PB WI Punya Pekerjaan Rumah untuk Sejajarkan Prestasi Sanda dengan Taolu

JAYAKARTA NEWS— Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022 resmi berakhir pada Sabtu (10/12/2022). Indonesia menempati posisi ketiga dengan perolehan 10 medali emas, 2 perak dan 5 perunggu.
Seluruh medali emas yang direngkuh para atlet tuan rumah berasal dari kategori taolu atau seni jurus. Sementara kategori sanda atau tarung, paling bagus di medali perunggu.

Sesuai evaluasi yang dilakukan Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) pimpinan Airlangga Hartarto, program pembinaan akan terus dilanjutkan usai kejuaraan dunia berakhir. 

“Kita akan canangkan ke depannya untuk program pembinaan. Bukan hanya taolu, tetapi juga sanda. Tetapi yang menjadi prioritas adalah sanda. Ini PR besar ke depannya agar dua-duanya jalan. Ada prestasi di taolu, demikian juga sanda,” kata Sekjen PB WI, Ngatino.

Para atlet junior saat ini juga dipersiapkan tampil pada ajang Youth Olympic Games 2023 Dakar, Senegal. Meski demikian, PB WI juga mencari bakat baru barangkali ada yang prestasinya melejit di luar kejuaraan dunia ini. 

“Otomatis kita akan mengambilnya dari yang sekarang, tetapi tidak menutup kemungkinan dari yang baru juga bisa kita orbitkan. Tinggal nomornya. Kita belum tahu nomor apa yang dipertandingkan di Youth Olympics nanti. Setelah para atlet pulang ke daerahnya masing-masing, kita akan kembali melakukan pembinaan,” jelasnya.

Seperti diketahui, para atlet yang tampil di kejuaraan dunia kali ini merupakan atlet terbaik di kelasnya masing-masing. Mereka terpilih masuk program pelatnas berkat prestasi yang ditunjukkan selama mengikuti kejuaraan secara virtual selama pandemi dua tahun belakangan ini.
Karenanya, atlet taolu memiliki banyak event untuk berkompetisi secara virtual, beda halnya dengan atlet sanda yang harus bertarung dengan lawan di atas ring.

“Untuk sanda, karena pandemi kita tidak bisa mengikuti pola yang kita lakukan seperti taolu, karena mereka harus fight. Mudah-mudahan setelah pandemi menghilang, kita bisa lakukan itu. Itulah peran dari dewan kehormatan yang mensupport selama ini,” jelas Ngatino.
Event selama pandemi memang tak boleh berhenti dan harus ada terobosan sesuai arahan dari Ketua Umum PB WI Airlangga Hartarto. Oleh karenanya, berbagai cara harus terus dilakukan, termasuk menggelar kejuaraan secara virtual. 
“Kita lakukan secara virtual. Dari 2.000 atlet tersaring menjadi 33 atlet di kejurnas dan 17 atlet kita sertakan di sini. Ini menjadi modal kita ke depan,” ujar Ngatino.

Ngatino juga berbicara mengenai pembinaan antara atlet senior dan junior. Untuk atlet senior, terus dilakukan mengingat olahraga wushu sudah ditetapkan sebagai salah satu cabang olahraga DBON. Karenanya, pembinaan harus terus berkesinambungan agar ketika ada event, wushu Indonesia mampu mengharumkan nama bangsa di kancah internasional.

Sementara pelatnas junior, lanjut Ngatino, sudah dilakukan secara desentralisasi dan tersentralisasi untuk menghadapi kejuaraan dunia. 

“Yang junior akan ada jatah 4 atlet yang kita titipkan ke senior. Ini dalam arti untuk regenerasi jangan sampai jauh. Ini telah menjadi tugas kami sebagai pengurus dan syukur-syukur kami dibantu, di support oleh dewan kehormatan yang selama ini luar biasa. Jadi kita tidak semata-mata bantuan dari pemerintah, ada juga bantuan dari dewan kehormatan di sisi pembinaan, termasuk event. Karena kalau hanya latihan tanpa event, buat apa?,” kata Ngatino. ***din

Kejuaraan Dunia Wushu Junior: Indonesia Rajai Taolu, Edgar Marvelo: Keren

JAYAKARTA NEWS— Kontingen Wushu Indonesia mencatat sejarah pada Kejuaraan Dunia Wushu Junior VIII/2022 yang ditutup secara resmi Ketua Umum Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI), Airlangga Hartarto di ICE Bumi Serpong Damai Tangerang, Banten, Sabtu (10/12’2022).

Pasukan Merah Putih menempati posisi peringkat ketiga dengan perolehan 10 medali emas, 2 perak dan 5 perunggu pada event yang didukung penuh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Juara umum direbut Kontingen Wushu Iran dengan mengoleksi 13 emas, 5 perak, dan 5 perunggu. Sedangkan China yang mengoleksi 10 emas, 3 perak, dan 2 perunggu menempati posisi kedua.

Prestasi yang dicatat ini benar-benar luar biasa. Karena, atlet-atlet junior Indonesia bisa menunjukkan prestasi dalam persaingan ketat di kejuaraan dunia yang melibatkan 60 negara dan 2 region (Hongkong dan Macau).

Peningkatan prestasi sangat tajam kerana pada Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2018 Brasil, Indonesia hanya meraih 1 emas, 4 perak, dan 5 perunggu. “Ini prestasi luar biasa dimana Indonesia mampu merebut 10 medali emas, 2 perak, dan 5 perunggu. Keren,” kata juara dunia Taolu, Edgar Xavier Marvelo.

Medali emas terakhir Indonesia disumbangkan Raine Elena Liem dari Qiangshu kelompok Junior B Putri. Atlet asal Sasana Rajawali Sakti ini mengantongi 9,176 poin. Medali perak diraih Oubu Ishii dari Jepang dengan 9,100 poin dan Kim Caeyoung dari Korea Selatan meraih perunggu dengan 8,983 poin.

“Saya senang dan bangga bisa menyumbangkan medali emas terakhi bagi Kontingen Wushu Indonesia. Medali emas ini saya persembahkan buat keluarga, teman-teman dan Indonesia,” kata Raine Elena Liem.
Direktur Eksekutif Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022 Gunawan Tjokro mengatakan, sebagai tuan rumah, Indonesia patut bersyukur berhasil menempati posisi tiga besar dengan torehan 10 medali emas, 2 perak dan 5 perunggu.

Gunawan Tjokro mengatakan, sebetulnya perolehan emas Kontingen Merah Putih sama yang direngkuh China, yaitu 10. Namun, Tiongkok unggul di perolehan perak. Mereka membawa pulang secara total 10 emas, 3 perak dan 2 perunggu.

“Kita dapat 10 medali emas. Sebenarnya tingkat medali emas kita sama dengan China, tetapi kita kalah satu poin di perak. Sehingga secara keseluruhan kita di posisi tiga (klasemen -red),” kata Gunawan. 
Meski demikian, kalau medali itu dipecah lagi maka Indonesia unggul di kategori taolu atau seni jurus. “Tetapi kalau kita pecah lagi, antara taolu dan sanda, karena dengan perolehan 10 medali emas di taolu, kita masih yang teratas. Karena kita tahu sandanya diborong oleh Iran. Jadi sebagai tuan rumah, posisi ketiga kita syukuri. Artinya ada kemajuan. Dengan target 6 medali (emas -red) kita sudah mendapat 10,” ungkap pria yang juga Ketua Pengprov Wushu DKI Jakarta ini.

Apa yang disebutkan Gunawan Tjokro memang benar. Berdasarkan data pertandingan, Indonesia sukses merajai nomor Taolu. Dari 10 emas yang diraih seluruhnya dari Taolu. Sedangkan China hanya menghasilkan 7 emas dari Taolu dan Iran mendapatkan 6 emas. Hanya saja, Iran memperkokoh dominasinya dengan meraih 7 emas dari nomor Sanda.

Sementara itu, Ketua Umum PB WI Airlangga Hartarto menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh kontingen dari semua negara yang berpartisipasi pada Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022.
“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada 60 kontingen yang telah hadir dan berpartisipasi kepada pemerintah, Kemenpora, Pemerintah Tangerang dan Banten, serta sejumlah donatur yang membantu acara ini terlaksana dengan baik.

Juga kepada sejumlah perusahaan yang datang dan untuk menyaksikan wushu, terima kasih. Karena tanpa dukungan kalian kegiatan ini tidak terlaksana,” kata Airlangga.***din

Sembilan Alasan Prof Kikiek Mundur dari PP Inkai

JAYAKARTA NEWS – Prof Dr H Hermawan S, MA, MAIA, PhD, APU mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Ketua Umum Binpres PP Inkai 2017-2022. Surat pengunduran Prof Kikiek, begitu ia akrab disapa, ditujukan kepada lima pihak. Dewan Guru Inkai, Pangdam Jaya (selaku pemilik property Honbu Dojo Inkai), Para Guru Daerah Inkai, Anggota-anggota Inkai, dan para pihak terkait.

Ada sembilan alasan, mengapa Prof Kikiek mengundurkan diri dari PP Inkai. Pertama. masa bakti kepengurusan berakhir pada November 2022. Bahkan seharusnya setahun sebelumnya jika dihitung dari waktu pelaksanaan MKB 2017. Tetapi hingga saat ini belum ada tanda-tanda sama sekali untuk menyelenggarakan MKB yang merupakan amanat AD/ART Inkai.

Kedua, belum ada persiapan sama sekali untuk penyusunan Laporan Pertanggung Jawaban, terutama keuangan. Sejak 2015 tidak pernah ada laporan keuangan secara terbuka, meskipun Pengprov Jatim pernah berkirim surat mempertanyakan isu ini. Keuangan Inkai adalah amanah anggota, bukan milik pengurus.

Ketiga, pembangunan Honbu Dojo Inkai yang tanpa pemberitahuan kepada pihak-pihak terkait. Patut diketahui, Honbu Dojo Inkai BUKAN MILIK PP Inkai. Lahan dan bangunannya adalah milik Kodam Jaya. Penggunaannya berdasarkan pinjam pakai dari Kodam Jaya pada masa Ketua Umum Inkai Jenderal Ryamizard Ryacudu dan Sekjen Prof Hermawan Sulistyo. Gedung Honbu Dojo bersejarah dan dilindungi sebagai Cagar Budaya berdasarkan Ordonansi 22. Tidak boleh dibangun atau direnovasi tanpa seizin pemerintah.

Keempat, sebagai Waketum Binpres kewenangan Prof Kikiek sering dilampaui, bahkan oleh pengurus yang seharusnya di bawah kewenangannya. Personel diganti seenaknya tanpa konsultasi. Program pembinaan atlet yang tanpa pola, dan sebagainya. Akibatnya, prestasi merosot. Pada berbagai pertandingan tim PP Inkai sudah tidak mampu lagi menjadi juara. Bahkan pada Kejurnas FORKI di Padang tim PP Inkai hanya menempati peringkat keempat. Sementara secara formal itu di bawah tanggung jawab saya.

Kelima, ujian Dan dilakukan tanpa kontrol kualitas. Bagaimana menjaga kualitas ujian seribu orang yang semuanya lulus? Mengapa ada anggota yang bisa ujian berkali kali dalam satu tahun, yang jelas-jelas melanggar aturan yang dibuat sendiri. Pungutan uang ujian selama beberapa tahun ke depan akan menyulitkan pengurus yang akan datang, karena mereka tidak lagi bisa memungut uang ujian. Ujian-ujian massal berakibat penumpukan Dan yang tinggi-tinggi sehingga merendahkan nilai sabuk hitam itu sendiri.

Keenam, ketidakjelasan falsafah karate. Anggota dilatih mengikuti alur Budo Karate, sementara pada saat yang bersamaan dituntut untuk berprestasi. Dalam Budo Karate Kohai dilatih Tangkis-Serang. Sementara dalam Sport Karate atlet dituntut Serang-Serang. Metode dan teknik latihan tetap tidak berubah.

Ketujuh, tidak ada upaya organisasi yang serius atas status hukum Inkai. Secara formal legalistic Inkai kita tidak memiliki status hukum yang secara sah diakui oleh negara. Status resmi Inkai dimiliki oleh pihak lain.

Kedelapan, tidak ada upaya organisasi yang serius untuk menjadi affiliate member organisasi karate dunia. Dengan sombong kita merasa dan mengaku sebagai organisasi hebat dan besar, sementara kenyataannya tidak ada eksistensi Inkai di tingkat dunia.

Alasan terakir, kesembilan, sejak 2015 Inkai tidak pernah mengirim tim resmi ke event-event internasional. Inkai Goes to the World tidak pernah terealisir. World hanya sebatas dunia maya di internet.

Demikian surat pengunduran diri Prof Hermawan Sulistyo, yang juga Penasihat Ahli Kapolri itu. (rr)

Tas Tertinggal tak Hilang, Pelatih Amerika Serikat Merasa Nyaman

JAYAKARTA NEWS— Pelatih Tim Wushu khusus Taolu Amerika Serikat, Qiang Li mengaku merasa nyaman selama mengikuti Kejuaraan Dunia Wushu Junior VIII/2022 yang digelar di Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten.

“Saya merasa nyaman selama ikut kejuaraan dunia di Indonesia. Panitianya profesional dan memberikan pelayanan sangat baik masalah makanan dan transportasi. Begitu juga dengan Voulenteer-nya. Tidak ada kesulitan yang kita alami selama ini,” kata Qiang Li saat mengawasi atlet-atlet junior Amerika Serikat menjalani latihan pemanasan.  

Kenyamanan itu semakin dirasakan Qiang Li tatkala tasnya berisi paspor dan sejumlah uang tertinggal di tempat pertandingan tetapi terjaga dan tetap utuh. “Tadinya, saya sempat khawatir tetapi tas saya yang tertinggal diamankan dan tidak ada satupun barang hilang,” ceritanya.

Qing Li adalah mantan atlet profesional wushu China yang sudah tinggal di Amerika Serikat lebih dari 15 tahun untuk mengembangkan olahraga beladiri asal Tiongkok. Kini, dia sudah menjadi warga negara Amerika Serikat.

Di Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022, Qing Li membawa 12 atlet junior untuk memperkuat Kontingen Wushu Amerika Serikat. Saat ini, Amerika Serikat telah meraih 3 medali emas dimana 1 medali emas disumbangkan putranya, Denis Dong. Sedangkan putranya yang lain, Lucas hanya menyumbangkan 1 perak dan 1 perunggu.

Ketika ditanya penilainnya terhadap penampilan atlet Indonesia di kejuaraan dunia edisi ke-8 yang melinbatkan 60 negara dan 2 region (Hongkong dan Macau), Qiang Li menjawab,”Luar biasa perkembangan wushu di Indonesia dan pantas mendapatkan 8 medali emas. Atlet-atlet junior Indonesia sangat menguasai Nanquan dan Nandao.”***din

Target Terlampaui di Kejuaraan Dunia Wushu Junior, Airlangga Hartarto: On The Track Jalankan DBON

JAYAKARTA NEWS— Ketua Umum Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI), Airlangga Hartarto mengatakan prestasi yang dicapai Kontingen Indonesia pada Kejuaraan Dunia VIII/2022 sebagai bukti bahwa pilihan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tepat memasukkan cabang olahraga (cabor) wushu dalam program Desain Besar Olahraga Nasional (DBON). 

“DBON itu merupakan program pembinaan atlet jangka panjang pemerintah dimana target utamanya mencapai prestasi dunia dan Olimpiade. Di kejuaraan dunia ini, PB WI telah amembuktikan cabor wushu bukan hanya pantas tetapi sudah on the track jalankan program DBON. Bukan karena pak Menpora Amali itu berada di Partai Golkar yang saya pimpin.  Profesionalisme itu selalu dijunjung tinggi kader Golkar,” kata Airlangga Hartarto yang ditemui di sela-sela Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022 di ICE Bumi Serpong Damai, Tangeng, Banten. 

Sehari sebelum Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022 yang merupakan terbesar selama pelaksanaannya dimana 60 negara dan 2 region (Hongkong dan Macau) dengan jumlah 807 atlet dan offisial terlibat, Jumat (9/12/2022), Kotingen Wushu Indonesia berhasil mengoleksi 9 emas 2 perak, dan 3 perunggu. 

“Prestasi yang dicapai ini tidak terlepas dari adanya kesamaan visi dan komitmen para atlet, pelatih, pemilik sasana, pengurus PB WI, dan pengprov WI se-Indonesia dalam membangun prestasi olahraga wushu sehingga Merah Putih bisa berkibar dan lagu Indonesia Raya berkumandang di kancah event internasional. Dan, saya juga tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada seluruh orang tua atlet yang telah memberikan dukungan kepada anak-anaknya,” jelasnya. 

Menko Perekonomian ini juga mengingatkan para atlet agar tidak tenggelam dalam euforia. Tetapi, mereka harus lebih giat lagi dalam berlatih sehingga mereka meraih prestasi lebih baik lagi ke depan.
“Teruslah fokus berlatih serta diisiplin dalam menjalankan program latihan. Persiapkan diri memghadapi Youth Olympic Games 2026 Senegal bagi yang usianya masih bisa tampil. Khusus bagi atlet yang usianya sudah mau memasuki senior tataplah multi event SEA Games, Asian Games dan single event internasional ke depan,” imbuh Airlangga. 

“Bagi atlet yang belum berprestasi jangan pernah putus asa. Lebih giat lagi berlatih. Karena, kegagalan itu merupakan kemenangan yang tertunda,” tambahnya.***din

Kejuaraan Dunia Wushu Junior: Tambah 2 Emas, Giliran Rara dan Rainer Jadi Bintang

JAYAKARTA NEWS— Kotingen Wushu Indonesia kembali menambah 2 medali emas dan 1 medali perunggu pada hari kelima Kejuaraan Dunia Wushu Junior VIII/2022 yang berlangsung di ICE Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, Jumat (9/12/2022). Dengan hasil ini, Kontingen Merah Putih sudah mengoleksi 9 emas, 2 perak, dan 2 perunggu.

Tambahan satu medali emas dihasilkan Anasera Zahraa Haryoso dari Qiangshu Kelompok Junior C Putri dengan mengumpulkan 9,106 poin. Rara, panggilan akrabnya, menjadi bintang dengan mengoleksi 2 emas menyamai capaipan prestasi Kylie Suyoto Kwok yang juga meraih 2 emas.

“Saya senang bisa menyumbangkan 2 medali emas bagi Kontingen Wushu Indonesia,” kata Rara yang ditemui usai pertandingan.

Bukan hanya Rara, Rainer Renaldy Ferdiansyah juga menjadi bintang setelah merebut medali emas Taijijian kelompok Junior A Putra dengan mengantongi 8,800 poin. Ini menjadi medali emas kedua koleksi Ray, panggilan akrabnya, sekaligus medali emas ke-9 bagi Kontingen Wushu Indonesia.
Medali perak Tajijian di kelompok Junior A putra direbut Ali Essam Ali dari Mesir dengan mengantongi 8,600 poin dan Nguyen Quang M dari Vietnam dengan 8,466 poin.

Satu medali perunggu Indonesia disumbangkan Bradley Jason dari Gunshu Kelompok Junior C Putra. Atlet Sasana Xiao Yao Surabaya, Jawa Timur ini mengumpulkan 8,730 poin. Medali emas direbut Remus Wong dari Hongkong dengan mengumpulkan 8,866 boin. Dan, medali perak direbut Lucas Dong dari Amerika Serikat yang mengumpulkan 8,786 poin.

Dari nomor Sanda, Indonesia dipastkan mendulang dua medali perunggu setelah satu-satunya atlet Indonesia, Denis Darmawan mengalami kekalahan saat menghadapi atlet Vietnam, Hua Van Doan di partai semifinal kelas 52kg putra Junior.

Sebelumnya, Kiemas Sakti Negara meraih tiket setelah mengalami kekalahan saat menghadapi atlet Vietnam, Nguyen Dang Khoa di semifinal kelas 45kg putra Junior.

“Ya, Kiemas dan Denis meraih medali perunggu. Namun, perolehan itu belum bisa dimasukkan dalam daftar perolehan medali karena belum dilakukan upacara penghormatan pemenang (UPP). Jadi, kalau dihitung perolehan 2 perunggu dari nomor Sanda, Indonesia telah mengoleksi 9 emas, 2 perak dan 5 perunggu,” kata Manajer Tim Sanda Indonesia, Sudarsono. ***din

PB WI Apresiasi Peran Swasta Sukseskan Kejuaraan Dunia Wushu Junior VIII/2022

JAYAKARTA NEWS— Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI)memberikan apresiasi semua pihak yang turut menyukseskan Kejuaraan Dunia Wushu Junior (WJWC) VIII/2022 di ICE Bumi Serpong Damai Tangerang, Banten, 5-10 Desember 2022.

Meski perlombaan belum berakhir, apresiasi diberikan PB WI pimpinan Airlangga Hartarto kepada stakeholder terkait, baik pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Presiden RI Joko Widodo, sponsor dan juga pihak swasta.

Sebagaimana yang dicanangkan pemerintah, dalam hal ini Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali. Selain mengincar sukses prestasi, sebagai tuan rumah, Indonesia juga wajib menggenggam dua sukses, yakni penyelenggaraan maupun administrasi.

Dan diluar tiga pilar sukses tersebut, PB WI pun diklaim menambahkan satu sukses, yakni terdongkraknya geliat di sektor ekonomi. Semisal, okupansi dari akomodasi perhotelan di wilayah Tangerang dilaporkan terisi penuh.

Mewakili Airlangga Hartarto, Sekretaris Jenderal (Sekjen) PB WI, Ngatino, pun memberikan apresiasi tinggi terhadap pengelola hotel di wilayah Tangerang, Banten, dalam melayani tamu-tamu negara secara totalitas.

Salah satu pujian dilontarkan Ngatino terhadap manajemen Trembesi Hotel. Menurut dia, atlet dan offisial dari 19 negara yang menginap di hotel tersebut menyatakan puas dengan segala pelayanan serta fasilitas yang ada.

Menurut Ngatino, Trembesi Hotel dipercaya oleh PB WI untuk menampung mayoritas peserta WJWC 2022 lantaran berdasarkan dari hasil survei yang telah dilakukan.

“Dari PB (Wushu -red), tentu sudah mensurvei beberapa hotel yang ada. Trembesi ini merupakan hotel baru. Dan, kami berterima kasih kepada Trembesi Hotel serta Cap Lang yang telah bekerja sama dengan baik. Mudah-mudahan ini memberikan kesan yang baik bagi kontingen,” katanya, Kamis (8/12/2022) malam.

Sementara itu, apresiasi yang diberikan PB WI, pun disyukuri manajemen Trembesi Hotel. Hal tersebut dikatakan Anthonius SY Pramono selaku General Manager dari hotel berbintang empat di kawasan BSD itu.

“Kami sangat berterima kasih (telah diberikan kepercayaan -red) dan kami usahakan sebaik mungkin dalam memberikan pelayanan,” katanya.

Seperti diketahui, Indonesia telah menyabet tiga sukses dalam Kejuaraan Dunia Wushu Junior VIII/2022. Khusus berbicara sisi prestasi, Merah Putih berhasil melampaui target enam emas yang dipatok PB WI. Adapun memasuki hari ke-3, atau Kamis (8/12/2022), Kontingen Wushu Indonesia telah mengumpulkan 7 medali emas, 2 perak dan 2 perunggu.***din

Kejuaraan Dunia Wushu Junior: Tak Diunggulkan Rara Justru Sukses Raih Emas

JAYAKARTA NEWS— Kerja keras Anasera Zahraa Haryoso membuahkan hasil. Rara, panggilan akrabnya, secara mengejutkan meraih medali emas Changquan pada penampilan perdana di ajang Kejuaraan Dunia Wushu Junior VIII/2022.

Tidak tanggung-tanggung, Rara mampu menyingkirkan 26 pesaingnya di kelompok Junior C Putri. Dia meraih hasil tertinggi dengan mengantongi 9,136 poin. Mengalahkan rekan se-pelatnasnya, Billie Karina The yang harus puas meraih perunggu dengan 9,076 poin dan Hui En Tan dari Singapura dengan 9,038 poin yang meraih perak.

“Saya tidak menduga bisa mendapat medali emas. Karena, saya tampil tanpa beban,” kata Rara yang bernaung di Sasana Vihara Dharma Ratna, Klungkung, Bali saat ditemui usai upacara pengalungan medali.
Rara merasa dirinya sudah memberikan penampilan maksimal tanpa ada kesalahan sedikitpun. “Medali emas ini saya persembahkan buat keluarga dan Indonesia,” kata Rara,

Bocah perempuan yang lahir di Denpasar, Bali, 28 Januari 2011 ini mengenal olahraga wushu melalui teman ibunya pada tahun 2016.  Dia tercatat sebagai juara Qiangshu kelompok C putri pada Sirkuit Nasional 2 Stage 1 Tahun 2022 dan Juara Qiangshu pada Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Wushu memperebutkan Piala Presiden Tahun 2022.***din

Sudah Koleksi 7 Emas 2 Perak 2 Perunggu, Wushu Indonesia Berpeluang Tambah 3 Emas Lagi

JAYAKARTA NEWS— Kontingen Wushu Indonesia berhasil menambah 1 emas, 2 perak dan 1 perunggu pada hari ketiga Kejuaraan Dunia Wushu Junior VIII/2022, Kamis (8/12/2022). Dengan tambahan medali itu, kini Pasukan Garuda Muda telah mengoleksi 7 emas, 3 perak dan 1 perunggu.

Hasil yang dicapai ini bukan hanya melampaui target 6 medali emas yang dicanangkan Ketua Umum Pengurus Besar Wushu Indonesia (PB WI) pimpinan Airlangga Hartarto, tetapi terus menempatkan Indonesia memimpin klasemen sementara Kejuaraan Dunia Wushu Junior 2022.

“Alhamdulillah, hari ini kita bisa menambah 1 emas, 1 perak dan 1 perunggu. Luar biasa. Kini, kita telah melampaui target dengan merebut 7 medali emas, 2 perak dan 1 perunggu. Semua ini tidak terlepas dari perhatian dan komitmen dari pak Ketua Umum PB WI, Airlangga Hartarto dalam menjalankan program pembinaan wushu Indonesia,” kata Chef de Mission Kontingen Wushu Indonesia, Doddy Rahadi.

Tambahan medali emas dan perunggu dihasilkan Annasera Zahraa Haryoso dan Billie Karina The. Annasera yang turun di kelompok Junior C Putri, merebut medali emas Changquan dengan mengantongi 9,136 poin dan Billie Karina The merebut perunggu dengan mengantongi nilai 9,076 poin. Sedangkan medali perak direbut Hui En Tan dari Singapura dengan 9,038 poin.

Annasera Zahraa Haryoso/foto: Pengprov Wushu DKI Jakarta

Sebelumnya, Ivana Beatrice Liestio yang turun di kelompok Junior A Putri tidak mencapai hasil maksimal. Ivanna yang sebelumnya meraih medali emas Daoshu (pedang) harus puas kebagian medali perak Gunshu (Toya) dengan mengantongi 9,236 poin.

Medali emas Gunshu kelompok Junior A Putri direbut Xue Ling Kassandra Ong dari Singapura dengan mengantongi 9,253 poin. Sedangkan perunggu jatuh ke tangan atlet Malaysia, Kai Xin Wong dengan mengantongi 9,236 poin.

“Xue Ling Kassandra memang pantas mendapatkan medali emas karena gerakannya lebih sempurna,” kata Manajer Tim Taolu Kontingen Wushu Indonesia, Herman Wijaya.

Satu medali perak lagi dihasilkan Josh Tiasto Tanto dari Nangun di kelompok Junior A putra dengan meraih 9,176 poin. Medali emas direbut Kai Jie Bryan Ti dari Malaysia dengan 9,183 poin dan King Sing Kinson dari Hongkong yang mengantongi 9,150 poin.

Meski sudah mengoleksi 7 medali emas dari 6 medali emas yang ditargetkan Ketua Umum PB WI, Airlangga Hartarto, kata Herman Wijaya yang juga pemilik Sasana Rajawali Sakti ini, peluang Indonesia menambah 3 medali emas lagi masih cukup terbuka dari nomror Taolu. “Kita masih berpeluang menambah 3 medali emas lagi,” jelas Herman Wijaya.***din

Hanya Denis yang Tersisa, Pelatih Sanda: Kita Sudah Siapkan Strategi Khusus

JAYAKARTA NEWS— Kesuksesan atlet taolu tidak diikuti atlet sanda. Dari 11 atlet sanda yang memperkuat Kontingen Wushu Indonesia, hanya Denis Darmawan yang masih tersisa pada Kejuaraan Dunia Wushu Junior VIII/2022.

Denis, panggilan akrabnya, melaju ke babak semifinal setelah mengalahkan Abdelouhab dari Algeria dalam pertarungan kelompok junior kelas 52kg putra yang berlangsung di ICE Bumi Serpong Damai Tangerang, Banten, Kamis (8/12/2022).

Di babak semifinal yang akan dimainkan Jumat (9/12/2022), Denis akan berhadapan dengan Hua Van Doan yang mengalahkan Islam Turarov dari Kazakhstan di perempat final.

“Ya hanya Denis yang masih tersisa di Sanda. Tetapi, saya yakin Denis bakal mampu mengatasi atlet Vietnam . Kita sudah mempelajari pola permainan atlet Kazakhstan yang dikalahkannya. Bahkan, kita juga telah menyiapkan strategi khusus untuk menghadapi Hua Van Doan,” kata pelatih Sanda Indonesia, Muhammad Slamet.

Kekalahan dialami Kiemas Sakti Negara saat tampil di semifinal kelas 45kg kelompok Junior Putra. Kiemas gagal melangkah ke final setelah dikalaahkan atlet Vietnam, Nguyen Dang Khoa. Dengan hasil ini, Kiemas harus puas meraih medali perunggu.

“Ya, dari nomor Sanda memang baru hanya medali perunggu yang disumbangkan Kiemas kepada Kontingen Wushu Indonesia. Di pertarungan itu, Kiemas sudah melakukan perlawanan maksimal namun lawannya memang tampil lebih baik,” kata Manajer Tim Sanda Kontingen Wushu Indonesia, Sudarsono yang ditemui di tempat latihan.

Hasil yang kurang mengembirakan juga dialami Nabila Puspita Annastasya. Nabila, panggilan akrabnya, tidak berdaya menghadap Diana Rahimi dari Iran yang unggul tinggi badan dan jangkauan pada petarungan babak perenpatfinal kelas 56kg kelompok Junior Putri.

Dari hasil evaluasi yang dilakukan, kata Sudarsono, ada dua penyebab kegagalan atlet sanda Indonesia untuk menembus babak final. Pertama, mereka masih grogi dan di babak awal berhadapan dengan lawan-lawan tangguh dari China, Iran, dan Vietnam. “Atlet Iran dan China belum ada yang kalah hingga babak semifinal. Kedua negara ini memang pesaing berat ditambah Vietnam,” jelas Sudarsono.***din