Negara dalam Ujian Zaman Indonesia

Ketika Bencana Alam, Tata Kelola, dan Nasib Rakyat Bertemu

Oleh Brigjen Purn. MJP Hutagaol


Indonesia sedang berada dalam ujian zaman yang sesungguhnya. Ujian ini bukan datang tiba-tiba, bukan pula berdiri sendiri. Ia merupakan akumulasi panjang dari cara kita mengelola negara, kekuasaan, sumber daya alam, serta hubungan antara penguasa dan rakyat. Rangkaian bencana alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat hanyalah puncak yang terlihat dari gunung es persoalan kebangsaan yang lebih dalam.

Penderitaan rakyat akibat banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem telah berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Rumah hilang, lahan rusak, mata pencaharian terputus, anak-anak terhenti sekolah, dan warga hidup dalam ketidakpastian. Dalam situasi seperti ini, rakyat tidak sedang menuntut kemewahan. Mereka hanya bertanya dengan jujur: seberapa jauh negara benar-benar hadir?

Namun ujian bangsa ini tidak berhenti pada bencana alam. Bersamaan dengan longsornya tanah, kita juga menyaksikan erosi nalar bernegara dan rasa kebangsaan. Persilangan kepentingan politik, bisnis, dan birokrasi kian terasa dalam berbagai kebijakan pembangunan. Mahalnya biaya politik telah melahirkan praktik transaksional, memperkuat dominasi modal, dan menempatkan kepentingan rakyat sering kali di urutan belakang. Dalam situasi ini, kekuatan kapital bekerja layaknya shadow state—tak terlihat, namun sangat menentukan arah kebijakan.

Akibatnya, pembangunan nasional masih didominasi pendekatan resource-based economy yang ekstraktif. Sumber daya alam diperas untuk mengejar pertumbuhan jangka pendek, sementara dimensi pengetahuan, riset, dan keberlanjutan terpinggirkan. Kerusakan lingkungan menjadi harga yang harus dibayar. Ketika hutan gundul, tata ruang diabaikan, dan alam kehilangan daya dukungnya, maka banjir dan longsor bukan lagi kejutan, melainkan konsekuensi.

Di saat yang sama, bangsa ini mengalami kelangkaan sosok negarawan. Politik lebih sering diwarnai oleh perhitungan elektoral jangka pendek dibanding visi kebangsaan. Penegakan hukum masih dirasakan timpang: tegas ke bawah, lentur ke atas. Pendidikan pun mengalami pergeseran orientasi—angka dan skor lebih dipuja daripada nilai, budi pekerti, sejarah, dan Pancasila. Kita mencetak manusia terampil, tetapi sering kali rapuh dalam empati dan tanggung jawab sosial.

Di tengah situasi yang tidak ringan ini, perlu dicatat secara jujur bahwa negara tidak diam. Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan langsung kepada jajaran menteri, Panglima TNI, Kapolri, dan Kepala Staf Angkatan Darat untuk mempercepat penanganan bencana. Air bersih, logistik, layanan kesehatan, pembukaan akses jalan, pemulihan listrik, serta pengerahan kekuatan TNI–Polri dilakukan untuk membantu rakyat terdampak. Arahan juga disertai teguran agar pejabat tidak menjadikan bencana sebagai ajang pencitraan atau “wisata bencana”.

Kerja pemerintah ini patut diapresiasi sebagai bentuk tanggung jawab negara. Namun dalam ujian zaman, apresiasi tidak boleh meniadakan evaluasi. Masih terdapat keluhan tentang lambannya distribusi bantuan di daerah terpencil, lemahnya koordinasi pusat–daerah, serta kebingungan prosedural di lapangan. Di sinilah muncul pertanyaan publik mengapa bencana berskala luas tersebut belum ditetapkan sebagai Bencana Nasional, agar penanganan bisa lebih terpusat, cepat, dan menyeluruh.

Ujian nalar bernegara juga tercermin dalam perdebatan kebijakan di luar isu bencana. Keputusan Kapolri yang membuka ruang penempatan anggota Polri aktif di sejumlah lembaga sipil memunculkan diskursus serius, terutama karena hadir setelah adanya putusan Mahkamah Konstitusi yang memberikan batasan tegas. Isu ini tidak boleh dibaca secara emosional, tetapi sebagai alarm penting tentang konsistensi negara dalam menegakkan konstitusi dan menjaga prinsip profesionalisme aparatur.

Bagi rakyat kecil yang sedang kesusahan, perdebatan elite sering terasa jauh. Yang mereka rasakan adalah mahalnya biaya hidup, terbatasnya lapangan kerja, dan ketidakpastian masa depan. Ketika bencana datang, tekanan itu berlipat ganda. Jika situasi ini berlarut, maka yang terancam bukan hanya stabilitas sosial, tetapi juga kepercayaan publik terhadap negara.

Karena itu, ujian zaman ini menuntut lebih dari sekadar kebijakan rutin. Ia menuntut banting stir peradaban: pergeseran dari ekonomi ekstraktif menuju ekonomi berbasis pengetahuan; penegakan hukum yang konsisten dan adil; pembenahan sistem politik agar kembali pada kedaulatan rakyat sebagaimana amanat sila keempat Pancasila; serta penguatan pendidikan karakter dan budi pekerti.

Ketika alam mulai berbicara melalui bencana, sejatinya ia sedang mengajak bangsa ini untuk bercermin lebih jujur dan lebih dalam. Evaluasi bukanlah bentuk perlawanan terhadap negara, melainkan wujud kecintaan kepada republik ini. Negara yang kuat bukan negara yang menutup kritik, melainkan negara yang mampu mendengar, memperbaiki diri, dan bertindak konsisten.

Indonesia tidak kekurangan sumber daya alam, tidak pula kekurangan manusia cerdas. Yang terus diuji oleh zaman adalah keberanian moral, ketegasan pembenahan internal, dan kelahiran kembali sikap kenegarawanan—agar nalar bernegara dan rasa kebangsaan tidak semakin tergerus, dan kepercayaan rakyat kepada negara tetap terjaga di tengah badai zaman.


Ancaman Internal: Fakta “Musuh dalam Selimut” dalam Tata Kelola Negara

Selain ujian alam dan penderitaan rakyat akibat bencana, negara juga menghadapi ancaman serius yang bersifat internal dan tidak selalu tampak di permukaan. Ancaman ini bukan asumsi atau opini, melainkan disampaikan secara terbuka oleh pejabat negara.

Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Jenderal (Purn.) Sjafrie Sjamsoeddin, dalam berbagai forum resmi dan kuliah umum, mengingatkan bahwa Indonesia menghadapi apa yang ia sebut sebagai “musuh dalam selimut”. Yang dimaksud bukan kekuatan asing bersenjata, melainkan praktik-praktik internal yang melemahkan negara dari dalam: korupsi, manipulasi kebijakan, kebocoran kekayaan negara, serta pengelolaan sumber daya alam yang menyimpang dari kepentingan rakyat.

Peringatan Menteri Pertahanan tersebut sejalan dengan sikap Presiden Republik Indonesia yang berulang kali menegaskan bahwa tidak boleh ada mafia dalam pemerintahan dan tidak boleh ada pihak yang merasa kebal hukum ketika merampok kekayaan negara. Penertiban tambang ilegal, pembongkaran perkebunan sawit tanpa izin, serta penegasan bahwa kebocoran sumber daya alam adalah ancaman terhadap kedaulatan nasional menunjukkan bahwa negara menyadari keberadaan ancaman internal tersebut.

Dalam konteks inilah istilah musuh dalam selimut harus dipahami sebagai peringatan struktural: ketika kepentingan politik, birokrasi, dan bisnis menyatu secara tidak sehat, negara berisiko dikendalikan oleh aktor-aktor yang bekerja di balik sistem resmi. Ancaman ini jauh lebih berbahaya dibanding musuh eksternal, karena bekerja dari dalam, memanfaatkan celah hukum, dan sering berlindung di balik kewenangan formal.

Masuknya fakta ini memperkuat tesis bahwa krisis kebangsaan yang sedang berlangsung bukan semata akibat bencana alam atau lemahnya koordinasi teknis, tetapi juga akibat persoalan tata kelola, integritas, dan keberanian negara membersihkan dirinya sendiri. Tanpa pembenahan internal yang tegas dan konsisten, upaya negara menghadapi bencana, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan memulihkan kepercayaan publik akan selalu berjalan tertatih. (*)

Perkembangan Situasi dan Bencana di Tanah Air Hari ini

Bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi laporan bencana yang dicatat Pusdalops Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga hari kesepuluh bulan Juli 2025. Berikut adalah rangkuman perkembangan informasi dan penanganan darurat pada hari ini, Kamis (10/7), pukul 07.00 WIB.

Laporan pertama diterima dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi. Tanah longsor terjadi di Desa Bojonggenteng Kecamatan Bojonggenteng, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat pada Rabu (9/7) pukul 02.00 WIB. Kejadian ini menyebabkan seorang lelaki berusia 15 tahun meninggal dunia karena tertimbun longsor.

Selain korban tewas, dua warga dilaporkan terluka dan dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk penanganan lebih lanjut. Sementara itu petugas mencatat kerugian material dua rumah warga rusak berat terdampak material longsoran.

Kondisi banjir di Dusun Ajjapanisi, Desa Siame, Kecamatan Palakka kab. Bone, Sulawesi Selatan (5/7).

Beralih ke wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, banjir bandang dilaporkan terjadi di Kabupaten Bone pada Sabtu (5/7). Kejadian ini dipicu hujan deras yang terjadi di wilayah tersebut sejak pukul 2 dini hari hingga pukul 10.00 WITA. Akibatnya, Sungai Palakka, Sungai Data, Sungai Hulo, Sungai Lappa Bosse dan Sungai Baruttunge mengalami peningkatan debit air dan meluap hingga ke pemukiman warga.

Banjir bandang berdampak pada 9 desa dan 3 kelurahan di 8 kecamatan, total sebanyak 500 Kepala Keluarga (KK) terdampak. Petugas mencatat sebanyak 495 rumah terdampak dan enam jembatan rusak diterjang banjir.

BNPB diwakili tim Kedeputian Penanganan Darurat bersama Wakil Bupati Bone melakukan peninjauan lokasi jembatan gantung yang putus di Kecamatan Palakka. Dua jembatan gantung tersebut terletak di Desa Usa dan Desa Tengnga. SK tanggap darurat telah ditetapkan selama 14 hari hingga 18 Juli 2025 mendatang.

Selain bencana hidrometeorologi basah, BNPB juga menerima laporan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di dua lokasi. Lokasi pertama dari Kabupaten Padang Lawas, Provinsi Sumatera Utara. Titik api berada di Desa Sigama, Kecamatan Padang Bolak. Laporan adanya titik api diterima pada Rabu (9/7) pukul 19.00 WIB dan berhasil dipadamkan pada 21.30 WIB. Tercatat sedikitnya dua hektar lahan terbakar dari kejadian ini.

Karhutla juga dilaporkan di wilayah Kenagarian Painan Selatan, Kecamatan IV Jurai, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat pada Rabu (9/7) pukul 16.30 WIB. Tim BPBD, POL-PP, Damkar, TNI/POLRI dan pihak Kenagarian serta dibantu warga bersama-sama melakukan pemadaman ke lokasi kejadian. Pada hari yang sama api berhasil dipadamkan, namun sedikitnya dua hektar lahan terbakar akibat kejadian ini.

Penyebab dua kejadian karhutla tersebut masih dilakukan penyelidikan oleh pihak yang berwajib dari masing-masing wilayah.

Menanggapi situasi ini, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk selalu waspada dan siap siaga terhadap ancaman bencana yang dapat terjadi kapan saja. Warga diimbau untuk melakukan langkah-langkah mitigasi, antara lain dengan membersihkan saluran drainase, mempersiapkan area penampungan air, memangkas dahan pohon untuk mengurangi potensi pohon roboh saat cuaca ekstrem serta menetapkan rencana kedaruratan dan evakuasi.

Sementara itu untuk langkah-langkah pencegahan bencana karhutla yang dapat dilakukan antara lain patroli rutin di area rawan kebakaran, pembersihan lahan dari material yang mudah terbakar, memastikan ketersediaan air dan peralatan untuk pemadaman, edukasi masyarakat hingga pelatihan dan simulasi secara rutin. (*)

Waspada Cuaca Ekstrem, Tanah Longsor Telan Korban Dua Warga di Ciamis

JAYAKARTA NEWS— Dua warga ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah tertimbun tanah longsor yang terjadi di Desa Sukamaju, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Minggu (11/9).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ciamis melaporkan bahwa peristiwa itu terjadi saat hujan dengan intensitas tinggi pada pukul 20.00 WIB ditambah kondisi tanah yang labil di lokasi kejadian.

Sebanyak 28 KK/88 jiwa di Desa Sukahurip dan Desa Sukamaju, Kecamatan Cihaurbeuti terdampak bencana itu. Beberapa warga Desa Sukamaju terpaksa mengungsi di masjid tak jauh dari permukiman dan korban meninggal dunia dimakamkan hari ini, Senin (12/9).

BPBD Kabupaten Ciamis saat ini berfokus pada penanganan longsor di Desa Sukamaju untuk evakuasi dan penyelamatan warga serta pembukaan akses jalan yang tertimbun material longsor.

Tanah Longsor di Cilacap

Kejadian tanah longsor juga terjadi di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, pada Minggu (11/9) pukul 15.30 WIB.

BPBD Kabupaten Cilacap mencatat wilayah yang terdampak adalah Desa Tambaksari yang berbatasan dengan Desa Palugon, Kecamatan Wanareja.

Hasil asesmen di lapangan, turap dengan tinggi 3,5 meter panjang 8 meter longsor dan menimpa rumah non permanen milik seorang warga Desa Tambaksari.

Selain itu, tebing dengan tinggi 6 meter, panjang 5 meter dan lebar 2 meter mengalami longsor dan menimpa rumah seorang warga. Satu rumah milik warga yang lain juga terancam terbawa longsor dikarenakan jarak rumah dengan patahan longsor hanya berjarak 1 meter.

Warga terdampak sementara mengungsi ke rumah kerabat untuk meminimilasir kejadian yang tidak diinginkan.

BPBD Kabupaten Cilacap juga melaporkan tebing yang menjadi lahan milik Perhutani longsor dengan ketinggian 8-15 meter menutup jalan lintas kabupaten pada 4 titik dengan panjang antara 10-20 meter.

Dengan adanya longsoran material tersebut, jalan tidak dapat dilalui kendaraan roda empat maupun roda dua. Selain terdiri dari tanah dan lumpur, material longsoran juga berupa batang pohon pinus yang telah ditebang.

Beruntung tidak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut, namun mobilitas warga dari Desa Palugon, Desa Jambu dan Desa Cigintung terhambat. Apabila masyarakat ingin turun ke wilayah bawah harus memutar dengan estimasi penambahan jarak tempuh sekitar 20 kilometer.

BPBD Kabupaten Cilacap sudah berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy dan pihak terkait. Sementara jalur yang tertimbun material longsor telah dibersihkan menggunakan alat berat dan saat ini sudah dapat dilalui kendaraan.

Waspada Cuaca Ekstrem di 24 Wilayah

Cuaca ekstrem yang ditandai dengan peningkatan curah hujan, fenomena hujan sedang hingga lebat dan dapat disertai petir serta angin kencang diprakirakan masih akan melanda 24 wilayah provinsi di Indonesia, terhitung sejak Sabtu (10/9) hingga sepekan ke depan atau Jumat (16/9).

Meneruskan informasi prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) ke-24 wilayah itu meliputi Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta dan Jawa Timur.

Adapun Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat dan Papua.

Menyikapi hal itu, maka BNPB mengimbau kepada masyarakat dan pemangku kebijakan di daerah setempat agar tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan.

Sebagai antisipasi bencana angin kencang, upaya seperti monitoring kekuatan struktur baliho dan pemangkasan cabang dan ranting pohon-pohon besar di wilayah perkotaan hingga desa, pemantauan lereng perbukitan, pembersihan saluran drainase perkotaan agar dilakukan secara berkala.

Guna mengantisipasi potensi ancaman bencana hidrometerologi basah lainnya seperti banjir dan tanah longsor, BNPB mengimbau agar melakukan upaya seperti monitoring lereng perbukitan, susur sungai, pembersihan aliran sungai, kanal, saluran drainase permukiman, dan saluran irigasi secara berkala untuk memininalisir potensi bencana yang dapat dipicu oleh faktor cuaca dan kondisi tata ruang lingkungan.

Apabila terjadi hujan dalam durasi lebih dari satu jam, maka masyarakat yang tinggal di bantaran sungai atau di lereng gunung maupun tebing agar mengungsi ke tempat yang lebih aman untuk sementara waktu.**ebn

Lagi, Mentawai Diguncang Gempa M6.1, Masyarakat Berhamburan

JAYAKARTA NEWS – Gempa bumi berkekuatan magnitudo (M) 6.1 terjadi di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Minggu (11/9) pada pukul 06.10 WIB. Hasil rekaman data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di 1.18 LS dan 98.53 BT. Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer (km).

Selang 14 menit kemudian atau tepatnya pada pukul 06.24 WIB terjadi gempa bumi susulan. Gempa susulan berkekuatan M 5.4 yang berpusat di 1.25 LS dan 98.49 BT pada kedalaman 11 km. BMKG menyatakan gempa bumi itu tidak berpotensi tsunami.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Mentawai dan BPBD Provinsi Sumatera Barat melaporkan ihwal guncangan. Disebutkan, gempa bumi itu dirasakan kuat selama kurang lebih 5 detik di Tuapejat dan 10 detik di Kota Padang.

Guncangan gempa tersebut memicu kepanikan warga sehingga berhamburan keluar rumah. Beberapa warga di Kabupaten Kepulauan Mentawai saat ini telah melakukan evakuasi mandiri ke lokasi pengungsian.

Mengungsi ke Bukit

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai Novriadi, warga mengungsi ke perbukitan. Mereka adalah warga tujuh dusun di Desa Simalegi dan warga di tiga dusun di Desa Simatalu, Kecamatan Siberut Barat. Hal itu dilakukan sama seperti setelah terjadi gempa bumi M 6.4 pada Senin (29/8) lalu.

“Kondisi dan jumlah warga yang mengungsi sama seperti gempa bumi M 6.4 pada tanggal 28 Agustus 2022 kemarin,” jelas Novriadi.

Novriadi juga melaporkan ada kurang lebih 200 orang warga Desa Sikabaluan di Kecamatan Siberut Utara yang turut mengungsi. “Kurang dari 200 warga Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara juga mengungsi,” ungkap Novriadi menambahkan.

Lebih lanjut, terkait korban dan kerusakan, Novriadi mengatakan ada seorang warga Desa Betaet yang mengalami luka di bagian kepala. Dilaporkan, ia tertimpa kayu yang berada di rumahnya. Beruntung keduanya segera mendapatkan pertolongan dari pihak Puskesmas setempat.

“Seorang warga Betaet terluka di kepala terkena kayu di rumahnya saat hendak lari keluar rumah. Mereka sudah ditangani pihak Puskesmas setempat,” jelas Novriadi.

Selain korban luka, Novriadi juga merinci keruskaan ringan di gedung SMP Negeri Sagulubbek. Kerusakan sama juga dialami Puskesmas Betaet di Kecamatan Siberut Barat Daya. Kerusakan itu berupa dinding yang retak dan keramik dinding tekelupas.

“Keruskaan di bagian dinding gedung sekolah SMP Negeri Sagulubbek dan keramik dinding Puskesmas Betaet terkelupas,” kata Novriadi.

BPBD Provinsi Sumatera Barat dan BPBD Kabupaten Kepulauan Mentawai terus melakukan koordinasi. Kedua lembaga itu melakukan asesmen lanjutan dan memonitor dampak yang ditimbulkan setelah terjadi gempabumi.

Tetap Waspada

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau masyarakat khususnya di wilayah Sumatera Barat dan sekitarnya agar tidak panik. Meski begitu, tetap meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi gempabumi susulan. Peringatan dini gempa bumi dapat diperoleh dengan memanfaatkan barang-barang yang mudah dijumpai di rumah seperti menyusun kaleng secara bertingkat. Hal itu bertujuan dapat menjadi ‘alarm’ apabila terjadi gempabumi.

Diingatkan juga agar memastikan jalur evakuasi keluar dari rumah tidak terhalang. Misalnya, terhalang benda dengan ukuran besar seperti lemari, meja, kulkas dan sebagainya.

Khusus bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pesisir, harus waspada apabila terjadi gempa bumi yang berlangsung lebih dari 30 detik. Jika itu terjadi, warga diharap segera menuju ke tempat yang lebih tinggi untuk menghindari kemungkinan terajadinya tsunami.

Warga juga diminta melapor kepada BPBD setempat. Utamanya yang rusak struktur yang ditandai dengan kondisi patah tiang penyangga. Atau, kerusakan masif pada dinding dan kerusakan pada penyangga atau penyusun atap.***/ebn

Belasan Rumah dan Satu Jembatan Amblas Akibat Abrasi di Minahasa Selatan

JAYAKARTA NEWS— Sebanyak 15 unit rumah beserta satu jembatan dan satu bangunan penginapan amblas oleh fenomena abrasi yang terjadi di pesisir Pantai Boulevard, Kelurahan Bitung dan Kelurahan Uwuran Satu, Kecamatan Kepulauan Amurang, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, Rabu (15/6) pukul 14.00 WITA.

Berdasarkan laporan visual dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Minahasa Selatan, rumah dan jembatan yang terdampak abrasi berada di bibir tebing yang berbatasan langsung dengan pantai. Abrasi kemudian menggerus tebing pantai sehingga menyebabkan belasan rumah bergerak dan amblas bak ditelan air laut.

Peristiwa amblasnya belasan rumah itu sempat menjadi tontonan warga sekitar dan beredar di media sosial.

Footage video dari udara kondisi pascaabrasi di pesisir Pantai Boulevard, Kabupaten Minahasa Selatan, Provinsi Sulawesi Utara, Rabu (15/6)/BNPB

Belum ada laporan mengenai korban jiwa, hingga saat ini tim gabungan masih melakukan kaji cepat untuk mendata lebih lanjut kerugian materiil.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini bahwa beberapa wilayah pesisir Indonesia berpotensi diterjang banjir pesisir mulai 11-23 Juni 2022, yang dipengaruhi oleh fenomena Super Full Moon pada Selasa (14/6).

Sebagai antisipasi, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan, tidak beraktivitas di pesisir pantai sementara waktu, melakukan monitoring wilayah pesisir dan memperbarui informasi prakiraan cuaca dari BMKG. Untuk tindakan sementara mencegah abrasi untuk jenis pantai bertebing, masyarakat dibantu BPBD dan Dinas Pekerjaan Umum dapat membuat tanggul sementara baik itu dari karung pasir atau kombinasi dengan bambu.***/din

Intelektual Berperan Bangun Ketangguhan Masyarakat Dalam Hadapi Bencana

JAYAKARTA NEWS— Intelektual memiliki peran yang penting untuk membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi setiap potensi ancaman atau bahaya di Tanah Air. BNPB menggandeng mereka melalui kolaborasi dan sinergi pentaheliks penanggulangan bencana. Hal tersebut diangkat dalam diskusi webinar nasional sebagai rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana 2021.

Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Lilik Kurniawan, menyampaikan, intelektual sebagai bagian dari pentaheliks sangat berkontribusi dalam penanggulangan bencana. Ia mengatakan, peran ilmuwan dan peneliti memberikan sumbangsih karya dan kerja dalam pengurangan risiko bencana.

“Mereka merupakan pakar atau akademisi sebagai bagian dalam pentaheliks penanggulangan bencana di Indonesia,” ujar Lilik sebagai keynote speaker dalam webinar bertema ‘Peran Intelektual dalam Membangun Ketangguhan Menghadapi Bencana’ pada Sabtu (23/10).

Sementara itu, Prof Syamsul Maarif, mengatakan, Indonesia mengalami berbagai kejadian bencana. Namun demikian, pengalaman ini menjadikan masyarakat semakin tangguh dalam menghadapinya. Terkait dengan berbagai kejadian bencana yang terjadi, Syamsul menekankan bahwa Indonesia bukan sebagai negeri supermarket bencana.

“Kita harus mulai dengan paradigma baru, yaitu Indonesia sebagai laboratorium bencana,” ungkap Syamsul Maarif pada webinar tersebut.

Ia juga mengungkapkan bahwa akademisi dan intelektual memiliki peran khusus yang sangat bermanfaat dalam mendorong ketangguhan bersama. Saat menjabat Kepala BNPB periode pertama, Syamsul selalu menekankan peran perguruan tinggi dalam penanggulangan bencana. End to end dari penanggulangan bencana adalah keselamatan jiwa manusia.

Syamsul merupakan penggagas lahirnya konsep keilmuan dalam menanggulangi bencana, khususnya pengurangan risiko bencana. Ia sangat mendorong teknologi karya anak bangsa melalui kajian atau pemutakhiran riset maupun peralatan yang bermanfaat dalam penanggulangan bencana.

Melalui webinar, para narasumber menyatakan bahwa para intelektual memiliki peran strategis untuk membangun ketangguhan menghadapai bencana. Mereka dengan kemampuan pemikiran kritis dapat melakukan pendekatan kolaboratif di tingkat daerah dan pusat. Para akademisi maupun pakar diharapkan selalu bersinergi dengan heliks lainnya, yaitu pemerintah, masyarakat, lembaga usaha dan media massa.

Webinar yang terselenggara dengan kerja sama Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) dan Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (DPP PIKI), menghadirkan narasumber Prof. Dr. Syamsul Maarif, M.Si. (Ketua Dewan Pembina IABI), Dr. Suprayoga Hadi, MSP (Wakil Ketua 1 IABI Bidang Kerja sama), Dr. Wilson Therik (Ketua Pusat Studi Bencana UKSW).***/ebn

BMKG Mutakhirkan Gempabumi Nias Barat Jadi M 6.7 dan Ada Aftershock M 5.2

JAYAKARTA NEWS— Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan adanya gempabumi susulan (aftershock) dengan parameter magnitudo (M) 5.2 dari gempa sebelumnya M 7.2 yang kemudian dimutakhirkan menjadi M 6.7 di lepas pantai sebelah barat Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, Jumat (14/5).

Adapun pusat gempabumi susulan tersebut dilaporkan berada pada titik koordinat 0.21 LU-96.58 BT di kedalaman 10 kilometer (km) dan tidak berpotensi tsunami.

Menurut BMKG, jenis dan mekanisme gempabumi tersebut merupakan gempabumi dangkal yang berada di zona outer-rise, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya.

Adapun hal itu sesuai dengan hasil analisis BMKG yang menunjukan bahwa gempabumi tersebut memiliki mekanisme sesar turun (normal fault).

Hingga Jumat (14/5) pukul 14.30 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya aktivitas gempabumi susulan sebanyak 3 Kali.

Gempabumi Membuat Warga Panik dan Sempat Mengungsi

Berdasarkan laporan dari lintas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), gempabumi utama sempat dirasakan sedang hingga kuat selama 2-5 detik di beberapa wilayah seperti Kabupaten Nias Barat, Kabupaten Nias Selatan, Kabupaten Nias Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Kota Sibolga di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Simeulue dan Kabupaten Aceh Singkil di Provinsi Aceh dan Kabupaten Padang Pariaman di Provinsi Sumatera Barat.

Saat terjadi guncangan, beberapa warga panik dan keluar rumah bahkan sempat mengungsi ke lokasi yang aman. Namun, saat ini mereka telah kembali ke rumah masing-masing.

Dalam hal ini seluruh BPBD setempat telah melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan lintas instansi terkait. Hingga saat ini belum ada laporan kerusakan maupun jatuhnya korban jiwa.

BPBD juga telah memberikan imbauan kepada masyarakat agar tetap waspada, tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Selain itu diharapkan agar masyarakat dapat menghindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa, memeriksa dan memastikan kembali bangunan tempat tinggal cukup tahan gempa ataupun tidak ada kerusakan akibat getaran gempa yang membahayakan kestabilan bangunan sebelum kembali kedalam rumah.***/ebn

Ngeri! Gempabumi M 7.2 Guncang Nias Barat, Masyarakat Panik dan Keluar Rumah

JAYAKARTA NEWS— Gempabumi dengan parameter magnitudo 7.2 dirasakan kuat oleh masyarakat di Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, Jumat (14/5) pukul 13.33 WIB.

Kepala Sub Bidang Direktorat (Kasubdit) Tanggap Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nias Barat, Hiramo melaporkan, guncangan gempabumi tersebut sempat membuat masyarakat panik dan keluar rumah.

“Masyarakat panik dan keluar rumah,” ujar Hiramo melalui keterangan tertulis.

Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Nias Barat saat ini sedang melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan instansi dan pihak terkait.

Sementara itu, berdasarkan hasil rekaman seismogram Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pusat gempabumi tersebut berada pada 0.10 LU dan 96.53 BT di laut pada kedalaman 19 kilometer (km).

Adapun apabila ditarik garis lurus, maka jarak pusat gempa tersebut berada pada 141 km Barat Daya Nias Barat, 151 km Barat Daya Nias Selatan, 172 km Barat Daya Nias, 455 km Barat Daya Medan dan 1.339 km Barat Laut Jakarta.

Lebih lanjut, menurut BMKG gempabumi tersebut tidak berpotensi tsunami.

Hingga siaran pers ini diterbitkan, belum ada laporan mengenai korban jiwa maupun kerugian materil. (ebn)

Tiga Meninggal Akibat Tanah Longsor di Tapanuli Selatan

JAYAKARTA NEWS – Pusat Pengendali Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat sebanyak tiga orang meninggal dunia akibat tanah longsor yang dipicu hujan dengan intensitas tinggi pada Kamis (29/4) pukul 18.00 WIB di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tapanuli Selatan bersama TNI, Polri serta tim gabungan masih melakukan pencarian korban yang tertimbun longsor hingga saat ini menggunakan alat berat.

Selain itu, kerugian materil akibat peristiwa tersebut masih dalam pencatatan lebih lanjut oleh BPBD setempat.

Berdasarkan analisis InaRisk, Kabupaten Tapanuli Selatan memiliki potensi bahaya bencana tanah longsor tingkat sedang hingga tinggi yang berdampak pada 14 kecamatan.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengimbau bagi masyarakat untuk tetap waspada terhadap bencana yang dipicu oleh faktor cuaca dengan melakukan rencana mitigasi dan kesiapsiagaan sesuai potensi bencana yang ada di wilayahnya. (*/rr)

Enam Meninggal Dunia dan Satu Luka Berat Dampak Gempa M6,1

JAYAKARTA NEWS – Gempa M6,1 berdampak pada jatuhnya korban jiwa dan kerusakan bangunan. BNPB terus memutakhirkan data berdasarkan kaji cepat dari BPBD di wilayah Provinsi Jawa Timur. Hingga kini, petugas di lapangan masih terus melakukan  penilaian dampak dan kebutuhan pascagempa.

Data BNPB per hari ini, Sabtu (10/4), pukul 18.00 WIB, mencatat total warga meninggal dunia berjumlah 6 warga dan 1 lain mengalami luka berat. Rincian korban meninggal dunia, 3 orang meninggal dunia di Kabupaten Lumajang, sedangkan masing-masing 2 warga meninggal di antara wilayah Lumajang dan Kabupaten Malang dan 1 di Kabupaten Malang.

Sementara itu, BPBD Kabupaten Lumajang mencatat ada titik pengungsian di Desa Kali Uling, Kecamatan Tempur Sari. Jumlah warga mengungsi masih dalam pendataan. Sedangkan di Kabupaten Malang, Blitar, Trenggalek dan Tulungagung belum ada laporan warga yang mengungsi.

Terkait dengan kerusakan, BPBD beberapa wilayah masih terus melakukan pendataan di lapangan. Informasi sementara, BPBD Kabupaten Tulungagung menginformasikan kerusakan rumah rata-rata pada tingkat rusak ringan.

Di wilayah Kabupaten Trenggalek dan Kota Malang, kerusakan rumah pada kategori rusak ringan hingga sedang. Sedangkan di Kabupaten Lumajang, Malang dan Blitar, tingkat kerusakan rata-rata ringan hingga berat.

BNPB terus berkoordinasi dan memantau kondisi di lokasi bencana dengan berkoordinasi dengan BPBD di wilayah Provinsi Jawa Timur. (*/rr)