JAYAKARTA NEWS – Mimpi membawa software PeduliLindungi menjadi alat pembayaran digital, tampaknya dapat tercapai.
Syaratnya, tujuannya benar-benar untuk kepentingan publik. Tidak ada udang di balik batu, alias tidak ada upaya-upaya komersialisasi terselubung.
Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menjelaskan, platform sistem elektro PeduliLindungi diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan.
Dengan demikian, jika ada rencana atau wacana untuk mendorong peningkatan layanan aplikasi PeduliLindungi sebagai alat pembayaran digital, bukan hanya sebagai aplikasi pelacak, sepenuhnya menjadi kewenangan Kemenkes.
Untuk dapat menjadi aplikasi pembayaran, perlu langkah-langkah teknis yang perlu ditempuh. Kemenkes harus berkoordinasi dengan PT Telkom Indonesia Tbk untuk membahas pengembangan aplikasi tersebut.
Kemenkominfo, lanjut Johny, dalam hal ini berada pada posisi sebagai regulator dan akselerator.
Software PeduliLindungi merupakan aplikasi publik yang tujuannya untuk kepentingan masyarakat, bukan software perusahaan yang yang dapat dikomersialkan.
“Apakah akan dikembangkan untuk aplikasi macam-macam? Sejauh untuk pelayanan publik ya boleh saja,” kata Johnny seperti dikutip Bisnis. Sejauh ini ini belum ada pembahasan lebih lanjut lintas kementerian perihal pengembangan aplikasi PeduliLindungi.
Aplikasi PeduliLindungi, dinilai cukup matang untuk didevelop. Aplikasi itu setidaknya kini sudah diunduh sebanyak 48 juta kali, dengan rerata penggunaan 55 juta per bulan.
Yang menarik, aplikasi ini juga sudah terintegrasi dengan eHAC, SiLacak, dan lain sebagainya. Selain itu juga terhubung dengan 11 aplikasi antara lain, misalnya Gojek, Grab, Tokopedia, Traveloka, Tiket, Dana, Livin by Mandiri, LinkAja, Goers dan Jaki.
Melihat hal tersebut Menteri Johnny menilai aplikasi itu dapat dikembangkan menjadi aplikasi publik yang sangat luas. Dia juga menggarisbawahi bahwa dari aspek keamanan, PeduliLindungi pun akan terus ditingkatkan dengan teknologi enskripsi. Hal itu untuk menjaga data masyarakat yang ada di aplikasi PeduliLIndungi aman dari serangan siber yang terjadi di Indonesia.
“Jadi kita harus memastikan bahwa PeduliLindungi memiliki kemampuan yang cukup untuk menghadapi serangan siber,” kata Johnny.
Dalam kesempatan sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mendorong aplikasi PeduliLindungi agar dikembangkan menjadi alat pembayaran digital. Dia ingin aplikasi itu menyusul sukses sebagai alat pembayaran digital, menyusul kinclongnya langkah alat pembayaran digital melalui QRIS yang digagas Bank Indonesia.
Luhut bangga karena karya Kreatif Indonesia mampu membangun produk premium dengan disertai sitem pembayaran digital melalui QRIS. “Nanti mungkin kita coba masukkan ke digital PeduliLindungi, platform yang macam mana saja bisa masuk,” katanya.
JAYAKARTA NEWS—– Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bina Marga Jatim terus melakukan inovasi terhadap pelayanan publik di Jatim untuk peningkatan kualitas jalan milik Provinsi Jatim tetap terjaga dengan baik.
Salah satu kiatnya pada 2021 ini aduan untuk masyarakat yaitu membuat aplikasi Jalan Rusak Lapor Dewe alias “Jalak Loewe”.
Adapun Jalak Loewe adalah inovasi DPU Bina Marga Jatim untuk mempermudah masyarakat dalam melaporkan jalan rusak secara online dan realtime.
“Laporan berbasis android ini sudah berjalan untuk masyarakat yang ingin mengetahui kondisi jalan rusak di daerahnya. Apabila masyarakat yang menemukan jalan rusak provinsi akan langsung ditindak lanjuti, kemudian untuk nasional dan pemkab yang masuk ke aplikasi jalak loewe ini akan juga kita laporkan ke BBPJN dan pemkab setempat,”ujar Plt Kadis PU Bina Marga Jatim, Nyono saat rapat secara zoom bersama Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa serta 11 UPT PU Bina Marga Jatim, Jumat (29/1/2021).
Lebih lanjut dikatakan Nyono, untuk aplikasi jalak Loewe ini sudah masuk laporan dari masyarakat ke PU Bina Marga yaitu mulai tanggal 1 – 21 Januari 2021 ada 16 laporan yang masuk ke aplikasi tersebut.
Di mana, laporan lewat jalan jalak loewe ini langsung direspon melalui Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Jalan dan Jembatan (UPT PJJ) Bojonegoro melaksanakan perbaikan kerusakan jalan, di ruas Jalan Ponco-Jatirogo (Bts. Prov. Jateng) Link 146 Km Sbaya 144+560, 145+900, dan 146+100 pada hari, Selasa (26/1/2021).
“Aplikasi Jalak Loewe merupakan upaya DPU Bina Marga Jatim untuk menyediakan QRRMS (Quick Response Road Management System). Dan ditindak atau dilakukan penanganan dalam 1×24 jam,” paparnya.
Ditambahkan pula, kondisi jalan provinsi sebenarnya sudah cukup baik. Dengan rincian, kemantapan jalan provinsi dalam kondisi baik sebesar 71,05 persen, kondisi sedang 21,06 persen, kondisi rusak ringan 5,76 persen, dan kondisi rusak berat 2,12 persen.
Secara keseluruhan, kemantapan jalan provinsi sudah mencapai 92,1 persen. Sementara untuk anggaran infrastruktur tahun 2021 ini, kata Nyono, sebesar Rp367 miliar. Dengan rincian, Rp194,28 miliar dari APBD murni, Rp172 miliar Dana Alokasi Khusus (DAK), Rp51 miliar APBN, dan Rp121 miliar dari Program Hibah Jalan Daerah (PHJD).
Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parwansa meminta kepada PU Bina Marga Jatim untuk terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait aplikasi tersebut. Hal ini agar masyarakat bisa mengatahui apabila terjadi jalan rusak didaerah.
“Kami berharap langsung ada konektivitas dan komunikasi yang cepat antara Bina marga Jatim, Dishub Jatim dan pihak BBPJN apabila terjadi kerusakan Jalan di Jatim. Mengingat masyarakat saat ini ada jalan rusak minta pemerintah segera lakukan perbaikan jalan tersebut,” harapnya.(poedji)
APAKAH Anda termasuk mengguna ponsel Android? Jika Anda masuk di dalamnya, Anda perlu memperhatikan kabar ini dan secepatnya harus menghapus sejumlah aplikasi yang menghabiskan daya baterai yang sekaligus juga berdampak pada tingginya tagihan telepon.
Sekarang ini ada 22 aplikasi smart battery life – dan mereka dapat berdampak pada tagihan telepon yang tinggi.
Aplikasi “klik-penipuan” (“click-fraud“) adalah aplikasi standar di Google Play Store, tetapi aplikasi ini mengkriminalisasi secara diam-diam tanpa terlihat.
Para pakar di Sophos telah menemukan bahwa 22 dari aplikasi ini telah diunduh secara kolektif lebih dari 22 juta kali.
Aplikasi yang merugikan pengguna Android adalah aplikasi Flash yang diblokir yang telah mengumpulkan 1 juta unduhan – sebelum memindahkannya dari Google Play Store.
Aplikasi ini menciptakan iklan dan trik yang tidak terlihat bagi pengiklan untuk berpikir Anda telah mengklik untuk menghasilkan uang.
Terkadang iklan menyatakan bahwa Anda mengeklik perangkat Apple, berharap mendapatkan lebih banyak uang.
Iklan tidak pernah ditampilkan kepada pengguna, yang artinya mereka tidak mengganggu Anda
Sebaliknya, iklan muncul di jendela tersembunyi browser.
Malware kemudian meniru pengguna yang berinteraksi dengan iklan dan menyesatkan mereka karena interaksi itu sah.
Itu berarti orang yang menjalankan aplikasi pintar menghasilkan lebih banyak uang.
Ini juga berita buruk bagi pengguna.
“Dari sudut pandang pengguna, aplikasi ini menguras baterai ponsel mereka dan dapat menyebabkan data muncul karena aplikasi masih berjalan dan berkomunikasi dengan server di latar belakang,” kata para peneliti.
Tetapi bagi pengguna biasa tanpa pengetahuan teknis, akan sulit untuk menemukan sesuatu yang salah.
Sinyal peringatan untuk penggunaan data dan masa pakai baterai akan meningkat dengan cepat – tetapi akan sulit untuk mengomentari aplikasi pintar.
Ini menciptakan masalah besar lainnya – ulasan pengguna.
Banyak aplikasi hampir tidak memiliki umpan balik negatif karena pengguna tidak tahu ada yang salah. Itu berarti semakin banyak orang cenderung mengunduh aplikasi di masa mendatang.
SEIRING dengan perkembangan jaman, BPJS Ketenagakerjaan pun meningkatkan layanannya melalui aplikasi yang mudah diundah bagi para pengguna smartphone.
Aplikasi yang dapat dipasang dalam telepon pintar tersebut, benar-benar memanjakan penggunanya dengan hanya sentuhan jari —dan tentu saja jaringan internet– peserta BPJS Ketenagakerjaan dapat memperolah layanan.
Kemudahan layana untuk para peserta BPJS Ketenagakerjaan, diberikan BPJS Ketenagakerjaan melalui aplikasi BPJSTKU. Aplikasi berbasis android ini, dipersiapkan BPJS Ketenagakerjaan untuk mempermudah peserta dalam melakukan pengecekan saldo, klaim online, pendaftaran online dan layanan informasi lainnya kapanpun dan dimanapun.
Menurut Direktur Perencanaan Strategis dan Teknologi Informasi BPJS Ketenagakerjaan, Sumarjono, BPJSKU merupakan aplikasi generasi kedua yang dikembangkan dari BPJSTK Mobile.
“Terdapat berbagai macam fitur tambahan yang menyempurnakan aplikasi sebelumnya. Seperti cek saldo JHT, pelaporan ketidaksesuaian upah atau jumlah karyawan, hingga promo diskon di merchant kerjasama, semua ada dalam satu aplikasi”, kata Sumarjono.
Namun Sumarjono mengingatkan, adanya kemudahan dari kemajuan teknologi ini, harus diimbangi dengan kecerdasan pengguna dalam memanfaatkan teknologi. “Sebagai contoh, maraknya aplikasi palsu sejenis BPJSTKU di Playstore yang perlu diwaspadai. Pengguna harus mampu memilih aplikasi yang terpercaya dan resmi dari BPJS Ketenagakerjaan. Kanal informasi yang dimiliki BPJS Ketenagakerjaan yang tersedia di media sosial dapat digunakan sebagai salah satu cara untuk melakukan verifikasi resmi tidaknya aplikasi jika pengguna merasa kurang yakin”, jelas Sumarjono.
Kanal informasi yang dimiliki BPJS Ketenagakerjaan terdiri atas kanal media sosial, seperti Youtube, Facebook, Twitter, dan Instagram, serta kanal Care Contact Center dan melalui situs resmi BPJS Ketenagakerjaan.
Dia menambahkan, masyarakat juga perlu waspada dengan akun media sosial yang tidak resmi. “Aalagi akun yang menawarkan kemudahan pencairan dengan membayarkan sejumlah uang. Kanal media sosial yang kami miliki seluruhnya sudah terverifikasi, pastikan hanya menghubungi kanal informasi resmi kami jika ada yang ingin ditanyakan,” tandasnya.
Sumarjono menambahkan, jangan sampai peserta BPJS Ketenagakerjaan memasang aplikasi abal-abal di smartphone dan memberikan detil data-data personal. Masalahnya, aplikasi abal-abal itu menjadi modus penipuan untuk mencuri dan memanipulasi data.
Ada beberapa aplikasi palsu yang mengatasnamakan aplikasi resmi milik BPJS Ketenagakerjaan, seperti Ku BPJS, Saldo JHT On Line, Iman Ethika dan lainnya. Masyarakat harus hati-hati dalam memilih dan menginstal aplikasi secara online.
Negara dengan alamat email berujung @bpjsketenagakerjaan.go.id bukan alamat email dengan menggunakan gmail, yahoo, atau provider lainnya.
“Hal ini kami sampaikan karena maraknya laporan dari peserta kami yang menerima email mengatasnamakan BPJS Ketenagakerjaan dan meminta beberapa data pribadi sebagai bahan verifikasi, hal ini kami pastikan tidak benar dan merupakan info yang menyesatkan”, ujar Sumarjono.
Saat ini aplikasi BPJSTKU terus dilakukan update untuk peningkatan kapasitas layanan dan kepada peserta yang merasa masih terkendala dalam penggunaan aplikasi BPJSTKU, dapat melakukan download ulang melalui Playstore untuk mendapatkan kenyamanan layanan digital oleh BPJS Ketenagakerjaan. Dan bagi pengguna iOS untuk sementara baru dapat mengakses datanya melalui aplikasi berbasis situs di http://www.sso.bpjsketenagakerjaan.go.id”,pungkas Sumarjono.
BADAN intelijen internal Libanon tampaknya telah memata-matai ribuan orang —termasuk wartawan dan personil militer— di lebih dari 20 negara.
Hal itu diungkapkan oleh peneliti Electronic Frontier Foundation and Lookout, sebuah perusahaan mobile security.
Operasi mata-mata, yang terungkap ini adalah di antara puluhan yang ditemukan oleh kelompok-kelompok hak asasi manusia dan organisasi teknis dalam beberapa tahun terakhir, ketika pemerintah dan badan-badan intelijen mulai lebih mengandalkan pada spyware mobile dan desktop daripada pada bentuk-bentuk tradisional spionase.
Para peneliti menemukan apa yang mereka katakan sebagai bukti, bahwa badan intelijen Libanon – yang disebut Directorate General of Internal Security Forces (Direktorat Jenderal Keamanan Umum/ GDGS) – memata-matai perangkat seluler dan komputer desktop yang menjadi target mereka dengan menggunakan berbagai metode selama lebih dari enam tahun.
Metode serangan utama mereka, kata para peneliti, adalah melalui serangkaian aplikasi Android yang dirancang untuk terlihat seperti layanan pesan pribadi yang banyak digunakan, seperti WhatsApp.
Setelah diunduh, aplikasi memungkinkan mata-mata untuk mencuri hampir semuanya apa yang ada di ponsel korban mereka, termasuk pesan teks dengan kode akses satu kali untuk mengakses email dan layanan lainnya, serta daftar kontak, log panggilan, riwayat penelusuran, rekaman audio, dan foto.
Aplikasi ini juga memungkinkan mata-mata mengambil foto menggunakan kamera depan atau belakang ponsel, dan mengubah perangkat menjadi mikrofon senyap untuk menangkap audio. Aplikasi tidak dirancang untuk menargetkan pengguna iPhone Apple.
“Salah satu hal utama dari penyelidikan ini adalah bahwa para aktor, seperti Dark Caracal, bergeser dari kemampuan desktop murni untuk spionase hingga sekarang sangat bergantung pada perangkat seluler untuk mengumpulkan kecerdasan mereka,” kata Michael Flossman, seorang analis keamanan di Lookout.
GDGS adalah badan intelijen internal utama Lebanon, dan direkturnya, Mayor Jenderal Abbas Ibrahim, seorang jenderal karir di angkatan darat, memiliki profil yang bagus dan portofolio yang meluas.
Badan itu mengawasi izin tinggal bagi orang asing, dari diplomat dan puluhan ribu pekerja rumah tangga Asia Tenggara hingga lebih dari satu juta pengungsi Suriah. Keahlian dan pengaruh agensi secara tradisional dilihat sebagai berasal dari kecerdasan manusia, bukan dari teknik spionase teknologi tinggi.
“Direktorat Jenderal Keamanan Umum Lebanon tidak memiliki kemampuan seperti ini. Kami berharap, kami memiliki kemampuan ini,” ujar Ibrahim yang dihubungi Reutrers sebelum rilis penelitian ini. Saat pihak GDGS dikonfirmasi setelah ada hasil riset ini, mereka tidak membalas permintaan untuk menanggapi hal ini.
Para peneliti di Electronic Frontier Foundation dan Lookout mulai berkolaborasi untuk mengungkap apa yang mereka yakini sebagai kampanye mata-mata negara negara pada tahun 2016.
Tahun itu, Electronic Frontier Foundation merilis laporan yang mendokumentasikan kampanye mata-mata terhadap jurnalis dan aktivis yang kritis terhadap pihak berwenang di Kazakhstan.
Kampanye ini termasuk teknologi yang digunakan untuk memata-matai pengguna Android. Lookout, yang berfokus pada keamanan perangkat seluler, ditawarkan untuk membantu.
Para penyerang menargetkan para wartawan dan aktivis, serta pejabat pemerintah, personil militer, lembaga keuangan, kontraktor pertahanan dan lainnya di 21 negara. Negara-negara itu termasuk Amerika Serikat, Cina, Jerman, India, Rusia, Arab Saudi, Korea Selatan, dan di dalam Lebanon.
Para peneliti melacak serangan ke sebuah bangunan di Beirut yang menaungi GDGS Lebanon, menggunakan jaringan Wi-Fi dan apa yang disebut alamat protokol internet yang ditugaskan untuk mesin penyerang.
Sementara para peneliti mengatakan mereka tidak dapat memastikan apakah serangan itu adalah pekerjaan GDGS atau karyawan nakal, banyak dari serangan itu muncul terkait dengan alamat email – op13@mail.com – yang telah dikaitkan dengan berbagai persona online, termasuk “Nancy Razzouk ”dan“ Rami Jabbour.
”Semua alamat fisik yang terdaftar dengan registrasi yang dibuat oleh akun email itu berkumpul di sekitar gedung GDGS di Beirut, sesuai dengan aktivitas nirkabel pengguna.”
Email yang dikirim ke alamat email itu tidak dikembalikan.
Sebagai bagian dari pekerjaan mereka, para peneliti menemukan bukti bahwa mata-mata Lebanon mengarahkan korban untuk menginstal aplikasi mata-mata melalui pesan-pesan WhatsApp yang dimulai dengan polos dengan “Bagaimana kabarmu?”
Mereka juga terkait dengan aplikasi mata-mata dengan pesan tambahan seperti “Anda dapat mengunduh dari di sini untuk berkomunikasi lebih lanjut. ”
Dalam kasus lain, mata-mata menemukan target mereka di Facebook, mengundang mereka ke grup Facebook, di mana mereka memposting tautan ke aplikasi pemikat mereka, yang sering mereka sebut dengan nama seperti “WhatsApp plus.”
Para mata-mata juga mengarahkan korban ke situs masuk palsu untuk layanan media sosial seperti Twitter dan Facebook untuk mencuri kredensial mereka, membajak akun mereka dan mendorong keluar pesan-pesan tipuan kepada lebih banyak orang.
Para peneliti juga menemukan bukti bahwa pejabat Lebanon sebelumnya telah menggunakan FinFisher, sebuah produk yang diproduksi oleh perusahaan Inggris Gamma International, yang menjual alat pengintai yang memungkinkan pelanggan mengubah komputer dan telepon menjadi alat mendengarkan untuk memantau pesan, panggilan, dan keberadaan target.
Semakin, para peneliti menemukan bahwa mata-mata telah membangun alat mata-mata mobile kustom mereka sendiri yang kurang canggih dari FinFisher tetapi efektif dalam mendapatkan kecerdasan yang mereka incar.
Martin J. Muench, direktur pelaksana Gamma International, mengatakan kepada The New York Times bahwa perusahaannya hanya menjual alat pengintai kepada pemerintah untuk investigasi kriminal dan terorisme.
The Times telah meliput beberapa kejadian di mana alat Muench telah muncul di perangkat yang digunakan oleh jurnalis dan aktivis. Gamma Group pun tidak menanggapi permintaan untuk mengomentari hal ini.***
AYRIAL Miller jelas tampak terganggu. Ibunya sedang duduk bersamanya di sofa di sebuah apartemen mereka di Chicago, meneliti kontak-kontak remaja putri itu di media sosial.
“Siapa ini?” tanya Jennea Bivens, Ibunda Ayrial.
Ini adalah teman dari seorang kawan, kata Ayrial. Mereka kemudian tidak berbicara beberapa saat.
“Hapus itu,” kata ibunya.
Mata remaja berusia 13 tahun menyipit. Terkejut. Marah. “Aku benci ini! Aku benci ini! Aku benci ini! ” teriaknya.
Ya, Bivens adalah salah satu dari jenis “ibu-ibu itu” yang ‘keras’. Tipe yang masuk ke kamar tidur putrinya tanpa mengetuk pintu. Kelompok ibu yang dengan ketat memonitor telepon putrinya. Dia tidak meminta maaf.
Tidak seharusnya Ayrial melakukan itu, kata Rich Wistocki, saat berbicara dengan Bivens dan beberapa orang tua lainnya pada awal Juni lalu di Sekolah Dasar Nathan Hale di Chicago.
“Tidak ada yang namanya privasi untuk anak-anak,” kata Wistocki.
Pakar teknologi lainnya mungkin tidak setuju. Tetapi Wistocki khawatir tentang kehidupan digital yang dialami banyak remaja, dan berbagai konsekuensi mengerikan –termasuk pelecehan, bunuh diri atau melakukan aksi pembunuhan– yang dapat terjadi.
Anak-anak hari ini bertemu dengan orang asing melalui media sosial, beberapa di antaranya dewasa, melalui aplikasi yang tersedia di Google Play Store atau App Store. Mulai dari Music.ly yang tampaknya tidak berbahaya – yang memungkinkan pengguna berbagi video sinkronisasi bibir – ke WhatsApp dan, baru-baru ini, Houseparty, layanan obrolan video grup. Dengan fasilitas aplikasi itu, para remaja dimungkinkan menyimpan foto cabul, lalu memperdagangkan foto-foto itu seperti kartu bisbol.
Beberapa bahkan memiliki aplikasi “pembakar” rahasia untuk menghindari pengawasan orang tua, atau berbagi kata sandi dengan teman, sehingga dapat memposting di akun mereka, saat hak istimewa diambil.
David Coffey, seorang ayah dan ahli teknologi dari Cadillac, Michigan, mengatakan informasi seperti itu dia peroleh dari dua remaja yang bercerita tentang beberapa hal licik yang dilakukan rekan-rekan mereka, bahkan di kota kecil mereka.
“Saya harus menyerahkannya kepada kreativitas mereka, tetapi itu hanya dimungkinkan melalui teknologi,” kata Coffey, chief digital officer di IDShield, sebuah perusahaan yang membantu pelanggan menangkis pencurian identitas.
Sulit untuk mengatakan berapa banyak anak yang melampaui batas digital dengan cara ini, paling tidak karena intinya adalah untuk keluar dari deteksi orang dewasa. Akun media sosial mudah dibuat dan dibuang. Aplikasi tertentu juga naik, di antaranya ada juga yang tidak disukai kalangan remaja.
Namun, para akademisi, para ahli seperti Wistocki dan Coffey, dan banyak di kalangan remaja itu sendiri mengatakan, bahwa hal itu sangat umum bagi anak-anak untuk menjalani kehidupan online yang tidak dapat dilihat oleh sebagian besar orang tua – baik atau buruk.
Orang tua jelas kalah. Bagaimana tidak, anak-anak menggunakan tablet dan ponsel cerdas pada usia yang semakin dini. Anak-anak juga terbiasa menggunakannya serta berbagi kiat dengan teman merela.
Orangtua, sebaliknya, tampaknya juga kewalahan dan sering naif tentang apa yang dapat dilakukan anak-anak dengan perangkat canggih, kata Wistocki, yang kini jadwal padatnya untuk berbicara dengan orang tua dan orang muda terkait dengan masalah ini.
Dia sering memegang ponsel dan memberitahu orang tua yang memberikan “perangkat menyenangkan” kepada anak-anak –dan memungkinkan mereka untuk memiliki setiap saat, termasuk update status di kamar mereka di malam hari– ibaratnya seperti menyerahkan kunci ke Mercedes baru dan berkata, “Sayang kamu bisa pergi ke Vegas. Kamu bisa bebas pergi ke Texas, Florida, New York, ke mana pun Anda ingin pergi. ”
Pada pembicaraan terpisah dengan siswa di Nathan Hale, di dekat bandara Midway di Chicago, Wistocki bertanya siapa yang memiliki akun di Instagram, Twitter, Snapchat dan aplikasi lainnya dan permainan dengan media sosial. Sebagian besar anak-anak yang hadir, lebih muda dari 13 tahun, mengangkat tangan mereka.
Setelah itu, seorang gadis, semua rambut keriting dan berkawat gigi, mendekati seorang reporter dengan putus asa. “Tolong, tolong, mohon, jangan menggunakan foto saya atau video saya mengangkat tangan saya,” kata anak 13 tahun itu memohon berulang kali, meskipun ada jaminan bahwa dia tidak tertangkap kamera.
“Jangan gunakan punyaku,” seorang teman dengan cepat menyela. Sepanjang hari, anak-anak mengatakan bahwa orang tua mereka tidak tahu mereka ada di media sosial atau tidak tahu apa yang mereka lakukan dengan akun mereka.
Itu mengejutkan Dawn Iles-Gomez, sang kepala sekolah, yang hari-harinya semakin penuh dengan drama yang dimulai di media sosial.
Dan itu sering bukan tersangka yang biasa di kantornya, katanya, tetapi parade beragam siswa itu memberinya informasi untuk dapat bertindak tepat dalam menyikapi dunia digital.
“Ini mengejutkan – bahasa dan ancaman dan hal-hal jahat yang dikatakan,” katanya.
“Dan saya akan mengatakan 75 persen waktu itu, saya sebut orang tua mereka akan berkata, ‘Yah, tidak, mereka bilang mereka tidak melakukan itu.’
“Dan saya katakan, ‘Yah – mereka melakukannya.'”
Kejadian semacam ini dapat berubah menjadi sangat buruk, terkadang melibatkan anak muda yang mengejutkan.
Pada bulan Januari, dua anak berusia 12 tahun ditangkap di Panama City Beach, Florida, karena cyberstalking yang menurut polisi menyebabkan bunuh diri teman sekelasnya yang bernama Gabriella Green, yang telah berulang kali diganggu.
Dalam contoh lain, anak remaja membeli narkoba melalui media sosial atau situs web terenkripsi. Atau, seperti yang dijelaskan anak-anak Coffey kepadanya, mereka dapat menggunakan kartu “hadiah” prabayar untuk Amazon atau eBay – tersedia di sebagian besar toko obat – untuk membeli barang selundupan. Mereka memesan makeup atau vaping aksesoris, dan mengirimkannya ke rumah teman.
Para pejabat penegak hukum mengatakan bahwa pengambilan dan pembagian foto dan video “sexting” yang meriah juga telah menjadi komponen kehidupan kencan yang umum dan bahkan diharapkan bagi banyak remaja.
Tahun lalu di Naperville, pinggiran Chicago di mana Wistocki bekerja sebagai detektif selama bertahun-tahun, seorang remaja berusia 16 tahun bunuh diri setelah polisi menemukan bahwa dia merekam dirinya berhubungan seks dengan teman sekelas dan kemudian berbagi rekaman itu dengan rekan-rekannya di tim hoki. Saat mencari ponselnya, mereka juga menemukan foto-foto gadis telanjang lainnya di aplikasi foto rahasia yang disamarkan sebagai kalkulator.
Namun, Wistocki mengatakan, pada umumnya orang tua tetap menyangkal dengan apa yang mereka sebut sebagi ‘itu bukan anak saya.”
Untuk mengajak orang tua menghadiri pertemuan dengan Wistocki di Nathan Hale, kepala sekolah menawarkan kelulusan tambahan 8 tahun dan insentif lainnya. Hasilnya, hanya sekitar 70 orang tua yang muncul; padahal sekolah memiliki 930 siswa.
Kathleen Kazupski, seorang ibu dengan dua anak perempuan berusia 13 dan 17 tahun, adalah salah satunya. “Sebagai orang tua, kita perlu menyadari ini, tidak diragukan lagi,” katanya setelah itu.
Dia datang, sebagian, karena dia menemukan pada musim gugur yang lalu putrinya yang lebih muda sedang mengirim pesan dengan seorang bocah yang tidak dia kenal – pertama di Snapchat dan kemudian melalui SMS – sampai Ibu mengakhiri itu. “Aku membuatnya takut.”
Bivens, ibu Ayrial, juga hadir. Dia menggunakan aplikasi bernama MMGuardian, salah satu dari beberapa yang tersedia, untuk mengelola dan memantau penggunaan telepon putrinya yang berusia 13 tahun. Dia menutup telepon selama jam sekolah (meskipun putrinya masih dapat memanggilnya) dan sebelum tidur. Dia mematikan aplikasi tertentu, terkadang sebagai hukuman, dan memonitor teks.
Untuk mengawasi sebagian besar media sosial, dia harus menggunakan telepon putrinya. Ketika itu tidak mungkin, dia memeriksa apa yang dapat dia lihat dari akun yang dia tahu, menggunakan akunnya sendiri. Baru-baru ini, ia mengejar putrinya karena memaki beberapa pos videonya.
“Ini adalah pekerjaan penuh waktu,” kata Bivens. “Orang-orang menertawakan saya, karena saya memantau barang-barangnya. Tetapi saya tidak memiliki masalah yang sama seperti orang lain. ”
Survei Pew Research Center 2016 menemukan bahwa hanya sekitar separuh orang tua mengatakan mereka pernah memeriksa panggilan telepon anak-anak dan pesan teks mereka atau bahkan berteman dengan anak-anak mereka di media sosial. Mereka bahkan cenderung menggunakan alat berbasis teknologi untuk memantau remaja mereka atau memblokir aplikasi tertentu.
Ponsel Android kini menawarkan beberapa opsi pembatasan orang tua, termasuk batas waktu layar dan pemblokiran aplikasi, melalui layanan yang disebut Google Family Link – meskipun dirancang khusus untuk anak-anak yang lebih muda dari 13. Pembaruan yang akan datang untuk perangkat lunak sistem iPhone, yang telah memungkinkan untuk persetujuan orang tua dari pembelian aplikasi dan musik, akan memberikan orang tua lebih banyak kontrol atas waktu layar ponsel pintar, penggunaan aplikasi dan berselancar di web pada iPhone, iPad dan iPod.
Aplikasi pemantauan independen juga telah menjamur. Beberapa memberi orang tua lebih banyak pilihan untuk melihat dan mengelola apa yang anak-anak mereka posting di layanan seperti Instagram atau Snapchat – sering dengan biaya bulanan. Ini cenderung lebih efektif pada ponsel Android, kata Wistocki, yang merekomendasikan alat tersebut dalam pembicaraannya dengan orang tua.
Dia memantau putra-putranya sendiri sampai mereka berusia 18 tahun, dan memberi tahu orang tua bahwa mereka harus melakukan hal yang sama.
Pakar teknologi lainnya setuju bahwa pemantauan masuk akal untuk anak-anak yang lebih muda. Tapi Pam Wisniewski, seorang profesor ilmu komputer di University of Central Florida, adalah di antara mereka yang menyarankan pelonggaran bertahap remaja untuk membuktikan mereka dapat dipercaya.
“Saya hampir mencapai titik di mana saya merasa dunia akan lebih baik tanpa media sosial,” kata Wisniewski, yang mempelajari interaksi komputer manusia dan keamanan online remaja. “Tapi saya juga seorang pragmatis.”
Alih-alih memotong anak-anak dari media sosial, dia mendorong orang tua untuk mencari momen-momen yang bisa diajarkan. Ketika bahan yang tidak pantas mengalir melalui umpan mereka, misalnya, dia menyarankan untuk mendiskusikan strategi penanggulangan, seperti menyembunyikan pos orang itu atau memblokirnya.
Sarita Schoenebeck, asisten profesor dan direktur Living Online Lab di University of Michigan, mengatakan penelitiannya juga menemukan bahwa menutup remaja dari media sosial hanya cenderung membuat mereka sneakier.
“Tidak ada anak yang ingin ditarik dan diperintahkan untuk tidak melakukan ini,” kata Schoenebeck. “Cobalah untuk mencari tahu cara membicarakannya dengan cara terbuka.”
Bahkan Wistocki, sambil melakukan pemantauan, memberi tahu orang tua untuk menawarkan “Tiket Emas” kepada anak-anak mereka – tidak ada hukuman, ketika mereka datang kepada mereka tentang kesalahan yang mereka buat secara online atau bantuan yang mereka butuhkan dengan masalah media sosial.
Ibu Ayrial melakukan semua untuk itu, terutama setelah mengetahui bahwa pemantauan dan pemblokiran pada aplikasi tidak bisa dibilang sangat mudah. Baru-baru ini, Ayrial memulai sebuah videostream langsung di Twitter dan berhubungan dengan orang asing yang memintanya untuk menunjukkan kakinya yang telanjang. Itu adalah permintaan “menyeramkan”, kata remaja itu, yang menyebabkan dia mengakhiri koneksi dengan cepat.
Dia telah mengesampingkan blok di media sosial dengan menggunakan tablet. Tapi dia memberi tahu Ibu apa yang terjadi segera setelahnya.
Ayrial sebanarnya masih tidak senang terlalu diawasi ibunya. Tapi, menyadari ‘bahaya’ dunia maya, ia tampaknya bisa menerimanya.
“Ketika saya di sekolah menengah, terkadang itu bisa memalukan, Anda tahu?” katanya. “Anda harus belajar sendiri – bagaimana saya menempatkan ini? – disiplin. Anda perlu belajar dari kesalahan Anda sendiri. ”
Jika Ibu tidak memberikan ruang itu, katanya, dia selalu muncul dengan trik baru untuk dapat daring secara rahasia, seperti yang dilakukan teman-temannya.
MAHASISWA Institut Informatika dan Bisnis Darmajaya Lampung berhasil mengembangkan aplikasi belajar aksara Lampung di smart phone berbasis android, untuk mengenalkan budaya Indonesia itu secara lebih mudah.
“Kini tidak perlu repot, ada cara mudah untuk mempelajari aksara Lampung. Cukup mengunggah aplikasi belajar aksara Lampung di Play Store, aktivitas belajar aksara Lampung menjadi sangat mudah melalui smartphone android,” kata Febrian Eka Saputra, mahasiswa pengembang aplikasi tersebut di Bandarlampung, Senin (17/7/2017).
Febrian merancang aplikasi tersebut, sebagai tugas skiripsinya pada Jurusan Sistem Informasi. Dijelaskan, aplikasi tersebut memuat materi yang dapat membantu masyarakat atau pelajar dalam mempelajari dasar-dasar pengenalan aksara Lampung.
Halaman utama menampilkan beberapa menu, yaitu menu aksara Lampung yang berisi pengertian dan penggunaan aksara Lampung. Kemudian, menu huruf induk yang berisi 20 huruf yang dikenal di dalam aksara Lampung, yang dilengkapi ejaan dan audio (suara).
“Ada menu angka yang berisi 9 angka dengan ejaan dan suara. Lalu, menu tanda baca yang berisi 14 tanda baca dalam aksara Lampung dilengkapi nama tanda baca, aksara, ejaan, contoh, dan audio. Terdapat menu evaluasi yang berisi soal pilihan ganda untuk mengevaluasi kemampuan user, dan terakhir menu profil tentang pembuat aplikasi,” katanya seperti dikutip Antara.
Aplikasi ini memiliki ukuran file yang kecil, sehingga tidak memerlukan ruang memori penyimpanan yang besar. Penggunaannya juga sangat sederhana sebagai media pembelajaran bagi pelajar, serta dapat diakses secara tanpa jaringan untuk digunakan kapan saja dan dimana saja walaupun tanpa koneksi internet, katanya pula.
Febrian berharap aplikasi ini dapat membantu Pemerintah Provinsi Lampung dalam upaya melestarikan budaya termasuk bahasa maupun aksara Lampung. Indera SKom MTI, dosen pembimbingnya, mengapresiasi kreativitas mahasiswa bimbingannya itu dalam melakukan penelitian. Diharapkan, aplikasi ini dapat terus dikembangkan, seperti desain tampilan yang lebih menarik, serta penambahan menu untuk mereview jawaban soal pada menu evaluasi, dan menu menulis aksara.
“Perlu juga adanya durasi dalam menjawab dan variasi soal, sehingga pengguna merasa lebih tertantang untuk mengerjakan, serta dapat mengetahui letak kesalahannya dalam menjawab soal,” ujar dosen Jurusan Fakultas Ilmu Komputer Kampus Darmajaya ini memberi saran pengembangan aplikasi tersebut.***