Pakis Giwang Antingnya Kanjeng Ratu Kidul

Gde Mahesa

Pohon pakis termasuk tanaman prasejarah, jenisnya sangat bervariasi di seluruh dunia. Bahkan sering kali dikaitkan dengan sihir, perlindungan, dan misteri alam. Karena pakis adalah tumbuhan kuno yang bereproduksi melalui spora (bukan bunga atau biji), budaya kuno sering menganggapnya memiliki kekuatan magis.

Secara keseluruhan, pakis dalam mitologi adalah perwakilan dari misteri hutan yang teduh, simbol kekuatan batin, dan keajaiban yang tersembunyi dari alam. Pakis bukan hanya sekadar tanaman taman yang indah atau dedaunan dalam rangkaian bunga dari toko bunga, tetapi pakis juga merupakan pengingat yang kuat akan konsep-konsep seperti kelahiran kembali, penyembuhan, dan bahkan tarian dalam ritual.

Apa yang dilambangkan pakis tergantung pada budaya serta jenis pakisnya, dan sangat menarik untuk dipelajari akan maknanya yang lebih dalam.

Lebih dari 12.000 jenis pakis yang berbeda tumbuh di seluruh dunia, dan dapat ditemukan di setiap benua (bahkan Antartika). Banyak di antaranya memiliki khasiat obat, dan beberapa bahkan dapat dimakan. Kegunaan juga keberadaannya yang meluas menjadikan pakis sangat penting dalam banyak budaya, dan tidak mengherankan jika pakis juga memiliki nilai simbolis yang tinggi.

Mitologi pohon pakis di Indonesia erat kaitannya dengan simbol kesuburan, kemakmuran, dan kearifan lokal, terutama dalam budaya Jawa.
Pakis yang dikenal sebagai tanaman purba melambangkan kehidupan baru, salah satu jenis pakis yang menjadi mitos adalah “Pakis Giwang” dan cuma tumbuh di tebing yang paling sering makan korban. Kenapa ? Karena jawabannya ada di satu tetes air asin yang bukan dari laut. Itu air mata. Dan pemiliknya tidak suka ditanya.”  

Adiantum capillus-veneris atau Lindsaea orbiculata  adalah nama ilmiah dari Pakis Giwang, Suplir Giwang, Pakis Perak, berdaun bulat kecil setipis kertas, bertangkai hitam legam mengkilat. Jika kena matahari sore di tebing, kilaunya bagai emas putih, sehingga menyerupai giwang atau anting.

Pakis giwang hanya tumbuh menempel di tebing karang Pantai Selatan Jawa. Dari Parangtritis, Pelabuhan Ratu, sampe Karang Bolong. Tempat atau tebing yang tanpa henti selalu dihajar ombak dan angin laut.

Pohon ini sangat tahan air laut yang bergaram. Akarnya menyengkram batu karang hingga sampai ribuan tahun. Bahkan bisa dikatakan lebih tua dari jaman Mataram Kuno, yang artinya pohon pakis tersebut sudah ada sebelum manusia mengenal nama “Ratu Kidul”.  

Lantas bagaimana bisa berkaitan dengan NYI Roro Kidul ?

Konon ada sebuah versi Nyi Roro Kidul atau Ratu Laut Selatan yang Singgasananya di dasar laut, tiap malam bulan purnama, Sang Ratu naik ke darat untuk memastikan “niteni” wilayahnya.
Ketika sedang berada di tebing, tanpa sengaja antingnya tersangkut diranting pohon dan kemudian terjatuh. Kono seketika anting tersebut berubah menjadi rumpun pakis yang berkilau.

Rumpun kilau pakis yang berada ditebing diyakini menjadi radar bagi Sang Ratu, sehingga siapa pun yang memetik sembarangan, akan diketahui. Kilauan pakis itu menjadi “mata-mata” dari Sang Ratu Laut Selatan. 
 
Tetapi ada versi lain dari Pelabuhan Ratu – Jawa Barat.
Versi dari tlatah Pasundan ini sangat dramatis. Syahdan Nyi Roro Kidul dulunya bernama Putri Kadita. Dibuang karena guna-guna, kena penyakit, dan dengan kepedihan yang dalam ia menangis di atas batu karang. Derai air matanya jatuh ke bebatuan, dan berubah tumbuh menjadi pohon pakis giwang.  Kemudian ia lari ke arah laut menceburkan diri dan menuju ketengah laut lepas, hingga tertelan ombak sehingga moksa dikemudian hari menjadi ratu penguasa laut selatan.

Pakis Giwang adalah “air mata yang membatu”. Simbol luka yang jadi indah. Sehingga siapapun yang memetik dengan niat serakah, derita luka sang Ratu bakal pindah ke sipemetik. 
 
Berbeda lagi dengan versi masyarakat Gunung Kidul.
Sebagian masyarakat nelayan percaya bahwa tebing yang ada pohon Pakis Giwang merupakan “gerbang gaib”.  Mereka meyakini bahwa pakis itu bukan tanaman. Melainkan “rambut” Nyi Roro Kidul yang sengaja dijulurkan ke darat. Untuk menarik sukma orang yang memakai baju hijau ke laut. Konon warna hijau merupakan warna “kesukaan” sang Ratu, sekaligus menjadi “larangan” untuk masyarakat jika berada dipantai selatan.  

Dalam ritual tradisi sedekah laut yang diselenggarakan oleh kraton tiap 8 Sura, Keraton Yogyakarta & Surakarta “labuhan” sesajen ke Laut Selatan, berisi kepala kerbau, kembang setaman dan pakis giwang.  

Syarat memetik pakis giwang ini, harus “Abdi Dalem Keparak” yang udah puasa & dapet “wisik”.
Cara memetiknya tidak boleh menggunakan nggak pake, tetapi memakai bambu kuning.

Mitos larangan bagi masyarakat pada umumnya, tidak boleh memperjual belikan pohon pakis giwang, sebab pohon tsb bukanlah tanaman hias, tetapi “barang kerajaan gaib”. Dijual salam artinya dengan mencuri, yang beresiko “kesambet” atau akan ditegor dan “ditagih lewat mimpi”. 

Larangan yang lain adalah, apabila masyarakat nelayan hendak memanjat tebing, maka harus memutar untuk menghindari menginjak rumpun pakis, yang berarti telah menginjak rambut Sang Ratu. Selain itu tidak boleh membawa pulang kerumah pohon pakis giwang, sebab bisa menyebabkan musibah.

Para “dukun” pantai selatan dalam prakteknya sering menggunakan pakis Giwang kering yang dibakar. Abunya dicampur dengan minyak tertentu.  Bermanfaat untuk “membuka mata batin” & “pagar dari santet laut”. Tapi cuma dukun yang “dapet izin” untuk bisa meramu. Jika dukun abal-abal, yang terjadi malah “diboyong” ke laut. 

Pesan Kanjeng Ratu Laut Kidul ;
“Pakis Giwang itu lembut, tapi kuat hidup di karang yang dihantam ombak tiap detik. Kecantikan sejati tidak butuh tanah subur. Dia tumbuh dari luka, dari hantaman air ombak bergaram.

Pakis Giwang tumbuh tepat di batas darat dan laut. Tidak sepenuhnya di darat, dan tidak tenggelam di laut.  
Ada wilayah yang bukan hakmu. Ada misteri yang tidak usah diutak-atik. Hormati sesuai batasannya. 

Bulll….. bullllll …. klepussss….

Situs Bongal: Kota Kosmopolitan Nusantara yang Ditelan Samudera

Dari Koin Dinasti Umayyah hingga Manik-manik Fustat — Bukti Asing yang Mengubah Historiografi Indonesia

Oleh : Heri Mulyono

Di kaki Bukit Bongal, Tapanuli Tengah, bersemayam rahasia 14 abad: pelabuhan kosmopolitan yang dicatat saudagar Arab, disinggahi pedagang Persia, dan kini dibuktikan oleh koin Umayyah serta manik-manik Mesir yang terpendam dalam tanah merahnya.

Koin dari Basrah, Pesan dari Masa Lalu

Suatu pagi di akhir 2019, seorang petugas Dinas Pendidikan Kabupaten Tapanuli Tengah menyerahkan sebuah koin tua kepada Balai Arkeologi Sumatera Utara (Balar Sumut). Benda itu berwarna kecokelatan, bertuliskan aksara Arab yang rapat, dan lusuh oleh tanah merah perbukitan. Para penambang emas liar yang telah lama menggaruk lereng Bukit Bongal sesekali menemukan benda serupa, lalu menjualnya atau menyimpannya sebagai pajangan tanpa menyadari apa yang sesungguhnya mereka genggam.

Koin itu ternyata bukan sembarang artefak. Tim Museum Uang Sumatera menyimpulkan benda itu berasal dari Dinasti Umayyah. Lebih mengejutkan lagi, koin sejenis yang kemudian ditemukan dalam jumlah besar di kawasan yang sama bertarikh 79 Hijriah — setara 698 Masehi — dan dicetak di kota Basrah, Irak. Angka itu bukan sekadar bilangan tahun. Ia adalah penanda waktu yang membekukan sejarah: bukti fisik tertua yang pernah ditemukan di Indonesia tentang masuknya peradaban Islam ke Nusantara. Sebuah koin dari tanah Mesopotamia, telah mengarungi setengah permukaan bumi, terbaring diam di bawah nipah dan sawit Tapanuli Tengah selama lebih dari 13 abad.

Para Geograf Arab Sudah Lebih Dulu Mencatatnya

Yang luar biasa, keberadaan kawasan ini ternyata bukan hal baru bagi dunia luar. Lebih dari satu milenium sebelum para arkeolog modern menancapkan sekop pertama mereka di Bongal, para penulis Arab dan Persia telah merekam kawasan ini dalam karya geografi mereka.

Tahun 851 Masehi, saudagar Muslim Arab bernama Sulaiman al-Tajir menulis laporan perjalanannya yang kemudian dikompilasi oleh Abu Zayd al-Sirafi dalam kitab Akhbar al-Sin wa al-Hind — karya Arab tertua tentang Cina, ditulis lebih dari empat abad sebelum Marco Polo. Dalam catatan itu, Sulaiman al-Tajir yang berangkat dari Basrah menyebut adanya “perkebunan yang disebut Fansur, dari mana diperoleh kamfer dengan kualitas terbaik”, serta tambang emas di kawasan tersebut. Fansur — yang kemudian diidentifikasi merujuk pada kawasan Tapanuli Tengah secara umum — adalah kawasan yang kini para arkeolog yakini mencakup Situs Bongal sebagai pusatnya yang lebih tua.

Tidak berhenti di situ. Ahli geografi Persia abad ke-9, Ibn Khurdadhbih, menyebut kawasan ini dengan nama “pulau Bālūs”. Sekitar tahun 900 Masehi, Ahmad ibn Rustah dalam Kitab al-A’laq al-Nafisa menyebut Fansur sebagai “negeri terkenal di Hindia” dan menulis tentang yurisdiksi serta kekayaan alamnya. Beberapa dekade kemudian, Ibn Hawqal dalam Kitab Surah al-Ardh menyebutkan Siraf — pelabuhan di Teluk Persia, Irak — sebagai pusat ekspor kamfer terbaik yang bersumber dari Fansur. Istakhri sekitar tahun 950 Masehi mengkonfirmasi hal serupa. Bahkan Al-Nuwayri, ahli ensiklopedia Mesir abad ke-14, masih mencatatnya: “Fansur adalah sebuah negeri yang dikenal sebagai Tanah Emas. Kamfer yang berasal dari sana adalah jenis terbaik dari semua jenisnya.”

Para peneliti kemudian mengemukakan hipotesis bahwa Bongal boleh jadi adalah “Pansur” yang disebutkan dalam kronik Batak — pemukiman yang mendahului Lobu Tua di Barus. Arkeolog Dr. Ery Soedewo dan tim menyimpulkan bahwa lokasi Pansur tersebut berada tepat di dataran aluvial kaki Bukit Bongal saat ini. Dengan kata lain, apa yang dicatat para geograf Arab selama berabad-abad bukan sekadar nama abstrak di atas peta. Ia adalah kota nyata yang kini sedang digali kembali dari perut bumi.

Ekskavasi yang Membalikkan Peta Sejarah

Setelah ekspedisi penyisiran morfologi yang dilakukan Sultanate Institute dan Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (MAPESA) selama Desember 2020, ekskavasi pertama dibuka pada 15 Januari 2021 dan dipimpin Dr. Ery Soedewo, M.Hum. Lima titik pengujian arkeologi dibuka. Apa yang keluar dari lubang galian itu membuat komunitas ilmiah Indonesia terperangah.

Dari tanah merah Bongal muncul fragmen keramik Dinasti Tang (abad ke-7 hingga ke-9 M), pecahan tembikar dan kaca dari Timur Tengah, manik-manik warna-warni, jarum logam, tali ijuk, kayu-kayu kuno, dan biji rempah: pala, kemiri, kapulaga, mangga, serta pinang yang telah mengeras selama berabad-abad. Ditemukan pula sebuah botol kaca berbentuk khusus — wadah penyulingan minyak yang lazim disebut alembic — identik dengan benda serupa yang pernah ditemukan di Timur Tengah dan kini tersimpan di museum New York. Selain itu ada wadah kalam (tempat tinta untuk menulis), alat tenun, sisir tenun, dan fragmen kapal kayu kuno.

Untuk memastikan usia temuan, 13 sampel artefak dikirim ke Waikato University, Selandia Baru, untuk menjalani uji Accelerator Mass Spectrometry (AMS) Radiocarbon Dating. Hasilnya: artefak Bongal berasal dari rentang abad ke-7 hingga ke-10 Masehi. Sebagian sampel mengindikasikan aktivitas manusia sejak abad ke-4 Masehi. Situs ini berumur lebih tua 200 tahun dari Situs Lobu Tua di Barus yang berjarak sekitar 60 hingga 94 kilometer.

Luas kawasan pemukiman Bongal diperkirakan melebihi 200 hektar, mencakup sebagian Bukit Bongal serta dataran aluvial menuju Sungai Lumut. Bukan sekadar pos dagang. Ini adalah kota.

Sidik Jari Peradaban Dunia dalam Tanah Bongal

Apa yang membedakan Bongal dari situs arkeologi lain di Indonesia adalah keragaman asal-usul artefaknya yang sungguh mencengangkan. Setiap benda yang keluar dari tanah Bongal adalah sidik jari peradaban yang datang dari penjuru bumi yang berbeda-beda.

Dari Mesir dan Persia, hadir manik-manik kaca — jenis millefiori, folded, dan foil — yang diproduksi di pusat-pusat pembuatan kaca utama Islam: Fustat (kota tua Kairo), Nishapur (Persia Timur Laut), dan kawasan Syro-Palestina. Studi kimia oleh Lankton dan Dussubieux terhadap manik-manik Asia Tenggara mengkonfirmasi kekerabatan komposisi bahan dengan produksi kaca Islam awal. Artinya, manik-manik yang bisa hari ini dipegang di tangan itu pernah melewati tangan pengrajin Mesir atau Persia, lalu berlayar ribuan mil melintasi Samudera Hindia, sebelum tiba di Bongal.

Dari Kekaisaran Romawi Timur dan komunitas Kristen Nestorian, hadir pula jejak yang tidak kalah mengejutkan: cincin bermotif salib, manik-manik Romawi, batu berukir simbol salib, dan sendok liturgi Bizantium. Berdasarkan analisis komparatif, artefak-artefak ini memiliki kemiripan kuat dengan benda-benda Kristen Romawi dan Bizantium awal. Para peneliti menduga kaum Kristen Nestorian — yang aktif dalam jaringan dagang Asia — singgah di Bongal, membawa serta benda-benda keagamaan mereka. Prasasti Sian-Fu di Cina bertarikh 781 M (Dinasti Tang) membuktikan komunitas Nestorian memang aktif di jalur dagang yang sama dengan yang melewati Bongal.

Dari dunia Islam, selain koin-koin Umayyah dan Abbasiyah, ditemukan pula cincin-cincin bercap inskripsi Arab, wadah perunggu untuk wewangian, tembikar berlapis glasir dari Asia Barat, peralatan gelas, serta peralatan medis dan kimia. Beberapa di antara peralatan medis Islam itu menunjukkan kemiripan dengan koleksi yang tersimpan di Museum Islam Istanbul, Turki. Dari Cina, hadir keramik-keramik Dinasti Tang dengan kualitas tinggi. Dari Nusantara sendiri, tersimpan rempah-rempah, resin, dan emas — komoditas yang justru menjadi alasan seluruh pedagang asing itu rela berlayar berbulan-bulan ke sini.

Situs Bongal, simpul para arkeolog, adalah tempat di mana “pengaruh Cina, India, Arab, lokal, Hindu, Buddha, dan Islam bertemu” dalam satu kawasan permukiman yang hidup antara abad ke-7 dan ke-9 Masehi. Ini bukan hubungan satu arah. Ini adalah kosmopolitanisme yang sesungguhnya.

Situs Bongal dan Jalur Rempah Global

Dalam konferensi internasional “Spiced Islam and Material Cultures Across the Indian Ocean” yang diselenggarakan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada Oktober 2023, Dr. Ery Soedewo memaparkan bahwa jalur rempah global melalui Samudera Hindia sudah ada jauh sebelum bangsa Eropa menginjakkan kaki di kepulauan ini pada abad ke-16.

Temuan cengkeh tertua yang pernah dikirim ke luar negeri adalah yang ditemukan di Suriah, berasal dari tahun 1721 SM — lebih dari tiga milenium sebelum Portugis tiba di Maluku. Temuan cengkeh dari abad ke-9 hingga ke-11 M juga ditemukan di situs Mantai, Sri Lanka. Ini membuktikan rute rempah Samudera Hindia telah berdenyut sejak ribuan tahun sebelum era kolonial.

Bongal adalah mata rantai penting dalam rute kuno itu. Ia menjadi satu-satunya situs di Indonesia di mana sisa komoditas rempah ditemukan langsung di titik ekskavasi — bukan diasumsikan dari konteks lain. Pala, kemiri, kapulaga, dan kemungkinan kamfer serta resin damar yang ditemukan di situ adalah bukti bahwa Bongal bukan sekadar transit, melainkan tempat pengumpulan dan penimbangan sebelum komoditas dikirim ke pasar dunia. Pesisir barat Sumatera memang terkenal sebagai sumber kamfer, gaharu, cendana, resin aromatik, dan emas — barang-barang yang paling dicari di pasar Timur Tengah, India, dan Cina.

Kota yang Ditelan Samudera — Bukti Ilmiah Bencana

Mengapa kota sebesar dan sepenting ini lenyap dari ingatan sejarah? Para arkeolog dan ilmuwan memiliki jawaban yang kini didukung data ilmiah kuat: Bongal musnah ditelan bencana alam dahsyat.

Petunjuk pertama datang dari pola temuan arkeologis itu sendiri. Tidak ada satu pun sisa arkeologis yang bertarikh lebih muda dari abad ke-10 Masehi yang ditemukan di Situs Bongal. Kekosongan ini bukan karena kekurangan ekskavasi — melainkan memang tidak ada yang tersisa setelah titik itu.

Petunjuk kedua datang dari ilmu kebumian. Penelitian paleoseismologi yang diterbitkan dalam Journal of Geophysical Research (AGU, 2013) oleh Rajendran dan tim membangun kronologi paleo-tsunami di Teluk Bengal sebelum tahun 2004. Hasilnya mengidentifikasi kejadian besar sekitar abad ke-1, ke-5, ke-10, dan ke-15 Masehi. Event abad ke-10 Masehi tampak sebagai yang terbesar dalam 2.000 tahun terakhir. Bukti endapan tsunami dari periode ini ditemukan di Phra Thong, Thailand; di Meulaboh, Sumatera Utara; dan di Sri Lanka — semua merekam gejolak yang sama dari zona subduksi Aceh-Andaman.

Petunjuk ketiga datang dari penelitian arkeologi modern. Sebuah studi penting yang diterbitkan dalam jurnal PNAS tahun 2019 oleh tim internasional dari Earth Observatory of Singapore (Nanyang Technological University), Maynooth University Irlandia, dan Universitas Oxford membuktikan bahwa tsunami pada akhir abad ke-14 Masehi menghancurkan situs-situs pesisir di sepanjang bagian kritis Jalur Sutra Maritim di pantai utara Sumatra. Dari 10 pemukiman yang diteliti, 9 di antaranya hancur total. Tragisnya, kawasan yang dilanda tsunami abad ke-14 itu adalah kawasan yang sama yang kembali dihancurkan tsunami 2004 — sebuah pengulangan bencana lintas abad yang menjadikan penelitian ini sangat relevan untuk kajian mitigasi bencana masa kini.

Meski studi PNAS tersebut berfokus pada abad ke-14, pola yang sama — tsunami besar yang memusnahkan pemukiman pesisir di pantai barat Sumatra — memberikan kerangka ilmiah yang kuat bagi hipotesis bahwa Bongal pun musnah dalam cara yang serupa, hanya beberapa abad lebih awal. Dataran aluvial kaki bukit yang kini ditumbuhi nipah, fragmen kapal kayu yang tersebar di lapisan tanah, dan percampuran artefak dari berbagai periode secara tidak teratur — semua konsisten dengan gambaran pasca-bencana yang mengaduk dan membenamkan situs dalam waktu singkat.

Ancaman Nyata yang Lebih Dekat dari Tsunami

Di tengah seluruh kegairahan ilmiah itu, Situs Bongal menghadapi ancaman yang jauh lebih mendesak: penggalian liar yang berlangsung tanpa henti. Para penambang emas tradisional yang telah lama menggantungkan hidup dari lereng Bukit Bongal tidak serta merta berhenti karena para arkeolog datang. Setiap hari, lubang-lubang baru dibuka, artefak-artefak terseret dari konteks aslinya, dan data arkeologis yang tak ternilai itu perlahan hancur. Artefak-artefak dari Bongal dilaporkan sudah berpindah tangan jauh ke luar desa, masuk ke pasar kolektor tak terdaftar. Setiap koin, setiap pecahan kaca, setiap potongan kayu kapal yang berpindah tangan tanpa dokumentasi ilmiah adalah sepotong sejarah yang hilang untuk selamanya.

Dr. Ketut Wiradnyana, Kepala Balar Sumut, menegaskan bahwa Situs Bongal sangat layak ditetapkan sebagai cagar budaya, tidak hanya di tingkat provinsi, tetapi sampai ke tingkat nasional, mengingat lingkup temuan yang melampaui batas regional. Bupati Tapanuli Tengah, Bakhtiar Ahmad Sibarani, menyatakan dukungannya dan berjanji menyurati Gubernur Sumatera Utara, kementerian terkait, hingga Presiden, untuk meminta kawasan ini segera dilindungi secara hukum dan dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah.

Menuju Pengakuan Dunia

Pada 2022, penelitian dilanjutkan oleh Pusat Riset Arkeologi Lingkungan, Maritim dan Budaya Berkelanjutan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Sultanate Institute, masih di bawah koordinasi Dr. Ery Soedewo. Pada Oktober 2023, temuan Bongal dipresentasikan dalam forum internasional di Jakarta di hadapan akademisi dari Universitas Leiden, UIN Jakarta, dan berbagai lembaga internasional lainnya. Nama Bongal kini bergema di koridor-koridor ilmiah dunia.

Para arkeolog dan sejarawan membuka dua perspektif baru yang signifikan bagi historiografi Indonesia. Pertama, dalam aspek spasial, Bongal membuktikan bahwa jalur pelayaran pantai barat Sumatra — yang selama ini termarjinalkan dalam rekonstruksi sejarah maritim nasional — adalah jalur yang sama sekali tidak kalah pentingnya dari pesisir timur. Kedua, dalam aspek temporal, Bongal memundurkan batas tertua interaksi maritim internasional Nusantara setidaknya 200 tahun lebih awal dari yang selama ini diketahui.

Yang paling revolusioner adalah implikasinya bagi sejarah Islam di Indonesia. Koin Umayyah bertarikh 79 Hijriah dari Bongal adalah bukti bahwa pada akhir abad ke-7 Masehi, ketika Dinasti Umayyah sedang berjaya di Damaskus, sudah ada hubungan langsung antara jazirah Arab dengan pantai barat Sumatra. Sebuah kenyataan yang menggugurkan anggapan bahwa Islam baru masuk Nusantara berabad-abad kemudian. Tidak ada koin Umayyah yang pernah ditemukan di Barus — hanya di Bongal.

Situs ini mencatat pula dimensi yang lebih luas dari sekadar Islam: kehadiran komunitas Hindu (arca Ganesha), jejak Kristen Nestorian (sendok liturgi Bizantium, cincin salib, manik-manik Romawi), serta pedagang Buddha dari Cina — semua berpadu di satu teluk yang sama, di bawah satu bukit yang sama. Bongal adalah cermin dari dunia yang jauh lebih terhubung dari yang selama ini kita bayangkan.

Bukit Bongal masih berdiri kokoh di tepi Teluk Tapian Nauli, menjulang 324 meter di atas permukaan laut. Di bawah tanah merahnya, di antara akar nipah dan pohon karet yang menjalar, mungkin masih tersembunyi kapal-kapal lain, koin-koin lain, dan kisah-kisah lain tentang manusia yang berlayar dari Basrah, dari Fustat, dari Chang’an — dan memilih Bongal sebagai rumah mereka. Mereka adalah bagian dari Indonesia yang belum selesai dikisahkan. Bumi Bongal, jika dibiarkan bersuara, akan bercerita jauh lebih panjang dari yang sanggup kita bayangkan. (*)


Sumber: Balai Arkeologi Sumatera Utara (Balar Sumut); BRIN; Sultanate Institute; Ery Soedewo dkk., “History of the west coast of North Sumatra before Barus: Preliminary results of archaeological research at the Bongal settlement site”, Archipel (2024); Pidia Amelia dkk., “Awal Kehadiran Peradaban Islam di Indonesia: Eksplorasi Arkeologis Situs Bongal”, Jurnal Sejarah Citra Lekha, Vol. 10, No. 1, 2025; “Tracing Global Trade Routes in the 7th–10th Centuries CE” (Atlantis Press, 2025); Patrick Daly dkk., “Archaeological evidence that a late 14th-century tsunami devastated the coast of northern Sumatra”, PNAS, 2019; Rajendran dkk., “Ages and relative sizes of pre-2004 tsunamis in the Bay of Bengal”, Journal of Geophysical Research: Solid Earth, AGU, 2013; Sulaiman al-Tajir, Akhbar al-Sin wa al-Hind (851 M), kompilasi Abu Zayd al-Sirafi; Ahmad ibn Rustah, Kitab al-A’laq al-Nafisa (sekitar 900 M); Ibn Hawqal, Kitab Surah al-Ardh (sekitar 970 M); Konferensi Internasional “Spiced Islam and Material Cultures Across the Indian Ocean”, UIN Jakarta, Oktober 2023; cagarbudaya.sumutprov.go.id; balarsumut.kemdikbud.go.id.

Antisipasi Kenaikan Harga BBM Tahun 2027

Oleh Djoko Setijowarno

Modernisasi transportasi publik tidak seharusnya dipandang sebagai beban anggaran, melainkan wujud pemenuhan kewajiban negara sekaligus investasi strategis jangka panjang. Langkah ini merupakan fondasi penting untuk meningkatkan produktivitas ekonomi dan menjamin mobilitas warga yang lebih berkeadilan.

Rencana kenaikan harga BBM subsidi pada Januari 2027 berisiko memicu gelombang protes massa jika masyarakat tidak diberikan alternatif moda transportasi yang murah. Sebagai langkah antisipatif, pemerintah perlu segera mengalokasikan Rp 10 triliun menginisiasi pengadaan transportasi umum modern di 200 kota melalui Instruksi Presiden (Inpres). Setidaknya masyarakat di kota kecil hingga kota besar sudah dapat menikmati transportasi umum yang mumpuni.

Sebagai gambaran, pagu anggaran program Buy The Service (BTS) pada Direktorat Jenderal Perhubungan Darat tahun 2023 yang sebesar Rp 582 miliar telah mampu menjamin operasional transportasi umum di 10 kota metropolitan dan kota besar. Angka ini membuktikan bahwa dengan alokasi yang terukur, pemerintah dapat menyediakan layanan mobilitas publik yang luas dan berkualitas bagi masyarakat urban.

Dengan alokasi Rp 10 triliun, layanan ini bahkan dapat digratiskan bagi mahasiswa, pelajar, dan buruh untuk meredam gejolak sosial. Kebijakan ini jauh lebih efisien dan berdampak luas dibandingkan rencana Kementerian Perindustrian memberikan subsidi motor listrik sebesar Rp 30 triliun. Sebesar Rp 5 juta diberikan untuk subsidi satu unit motor listrik.

Pemberdayaan angkutan umum lokal di tingkat daerah dapat menjadi solusi efektif tanpa harus memulai dari nol, sebagaimana yang telah diimplementasikan di Kabupaten Magelang dan Kabupaten Semarang. Dengan memanfaatkan 10% pembagian opsen Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) yang mencapai Rp 6,1 miliar, Kabupaten Magelang mengalokasikan Rp 2,5 miliar khusus sebagai insentif Angkutan Pedesaan (Angkudes). Melalui insentif sebesar Rp 135 ribu per hari operasional sekolah, 78 armada Angkudes pada tahun 2026 mampu melayani sekitar 900 pelajar secara gratis setiap hari. Langkah ini tidak hanya menjamin aksesibilitas pendidikan, tetapi juga menjaga keberlangsungan hidup operator angkutan lokal.

Dari sisi manfaat dan efisiensi anggaran, penguatan transportasi publik jelas merupakan pilihan yang lebih rasional.

Alokasi dana sebesar Rp10 triliun untuk pembenahan angkutan umum di daerah (melalui skema Inpres atau subsidi Buy The Service akan memberikan dampak yang bersifat multiplikasi, baik dari sisi ekonomi, sosial, hingga keselamatan. Manfaat strategis yang dapat diperoleh berikut ini.

Pertama, sebagai jaring pengaman ekonomi masyarakat.  Kenaikan biaya energi (seperti BBM) sering kali memicu inflasi dan menurunkan daya beli. Angkutan umum yang murah atau gratis bagi pelajar, buruh, dan masyarakat berpenghasilan rendah berfungsi sebagai “subsidi langsung” yang tepat sasaran. Dana Rp10 triliun ini mampu meringankan beban pengeluaran rumah tangga secara signifikan dibandingkan subsidi kendaraan pribadi.

Kedua, efisiensi fiskal dan anggaran. Secara angka, Rp10 triliun jauh lebih efisien dibandingkan rencana subsidi kendaraan listrik pribadi (misalnya motor listrik) yang membutuhkan dana lebih besar (sekitar Rp 30 triliun) namun manfaatnya bersifat individual. Investasi Rp 10 triliun dapat menjangkau sekitar 200 kota dengan sistem angkutan modern. Manfaatnya dapat mengurangi beban negara terhadap subsidi BBM jangka panjang karena perpindahan moda dari kendaraan pribadi ke angkutan massal.

Ketiga, mitigasi risiko sosial dan unjuk rasa. Transportasi publik adalah isu sensitif yang menyentuh akar rumput. Penyediaan transportasi umum yang layak sebelum adanya kebijakan penyesuaian harga BBM dapat menjadi alat peredam gejolak sosial. Masyarakat cenderung lebih kooperatif terhadap kebijakan energi pemerintah jika tersedia alternatif mobilitas yang murah dan berkualitas.

Keempat, peningkatan keselamatan transportasi. Banyak kecelakaan lalu lintas di daerah melibatkan pelajar yang menggunakan sepeda motor karena tidak adanya pilihan lain. Dengan tersedianya angkutan sekolah yang terintegrasi (seperti contoh sukses di Kab. Magelang), angka kecelakaan di usia produktif dapat ditekan secara drastis.

Kelima, pemerataan pembangunan dan konektivitas regional . Dana ini dapat digunakan untuk (1) modernisasi armada, yakni mengganti angkutan yang sudah tidak layak dengan unit baru yang nyaman (ber-pendingin dan aman), (2) pemberdayaan operator lokal, tidak mematikan angkutan eksisting, pemerintah dapat merangkul mereka ke dalam sistem formal dengan standar layanan yang ditentukan pemerintah, dan (3) digitalisasi, yaitu implementasi sistem pembayaran non-tunai dan pelacakan posisi armada secara real-time di tingkat kota kecil/menengah.

Keenam, dampak lingkungan dan tata ruang. Penyediaan angkutan umum di 200 kota akan mengurangi kepadatan kendaraan di jalan raya, yang secara langsung berdampak pada berkurangnya kemacetan di pusat-pusat kota daerah, penurunan emisi karbon secara kolektif, dan penataan ruang kota yang lebih teratur dan manusiawi.

Penutup

Operasional transportasi umum ini diarahkan untuk menyediakan layanan dengan tarif terjangkau, bahkan gratis, bagi kelompok prioritas seperti buruh, mahasiswa, pelajar, penyandang disabilitas, dan lansia.

Pengalokasian Rp 10 triliun untuk transportasi umum bukan sekadar pengeluaran, melainkan investasi strategis. Hasilnya bukan hanya fisik berupa bus atau angkutan, melainkan terciptanya sistem mobilitas nasional yang lebih berkeadilan dan stabil secara ekonomi maupun sosial.

Pembenahan transportasi umum adalah investasi jangka panjang, bukan sekadar beban belanja negara. Menyediakan akses mobilitas yang aman dan terjangkau merupakan kewajiban konstitusional pemerintah demi mewujudkan ekosistem perkotaan yang lebih berkelanjutan.***

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Perang Modern Vs Perang Fondasi

Perbedaan Lapisan Konflik dalam Perebutan Kendali Dunia

Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol

PENDAHULUAN: PERANG YANG BERUBAH WAJAH

Perang tidak pernah berhenti. Ia hanya berubah bentuk.

Jika pada masa lalu perang identik dengan benturan fisik—pasukan, senjata, dan wilayah—maka hari ini perang hadir dalam bentuk yang jauh lebih kompleks.

Negara tidak selalu diserang dengan peluru.
Kota tidak selalu dihancurkan dengan bom.
Namun dampaknya tetap terasa.

Sistem terganggu.

Ekonomi goyah.

Masyarakat terbelah.

Di sinilah kita mengenal apa yang disebut sebagai perang modern.

PERANG MODERN: APA YANG SEBENARNYA BERUBAH

Perang modern adalah bentuk konflik yang tidak lagi terbatas pada medan tempur fisik, tetapi meluas ke seluruh sistem kehidupan negara.

Jika perang konvensional bertujuan menghancurkan kekuatan militer lawan, maka perang modern bertujuan melemahkan kemampuan negara untuk berfungsi.

Perang tidak lagi hanya menyerang tentara, tetapi juga:

sistem pemerintahan,

layanan publik,

jaringan komunikasi,

stabilitas ekonomi,

hingga cara berpikir masyarakat.

Dengan demikian, perang modern tidak hanya menghancurkan, tetapi mengganggu keberlangsungan sistem.

ISTILAH DAN SASARAN PERANG MODERN (WARFARE)

Dalam studi militer, istilah warfare mencakup seluruh bentuk cara berperang, baik konvensional maupun modern. Dengan demikian, perang modern merupakan fase perkembangan dari warfare itu sendiri, yang ditandai oleh penggunaan teknologi dan perluasan medan konflik ke berbagai domain.

Beberapa bentuk utama warfare dalam konteks modern antara lain:

Cyber Warfare (perang siber), yang menargetkan sistem digital, jaringan, dan data negara.

Information Warfare (perang informasi), yang mempengaruhi opini publik, narasi, dan cara berpikir masyarakat.

Economic Warfare (perang ekonomi), yang menciptakan tekanan melalui sanksi, ketergantungan, dan penguasaan sumber daya
.
Hybrid Warfare (perang hibrida), yang menggabungkan berbagai bentuk warfare dalam satu strategi terpadu.

Electronic Warfare (perang elektronik), yang mengganggu komunikasi, radar, dan sistem kendali.

Dalam praktiknya, sasaran warfare modern tidak lagi terbatas pada militer, tetapi meluas ke:

jaringan pelayanan publik,

infrastruktur energi dan komunikasi,

stabilitas ekonomi,
dan kepercayaan masyarakat.

Ketika sasaran ini terganggu, negara tetap berdiri secara fisik, tetapi kemampuannya untuk berfungsi mulai melemah.

PEMETAAN WARFARE DALAM KERANGKA PERANG FONDASI

Jika dilihat secara terpisah, berbagai bentuk warfare tersebut tampak sebagai metode konflik yang berbeda.

Namun dalam kerangka yang lebih dalam, seluruh warfare tersebut sebenarnya mengarah pada satu pola yang sama:
👉 penguasaan terhadap fondasi sistem

Cyber Warfare pada akhirnya berujung pada pengendalian data.

Information Warfare berujung pada pembentukan persepsi.

Economic Warfare berujung pada kendali terhadap energi dan sumber daya.

Electronic Warfare mendukung kontrol atas sistem informasi dan komunikasi.

Hybrid Warfare merupakan kombinasi dari seluruh upaya penguasaan fondasi tersebut.

Dengan demikian, berbagai bentuk warfare modern bukanlah fenomena yang terpisah, melainkan manifestasi dari satu perebutan yang lebih mendasar:
👉 perebutan kendali atas energi, data, dan persepsi.

Di titik inilah Perang Fondasi mengambil posisi—bukan sebagai pengganti warfare, tetapi sebagai kerangka yang menjelaskan apa yang sesungguhnya diperebutkan di balik seluruh bentuk warfare tersebut.

BATAS PERANG MODERN

Meskipun berkembang sangat kompleks, perang modern tetap berada pada satu lapisan:
👉 lapisan operasional

Ia menjelaskan bagaimana perang dilakukan—alat, metode, dan teknik.

Namun di balik itu, muncul pertanyaan yang lebih mendasar:
👉 apa yang sebenarnya menentukan kemenangan?

PERANG FONDASI: MASUK KE AKAR SISTEM

Perang Fondasi bergerak lebih dalam.
Ia tidak lagi fokus pada bagaimana perang dilakukan, tetapi pada apa yang dikendalikan sehingga seluruh sistem dapat diarahkan.

Perang Fondasi adalah konflik strategis yang berfokus pada penguasaan fondasi dasar suatu negara, yaitu:
energi sebagai penggerak sistem,
data sebagai pengarah sistem,
persepsi sebagai penentu keputusan.

Jika warfare menyerang sistem,
Perang Fondasi mengendalikan sumber yang membuat sistem itu hidup.

PERBEDAAN LAPISAN: PERMUKAAN DAN AKAR

Perang modern dan Perang Fondasi berada pada dua lapisan yang berbeda.

Perang modern bekerja di permukaan.

Perang Fondasi bekerja di akar.

Perang modern menghancurkan.

Perang Fondasi mengarahkan.

Perang modern terlihat.

Perang Fondasi sering tidak disadari.

Di sinilah letak perbedaan mendasarnya.

CONTOH NYATA: KETIKA FONDASI BERUBAH, NEGARA BERUBAH

Sejarah memberikan pelajaran yang sangat jelas.

UNI SOVIET

Uni Soviet tidak runtuh karena invasi militer.

Kebijakan glasnost dan perestroika membuka sistem yang selama ini tertutup.

Perubahan terjadi pada struktur, cara berpikir, dan kepercayaan masyarakat.

Fondasi negara berubah.
Dan ketika fondasi berubah, negara ikut runtuh.

INDONESIA 1998

Indonesia tidak jatuh karena perang terbuka.

Krisis ekonomi memicu ketidakpuasan sosial.

Harga melonjak.
Kepercayaan terhadap pemerintah runtuh.

Yang terguncang bukan hanya ekonomi, tetapi legitimasi.
Ketika kepercayaan hilang, sistem ikut jatuh.

ACEH: MEMAHAMI DAN MENGENDALIKAN FONDASI MASYARAKAT

Dalam sejarah Nusantara, Aceh menjadi contoh penting bagaimana konflik tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi oleh pemahaman terhadap fondasi masyarakat.

Perlawanan rakyat Aceh terhadap Belanda dikenal sangat kuat dan sulit dipatahkan melalui pendekatan militer semata.

Di sinilah muncul pendekatan yang berbeda, yang sering dikaitkan dengan Christiaan Snouck Hurgronje.

Snouck tidak memulai dari kekuatan senjata, tetapi dari pemahaman.

Ia mempelajari struktur sosial dan keagamaan masyarakat Aceh, dan menemukan bahwa kekuatan utama perlawanan terletak pada:
peran ulama sebagai pemimpin moral dan sosial,
struktur kepemimpinan lokal yang solid,
hubungan erat antara agama dan semangat perlawanan.

Dari pemahaman tersebut, ia membedakan dua ranah:
Islam sebagai ibadah, yang tidak perlu ditekan,

Islam sebagai kekuatan politik dan perlawanan, yang harus dikendalikan.

Pendekatan ini mengubah strategi secara fundamental:
bukan hanya menyerang secara fisik,
tetapi memisahkan dan melemahkan fondasi sosial masyarakat.

Akibatnya, struktur perlawanan yang sebelumnya kuat mulai terfragmentasi.

Yang berubah bukan hanya kekuatan di medan perang,
tetapi keseimbangan di dalam masyarakat itu sendiri.

Kasus ini menunjukkan bahwa:
👉 ketika fondasi dipahami dan disentuh, arah konflik dapat dikendalikan tanpa harus memenangkan seluruh pertempuran secara langsung.

RESONANSI KEARIFAN LOKAL

Dalam kearifan Jawa dikenal ungkapan:
“nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake.”

Ungkapan ini bukan doktrin militer formal, tetapi mencerminkan cara berpikir:

mengendalikan tanpa benturan,

menang tanpa penghancuran.

Dalam konteks modern, prinsip ini menemukan keselarasan dengan Perang Fondasi:
kemenangan tidak selalu dicapai melalui kekuatan,
tetapi melalui penguasaan keadaan.

KESIMPULAN

Perang modern menjelaskan bagaimana konflik dilakukan.

Perang Fondasi menjelaskan pada titik mana konflik dimenangkan.

Perang modern berada di permukaan.

Perang Fondasi berada di akar.

Dan dalam dunia hari ini, yang menentukan bukan hanya kekuatan, tetapi kemampuan mengendalikan fondasi.

PENUTUP

Perang hari ini tidak lagi hanya tentang siapa yang paling kuat menyerang.

Tetapi tentang siapa yang paling mampu:
mengendalikan tanpa terlihat,

mengarahkan tanpa benturan.

Karena pada akhirnya:
yang menghancurkan belum tentu menang,
tetapi yang mengendalikan, menentukan arah.

Dalam konteks inilah Perang Fondasi dipahami sebagai kerangka untuk membaca konflik modern secara lebih mendasar—melihat tidak hanya apa yang tampak, tetapi apa yang menentukan.

Konsep ini diformulasikan dan dikembangkan oleh Brigjen Purn. MJP Hutagaol dalam membaca pergeseran konflik menuju penguasaan energi, data, dan persepsi.

Jakarta , Mei 2026
Brigjen ( Purn ) MJP Hutagaol

Penyelaman Mata Batin Cinta Terlarang Gajah Mada

Gde Mahesa

To the point saja, dalam penyelaman mata batin antara spiritual dan logika, saya curiga Gajah Mada ada main cinta dengan Tribhuwana Tunggadewi. Kenapa?

Penulis belum pernah dapat informasi jelas suami dari Tribuana Tunggadewi. Sedangkan Ratu tersebut punya anak.
Nah…..

Entah apa namanya, namun jelas hal ini merupakan “ganjalan” yang dalam. Sebab tentunya hal ini bisa dikatakan peka, karena tak pernah ada buku atau literasi yang membahasnya.

Keusilan batin dan logika tentang kecurigaan ini, bisa dicoba dengan 2 pisau.
Data naskah dan logika celah sejarah.

Data Naskah.
Siapa sebenarnya suami dari Tribhuwana Tunggadewi ?
Dalam catatan Negarakertagama Pupuh 48:1-2 :
Tribhuwana Tunggadewi punya suami bernama Kertawardhana yang bergelar Bhre Tumapel, dan ayah biologis Hayam Wuruk & Dyah Nertaja.

Namun dalam hal ini Kertawardhana ibarat sosok misterius, yang ada hanya namanya, serta tidak ada peran politik dalam pemerintahan Majapahit. Tidak ada satu prasastipun yg menceritakannya, serta tiada epos peperangan yg dilakukan serta tidak ada dharma atas nama Kertawardhana. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan
suami raja lain seperti Cakradhara suami Gayatri.

Tribhuwana Tunggadewi naik tahta 1328 M, Hayam Wuruk lahir 1334 M. Artinya 6 tahun pertama Tribhuwana menjadi ratu, belum punya anak. Kemudian munculah sosok Kertawardhana.

Gelar Bhre Tumapel yang mengandung arti
Singhasari/Malang. Tapi Kertawardhana tidak pernah berbuat apapun di Tumapel.
Mencermati hal ini, maka bisa disimpulkan bahwa Kertawardhana hanya sekedar ” suami diatas kertas “. Maka tak heran jika ada sejarawan curiga tentang tokoh tersebut yang notabene seperti sebagai simbolis/kompromi politik.

Logika Celah Sejarah
Kenapa kecurigaan bahwa Gajahmada ada main asmara dengan Tribhuwana Tunggadewi ? Tentunya ada beberapa fakta keganjilan pada 1328 M
saat Jayanegara wafat, Tribhuwana naik takhta umur 18 th, seorang Ratu muda, cantik, belum nikah. Patihnya Gajah Mada, umur 30-an, jenius, setia.

Pada 1331 M ketika terjadi pemberontakan Sadeng. Gajah Mada dapat memadamkan peristiwa tersebut, lalu diangkat sebagai Mahapatih. Kekuasaan Gajah Mada sangat absolut dimana Tribhuwana sangat mendukung dan mempercayai.

Baru pada 1334 M Hayam Wuruk lahir, disebutkan ayahnya “Kertawardhana”.
Namun yang mengherankan, anak tsb mirip Gajah Mada, juga sifat-sifatnya yang ambisius, ekspansionis, visioner.

Ketika Tribhuwana lengser 1350 M, Hayam Wuruk naik tahta, dan Gajah Mada tetap sebagai Mahapatih. Transisi suksesi berjalan mulus. Tanpa drama dan intrik rebutan kuasa antara ibu dan anak.
1357 M Sumpah Palapa Gajah Mada tuntas mencapai puncak keberhasilan, dan setelah 7 tahun kemudian Gajah Mada “lengser” tanpa jejak jelas.

Pola kejanggalan yang nyata-nyata jelas :

  1. Kesetiaan Tribuana yang tanpa batas diberikan kepada Gajah Mada untuk membuat keputusan dan tindakan. Semua musuh Gajah Mada berarti musuh negara. Hal yg tidak wajar jika hanya sebatas relasi antara Ratu dan Patih.
  2. Konon tidak ada catatan Gajah Mada menikah, mempunyai istri atau anak. Sehingga terasa janggal
    untuk seorang pejabat setinggi itu di era yang menganggap garis keturunan berarti menggenggam kekuasaan.
  3. Sedangkan dalam versi yang lain, Gajah Mada disingkirkan secara halus oleh Wikramawardhana menantu dari Hayam Wuruk.
  4. Teori “permainan cinta” keduanya sebetulnya bukan hal yang baru. Sejarawan Slamet Muljana & Agus Aris Munandar pernah nyinggung secara samar-samar, bahwa mereka Tribhuwana dan Gajah Mada menjalin hubungan gelap dan sangat pribadi.
    Sementara dalam tradisi lisan Bali, ada kidung yang menyebut
    “Sang Mahapatih Amengkubhumi Tan kagraha, nanging garbini sang Sri Naranatha” yang artinya
    “Sang Mahapatih tak berumah tangga, tapi menghamili sang Ratu”. Namun, sumber ini sangat lemah tidak bisa jadi bukti akademik.
  5. Jika hal-hal tsb maka semua tanda-tanda bisa masuk akal.
    5a. Kenapa Kertawardhana dinyatakan sebagai sosok misteri ?
    Karena dia hanya berkedudukan sebagai suami politik, untuk menutup aib istana.

5b. Kenapa Gajah Mada tidak dikudeta pada 1331 M-1350 M, sebab tidak ada yang berani, karena dia dianggap “suami siri ratu dan bapak putra mahkota”. c. Ketika Hayam Wuruk dewasa, faksi istana tidak sepakat jika “anak selir” terus berkuasa. Maka Gajah Mada dengan legowo mundur (1357 M) menjadi resi di Wilis/Condrogeni, atau bisa disebut “disingkirkan” tapi terhormat.

5c. Dalam Negarakertagama ditulis raja sangat berduka, yang mengandung makan bahwa Hayam Wuruk menangis sedih atas wafatnya Gajah Mada pada 1364 M padahal ia cuma patih.

5d. Ini yang terpenting untuk diketahui, sebab semua yang diurai merupakan ranah “dugaan” bukan fakta. Tidak ada prasasti tentang cinta antara “Gajah Mada dan Tribhuwana”.

Sejarawan tentu tidak akan menulis hal ini di jurnal karena tidak ada bukti primer.
Tapi penyelaman batin dalam mencari tau dg berbagai cara itu syah.
Sejarah kuno banyak celah-celah kosongnya.
Sehingga terkadang logika, rasa dan pola kekuasaan lebih jujur dari prasasti yang disensor. Tentunya jika disimpulkan maka
Kertawardhana merupakan suami resmi.
Sedangkan Gajah Mada ? Hanya semesta yang menyaksikannya dengan membisu.
Namun juga lewat pendalaman rasa hubungan Tribhuwana dan Gajah Mada tertangkap vibrasi sangat tidak normal, sebagai Ratu dan Patih.

Epos, legenda tokoh terkadang tertangkap kurang masuk akal, namun sejarah itu milik sang pemenang, dan firasat itu milik yang jujur.

Tulisan ini bukan untuk mengadili masa-lalu, tetapi untuk meraba, merasakan denyut nadi jiwa suci manusia dibalik prasasti.

Bullllll….. bullllll…. klepussss…..

Perang Fondasi: Menguasai Akar, Mengarahkan Masa Depan Bangsa

Ketika Energi, Data, dan Persepsi Menjadi Instrumen Kendali Peradaban

Oleh: Brigjen Purn. MJP Hutagaol

PENDAHULUAN: PERANG YANG TIDAK LAGI KITA SADARI

Ada satu kesalahan mendasar dalam cara kita membaca dunia hari ini: kita masih mencari perang di tempat yang lama.

Kita menunggu dentuman senjata, mengamati pergerakan pasukan, dan menghitung kekuatan militer. Kita menganggap konflik baru benar-benar terjadi ketika ada invasi, ketika wilayah direbut, atau ketika kehancuran fisik terlihat jelas.

Padahal, medan perang yang sesungguhnya telah berpindah.

Perang tidak berhenti. Ia berubah bentuk.

Hari ini, perang tidak lagi selalu hadir dalam bentuk yang kasat mata. Ia tidak selalu merobohkan gedung, tidak selalu menciptakan asap dan puing. Ia bekerja jauh lebih dalam—masuk ke dalam sistem yang membuat manusia hidup, berpikir, dan mengambil keputusan.

Negara masih berdiri.
Gedung-gedung tetap tegak.
Masyarakat tetap beraktivitas.

Namun tanpa disadari, arah bangsa bisa berubah.

Keputusan-keputusan besar dapat tampak rasional, tetapi sesungguhnya telah dipengaruhi oleh sistem yang tidak terlihat. Cara berpikir masyarakat dapat bergeser tanpa tekanan terbuka. Ketergantungan dapat terbentuk tanpa disadari sebagai ancaman.

Di titik inilah kita memasuki bentuk konflik yang jauh lebih dalam dan menentukan:
Perang Fondasi.

DEFINISI PERANG FONDASI: MENYERANG AKAR, BUKAN PERMUKAAN

Perang Fondasi adalah bentuk konflik strategis modern yang berfokus pada penguasaan dan pengendalian sistem dasar yang menopang keberlangsungan suatu bangsa—yaitu energi sebagai sumber kehidupan sistem, data sebagai pembentuk realitas, dan persepsi sebagai penentu keputusan manusia.

Berbeda dengan perang konvensional yang menargetkan wilayah, militer, atau infrastruktur fisik, Perang Fondasi menargetkan sesuatu yang jauh lebih dalam: akar yang membuat sebuah bangsa mampu hidup, berpikir, dan menentukan arah peradabannya.

Konflik ini tidak selalu hadir sebagai serangan terbuka. Ia tidak diumumkan, tidak dideklarasikan, dan sering tidak dikenali sebagai ancaman. Ia bekerja secara perlahan, sistemik, dan berlapis melalui penciptaan ketergantungan energi, penguasaan arus data, serta pembentukan persepsi publik secara terus menerus.

Akibatnya, perubahan tidak datang dari luar, tetapi tumbuh dari dalam.

Sebuah bangsa tidak dihancurkan.
Ia diarahkan.

Dengan demikian, Perang Fondasi bukan sekadar perang fisik, perang ekonomi, perang informasi, atau perang psikologis, melainkan perang terhadap fondasi yang membuat seluruh sistem bangsa dapat hidup, bergerak, dan menentukan arah peradabannya.

PERGESERAN SEJARAH: DARI PERANG TERBUKA KE PENGUASAAN SISTEM

Sejarah panjang peperangan menunjukkan bahwa bentuk konflik selalu berkembang.

Pemikir klasik seperti Sun Tzu menekankan bahwa kemenangan tertinggi adalah menaklukkan tanpa bertempur. Sementara Carl von Clausewitz melihat perang sebagai kelanjutan politik dengan cara lain.

Namun dunia modern melampaui kedua pendekatan tersebut.

Perang tidak lagi hanya tentang menghancurkan atau menekan. Ia menjadi upaya untuk mengendalikan sistem yang membuat musuh itu bisa hidup, berpikir, dan mengambil keputusan.

Di sinilah Perang Fondasi mengambil posisi:
bukan sekadar evolusi dari perang,
tetapi pergeseran medan perang itu sendiri.

ENERGI: ROH PERADABAN MODERN

Dunia modern tidak berdiri di atas teknologi semata. Ia berdiri di atas energi.
Kecerdasan buatan, jaringan komunikasi global, sistem keuangan digital, transportasi modern, hingga aktivitas sehari-hari manusia bergantung pada energi listrik. Tanpa energi, semua sistem itu berhenti.
Jika listrik padam:

komunikasi terputus

ekonomi terganggu

transportasi lumpuh

sistem digital berhenti

Kota tidak hancur, tetapi kehilangan fungsi.

Energi adalah roh dari seluruh sistem modern.

Namun energi tidak berdiri sendiri. Ia berasal dari rantai panjang: minyak, gas, batu bara, tenaga air, matahari, hingga bahan tambang untuk baterai. Setiap rantai memiliki titik kendali, dan setiap titik kendali menciptakan ketergantungan.

Dalam konteks ini, menguasai energi berarti menguasai kemampuan sebuah bangsa untuk hidup.

DATA: KETIKA REALITAS DAPAT DIBENTUK

Jika energi adalah roh, maka data adalah otak.

Hari ini, hampir semua keputusan manusia berbasis data. Pemerintah, perusahaan, dan individu bergerak berdasarkan informasi yang mereka terima.

Namun data tidak netral.
Platform global seperti Meta Platforms dan X mengatur arus informasi melalui algoritma. Informasi tertentu ditampilkan, diulang, dan diperkuat, sementara yang lain tenggelam.

Manusia cenderung percaya pada apa yang sering dilihat.

Akibatnya, realitas tidak lagi sepenuhnya objektif. Ia dibentuk
.
Siapa menguasai data, dapat membentuk cara dunia dipahami.

PERSEPSI: PENENTU ARAH KEPUTUSAN

Pada akhirnya, manusia bertindak berdasarkan persepsi.

Persepsi terbentuk dari informasi, pengalaman, dan lingkungan sosial. Dalam dunia yang dipenuhi arus informasi, persepsi menjadi sangat mudah dipengaruhi.

Fenomena yang kita lihat hari ini:

polarisasi sosial

kebingungan informasi

kelelahan berpikir

Dalam kondisi ini, manusia tidak lagi berpikir mendalam. Ia bereaksi cepat.

Dan manusia yang bereaksi, mudah diarahkan.

Persepsi bukan hanya mencerminkan realitas.
Ia membentuk realitas.

FORMULA PERANG FONDASI

Kekuatan sebuah bangsa di era modern dapat dirumuskan secara sederhana:

Kekuatan Bangsa = Energi × Data × Persepsi

Energi menghidupkan sistem.

Data membentuk cara sistem bekerja.

Persepsi menentukan arah keputusan.

Jika satu terganggu, seluruh sistem akan melemah.

STUDI KASUS: POLA YANG TERUS BERULANG

Sejarah menunjukkan bahwa penguasaan fondasi selalu menjadi kunci.

Pendekatan Christiaan Snouck Hurgronje di Aceh menunjukkan bagaimana pemahaman struktur sosial dapat melemahkan perlawanan.

Pada masa Perang Dingin, United States dan Soviet Union bertarung dalam ideologi dan cara berpikir.

Di era digital, perang informasi menjadi bentuk baru dari konflik.

Hoaks, manipulasi opini, dan algoritma menjadi alat untuk memengaruhi masyarakat dalam skala besar.
Semua menunjukkan pola yang sama:
yang disasar bukan fisik, tetapi fondasi.

INDONESIA: KUAT ATAU RENTAN?

Indonesia memiliki potensi besar, tetapi juga menghadapi tantangan serius.

Ketergantungan energi, dominasi platform digital global, dan polarisasi sosial menunjukkan bahwa tekanan terhadap fondasi semakin nyata.

Pertanyaannya bukan apakah kita diserang.
Tetapi apakah kita menyadarinya.

KESIMPULAN: MEDAN PERANG TELAH BERPINDAH

Perang tidak lagi dimenangkan oleh siapa yang paling kuat menyerang.

Perang dimenangkan oleh siapa yang paling mampu menguasai fondasi.

Energi adalah roh.

Data adalah otak.

Persepsi adalah arah.

Dan ketika ketiganya dikuasai, sebuah bangsa tidak perlu dihancurkan untuk dikalahkan.

Ia cukup diarahkan.

PENUTUP

Perang hari ini bukan lagi tentang menghancurkan yang terlihat, tetapi menguasai yang membuat kita bisa berdiri. Dan ketika kita tidak menyadarinya, kita mungkin tidak pernah merasa kalah—padahal arah kita sudah tidak lagi kita tentukan sendiri.

Konsep Perang Fondasi (Perang Fondasi – MJP Hutagaol) diformulasikan dan dikembangkan oleh Brigjen Purn. MJP Hutagaol dalam analisis konflik modern.

Jakarta , Mei 2026
Brigjen Purn. MJP Hutagaol

Merawat Ingatan Bumi

Perjalanan Panjang Konsep Geopark UNESCO dan Dua Belas Mahkota Geologi Indonesia

Oleh : Heri Mulyono

Di balik gunung yang meletus, fosil yang membatu, dan kawah yang berasam, tersimpan narasi paling purba di planet ini — kisah pembentukan bumi — yang kini dijaga oleh sebuah konsep bernama Geopark UNESCO.

Dari Dolomit ke Dunia: Kelahiran Sebuah Gagasan

Gagasan tentang geopark tidak lahir dari ruang konferensi yang dingin. Ia tumbuh dari kegelisahan para ilmuwan dan pelestari lingkungan di penghujung abad ke-20 yang menyaksikan betapa warisan geologi bumi — batuan berumur ratusan juta tahun, kaldera purba, dan formasi karst yang mengagumkan — perlahan terpinggirkan dari perhatian publik dan kebijakan pelestarian global.

Pada tahun 1991, di Digne-les-Bains, sebuah kota kecil di pegunungan Prancis selatan yang kaya akan fosil ikan laut purba berumur 300 juta tahun, sekelompok ilmuwan dari empat kawasan ikonik — Pegunungan Haute-Provence (Prancis), Majelis Petrified Forest (Yunani), Lembah Lesvos (Yunani), dan Pegunungan Gerolstein (Jerman) — menandatangani sebuah deklarasi. Deklarasi itu menegaskan bahwa warisan geologi adalah bagian tak terpisahkan dari warisan budaya umat manusia, dan karena itu wajib dilindungi sekaligus dimanfaatkan secara bertanggung jawab untuk pendidikan dan pembangunan ekonomi lokal.

Lahirlah European Geopark Network (EGN) pada tahun 2000, sebuah jaringan yang merangkul kawasan-kawasan bergeologi istimewa di seluruh Eropa. Hanya dua tahun berselang, UNESCO turut merangkul gerakan ini. Melalui program UNESCO Geoparks, badan PBB itu memberikan pengakuan internasional kepada kawasan-kawasan yang tidak sekadar indah, tetapi secara ilmiah bermakna bagi pemahaman sejarah bumi.

Momen paling bersejarah tiba pada Oktober 2015. Dalam Sidang Umum UNESCO di Paris, seluruh negara anggota secara aklamasi menetapkan UNESCO Global Geoparks sebagai label resmi dengan status setara program besar UNESCO lainnya seperti Warisan Dunia dan Cagar Biosfer. Sejak itu, geopark bukan sekadar istilah ilmiah — ia adalah pengakuan diplomatik tertinggi atas kekayaan geologi sebuah kawasan.

Apa Itu Geopark? Bukan Sekadar Taman Batu

Banyak orang mengira geopark hanyalah taman nasional dengan nama berbeda. Anggapan itu keliru. UNESCO Global Geopark (UGGp) adalah kawasan geografis tunggal yang terkelola secara terpadu, di mana situs dan bentang alam yang memiliki nilai geologi internasional dirawat dengan tiga pilar utama: perlindungan (protection), pendidikan (education), dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

Berbeda dari kawasan konservasi konvensional yang cenderung membatasi akses manusia, geopark justru menempatkan manusia — terutama komunitas lokal — sebagai aktor utama pengelolaan. Masyarakat adat, petani, nelayan, pemandu wisata, hingga pengrajin lokal semuanya menjadi bagian dari ekosistem geopark. Mereka bukan penonton, melainkan pewaris aktif dari warisan bumi itu.

Syarat untuk mendapatkan status UGGp sangat ketat. Kawasan tersebut harus memiliki nilai geologi yang diakui secara internasional — entah dari sisi usia batuan yang langka, proses geomorfologi yang unik, atau rekaman peristiwa bumi yang belum ada duanya. Di atas fondasi geologi itu, kawasan juga wajib memperlihatkan keanekaragaman hayati dan kekayaan budaya yang hidup, serta sistem pengelolaan yang terstruktur, inovatif, dan melibatkan masyarakat. Status ini bukan permanen. Setiap empat tahun, UNESCO melakukan evaluasi ulang. Kawasan yang gagal mempertahankan standar dapat dicabut pengakuannya — sebuah tekanan positif yang mendorong pengelolaan berkelanjutan.

Per April 2025, tercatat 229 UNESCO Global Geopark yang tersebar di 50 negara, dengan China sebagai pemegang terbanyak diikuti Eropa. Indonesia kini berdiri tegak sebagai salah satu kekuatan besar geopark dunia dengan 12 kawasan yang diakui.

Indonesia di Jalur Cincin Api: Laboratorium Geologi Alami

Tidak ada negara di dunia yang lebih ditakdirkan untuk menjadi kekuatan geopark selain Indonesia. Terletak di persimpangan tiga lempeng tektonik besar — Eurasia, Indo-Australia, dan Pasifik — kepulauan Nusantara adalah laboratorium geologi paling dinamis di planet ini. Di sinilah gunung berapi terbentuk, punah, lalu aktif kembali. Di sinilah kerak samudra terangkat menjadi pegunungan. Di sinilah fosil tertua dan batuan paling purba tersimpan di bawah hutan tropis yang lebat.

Perjalanan Indonesia dalam dunia geopark dimulai pada 2012 — tepat satu tahun setelah konsep UGGp mulai menguat secara global. Sejak itu, secara bertahap, satu demi satu kawasan geologi luar biasa di nusantara mendapat pengakuan UNESCO. Puncaknya terjadi pada April 2025, ketika Sidang ke-221 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris resmi menetapkan Geopark Kebumen dan Geopark Meratus sebagai anggota baru, menggenapi daftar menjadi 12 geopark.

Dua Belas Mahkota: Geopark Indonesia dan Keunikannya

Geopark Batur, Bali (2012) — Geopark pertama Indonesia yang diakui UNESCO ini menampilkan keajaiban vulkanik paling ikonik di Pulau Dewata. Kawasan ini mencakup kaldera ganda Gunung Batur yang terbentuk dari dua letusan besar di masa prasejarah, dan di dalamnya bertakhta Danau Batur — danau kaldera terluas di Bali. Sebanyak 21 situs warisan geologi tersebar di wilayah Kintamani, masing-masing menyimpan catatan erupsi, aliran lava, dan pembentukan topografi yang berbeda-beda. Gunung Batur yang masih aktif hingga kini terus menghasilkan material vulkanik yang digunakan warga setempat untuk membangun rumah — sebuah simbol hidup dari harmoni manusia dan geologi.

Geopark Gunung Sewu, Yogyakarta-Jawa Tengah-Jawa Timur (2015) — Membentang di tiga provinsi dengan luas ribuan kilometer persegi, Gunung Sewu adalah salah satu kawasan karst tropis terbaik di dunia. Nama ‘sewu’ dalam bahasa Jawa berarti seribu — merujuk pada ribuan bukit kapur berbentuk kerucut yang muncul bagai lautan batu dari permukaan bumi. Proses karstifikasi selama jutaan tahun telah membentuk gua-gua bawah tanah, sungai bawah laut, dan lembah tersembunyi yang menjadi habitat fauna purba. Di sini pula ditemukan situs arkeologi penting yang menunjukkan jejak peradaban manusia prasejarah.

Geopark Ciletuh-Palabuhanratu, Sukabumi, Jawa Barat (2018) — Di pesisir selatan Jawa Barat, sebuah amfiteater alam raksasa terbuka menghadap Samudra Hindia. Ciletuh adalah salah satu dari sedikit kawasan di Pulau Jawa yang memperlihatkan batuan berumur 65 juta tahun — peninggalan dari era kepunahan massal dinosaurus. Formasi batuan sedimen dan metamorf kuno ini tersingkap di sepanjang tebing dramatis yang diapit air terjun bertingkat dan teluk biru kehijauan. Kawasan ini memadukan warisan geologi dengan lanskap pesisir yang luar biasa cantik.

Geopark Rinjani-Lombok, Nusa Tenggara Barat (2018) — Gunung Rinjani, yang berdiri pada ketinggian 3.726 meter, adalah gunung berapi aktif kedua tertinggi di Indonesia dan ikon spiritual masyarakat Sasak dan Hindu Bali. Di dalam kaldera besarnya, bersemayam Danau Segara Anak dan gunung baru Gunung Barujari yang terus tumbuh. Geopark ini merangkum keanekaragaman luar biasa dalam satu kawasan: hutan hujan tropis, savana kering, padang edelweiss, hingga pantai berpasir putih — semuanya dirangkum dalam satu ekosistem yang terkoneksi secara geologis.

Geopark Kaldera Toba, Sumatra Utara (2020) — Danau Toba adalah bekas luka terbesar yang pernah ditinggalkan sebuah gunung berapi di muka bumi. Sekitar 74.000 tahun lalu, sebuah letusan supervolcano dengan skala Volcanic Explosivity Index 8 — skala tertinggi yang dikenal ilmu pengetahuan — melontarkan material setara ribuan kali lipat letusan Gunung Pinatubo. Peristiwa itu membentuk kaldera seluas 1.707 km² yang kini menjadi danau terbesar di Asia Tenggara. Di tengah danau berdiri Pulau Samosir, sebuah pulau dalam pulau yang menjadi jantung peradaban Batak. Geopark ini mengintegrasikan 16 geosite dengan kekayaan budaya Batak yang kaya — musik gondang, arsitektur rumah adat, dan tradisi tenunan ulos.

Geopark Belitong, Kepulauan Bangka Belitung (2021) — Pulau yang dipopulerkan novel Laskar Pelangi ini menyimpan geologi yang tak kalah dramatis dari kisahnya. Geopark Belitong didominasi oleh formasi granit raksasa berumur 208 juta tahun yang tersebar di sepanjang pantai — batuan tua yang terbentuk jauh sebelum dinosaurus berjalan di bumi. Formasi granit Tanjungpandan menjadi penanda geologi tertua di pulau ini, sedangkan pantai-pantai berpasir putih yang mengelilinginya menyimpan ekosistem laut yang kaya. Kekayaan timah yang pernah menjadi tulang punggung ekonomi pulau ini juga merupakan warisan proses geologi yang sama.

Geopark Ijen, Jawa Timur (2023) — Kawah Ijen adalah salah satu dari sedikit tempat di dunia tempat dua fenomena geologi langka hadir secara bersamaan: danau kawah berisi air asam sulfurik terbesar di dunia dengan volume 200 juta liter dan keasaman mendekati pH 0, serta fenomena blue fire — api biru yang muncul dari pembakaran gas belerang pada suhu ekstrem. Bagi para penambang belerang tradisional yang setiap dini hari menuruni tebing kawah, Ijen bukan hanya geologi — ia adalah kehidupan dan penghidupan. Geopark ini mencakup seluruh ekosistem vulkanik di ujung timur Jawa, termasuk Gunung Raung, Gunung Merapi Ijen, dan berbagai kaldera tersembunyi.

Geopark Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan (2023) — Di balik lembah karst yang dramatis di Sulawesi Selatan, tersimpan salah satu seni cadas tertua di dunia. Gua-gua di Maros-Pangkep menyimpan lukisan tangan dan figur babi rusa berumur lebih dari 45.000 tahun — menggeser status Eropa sebagai satu-satunya pusat seni purba manusia. Secara geologi, kawasan ini menampilkan tower karst Maros — menara-menara batu kapur dengan ketinggian hingga ratusan meter yang terbentuk selama puluhan juta tahun. Keunikan geopark ini terletak pada persilangan langka antara warisan geologi kelas dunia dan warisan arkeologi yang mengubah pemahaman tentang asal-usul seni manusia.

Geopark Merangin, Jambi (2023) — Di tepian Sungai Merangin yang mengalir deras di jantung Sumatra, tersimpan salah satu fosil flora paling signifikan yang pernah ditemukan di Asia Tenggara: jejak tumbuhan dari Periode Permian Awal, berumur sekitar 296 juta tahun — jauh sebelum dinosaurus, sebelum bunga pertama mekar, dan sebelum Pulau Sumatra terbentuk dalam wujudnya yang sekarang. Batuan tempatnya tersimpan merekam perubahan iklim global dan evolusi kehidupan tumbuhan di belahan bumi selatan. Geopark Merangin adalah arkip hidup dari era yang nyaris tak bisa dibayangkan oleh pikiran manusia.

Geopark Raja Ampat, Papua Barat Daya (2023) — Raja Ampat dikenal sebagai surga penyelaman dunia, tetapi di bawah keindahan terumbu karangnya yang legendaris, tersimpan geologi yang jauh lebih tua dari semua itu. Di Pulau Misool, batuan berumur 439 hingga 360 juta tahun — dari era Silur hingga Devon — tersingkap ke permukaan, menjadi salah satu singkapan batuan tertua yang bisa dilihat langsung oleh manusia di permukaan bumi. Sejarah geologi Raja Ampat mewakili hampir sepersepuluh usia bumi itu sendiri. Di atas warisan geologi itu, ekosistem laut Raja Ampat menjadi habitat bagi lebih dari 75 persen spesies karang keras yang dikenal ilmu pengetahuan.

Geopark Kebumen, Jawa Tengah (2025) — Kawasan ini menyimpan geologi yang membuat para geolog tertegun: formasi batuan tertua di Pulau Jawa dengan usia lebih dari 120 juta tahun. Di Pantai Menganti dan sekitarnya, lapisan-lapisan bumi terbuka seperti halaman buku teks geologi raksasa. Geopark Kebumen mengelola 41 situs geologi, 8 situs biologi, dan 10 situs budaya — sebuah integrasi tiga dimensi warisan alam dan manusia yang mengesankan. Batuan ofiolit kuno yang ada di kawasan ini memberikan petunjuk berharga tentang proses tektonik purba yang membentuk Pulau Jawa.

Geopark Meratus, Kalimantan Selatan (2025) — Pegunungan Meratus adalah kisah tentang kekerasan geologi yang berubah menjadi keindahan. Jutaan tahun lalu, tabrakan dua lempeng benua mengangkat kerak samudra dari kedalaman 6.000 meter di bawah permukaan laut ke ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan bumi. Batuan ofiolit — fragmen lantai samudra kuno — kini dapat dijangkau oleh tangan manusia di lereng-lereng Meratus. Di atas geologi yang dramatis ini, hidup masyarakat adat Dayak Meratus yang telah memelihara hutan dan kearifan lokal mereka selama berabad-abad, menjadikan kawasan ini perpaduan sempurna antara geologi dan kebudayaan.

Geopark Sebagai Masa Depan

Dua belas geopark yang kini berdiri di bawah bendera UNESCO bukan sekadar daftar prestasi diplomatik. Mereka adalah komitmen — kepada sains, kepada masyarakat lokal, dan kepada generasi yang akan datang. Di dalamnya, seorang anak Batak yang tumbuh di tepi Danau Toba belajar bahwa tanahnya adalah bekas letusan terbesar dalam sejarah manusia. Seorang nelayan di Raja Ampat menyadari bahwa terumbu karang yang ia jaga adalah ekosistem paling kaya keanekaragaman hayati di bumi.

Geopark mengajarkan bahwa konservasi bukan tentang melarang, melainkan tentang memahami. Bahwa bumi memiliki cerita yang jauh lebih panjang dari sejarah manusia. Dan bahwa merawat warisan geologi adalah cara paling fundamental untuk merawat masa depan.

Indonesia, dengan 12 geopark yang tersebar dari Bali hingga Papua, dari Sumatra hingga Kalimantan, telah memilih untuk menjadi penjaga cerita bumi — bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi untuk seluruh umat manusia. (*)

Referensi: UNESCO Global Geoparks Network (2025); Badan Geologi, Kementerian ESDM RI; Sidang ke-221 Dewan Eksekutif UNESCO, Paris, April 2025; Detik News, Kompas, CNN Indonesia, Indoraya News.

Membangun Budaya Keselamatan Lalu Lintas Sejak Dini

Oleh Djoko Setijowarno

Lonjakan kecelakaan usia produktif menuntut integrasi pendidikan keselamatan sejak sekolah dasar, seperti dilakukan di beberapa negara. Ini adalah investasi jangka panjang demi menyelamatkan masa depan bangsa.

Pendidikan keselamatan lalu lintas di mancanegara umumnya tidak hanya berfokus pada pengenalan rambu, tetapi telah diintegrasikan ke dalam kurikulum sekolah dan pembentukan karakter sejak usia dini. Pendekatannya sering kali menggabungkan aspek psikologi, infrastruktur yang mendukung pembelajaran, serta penegakan hukum yang ketat.

Belanda: Lisensi Bersepeda ( Verkeersexamen )

Belanda merupakan salah satu negara terbaik dalam integrasi transportasi. Anak-anak di sana tidak hanya belajar teori, tetapi harus mengikuti Ujian Lalu Lintas Nasional.

•          Praktik langsung, di tingkat sekolah dasar, siswa wajib mengikuti ujian praktik bersepeda di jalan raya yang diawasi oleh polisi dan sukarelawan.

•          Infrastruktur edukatif, banyak kota memiliki taman lalu lintas (traffic gardens), anak-anak bisa berlatih dalam simulasi kota kecil yang aman.

Jepang: Budaya Mandiri dan Omoiyari

Jepang menekankan pada kemandirian dan etika berkendara yang disebut Omoiyari (empati/tenggang rasa).

•          Berjalan kaki ke sekolah, sejak usia 6 tahun. Anak-anak dilatih berjalan kaki ke sekolah secara berkelompok tanpa pendampingan orang tua. Ini secara tidak langsung mengajarkan mereka cara menyeberang dan memahami ritme lalu lintas.

•          Pelatihan lansia, mengingat populasi lansia yang tinggi, Jepang memiliki program edukasi khusus dan pembaruan lisensi yang ketat bagi pengemudi lanjut usia untuk menekan angka kecelakaan.

Swedia: Visi Zero ( Vision Zero )

Swedia adalah pelopor konsep Vision Zero, yang menyatakan bahwa tidak ada jumlah kematian yang dapat diterima di jalan raya.

•          Tanggung jawab system. Pendidikan di Swedia menekankan bahwa manusia bisa melakukan kesalahan (human error), sehingga edukasi dibarengi dengan desain infrastruktur yang “memaafkan” kesalahan tersebut (seperti pembatas jalan yang fleksibel dan zona 30 km/jam).

•          Kurikulum berkelanjutan. Pendidikan keselamatan jalan adalah bagian dari materi wajib yang diajarkan secara spiral (berulang dengan tingkat kesulitan meningkat) dari TK hingga SMA.

Jerman: Edukasi Lalu Lintas ( Verkehrserziehung )

Jerman memiliki sistem yang sangat terstruktur dalam mendidik calon pengemudi maupun pejalan kaki.

•          Sekolah mengemudi yang ketat, untuk mendapatkan SIM, warga Jerman harus melewati kursus teori dan praktik yang sangat mendalam, termasuk latihan di jalur Autobahn dan berkendara malam hari.

•          Polisi Masuk Sekolah, polisi lalu lintas secara rutin datang ke sekolah-sekolah untuk memberikan materi dan memandu simulasi bersepeda bagi siswa kelas 4 SD.

Pentingnya pengintegrasian pendidikan keselamatan lalu lintas ke dalam kurikulum di Indonesia bukan sekadar upaya administratif, melainkan langkah strategis untuk memutus rantai kecelakaan yang didominasi oleh usia produktif. Alasan fundamental mengapa kurikulum ini menjadi sangat krusial di Indonesia.

Pertama, membangun budaya keselamatan sejak dini. Perubahan perilaku tidak bisa terjadi secara instan melalui penilangan di jalan raya saja. Dengan memasukkannya ke dalam kurikulum sekolah, etika berlalu lintas dipandang sebagai bagian dari norma sosial dan karakter bangsa, bukan sekadar ketakutan pada denda. Anak-anak yang teredukasi dengan baik sering kali menjadi “pengingat” bagi orang tua mereka saat berkendara, yang secara tidak langsung memperluas jangkauan edukasi ke lingkup keluarga.

Kedua, menekan angka fatalitas usia produktif. Berdasarkan data Korlantas Polri, sebagian besar korban kecelakaan lalu lintas berada pada rentang usia remaja hingga dewasa muda. Banyak siswa SMP dan SMA di Indonesia yang sudah mengendarai sepeda motor sebelum memiliki SIM karena kebutuhan mobilitas. Kurikulum keselamatan memberikan pemahaman mengenai risiko teknis dan hukum yang selama ini sering diabaikan. Selain itu, untuk melindungi usia produktif dari kecelakaan berarti melindungi potensi ekonomi dan masa depan bangsa.

Ketiga, memahami etika di ruang publik. Jalan raya adalah ruang publik yang paling demokratis sekaligus paling berbahaya. Kurikulum ini mengajarkan tentang hierarki pengguna jalan, yakni memberikan pemahaman bahwa pejalan kaki dan pesepeda memiliki prioritas utama dibandingkan kendaraan bermotor. Disampin itu membentuk toleransi dan empati. Dengan mengurangi budaya arogan atau “adu cepat” di jalan yang sering menjadi pemicu kecelakaan maupun konflik sosial (road rage).

Keempat, standarisasi pengetahuan secara nasional . Selama ini, pengetahuan lalu lintas di Indonesia sering kali bersifat fragmentaris (potongan-potongan informasi). Kurikulum memastikan setiap anak, baik di kota besar maupun daerah terpencil, mendapatkan standar informasi yang sama mengenai arti rambu, cara menyeberang yang benar, dan penggunaan alat keselamatan (helm SNI dan sabuk pengaman). Seiring berkembangnya infrastruktur seperti jalan tol dan kendaraan listrik, kurikulum membantu masyarakat beradaptasi dengan aturan-aturan baru yang lebih kompleks.

Implementasi di Indonesia

Untuk mencapai tujuan tersebut, pendidikan keselamatan jalan di Indonesia idealnya tidak hanya berhenti pada teori di buku teks, tetapi juga melibatkan dengan memasukkan materi lalu lintas ke dalam soal-soal matematika (misalnya menghitung jarak pengereman) atau fisika (tentang momentum dan gaya gesek). Pemanfaatan fasilitas praktik agar siswa dapat merasakan simulasi berkendara yang aman tanpa risiko nyata. Diperlukan kerjasama antara Kementerian Pendidikan, Kementerian Perhubungan, dan Kepolisian untuk memastikan materi yang diajarkan relevan dengan kondisi lapangan.

Tanpa kurikulum yang kuat, upaya perbaikan infrastruktur jalan yang masif di Indonesia tidak akan memberikan dampak maksimal, karena faktor manusia (human error) tetap menjadi penyebab utama kecelakaan.

Sudah saatnya kita memandang pendidikan keselamatan lalu lintas bukan sebagai beban kurikulum tambahan, melainkan sebagai investasi nyawa bagi generasi masa depan. Melalui edukasi yang terstruktur, kita tidak hanya mencetak pengguna jalan yang cerdas, tetapi juga warga negara yang memiliki empati dan rasa tanggung jawab tinggi di ruang publik. ***

Djoko Setijowarno, Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI)

Dewi Nusantara Vs Dewi Yunani Kuno

Gde Mahesa

Adanya Dewa atau Dewi merupakan mitologi universal. Setiap benua, bahkan wilayah terpencil tentu mempunyai kisah yang nyaris sama. Tentunya hal tersebut tak lepas dari kisah peradaban masa lalu.

Dewa – Dewi tentu sangat menarik dikulik, namun kebetulan penulis hanya ingin membahas para Dewi-nya saja, masak mbahas Dewa, ibarat jeruk minum jeruk.

Penelusuran kali ini kita mencoba perbandingan antara para Dewi Nusantara dan Yunani kuno. Bagaimana karakteristiknya? Adakah para Dewi tersebut mempunyai vibrasi atau energi bahkan bentuk fisik yang sama?

Dewi Sri vs Demeter
Mereka berdua nyaris bagai pinang dibelah dua. Kemiripannya sampai 95 persen. Nyaris kembar identik, mungkin perbedaannya di barcode saja.

Dewi Sri, adalah dewi padi, simbol kesuburan, bisa disebut juga ibu bumi.
Namun jika kecewa maka dapat membuat sawah gagal panen, hingga membuat paceklik. Konon ia mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan tumbal, sehingga Dewi Sri sangat dihormati petani Jawa-Sunda-Bali.

Demeter, sebagai Dewi gandum, yang menjaga pertanian hingga panen.
Jika sedang kecewa maka boleh dikata ia akan ngambek, dan membuat musim dingin, sehingga bumi jika ditanami tidak akan bisa tumbuh. Demeter sangat dihormati oleh petani Yunani kuno.

Keduanya mempunyai kesamaan makna filosofi mereka adalah “Ibu Perut”. Sedangkan
perbedaan tipis dari keduanya, adalah ketika kecewa atau baper.
Demeter lebih lebay sampe bikin musim dingin. Sedangkan Dewi Sri elegan, dengan menjaga harga beras naik, dan membuat masyarakat bersama-sama menjerit.  

Kanjeng Ratu Kidul vs Amphiteite (Thetis)
Keduanya tergolong agak mirip 80persen, kalau boleh dibilang mereka pantas menjadi saodara sepupu. Dalam selera dan gengsi sebelas duabelas.

Ratu Kidul, adalah penguasa Laut Selatan, yang konon merupakan istri simbolis dari raja-raja Mataram. Kecantikannya mematikan, dan juga misterius, suka ngambil tumbal. Selain itu ia adalah sipengatur ombak, badai, yang tidak bisa dilawan. Sebagai tangan kanan atau kirinya adalah Dewi Lanjar, Nyi Blorong.  

Amphitrite, istri Poseidon, ratu laut yang cantik, tapi pencemburu. Kesaktiaannya bisa mengubah saingannya jadi monster. Ia juga pengendali badai, dan menenangkan laut. Dikawal oleh 50 dayang-dayang yang semua tunduk pada kehendaknya.

Karakter keduanya plek sama “Beautiful but Lethal”. Pastinya cantik, berkuasa, wilayahnya tidak bisa buat main-main dan sembrono. Masuk sembarangan tanpa sopan santun berarti tamat. Keduanya mempunyai gaya masing-masing.

Ratu Kidul lebih boleh dibilang silent killer. Tidak banyak memberi tanda apapun, apalagi ngomong, tau-tau blas hilang. Sedangkan Amphitrite lebih mendrama, maklum apa pun ia istri dewa Yunani.

Keduanya merupakan simbol filosofi bahwa :
Laut tidak bisa dimiliki oleh siapa pun. Mau raja, dewa, laut tetap punya penguasanya sendiri. Manusia cuma numpang.

Dewi Ratih vs Selene (Artemis) keduanya boleh dibilang 90 persen kemiripannya. Juga bisa dibilang satu Divisi dalam urusan, cuma beda kantornya.

Dewi Ratih disebut juga Dewi Bulan, sang pengatur siklus, keindahan malam. Berkaitan dengan kesuburan dan kalender tanam. Cantik, kalem, adem, pengendali atau pengatur waktu.

Selene (Artemis) disebut juga Dewi bulan, perburuan, dan keperawanan. Ia bertanggung jawab menjaga hutan. 

Karakter keduanya mengatur waktu, tidak bisa diganggu. Mereka mengatur pertanian dan gelombang pasang laut.

Bulan adalah jam penanda alam semesta. Tidak mengikuti aturan bulan dapat membuat hidup berantakan. Untuk itulah dewi bulan selalu digambarkan menjaga jarak, sebab terlalu suci buat disentuh.

Dewi Danu vs Nimfa (Najad)
Tingkat kemiripan mereka boleh dibilang 85 persen, dan mereka satu spesies.

Dewi Danu atau Dewi Danau Batur, merupakan sumber air Bali. Sedangkan Najad
di Yunani merupakan penguasa mata air, sungai, danau. Tiap sumber air ada Najad-nya. Karakter mereka sama, sebagai penjaga sumber kehidupan lokal.
Keduanya sosok yang cantik, lembut, tapi kalau sumber airnya dirusak, dia bisa marah bahkan mengutuk siperusak jadi gila.  

Jadi para leluhur mitologi Nusantara dan Yunani boleh disebut masih satu frekuensi, yang berusaha agar manusia dapat hormat dan menjaga “alam” agar ekosistem tetap berputar dan lestari.

Bullllll….. bullll…. klepussss…..

Membedah Visi Indonesia Digital 2045

Oleh: Heri Mulyono | Malang, April 2026

Pemerintah Indonesia telah mencanangkan Visi Indonesia Digital 2045 sebagai peta jalan transformasi digital nasional, sebuah dokumen ambisius yang memadukan teknologi, tata kelola, dan pemberdayaan masyarakat demi mewujudkan Indonesia maju dan berdaulat digital.

Pada 13 Desember 2023, sebuah dokumen strategis diluncurkan di Jakarta, bukan sekadar buku putih kebijakan biasa, melainkan sebuah manifesto peradaban. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) — yang kini bertransformasi menjadi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) — merilis Visi Indonesia Digital 2045 (VID 2045).

Peluncurannya bukan seremonial biasa. Tiga menteri hadir berdampingan: Menkominfo Budi Arie Setiadi, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Mendag Zulkifli Hasan. Sebuah sinyal kuat bahwa agenda digitalisasi bukan monopoli satu kementerian, melainkan urusan lintas sektor yang menyentuh sendi-sendi kehidupan bangsa.

Dokumen ini lahir dari kegelisahan yang sama yang dirasakan banyak bangsa di era disrupsi teknologi: bagaimana agar kemajuan digital tidak hanya dinikmati sebagian kecil warga, tetapi menjadi hak dan peluang seluruh rakyat Indonesia? Inilah pertanyaan besar yang coba dijawab VID 2045.

Visi dan Misi: Ekosistem Digital yang Inklusif

Visi Indonesia Digital 2045 dirumuskan dalam satu kalimat yang sarat makna: mewujudkan ekosistem digital yang inklusif dan kolaboratif berbasis inovasi, untuk mendukung Indonesia maju, berdaulat, dan berkelanjutan. Visi ini lahir dari analisis mendalam terhadap tren teknologi global, kondisi baseline infrastruktur digital Indonesia, serta aspirasi jangka panjang yang sejalan dengan Indonesia Emas 2045.

VID 2045 merumuskan empat misi utama. Pertama, mempercepat transformasi digital nasional sebagai strategi terpadu meningkatkan pertumbuhan ekonomi, memperbaiki layanan publik, mengentaskan kemiskinan, serta memperkuat ketahanan nasional. Kedua, mengembangkan ekosistem digital nasional yang menyeluruh dengan partisipasi aktif pemerintah, bisnis, asosiasi, akademisi, dan masyarakat sebagai co-creator. Ketiga, merancang regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Keempat, memperkuat institusi sosial kemasyarakatan sebagai ujung tombak peningkatan pemahaman digital nasional.

VID 2045 mengurai misi-misi ini ke dalam tiga pendekatan strategis: ekosistem, sektoral, dan kewilayahan. Target daya saing digital Indonesia pun dipatok ambisius: dari peringkat ke-51 di tahun 2022 menjadi peringkat ke-20 dunia pada 2045, dengan kontribusi ekonomi digital mencapai 20 persen terhadap PDB.

Siapa Saja di Balik Gugus Tugas?

VID 2045 bukan produk satu lembaga. Kominfo sebagai penggagas bekerja sama dengan Kementerian PPN/Bappenas dan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta didukung lebih dari 50 institusi lintas sektor. Sementara itu, Gugus Tugas Peta Jalan AI Nasional yang dibentuk Komdigi melibatkan tidak kurang dari 443 anggota, terdiri atas unsur pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media — sebuah mobilisasi intelektual nasional yang jarang terjadi.

Pada Februari 2026, babak baru dimulai. Pemerintah meluncurkan Rencana Induk Pemerintah Digital Nasional 2025–2045 di kantor Bappenas — turunan operasional dari VID 2045 yang lebih konkret. Di sinilah wajah gugus tugas semakin jelas. Luhut Binsar Pandjaitan ditunjuk sebagai Penasihat Khusus Presiden Bidang Digitalisasi dan Teknologi Pemerintahan sekaligus Ketua Komite Percepatan Transformasi Digital Pemerintah.

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menjadi ujung tombak implementasi teknis. Menteri PANRB Rini Widyantini memastikan transformasi digital berjalan seiring reformasi birokrasi. Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria aktif memimpin proses finalisasi dokumen-dokumen strategis turunan VID 2045. Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi bertugas sebagai pelaksana lapangan untuk pemerataan konektivitas di daerah 3T.

Infrastruktur: Dari SATRIA-1 hingga Frekuensi 5G

Fondasi fisik VID 2045 dibangun di atas konektivitas. SATRIA-1 yang diluncurkan pada 2023 kini beroperasi sebagai agen pemerataan konektivitas digital di fasilitas publik pelosok negeri. Program Palapa Ring Integrasi sebagai Proyek Strategis Nasional menyatukan jaringan tulang punggung telekomunikasi dari Sabang hingga Merauke. Pembangunan BTS di daerah 3T terus dipacu, bersamaan dengan akselerasi layanan 5G di kota-kota besar.

Langkah terbaru: pada 9 April 2026, Komdigi mengumumkan rencana seleksi pita frekuensi radio 700 MHz dan 2,6 GHz — yang ditetapkan melalui Kepmen Komdigi Nomor 175 dan 176 Tahun 2026. Frekuensi 700 MHz adalah pita emas yang mampu menembus dinding dan menjangkau daerah terpencil dengan efisien, sementara 2,6 GHz mendukung kapasitas data tinggi untuk pengguna perkotaan. Alokasi spektrum baru ini menjadi bahan bakar infrastruktur digital Indonesia satu dekade ke depan.

Dukungan Anggaran: Antara Ambisi dan Keterbatasan

Komdigi dalam Renstra 2025–2029 menargetkan kontribusi terhadap nilai ekonomi digital nasional yang meningkat bertahap: dari Rp137,89 triliun pada 2025 menjadi Rp155,57 triliun pada 2026, terus mendaki hingga Rp206,16 triliun pada 2029. Sementara itu, ekonomi digital Indonesia secara keseluruhan diproyeksikan melampaui USD 130 miliar pada 2026 — pertumbuhan 25 persen dari tahun sebelumnya, menjadikan Indonesia pasar digital terbesar di Asia Tenggara.

Namun kesenjangan antara ambisi dan realitas anggaran tetap nyata. DPR menetapkan anggaran Komdigi 2026 hanya Rp8 triliun — jauh dari usulan Rp20,3 triliun yang diajukan kementerian. Keterbatasan ini membuat prioritasi program menjadi krusial. Pengamat dari Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, menegaskan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi digital sangat ditentukan kesiapan talenta dan kecukupan infrastruktur, bukan sekadar besaran angka target.

Kendala dan Hambatan: Pekerjaan Rumah yang Tak Mudah

Di balik ambisi besar terbentang hambatan struktural yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan satu dokumen kebijakan. Masih ada 2.500 desa yang hingga awal 2026 belum terhubung internet memadai — diakui sendiri oleh Menkomdigi Meutya Hafid. Fragmentasi sistem aplikasi antarinstansi pemerintah menciptakan silo data yang kontraproduktif. Deputi Bappenas Vivi Yulaswati secara terbuka mengakui tantangan yang masih menghadang: kurangnya kolaborasi antar instansi, keterbatasan anggaran, SDM, dan infrastruktur teknologi.

Di bidang AI, Indonesia menghadapi ujian eksistensial. Presiden AKBI Bari Arijono memformulasikannya dengan tajam: Indonesia memiliki lebih dari 12 juta talenta digital, namun talenta AI tingkat lanjut seperti AI engineer, data scientist senior, dan MLOps engineer masih di bawah 10 persen dari kebutuhan industri pada 2026. Tanpa percepatan pengembangan SDM ini, Indonesia berisiko menjadi pasar teknologi semata, bukan pencipta nilai berbasis kecerdasan buatan.

Isu keamanan siber turut membayangi. Lebih dari 4,1 juta konten negatif ditangani Komdigi hingga April 2026, didominasi konten perjudian online. Sementara kebocoran data terus mengancam kepercayaan masyarakat terhadap layanan digital pemerintah. Regulasi yang dinilai terlalu reaktif — memblokir platform tanpa konsultasi publik terlebih dahulu — juga menjadi sorotan yang melemahkan ekosistem inovasi.

Prospek: Pasar Terbesar ASEAN yang Menunggu Dikelola

Di tengah tantangan, prospek ekonomi digital Indonesia tetap menggiurkan. E-commerce mencatat transaksi Rp134,67 triliun pada Q3 2025, tumbuh 20,5 persen secara tahunan. Nilai GMV e-commerce nasional diproyeksikan melampaui USD 100 miliar pada 2026. Fintech dan layanan keuangan digital tumbuh dengan gross transaction value pembayaran digital yang diproyeksikan menembus USD 538 miliar — angka yang menempatkan Indonesia sebagai raksasa digital regional.

Jika ASEAN Digital Economy Framework Agreement (DEFA) berjalan optimal, ekonomi digital Indonesia pada 2030 yang semula diperkirakan USD 360 miliar berpotensi naik menjadi USD 600 miliar. Ini bukan sekadar angka — ini adalah potensi lapangan kerja, peningkatan kesejahteraan, dan lompatan daya saing bangsa yang nyata.

Manfaat Nyata untuk Masyarakat

Bagi warga biasa, dampak VID 2045 sudah mulai terasa. Lebih dari 280 ribu layar interaktif telah didistribusikan ke hampir seluruh sekolah Indonesia hingga akhir 2025. Mulai tahun ajaran 2025/2026, mata pelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial masuk kurikulum nasional. Di sektor kesehatan, AI akan diterapkan untuk deteksi dini penyakit, pemantauan pasien jarak jauh, dan optimasi distribusi obat dan vaksin — langsung menyentuh kualitas hidup masyarakat di pelosok.

Digitalisasi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) menjadi wajah terbaru kebijakan ini di akar rumput. Menkomdigi Meutya Hafid meninjau langsung Koperasi Al Ittifaq di Soreang, Bandung pada 25 April 2026 — sebuah model koperasi desa yang berhasil memanfaatkan teknologi digital untuk memperluas pasar dan efisiensi operasional. Koperasi-koperasi serupa di seluruh Indonesia ditargetkan mengikuti jejak yang sama.

Layanan publik digital terus diperkuat melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Identitas digital warga dikembangkan sebagai kunci tunggal akses seluruh layanan negara — dari pengurusan dokumen kependudukan hingga penerimaan bantuan sosial. Ini adalah demokratisasi birokrasi yang sesungguhnya: negara yang datang kepada rakyat, bukan rakyat yang lelah mengantri kepada negara.

■ PEMBARUAN APRIL 2026: CAPAIAN DAN AGENDA TERKINI

Tiga Pilar Baru: Terhubung, Tumbuh, Terjaga

Pada Deklarasi Arah Indonesia Digital yang digelar di Jakarta 10 Desember 2025, Komdigi menetapkan tema baru yang menjadi kompas implementasi VID 2045 di era Presiden Prabowo: Terhubung, Tumbuh, Terjaga. Bukan sekadar slogan — ini adalah kerangka prioritas yang membagi agenda digital menjadi tiga dimensi konkret. Terhubung: memastikan seluruh wilayah Indonesia memperoleh akses internet yang merata. Tumbuh: mendorong nilai tambah ekonomi digital dari infrastruktur yang sudah terbangun. Terjaga: melindungi ruang digital dari kejahatan siber, kebocoran data, dan konten berbahaya.

Roadmap AI Nasional: Menunggu Tanda Tangan Presiden

Salah satu agenda paling ditunggu dalam peta jalan digital Indonesia adalah Roadmap AI Nasional. Wamenkomdigi Nezar Patria mengonfirmasi bahwa draft Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional sudah difinalisasi dan siap menjadi Peraturan Presiden. Per April 2026, Menkomdigi Meutya Hafid memastikan dokumen tersebut sudah 90 persen rampung dan tengah menunggu penandatanganan presiden.

Peta jalan AI disusun oleh gugus tugas 443 anggota yang mencakup pemerintah, akademisi, industri, komunitas, dan media. Lima prioritas strategis AI nasional ditetapkan: layanan kesehatan, reformasi birokrasi, pendidikan dan talenta, smart cities dan mobilitas, serta ketahanan pangan. Dokumen ini sekaligus memuat pedoman etika AI yang menjamin teknologi kecerdasan buatan tidak digunakan secara destruktif — prinsip utamanya: AI harus memuliakan manusia dan tidak menciptakan diskriminasi berbasis algoritma.

Perlindungan Anak di Ruang Digital: Peraturan Baru

Pada Maret 2026, Komdigi resmi menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP TUNAS). Regulasi ini menjadi landasan teknis perlindungan anak di era digital — mengatur platform, konten, dan batas usia pengguna secara ketat. Menkomdigi Meutya Hafid menyebut Indonesia kini menjadi salah satu pelopor negara non-Barat yang mengambil langkah tegas dalam melindungi generasi muda di ruang digital.

Kolaborasi Lintas Kementerian Diperkuat

Forum Komunikasi Staf Ahli Menteri (Forkom SAM) 2026 yang diselenggarakan Komdigi menjadi forum strategis penyelarasan kebijakan digital lintas kementerian. Tema yang diusung: ‘Kolaborasi Kebijakan Lintas K/L dalam Mempercepat Digitalisasi di Sektor Publik yang Mendukung Prinsip Terhubung, Tumbuh, dan Terjaga.’ Ini adalah upaya konkret meruntuhkan ego sektoral yang selama ini menjadi hambatan utama transformasi digital pemerintahan.

Sinergi Komdigi dengan Kementerian PANRB juga semakin solid. Kedua kementerian berkomitmen mempercepat interoperabilitas data antar instansi, yang selama ini menjadi batu sandungan dalam efisiensi layanan publik digital. Target jangka pendek: seluruh 2.500 desa blankspot terhubung internet sebelum akhir 2026 — target yang ambisius namun diiringi komitmen anggaran dan operasional yang konkret.

Catatan Penutup: Dari Dokumen Menuju Aksi

Visi Indonesia Digital 2045 kini memasuki fase yang paling menentukan: implementasi. Dokumen telah ada, peta jalan tersusun, kelembagaan terbentuk. Yang diuji sekarang adalah konsistensi eksekusi di lapangan — dari desa-desa yang baru akan tersentuh internet pertama kalinya, hingga kota-kota yang bersiap menjadi ekosistem AI regional.

Menkomdigi Meutya Hafid merumuskannya dengan tepat: pemerintahan digital bukan sekadar soal aplikasi atau infrastruktur, tetapi tentang bagaimana negara menyentuh masyarakat melalui pengelolaan data yang baik, sistem yang saling terhubung, dan kebijakan berbasis informasi yang akurat. Sementara Wamenkomdigi Nezar Patria mengingatkan jajarannya: fondasi infrastruktur digital telah dibangun secara kuat, saatnya seluruh jajaran bergerak lebih cepat dan berani dalam mengeksekusi kebijakan yang berdampak nyata.

Perjalanan menuju 2045 masih panjang. Tetapi dengan peta jalan yang semakin solid, kelembagaan yang semakin kuat, dan semangat kolaborasi lintas sektor yang terus tumbuh, mimpi Indonesia Digital 2045 bukan sekadar utopia. Ia adalah janji yang sedang ditepati, satu desa dan satu koperasi pada satu waktu — dari ujung barat Sabang hingga ujung timur Merauke. (*)

Sumber: Visi Indonesia Digital 2045 (Kemkominfo, 2023); Rencana Induk Pemerintah Digital Nasional 2025–2045 (Bappenas, Feb 2026); Buku Putih Peta Jalan AI Nasional (Komdigi, 2025); Bisnis.com; ANTARA News; Postel.go.id; InfoPublik; Kompas.id; Topik.id — April 2026.