Pesona Alam Bahari Wakatobi yang Mencengangkan

JAYAKARTA NEWS— Pesona alam bahari Wakatobi telah membuat Direktur Museum Rekor Indonesia (Muri) Aylawati Sarwono berdecak kagum ketika mengunjungi Pulau Wangi-Wangi bersama rombongan penyelam dari Jakarta.

“Wakatobi layak dicatatkan sebagai rekor dunia di Muri karena disini terdapat 750 dari total 850 spesies koral dunia,” kata Ayla Sarwono usai melakukan aktifitas selam di perairan Wakatobi, Rabu (25/5).

Menurut Aylawati Sarwono, pemberian Rekor Dunia Muri akan diserahkan langsung oleh Pendiri Muri, Jaya Suprana di Jakarta kepada Bupati Wakatobi H. Haliana, SE.

Keindahan alam bawah laut Taman Nasional Wakatobi yang telah membuat Aylawati Sarwono ternganga-nganga itu, pada tahun 2012 ditetapkan sebagai cagar biosfer dunia oleh UNESCO.

Foto: istimewa

“Jika datang ke sini tidak menyelam maka belum ke Wakatobi namanya,” ujar salah satu divemaster asal Kota Kendari, Robert Tandry yang mendampingi rombongan penyelam.

Di Wakatobi, tambah Robert, terdapat beberapa spot menyelam, antara lain Pantai Sombu dan Onemohute di Pulau Wangi-Wangi, Pulau Hoga di Kaledupa, Pulau Tomia, dan Pulau Binongko.

Selain melakukan wisata bawah air, di Wakatobi juga dapat melihat atraksi wisata Dolphin di sekitar Pulau Kapota dimana para wisatawan akan disuguhkan pemandangan berupa formasi kawanan lumba-lumba yang menari dengan bebas di lautan lepas. 

“Momen istimewa ini dapat dinikmati setiap pagi antara pukul 6 hingga 7.30,” ujar Albert.

Wakatobi, tepatnya di Pulau Wangi Wangi terdapat sebuah kampung bernama Bajo Mola yang dihuni oleh Suku Bajo. Berbeda dengan kampung pada umumnya, pekarangan dan teras di perkampungan ini berupa hamparan laut luas dengan air yang jernih. 

“Air lautnya sungguh jernih, namun sayang masih ditemui botol plastik dan bungkus rokok yang dibuang ke laut,” ujar Fifi Purwohardono, divemaster asal Jakarta.

Fifi berharap masyarakat dapat memelihara kebersihan laut di sekitar mereka dan ikut menjaga kelestarian trumbu karang agar lingkungan hidup tetap terjaga dan asri.***/ks

Manusia dan Macan Tutul Hidup Damai di Kota Bera, India

JAYAKARTA NEWS – Kota kecil itu bernama Bera. Lebih pas disebut desa Bera. Berada di negara bagian Rajasthan, India. Keberadaannya unik karena sebagai satu-satunya tempat di Bumi, di mana manusia dan macan tutul hidup bersama dengan damai.

India adalah salah satu negara berpenduduk terpadat di Bumi. Karenanya, manusia terus merambah ke hutan dan pegunungan yang masih tidak berpenghuni. Tentu,  konflik antara macan tutul dan manusia tidak dapat dihindari. Ketegangan antara kedua spesies ini meningkat.

Tapi ada satu tempat di mana manusia dan macan tutul diduga telah hidup damai dan harmonis setidaknya selama satu abad ini. Tempat ini dikenal sebagai “negara macan tutul”. 

Bera dikatakan memiliki konsentrasi macan tutul tertinggi di planet ini. Dilaporkan ada hampir 100 macan tutul yang tinggal di dalam dan sekitar Bera, namun tidak ada serangan terhadap manusia yang dilaporkan di sini dalam seratus tahun terakhir. Demikian Oddity Central, Jumat (20/5/2022).

Ada satu kasus di mana seorang bayi diculik oleh seekor kucing besar bertahun-tahun lalu. Tetapi bayi tersebut ditinggal saat macan tutul itu  berlari ke hutan belantara. Bahkan ketika penduduk setempat mulai mengorganisir safari melihat macan tutul di daerah itu untuk turis, jumlah serangan macan tutul tetap nol.

Jadi apa yang membuat kota Bera istimewa. Menurut penduduk setempat, sebagian besar dari mereka adalah anggota Rabari, suku penggembala yang bermigrasi ke Rajasthan dari Iran melalui Afghanistan seribu tahun lalu.

Rabaris menyembah dewa Hindu, Siwa. Mereka memperlakukan binatang sebagai malaikat pelindung. Bahkan mereka kadang-kadang merelakan ternaknya untuk macan tutul.

“Ketika macan tutul membunuh ternak Rabaris, masyarakat tidak menentang pemangsa itu,” Dilip Singh Deora, yang menjalankan usaha safari lokal, mengatakan kepada The National. “Mereka percaya Siwa akan meningkatkan ternak mereka berlipat ganda dan memperlakukan ternak yang terbunuh sebagai persembahan kepada tuannya sendiri.”

Dheeraj Mali, seorang jurnalis foto satwa liar Bera yang telah mendokumentasikan macan tutul lokal selama bertahun-tahun, percaya bahwa kucing besar di daerah itu juga telah beradaptasi dengan keberadaan manusia, dan secara bertahap menjadi kurang predator terhadap mereka.

Macan tutul adalah bagian dari kehidupan sehari-hari di Bera, sedemikian rupa sehingga penyelenggara safari beroperasi dengan jaminan “tempat macan tutul atau uang Anda kembali” ketika mempromosikan paket kepada wisatawan.

Kucing-kucing besar dapat terlihat bertengger di bebatuan di dalam dan sekitar 10 desa di kota, atau bahkan berjalan di jalanan.

“Banyak turis terkejut ketika mereka melihat macan tutul bergerak bebas di sekitar kuil desa, bahkan saat pendeta melakukan ritual hariannya tanpa terpengaruh, tapi begitulah kehidupan di Bera,” kata Dilip Singh Deora.

Dinamika manusia-macan tutul yang harmonis ini dilaporkan unik di Bera, karena di tempat lain di India orang-orang dan kucing-kucing besar menghindari satu sama lain sebanyak mungkin, dan ketika mereka melakukan kontak, pertemuan itu sering kali berakhir dengan pertumpahan darah.

Apakah reputasi Bera sedikit dilebih-lebihkan untuk tujuan pemasaran? Mungkin, tapi meski begitu, fakta bahwa perbukitan di sekitar pemukiman manusia dipenuhi macan tutul adalah fakta. Jadi, jika komunitas manusia dan kucing berkembang sebagai hasil dari kisah yang menarik ini, mengapa merusak hal yang baik? (mel)

Sandiaga Uno: Ragunan itu Destinasi Favorit Masyarakat yang Tidak Mudik

JAYAKARTA NEWS – Jika Anda tidak mudik, bisa isi liburan dengan berkunjung ke Taman Margasatwa Ragunan (TMR), Jakarta Selatan. Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, TMR siap menyambut lonjakan wisatawan saat libur lebaran 2022. Jayakarta News mengutip dari Laman Kemenparekraf, Minggu (1/5/2022).

Kata Sandiaga,  Ragunan itu menjadi destinasi favorit masyarakat yang tidak ikut mudik lebaran. Lantaran lokasinya strategis di tengah ibu kota. “Perlu kesiapan yang matang untuk menyambut wisatawan yang ingin menghabiskan waktu dengan berekreasi bersama keluarga,” ujar Sandiaga seusai meninjau TMR, Sabtu.

“Karena ini juga destinasi andalan di DKI Jakarta, target dari Kadis di hari pertama lebaran adalah  45 ribu pengunjung yaitu 75 persen dari kapasitas sebanyak 60 ribu. Kita harapkan semua menerapkan protokol kesehatan,” katanya lagi.  

Reservasi Online

Sama seperti Ancol, TMR juga menerapkan sistem reservasi secara online. Jadi, masyarakat yang ingin membeli tiket masuk kebun binatang disarankan mendaftar secara online satu hari sebelum kedatangan. Pendaftaran akan dibuka sejak pukul 07.30 WIB hingga jumlah pengunjung 45 ribu orang terpenuhi.  

Foto: Kemenparekraf

Menteri memastikan destinasi yang memiliki 2.294 satwa dari 220 jenis satwa ini,  siap menampung masyarakat yang hendak berwisata saat libur lebaran 2022 di Jakarta.  “Kami akan berkoordinasi untuk selalu dipantau agar tidak memunculkan lonjakan kasus COVID-19 baru,” katanya.

“Lebaran ini momentum kita membangkitkan ekonomi, menciptakan peluang usaha dan lapangan kerja, dan lebaran menjadi momentum masuk ke dalam tatanan ekonomi baru kita. Kalau DKI Jakarta siap sekali karena mereka sudah menerapkan digitalisasi. Ini yang menjadi tantangan kita di destinasi wisata di luar Jakarta,” ujarnya.

Adapun syarat yang harus dipenuhi oleh calon pengunjung Taman Margasatwa Ragunan yakni bukti vaksinasi dosis kedua yang diperuntukkan bagi orang dewasa. Syarat-syarat ketentuan sudah vaksinasi dosis kedua untuk dewasa. Dan anak anak usia 6-12 tahun sudah harus vaksinasi dosis satu.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala UP Taman Margasatwa Ragunan, Endah Rumiyatu menjelaskan, jumlah kunjungan sampai saat ini ke TMR ada 2.200 pengunjung. Untuk menarik pengunjung pada musim libur lebaran ini, pihak pengelola akan menghadirkan berbagai atraksi-atraksi menarik.

Foto: Kemenparekraf

“Kita akan mengadakan acara feeding time ketupat, jadi makanan-makanan satwa dimasukkan ke dalam tempat berbentuk ketupat, yang nantinya diberikan kepada satwa-satwa seperti gorila, gajah, dan harimau,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Menparekraf Sandiaga hadir bersama Kepala Dinas Pariwisata & Ekonomi Kreatif Provinsi DKI Jakarta Andhika Permata; Kadis Pertamanan dan Hutan Kota Suzi Marsitawati; Kepala UP Taman Margasatwa Ragunan Endah Rumiyatu; serta didampingi Direktur Tata Kelola Destinasi Kemenparekraf/Baparekraf, Indra Ni Tua. ***/mel

Menparekraf Ajak Komunitas Pencinta Sepeda Motor “Touring” Nikmati Wisata Minat Khusus di Lombok

JAYAKARTA NEWS – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno mengajak 30 peserta yang berasal dari sejumlah komunitas pencinta sepeda motor, penggiat desa wisata, dan awak media mengikuti touring menggunakan sepeda motor menikmati wisata minat khusus di Lombok melalui Famtrip Inspiring Village in Mandalika.

Saat menemui para peserta Famtrip Inspiring Village in Mandalika di Ashtari Lounge, Kabupaten Lombok Tengah, Jumat (18/3/2022), Sandiaga mengatakan potensi wisata minat khusus, khususnya di Lombok, Nusa Tenggara Barat, sangat besar sehingga melalui Famtrip Inspiring Village in Mandalika diharapkan kawasan tersebut semakin populer dan terpromosikan.

“Program ini adalah bagian dari wisata minat khusus, jadi touring menggunakan sepeda motor ke desa wisata yang menjadi ikon kebangkitan  ekonomi kita. Kita bisa lihat banyak homestay yang terisi dan ini menjadi suatu semangat baru,” kata Sandiaga.

Para peserta salah satunya diajak untuk touring ke desa wisata Tetebatu di Kabupaten Lombok Timur. Untuk diketahui, Desa ini berhasil lolos mewakili Indonesia di ajang The Best Village UNWTO 2021.

Menurut Sandiaga, Desa Tetebatu memiliki daya tarik alam dan nilai sejarah yang unik bagi wisatawan. Selain itu, Desa wisata Tetebatu yang terletak di kaki Gunung Rinjani ini juga memiliki produk ekonomi kreatif yang beragam serta dikenal dengan tanaman herbalnya.

“Harapannya sebagai destinasi super prioritas bukan hanya Mandalikanya yang dibangun, tapi juga alternatif-alternatif destinasi lain yang bisa menjadi pilihan penonton MotoGP. Bukan hanya menonton MotoGP tapi juga menikmati desa-desa wisata,” ujar Sandiaga.

Selain di Lombok Timur, Sandiaga mengatakan Kabupaten Lombok Tengah, NTB, juga memiliki potensi wisata minat khusus yang dapat dikembangkan berupa desa-desa wisata yang tersebar di seluruh kawasan dengan daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

Selain itu, pengembangan wisata minat khusus yang berkaitan erat dengan kehadiran desa-desa wisata di Lombok ini diharapkan dapat menjadi lokomotif kebangkitan ekonomi dan pembukaan lapangan kerja. Terlebih, kegiatan ini berbarengan dengan pelaksanaan event internasional MotoGP Mandalika 2022 di kawasan destinasi super prioritas Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah.

“Ini adalah tatanan ekonomi baru di mana desa wisata menjadi lokomotif kebangkitan pariwisata yang berkelanjutan,” katanya.

Acara ini juga dihadiri oleh Direktur Wisata Minat Khusus Kemenparekraf/Baparekraf, Alexander Reyaan; Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf/Baparekraf, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani; dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi NTB, Yusron Hadi. Turut hadir pula pebalap nasional, Rifat Sungkar. (mel)

Santap Sedap di Waroeng Bambu Banjarbaru

Waroeng Bamboe, Banjarbaru, Kalimantan Selatan sangat direkomendasikan jika Anda berburu kuliner di Kalimantan Selatan. Lokasinya tak jauh dari Bandara Syamsudin Noor. Ada tiga menu yang wajib Anda cicipi di sini. Pertama, ikan lais goreng, kedua udang galah, dan ketiga ikan patin bakar.

Mandeh, Surga Tersembunyi di Pesisir Selatan

Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat ternya menyimpan objek wisata yang sangat indah. Sebelas-duabelas dengan Raja Ampat yang ada di Papua sana. Nama objek wisata yang ada di Pesisir Selatan adalah Kawasan Wisata Bahari Mandeh. Anda bisa mencapai lokasi ini dengan 4 jam perjalanan darat dari kota Padang.

Kemilau Wisata Danau Zamrud

JAYAKARTA NEWS – Kapal-kapal kayu bermesin tempel itu sudah standby sejak pagi di tepi sungai. Masyarakat setempat menyebutnya kapal pompong. Ukurannya tidak terlalu besar, hanya bisa diisi 3-5 orang. Karena itu, ada juga yang menyebutnya sampan motor. Penumpang harus mengatur duduk agar kapal seimbang dan tidak oleng.

Pagi itu, 27 November 2021, rombongan ekspedisi PWI Riau sudah siap berangkat ke Danau Zamrud, Kabupaten Siak, Riau. Pengemudi pompong pun sudah siap memberangkatkannya. Untuk sampai ke Danau Zamrud, harus melewati Sungai Zamrud. Jaraknya sekitar 10-15 menit perjalanan dari Jembatan Panjang, Kampung Dayun, Kecamatan Dayun, setelah melewati pintu perusahaan minyak BOB PT BSP-Pertamanina Hulu. 

Tidak terlalu jauh sebenarnya. Cuma karena harus melewati sungai yang sempit, terasa agak lama. Padahal, Sungai Zamrud ini sebetulnya cukup lebar. Hanya saja karena desakan tanaman bakung dan tidak dibersihkan, alurnya menjadi sempit.

Bila pengemudi pompong dan penumpang tidak hati-hati, tanaman bakung bisa membuat cedera. Menurut pengemudi pompong sekaligus pemandu wisata, Abdul Muis (62 tahun), sungai tersebut sengaja tidak dibersihkan karena takut akan menjadi lintasan illegal logging. Tapi kondisi ini membuat wisatawan kurang aman dan nyaman.

Bandingkan dengan Sungai Mekong di Vietnam yang membelah Provinsi Tien Giang. Dengan menggunakan perahu berkapasitas 20 orang, wisatawan dari berbagai belahan dunia diajak menyusuri sungai berkedalaman 15 meter. Sungai ini bersih dan dikelola dengan baik, sehingga wisatawan aman, nyaman dan menikmati. Sepanjang sungai banyak dijumpai perahu bermuatan berbagai komoditi seperti kelapa, tebu, pisang dan sebagainya.  

Menelusuri Sungai Zamrud menuju Danau Zamrud. Perlu pembenahan jalur agar wisatawan nyaman. (foto: Fendri Jaswir)

Kondisi lebih kurang nyaman dirasakan ketika masuk dari Sungai Rawa, Kampung Rawa Mekar Jaya, Kecamatan Sungai Apit. Jaraknya ke Danau Zamrud sekitar lima jam menggunakan pompong. Selain penuh tanaman bakung, jalur sungai juga penuh dengan eceng gondok. Di dasar sungai dikotori oleh tunggul kayu bekas tebangan. Rombongan ekspedisi yang dipimpin Bupati Siak Alfedri belum lama ini, sempat kandas beberapa kali.

Menurut Alfedri, jalur baru ini yang akan dibenahi. Sebab, jalur ini tidak melewati perusahaan minyak nasional. Wisatawan  melewati perkampungan masyarakat dan nelayan. Lebih indah dan alami. Namun alur sungainya harus dibersihkan. Tunggul-tunggul kayu yang ada di dalam sungai, harus dibuang. Dengan demikian resiko bahaya dapat dihindari, dan waktu tempuh bisa lebih pendek.

Meskipun demikian, Anda akan senang dan bahagia bila telah sampai di Danau Zamrud. Anda akan menyaksikan pemandangan yang indah dan eksotik.  Hamparan danau yang luas dengan air yang jernih berwarna biru kehitam-hitaman. Pulau-pulau dengan berbagai pohon kayu yang lebat dan masih perawan. Memberikan pemandangan alam yang hijau, menyejukkan dan menyehatkan. Bagaikan zamrud yang berkilau di tengah danau.

Pulau Besar tempat hidup satwa dan berbagai jenis burung. (Foto: Fendri Jaswir)

Danau Zamrud terdiri dari dua danau besar yakni Danau Pulau Besar (2.416 hektar) dan Danau Bawah (360 hektar).  Danau Pulau Besar memiliki empat pulau yaitu Pulau Besar, Pulau Tengah, Pulau Bungsu dan Pulau Beruk. Pulau jenis ini terbentuk dari endapan lumpur dan tumbuh-tumbuhan sehingga pada saat-saat tertentu pulau itu dapat berpindah ke tempat-tempat berbeda. Masyarakat setempat menyebutnya Pulau Beranyut.

Danau Zamrud berada di dalam Taman Nasional Zamrud yang memiliki luas 31.480 hektar. Taman Nasional Zamrud dulunya adalah Hutan Suaka Margasatwa. Di dalam kawasan ini terdapat sumur-sumur minyak yang dikelola PT Caltex Pacific Indonesia yang berubah menjadi PT Chevron Pacific Indonesia. Setelah reformasi, CPP Blok ini diserahkan ke Pemerintah Daerah Siak dan Riau. Kini sumur minyak itu dikelola BOB PT Bumi Siak Pusako (BSP)-Pertamina Hulu dengan  produksi  4.000 barel per hari.

Taman Nasional Zamrud diresmikan oleh Wakil Presiden RI Jusuf Kalla pada 22 Juli 2016 sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) No. 350/Menlhk/Setjen/PLA.2/5/2016 tanggal 4 Mei 2016. Taman nasional ini memiliki keunikan dibandingkan taman nasional lain karena ekosistem pembentukannya berupa rawa gambut yang merupakan ekosistem khas dan cukup langka.

Di Taman Nasional Zamrud tumbuh flora di antaranya pohon ramin (Gonystylus bancanus), jangkang (Xylopia malayana), durian burung (Durio carinatus), kolakok (Melanorrhoea), bengku (Ganua motleyana), berbagai jenis pisang (Gonithalamus sp), dan juga spesies dari genus Dipterocapaceae atau jenis meranti.

Di wilayah sekitar danau, tumbuh flora yang termasuk spesies langka yaitu pinang merah. Disebut pinang merah karena warnanya lebih cerah dibandingkan pohon pinang pada umumnya. Selain itu, flora khas tepi danau ini diketahui sulit untuk tumbuh di daerah lain.

Selain itu juga ditemukan bitangur (Gallophyllum spp), punak (Tetrameristaglabra miq), nipah (Nypa fruction), perupuk (Solenuspermun javanicus), balam (Palagium sp), rengas (Gluta rengas), sagu hutan (Metroxylon sagu), kempas (Koompassia malacensis), dan pandan (Pandanus sp).  

Tumbuhan jenis pandan yang disebut rasau (Pandanus helicopus) menjadi hiasan bibir danau dan pulau-pulau tersebut. Tanaman rasau memang suka hidup di tepi sungai dan danau di kawasan rawa gambut. Habitat alami tumbuhan rasau berada pada daerah rawa gambut yang memiliki karakteristik air unik berwarna hitam  seperti air teh,  namun sangat jernih dan tidak berbau.

Pertumbuhan rasau dapat mencapai tinggi 6 meter. Setelah tinggi mencapai 2 meter, batang akan bercabang satu atau lebih. Daun-daunnya mengumpul di ujung, tersusun spiral dalam tiga baris. Helaian daun berbentuk pita dan ditumbuhi duri yang sangat tajam disepanjang tepiannya. Daun muda berwarna keputihan hingga kekuningan, sedangkan yang tua berwarna hijau tua.

Malai bunga rasau berwarna putih dan berbau harum semerbak. Sedangkan buahnya bulat sampai lonjong dan terlihat sangat menggiurkan karena hampir mirip buah nangka atau cempedak. Namun, ‘’Buah rasau tidak bisa dimakan,’’ kata Abdul Muis. Sebagian kecil masyarakat memanfaatkan daunnya untuk membuat tikar kasar, tapi tidak popular karena kurang awet. Pucuk (umbut) rasau menjadi salah satu makanan alternatif bekantan dan orangutan. 

Banyak sekali satwa yang hidup di Taman Nasional Zamrud., mulai dari jenis hewan endemik, liar, sampai yang dilindungi. Beberapa spesies fauna yang dilindungi yaitu harimau Sumatera (Pantehera tigris-sumatrensis), harimau dahan (Neofelis nebulosa), beruang madu (Helarctos malayanus), serta napu (Tragulus napu).

Pulau Beruk habitatnya beruk atau kera tanpa ekor. (foto: Fendri Jaswir)

Selain itu, Taman Nasional Zamrud juga menjadi habibat kelompok primata yang dilindungi, seperti monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), beruk (Macaca nemestrina), dan kokah (Presbytis melalophos).

Dapat pula dijumpai spesies lain seperti kancil (Tragulus javanicus), tapir (Tapirus indicus), kijang (Muntinacus muntjak), kucing hutan (Felis spp), siamang (Hylobates syndactylus), ungko (Presbytis thomas), simpai (Presbytis melalopas), trenggiling (Manis javanica), babi (Sus scorfa), tupai (Rheithrosciurus macrotis).

Kelompok aves atau burung tercatat ada 38 jenis dengan 12 spesies diantaranya merupakan jenis yang dilindungi, seperti bangau putih (Ciconia ciconia), enggang dua awarna, enggang palung, enggang benguk, dan enggang ekor hitam.

Spesies aves lain yaitu kutilang (Pycnonotus aurigaster), celepuk atau burung hantu (Otus spp), bubut (Cuculus spp), murai batu (Copsychus malabarius), layang-layang (Delichon dasypus), rangkong gading (Buceros virgil), rangkong papan (Buceros bocrnis), punai (Treron spp), srigunting (Dicrurus macrocercus), serindit (Loriculus galgulus), dan tekukur (Geopelia striata).

Sementara jenis ikan yang menghuni danau dan sungai di kawasan ini diketahui 14 jenis antara lain arwana (Scleropages forosus) yang merupakan ikan hias ikonik, ikan patin (Pangasius hypothalamus), gabus (Channa striata) dan lele (Clarias batrachus). Terdapat delapan jenis ikan dengan nilai ekonomi tinggi yaitu belido (Chitala lopis), baung (Hemibagrus nemurus), sepimping (Parachela oxygastroides), selais (Kryptopterus lais), gelang (Amphiprion percula), kayangan (Cyprinus carpio), tapah (Wallago attu), dan toman (Channa micropeltes).

Di dalam Danau Zamrud juga terdapat buaya (Crocodylidae). Tapi buaya ini tidak dapat dilihat ketika mengitari danau dan pulau-pulau itu. Namun pemandu wisata selalu mengingatkan agar tetap waspada selama lebih satu jam mengitari danau tersebut. Jangan ada yang bermain-main air sembarangan atau bertingkah laku tak senonoh atau berkata-kata kotor. Karena itu, sebelum berangkat diharuskan berdoa agar terhindar dari marabahaya.

Angin yang kencang membuat permukaan air menghasilkan gelombang yang cukup tinggi. Namun kondisi ini pula yang membikin perjalanan wisata menjadi asyik dan penuh tantangan. Di kejauhan, bangau mengepakkan sayap hingga air berkecipak kencang. Burung serindit memecah kesunyian hutan di ranting-ranting kayu. ‘’Pulau ini kecil, tidak ada pohon tinggi di sini,’’ kata Muis.

Burung serindit adalah burung berukuran kecil dengan panjang sekitar 12 cm. Bulunya berwarna hijau dengan aksen merah di bagian ekor. Burung yang tersebar di hutan-hutan dataran rendah Indonesia, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, dan Thailand, ini merupakan salah satu makhluk hidup yang menjadi bio-indikator,

Burung serindit Melayu hanya akan menghuni suatu lingkungan yang masih asri dan alami. Karena itu pula Pemerintah Provinsi Riau menjadikan burung serindit Melayu sebagai ikon Provinsi Riau. 

Selain kecipak bangau dan kicauan burung, wisatawan juga dapat menikmati kelincahan beruk yang melompat dari satu pohon ke pohon lain. Beruk-beruk ini mencicipi buah-buahan yang bisa mereka makan seperti buah kesemak (kesemek). Pulau Beruk menjadi habitat kera tanpa ekor itu.

Menikmati keindahan Danau Zamrud sambil memancing ikan. (foto: Fendri Jaswir)

Wisatawan dapat menikmati keindahan Danau Zamrud sambil memancing ikan. Menurut Muis, untuk saat ini, kebanyakan yang datang ke Danau Zamrud untuk memancing ikan. Biasanya tiap  Sabtu-Minggu atau waktu libur. Mereka menyewa pompong Rp 400 ribu sehari. Bila bermalam, ditanggung makan dan sampai ke Danau Bawah, sewanya sampai Rp 900 ribu. ‘’Di Danau Bawah banyak ikan toman dan ikan tapah,’’ kata Muis.

Ikan arwana yang langka dan harganya selangit itu, tidak ditemui lagi. Beberapa tahun lalu sempat dilepaskan 57 ekor arwana hasil penangkaran di Pekanbaru. Awalnya, masih banyak terlihat, apalagi saat dikasih makanan. Namun belakangan mulai menghilang. Arwana memang sejenis ikan air tawar yang hidup di sungai dan suka menyuruk di tanaman sungai. 

Tapi nelayan setempat menggunakan alat tangkap jaring, rawai, dan bubu bambu atau bubu guling. Mereka memburu udang, ikan lele, ikan lompong, ikan tuakang, ikan baung, ikan toman dan ikan tapah. Alat-alat tangkap itu dapat dilihat di tepi-tepi danau atau dekat-dekat pulau. Kapal pompong harus hati-hati berlayar agar alat tangkap tersebut tidak terganggu.

Bupati Siak Alfedri menyatakan kawasan Danau Zamrud akan dikembangkan menjadi kawasan riset dan wisata dengan minat khusus. Pemerintah Kabupaten Siak sudah menandatangani kerjasama (MoU) dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau dalam rangka pengembangan wisata minat khusus itu. Kerjasama wisata itu pada zona pemanfaatan Taman Nasional Zamrud.

Pemerintah Kabupaten Siak sudah mendapatkan zonasi berdasarkan Surat Keputusan Dirjen KSDAE Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). ‘’Ada zona inti, zona transisi dan zona pemanfaatan. Zona pemanfaatan ini bisa dilakukan untuk pengembangan pariwsata. Ini peluang kita,’’ kata Alfedri.

Konsep wisata alam ini, kata Hartono, Kepala Bidang Tata Usaha Balai Besar KSDA Riau, harus menyesuaikan dengan kondisi alam, bukan memaksa kondisi alam sesuai dengan konsep. Pengembangan pariwisata Danau Zamrud tetap memprioritaskan aspek-aspek konservasi seperti kelestarian lingkungan. Beragam satwa air dan darat wajib dijaga kelestariannya. Semoga. (FJ)

Pollos, Hotel dan Galeri di Tepi Pantai

Pollos Hotel and Gallery, adalah satu-satunya hotel terbesar dan terbaik di kota Rembang, Jawa Tengah. Hotel empat lantai ini memiliki panorama hutan mangrove dan laut lepas. Meski berada di tepi jalan raya (Pantura), tetapi jauh dari suasana bising.