mereka yang berfungsi menjadi pengawal sekaligus pengawas, sehingga semua sistem berjalan bagus sampai tuntas. Distribusi logistik, sempat mengalami kendala memasuki Kecamatan Ulumanda, karena akses jalan putus.

“Saya minta bantuan helikopter kepada pak Doni untuk mendistribusikan bantuan. Begitu datang helikopter, semua berjalan lancar. Wilayah terdampak yang tidak bisa diakses kendaraan, saya perintahkan Babinsa untuk menembus dengan sepeda motor. Saya perintahkan, kendalikan masyarakatmu jangan sampai rebutan. Jangan sampai jatah satu desa jatuh ke desa yang lain,” tegas Yudi mengulang perintahnya.

Tidak hanya itu, Yudi juga menginstruksikan para Babinsa mencari titik-titik yang bisa dijadikan helipad, atau pendaratan helikopter. Setelah Babinsa turun tangan, bekerjasama dengan unsur Babinkhamtibmas dan lain-lain, persoalan makin terkendali.

Doni Monardo kembali mengunjungi Majene di kesempatan lain, khusus untuk mengecek akses jalan yang terputus. “Rombe, ini bagaimana?” kata Doni menunjuk akses jalan yang masih terputus. Yudi sigap menjawab, “Izin Bapak, saya sudah memanggil Dinas PUPR dan Zipur ke sana. Semua sudah berjalan, beberapa titik jalur putus, sudah mulai tersambung. Kami juga merekolasi satu dusun,” lapor Yudi kepada Doni.

Problem penanganan bencana Mamuju – Majene tidak hanya persoalan evakuasi korban. Akan tetapi juga problem logistik, dan perbaikan akses jalan yang terputus, tetapi juga pengendalian Covid—19. “Pertama pak Doni datang, sempat ditegur karena banyak yang tidak pakai masker. Tapi kemudian pak Doni mengirimkan bantuan masker lewat Deputi BNPB Ibu Prasinta,” katanya.

Semua bantuan langsung didistribusikan. Kebetulan, tenda-tenda pengungsian pun sudah dipilah sesuai instruksi Doni Monardo. Untuk ibu-ibu tenda sendiri. “Kebetulan ada dua kasus melahirkan,” katanya.

“Meski pak Doni tidak tiap hari di Majene, karena posko beliau di Mamuju, tapi semua instruksinya saya jalankan. Sebab saya tahu persis karakter beliau, perfeksionis. Sekali kasih perintah, pasti akan dicek. Jadi tentang prokes juga menjadi perhatian saya, karena beliau menekankan pentingnya memakai masker. Sebab, dalam situasi seperti itu, kerumuman pasti tak terhindarkan,” katanya.

Kenangan Kariango

Yudi Rombe dua tahun menjadi perwira di bawah Doni Monardo. Itu terjadi saat Doni menjabat Danbrigif Linud 3/Tri Budi Mahasakti (2006—2008) Kariango, Sulawesi Selatan. Terinspirasi kepemimpinan Doni, maka Yudi Rombe pun senantiasa kerja ikhlas. Terutama saat menangani bencana alam di Majene.

“Bahwa kemudian mendapat apresiasi, terima kasih. Tetapi saya bekerja tidak mengejar apresiasi. Itu didikan yang saya dapat dari pak Doni, maupun saat menimba ilmu di Seskoad. Itu pula yang saya praktikkan, di berbagai medan tugas. Pernah menangani bencana banjir di Kendari, saat menjadi Kasi Ops Korem,” ujarnya.

Kisah Tragis

Mengisahkan interaksinya dengan Doni Monardo di Kariango, ada satu peristiwa yang tidak pernah bisa ia lupakan. Peristiwa itu terjadi sangat cepat, dan ia menjadi saksi mata. Disebutkan, pada suatu masa, prajurit latihan terjun payung.

“Nah, satu payung ada yang tidak mengembang sempurna. Mengetahui itu, pak Doni sebagai Dan Brigif lari sangat kencang. Ketika di depan ada lubang yang sangat lebar, beliau melompat setinggi-tingginya. Ukuran normal, saya kira tidak ada manusia yang mampu melompat sejauh itu. Tapi entah karena apa, pak Doni berhasil melompati lubang itu, dan berhasil menangkap prajuritnya yang nahas itu. Kejadian itu tidak akan pernah saya lupakan,” kisah Yudi Rombe.

Atas peristiwa itu, Doni pun mengingat dengan baik dan berkomentar, “Alhamdulillah walaupun payung kuncup namun anggota tidak cedera serius. Masalah keamanan harus nomor satu. Tidak boleh ada yang cedera apalagi sampai meninggal karena latihan. Di daerah operasi juga. Target berangkat dan pulang harus dengan jumlah yang sama serta misi berhasil dilaksanakan,” kenangnya. (*)

(Catatan Egy Massadiah dan Roso Daras)

Majene Kembali Diguncang Gempa M5,2

JAYAKARTA NEWS – Warga Majene kembali merasakan guncangan kuat gempa bumi dengan magnitudo 5,2. Peristiwa gempa terjadi pada Rabu (3/2), pukul 16.25 waktu setempat.

BPBD Kabupaten Majene melaporkan warganya yang merasakan guncangan kuat panik hingga keluar rumah. Sebagian warga terpantau kembali ke pos pengungsian. Warga Majene merasakan guncangan cukup kuat selama 3 hingga 4 detik. Tidak ada laporan dampak pascagempa tersebut.

Sementara itu, dilihat dari intensitas guncangan yang diukur dengan Modified Mercalli  Intensity (MMI), BMKG menginformasikan wilayah Majene dan Mamuju pada III MMI dan Polewali Mandar II MMI.

Pusat gempa dengan kedalaman 18 km berada 9 km barat laut Majene, Sulawesi Barat atau 33 km barat daya Mamuju, Sulawesi Barat. Berdasarkan pemodelan BMKG, gempa tidak memicu terjadinya tsunami.

Secara khusus, wilayah Majene dan Mamuju pernah terdampak gempa secara berulang dengan periode waktu berbeda. Hal tersebut disampaikan Koordinator Gempa bumi dan Tsunami BMKG Daryono dalam webinar pada Senin lalu (1/2). Ia mengatakan bahwa fenomena gempa di dua wilayah ini tercatat sejak 1967. Sejarah gempa merusak dan pernah terjadi tsunami, antara lain gempa Majene M6,3 pada 1967, kemudian 23 Februari 1969 dengan magnitude 6,9. Dua kejadian ini memicu terjadinya tsunami. Total lebih dari 100 warga meninggal dunia pada dua peristiwa tersebut.

Selanjutnya gempa Mamuju M5,8 pada 6 September 1972, gempa Mamuju M6,7 pada 8 Januari 1984, dan kejadian sebelum kejadian kemarin yaitu pada 7 November 2020, Rangkaian gempa ini bersifat merusak. 

Catatan terakhir di tahun awal tahun, gempa Majene terjadi pada dua hari berurutan yaitu 14 Januari 2021 dengan M5,9 dan 15 Januari 2021 dengan M6,2, yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa, luka-luka dan kerusakan bangunan. (*/rr)

Helikopter BNPB Evakuasi Warga Sakit Terisolir Pascagempa Sulbar

JAYAKARTA NEWS— Helikopter BNPB mengevakuasi dua warga sakit dari desa terisolir pascagempa M6,2 Sulawesi Barat (Sulbar) pagi tadi, Minggu (31/1). Evakuasi ini rekomendasi sukarelawan dokter yang telah memeriksa warga tersebut.

BNPB menerbangkan helikopter jenis Eurocopter (EC) 130B4 dengan kapasitas 7 orang termasuk 1 pilot. Operasi udara kali ini mengevakuasi dua warga sakit yang berasal dari Seppong, Desa Ulumanda, Kecamatan Ulumanda, Kabupaten Majene. Pendamping keluarga dan sukarelawan ikut dalam perjalanan menuju Bandar Udara Tampa Padang, Mamuju. Selanjutnya kedua warga tersebut dirujuk ke Rumah Sakit Regional Provinsi Sulawesi Barat.

Setelah mengevakuasi warga sakit, pilot pun melanjutkan dropping bantuan ke beberapa desa terdampak gempa M6,2. Helikopter dengan kode registrasi PK-URR melakukan 6 sorti dengan total distribusi bantuan seberat 2.800 kg pada hari ini, Minggu (31/1).

Barang terdistribusi berupa makanan, seperti beras, kemasan sarden, minyak, biskuit, vitamin, serta nonmakanan, seperti popok bayi, pembalut, selimut, masker dan terpal. Distribusi bantuan menyasar ke beberapa wilayah yaitu Paku, Batususun, Bebanga, Lipu Selatan, Lipu Utara dan Salutahonga.

Sedangkan dropping bantuan kemanusiaan lain dioperasikan EC 155 dengan kode registrasi PK-TPF. Helikopter ini melakukan 4 sorti dengan tujuan Desa Kalobang, Desa Bela, Desa Kabiraan dan Desa Dekat Ko Baro 3. Barang terdistribusi juga berupa makanan dan nonmakanan.

BNPB mencatat sejumlah helikopter mendukung operasi pengiriman bantuan melalui udara. Sejak awal operasi penanganan darurat hingga Sabtu (30/1), total barang terdistribusi sebanyak 117.000 kg.

Dalam menjalankan operasi udara, tim gabungan mendapati 6 titik baru yang masih terisolir, yaitu Dusun Batususun, Bebanga, Lipu Selatan, Lipu Utara dan Dusun Salutahonga. Perencanaan esok hari, tim gabungan akan melakukan pendistribusian logistik ke wilayah terisolir tersebut dengan tujuan Desa Bebanga dan Desa Batususun.

Ketika melakukan perjalanan setelah melakukan dropping, tim gabungan memantau wilayah longsor di Dusun Rui, Desa Mekatta, kecamatan Malunda, Majene. Pantuan saat itu, tidak ada warga tampak di Kawasan itu. Dugaan sementara, warga telah mengungsi dari wilayah tersebut.

BNPB terus mengoptimalkan pemanfaatan helikopter dalam penanganan darurat pascagempa M6,2 Sulawesi Barat yang terjadi pada 15 Januari 2021 lalu. Tak hanya untuk pendistribusian bantuan, tetapi helikopter digunakan tim gabungan dari BNPB dan Satgas TNI AU untuk berbagai aktivitas, seperti survei udara, evakuasi warga maupun pengiriman personel logistik, medis dan kaji cepat.***/ebn

Sebanyak 189 Orang Dirawat di Mamuju Pascagempa M6,2

JAYAKARTA NEWS – Berdasarkan data per 16 Januari 2021 pukul 02.00 WIB, Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan 189 orang di Kabupaten Mamuju mengalami luka berat dan dirawat pascagempa M6,2 yang terjadi pada Jumat (15/1), pukul 01.28 WIB atau 02.28 waktu setempat di Provinsi Sulawesi Barat.

Sedangkan di Kabupaten Majene, sekitar 637 orang mengalami luka ringan dan mendapatkan penanganan rawat jalan serta kurang lebih 15.000 orang mengungsi di 10 titik pengungsian.

Saat ini pasien yang dirawat di rumah sakit terdampak juga telah dievakuasi sementara ke RS Lapangan.

Selain itu, korban meninggal akibat gempa tersebut mencapai 42 orang, dengan rincian 34 orang meninggal dunia di Kabupaten Mamuju dan delapan orang di Kabupaten Majane.

BPBD Kabupaten Majene, Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Polewali Mandar masih melakukan pendataan dan mendirikan tempat pengungsian serta beroordinasi dengan TNI – Polri, Basarnas, relawan dan instansi terkait dalam upaya pencarian para korban terdampak gempa tersebut.

Hingga saat ini, Kabupaten Majene masih dilakukan proses perbaikan arus listrik sehingga seluruh wilayah masih dalam keadaan padam. Sedangkan sebagian wilayah di Kabupaten Mamuju sudah dapat dialiri listrik dan sebagian lainnya masih mengalami gangguan.

Guna mencegah potensi penularan COVID-19 pada lokasi terdampak bencana, Kementerian Kesehatan juga telah mengaktifkan klaster kesehatan yang terletak di Kabupaten Mamuju dengan menyediakan 25 ambulans, tenda, peralatan ortopedi, obat-obatan ortopedi dan logistik berupa masker bedah 50.000 pcs dan masker kain 20.000 pcs.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprakirakan gempa susulan masih akan terjadi. Untuk itu BNPB mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terkait adanya potensi gempa susulan yang berkekuatan signifikan.

Mengingat potensi gempa susulan yang dapat memicu adanya longsoran dan runtuhan batu, BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan selalu waspada, terutama masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan dengan tebing curam.

Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan pantai atau pesisir juga diharapkan untuk selalu waspada dan segera menjauhi pantai apabila merasakan adanya gempa susulan.

Masyarakat diminta untuk dapat mengikuti informasi resmi dan tidak mudah percaya dengan segala informasi yang belum jelas sumbernya. Masyarakat juga diimbau untuk tidak percaya berita bohong atau hoax mengenai prediksi dan ramalan gempabumi yang akan terjadi dengan kekuatan lebih besar dan akan terjadi tsunami.

Kepala BNPB Doni Monardo juga telah meninjau langsung lokasi terdampak gempabumi bersama Menteri Sosial Tri Rismaharini di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat sesuai dengan arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo pada 15 Januari 2021.

BNPB telah mendistribusikan bantuan dalam penanganan bencana gempabumi di Kabupaten Mamuju dan Kabupaten Majene, antara lain mengerahkan empat helikopter dalam mendukung penanganan darurat, 8 set tenda isolasi, 10 set tenda pengungsi, 2.004 paket makanan tambahan gizi, 2.004 paket makanan siap saji, 1.002 paket lauk pauk, 700 lembar selimut, 5 unit Light Tower, 200 unit Velbed, 500 paket perlengkapan bayi, 500.000 pcs masker kain, 700 pak mie sagu dan 30 unit Genset 5 KVA.

Guna memperkuat upaya penanganan pascagempa, BNPB juga mengerahkan dua unit helikopter Mi-8 yang akan diberangkatkan pada pagi hari ke Kabupaten Mamuju pada 16 Januari 2021. (*/rr)

VIDEO TERKAIT:

https://youtu.be/pSLrsfwJ5uQ

Dengan Garam, Gelap Jadi Terang

Catatan Egy Massadiah dari Lokasi Gempa Mamuju

JAYAKARTA NEWS – Bumi yang berguncang dinihari di Mamuju, Sulawesi Barat, mengakibatkan aliran listrik putus. Malam Sabtu (15/1/2021) pun menjadi gelap gulita, kecuali lampu penerangan darurat yang tampak sebagai titik-titik sinar redup dari kejauhan.

Kehadiran Kepala BNPB, Letjen TNI Doni Monardo ke lokasi musibah, membawa secercah cahaya terang. Tak kurang dari seratus (100) unit “lampu air garam” menerangi lokasi pengungsian di sekitar rumah dinas Gubernur Sulawesi Barat.

Letak rumah jabatan gubernur yang berada di dataran tinggi, membuat masyarakat berbondong-bondong mengungsi ke kawasan sekitarnya. Selain dirasa aman dari kemungkinan celaka akibat gempa susulan, juga dirasa jauh dari jangkauan tsunami, seandainya pun terjadi.

Jumat malam (15 Jan 2021) kondisi kota Mamuju gelap, karena memang masih mati lampu. Beruntung, Doni membawa lampu air garam. Lampu lampu itu ikut terbang bersama pesawat Hercules TNI AU pada Jumat siang 15 Januari 2021.

Lampu-lampu ini benar-benar terobosan. Ide brilian anak bangsa yang kemudian cepat disambar oleh Kepala BNPB, karena sangat cocok untuk daerah yang tertimpa bencana seperti di Mamuju ini.

Apa dan bagaimana lampu air garam itu? Sarwani yang paham. Dialah yang secara gamblang menjelaskan hal-ihwal air garam bisa menyalakan lampu LED.

Lampu Air Garam (kiri), dan Muhammad Sarwani, ST (kanan).

Tak sulit mendapat informasi dari pria kelahiran Purworejo tahun 1987 itu. Muhammad Sarwani, ST sudah sejak tahun 2012 menggeluti hal-ihwal reduksi oksidasi (redoks). Padahal, ia sendiri jebolan Fakultas Teknik Mesin, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Provinsi Banten.

Berkat ketekunannya mengutak-atik energi alternatif dari air garam itu, kini ia sudah berhasil menggapai mimpinya. Menghadirkan cahaya di lokasi bencana. Menghadirkan cahaya melalui cara yang sangat sederhana: Air garam, atau air larut dicampur air bersih.

Usaha melahirkan inovasi lampu air garam dirintis sejak tahun 2012. Setelah melalui serangkaian uji coba dan pengetesan selama empat tahun, maka tahun 2016, produk lampu air garam pun siap diproduksi massal. Ia pun mematenkan karyanya ke Kementerian Kumham.

“Lampu air garam HEI tipe SWL 01 sudah dipatenkan. Total kami sudah mengantongi tiga sertifikat HKI dari Kumham,” ujar Sarwani, dari PT HEI (Hafi Energi Indonesia), produsen lampu air garam yang disebut Sarwani sebagai Piranti Listrik Tenaga Air Garam (PLTAG).

Pengoperasian “lampu ajaib” ini cukup mudah. Dalam satu pack, terdapat satu lampu, botol pencampur air garam dan tabung air 125 cc. “Hanya perlu air bersih dan garam. Garam apa saja,” katanya seraya menambahkan, “tak ada garam, air laut pun bisa. Makanya, lampu ini juga sangat cocok dipakai para nelayan. Selain kedap air, ia juga bisa mengapung di air.”

Dalam setiap kemasan, terdapat petunjuk cara penggunaaan lampu air garam, sangat detail dan menggunakan bahasa Indonesia. Bahkan disertai gambar/ilustrasi. Bayangkan, hanya dengan mencampur air bersih dan sesendok garam, lampu ini mampu menyala hingga 12 jam dalam kekuatan sinar LED 1,6 watt atau setara terangnya bohlam 25 watt.

Ketika ditanya bagaimana cara kerja lampu air garam tadi? Anda yang “orang kimia” akan mudah paham. Anda yang belajar electricity tentu lebih cepat memahami. Ini adalah soal katoda dan anoda. “Sebenarnya dari SMP kita sudah belajar tentang katoda dan anoda,” ujar Sarwani.

Sarwani pun menjelaskan, bahwa elektroda yang menerima elektron dari sumber arus listrik luar disebut katoda. Sedangkan elektroda yang mengalirkan elektron kembali ke sumber arus listrik luar disebut anoda. Katoda adalah tempat terjadinya reaksi reduksi yang elektrodanya negatif (-). Sementara anoda adalah tempat terjadinya reaksi oksidasi yang elektrodanya positif (+).

Jika kita tengok lampu air garam pun memiliki prinsip yang sama. Air laut atau garam sebagai elektrolit. Ketika masuk ke dalam tabung modul, terjadi reaksi kimia yang menghasilkan ion-ion energi listrik. Dan ion-ion itu pula yang dimanfaatkan untuk menyalalakan LED.

Bukan hanya memberi cahaya di tengah kegelapan. Lampu air garam juga bisa dimanfaatkan sebagai charger ponsel Anda. “Tapi tidak bisa digunakan bersamaan. Jadi, kalau sedang dipakai untuk menyalakan lampu, maka fungsi charger off. Sebaliknya kalau sedang digunakan sebagai charger, maka lampu LED tidak bisa dinyalakan,” kata Sarwani.

Ketika didesak mengapa tidak bisa difungsikan bersamaan? Tangkas Sarwani menukas, “Karena kebutuhan voltasenya berbeda. Untuk lampu, 3 volt, sedangkan untuk charger selular, 5 volt.”

Apa pun, lampu air garam produksi HEI ini benar-benar membantu warga yang mengungsi. Di saat PLN belum mengalirkan listrik, kehadiran lampu air garam benar-benar menjadi penerang. Solusi di tengah kegelapan.

“Sebelumnya, kami juga sudah memperkenalkan lampu ini di lokasi pengungsi erupsi Gunung Merapi, di Yogyakarta. Akhir tahun lalu, kami juga mengirim lampu-lampu ini ke lokasi pengungsi banjir bandang di Aceh,” katanya.

Sarwani berterima kasih, jika kemudian karyanya diapresiasi BNPB. Suatu ketika di awal 2020, Sarwani bersua dengan Jarwansah, Direktur Darurat BNPB. Jarwansah kemudian melaporkan perihal lampu garam ini ke Dody Ruswandi, Deputy Penanganan Darurat dan Kepala BNPB Letjen Doni Monardo.

“Rupanya ada keselarasan antara produk yang kami hasilkan dengan karakter negeri kita yang rawan bencana. Rawan bencana berulang. Lampu air garam sangat cocok di situasi darurat bencana. Tahun 2020 kami sudah diminta BNPB memproduksi massal lampu air garam ini untuk kebutuhan darurat di lokasi-lokasi bencana,” ujar Sarwani. (*)

SIMAK VIDEO TERKAIT:

Doni dan Risma Bertolak ke Mamuju

Gempa Berulang: 1972, 2008, 2021

JAYAKARTA NEWS – Sedianya, pagi ini Jumat (15/1/2021), Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo mengunjungi korban longsor di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Rencana mendadak berubah.

Atas perintah Presiden Joko Widodo, Doni bersama Mensos Tri Rismaharini ditugaskan segera mengunjungi lokasi gempa di Mamuju, Sulawesi Barat. Dalam kesempatan itu, sejumlah anggota DPR RI dari Komisi 8 juga turut serta.

Sebelum take off, Doni memerintahkan 4 unit helikopter BNPB diluncurkan ke lokasi bencana. Demikian info awal yang disampaikan oleh Tenaga Ahli BNPB Egy Massadiah, yang turut serta mendampingi Letjen Doni Monardo sebelum bertolak ke Mamuju, Sulbar.

Laman BMKG pagi ini menampilkan info gempabumi terkini, yakni gempa bumi 15 Januari 2021 pukuo 01.28 WIB bermagnitudo 6.2 SR pada kedalaman 10 km. Pusat gempa berada di darat 6 km timurlaut Majene. Getarannya dirasakan hingga Majene, Palu, bahkan Makassar.

Sehari sebelumnya (14/1/2021), gempa skala 3.5 terjadi pukul 15.35 pada kedalaman 10 km. Pusat gempa berada di darat, 40 km barat laut Malili, Luwu Timur. Getarannya terasa sampai Mangkutana. Beberapa jam sebelumnya, tepatnya pukul 13.35, BMKG mencatat gempa juga mengguncang Majene. Gempa berkekuatan 5.9 itu berada di kedalaman 10 km, 4 kilometer barat laut Majene. Getarannya terasa sampai Mamuju, Majene, Mamuju Utara, Mamuju Tengah, Toraja, Mamasa, Pinrang, Pare-pare, Wajo, Polewali Mandar, Tanah Grogot, bahkan Balikpapan.

Sumber BMKG Region IV Makassar mengingatkan warga Sulawesi tetap waspada karena wilayah ini dilintasi oleh dua patahan, yakni Palu Koro dan Saddang. Potensi gempa terutama di Mamuju, Majene dan Selat Makassar.

Patahan Palu Koro, melintas dari Sulawesi Utara melalui Sulawesi Tengah ke arah Sulawesi Tenggara. Sementara patahan Saddang melintas di Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan bagian tengah, sampai Kepulauan Selayar.

Beberapa gempa yang merusak Sulawesi Selatan, yakni gempa di Bulukumba 29 Desember 1828, gempa Majene 23 Februari 1969, gempa Mamuju 6 September 1972, gempa Ulaweng 8 April 1993, gempa Pinrang 28 September 1997, dan gempa Mamuju 5 Februari 2008 5,8 skala Richter dengan kedalaman 30 kilometer. (rr)

VIDEO GEMPA MAMUJU:

https://youtu.be/KX16ZcYc8SI

Mamuju Diguncang Gempa, Warga Panik

JAYAKARTA NEWS – Gempa dengan magnitudo 5,1 terjadi pada hari ini, Sabtu (7/11/2020), sekitar pukul 06.41 WIB. Guncangan gempa yang terjadi pada pagi hari itu sempat membuat warga Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, panik.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mamuju Tengah masih memantau situasi di lapangan pascagempa. Sekretaris BPBD setempat Awal menyebutkan bahwa gempa dirasakan kuat.

“Warga di daerah pesisir sempat panik, belum ada laporan kerusakan. Tim Reaksi Cepat BPBD sedang memonitor di lapangan,” ujar Awal melalui pesan digital, Sabtu (7/11/2020).

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) merilis parameter gempa M5,1 dengan kedalaman 10 km. Titik gempa berada di darat, sekitar 21 km barat laut Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Di samping itu, BMKG menginformasikan bahwa hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami.

Berdasarkan analisis guncangan dengan skala MMI, gempa bumi dirasakan daerah Mamuju Tengah III-IV MMI dan Mamuju Utara, Mamuju dan Pasangkayu III MMI.

Melihat lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Mamuju atau Mamuju Thrust. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi ini memiliki mekanisme pergerakan sesar naik  atau thrust-fault.

Berdasarkan analisis risiko, Kabupaten Mamuju Tengah termasuk daerah dengan kategori kelas bahaya gempa bumi sedang hingga tinggi. Sebanyak 5 kecamatan berada pada kawasan tersebut dengan luas risiko sekitar 39.000 hektar, sedangkan jumlah populasi yang terpapar bahaya gempa bumi sedang hingga tinggi sebanyak 58.671 jiwa.

Setelah kejadian, BNPB terus berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Mamuju. Langkah ini untuk mengantisipasi penanganan darurat yang harus dilakukan sejak dini. Masyarakat diimbau waspada dan siap siaga terhadap bencana gempa bumi, khususnya di tengah pandemi Covid-19. Lakukan upaya kesiapsiagaan di tengah keluarga sehingga terhindar dari risiko yang lebih besar. (*/rr)