Dukung Keketuaan Filipina di ASEAN 2026, Indonesia Ajak Kolaborasi di Bidang AI

JAYAKARTA NEWS— Mandat keketuaan Filipina di ASEAN untuk periode 2026 didukung penuh Pemerintah Indonesia. Komitmen ini disampaikan Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid, dalam peringatan Hari Kemerdekaan ke-147 Republik Filipina di Jakarta.

“Atas nama pemerintah dan rakyat Republik Indonesia, saya menyampaikan ucapan selamat dan salam hangat kepada pemerintah dan rakyat Republik Filipina,” ujar Menkomdigi dalam peringatan ke-147 Hari Kemerdekaan Republik Filipina di Jakarta Pusat, pada Jumat (13/06/2025), dilansir InfoPublik.

Meutya mengatakan bahwa hubungan Indonesia dan Filipina tidak hanya didasarkan pada kedekatan geografis, tetapi juga pada sejarah panjang kebersamaan, nilai-nilai budaya yang serupa, serta visi dan idealisme yang sejalan.

Ia juga menegaskan pentingnya kolaborasi bilateral dalam memperkuat tata kelola digital dan pengembangan kecerdasan artifisial (AI) yang etis di kawasan.

“Sebagai sesama pendiri ASEAN, kedua negara telah berdiri berdampingan dalam memperjuangkan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran kawasan Asia Tenggara,” tuturnya.

Lebih lanjut Meutya menyinggung kontribusi konkret Indonesia dalam mendukung perdamaian di Filipina melalui fasilitasi Jakarta Accord pada 1996, sebagai bukti nyata solidaritas bilateral yang terus tumbuh.

Selain itu, Ia membagikan kisah pribadi yang menunjukkan kedekatan dengan Filipina. “Ibu saya menjalani kehamilan sembilan bulan penuh saat berada di Filipina, dan karena itu, saya dipanggil Bing di rumah—sebuah nama panggilan yang sangat akrab di Filipina. Ayah saya meraih gelar doktornya di Kota Los Baños,” ungkap dia.

Menkomdigi juga menyoroti pentingnya kolaborasi kedua negara dalam menghadapi era transformasi digital.

Sebagai dua demokrasi dinamis dan ekonomi yang terus tumbuh di Asia Tenggara, Indonesia dan Filipina dinilai memiliki visi bersama terhadap masa depan digital yang aman, beretika, dan berpusat pada martabat manusia.

“Kita harus menyambut kemajuan kecerdasan artifisial (AI) dengan semangat kolaboratif, untuk memastikan pengembangan AI dilakukan secara bertanggung jawab melalui kebijakan inklusif, inovasi yang etis, serta riset dan pertukaran talenta yang mendalam,” jelasnya.

Oleh karena itu, lanjutnya, Indonesia menyambut keterlibatan lebih erat dengan Filipina dalam membentuk pengembangan AI yang beretika.

“Bersama-sama, kita dapat memastikan transformasi digital benar-benar meningkatkan kualitas hidup masyarakat, memperkuat demokrasi, dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung bersama,” harapnya.

Menutup sambutan, Meutya menyampaikan harapan terbaik bagi rakyat dan pemerintah Filipina.

“Semoga peringatan ini menjadi pengingat kuat atas ketangguhan, persatuan, dan kemajuan yang telah dicapai Republik Filipina. Mabuhay ang Filipinas. Terima kasih. Selamat,” tandas Menkomdigi.***

Mengapa Hubungan Amerika-Indonesia Dingin

JAYAKARTA NEWS – Hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Indonesia belakangan ini menjadi cenderung dingin. Salah satu momen penting dalam hubungan ini adalah ketidakpartisipasian Presiden AS Joe Biden dalam East Asia Summit, sebuah pertemuan yang memberikan posisi kuat bagi Asia Tenggara dalam berdialog dengan kekuatan global utama. Pertemuan ini merupakan salah satu dari lebih dari 700 pertemuan yang diadakan oleh ASEAN setiap tahun.

East Asia Summit ini mempertemukan perwakilan dari 18 negara, termasuk AS, China, Jepang, India, dan Rusia, dan melambangkan visi ASEAN untuk “sentralitas” dalam panggung diplomasi dunia.

Namun, ketika pertemuan tahun ini berlangsung pada awal September, dua bulan lebih awal dari jadwal biasanya, Presiden AS Joe Biden tidak hadir. Keputusan ini mengingatkan banyak orang akan penghindaran serupa yang dilakukan oleh pendahulunya, Donald Trump, terhadap acara ini. Apa arti dari ketidakhadiran Biden?

The Jakarta Post, surat kabar berbahasa Inggris milik Kompas Group, menerbitkan editorial menarik tentang topik ini. “Kami gagal melihat alasan yang sah yang telah memaksa pemimpin AS untuk mengirim wakilnya ke Jakarta,” demikian tulisnya.

“Tapi sebelum mengeluh, Jokowi harus menyalahkan dirinya sendiri karena gagal membangun hubungan yang kokoh antara kedua negara,” tambahnya, merujuk kepada Presiden Indonesia Joko Widodo dengan julukannya, Jokowi itu. Kalau kita bedah, editorial the Jakarta Post tersebut berfokus pada dua isu utama.

Pertama, editorial tersebut menyatakan bahwa pemimpin Indonesia telah memberikan prioritas kepada hubungan dengan China daripada AS. Sejak menjabat pada tahun 2014, Widodo telah mengunjungi China enam kali, sementara AS hanya tiga kali. Selain itu, ia tidak pernah menghadiri Sidang Umum PBB yang diadakan di New York setiap bulan September.

Isu kedua berkaitan dengan duta besar Indonesia untuk AS. Awalnya, Widodo mempertahankan utusan yang diangkat oleh pendahulunya, Susilo Bambang Yudhoyono. Utusan tersebut akhirnya menjabat selama lima tahun, dua tahun lebih lama dari yang biasanya.

Namun, Jokowi telah mengganti tiga duta besar dalam hampir lima tahun terakhir, yang hanya menjabat selama dua tahun secara keseluruhan, sehingga posisi tersebut kosong lebih lama daripada terisi.

Duta besar terbaru, Rosan Roeslani, meninggalkan jabatannya pada bulan Juli untuk menjadi wakil menteri badan usaha milik negara. Ketika laporan muncul pada bulan berikutnya bahwa Biden akan melewatkan East Asia Summit, Indonesia tidak memiliki seorang pun yang dapat bertindak sebagai perantara di Washington.

Ketidakhadiran Biden bukan disebabkan oleh kurangnya keterlibatan AS dengan Indonesia, melainkan karena Indonesia yang kurang berinteraksi dengan AS — atau setidaknya itulah argumen yang dikemukakan oleh para kritikus Widodo.

Sebagai mantan pengusaha mebel dan gubernur Jakarta, Widodo mengakui selama masa jabatannya bahwa kebijakan luar negeri adalah kelemahan. Dengan fokusnya pada perdagangan daripada isu-isu diplomatik dan keamanan nasional, maka wajar jika ia memprioritaskan hubungan dengan China, yang menyumbang 25% dari perdagangan Indonesia dan 18% dari investasi asing langsung pada tahun 2022 — keduanya sekitar tiga kali lipat dari angka AS.

Jokowi berhasil mendapatkan investasi sebesar $21,7 miliar ketika ia terakhir kali mengunjungi China pada akhir Juni. Namun, dalam masa jabatan keduanya, Jokowi meningkatkan upaya yang berkaitan dengan diplomasi dan keamanan nasional, dengan mempertimbangkan Indonesia sebagai tuan rumah dalam Kelompok 20 pada tahun 2022 dan pemimpin ASEAN pada tahun ini.

Pada bulan Juni 2022, ia menjadi pemimpin Asia pertama yang mengunjungi Rusia dan Ukraina sejak perang dimulai, bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Kunjungan-kunjungan tersebut membantu membuka jalan bagi pernyataan bersama dalam KTT pemimpin Kelompok 20 pada November 2022, meskipun terdapat perbedaan yang dalam di dalam kelompok tersebut.

AS semakin turun dalam daftar prioritas Widodo meskipun ia berupaya memperbaiki hubungannya dengan dunia. Tapi mengapa pendekatan Widodo begitu berbeda dari pendahulunya yang memprioritaskan hubungan dengan Washington?

“Bagi Widodo, tatanan internasional harus terbuka bagi kekuatan ekonomi baru yang semakin memainkan peran dalam abad ke-21,” demikian tulis Ahmad Rizky Umar, seorang dosen di Universitas Queensland di Australia, dalam esai terbarunya, “Doktrin Jokowi: Visi Indonesia untuk tatanan internasional.”

Ia “sangat kritis terhadap kegagalan apa yang disebut ‘tatanan internasional liberal’ dalam mempromosikan perkembangan ekonomi yang adil antara negara-negara” dan menginginkan “lebih banyak suara dan peran dalam politik global,” demikian tulis Umar. AS berada di jantung tatanan internasional liberal tersebut. Joko Widodo kemungkinan juga dipengaruhi oleh opini publik di dalam negeri.

Dalam survei tahun ini bagaimana pandangan terhadap pemimpin regional yang dilakukan oleh Institut ISEAS-Yusof Ishak di Singapura. Sebanyak 31,4% responden Indonesia mengatakan bahwa mereka yakin atau sangat yakin dengan AS sebagai mitra strategis dan penyedia keamanan regional. Angka ini merupakan yang terendah di antara negara-negara ASEAN.

Ketika ditanya apakah ASEAN harus bersekutu dengan AS atau China jika terpaksa memilih, 46,3% responden Indonesia memilih AS — turun 18 poin dari dua tahun sebelumnya. Sedangkan 53,7% memilih China.

Sentimen anti-AS di Indonesia diyakini sebagian besar berasal dari hubungan dekat antara AS dan Israel. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, banyak orang di Indonesia bersimpati pada Palestina dan memiliki pandangan negatif terhadap Israel.

Piala Dunia sepak bola U-20 tahun ini memperlihatkan isu ini. Indonesia seharusnya menjadi tuan rumah turnamen tersebut pada bulan Mei, tetapi protes terhadap partisipasi Israel di sana menyebabkan acara tersebut dipindahkan ke Argentina pada menit-menit terakhir.

Pada tanggal 13 September, perjanjian Oslo yang pertama, yang membuka jalan bagi solusi dua negara dalam konflik Israel-Palestina, genap berusia 30 tahun. Indonesia telah menentang keputusan AS untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, dan, lebih baru, dorongan AS untuk meningkatkan kerjasama antara negara-negara Arab dan Israel.

Joko Widodo, yang dikritik oleh kalangan konservatif Indonesia karena dianggap tidak cukup Islami, kemungkinan sensitif terhadap situasi saat ini.

Mengingat komplikasi semacam itu, bukan hal baru bagi AS untuk menjaga jarak dengan Indonesia. Pada bulan Juli 2021, tidak lama setelah Biden dilantik, Menteri Pertahanan Lloyd Austin mengunjungi Singapura, Vietnam, dan Filipina untuk tur resmi pertamanya ke Asia Tenggara. Bulan berikutnya, Wakil Presiden Kamala Harris juga mengunjungi Singapura dan Vietnam. Indonesia, meskipun menjadi kekuatan global tunggal dalam ASEAN, tidak termasuk dalam jadwal mereka.

Namun, AS tidak dapat lagi mengabaikan pengaruh yang semakin meningkat Indonesia di antara negara-negara yang sedang berkembang yang membentuk Global Selatan.

Indonesia bersatu dengan India, Brasil, dan Afrika Selatan untuk melemahkan bahasa yang berkaitan dengan perang di Ukraina dalam pernyataan pemimpin yang diadopsi pada KTT G20 tahun ini, meskipun menentang keinginan anggota Kelompok Tujuh dan Uni Eropa.

Di tengah-tengah pertemuan tersebut, Gedung Putih mengumumkan bahwa mereka akan menjadi tuan rumah ketika Jokowi berada di AS untuk hadir dalam KTT Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik pada bulan November di San Francisco. Ada spekulasi bahwa Jokowi mungkin akan melewatkan acara tersebut sebagai balasan atas ketidakhadiran Biden dalam pertemuan ASEAN.

Konstitusi Indonesia melarang presiden untuk mencari masa jabatan ketiga, dan Joko Widodo akan menuntaskan jabatannya pada bulan Oktober 2024 setelah pemilihan presiden pada bulan Februari tahun depan. Namun, dua kandidat yang bersaing memperebutkan posisi teratas dalam jajak pendapat, Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, sama-sama berkeinginan untuk memenangkan dukungan dari pemimpin populer tersebut.

“Presiden berikutnya kemungkinan akan melanjutkan ‘Doktrin Jokowi’ ke masa depan,” demikian tulis Umar. Bagaimana keterkaitan yang dingin antara AS dan Indonesia akan ditangani? Dengan meningkatnya pengaruh Global Selatan baru-baru ini, isu ini mungkin lebih menjadi tanggung jawab Washington daripada Jakarta. [nikei/sm]

Ibu Iriana Jokowi Ajak Para Pendamping ASEAN dan Mitra Nikmati Ragam Budaya Indonesia

JAYAKARTA NEWS – Ibu Iriana Joko Widodo menyambut baik kehadiran para pendamping pemimpin ASEAN dan mitra, di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Archipelago, Jakarta, Rabu (06/09/2023). Ibu Iriana berharap para pendamping dapat menikmati sajian ragam budaya Indonesia yang akan dipertunjukkan pada kegiatan program pendamping.

“Saya berharap nanti kegiatan yang ada di Jakarta ini semua menikmati apa yang akan saya sajikan,” kata Ibu Iriana.

Sejumlah pertunjukkan budaya telah dipersiapkan untuk ditampilkan kepada para pendamping pemimpin ASEAN dan mitra. Pertunjukkan budaya dimulai dengan pertunjukan teatrikal “Si Pitung dan Aminah” yang diperankan oleh anak-anak Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Ibu Iriana juga mengajak para pendamping pemimpin ASEAN dan mitra untuk bermain alat musik dari Jawa Barat, angklung. Setelahnya, pertunjukan teatrikal kembali ditampilkan dengan latar belakang cerita perjalanan anak-anak berlayar menuju Ibu Kota Nusantara (IKN) di Pulau Kalimantan.

Sesi pertunjukan budaya Indonesia ditutup dengan penampilan terjun payung yang dilakukan oleh para wanita dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri.

Tidak hanya melalui seni pertunjukan, Ibu Iriana juga memperkenalkan Indonesia dengan mengunjungi anjungan daerah di TMII Archipelago. Ibu Iriana pun berharap para pendamping pemimpin ASEAN dan mitra dapat berkeliling secara langsung ke seluruh daerah di Indonesia.

“Kita juga dapat menyaksikan versi mini dari Indonesia, mungkin bisa melihat yang ada di sini, ini adalah peta Indonesia versi mini. Ibu-ibu harusnya tidak hanya melihat ini saja nanti bisa keliling di seluruh Indonesia,” ucap Ibu Iriana.***/mel

Iriana Kenalkan Wajah Baru TMII Kepada Pendamping Pemimpin ASEAN dan Mitra

JAYAKARTA NEWS – Ibu Iriana Joko Widodo menyambut para pendamping pemimpin ASEAN dan mitra di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Archipelago, Jakarta, Rabu (06/09/2023). Kegiatan Spouse Program yang merupakan bagian dari rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-43 ASEAN ini dimanfaatkan Ibu Iriana untuk mengenalkan wajah baru TMII kepada para pendamping pemimpin ASEAN dan mitra..

Kedatangan dimulai dari Ibu Vandala Siphandone dari Laos, Ibu Yuko Kishida dari Jepang, Ibu Pich Chanmony Hun Manet dari Kamboja, Ibu Rebeka Sultana dari Bangladesh, dan Ibu Jodie Hydon dari Australia.

Setelah itu, diikuti dengan kedatangan Ibu Wan Azizah Wan Ismail dari Malaysia, Ibu Louise Araneta Marcos dari Filipina, Ibu Ritu Banga dari Bank Dunia, Ibu Kim Kun-Hee dari Republik Korea, dan Ibu Ho Ching dari Singapura.

Usai disambut dan bersalaman dengan Ibu Iriana, para pendamping melakukan sesi foto bersama untuk kemudian menuju ke Art Market. Setelah itu, Ibu Iriana dan para pendamping menuju ke Panggung Budaya, TMII Archipelago untuk menyaksikan aktivitas berbasis budaya.

Ibu Iriana juga mengajak para pendamping pemimpin ASEAN untuk berkeliling melihat sejumlah anjungan provinsi di TMII Archipelago dengan menggunakan angkutan keliling (angling).

Kegiatan para pendamping diakhiri dengan peninjauan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dan jamuan makan siang seraya diiringi lagu-lagu dari negara-negara ASEAN dan mitra di Sasono Utomo, TMII Archipelago.***/mel

Edwin Manansang: Indonesia Kuasai 40% Pasar Ekonomi Digital ASEAN

JAYAKARTA NEWS – Indonesia tahun 2022 lalu sukses menguasai sekitar 40 persen dari pasar ekonomi digital ASEAN dengan total nilai 194 miliar dolar Amerika Serikat (AS), kata Rizal Edwin Manansang Staf Ahli di Bidang Transformasi Digital, Kreativitas, dan Sumber Daya Manusia Kemenko Bidang Perekonomian.

Pernyataannya ini disampaikan Rizal Edwin dalam Indonesia Retail Summit (IRS) 2023, yang diadakan di Jakarta pada Senin (14/8/2023).

Perkembangan tersebut, termasuk adanya e-Commerce dan platform perdagangan online, turut merubah lanskap ritel di kawasan ASEAN.

Edwin menambahkan bahwa peningkatan penetrasi internet dan penggunaan smartphone telah mendorong pertumbuhan perdagangan elektronik dengan cepat, yang pada akhirnya menciptakan peluang bisnis baru bagi para pengusaha dan pelaku bisnis di wilayah tersebut.

Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi yang stabil di negara-negara ASEAN juga memberikan dampak pada perkembangan sektor ritel. Beberapa negara, seperti Malaysia, Vietnam, Filipina, Kamboja, Singapura, dan Indonesia, berhasil mencatatkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 3,8 hingga 8,7 persen, yang melampaui rata-rata pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,1 persen.

Indonesia juga berperan penting dalam membentuk kerja sama perdagangan internasional yang memiliki dampak signifikan, melalui kesepakatan seperti ASEAN Free Trade Area dan Comprehensive Economic Partnership Agreements (CEPA) dengan negara mitra dagang. Sebagai proyeksi ke depan, ekonomi digital Indonesia diharapkan mencapai 150 miliar dolar AS atau setara dengan sekitar Rp2.333 triliun pada tahun 2025. Keberhasilan ini berpotensi menjadi instrumen yang dapat membantu memulihkan perekonomian nasional. (sm)

Presiden Jokowi: ASEAN Tidak Boleh Jadi Ajang Persaingan

JAYAKARTA NEWS – Indonesia sebagai pemegang keketuaan ASEAN di tahun 2023 menegaskan komitmen ASEAN untuk terus memperkuat persatuan dan soliditas, serta memperkokoh sentralitas ASEAN dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.

Hal tersebut disampaikan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) saat menerima kunjungan kehormatan para menteri luar negeri se-ASEAN dan negara mitra di Hotel Sangri-La, Jakarta Pusat, Jumat (14/07/2023) pagi.

“ASEAN tidak boleh menjadi ajang persaingan, tidak boleh menjadi proksi negara manapun, dan hukum internasional harus dihormati secara konsisten,” ujar Presiden.

Presiden pun mengharapkan kerja sama dan dukungan nyata dari para mitra dan tamu ASEAN. Presiden meyakini, ASEAN memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan atau epicentrum of growth, baik berupa usia produktif yang melimpah, serta kekayaan alam yang juga berlimpah.

“Kami, negara-negara ASEAN, negara yang sedang berkembang, butuh pengertian, butuh kearifan dan juga butuh dukungan, baik dari negara-negara maju dan negara-negara sahabat untuk meninggalkan pendekatan zero-sum dan mengambil pendekatan saling menguntungkan,” ujarnya.

Menutup sambutannya, Presiden menegaskan bahwa keketuaan di ASEAN akan dimanfaatkan untuk meningkatkan kontribusi ASEAN bagi kejayaan Indo-Pasifik dan dunia.

“Ada sebuah pepatah di Indonesia, yaitu menang tanpo ngasorake, yang artinya kita dapat menjadi pemenang tanpa merendahkan yang lain, tanpa mengalahkan yang lain. Untuk itu, saya mengajak kita semuanya marilah kita menjadi pemenang yang terhormat, menang tanpo ngasorake,” tandasnya.***/mel

Terendah Ketiga di ASEAN, Pemerintah harus Penuhi Kebutuhan Dokter di Tanah Air

JAYAKARTA NEWS— Indonesia disebut sedang mengalami darurat dokter, terutama dokter spesialis dan sub-spesialis. Berdasarkan data yang dilansir dari CNBC Indonesia, disebutkan jika Indonesia berada di urutan 139 dari 194 negara.

Bagi Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, fakta tersebut sangat miris. Iya pun berharap pemerintah menyikapinya dengan serius.

“Peringkat 139 dari 194 negara ini tidak bisa dianggap main-main. Ini membuktikan kebutuhan dokter di negeri ini sudah sangat mendesak. Pemerintah harus segera menyikapinya,” tutur LaNyalla, Minggu (5/2/2023).

Selain itu LaNyalla juga menyorot belum meratanya jumlah dokter, terutama yang ada di daerah.

“Harus ada pemerataan. Masyarakat yang ada di pelosok juga berhak mendapatkan fasilitas kesehatan. Memang tidak mudah, karena ini juga menyangkut infrastruktur. Tapi pemerintah mau tidak mau harus memberikan perhatian lebih untuk masalah kesehatan,” ujarnya.

Dijelaskan LaNyalla, kesehatan menjadi salah satu indikator penting dalam menentukan kesejahteraan masyarakat di suatu negara.

“Semakin sehat penduduk, maka semakin sejahtera pula mereka. Oleh karena itu, pemerintah harus memiliki strategi khusus untuk menyiasati kebutuhan dokter,” tuturnya.

Dalam laporannya, CNBC Indonesia mengatakan rasio data yang dirangkum WHO menyebut apabila sebuah negara berhasil memenuhi “golden line”, maka dapat dikategorikan berhasil dan bertanggung jawab kepada rakyatnya di bidang kesehatan.

Cara menghitung golden line, jumlah dokter, termasuk dokter umum dan spesialis, yang ideal, yaitu 1/1000 atau 1 dokter per 1000 penduduk.

Angka terakhir yang didapatkan dari WHO dan juga World Bank, rasio Indonesia berada di 0,46/1000. Angka ini membawa Indonesia menempati posisi ketiga terendah di ASEAN setelah Laos 0,3/1000 dan Kamboja 0,42/1000.

Kalau kita bandingkan dengan Thailand dan Filipina kita masih di bawahnya, apalagi dengan Malaysia dan Singapura.

Menilik data Legatum Institute, Jepang berada di posisi pertama dengan skor mencapai 86,6 poin pada 2021. Posisinya diikuti oleh Singapura dengan skor indeks kesehatan sebesar 86,12.***/din

Indonesia Mumpuni Pimpin ASEAN Hadapi Ancaman Krisis Pangan

JAYAKARTA NEWS— Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan kesiapan Indonesia untuk menerima estafet tanggung jawab sebagai Ketua ASEAN 2023 dari Kamboja.

“Melanjutkan Presidensi G20, Keketuaan Indonesia di ASEAN akan menitikberatkan pada penangan krisis multidimensi seperti krisis pangan, energi, dan keuangan,” ungkap Ketum Golkar itu.

Menanggapi hal itu, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Sugiyono Madelan Ibrahim menerangkan persoalan pangan adalah hal penting bagi setiap negara. Menurutnya, sudah ada perubahan produksi dan perdagangan pangan global yang sudah lebih baik. Namun hal itu berubah ketika ada ancaman krisis pangan global akibat perang Ukraina-Rusia.

“Masalahnya itu ketika terjadi perang Ukraina, kita maupun negara lain banyak impor gandum. Posisinya harganya naik karena jumlah gandum berkurang. Itu harus ada yang mensubtitusinya atau paling tidak complement. Di situlah masalahnya. Jadi harga tinggi,” terang pengajar Universitas Mercu Buana itu, Junat (11/11/2022).

Sugiyono menegaskan Keketuaan Indonesia di ASEAN bisa memitigasi krisis pangan tersebut agar tidak berdampak serius ke negara ASEAN. Indonesia bisa mengupayakan jalur distribusi pangan yang tidak memberatkan.

“Jadi peranan Indonesia kalau jadi ketua tentu artinya paling tidak bisa mengatur di antara ASEAN itu agar tidak selalu jalur perdagangan. Paling tidak itu membantu bisa pinjam-meminjam pada saat terjadi krisis pangan,” tegasnya.

Menurutnya, ada kecenderungan setiap negara akan menahan keluarnya pangan dengan memberlakukan kebijakan proteksi untuk menjamin kecukupan pangan dalam negeri masing-masing. “Kalau semua menahan kan benar-benar terjadi krisis,” sambungnya.

Oleh sebab itu, Indonesia diharapkan mampu memainkan peran untuk mengatur sebaran pangan agar tidak terjadi kelangkaan di ASEAN. “Indonesia bisa bermain di situ karena punya kemampuan dan pengalaman tentang hal itu. Beberapa negara kalau mengandalkan perdagangan saja, bisa tidak jalan, bisa bahaya karena harga tinggi,” pungkasnya.

Sedangkan Pakar perdagangan ekonomi dunia dan politik internasional UGM, Riza Noer Arfani berpandangan bahwa fundamental perekonomian negara-negara di ASEAN cukup tangguh menghadapi potensi resesi di 2023.

“Secara umum memang negara ASEAN relatif terbebas dari ancaman resesi. ini ditunjukkan dengan proses recovery ekonomi yang mereka lakukan sejak pandemi juga dilihat dari Pertumbuhan Ekonomi yang rata rata positif. itu menjadi modal kuat, juga dilihat dari tingkat inflasi yang terkendali.” kata Riza, Jumat (11/11).

Mitigasi Dampak

Namun meski begitu, dia mengingatkan pasti ada dampak dari negara-negara yang mengalami resesi atau perlambatan ekonomi. “Mengingat sejumlah negara ASEAN masih mengandalkan pasar yang konvensional, Amerika, Eropa bahkan Jepang. Pasar konvensional kemungkinan besar akan terlanda resesi tahun depan. Catatan sejauh kita bisa mendiversifikasi pasar, maka akan lumayan aman. jadi pasar non konvensional perlu digenjot.” ungkap Riza.

Negara China juga diproyeksikan akan mengalami perlambatan. Sedikit banyak hal ini akan berpengaruh pada ekonomi ASEAN.

Kemudian mengenai masalah pangan, negara-negara di ASEAN harus bekerjasama untuk mengamankan rantai pasok komoditas utama yaitu beras.

”Memang basis kita masih beras, namun perlahan lahan mengkonsumsi non beras cukup besar. Ini potensi bergejolak. Kalau saran sata, kerjasama ASEAN sangat penting untuk mengobrol rantai pasok, bukan cuma beras dan non beras,” tandas Riza.***/din

Soal Dana Darurat ASEAN untuk Pandemi, Ini Penjelasan Menkes Budi

JAYAKARTA NEWS— Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan usulan Indonesia untuk pembentukan dana darurat ASEAN untuk pandemi. Dana darurat itu bisa membantu negara-negara terdampak pandemi agar bisa digunakan tidak hanya untuk Covid-19 tetapi juga untuk pandemi yang akan datang.

Untuk ASEAN, saat ini kita sudah memiliki dana darurat khusus untuk Covid-19, yaitu ASEAN Covid-19 Response Fund yang difasilitasi pengelolaannya oleh Sekretariat ASEAN. Pengumpulan dana bersifat voluntary dan terbuka untuk dukungan dari negara mitra.

Dana tersebut dapat digunakan untuk mendukung kesiapsiagaan dan respon, termasuk mendanai proyek-proyek peningkatan kapasitas negara-negara anggota ASEAN.

Sejak diadopsi pada akhir tahun 2020, hingga saat ini sudah terkumpul dana pledge USD 30 juta yang di antaranya masih terkumpul USD 25 juta dan yang sudah terpakai USD 10 juta untuk pengadaan vaksin. Sementara kontribusi Indonesia sebesar USD 150 ribu.

Emergency fund yang sudah maju adalah G20, sudah ada persetujuan dari negara-negara G20 untuk mengadakan dana darurat ASEAN tersebut. Karena sebenarnya kita juga berfikir kalau dunia sudah ada emerging fund, maka untuk skala ASEAN juga bisa mengikuti dan mensinergikan dengan mekanisme yang ada saat ini untuk COVID-19,” katanya pada konferensi pers di sela pertemuan 15th AHMM di Bali, Sabtu (14/5). Demikian dikutip dari rilis Kemenkes.

Untuk saat ini, kata Menkes, pihak nya juga akan menyelesaikan pembentukan Pusat Kedaruratan Kesehatan Masyarakat dan Penyakit Menular ASEAN atau ASEAN Center for Public Health Emergencies and Emerging Diseases (ACPHEED).

Saat ini masih dalam tahap membereskan center- center untuk prevention, detection (surveilans), dan response dulu.

“Nanti sudah terbentuk yang prevention, surveilans, detection, dan response, ini kita akan diskusikan mengenai kebutuhan adanya fund untuk pandemi, beyond COVID-19 di kawasan ASEAN ini,” tambah Menkes Budi.

“Kalau nanti sudah terbentuk Insya Allah Presiden Jokowi pada saat Keketuaan Indonesia untuk ASEAN tahun 2023, akan bisa meluncurkan fund tersebut yang khusus untuk membantu negara-negara yang kesulitan pada saat mengalami krisis kesehatan,” tuturnya.

Terkait emergency fund hasil G20 terakhir di Amerika, Menkes mengaku dirinya bersama Menteri Keuangan RI Sri Mulyani siap membantu pelaksanaan emergency fund untuk membantu negara-negara yang terkena pandemi di manapun di seluruh dunia. Ini adalah inisiatif dari presidensi G20 terakhir di Amerika.***/ebn

Mendag Lutfi: ASEAN harus Kompak Respon Perkembangan Ekonomi Dunia

JAYAKARTA NEWS— Pada hari kedua Pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) khusus ASEAN-Amerika Serikat, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi menegaskan bahwa penguatan ASEAN merupakan kunci dari pertumbuhan ekonomi kawasan.

Penegasan disampaikan Mendag Lutfi usai pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan Kamboja Pan Sorasak dan Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia Dato’ Seri Mohamed Azmin Ali.

Pertemuan bilateral dilaksanakan dihari kedua KTT khusus ASEAN-Amerika Serikat yang berlangsung 11-13 Mei 2022.

Dalam keterangan tertulis Kementerian Perdagangan, Sabtu (14/5/2022), menyebutkan pertemuan bilateral juga membahas rangkaian Pertemuan Spesial ASEAN Economic Ministers (AEM) yang akan dilaksanakan pada 17—18 Mei 2022 mendatang di Bali, Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Mendag Lutfi juga membahas kondisi ekonomi global saat ini, antara lain terkait peningkatan proteksionisme era modern, peningkatan inflasi pascakonflik Rusia-Ukraina yang memicu krisis energi dan inflasi harga dunia, serta peningkatan ketidakpercayaan dunia terhadap sistem perdagangan multilateral yang telah memberikan dampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi di kawasan.

Selain itu, dibahas juga berbagai agenda yang ditawarkan oleh negara-negara ekonomi besar seperti Indo-Pacific Economic Forum (IPEF) oleh Amerika Serikat, European Union Indo-Pasific Strategy oleh Uni Eropa, Belt Road Initiatives (BRI) oleh Tiongkok, serta kebijakan seperti EU Green Deal dan UK Environmental Act (Due Diligence on Forest Risk Commodities).

Mendag Lutfi menekankan, rantai pasok di ASEAN akan sangat terganggu di masa mendatang apabila ASEAN tidak segera merespon berbagai perkembangan situasi ekonomi dunia yang terjadi dewasa ini.

“ASEAN perlu segera mengambil aksi nyata untuk memperkuat posisi sentralitas ASEAN melalui berbagai inisiatif berbasis proyek dan merevitalisasi ASEAN sebagai basis produksi dalam penguatan rantai pasok ekonomi di kawasan,” tegas Mendag Lutfi.

Mendag Lutfi memandang penguatan ekonomi harus berasal dari dalam ASEAN. ASEAN memiliki berbagai dalam isiatif bersama yang perlu direvitalisasi seperti proyek pupuk Aceh ASEAN, proyek Urea ASEAN di Malaysia, proyek fabrikasi tembaga ASEAN di Filipina, proyek abu soda garam batu di Thailand, serta proyek vaksin ASEAN di Singapura.

“Untuk itu, ASEAN perlu meningkatkan proyek-proyek serupa di masa mendatang sehingga dapat memperkuat ketangguhan ASEAN terhadap berbagai agenda atau kebijakan negara lain yang dapat mengganggu rantai pasok di kawasan,” ungkap Mendeg Lutfi.

Pandangan singkat Mendag Lutfi mendapat tanggapan positif dari Menteri Sorasak dan Menteri Azmin yang juga berpandangan sama.
Menteri Sorasak, selaku ketua AEM tahun ini akan mendukung pelaksanaan AEM Special Meeting yang akan dilaksanakan di Bali dan akan mengupayakan terbentuknya kesepakatan yang lebih konkrit dari seluruh Menteri Ekonomi ASEAN dalam merespon perkembangan ekonomi global saat ini.

Pada hari yang sama, Mendag Lutfi juga menghadiri kegiatan Indonesia Ministers Meeting with Pemimpin Bisnis Amerika Serikat yang diinisiasi Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Pertemuan ini menghadirkan 12 pimpinan perusahaan-perusahaan besar AmerikaSerikat antara lain Microsoft, Cargill, P&G, Johnson&Johnson, Chevron, Exxonmobil, dan C4V.

Pada pertemuan ini, Mendag Lutfi menyampaikan, Indonesia menargetkan keluar dari jebakan pendapatan kelas menengah melalui pelipattigaan produk domestik bruto (GDP) per kapita dari USD 4,000 menjadi sekitar USD 12,500 pada periode 2038—2040. Dalam mencapai target ini, peningkatan investasi infrastruktur secara masif menjadi kunci utama Pemerintah Indonesia. Untuk menunjang pencapaian tersebut, Indonesia mendukung keterbukaan akses pasar perdagangan internasional.

“Peningkatan investasi diharapkan dapat mendukung tujuan besar Pemerintah Indonesia untuk keluar dari status negara dengan pendapatan menengah dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia secara umum,” tutup Mendag Luthfi.***ebn