Raras, Model dan Penari yang Mengakrabi Anak Jalanan

 Raras, Model dan Penari yang Mengakrabi Anak Jalanan
Nindya Raras Laksita, foto model busana, penari, dan bersosialisasi dengan anak-anak jalanan di kolong jembatan kereta Cikini, Jakarta Pusat. Foto: Ist

RARAS, begitu ia akrab disapa. Nama lengkapnya Nindya Raras Laksita. Gadis 26 tahun blasteran Jawa-Arab ini adalah salah satu dari profil anak muda Indonesia yang mandiri. Berbekal talenta tari Jawa klasik yang ditekuninya sejak anak-anak, kini Raras merambah dunia foto model.

Aktivitas kesehariannya lumayan padat. Belakangan, kesibukan Raras didominasi sesi pemotretan sebagai model busana. Bekal penari, menjadikannya mudah mengikuti instruksi fotografer. Tak heran jika tawaran menjadi kapstok bagi aneka adi-busana berdatangan kepadanya. “Lumayan, buat tambah uang jajan,” kata Raras sambil tertawa.

Mahasiswi Fakultas Psikologi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta itu, mengaku acap rindu menari. Tawaran menari semi-profesional sudah diterimanya sejak Raras duduk di bangku SLTA. “Sekarang, urutan prioritas saya adalah, kuliah, foto model, dan menari. Jadi saya masih membatasi pemotretan atau tawaran menari, agar tidak mengganggu jadwal kuliah. Betapa pun, kuliah harus saya utamakan. Itu amanat orang tua,” tutur gadis cantik bertubuh mungil itu.

Berkat profesi foto model dan penari yang dijalaninya, tak heran jika pada titik tertentu ia pun bersinggungan dengan dunia akting. Tak pelak, tawaran main di sinetron pun menghampirinya. Meski begitu, hingga hari ini belum satu tawaran main sinetron pun yang ia terima. “Dari informasi teman yang sudah terjun ke dunia sinetron saya tahu, bahwa dunia akting tidak bisa dikerjakan secara sambilan. Ketika kita sudah terikat kontrak, misalnya, pasti ada aktivitas lain yang dikorbankan demi jadwal syuting. Saya khawatir, itu akan mengganggu kuliah yang insya Allah tinggal sebentar lagi selesai,” tutur Raras, dewasa.

Berbicara dengan Raras, makin terkuak keistimewaan lain yang ia sandang. Selain aktif di dunia foto model busana dan menari, ternyata Raras juga orang bekerja di salah satu kantor swasta. Selain bekerja dan seabrek jawal pemotretan, Raras ternyata juga masih menyisihkan waktu untuk melakukan kegiatan sosial bersama anak-anak kolong jembatan kereta di wilayah Cikini, Jakarta Pusat.

Apa yang kau cari, Raras?

“Sasya hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan bercerita, bermain, dan menyelipkan pesan-pesan budi pekerti yang baik kepada anak-anak kolong jembatan kereta itu. Terhadap mereka, saya harus memandangnya dengan penuh rasa syukur, karena kondisi saya jauh lebih baik dibanding mereka. Mereka serba kekurangan. Kekurangan secara ekonomi, kekurangan perhatian dan kasih sayang tulus. Mereka anak-anak jalanan. Setidaknya dari sisi perhatian itulah saya bisa berbagi. Semoga bisa menjadi pondasi psikologis mereka menghadapi kehidupan yang keras di Jakarta,” papar Raras, antusias.

Ditanya ihwal darah seni yang mengalir di tubuhnya, ia tak memungkiri sebagai darah sang ayah, yang seorang seniman Yogyakarta, dan selalu aktif berorganisasi serta mengembangkan seni budaya tradisi. Meski begitu, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak melibatkan posisi sang ayah dalam meniti karier. “Ayah anak tunggal, saya juga anak tunggal. Ayah bisa mandiri di dunianya, maka saya pun harus bisa,” tegasnya.

Siapa gerangan ayahanda Raras? Ia hanya tergelak. “Ini dari Jayakarta kan? Ah… teman-teman Jayakarta pasti kenal ayah saya,” jawabnya tanpa mau menyebut nama sang ayah.

Baiklah. Bagaimana soal kecenderungan karier ke depan, antara pekerja kantoran, foto model, penari atau bahkan artis? “Prinsipnya saya mengerjakan apa pun dengan penuh tanggung jawab dan profesional. Salah satu kiatnya adalah dengan mengukur kemampuan. Kemampuan fisik maupun keberadaan waktu. Jika semua bisa saya lakukan tanpa harus ada yang dikorbankan, baru saya bisa bernapas lega. Sebab, memang itulah keinginan saya ke depan,”

Pertanyaan selanjutnya baru akan dilontarkan, ketika tiba-tiba ia menyela, “Maaf, wawancaranya sudah dulu yaaa… saya mau siap-siap pemotretan lagi. Lain kali disambung dengan topik yang lain.”

Baiklah, Ras….. ***

Digiqole ad

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *