Brigade Pangan: Dari Lahan Tidur Menuju Ketahanan Nasional

Oleh MJP Hutagaol ’86

Ketahanan pangan bukan sekadar soal beras di meja makan. Ia menyangkut masa depan bangsa, kesejahteraan rakyat, dan keberlanjutan tanah air. Indonesia, dengan hampir 280 juta jiwa, menghadapi tantangan besar: lahan produktif menyusut, konversi sawah menjadi kawasan industri meningkat, dan bencana alam kerap merusak areal pertanian.

Pada masa Orde Baru, Indonesia pernah mencapai swasembada pangan berkat intensifikasi pertanian: irigasi diperbaiki, bibit unggul dikembangkan, dan lahan tidur dihidupkan. Kini, dengan pertumbuhan penduduk dan berkurangnya lahan subur, diperlukan strategi baru yang lebih adaptif dan berbasis kolaborasi lintas sektor.

***

Brigade Pangan: Kekuatan Nyata di Lapangan

Brigade Pangan kini telah terbentuk dan menjadi gerakan nyata di berbagai wilayah Indonesia. Gerakan ini menghidupkan kembali semangat gotong royong dan disiplin kerja yang menjadi ciri khas bangsa pejuang.

Setiap unit Brigade Pangan terdiri dari sekitar 15 orang untuk mengelola kurang lebih 200 ha lahan. Unsurnya terdiri dari:

1. Petani muda — pelaku utama di lapangan, menggerakkan usaha tani produktif dan modern.

2. Penyuluh pertanian — pendamping teknis dan penggerak edukasi lapangan.

3. Babinsa dan unsur TNI AD — pengawal sosial dan keamanan, memastikan kelancaran kegiatan pertanian.

Hingga Februari 2025, tercatat 1.771 Brigade Pangan telah terbentuk di 12 provinsi, bekerja sama dengan pemilik lahan, pemerintah daerah, dan dunia usaha. Program ini bukan lagi wacana, tetapi gerakan nyata menuju kemandirian pangan nasional.

***

Sinergi Pertanian dan Ketahanan Nasional

Keterlibatan unsur TNI AD, khususnya melalui Brigade Teritorial, menunjukkan bahwa ketahanan pangan merupakan bagian dari strategi memperkuat ketahanan nasional. Pembinaan wilayah dan pengamanan distribusi alat pertanian menjadi wujud nyata bahwa pangan adalah urusan strategis negara — bukan hanya urusan pertanian.

Dengan pendekatan ini, Brigade Pangan bukan sekadar proyek ekonomi, melainkan gerakan ideologis: mengembalikan kesadaran bahwa kedaulatan bangsa dimulai dari kedaulatan pangan.

***

Tantangan dan Jalan Ke Depan

Gerakan ini tentu menghadapi tantangan:

Dampak lingkungan akibat pembukaan lahan baru,

Hak masyarakat adat yang perlu dijaga,

Dan keseimbangan produksi-ekologi agar berkelanjutan.

Namun semua tantangan itu bisa dihadapi melalui strategi kolaboratif dan pemberdayaan masyarakat lokal. Ketahanan pangan tidak dapat dicapai hanya dengan kebijakan dari atas, melainkan melalui kerja bersama seluruh elemen bangsa.

***

Pangan, Nyawa Bangsa

Pangan adalah urat nadi kehidupan bangsa. Gerakan Brigade Pangan menjadi simbol kebangkitan baru: lahan tidur dihidupkan, lahan baru dibuka secara berkelanjutan, dan generasi muda kembali mencintai tanahnya.

Ketika rakyat mampu memberi makan dirinya sendiri, maka bangsa ini berdiri tegak — kuat dari akar, kokoh di tengah badai global.

Dari tanah, untuk rakyat, demi Indonesia yang berdaulat dan sejahtera.

***

🖋️ Tulisan ini terinspirasi dari dialog dengan para senior dan pengamat pertahanan yang memahami makna strategis pembentukan Brigade Pangan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan nasional.

Mercusuar Willem’s Toren III: Jejak Cahaya Bersejarah di Ujung Barat Indonesia

Oleh Djoko Setijowarno

Mercusuar Willem’s Toren adalah salah satu mercusuar bersejarah yang terletak di ?Pulau Breueh (Pulau Beras), Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar. Nama resminya adalah Willem’s Toren III, dan usianya sudah lebih dari satu abad .

Mercusuar ini merupakan fasilitas navigasi pelayaran yang dikelola oleh Distrik Navigasi (Disnav) Kelas II Sabang, Direktorat Navigasi Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan.

Wilayah kerja Distrik Navigasi Tipe A Kelas II Sabang mencakup sebagian besar perairan di Provinsi Aceh. Wilayah ini berfungsi sebagai ujung barat Indonesia. Secara umum, wilayah kerja Distrik Navigasi Sabang meliputi dua per tiga (2/3) wilayah perairan Aceh, Pantai Barat Aceh, dimulai dari perairan sekitar Simeulue hingga Sabang dan sekitarnya, Pantai Selatan Aceh, mencakup perairan sekitar Tapak Tuan (Aceh Selatan), Pantai Timur Aceh, mencakup perairan sekitar Lhokseumawe dan sekitarnya, Pulau-pulau Terluar, meliputi pengawasan di pulau-pulau terdepan seperti Pulau Rondo (Sabang), Pulau Benggala (Aceh Besar), dan Pulau Salaut (Simeulue). Wilayah ini berbatasan dengan wilayah kerja Distrik Navigasi Belawan (yang mencakup daerah Lhokseumawe dan Singkil) dan Distrik Navigasi Sibolga.

Tugas utamanya adalah memastikan keselamatan pelayaran melalui pengawasan dan pemeliharaan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) seperti mercusuar, rambu suar, dan pelampung suar.

Fungsi utama disnav adalah memastikan keselamatan pelayaran melalui pengawasan dan pemeliharaan Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) seperti mercusuar, rambu suar, dan pelampung suar. Mercusuar sebagai Sarana Bantu Navigasi Pelayaran (SBNP) untuk memastikan keselamatan dan keamanan kapal di laut. Secara spesifik, fungsi mercusuar meliputi, pertama penanda lokasi (identifikasi posisi), yakni memberikan titik referensi yang jelas bagi para pelaut, terutama saat malam hari atau cuaca buruk (berkabut). Setiap mercusuar memiliki pola kedip cahaya yang unik agar pelaut bisa mengidentifikasi lokasi spesifik mereka.

Kedua, peringatan bahaya, yakni memberi tahu kapal tentang adanya potensi bahaya navigasi, seperti karang, perairan dangkal, atau tanjung yang berbahaya. Mercusuar sering ditempatkan di lokasi-lokasi rawan kecelakaan. Dan ketiga, pemandu masuk pelabuhan untuk membantu kapal yang akan berlabuh dan menentukan arah ataupun rute yang aman saat akan memasuki atau meninggalkan pelabuhan.

Meskipun teknologi modern (seperti GPS dan radar) telah berkembang pesat, mercusuar tetap menjadi alat navigasi tertua dan masih vital dalam menjamin keselamatan pelayaran di banyak wilayah perairan dunia.

Sejarah Mercusuar Willem’s Toren III

Mercusuar Willem’s Toren III ini memiliki keistimewaan. Ia salah satu dari  tiga mercusuar yang dibangun oleh pemerintah Belanda di dunia dengan desain serupa. Dua lainnya berada di Belanda (yang kini telah dijadikan museum) dan satu lagi di Kepulauan Karibia. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya mercusuar di Pulo Aceh bagi jaringan maritim kolonial Belanda.

Mercusuar ini berada di Desa Meulingge, Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, tepatnya di Pulau Breueh. Letaknya di puncak bukit cadas, sekitar 310 meter di atas permukaan laut. Mercusuar ini dibangun pada masa penjajahan Belanda, sekitar tahun 1875. Pembangunannya juga disinggung dalam buku sejarah Perang Aceh yang ditulis oleh Mayor Jenderal G.F.W. Borel.

Pada tahun 1875, Pemerintah Kolonial Belanda membangun mercusuar ini. Nama “Willem’s Toren” diambil dari nama Raja Belanda saat itu, Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk. Lokasinya yang strategis menjadi fungsi  penanda penting bagi kapal-kapal yang melintasi jalur pelayaran internasional di perairan Selat Malaka dan Samudra Hindia. Pembangunannya merupakan bagian dari ambisi Belanda untuk menguasai jalur maritim dan menjadikan Sabang sebagai pelabuhan transit yang penting, menyaingi Singapura.

Sama seperti mercusuar lainnya, fungsi utamanya adalah sebagai prasarana navigasi untuk memandu kapal yang melintasi perairan di sekitarnya. Lokasinya yang strategis di pertemuan Selat Malaka dan Samudera Hindia menjadikannya sangat penting untuk keselamatan pelayaran.

Bangunannya kokoh dengan gaya arsitektur Belanda, berbentuk silinder, dan memiliki tinggi sekitar 85 meter dengan ketebalan dinding mencapai 1 meter. Mercusuar ini merupakan bagian dari kompleks yang lebih luas, menempati lahan sekitar 20 hektar. Dulunya, kompleks ini juga menjadi tempat tinggal para perwira Belanda. Hingga saat ini, Mercusuar Willem’s Toren masih beroperasi dengan baik dan menjadi salah satu warisan sejarah yang penting di Aceh.

Pembangunan mercusuar ini tidak mudah. Dalam catatan sejarah, seperti yang disinggung dalam buku “Onze Vestiging in Atjeh” (Pendudukan Kami di Aceh) oleh G.F.W. Borel, pembangunan mercusuar ini menghadapi perlawanan sengit dari para pejuang Aceh di bawah pimpinan Teungku Chik di Tiro. Mereka beberapa kali menyerbu Pulau Breueh untuk menggagalkan proyek tersebut. Belanda harus mendatangkan pasukan militer tambahan untuk pengamanan. Proyek ini juga melibatkan kerja paksa, di mana ratusan orang, termasuk dari Ambon, dikirim ke Aceh untuk diperkerjakan.

Mercusuar Willem’s Toren III di Pulo Aceh bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu dari sebuah babak sejarah yang panjang. Kisahnya terjalin erat dengan kepentingan kolonial, perjuangan rakyat Aceh, dan peran pentingnya dalam navigasi maritim dunia.

Meskipun usianya sudah lebih dari satu abad, mercusuar ini tetap berdiri kokoh. Bangunan dengan dinding tebal dan arsitektur khas Belanda ini masih berfungsi hingga kini sebagai alat bantu navigasi. Ia terus memancarkan cahayanya, membimbing kapal-kapal yang lewat, sama seperti tujuannya saat pertama kali dibangun.

Wisata Sejarah

Saat ini, kompleks Mercusuar Willem’s Toren III tidak hanya berfungsi sebagai menara suar, tetapi juga menjadi destinasi wisata sejarah. Pengunjung bisa menaiki anak tangga di dalamnya untuk melihat pemandangan menakjubkan dari puncak menara, yang menyajikan panorama Samudra Hindia yang luas dan hijau Pulo Aceh. Mercusuar ini  menjadi saksi bisu dan pengingat akan masa lalu yang penuh gejolak, sekaligus simbol ketahanan yang terus memberikan manfaat hingga saat ini.

Akses menuju Pulau Breueh (Pulau Beras) saat ini masih mengandalkan kapal. Perjalanan dengan kapal motor dari Pulau Weh (Sabang) memakan waktu sekitar 4 jam. Namun, jika berangkat dari Pelabuhan Penyeberangan Ulee Lheue di Banda Aceh, waktu tempuhnya sedikit lebih singkat, hanya 3 jam. Seandainya pulau ini dapat dilayani oleh kapal cepat, waktu tempuh ini berpotensi terpangkas hingga 50%.

Setibanya di sana, kapal penumpang belum dapat merapat langsung ke Dermaga Ujong Peuneung. Perahu biasanya diturunkan dari kapal motor untuk mengangkut penumpang ke dermaga. Dari dermaga, perjalanan menuju Mercusuar Willem’s Toren III masih harus dilanjutkan dengan mobil pick-up terbuka selama sekitar 30 menit.

Pembangunan dermaga oleh pemerintah pusat untuk memudahkan kelancaran logistik petugas mercusuar diperlukan. Penyediaan sarana kapal dapat dilakukan pemda dan swasta.

Jalan menuju mercusuar memiliki permukaan aspal yang kasar, berkelok, dan menanjak ke bukit. Sepanjang perjalanan, kita akan disuguhi pemandangan hutan belukar yang mendominasi, karena pemukiman atau desa sangat jarang ditemukan.

Untuk benar-benar membuka potensi wisata Pulau Breueh (Pulau Beras), diperlukan investasi strategis pada infrastruktur dasar. Langkah pertama adalah memperpanjang Dermaga Ujong Peuneung agar kapal motor dan kapal cepat dapat merapat langsung. Ini akan memangkas waktu tempuh dan menghilangkan hambatan logistik bagi pengunjung. Selanjutnya, perlu dilakukan perbaikan total pada permukaan jalan yang menanjak menuju mercusuar untuk menjamin keamanan dan kenyamanan perjalanan darat. Selain itu, ketersediaan angkutan umum lokal yang memadai sangat dibutuhkan untuk memfasilitasi mobilitas wisatawan. Terakhir, pengembangan fasilitas penginapan yang nyaman dan representatif juga menjadi keharusan agar wisatawan betah berlama-lama menikmati keindahan alam dan sejarah di pulau terluar ini.

Kunjungan ke Pulau Breueh (Pulau Beras) adalah surga tersembunyi yang menawarkan keindahan alam tropis yang masih sangat asri dan tenang. Daya tariknya terletak pada trilogi keindahan alami; pantai berpasir putih yang dikelilingi perairan biru kehijauan nan jernih; aktivitas bahari yang menenangkan, seperti berenang dan snorkeling di perairan yang damai; serta hutan tropis rimbun yang membingkai pulau, menjanjikan suasana sejuk dan pemandangan alam yang utuh. Banyak yang mancing juga di sekitar pulau, karena ikannya besar-besar, surga pemancing.

Sungguh, Pulau Breueh (Pulau Beras) bukan sekadar destinasi di peta. Pulau Breueh adalah perpaduan sempurna antara keindahan alam yang masih perawan dan bisikan sejarah dari puncak Mercusuar Willems Toren III. Sebuah pengalaman yang meninggalkan jejak kedamaian dan kerinduan untuk kembali ke ujung barat Indonesia.

***

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat

Mitos Mistis Leak

Gde Mahesa

Apakah ilmu leak benar-benar ada, atau hanya sekadar mitos ?

Leak sudah ada sejak ratusan tahun lalu, bahkan hingga saat ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat, terutama yang masih memegang teguh tradisi spiritual Hindu-Bali.

Sebagai ilmu spiritual ilmu leak memiliki tujuan untuk membuka segala batasan yg dimiliki seseorang dlm dirinya, mengganti sekaligus mengubah identitas dirinya (ahamkara).

Ilmu Leak konon mensyaratkan tumbal bagi yang mempelajarinya, tidak main-main, tumbalnya adalah daging manusia atau darah seorang janin yang masih di dalam kandungan.

Dalam konteks Bali dan Jawa leak memiliki beberapa perbedaan. Leak Bali biasa digambarkan menyeramkan, bisa berubah wujud menjadi hewan, atau kepala manusia yg organ tubuhnya menggantung, dan selalu dikaitkan dengan ilmu hitam dan praktik sihir yang jahat. Sangat erat berkaitan dengan Rangda, sosok ratu para leak dalam mitologi Bali, yang digambarkan memiliki wajah menyeramkan, mata melotot, dan lidah panjang. 

Leak Jawa tidak memiliki deskripsi fisik yang khas seperti Leak Bali. Lebih sering digambarkan sebagai manusia biasa yang mampu berubah wujud menjadi makhluk halus tanpa bentuk tertentu. 

Leak Jawa juga dikaitkan dengan ilmu gaib, namun tidak selalu dengan konotasi negatif seperti Leak Bali. Ada juga yang mengartikan Leak sebagai ilmu spiritual atau olah batin, artinya bisa memiliki konotasi yang lebih luas, termasuk sebagai bagian dari ilmu spiritual atau seni pertunjukan. 

Leak Bali sangat lekat dengan budaya dan mitologi Bali, sedangkan Leak Jawa lebih tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur, terutama dalam konteks seni pertunjukan. 

Ilmu Leak adalah warisan ajaran kuno yang dipraktikkan oleh mereka yang ingin memperoleh kekuatan magis. Orang yang mendalami ilmu ini disebut “penganut Leak” dan mereka diyakini mampu bertransformasi menjadi makhluk menyeramkan. Ilmu ini tidak bisa dipelajari sembarangan. Konon, seseorang yang ingin mendalami ilmu ini harus melewati proses inisiasi yang ketat dan melakukan ritual tertentu, seperti:

* Mempelajari mantra-mantra khusus yang hanya bisa diajarkan oleh guru yang telah menguasai ilmu ini.

* Melakukan tapa brata (bertapa) di tempat-tempat tertentu, seperti kuburan atau tempat sakral lainnya.

* Melakukan meditasi dalam kondisi tertentu, biasanya saat malam hari dengan penerangan api atau cahaya rembulan.

* Menjalani puasa atau pantangan tertentu untuk meningkatkan energi spiritual.

* Harus dapat memahami ilmu leak secara komprehensif dan bijaksana, serta tidak mudah terpengaruh oleh cerita-cerita mistis yang belum tentu benar. 

Menguasai ilmu leak ditambah dengan ilmu-ilmu santet, pengasih, penunduk, pembungkam, sirep, ilmu pelet, ilmu cetik atau racun, akhirnya ilmu pengeleakan menjadi sebuah momok.

Ilmu Leak bukan sekadar kisah horor yang diceritakan dari mulut ke mulut, tetapi bagian dari sistem kepercayaan dan ajaran esoterik yang memiliki akar kuat dalam budaya Bali. Ada yang mengatakan bahwa ilmu ini adalah jalan menuju kesaktian, sementara yang lain menganggapnya sebagai praktik ilmu hitam yang berbahaya.

Ilmu Leak ada beberapa golongan :

1. Leak Putih (leak baik) disebut sebagai ilmu Leak yang digunakan untuk tujuan baik. Penganut Leak putih dikatakan memiliki kekuatan supranatural untuk:

* Melindungi orang lain dari serangan energi negatif.

* Menyembuhkan penyakit melalui energi mistis.

* Menjaga keseimbangan spiritual di suatu tempat.

2. Leak Hitam (Jahat)

 jenis ini lebih sering dikaitkan dengan ilmu hitam. Penganutnya diyakini memiliki kemampuan untuk:

* Mengirim santet atau guna-guna kepada seseorang.

* Mencelakai orang lain melalui kekuatan gaib.

* Mencuri energi atau jiwa seseorang.

3. Leak Merah ( leak netral ) berada di antara dua kutub, baik dan jahat. Penganutnya memiliki kebebasan untuk menggunakan ilmu ini sesuai dengan keinginannya.

Pada dasarnya ilmu leak sebenarnya netral, hanya penggunaannya yg salah penempatan. Seperti halnya senjata api, untuk beladiri? Membela orang lain? Atau mencelakai?

Bagaimana dengan Calon Arang yang dimitoskan sebagai sosok wanita jahat? Jangan dulu memvonis, cermati legendanya dari berbagai sumber, sehingga akan menemukan sosok Ibu yang begitu cinta dan sayangnya kepada seorang buah hati. Akhirnya, semua terserah pembaca, muara yang sama, belum tentu satu jalan menuju ke hilir.

Sekarang sruputtt kopi pahitnya, bullll bullll klepussss….

Ha Na Ca Ra Ka: Dua Utusan Telah Bertarung

Ajisaka Belum Diundang, Sabdo Palon Masih Menunggu

Oleh MJP Hutagaol ‘86

PROLOG: Negeri Ini Terlalu Diam Saat Raksasa Bangkit

Dulu, Ajisaka datang bukan membawa pasukan,

melainkan aksara: tatanan, akal, dan nurani.

Ia menundukkan Dewata Cengkar—

raja yang berubah menjadi raksasa karena keserakahan.

Hari ini, Dewata Cengkar bangkit kembali.

Ia tidak lagi hidup di hutan,

tapi tumbuh dalam sistem yang kehilangan nilai.

Ia bernama:

narkoba, judi online, korupsi, hukum yang lentur, dan kerusakan alam.

***

RAKSASA ITU HIDUP DI SEKITAR KITA

📌 Narkoba

Rp 99 triliun per tahun mengalir dari jaringan gelap ini.

Ia menghancurkan generasi muda,

melumpuhkan aparat, dan melumpuhkan keadilan dari dalam.

📌 Judi Online via Game & Media Sosial

Iklan disamarkan sebagai hiburan.

Masuk lewat game, influencer, dan algoritma digital.

Dikonsumsi secara tak sadar,

oleh anak-anak dan orang dewasa yang kehilangan batas.

📌 Korupsi Sistemik

Dari tambang, migas, hingga pengadaan publik,

kerugian negara mencapai ratusan triliun.

Namun yang besar kerap tak tersentuh —

karena sistem lebih sibuk melindungi nama, bukan membela rakyat.

📌 Hukum yang Bisa Diatur

Undang-undang direvisi sesuai selera kekuasaan.

Pasal-pasal dilenturkan,

syarat jabatan diubah,

dan keadilan seolah hanya berlaku untuk mereka yang tak bersuara.

📌 Kerusakan Alam

Gunung digerus, hutan ditebang, laut dicemari.

Semua atas nama investasi,

padahal yang ditanam adalah bencana.

🛑 Inilah wajah baru Dewata Cengkar — raksasa yang tumbuh dari keserakahan dan diamnya nurani.

***

Ha Na Ca Ra Ka — Seruan Jiwa Nusantara

Ha Na Ca Ra Ka – Dua utusan bertarung: antara kesetiaan dan pengkhianatan.

Da Ta Sa Wa La – Pertarungan tak berhenti, berganti bentuk dan medan.

Pa Dha Ja Ya Nya – Kekuatan keduanya besar: uang dan kuasa vs suara nurani.

Ma Ga Ba Tha Nga – Tapi hanya satu yang akan bertahan:

yang berpihak pada kejujuran dan keberanian.

Ajisaka belum datang karena huruf-huruf jujur belum ditulis kembali.

Sabdo Palon masih diam karena belum ada yang cukup bersih untuk ia datangi.

***

SOLUSI BANGSA INI BUKAN AMARAH, MELAINKAN KESADARAN

✅ 1. Kebangkitan Nurani Kolektif

Bangsa ini tidak bangkit lewat teriakan,

tetapi lewat keberanian diam-diam untuk hidup benar.

Petani, guru, seniman, pensiunan, hingga generasi muda —

bisa menjadi Ajisaka masa kini jika nurani mereka tetap menyala.

✅ 2. Pemurnian Kepemimpinan

Kita tidak butuh pemimpin sempurna,

tapi pemimpin yang berani berkata cukup,

dan hidup dalam keteladanan, bukan pencitraan.

✅ 3. Penulisan Ulang Nilai Bangsa

Nilai tidak cukup ditulis di spanduk dan buku pelajaran.

Ia harus hidup di meja makan, ruang kelas, dan hati rakyat.

Bangsa ini bisa diselamatkan jika jati dirinya ditanam ulang.

✅ 4. Penegakan Hukum yang Adil dan Tidak Berat Sebelah

Hukum seharusnya menjadi pelita bagi keadilan, bukan alat kekuasaan.

Tapi hari ini, terlalu sering kita menyaksikan hukum

tajam ke bawah, tumpul ke atas —

menghukum yang lemah, namun melembut pada mereka yang berkuasa.

Bangsa ini harus mengembalikan wajah hukum

sebagai penjaga keadilan yang tidak bisa dibeli,

tidak bisa disesuaikan,

dan tidak tunduk pada tekanan jabatan, uang, atau gengsi politik.

> Hukum harus menjadi mata air keadilan —

bukan cermin kepentingan.

***

CATATAN KAKI:

1. Narkoba: Data BNN (2024) menunjukkan perputaran uang ±Rp 99 triliun/tahun.

2. Judi Online: Populix (2024): 82% warga digital melihat iklan judi online; 63% menjumpainya rutin, termasuk di game dan media sosial.

3. Influencer & Sosial Media: Banyak iklan judi masuk lewat konten kreator dan selebritas; sejumlah tokoh telah diperiksa secara hukum.

4. Kominfo: Telah memblokir >846.000 situs judi online, namun algoritma iklan tetap berjalan di platform besar.

5. Korupsi: Kasus besar di Pertamina, Timah, dan pengadaan publik menimbulkan kerugian >Rp500 triliun.

6. Hukum Lentur: Revisi UU KPK, Minerba, Pemilu, dan pengaturan jabatan menunjukkan fleksibilitas hukum untuk kepentingan elite.

7. Lingkungan: WALHI mencatat >70% bencana ekologis bersumber dari eksploitasi alam pro-kapital tanpa perlindungan rakyat.

8. Ajisaka & Aksara Jawa: Aksara “Ha Na Ca Ra Ka” adalah simbol dua utusan yang saling setia dan saling menghabisi — cerminan dualitas, pengorbanan, dan tanggung jawab jiwa bangsa.

9. Dewata Cengkar: Tokoh raja Blambangan yang menjadi raksasa karena keserakahan, ditundukkan oleh Ajisaka. Kini hidup sebagai simbol kekuasaan yang melampaui nurani.

10. Relevansi Mitologis: Dewata Cengkar mewakili sistem rakus masa kini. Ajisaka adalah pemurni zaman. Sabdo Palon adalah suara semesta yang hanya akan bicara jika rakyat sudah benar-benar siap.

***

Sebarkan kepada mereka yang belum lupa suara hati, dan masih percaya bahwa bangsa ini bisa ditata ulang—dari nurani, bukan dari amarah.

MJP Hutagaol ‘86
Purnawirawan TNI AD

Antara Chaos Domestik dan Ambisi Global: Dilema Kepemimpinan Trump di Tengah Krisis Ganda

Oleh : Heri Mulyono

Oktober 2025 menjadi bulan paling kritis bagi kepemimpinan Donald Trump sejak pelantikannya pada 20 Januari. Presiden Amerika Serikat kini menghadapi krisis ganda yang belum pernah terjadi dalam sejarah modern: government shutdown (penutupan pemerintahan) yang telah memasuki minggu kedua, bersamaan dengan eskalasi konflik domestik di Chicago dan manuver militer yang mengkhawatirkan di Virginia. Kombinasi ketiga krisis ini membuka pertanyaan fundamental: apakah Trump kehilangan kendali, ataukah ini bagian dari strategi yang lebih besar?

Untuk memahami dinamika yang sedang terjadi, kita perlu membedah tiga dimensi krisis yang saling terkait: kelumpuhan pemerintahan akibat shutdown, militarisasi konflik domestik, dan upaya mengkonsolidasasi kekuatan militer. Ketiga elemen ini membentuk gambaran tentang kepresidenan yang berada di persimpangan jalan—antara otoritarianisme dan kekacauan total.

Government Shutdown: Kelumpuhan yang Direkayasa

Anatomi Krisis Anggaran

Sejak 1 Oktober 2025, pemerintah federal AS secara resmi memasuki shutdown—kondisi dimana operasi pemerintahan terhenti karena Kongres gagal menyepakati alokasi anggaran. Istilah shutdown merujuk pada situasi dimana lembaga-lembaga pemerintah non-esensial berhenti beroperasi, pegawai federal dirumahkan tanpa gaji (furloughed), dan layanan publik terganggu.

Penyebab shutdown kali ini adalah kebuntuan politik klasik namun dengan intensitas yang luar biasa. Demokrat, yang dipimpin oleh Senator Chuck Schumer dan Wakil Ketua DPR Hakeem Jeffries, menuntut agar paket pendanaan sementara—disebut Continuing Resolution (CR), yaitu tagihan pendanaan darurat untuk menjaga pemerintah tetap beroperasi—mencakup perpanjangan subsidi premium asuransi kesehatan yang ditingkatkan (enhanced premium subsidies). Program ini akan berakhir pada akhir 2025 dan merupakan bagian penting dari reformasi kesehatan.

Sebaliknya, Republik menolak untuk memasukkan perpanjangan subsidi tersebut, menginginkan CR “bersih” yang hanya mempertahankan tingkat pendanaan saat ini hingga November. Pimpinan Republik bahkan menolak membahas perpanjangan subsidi selama pemerintah masih tutup.

Perang Narasi dan Opini Publik

Yang menarik dari shutdown ini adalah pertarungan narasi publik. Trump menyalahkan Demokrat atas penutupan pemerintahan, mengklaim bahwa mereka menolak proposal pendanaan yang masuk akal demi tuntutan partisan. Gedung Putih bahkan meluncurkan “Government Shutdown Clock” di situs resminya, menghitung waktu sejak Demokrat menolak CR “bersih”.

Namun, jajak pendapat menunjukkan bahwa strategi komunikasi ini tidak sepenuhnya berhasil. Polling YouGov yang dilakukan pada awal Oktober menunjukkan bahwa 45% pemilih menyalahkan Trump dan Republik, sementara hanya 36% yang menyalahkan Demokrat. Empat survei independen nasional yang dilakukan tepat sebelum atau selama shutdown menunjukkan kecenderungan yang sama: publik lebih cenderung membebankan tanggung jawab pada Republik.

Namun, survei juga menunjukkan fluiditas dalam pertarungan politik ini. Sebagian besar pemilih masih tidak yakin siapa yang harus disalahkan, memberikan ruang bagi kedua pihak untuk membentuk narasi.

Dampak Nyata di Lapangan

Dampak shutdown sangat nyata dan meluas. Federal Aviation Administration (FAA) melaporkan bahwa enam fasilitas kontrol lalu lintas udara kekurangan staf, menyebabkan gangguan perjalanan udara. Taman-taman nasional mengalami masalah keamanan—Great Falls Park di Virginia bahkan menutup jalan menuju pusat pengunjung karena kekhawatiran keselamatan tanpa staf yang memadai.

Yang paling memprihatinkan adalah nasib keluarga militer. Mereka bersiap menghadapi kemungkinan tidak menerima gaji pada 15 Oktober—tanggal pembayaran rutin—jika shutdown berlanjut. Trump berusaha menenangkan dengan menyatakan bahwa pemerintah “telah mengidentifikasi dana” untuk membayar pasukan pada tanggal tersebut, namun pernyataan ini tidak menghilangkan kekhawatiran tentang ketidakpastian finansial.

Administrasi Jaminan Sosial (Social Security Administration) juga terdampak, dengan banyak layanan kepada klien terganggu atau tertunda. Instansi federal beroperasi dengan staf terbatas, menyebabkan penundaan dalam persetujuan regulasi, izin, dan kontrak federal.

Strategi Trump: Krisis sebagai Peluang

Yang mengejutkan, Trump melihat shutdown bukan hanya sebagai krisis tetapi juga sebagai peluang. Pada 9 Oktober, ia mengancam akan menggunakan shutdown untuk melakukan “pengurangan kekuatan” (reduction in force) pegawai federal dan memotong “program Demokrat yang populer.” Ini menunjukkan bahwa Trump mungkin tidak terburu-buru mengakhiri shutdown—justru melihatnya sebagai alat untuk merestrukturisasi pemerintahan federal sesuai visinya.

Pendekatan ini berisiko tinggi. Semakin lama shutdown, semakin besar dampak ekonomi dan sosial, dan semakin keras tekanan politik. Namun, ini juga konsisten dengan pola Trump: menggunakan krisis untuk memaksa lawan politik membuat konsesi.

Chicago: Konflik Domestik yang Meruncing

Dari Protes ke Pengerahan Militer

Sementara Washington terkunci dalam kebuntuan anggaran, Chicago menjadi medan konflik yang lebih langsung dan berbahaya. Ketegangan dimulai dari kebijakan deportasi massal (mass deportation) Trump terhadap imigran tidak berdokumen. Chicago, sebagai “kota sanctuary” (sanctuary city)—kota yang membatasi kerja sama dengan otoritas imigrasi federal—menjadi target utama operasi penegakan hukum federal.

Pada 4 Oktober, situasi meledak ketika agen Patroli Perbatasan menembak seorang demonstran selama bentrokan. Departemen Keamanan Dalam Negeri (Department of Homeland Security atau DHS) mengklaim petugas diserang oleh sepuluh kendaraan, termasuk penyerang bersenjata semi-otomatis. Namun, pejabat lokal Illinois menolak narasi ini, menyebutnya sebagai “invasi Trump” terhadap komunitas mereka.

Respons Trump sangat cepat dan tegas: pada 5 Oktober, ia mengotorisasi pengerahan 300 personel Garda Nasional (National Guard—pasukan militer negara bagian yang dapat difederalisasi oleh presiden) ke Chicago. Ini dilakukan tanpa persetujuan Gubernur Illinois J.B. Pritzker, menggunakan Insurrection Act—undang-undang yang memungkinkan presiden mengirim militer untuk menekan “pemberontakan” domestik.

Pertarungan Hukum dan Konstitusional

Langkah Trump segera dihadang oleh sistem peradilan. Pada 9 Oktober, pengadilan federal Illinois menyatakan bahwa “tidak ada bukti kredibel tentang pemberontakan di negara bagian Illinois.” Gubernur Pritzker dengan tegas menolak klaim federal, dan pengadilan mengeluarkan perintah yang memblokir pengerahan Garda Nasional.

Hasilnya adalah kebuntuan konstitusional yang belum pernah terjadi. Hingga 10 Oktober, personel Garda Nasional yang telah difederalisasi di Portland, Oregon, dan Chicago “tidak melakukan aktivitas operasional apapun” menurut Komando Utara AS (US Northern Command). Mereka siap, tetapi tertahan oleh perintah pengadilan—menciptakan situasi limbo hukum yang berbahaya.

Ini bukan sekadar perselisihan administratif. Ini adalah ujian terhadap prinsip federalisme (federalism—pembagian kekuasaan antara pemerintah federal dan negara bagian) dan checks and balances (sistem pengawasan dan keseimbangan antar cabang pemerintahan). Jika Trump menemukan cara untuk mengabaikan perintah pengadilan, ini akan membuka jalan menuju krisis konstitusional yang belum pernah terjadi.

Mobilisasi Perlawanan

Ketegangan di Chicago telah memicu gelombang solidaritas nasional. Koalisi aktivis merencanakan demonstrasi massal pada 18 Oktober dengan tujuan menunjukkan kepada “bangsa dan dunia bahwa kami bersatu menentang serangan ilegal dan tidak perlu terhadap tetangga kami, komunitas kami, dan demokrasi kami.”

Chicago bukan dipilih secara acak. Kota ini adalah simbol dari apa yang Trump sebut sebagai kegagalan kepemimpinan Demokrat di kota-kota besar. Dengan menjadikan Chicago sebagai contoh, Trump mengirim pesan kepada kota-kota sanctuary lainnya: perlawanan akan dihadapi dengan kekuatan penuh negara.

Quantico: Mengkonsolidasasi Kekuatan Militer

Pertemuan yang Tidak Biasa

Di tengah krisis ganda Chicago dan shutdown, pada akhir September 2025, Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengeluarkan perintah yang tidak biasa: mengumpulkan hampir 800 jenderal dan laksamana dari seluruh dunia untuk pertemuan mendesak di Pangkalan Korps Marinir Quantico, Virginia. Para perwira tinggi ini—yang mewakili seluruh spektrum kepemimpinan militer AS—diperintahkan hadir dengan pemberitahuan singkat.

Pertemuan semacam ini tidak memiliki preseden dalam sejarah militer AS modern. Mengumpulkan hampir seluruh kepemimpinan militer secara bersamaan membutuhkan biaya logistik yang sangat besar dan mengeluarkan mereka dari pos komando operasional mereka. Fakta bahwa Trump sendiri akan hadir menambah dimensi dramatis.

Konten: Perang Melawan “Woke”

Ketika pertemuan berlangsung pada 30 September, isinya mengejutkan banyak pengamat. Bukannya membahas ancaman keamanan nasional atau strategi militer terhadap China atau Rusia, Hegseth dan Trump justru menyerang kebijakan “woke” (woke policies—istilah yang digunakan untuk mengkritik kebijakan yang menekankan kesadaran sosial tentang isu keadilan rasial, kesetaraan gender, dan keberagaman) dalam militer.

Hegseth, yang menyebut dirinya sebagai “Menteri Perang” (Secretary of War—gelar lama untuk Menteri Pertahanan), mengecam “standar woke” yang ia klaim melemahkan kesiapan militer. Trump melanjutkan dengan membandingkan kemenangan Amerika dalam Perang Dunia I dan II dengan keadaan saat ini, mengritik apa yang ia sebut sebagai “kelemahan” dalam kebijakan pertahanan.

Menurut laporan, “keheningan mereka berbicara dengan sendirinya.” Para jenderal dan laksamana, yang terlatih dalam profesionalisme dan non-partisanship (netralitas politik), terlihat tidak nyaman dengan politisasi institusi mereka.

Makna dan Implikasi

Pertemuan Quantico dapat diinterpretasikan dengan beberapa cara:

Tes Loyalitas: Trump mungkin menguji kesediaan kepemimpinan militer untuk mendukung agendanya, termasuk kemungkinan penggunaan militer dalam konflik domestik seperti di Chicago.

Konsolidasi Kontrol: Dengan mengumpulkan seluruh kepemimpinan militer dan menetapkan ekspektasi baru, Trump mencoba memastikan bahwa komando militer sejalan dengan visinya.

Pesan Geopolitik: Meskipun konten berfokus pada isu domestik, pertemuan tersebut mengirim sinyal kepada musuh-musuh internasional bahwa kepemimpinan militer AS bersatu di bawah presiden.

Persiapan untuk Konflik: Dalam skenario terburuk, ini adalah persiapan untuk situasi dimana Trump mungkin memerlukan dukungan militer aktif—baik dalam konteks domestik atau internasional.

Apa yang Sebenarnya Ditakuti Trump?

Hipotesis Ancaman Internal

Bukti paling kuat menunjuk pada kekhawatiran Trump tentang kontrol domestik. Tiga elemen—shutdown, Chicago, dan Quantico—membentuk pola yang koheren:

Shutdown memberikan Trump alasan untuk “merestrukturisasi” pemerintah federal, memotong program yang ia anggap tidak sejalan dengan agendanya, dan menekan Demokrat untuk membuat konsesi.

Chicago adalah demonstrasi kekuatan federal terhadap perlawanan lokal, mengirim pesan bahwa pemerintah negara bagian dan kota tidak dapat menghalangi agenda imigrasi Trump.

Quantico adalah upaya untuk memastikan bahwa, jika diperlukan, militer akan siap dan bersedia untuk mendukung presiden—bahkan dalam situasi kontroversial atau konstitusional yang abu-abu.

Trump mungkin mengantisipasi bahwa perlawanan domestik terhadap kebijakannya akan meningkat. Dengan Chicago sebagai preseden dan militer yang telah “diberi pengarahan,” ia mencoba membangun infrastruktur kekuasaan yang dapat mengatasi perlawanan tersebut.

Hipotesis Ancaman Eksternal

Namun, faktor geopolitik tidak dapat diabaikan. Trump menghadapi lanskap internasional yang sangat tidak stabil:

Timur Tengah: Meskipun kesepakatan gencatan senjata Israel-Hamas adalah pencapaian diplomatik, wilayah ini tetap volatil dengan potensi eskalasi Iran.

China: Kompetisi strategis yang meningkat, terutama terkait Taiwan dan dominasi teknologi.

Rusia: Konflik Ukraina yang berkepanjangan dan ketegangan di Eropa Timur.

Korea Utara: Program nuklir yang terus berkembang.

Dalam konteks ini, memastikan loyalitas dan kesiapan militer bukan hanya tentang politik domestik—ini adalah persiapan pragmatis untuk kemungkinan konflik internasional yang serius.

Sintesis: Krisis Ganda, Satu Strategi

Kemungkinan besar, Trump tidak membedakan dengan jelas antara ancaman internal dan eksternal. Dalam worldview-nya (pandangan dunia), keduanya terkait: kelemahan domestik mengundang agresi eksternal, dan kekuatan eksternal memanfaatkan perpecahan internal.

Shutdown bukan hanya tentang anggaran—ini tentang menunjukkan kesediaan untuk bertempur melawan lawan politik hingga titik ekstrem. Chicago bukan hanya tentang imigrasi—ini tentang menegaskan supremasi federal atas resistensi lokal. Quantico bukan hanya tentang kebijakan “woke”—ini tentang menetapkan ekspektasi loyalitas dalam institusi yang paling kuat yang dimiliki negara.

Yang ditakuti Trump, pada akhirnya, adalah kegagalan—kegagalan untuk mengimplementasikan visi “America First,” kegagalan untuk mengontrol narasi, dan kegagalan untuk diingat sebagai presiden yang “membuat Amerika hebat kembali.” Untuk mencegah kegagalan ini, ia bersedia mengambil risiko yang sangat besar.

Proyeksi dan Skenario ke Depan

Jangka Pendek (Oktober-November 2025)

Skenario 1 – Breakthrough Legislatif: Salah satu pihak membuat konsesi, shutdown berakhir, dan Kongres menyepakati paket pendanaan jangka pendek. Namun, masalah mendasar tentang prioritas kebijakan tetap tidak terselesaikan.

Skenario 2 – Eskalasi Total: Shutdown berlanjut hingga tanggal pembayaran militer 15 Oktober terlewati, menyebabkan krisis yang lebih dalam. Bersamaan dengan itu, situasi di Chicago memburuk, dengan kemungkinan Trump mencoba cara untuk melewati perintah pengadilan.

Skenario 3 – Pengalihan Internasional: Krisis geopolitik mendadak—eskalasi dengan China, Iran, atau aktor lain—memaksa kedua pihak untuk bersatu dalam krisis nasional, mengakhiri shutdown dan mengalihkan fokus dari konflik domestik.

Skenario 4 – Fragmentasi Berkelanjutan: Amerika terus terbelah dengan negara bagian merah (Republik) dan biru (Demokrat) semakin berbeda dalam kebijakan dan kerja sama federal, menciptakan realitas “dua Amerika” yang semakin terpisah.

Jangka Menengah (Hingga Pemilihan 2026)

Kombinasi shutdown, konflik Chicago, dan politisasi militer akan membentuk lanskap menuju pemilihan paruh waktu 2026 (midterm elections—pemilihan Kongres yang terjadi di tengah masa jabatan presiden). Jika Demokrat dapat mempertahankan narasi bahwa Trump dan Republik bertanggung jawab atas chaos, mereka mungkin mendapatkan momentum elektoral.

Namun, jika Trump berhasil mengalihkan narasi—melalui pencapaian diplomatik, pemulihan ekonomi, atau menggunakan peristiwa eksternal—ia dapat memperkuat posisi Republik.

Pertanyaan Konstitusional yang Lebih Besar

Yang lebih mendasar adalah pertanyaan tentang ketahanan institusi Amerika. Sistem checks and balances sedang diuji dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya:

– Bisakah sistem peradilan terus membatasi kekuasaan eksekutif jika presiden secara sistematis mencoba mengabaikan perintah mereka?

– Bisakah Kongres berfungsi sebagai check yang efektif ketika polarisasi partisan mencegah kompromi bahkan dalam situasi krisis?

– Bisakah militer mempertahankan profesionalisme dan non-partisanship ketika presiden secara aktif mencoba memolitisasi institusi?

– Bisakah federalisme bertahan ketika pemerintah federal bersedia menggunakan kekuatan militer untuk memaksakan kebijakan pada negara bagian yang menolak?

Kesimpulan: Kepresidenan pada Titik Kritis

Oktober 2025 akan diingat sebagai bulan ketika kepresidenan Trump mencapai titik kritis. Krisis ganda—government shutdown dan konflik domestik di Chicago—dikombinasikan dengan manuver militer yang tidak biasa di Quantico, membentuk gambaran tentang kepemimpinan yang berada di persimpangan jalan.

Apakah ini strategi yang diperhitungkan atau improvisasi yang kacau? Apakah Trump seorang pemimpin yang tegas yang bersedia mengambil langkah-langkah sulit untuk mewujudkan visinya, atau seorang otokrat yang sedang berkembang yang secara sistematis merusak institusi demokrasi?

Jawaban mungkin adalah: keduanya. Trump adalah produk dari polarisasi Amerika yang mendalam, tetapi ia juga secara aktif memperdalam polarisasi tersebut. Ia merespons krisis, tetapi juga menciptakannya. Ia mengklaim mempertahankan konstitusi, sementara mendorong batasnya hingga titik pecah.

Yang pasti adalah bahwa bulan-bulan mendatang akan menentukan tidak hanya nasib kepresidenan Trump, tetapi juga karakter demokrasi Amerika untuk generasi yang akan datang. Apakah institusi akan bertahan? Apakah kompromi politik masih mungkin? Apakah Amerika dapat menemukan jalan keluar dari polarisasi yang melumpuhkan ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak memiliki jawaban yang mudah. Tetapi Chicago, Quantico, dan ruang-ruang Kongres yang terkunci dalam kebuntuan shutdown adalah medan di mana jawaban tersebut sedang ditulis—satu konfrontasi, satu keputusan yudisial, satu voting Kongres pada satu waktu. Dunia menonton, dan sejarah mencatat. (*)

Republik dalam Sorotan: Mencari Arah di Tengah Kabut Kekuasaan

Oleh: Mjp. Hutagaol ’86

1. Demokrasi dan Keresahan Publik Pasca Pemilu 2024, masyarakat menghadapi kenyataan politik yang kompleks: terbentuknya koalisi besar yang mendominasi kekuasaan, melemahnya fungsi oposisi, serta meningkatnya ketidakpercayaan terhadap lembaga negara. Demokrasi kita secara prosedural tetap berjalan, namun secara substansial mengalami krisis kepercayaan.

Data: Survei Indikator Politik Indonesia (April 2024) menunjukkan hanya 43% responden yang percaya bahwa DPR mewakili kepentingan rakyat.

2. Ketimpangan Narasi dan Polarisasi Publik Rakyat dihadapkan pada narasi tunggal dari penguasa yang begitu kuat secara digital, namun tidak mewakili seluruh suara masyarakat. Polarisasi pun bergeser: bukan lagi antara ideologi, tetapi antara kekuasaan dan nurani.

> “Bangsa yang sehat bukan yang bebas dari kritik, tetapi yang berani merespons kritik dengan kebijaksanaan.”

3. Gejala Oligarki dan Komersialisasi Politik Maraknya keputusan politik yang berpihak pada kepentingan ekonomi elite memperparah krisis keadilan. Undang-undang direvisi sesuai pesanan, proyek strategis lebih menguntungkan pemodal, bukan rakyat kecil. Rakyat dipaksa percaya bahwa pembangunan infrastruktur identik dengan kesejahteraan, padahal ketimpangan tetap tinggi.

Data: Gini Ratio Indonesia (2024): 0,388 — menunjukkan kesenjangan masih signifikan.

4. Lemahnya Lembaga Pengawas KPK, DPR, MK, dan media mainstream mengalami penurunan kepercayaan publik karena dianggap tidak independen. Fungsi kontrol kekuasaan justru datang dari kelompok masyarakat sipil, akademisi independen, dan suara rakyat biasa di ruang digital.

> “Ketika pengawasan dilemahkan, maka penguasa hanya dikelilingi oleh gema, bukan oleh kebenaran.”

5. Jalan Solusi: Gerakan Kebangsaan yang Netral, Tegas, dan Berbasis Nilai

Reformasi Sistem Hukum: Penataan kembali MK, UU KUHP, dan RUU strategis melalui partisipasi rakyat.

Penguatan Demokrasi Substansial: Bukan hanya lewat pemilu, tapi lewat keterlibatan publik dalam pengambilan kebijakan.

Pendidikan Politik Publik: Membangkitkan kesadaran kritis rakyat lewat literasi digital, ruang dialog budaya, dan pendidikan nilai.

Koalisi Etik Lintas Golongan: Melibatkan purnawirawan, ulama, akademisi, tokoh adat, dan generasi muda untuk mengawal arah bangsa tanpa atribut partai.

6. Penutup: Republik di Titik Kritis, Namun Masih Bisa Diselamatkan

Bangsa ini tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah pemimpin yang berani berkata cukup pada keserakahan, dan masyarakat yang tidak lagi silau oleh pencitraan.

> “Negara besar tidak runtuh karena perang, tapi karena membiarkan nilai-nilainya direduksi menjadi alat kekuasaan.”

Mari bangkit bukan sebagai pendukung atau penentang, tapi sebagai penjaga ruh bangsa. Dan biarlah suara kita tidak hanya terdengar, tapi menggugah dan menuntun arah.

*) Mjp. Hutagaol ’86 (Purnawirawan TNI AD)

Berkenalan dengan Hantu

Gde Mahesa

Hantu memiliki perbedaan wujud di setiap negara karena hasil kombinasi dari cerita rakyat, kepercayaan, dan faktor psikologis yang membentuk persepsi dan pengalaman manusia tentang dunia gaib. 

Hantu atau dedemit bisa merujuk kepada roh atau arwah yang meninggalkan badan karena kematian. Definisi dari hantu pada umumnya berbeda untuk setiap agama, atau kepercayaan. Dalam kebudayaan hantu dipercaya ada yang baik dan jahat dengan nama yang berbeda-beda.

Dalam salah satu artikel, hantu di ibaratkan sebagai energi, dan digolongkan ada 3 jenis yaitu :

– ORBS (Lingkaran)

– ECTOPLASMA (Asap, Sinar, dan lain lain)

– ORTEX (Meniru bentuk fisik Manusia)

Masing masing bentuk memiliki energi yang berbeda. Orbs memiliki energi terendah, yang Ectoplasma mempunyai energi sedang, Ortex memiliki energi paling kuat.

Menurut seorang kenalan saya yang berasal dari Jerman, hantu itu tidak ada. Baginya, yang kita lihat itu bisa aja ilusi yang  dibayangkan karena telah melihat film horor atau cerita-cerita perhantuan hingga sangat terekam dalam pikiran.

Hal-hal seram seperti hantu itu sebenarnya dibuat oleh pikiran manusia itu sendiri. Terkadang manusia itu rumit. Hal seram yang dilihat sebenarnya bisa tidak seseram yang dibayangkan, hanya saja belum terbiasa akan perbedaan bentuk dengan makhluk yang lainya.

Sekarang coba bayangkan kenapa saat kita berada di tempat sepi/angker kita merasa seperti diikuti atau diperhatikan. Ini karena aktivitas di area lobus temporal di otak kita terjadi yang menciptakan kita jadi berkhayal tentang sesuatu hal menyeramkan.

Bentuk hantu juga dipengaruhi dari pemikiran. Kita cendrung berpikir cerita-cerita seram yang sering didengar juga gambaran bentuknya, sehingga mengakibatkan di dalam otak menciptakan pemikiran jadi nyata yang sebenarnya itu tidak ada.

Hal ini sering terjadi saat kita sedang sendirian di tempat gelap atau tempat yang sepi.

Berdasarkan ilmu pengetahuan, hantu itu bukan konsep yang sah secara ilmiah. Walaupun sudah diselidiki selama berabad-abad, tidak ada satu pun bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa suatu tempat dihuni oleh roh orang mati.

Hantu tetaplah hantu, yang penuh mister dan penuh kejutan. Di Eropa mereka sangat perlente, berjas rapi, bergaun sutera walaupun wajahnya dingin. Di negeri kita para hantu berpakaian compang camping lusuh, malah si kecil Tuyul cuma memakai cawet.

Beruntunglah kita bisa ngrasani para HANTU yang artinya secara tidak langsung akan mengenal TUHAN. Namun jangan lupa sruputtt kopi pahitnya, bullll bullll klepussss….

Kapal Perintis Penggerak Ekonomi di NTT

Oleh Ki Darmaningtyas *)

Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), seperti halnya wilayah Maluku dan Maluku Utara, terdiri dari pulau-pulau, baik pulau besar maupun kecil. Dengan kondisi wilayah kepulauan, maka transportasi laut menjadi andalan warga untuk mobilitas geografis. Memang ada layanan pesawat udara, tapi selain tarifnya mahal, juga daya angkutnya terbatas, sehingga angkutan laut merupakan satu-satunya moda transportasi antar pulau yang terjangkau oleh warga kebanyakan.

Di sinilah pentingnya keberadaan angkutan laut Kapal Perintis yang mendapat subsidi dari negara amat diperlukan di NTT. Tanpa adanya subsidi dari negara, tarif kapal komersial tidak akan terjangkau oleh warga NTT. Hal itu mengingat ekonomi warga NTT tidak sebagus di Jawa. Dengan adanya Kapal Perintis yang tarifnya disubsidi oleh negara, maka tarifnya terjangkau oleh semua warga.

Mobilitas geografis warga di NTT terjadi antar pulau besar ke pulau besar, dari pulau besar ke pulau kecil, dan/atau antar pulau kecil. Tujuan mobilitas pun amat beragam, dari urusan ekonomi, administrasi, pendidikan, kesehatan, sosial (silaturahmi), hingga rekreatif. Namun yang terbanyak adalah untuk ekonomi, yaitu mengangkut produk-produk pertanian, kebon, hutan, ternak, maupun hasil laut untuk dijual ke Kupang.

Menurut Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Kupang Simon Bonefasius Baon, di Pangkalan Kupang terdapat empat armada Kapal Perintis, yaitu dua armada penugasan PT Pelni, sedangkan dua armada lainnya dilayani oleh operator swasta. Kapal Perintis yang dioperasikan Pelni adalah Sabuk Nusantara 90 dan Sabuk Nusantara 79, sedangkan yang dioperasikan swasta adalah KM Sabuk Nusantara 55 dan Sabuk Nusantara 38.

Mereka tidak hanya melayani di wilayah NTT tapi sampai ke Maluku Barat Daya (MBD) yang merupakan wilayah Provinsi Maluku, terutama ke daerah-daerah 3 T (terdepan, terluar dan terisolir). Juga melayani Kupang – Bima (NTB) lalu kembali ke Kupang. Kapal Sabuk Nusantara 90 melayani di Provinsi NTT, meliputi Pulau Flores, Alor, Sumba, Timor, Sawu, dan Rote; baik melayani penumpang maupun barang. Barang-barang yang dibawa oleh kapal yang dari NTB adalah hasil pertanian seperti jagung, bawang, beras, dan dedak untuk makan ternak.

Jadwal pelayaran Kapal Perintis itu bukan tiap hari, tapi tergantung pada round point, ada yang putaran perjalanannya 11 hari PP, tapi ada pula yang 12 hari PP, atau dalam satu bulan rata-rata dua voyage (perjalanan).

Pelayanan angkutan penumpang memang paling dominan. Para penumpang umumnya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah. Ada pula para pelaku usaha UMKM yang menggunakan armada ini untuk membawa barang dagangan mereka berupa sembako dan bahan sandang ke daerah-daerah 3T di Provinsi NTT maupun MBD. Ketika balik ke Kupang, mereka membawa hasil bumi. Ada sentra-sentra produksi, misalnya kopra, jagung, kemiri, dan ikan segar yang dibawa dari MBD dan sekitarnya untuk dijual ke Kupang. Menurut Simon, Kapal Perintis memang menjadi andalan untuk daerah-daerah 3T di Provinsi NTT dan MBD.

Sejauh ini, dilihat dari keekonomian, pelayanan Kapal Perintis itu masih cukup produktif untuk mendorong pergerakan ekonomi di wilayah NTT, karena kapal saat dari Kupang selain membawa penumpang, juga membawa kebutuhan pokok seperti sembako, bahan sandang, sabun, sampo, dan bahan bangunan; tapi saat balik dari daerah, banyak membawa hasil bumi, termasuk ikan segar. Untuk angkutan penumpang, baik menuju ke daerah maupun balik ke Kupang stabil, tapi untuk angkutan barang tingkat keterisan saat balik sekitar 50%. Khusus untuk ikan segar, diambil dari tempat pendaratan ikan, kemudian disalurkan ke pasar induk di Kupang, dan selanjutnya diekspor ke Timor Leste melalui darat.

Diakui oleh Simon, bahwa program Kapal Perintis dari Kemenhub ini amat membantu masyarakat menengah ke bawah di NTT untuk aksesibilitas ke provinsi. Contoh, di Kabupaten Rote terdapat Pulau Ndao, kalau tidak ada Kapal Perintis, mereka tidak punya akses ke ibu kota provinsi (Kupang). Begitu juga di Pulau Sabu. Bahkan Bupati MBD pun datang KSOP Kupang dan meminta agar Kapal Perintis yang melayani Kupang – MBD dihidupkan lagi karena masyarakat MBD sangat bergantung ke NTT. Jarak dari MBD ke Kupang lebih dekat daripada MBD ke Ambon, sehingga kalau mau ke Jakarta pun mereka memilih lewat Kupang daripada lewat Ambon. Itu sebabnya ketika layanan Kapal Perintis  lintasan Kupang – MBD terhenti, Masyarakat di MBD kelimpungan karena masyarakat MBD sangat bergantung ke Kupang. Saat ini Kupang – MBD dilayani oleh kapal swasta yang tarifnya komersial.

Dukungan untuk Swasembada Pangan

Seiring dengan kebijakan Pemerintah untuk menciptakan swasembada pangan, di NTT ada dua lokus kawasan sentra produksi pangan, yaitu Kabupaten Belu dan Sumba Tengah. Di kedua kabupaten tersebut terdapat potensi sektor pertanian dan hortikultura yang dapat dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan di NTT. Saat ini, kebutuhan pangan di NTT dicukupi dari Bima, Sulawesi, dan Jawa Timur mengingat pasokan lokal masih terbatas, tidak mencukupi untuk kebutuhan 22 kabupaten/kota. Semuanya memerlukan layanan Kapal Perintis agar harga barang lebih murah.

Salah satu bentuk produk lokal yang menjadi unggulan di NTT adalah jagung. Tanaman ini ada di semua daerah NTT, tapi produksinya hanya di musim hujan sehingga kuotanya terbatas dan problem pemasaran. Di NTT baru ada satu pabrik pakan ternak, yaitu di Timor. Seandainya terdapat pabrik pakan ternak tentu dapat menampung jagung hasil panen. Selama ini banyak jagung dari NTT keluar dalam bentuk bahan baku, sehingga harganya jatuh dan masyarakat rugi.

Potensi lain yang ada di NTT adalah rumput laut yang cukup banyak, terutama di Rote, Alor, Sabu, dan Flores. Tapi kendalanya sama, kebanyakan dijual bahan mentah kering, belum diolah sehingga tidak memiliki nilai tambah. Kalau ada pabrik pengolahan rumput laut di NTT, nilai tambahnya bisa lebih besar. Jadi produksi ada, tapi belum ada industri besar yang menampung, akhirnya hasil bumi keluar begitu saja ke Surabaya atau Makassar.

Keberadaan kapal perintis, sebetulnya sudah sangat membantu untuk distribusi barang, meskipun armadanya masih kurang. Contoh, trayek ke MBD sangat bergantung pada Kupang. Begitu trayek kosong, masyarakat MBD langsung kesulitan logistik. Jadi perlu penambahan kapal. Kebutuhan mendesak saat ini adalah menambah armada dan memperkuat industri pengolahan hasil bumi. Kalau dua hal tersebut terpenuhi, ekonomi masyarakat NTT akan lebih baik.

Pada masa lalu, kalau kita bicara NTT tidak dapat dilepaskan dari keberadaan kayu Cendana dan Gaharu yang dikenal menebarkan bau wangi. Potensinya ada di Pulau Timor dan Pulau Sumba, namun pemanfaatan kayu Cendana itu sekarang lebih difokuskan untuk UMKM. UMKM mengolahnya jadi cenderamata atau penyulingan minyak Cendana, yang produknya dijual di kapal-kapal, termasuk di Kapal Perintis sebagai cendera mata.

Kapal Hewan

Kapal Perintis yang melayani di NTT tidak hanya untuk penumpang saja, tapi juga  untuk hewan. Seperti kita ketahui bersama, NTT merupakan daerah sentra peternakan sapi dan kuda. Oleh sebab itu, sejak masa Presiden Joko Widodo (Jokowi), tersedia Kapal Perintis khusus untuk hewan, terutama sapi. Pelabuhan Kupang menjadi pangkalan kapal ternak.

Simon menjelaskan, ada lima kapal ternak yang berpangkalan di Pelabuhan Kupang untuk melayani Pulau Jawa dan Kalimantan.  Saat penulis berkunjung ke Pelabuhan tersebut (17/9/2025) lalu, setidaknya ada dua kapal ternak yang sedang bersandar dengan muatan sapi-sapi yang akan dibawa ke Jawa, Kalimantan, bahkan ada yang sampai ke Sumatra. NTT memang ditetapkan sebagai provinsi swasembada daging untuk Jawa dan Kalimantan, sehingga kapal ternak jadi kebutuhan penting. Contoh, Kapal Cemara Nusantara 1 dari Kupang menuju Tanjung Priok, lanjut ke Pelabuhan Panjang (Lampung). Sedangkan Kapal Cemara Nusantara 2, 3, 4, dan 5  melayani ke Samarinda dan Banjarmasin untuk angkutan ternak. Ini termasuk kategori tol laut, khusus untuk ternak.

Keberadaan tol laut khusus hewan atau Kapal Perintis Hewan ini diharapkan mampu membangkitkan pertumbuhan ekonomi di NTT, karena produk ternak mereka dapat dijual ke Jawa, Kalimantan, dan Sumatra dengan lebih lancar. Di sisi lain produk ternak mereka mampu mencukupi kebutuhan daging di Jawa, Kalimantan, dan Sumatra.

Pemerintah menyadari pentingnya keberadaan Kapal Perintis ini. Maka dari total subsidi untuk angkutan umum Kemenhub tahun 2024 sebesar Rp. 4,39 triliun, untuk angkutan laut mencapai Rp1,95 triliun. Subsidi itu disebar ke 39 lintas angkutan tol laut, 105 trayek perintis laut, dan 6 trayek kapal ternak. Tanpa adanya Kapal Perintis distribusi barang dan mobilitas warga di NTT memang akan amat terbatas sehingga tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi pada masyarakat 3 T.

Keterbatasan SDM dan Cuaca sebagai Tantangan

Dua tantangan terbesar yang dihadapi dalam layanan Kapal Perintis di NTT ini adalah kondisi cuaca yang sering kurang bersahabat dan keterbatasan SDM Pelayaran. Kondisi cuaca yang ekstrem sering meyebabkan tundaan perjalanan. Untuk itu KSOP Kupang selalu bekerja sama dengan BMKG untuk pantauan cuaca dan memberi peringatan agar kapal menunda berlayar kalau cuacanya ekstrem. Kecuali itu, kondisi laut di Laut Arafura dan Maluku Barat Daya (MBD) memang sangat ekstrem, sehingga perlu pengawasan ketat dan informasi cuaca terbaru sebagai pemandu pelayaran.

Sedangkan kebutuhan SDM Pelayaran yang professional saat ini masih dipenuhi dari luar NTT, terutama Makasar dan Jawa mengingat sampai sekarang di NTT belum ada Politeknik Pelayaran. Yang ada baru SMK Pelayaran namun belum ada yang approval dari Kementerian Perhubungan, sehingga lulusannya tidak dapat bekerja di perusahaan pelayaran nasional. Sesuai dengan amanah konvensi International Maritime Organisation (IMO) dan konvensi IMO tentang Standards of Training, Certification and Watchkeeping for Seafarers (STCW) 1995, untuk dapat bekerja di Perusahaan pelayaran nasional, apalagi internasional, harus memiliki sertifikat sebagai seorang pelaut yang diterbitkan oleh Direktorat Jendral Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Namun Kemenhub hanya akan menerbitkan sertifikat tersebut bila proses pendidikannya terstandar, sehingga lulusannya bisa ikut ujian sertifikasi. Ini tantangan yang perlu dipecahkan bersama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen), mengingat SMK Pelayaran dibawah binaan Kemdikdasmen. *** 

*) Peneliti di INSTRAN (Inisiatif Strategis untuk Transportasi)

Disertasi dalam Kemasan dan Dunia Ilmu

Seno Gumira Ajidarma *)

***

Penerbitan hasil penelitian ilmiah adalah bagian yang ikut menentukan perkembangan ilmu dan pengetahuan umum, sedangkan kemasannya dapat menjadi pencapaian terpisah. Seperti terjadi dengan disertasi St. Sunardi, Saga dari Bengawan Nil.

***

Terbitnya Saga dari Bengawan Nil (586 hal) yang merupakan disertasi St. Sunardi, akan saya tanggapi dari dua sisi secara tak terlalu lazim, yakni tanggapan bukan atas isinya.

Buku memang memiliki dua pengertian, sebagai ide: dalam hal ini isi buku, yang akan termaktub dari judulnya, seperti buku ini, yang bersub-judul Ekstase Lahirnya Masyarakat Mesir Modern dalam karya Najīb Mahfūz; dan buku sebagai benda, yang pengertian teknisnya adalah kemasan.

Hieroglif kontemporer Ugo Untoro di sampul depan

Semenjak buku dapat beralih format menjadi digital, dan disebut buku-elektronik (e-book), bahkan dibuat langsung sebagai buku elektronik, tanpa versi kertas, terlacak usaha keras melawannya melalui kemasan: bahwa kemasannya sebagai benda buku mempunyai kualifikasi mandiri, yang dapat dinilai terpisah dari isi buku itu sendiri.

Dalam hal Saga dari Bengawan Nil, sebagian dari proses produksi kemasan itu bahkan perlu diperlihatkan, menjadikannya tamasya proses kreatif perjalanan gagasan, bahwa apa yang barangkali tampak sebagai kemewahan, terkurasi dari material yang sudah diabaikan dan akan ditinggalkan. Alih-alih terbuang, segenap material tergunakan bernilai langka, dan di sanalah kemewahan itu mendapatkan makna.

Jilid, embos, karton, dan warna kertas:
kemasan Saga dari Sungai Nil

Mulai dari stok kertas pilihannya yang menipis, mesin cetak tindas manual (hand press), berkombinasi dengan mesin satu warna djadoel, dan embossed cetak timbul pada sampul, sampai jilid jahit semi handmade, terhubungkan dengan pencapaian efek artistik yang memang menjadi tujuannya.

Buku, sebagai benda—kali ini benda artistik—mendapatkan harga jualnya lebih dalam konteks penghargaan pembeli kepada kolaborasi perancang, daripada sekadar perhitungan untung-rugi dari harga beli dan harga jual.

Ini merupakan bagian dari gejala kebudayaan, yang tumbuh sebagai perlawanan terhadap gelombang digitalisasi, bukan karena digitalisasi itu buruk, melainkan karena pemberagaman akan selalu muncul sebagai perlawanan terhadap dominasi penyeragaman.

Namun bagaimanakah kualifikasi mandiri terpisah itu menjadi relevan dengan yang dikemasnya?

***

Perbincangan tidak akan berlanjut dengan hubungan bentuk dan isi, karena saya sudah menjanjikan untuk tidak membahas isinya—meski dapat saya katakan betapa “hieroglif” Ugo Untoro pada sampulnya sungguh menampung gagasan “saga masyarakat Mesir modern”—tetapi jika bukan isinya, lantas apa?


Memang tentang disertasi, tapi hanya disertasi dalam status disertasi, bukan tentang Saga dari Bengawan Nil yang merupakan kajian atas gubahan penulis susastra Mesir bernama Najīb Mahfūz (1911-2006).

Disertasi St. Sunardi ini diselesaikan tahun 2000, dan meluluskannya dari Jurusan Sastra Arab di Pontifical Institute for Arabic and Islamic Studies, Roma. Artinya, ditulis dengan bahasa Inggris, tetapi dengan penguasaan bahasa Arab, untuk terbit tahun 2025 sebagai terjemahan Landung Simatupang ke bahasa Indonesia.

Disertasi terhubungkan dengan gelar Doktor. Tanpa membuat disertasi, yang diandaikan melakukan inovasi dalam bidang ilmu tertentu, dan lulus dalam peng-ujian-nya, seseorang tidak berhak menyandang gelar tersebut. Setelah lulus pun, disertasinya diandaikan dapat diakses siapa pun, karena temuannya mesti dapat dirujuk demi pengembangan ilmu. Demi ilmu mau pun pengetahuan khalayak, disertasi kemudian diterbitkan.

Disertasi Edi Sedyawati (666 hal) diterbitkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
(negara); disertasi Martin Suryajaya (815 hal) diterbitkan Gang Kabel (independen).

Penerbitan disertasi dilakukan lembaga ilmiah, negeri maupun independen, non-komersial maupun komersial, demi satu tujuan lazim: kemajuan dunia ilmiah dan perkembangan pengetahuan umum. Dunia ilmiah akan melibatkannya ke dalam wacana ilmiah, khalayak mendapat konsumsi bacaan bergizi, yang akan meningkatkan daya kritis terhadap manipulasi canggih tingkat tinggi dalam bidang apa pun.

Skripsi S1 dan tesis S2 setara disertasi S3 bereputasi

Bukan hanya disertasi tentu, yang terwajibkan berkontribusi sebagai pertanggungjawaban etis, atas peluang dan fasilitas sosial budaya yang telah didapatkan dan dinikmatinya, melainkan juga skripsi S1 dan tesis S2, apalagi jika atas nama kualitasnya: skripsi bidang hukum Marsillam Simanjuntak yang mempersoalkan unsur Hegelian dalam pandangan negara integralistik dipuja-puji Daniel Dhakidae berkelas disertasi S3 (yang bagus), dan bukankah tesis master bidang sejarah Soemarsaid Moertono tentang kekuasaan Jawa, tepatnya Mataram Baru, menjadi rujukan dunia ilmiah internasional sampai hari ini? Sementara disertasi Arief Budiman tentang kudeta di Chile laris manis di pasar gelap sebagai buku bajakan.

Di Indonesia terdapat ribuan, jika bukan puluhan ribu manusia bergelar Doktor, karena perguruan tinggi masa kini memang seperti peternakan atawa pabrik sarjana, yang lebih peduli “target lulusan” daripada temuan ilmiah (ini pun terdengar “asing”). Namun disertasi yang berkontribusi sosial-ilmiah (yakni diterbitkan) tersila dihitung persentasenya.

Disertasi yang laris dibajak semasa Orde Baru, karena kudeta Chile yang meniru peristiwa G30S, dibaca demi kepentingan sebaliknya: mengenali kejadian G30S yang sesungguhnya

Bukan hasil riset, tetapi perkenankanlah saya bermain-main dengan kategorisasi, tentang mengapa para sarjana tidak (boro-boro berjuang) menerbitkan skripsi, tesis, maupun disertasinya: (1) malu, karena kualitas ilmiah yang semenjana—tapi tidak malu lulus; (2) rendah hati, walau kualitas ilmiah lebih dari memenuhi syarat; (3) abai, tidak peduli, bahkan mungkin lupa, yang ketiganya—bersama No. 2—tetap menjadi masalah etika sosial; (4) hati-hati, atas nama metode, atau pun karena isyu yang bisa kontroversial, seperti dilema agama maupun peluang kloning manusia; (5) tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkannya, sedangkan untuk menerbitkan sendiri—walau secara digital—“tidak ada anggaran”.

***

Kategori terakhir itu mengembalikan dan menyambung kembali topik catatan ini: bahwa keberadaan publikasi ilmiah oleh penerbit menjadi bagian yang ikut—untuk tidak disebut sangat—menentukan pengembangan ilmu dan pengetahuan umum.

Bukankah Edmund Husserl (1859-1938), dalam pengisahan Heidegger, begitu bersyukur dan kagum terhadap Max Niemeyer, penerbit yang “telah memberanikan diri untuk menerbitkan suatu karya besar dari seorang dosen yang hampir tidak dikenal, yang menempuh jalan-jalan pemikiran yang tidak biasa dan karena itu tidak boleh tidak harus menimbulkan keheranan dunia filsafat waktu itu”.

Menurut Heidegger, “Penerbit pada waktu itu belum dapat mengetahui bahwa namanya di kemudian hari tetap berkaitan dengan fenomenologi, yang segera menentukan suasana pemikiran zaman itu di berbagai-bagai bidang, umumnya secara tak terungkap.” (Bertens 1987, 78).

Dalam suatu proses—termasuk penerjemahan Landung Simatupang–yang berlangsung 25 tahun, Saga dari Bengawan Nil: Ekstase Lahirnya Masyarakat Mesir Modern dalam karya Najīb Mahfūz terbit melalui Penerbit Buku Baik dan Program Pascasarjana Universitas Sanata Dharma. Sebagai bagian dari penelitiannya, Sunardi telah berbincang lama dengan Najīb Mahfūz, penerima Nobel bidang susastra pada 1988, di tepi Bengawan Nil di Mesir yang legendaris.

Penutup catatan Sunardi pada Mei 2025 bagi saya sungguh menarik, bahwa beliau berharap: “…….. buku ini bisa memberi sumbangan dalam cara meneliti sastra.” (Sunardi 2025, ix).

Penulisan beraksara miring (italics / kursif) atas kata cara,yang begitu penting dalam dunia penelitian, membuat saya bertanya-tanya, apakah tidak mungkin “suasana pemikiran” dalam penelitian susastra hari ini, telah menjadi lebih baik, karena perkembangan yang ikut ditentukan disertasi tersebut, yang terbit jauh lebih awal.

Namun 25 tahun yang lalu, mungkin belum ada Penerbit Buku Baik, walau pun Dodo Hartoko yang mendirikannya sudah hadir di Yogyakarta.

Dodo Hartoko dan mesin cetak djadoel

Pondok Ranji, Rabu 15 Oktober 2025. 13:11.

*) SENO GUMIRA AJIDARMA,
partikelir di Jakarta.

Rahasia Ghaib Air Cucian Beras

Gde Mahesa

Sepertinya sepele, tiap hari banyak masyarakat membuang air cucian beras karena dianggap limbah dapur, ternyata menyimpan potensi tersembunyi dalam berbagai tradisi dan kepercayaan, serta dipercaya mempunyai kekuatan ghaib yang luar biasa.

Sebuah kearifan lokal yang relevan hingga kini, serta merupakan warisan leluhur Nusantara, khususnya tradisi Jawa, sangat meyakini jika air ini memiliki energi spiritual yang tak bisa disepelekan.

Penggunaan air cucian beras dalam ritual dan praktik mistis yang telah diwariskan turun-temurun di berbagai budaya, mencerminkan keyakinan akan kekuatan ghaib yang terkandung di dalamnya. Air ini dianggap memiliki “daya asihan” dan dapat digunakan untuk menangkan energi negatif serta meningkatkan keberkahan dan perlindungan dari ilmu hitam. 

Beras bukan hanya simbol penghidupan atau panguripan secara fisik. Secara spiritual, di balik warna putihnya tersimpan unsur kekuatan gaib berupa cahaya suci.

Cahaya ini merupakan simbol pancaran roh yang murni.

Ketika beras bertemu air, terjadi penyatuan kekuatan spiritual yang sangat kuat untuk menyerap dan melenyapkan energi-energi negatif.

Banyak ritual kuno memanfaatkan media beras karena perpaduan ini, diyakini mampu membuat orang yang memusuhi bertekuk lutut dan tunduk.

Kekuatan gaib air cucian beras atau yang disebut ‘leri’ dalam bahasa Jawa, dipercaya memiliki tujuh manfaat utama.

Manfaat ini mencakup solusi untuk berbagai masalah kehidupan, mulai dari persoalan asmara hingga kelancaran usaha menurut tradisi leluhur.

1. Memikat Simpati  (Mikat Seneng Lian Soko Paningale)

Kekuatan gaib air cucian beras dapat menarik rasa suka dari orang lain melalui tatapan mata. Aura gelap di wajah yang membuat orang lain tidak suka akan luntur, membuat wajah tampak lebih cerah dan menarik.

2. Meningkatkan Kepercayaan Diri (Nguat Roso Asore Diri)

Air ini mampu menetralisir rasa tidak percaya diri yang disebabkan oleh energi negatif dari luar. Mandi memakai air cucian beras dipercaya bisa meruwat diri dari pengaruh buruk lingkungan atau bahkan guna-guna.

3. Menyembuhkan Luka dan Penyakit (Ngilang Tatu Tombo Leloro)

Energi murni di dalamnya bisa menghilangkan luka fisik sekaligus mengobati penyakit non-medis. Terutama penyakit akibat kiriman sihir atau niat jahat dari orang yang memusuhi.

4. Mengubah Benci Menjadi Cinta (Gawe Sengit Gawe Tresno)

Air cucian beras diyakini menyimpan cahaya kasih sayang atau ‘daya asihan’. Saat diaktifkan melalui doa, energinya bisa membuat orang yang membenci dan memusuhi berbalik menjadi baik dan suka.

5. Mendatangkan Kelancaran Usaha (Kanggo Penglarisan)

Sebagai sarana penglarisan, air ini berfungsi menangkal dan melunturkan energi negatif yang menghalangi tempat usaha. Kekuatan cahayanya menyerap penghalang sehingga rezeki bisa kembali mengalir deras.

 6.  Menenangkan Tempat Tinggal (Nentremke Panggon)

Tempat yang sering menjadi lokasi keributan atau pertengkaran bisa dinetralkan. Menyiramkan air cucian beras yang telah didoakan diyakini mampu memulihkan keharmonisan sebuah lokasi.

7. Membangkitkan Welas Asih (Gugah Doyo Welas Asih)

Ritual menyiramkan air cucian beras di sekitar rumah secara rutin bisa membangkitkan kekuatan kasih sayang. Hal ini membuat para penghuni rumah menjadi rukun, saling menyayangi, dan harmonis.

Untuk mengaktifkan setiap kekuatan tersebut, biasanya dilakukan ritual khusus.

Ritual ini melibatkan penggunaan air cucian pertama yang masih pekat, waktu pelaksanaan tertentu, dan pembacaan doa khusus sebagai media afirmasi untuk membangkitkan energi spiritual di dalamnya.

Dibalik semua yang orang bilang tanpa nalar, tersembunyi manfaat lain yang bisa diterima oleh akal antara lain :

1. Menyuburkan tanaman.

Air cucian beras mengandung nutrisi dan bakteri baik yang dapat membantu tanaman tumbuh lebih subur. 

2. Media Pembersih Alami.

Sifat abrasif sedimen tepung pada air cucian beras dapat digunakan untuk membersihkan noda pada peralatan rumah tangga seperti keramik, panci, dan peralatan tembaga. 

3. Untuk Perawatan Kecantikan.

Air ini juga kaya akan vitamin dan mineral yang baik untuk kesehatan kulit. 

Masih membuang air cucian beras? Atau mau dipakai mandi dan cuci muka?

Sruputtt dulu kopi pahitnya… Bullll bullll klepussss….