Gadis-gadis berjilbab yang bisa Anda ikuti untuk saran gaya fesyen

TAHUKAH Anda bahwa  Instagram  merupakan  harta karun yang sangat berharga untuk urusan  saran gaya berbusana.

Bagaimana ini terjadi? Ya, di media sosial instagram ini, kita dapat menemukan bergudang-gudang mode inspiratif yang siap untuk diikuti sarannya.

Untuk urusan gaya berpakaian,  ada sekelompok blogger  yang membuat nama untuk diri mereka sendiri sebagai pelopor mode sederhana, dan mereka mengunggah gaya busana berjilbab di Instagram.

Baca terus untuk mendapatkan hasil foto  dari model busana sederhana ini.

@summeralbarcha 
Gaya influencer yang berbasis di AS ini dikenal karena kecintaannya pada layering dan diikuti oleh 444.000 penggemar berat.

https://www.instagram.com/p/BlVw77hHQXp/?taken-by=summeralbarcha

@hautehijab
Designer dan  CEO  Haute Hijab, Melanie Elturk ini  dalam postingannya selain mengunggah fashion juga menampilkan makanan dan  travelingnya untuk dapat dinikmati secara rutin oleh 201.000 followers-nya.

https://www.instagram.com/p/Bk8FI32gtJB/?taken-by=hautehijab

 

@heba_jay

Ini posting blogger fashion Arab-Amerika yang dipelototi  201.000 pengikutnya tentang pakaian sehari-hari yang dapat juga ditiru siapa pun.

 

https://www.instagram.com/p/BlgumUXhBb2/?taken-by=heba_jay

 

@basma_k
Bloger yang satu ini berbasis di  London dengan pengikut  425,000 netizen. Yang menarik, dia memiliki style yang unik.

https://instagram.com/p/BRQ-UIzFELX/?utm_source=ig_embed

 

@ascia
Dengan  2-jutaan followers di Instagram, wanita  Arab Amerika ini  memiliki banyak hal untuk senyum. Akunnya menampilkan gaya kasual, termasuk dari travelingnyake sejumlah wilayah di seantero dunia.

https://www.instagram.com/p/Bi45C9eHAmy/?taken-by=ascia

 

@zahee22

Bloger Zaheera Mohammed juga menarik. Dia juga sebagai  Brand Ambassador untuk https://www.ilovemodesty.com/

https://www.instagram.com/p/BlDpqMvhW7E/?taken-by=zahee22

 

‘Hijab30’, Tantangan untuk Memperluas Dukungan kepada Wanita Muslim di bulan Ramadhan

 

 

ADA yang berbeda Ramadhan tahun ini bagi para wanita Muslim di seluruh dunia. Organisasi World Hijab Day telah memulai kampanye yang mendorong perempuan non-Muslim untuk merasakan selama sebulan  berhijab selama bulan suci Ramadhan.

https://twitter.com/Abdulbari493/status/1002283063970119681

Prempuan-perempuan non muslim  di seluruh dunia secara individu mengenakan jilbab, di bulan Ramadhan, untuk mengekspresikan solidaritas mereka dengan wanita Muslim yang menghadapi diskriminasi.

Tujuan dari kampanye ini adalah untuk membangun jembatan dan mematahkan stereotip. Organisasi World Hijab Day telah memulai kampanye yang mendorong non-Muslim untuk mengenakan  Hijab di bulan suci Ramadhan.

“Acara ini adalah bagi mereka yang ingin mengalami hijab selama lebih dari satu hari untuk lebih memahami apa yang wanita Muslim lakukan setiap hari,” kata Nazma Khan, presiden dan pendiri organisasi World Hijab Day.

Para peserta telah mengungkapkan pengalaman mereka kepada  organisasi. Grace yang berusia 11 tahun dan ibunya berkata, dia “merasa sangat kuat” tentang hal itu, dan berencana untuk mengenakan hijab selama  sebulan penuh.

 

Ibunya, Ellie, menambahkan bahwa mereka akan mengganti pakaian mereka ke pakaian yang tidak terlalu terbuka yang akan melengkapi jilbab mereka.

“Ramadhan adalah bulan penting dalam kalender Islam. Jadi apa waktu yang lebih baik untuk menunjukkan dukungan saya kepada para sister hijabi saya di seluruh dunia. Sebagai seorang Kristen, saya merasa penting bagi semua agama untuk mendukung satu sama lain dalam keyakinan mereka dan perjalanan spiritual mereka tanpa prasangka, ”kata peserta lain.

“Dalam Islam, saya menemukan kedamaian; kedamaian yang hilang selama bertahun-tahun. Dalam Islam, saya menjadi versi terbaik dari diri saya sendiri, ”kata Brittney, seorang Muslim Convert, AS.

“Saya bangga berpartisipasi dalam tantangan # Hijab30. Saya merasa itu membantu menyebarkan kesadaran, toleransi, dan dukungan untuk saudara-saudara #Muslim kami. “- Siobhan Welch, Kemetic Orthodox, Arkansas, USA.

“Pengalaman memakai jilbab telah membuka mata saya. Karena saya tidak terbiasa mengenakan jilbab dalam kehidupan sehari-hari saya, saya tidak menyadari tingkat pelecehan sosial yang dihadapi para wanita ini. ”- kata Pamela Zafred, Brasil, non-Muslim.

 

 

Perjuangan untuk wanita Muslim untuk mengikuti tradisi Islam Hijab di dunia barat telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Negara Eropa, satu per satu berkumpul untuk membatasi wanita Muslim mengenakan Hijab di ruang publik; hijab menurut mereka adalah simbol agama yang mengancam masyarakat mereka yang sekuler. Setelah Perancis, negara-negara seperti Denmark, Jerman, dan Swedia telah menempatkan larangan resmi pada jilbab.

Tantangan ‘Hijab30’ mendapatkan momentum di seluruh dunia. Para non-Muslim yang berpartisipasi dalam tantangan tersebut bertujuan untuk membuat masyarakat mereka lebih menerima dan toleran terhadap wanita Muslim, yang akan menggagalkan Islamophobia.

 

https://twitter.com/BajanMiner/status/1002550766001905664

 

Beberapa bulan yang lalu, ‘Menghukum seorang Muslim’ – gerakan kebencian terhadap Muslim dimulai di Inggris. Gerakan itu menyebarkan pamflet kepada orang-orang, mendorong mereka untuk menyerang Muslim dan menjanjikan hadiah bagi mereka yang menarik jilbab dari wanita Muslim, karena menyakiti mereka dan melemparkan asam pada mereka.

Tantangan ‘Hijab30’ mendapatkan momentum di seluruh dunia. Para non-Muslim yang berpartisipasi dalam tantangan tersebut bertujuan untuk membuat masyarakat mereka lebih menerima dan toleran terhadap wanita Muslim, yang akan menggagalkan Islamophobia.***

Raras, Model dan Penari yang Mengakrabi Anak Jalanan

Nindya Raras Laksita, foto model busana, penari, dan bersosialisasi dengan anak-anak jalanan di kolong jembatan kereta Cikini, Jakarta Pusat. Foto: Ist

RARAS, begitu ia akrab disapa. Nama lengkapnya Nindya Raras Laksita. Gadis 26 tahun blasteran Jawa-Arab ini adalah salah satu dari profil anak muda Indonesia yang mandiri. Berbekal talenta tari Jawa klasik yang ditekuninya sejak anak-anak, kini Raras merambah dunia foto model.

Aktivitas kesehariannya lumayan padat. Belakangan, kesibukan Raras didominasi sesi pemotretan sebagai model busana. Bekal penari, menjadikannya mudah mengikuti instruksi fotografer. Tak heran jika tawaran menjadi kapstok bagi aneka adi-busana berdatangan kepadanya. “Lumayan, buat tambah uang jajan,” kata Raras sambil tertawa.

Mahasiswi Fakultas Psikologi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta itu, mengaku acap rindu menari. Tawaran menari semi-profesional sudah diterimanya sejak Raras duduk di bangku SLTA. “Sekarang, urutan prioritas saya adalah, kuliah, foto model, dan menari. Jadi saya masih membatasi pemotretan atau tawaran menari, agar tidak mengganggu jadwal kuliah. Betapa pun, kuliah harus saya utamakan. Itu amanat orang tua,” tutur gadis cantik bertubuh mungil itu.

Berkat profesi foto model dan penari yang dijalaninya, tak heran jika pada titik tertentu ia pun bersinggungan dengan dunia akting. Tak pelak, tawaran main di sinetron pun menghampirinya. Meski begitu, hingga hari ini belum satu tawaran main sinetron pun yang ia terima. “Dari informasi teman yang sudah terjun ke dunia sinetron saya tahu, bahwa dunia akting tidak bisa dikerjakan secara sambilan. Ketika kita sudah terikat kontrak, misalnya, pasti ada aktivitas lain yang dikorbankan demi jadwal syuting. Saya khawatir, itu akan mengganggu kuliah yang insya Allah tinggal sebentar lagi selesai,” tutur Raras, dewasa.

Berbicara dengan Raras, makin terkuak keistimewaan lain yang ia sandang. Selain aktif di dunia foto model busana dan menari, ternyata Raras juga orang bekerja di salah satu kantor swasta. Selain bekerja dan seabrek jawal pemotretan, Raras ternyata juga masih menyisihkan waktu untuk melakukan kegiatan sosial bersama anak-anak kolong jembatan kereta di wilayah Cikini, Jakarta Pusat.

Apa yang kau cari, Raras?

“Sasya hanya ingin berbagi kebahagiaan dengan bercerita, bermain, dan menyelipkan pesan-pesan budi pekerti yang baik kepada anak-anak kolong jembatan kereta itu. Terhadap mereka, saya harus memandangnya dengan penuh rasa syukur, karena kondisi saya jauh lebih baik dibanding mereka. Mereka serba kekurangan. Kekurangan secara ekonomi, kekurangan perhatian dan kasih sayang tulus. Mereka anak-anak jalanan. Setidaknya dari sisi perhatian itulah saya bisa berbagi. Semoga bisa menjadi pondasi psikologis mereka menghadapi kehidupan yang keras di Jakarta,” papar Raras, antusias.

Ditanya ihwal darah seni yang mengalir di tubuhnya, ia tak memungkiri sebagai darah sang ayah, yang seorang seniman Yogyakarta, dan selalu aktif berorganisasi serta mengembangkan seni budaya tradisi. Meski begitu, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak melibatkan posisi sang ayah dalam meniti karier. “Ayah anak tunggal, saya juga anak tunggal. Ayah bisa mandiri di dunianya, maka saya pun harus bisa,” tegasnya.

Siapa gerangan ayahanda Raras? Ia hanya tergelak. “Ini dari Jayakarta kan? Ah… teman-teman Jayakarta pasti kenal ayah saya,” jawabnya tanpa mau menyebut nama sang ayah.

Baiklah. Bagaimana soal kecenderungan karier ke depan, antara pekerja kantoran, foto model, penari atau bahkan artis? “Prinsipnya saya mengerjakan apa pun dengan penuh tanggung jawab dan profesional. Salah satu kiatnya adalah dengan mengukur kemampuan. Kemampuan fisik maupun keberadaan waktu. Jika semua bisa saya lakukan tanpa harus ada yang dikorbankan, baru saya bisa bernapas lega. Sebab, memang itulah keinginan saya ke depan,”

Pertanyaan selanjutnya baru akan dilontarkan, ketika tiba-tiba ia menyela, “Maaf, wawancaranya sudah dulu yaaa… saya mau siap-siap pemotretan lagi. Lain kali disambung dengan topik yang lain.”

Baiklah, Ras….. ***