Diguyur Hujan, JAFF Dibuka: Film Pembuka Samsara dan Musik Lomba Sihir

JAYAKARTA NEWS— Jogjakarta Asian Film Festival (JAFF) Netpac ke 19 resmi dibuka. Khalayak tetap memadati pelataran XXI Empire di Jalan Urip Sumoharjo, Jogjakarta, meski diguyur hujan.

Menbud Fadli Zon yang membuka JAFF menekankan peran JAFF sebagai wadah persimpangan seni budaya dan industri kreatif yang strategis untuk memperkuat posisi sinema Indonesia dan mampu bersaing di kancah internasional.

“Bertema Metanoia. Ini mencerminkan transformasi perjalanan sinema Asia berkelanjutan,” kata Fadli Zon di panggung yang dipayungi oleh staf panitia.

Menbud Fadli Zon membuka JAFF 2024 (foto jaff)

Founder JAFF, DR Garin Nugroho memaparkan tiga hal utama yang menjadi pilar festival yaitu kepercayaan, kolaborasi dan dukungan terhadap ekosistem perfilman.

Dalam kesempatan itu, Garin Nugroho memberikan penghargaan khusus Honorary Award kepada tiga tokoh yaitu Kim Dong-ho (founder Busan FF), Aruna Vasudev (CEO Netpac) dan Tsai Ming Liang (sutradara senior asal Malaysia).

Grup musik Lomba Sihir dari Jakarta menyihir khalayak yang menyajikan beberapa lagu ‘Pernah Sakit Hati’, ‘Mungkin Takut Perubahan’ dan ‘Hati dan Paru Paru’.
Acara pamungkas adalah menonton film ‘Samsara’ karya Garin Nugroho di seluruh studio Empire XXI.

Samsara yang berdurasi 90 menit adalah film hitam putih, bisu dan tanpa dialog.
Film ini berkolaborasi dengan gamelan Bali dan elektronik oleh Gabber Modus Operandi.
Samsara adalah film pembuka JAFF dan pemerannya adalah Ario Bayu dan Juliet Widiasari Barnett.

“Lebih tepatnya, Samsara adalah cinema concert yang musiknya berupa live dibawah panggung,” beber Garin Nugroho.

Menbud Fadli Zon resmi membuka JAFF Market 2024 Selasa (3/12) di Jogja Expo. JAFF Market kegiatan ekonomi kreatif dalam JAFF Netpac (foto jaff)

Selain menayangkan sebanyak 180 film dari 25 negara Asia Pasifik, juga di JAFF digelar ‘JAFF Market’ yang dikomandoni Linda Gozali, diskusi film Master Class oleh Tsai Ming Liang dari Malaysia.

Film penutup yang digelar 7 Desember 2024 adalah ‘1 Kakak 7 Ponakan’ karya Yandy Laurens.

Tak kalah menarik adalah penganugerahan Blencong Awards dalam sesi ‘Light of Asia’ yang diikuti 18 film pendek (indonesian screen awards) yang terdiri atas kategori film, sutradara, penulis naskah, pemeran dan sinematografi terbaik. (pik)

Sampai Nanti, Hanna! Tentang Cinta dan Perjalanan Emosional Muda

JAYAKARTA NEWS— Cinta itu membawa penyesalan, kelembutan dan ketakutan.
Film berjudul ‘Sampai Nanti, Hanna !’ (SNH) berkisah tentang dua mahasiswa bernama Gani (Juan Bio One) dan Hanna (Febby Rastanty) yang sedang studi di kampus yang sama.

Gani, mahasiswa asal Bandung. Sederhana dan tak banyak bicara.
Tertarik pada Hanna yang pemberani tetapi juga rumit. Gani hanya bisa mengungkapkan perasaannya didalam buku jurnal.

“Film ini berkisah tentang cinta, kesempatan kedua dan perjalanan emosional muda,” kata sutradara Agung Sentausa usai menyaksikan gala premiere SNH di Jakarta, baru-baru ini.
Produser Dewi Umaya Rachman mengemukakan ihwal berhasil dan kegagalan di film ini adalah pelajaran berharga untuk bangkit dan berkembang.

“Jangan pernah menyerah ! Toh dalam kehidupannya, Hanna takluk atas keputusan orang tuanya yaitu dia dijodohkan dengan pria ganteng dan kaya bernama Arya (Ibrahim Risyad). Arya dan Hanna menikah. Berdua mukim di Belanda,” beber Dewi Umaya.

Namun, kehidupan rumah tangga Arya dan Hanna tak pernah rukun. Tiap hari bertengkar terus. Arya selalu menyalahkan apa yang dikerjakan Hanna. Anaknya, cowok yang semata wayang pun selalu disalahkan.

Diam-diam di pagi buta, saat Arya tidur pulas, Hanna dan anaknya kabur dari Belanda. Balik ke Indonesia.

Juan Bio One, sederhana tak banyak bicara (foto fortus)

Di Jakarta, Hanna bertemu lagi dengan Gani.

Bisakah cinta lama berlanjut kembali ?

Febby Rastanty mengungkapkan, film ini seolah-olah dari kacamata Gani, sampai kemudian ‘sampai nanti, Hanna !’ “Ketika masuk ke layer (lapisan) romance, ke layer coming of age. Sampai Hanna !. Ini seperti bilang ke diri kita, ada harapan di masa depan,” lanjut Febby Rastanty.

Setiap karakter tak ada yang hitam putih. “Saya merasakan film ini membawa cinta yang tertahan dan bagaimana kebebasan menjadi impian yang harus diperjuangkan,” imbuh Febby.
Lalu ?

“Manusia memiliki layer-layer yang beda. Layer Hanna di sini agak jauh,” tegas Febby.

Febby Rastanty yang elok berperan sebagai Hanna kalau diluar lebih lantang dan vokal. Tapi di rumah, dia lebih diam dan murung.

Pemeran lain adalah Ira Wibowo, Meriam Bellina, Jordan Omar dan Anjani Dina.
Skenario ditulis Swastika Nohara, film produksi Pic(k)lock bekerjasama dengan Azoo Projects dan Fortus Corporation ini runut ditonton.

Ceritanya mudah diikuti dan plot lurus tidak njlimet.

Wajib tonton mulai 5 Desember 2024.

Walhasil, cinta mereka – Gani, Hanna dan Arya – adalah perjalanan emosional nan tak kunjung padam.

Bahagia? Berhasil atau gagal ? (pik)

Jogjakarta Asian Film Festival Usung Tema ‘Metanoia’ Diikuti 25 Negara

JAYAKARTA NEWS— Mengusung tema ‘metanoia’ (pertobatan, perubahan pola pikir), Jogjakarta Asian Film Festival (JAFF) ke 19 diikuti 180 film dari 25 negara.

Dihelat di XXI Empire di Jogjakarta dan Klik Film (daring), dari 30 November s d 7 Desember 2024, akan dibuka dengan film ‘Samsara’ karya Garin Nugroho dan ditutup film ‘1 Kakak 7 Ponakan’ karya Yandy Laurens.

“Baru kali ini, JAFF memutar film pembuka dan film penutup dengan film Indonesia,” kata penggagas JAFF, Garin Nugroho.

‘Samsara’ adalah film terbaru Garin berupa film hitam putih dan bisu tanpa dialog. Film ini menggaet 4 piala Citra di FFI 2024.

Direktur Festival, Ifa Isfansyah bersama Pengurus JAFF Market (foto jaff)

Selama penyelenggaraan JAFF, akan diputar 9 film nasional terbaru yang belum tayang di bioskop. Di antaranya ‘Crocodile Tears’ karya Tumpal Tampubolon yang diikutkan di Toronto FF, ‘Tale of the Land’ karya Loeloe Hendra yang diputar di Busan FF, ‘Mungkin Kita Perlu Waktu’ oleh Teddy Soeriatmadja, ‘Cinta tak Seindah Drama Korea’ karya Meira Anastasia.

Selain itu, juga akan diadakan JAFF Market di Jogja Expo Center dari 3 s d 5 Desember 2024.
JAFF Market akan jadi Hub untuk temu para pelaku film Indonesia serta menjadi event industri dan sarana positif berjejaring bagi seluruh ekosistem film nasional.

“JAFF tahun ini memasuki babak baru dan beririsan sebagai peristiwa budaya yang berdampak besar bagi sinema Asia yang dinamis,” beber Ifa Isfansyah selaku Direktur Festival.

Segendang sepenarian pendapat Direktur Program Alex Matius. “Metanoia yang diusung sinema Asia menyalakan harapan bagi keberlangsungan kehidupan kita. Bahkan ini sebuah proses kelahiran kembali kedalam bentuk baru lebih baik lagi. Termasuk JAFF Market yang akan membangkitkan kembali sinema Asia dan sinema Indonesia kedepannya,” urai Alex Matius. (pik)

Film ‘Women from Rote Island’ Resmi Wakili Indonesia di Piala Oscar 2025

JAYAKARTA NEWS— Film ‘Women from Rote Island’ karya Jeremias Nyangoen, yang meraih penghargaan Film Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2023, resmi terpilih sebagai perwakilan Indonesia untuk berlaga di kategori Best International Feature Film pada Academy Awards ke-97 atau Piala Oscar 2025.

Keputusan itu berdasarkan hasil pertimbangan dari Komite Seleksi Oscar Indonesia, yang diketuai oleh Deddy Mizwar.

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menyatakan bahwa terpilihnya film ini sebagai perwakilan Indonesia di ajang Piala Oscar merupakan sebuah kebanggaan tersendiri. Film

‘Women from Rote Island’ menjadi film ke-26 yang dikirim Indonesia untuk berlaga di kategori tersebut sejak pertama kali Indonesia ikut serta pada 1987. Meskipun sudah 26 kali ikut, Indonesia belum pernah berhasil masuk nominasi di kategori yang sebelumnya dikenal dengan nama Best Foreign Language Film.

“DPR bersama dengan pemerintah siap mendukung dan mempromosikan film ini. Kementerian Kebudayaan dan pihak terkait diimbau untuk menayangkan film terbaik Indonesia di bioskop dalam waktu yang lama,” ungkap Dasco dalam pertemuan dengan perwakilan delegasi film ‘Women from Rote Island’ di Ruang Delegasi, Gedung Nusantara III, DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (28/11/2024), dilansir InfoPublik

Film ini mengangkat kisah sebuah keluarga di Rote, Nusa Tenggara Timur, yang sedang berduka. Selain cerita yang mendalam, film ini juga memperlihatkan keindahan alam dan budaya yang ada di NTT, serta menggambarkan kekayaan alam Indonesia yang mempesona.

“Saya rasa Pak Presiden siap mendukung dan ikut mempromosikan film ini. Selain itu, dibutuhkan bantuan lintas kementerian, seperti Kementerian Pariwisata dan Kementerian Kebudayaan, untuk turut serta membantu agar film ini sukses baik di tingkat nasional maupun internasional,” tambah Sufmi Dasco Ahmad, yang juga merupakan Politisi Fraksi Partai Gerindra.

Sebelum tayang di Indonesia, ‘Women from Rote Island’ sudah berkeliling di berbagai festival film internasional. Beberapa festival bergengsi yang telah disinggahi oleh film ini antara lain Busan International Film Festival 2023, Asian Film Festival Barcelona 2023, hingga QCinema International Film Festival 2023 di Filipina. Perjalanan ini semakin mengukuhkan film ini sebagai karya yang mendapat perhatian dunia internasional.

Dalam pertemuan tersebut, sejumlah pejabat penting turut hadir, termasuk Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, Wakil Menteri Kebudayaan, Giring Ganesha, Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, dan Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Enik Ermawati. Mereka semua memberikan dukungan penuh terhadap keberhasilan film ini serta menyatakan komitmennya untuk membantu mempromosikan film ini ke kancah internasional.

Dengan dukungan pemerintah yang solid, diharapkan ‘Women from Rote Island’ dapat menembus lebih jauh lagi dan membawa nama Indonesia ke ajang Piala Oscar 2025. Kesuksesan film ini tidak hanya menjadi prestasi bagi dunia perfilman Indonesia, tetapi juga memperkenalkan budaya dan keindahan alam Indonesia ke dunia internasional.

Seiring dengan pencapaian itu, para pembuat film dan pemerintah berharap agar ‘Women from Rote Island’ dapat semakin dikenal di dunia perfilman internasional, sehingga menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam mengangkat kisah-kisah Indonesia ke layar dunia.***

Terinspirasi Kasus Pembunuhan Viral, Utusan Iblis Janjikan Film Horor yang Nggak Gitu-Gitu Aja

JAYAKARTA NEWS – Rumah produksi DLK Pictures resmi mengumumkan jadwal tayang film terbaru mereka, Utusan Iblis. Diproduseri Diana Limbong, film arahan sutradara Dyan Sunu Prastowo akan tayang 2 Januari 2025.

Secara garis besar, film Utusan Iblis mengangkat kisah pembantaian satu keluarga oleh seorang ibu muda bernama Cantika yang mengaku kerasukan. Diana Limbong mendapat inspirasi dari cerita kisah pembunuhan viral akibat bisikan gaib yang didapat pelaku.

“Ini berawal dari obrolan saya sama mas Sunu. Saat itu kami lagi ngopi, dan dari ngopi itu lahir inspirasi,” terang Diana Limbong di Metropole XXI, Cikini, Jakarta, Jumat (22/11/2024).

“Kebetulan itu kasus tetangga saya. Viral juga kan pada saat itu. Kan waktu ditanya polisi, pelaku hanya menjawab kalau dia kena bisikan,” lanjutnya.

Diana Limbong penasaran apakah peristiwa pembunuhan terhadap seseorang bisa dilatarbelakangi bisikan gaib.

“Saya penasaran, apakah kasus pembunuhan karena bisikan gaib ini beda tipis dengan masalah kejiwaan,” papar Diana Limbong.

Setelah berdiskusi, Diana Limbong dan Dyan Sunu Prastowo sepakat bahwa kisah soal teka-teki pembunuhan akibat bisikan gaib menarik untuk diangkat ke layar lebar. Mengingat di Indonesia, belakangan marak terjadi kasus dengan motif serupa.

“Ini kan memang terjadi fenomenanya ya, pembunuhan keluarga dalam beberapa waktu terakhir ini,” jelas Dyan Sunu Prastowo.

Selain menawarkan teka-teki misteri pembunuhan bermotif bisikan gaib, Utusan Iblis juga menjanjikan warna baru untuk film horor.

“Kami mau cari sebuah resep untuk film horor selain jump scare dan setan-setanan. Di sini, kami menemukan bahwa serangan psikologis juga menakutkan,” papar Gerald Mamahit selaku penulis skenario.

“Kan memang banyak ya, orang yang bingung dengan sebuah kasus pembunuhan. Apakah benar ini memang dipicu kerasukan atau real gangguan jiwa. Jadi, ini hal yang menarik,” imbuhnya.

Film Utusan Iblis dibintangi Shareefa Daanish, Cindy Nirmala dan Dimas Aditya sebagai tiga sosok sentral.***(agus)

FFI 2024 Berlangsung Megah dan Seru

JAYAKARTA NEWS— – Mengusung tema ‘merandai cakrawala sinema Indonesia’, FFI 2024 yang dihelat di Convention Exhibition Ice BSD, Tangerang Selatan, Rabu (20/11/2024) berlangsung megah dan seru. Bahkan ada beberapa insan film yang menangis terharu dan terkejut karena tak mengira bakal menggaet piala Citra, lambang supremasi FFI.

Produser Ernest Prakasa dari Imajinari meneteskan air mata terkejut film yang disutradarai Yandy Laurens berjudul ‘Jatuh Cinta seperti di film-film’ memborong 7 penghargaan dari 11 nominasi untuk kategori film cerita panjang.

“Ini benar-benar kejutan luar biasa. Enggak percaya. Menjadi film terbaik diluar impian dan cita-cita saya. Karena ini film unik. Memvisualkan dalam bentuk hitam putih untuk film ini,” ujar Ernest Prakasa diiyakan produser Dipa Andika.

Yang juga menangis adalah aktris Nirina Zubir yang terpilih sebagai aktris utama terbaik.
“Yah terkejut. By the way, terima kasih saya sudah dipilih dewan juri sebagai artis utama terbaik,” ucap Nirina Zubir terharu.

Alex Abath dan Sheila Dara Aisha juga menyatakan bangga sekaligus terharu karena dinobatkan sebagai Aktor dan Aktris pendukung terbaik.

‘Jatuh Cinta seperti di film-film’ berhasil mengungguli 4 nominasi lain yaitu ‘Samsara’, ‘Crocodile Tear’, ‘Kabut Berduri’ dan ‘Siksa Kubur’. Di sisi lain, film hitam putih tanpa dialog alias bisu dan diiringi musik di bawah layar yang mengantungi 4 piala Citra adalah ‘Samsara’.
Film besutan Garin Nugroho ini meraih kategori sutradara, penata musik, penata busana dan pengarah sinematografi.

“Kemenangan ini sangat berarti bagi saya. Semula saya enggak yakin. Ini film bisu dan mengambil tema tradisi dan musik gabungan,” ujar Garin Nugroho yang terpilih sebagai sutradara terbaik.

Garin untuk kedua kalinya dinobatkan sebagai sutradara terbaik di FFI setelah film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ tahun 2019.

Diceritakan, Samsara itu seperti menyajikan gelaran wayang kulit dalam sejarah dunia.
“Ini adalah awal dari apa yang disebut sejarah film yang mereferensikan film-film dunia di era keemasan. Dari film bisu Charlie Chaplin di tahun 1920an hingga era film berwarna dan sinemascope di era Renaissance dan Revolusi Industri sampai era digital saat ini. Pokoknya dari era 1.0 hingga 4.0,” beber Garin yang akan menyiapkan film musikal berjudul ‘Siapa Dia’ yang dibintangi Nicholas Saputra dan 7 artis lain yang dipenuhi tari dan menyanyi.

Bagi Garin yang bergelar sarjana hukum dan sarjana antropologi, FFI adalah perayaan nominasi untuk semua teman terbaik bagi pemajuan film dan kebudayaan Indonesia.
Walhasil, sebanyak 28 piala penghargaan (24 Citra dan 4 nonCitra) telah dibagikan kepada insan-insan film berprestasi malam itu.

“Ini semua demi perfilman indonesia yang kita cintai ini,” timpal Menbud Fadli Zon dan Wamenbud Giring Ganesha Djumaryo. (pik)

‘Cinta dalam Ikhlas’ – tentang Nilai Keikhlasan Menjalani Hidup

JAYAKARTA NEWS— Film drama religi yang disutradarai Fajar Bustomi bertajuk ‘Cinta dalam Ikhlas’ memiliki kekuatan yang menyentuh hati setiap orang yang mengikuti kisah Athar dan Ara.

“Selain perjalanan menemukan jodoh sejati, film ini juga mengajarkan kita tentang nilai keikhlasan dalam menjalani hidup’, dinamika dalam pertemanan dan keluarga yang mengaduk-aduk hati penonton,” kata produser StarVision, Chand Parwez Servia.

“Bukan saja tentang cinta, tetapi film ini juga menghadirkan kisah bagaimana kita sebagai manusia bisa menjalani semuanya dengan ikhlas, berserah diri sembari berikhtiar untuk menjadi yang terbaik di hadapan Tuhan kita,” ucap Fajar Bustomi.

Diangkat dari novel best seller berjudul sama karya Abay Adhitya, takdir mempertemukan Athar (Abun Sungkar) dengan Aurora Cinta Purnama atau Ara (Adhisty Zara) yang mampu menarik perhatiannya.

Athar dan Ara menjadi lebih baik untuk satu sama lain. Mamun, pertemuan mereka selalu berujung perpisahan. Akhirnya mereka harus mengikhlaskan satu sama lain, mungkinkah Tuhan belum meridai mereka untuk bersama?

Pertemuan Athar dengan Zein (Omar Daniel) yang jadi sahabat dan mentornya saat kuliah, mengantarnya bertemu dengan Salsabila (Zoe Abbas Jackson) dan Tari (Maizura), yang sekaligus menjadi ujian bagi Ara dengan Athar.

Di film ini, Adhisty Zara juga mengubah penampilannya dengan mengenakan hijab. Hal ini sekaligus memberikan pengalaman dan pelajaran baru. “Lewat film ini, saya diajarkan selalu berbaik sangka sama Allah. Jangan menyalahkan takdir, namun berserah diri saja,” kata Adhisty Zara.

“Saya bisa berefleksi untuk menjadi manusia yang lebih baik,” imbuhnya.

‘Cinta dalam Ikhlas’ juga dibintangi Cut Mini, Donny Damara, Elang El Gibran, Alif Rivelino, Izzati Khanza, Dude Harlino, David Chalik, Eksanti, Tike Priatnakusumah, ustadz Hilman Fauzi, Joseph L Kara, Robert Chaniago dan banyak cameo yang lain.

Skenario ditulis Oka Aurora dan musik ditata secara padu dan apik oleh Hariopati Rinanto.
Selain sebagai aktor utama, Abun Sungkar juga melantunkan Original Sound Track (OST) sebanyak dua lagu yaitu ‘Mengikhlaskan Hati’ dan ‘Mencintai Kehilangan’.

Dirilis 27 November 2024, ‘Cinta dalam Ikhlas’ semoga bisa memberikan tontonan sekaligus tuntunan bagi anak-anak muda serta orangtua dalam memberikan dukungan kepada anak mereka. (pik)

Anwar Fuadi dan Ilham Bintang terima Lifetime Achievement FFWI 2024

JAYAKARTA NEWS— Dua tokoh yaitu Anwar Fuadi dan Ilham Bintang menerima penghargaan kategori pengabdian seumur hidup (lifetime achievement) dalam Festival Film Wartawan Indonesia (FFWI) 2024 yang dihelat di Auditorium RRI, Jakarta Pusat, Sabtu (16/11).

“Wartawan tak bisa lepas dari dunia film. Bapak Perfilman Indonesia dan Pahlawan Nasional, Usmar Ismail adalah juga wartawan terkenal,” kata Menteri Kebudayaan, Fadli Zon dalam sambutannya yang menyerahkan tropi penghargaan kepada dua tokoh tersebut.

Anwar Fuadi (77 tahun) adalah aktor senior dan Ketum Persatuan Artis Sinetron Indonesis (Parsi) yang sampai kini masih membintangi film bioskop dan film televisi.
Film terbarunya bertajuk ‘Dul Muluk Dul Malik’ karya sutradara Aditya Gumay. “Hingga kini saya tetap bermain sinetron, ftv dan film bioskop. Penghargaan dari wartawan ini memicu saya terus berakting lebih baik lagi,” ucap Anwar Fuadi yang berasal dari Palembang ini.

Beberapa film dan sinetron yang pernah dibintanginya antara lain ‘Stadhuis Schandaal’, ‘Gending Sriwijaya’, ‘Kentut’, ‘Sitti Nurbaya’, ‘Tukang Bubur Naik Haji’ dan masih banyak lagi.
Sedangkan Ilham Bintang (69) adalah wartawan senior di harian ‘Angkatan Bersenjata’ dan pendiri tabloid ‘Cek dan Ricek’.

Ilham adalah pelopor jurnalistik infotainmen di Indonesia. “Ini adalah penghargaan tertinggi yang pernah diberikan kepada saya dan saya akan terus berjuang dengan menulis esei dan kritik film dan budaya,” tutur Ilham Bintang yang juga Ketua Dewan Penasehat PWI Pusat.
Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon menegaskan bahwa seni film nasional sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

“Bahkan, perolehan penonton film Indonesia tahun ini sebanyak 69 juta sudah mengungguli perolehan film impor yang hanya mencapai 36 juta,” beber Fadli Zon yang aktif menonton film Indonesia (film favoritnya adalah ‘Agak Laen’ dan ‘Gadis Kretek’).

FFWI tahun ini menilai ratusan film bioskop dan film yang tayang di OTT untuk tiga kategori : drama, komedi dan horor.

Malam itu, Auditorium RRI berlangsung meriah yang dipenuhi insan pers dan insan film. Hadir antara lain Wamenbud Giring Ganesha Djumaryo, Slamet Rahardjo, Niniek L Karim, Chicco Jerikho, Joko Anwar, Jeremias Nyangun dan juga produser, sutradara, juru kamera, penulis skenario, penata musik dll.

Banyak yang belum tahu, Wamenbud Giring Ganesha Djumaryo juga beberapa kali pernah tampil di film nasional. Filmnya yang berkesan berjudul ‘Sang Pencerah’ yang disutradarai Hanung Bramantyo dan pengisi suara film animasi sebagai Paddle Pop ‘Petualangan Singa Pemberani’ dan sekuel Singa Pemberani 2.

Giring Ganesha adalah mantan vokalis band Nidji dan sebelum diangkat jadi Wamenbud, merilis mini album bertajuk ‘Serigala’ produksi Musica Studio’s. (pik)

Ini Dia 5 Destinasi Wisata yang Jadi Lokasi Syuting Film Horor, Berani Datang?

JAYAKARTA NEWS – Film horor Indonesia terus tumbuh seiring dengan semakin banyaknya peminat film genre ini. Bagi pecintanya, film horor berhasil memacu adrenalin ketika menontonnya. Selain itu, jalan cerita yang seru juga membuat penonton semakin penasaran.

Selain suka dengan ceritanya, para pecinta film horor juga biasanya penasaran dengan lokasi yang digunakan untuk syuting. Nah, untuk kamu yang penasaran dan ingin mengunjungi lokasi syuting film horor di Indonesia, ini dia rangkumannya.

1. Rumah Pengabdi Setan

Film Pengabdi Setan (2017) garapan Joko Anwar menjadi salah satu film horor terpopuler di Indonesia. Rumah Pengabdi Setan pun menjadi banyak dikunjungi oleh wisatawan yang penasaran dengan keseramannya. Rumah ini terletak di kawasan PTPN VIII, Kampung Kertamanah, Pangalengan, Bandung, Jawa Barat. Ada dua rumah digunakan untuk pembuatan film Pengabdi Setan pertama. Satu rumah masih ditempati dan tidak boleh dimasuki, tetapi diizinkan untuk berfoto di depannya. Sementara rumah kedua dibiarkan kosong dan terbuka untuk umum. Sebuah poster besar dari kanvas bertuliskan Pengabdi Setan dan tokoh hantu ibu dalam film tersebut terpasang di halaman rumah. Untuk masuk, pengunjung harus membayar tiket seharga Rp 10.000. 

Foto: Rumah Film Pengabdi Setan (Sumber_ Shutterstock.com_Dinda Amabel)

2. Hutan Pinus Mangunan

Hutan Pinus Mangunan di Bantul, Yogyakarta menjadi salah satu lokasi syuting KKN Desa Penari (2022). Meski menjadi tempat syuting film horor, namun Hutan Pinus Mangunan aslinya jauh dari kesan mistis. Hutan Pinus Mangunan menjadi tempat wisata karena vibes-nya seperti di luar negeri. Selain sebagai tempat wisata, Hutan Pinus Mangunan sering menjadi venue event konser penyanyi ibu kota, salah satunya yaitu Tulus.  Hutan Pinus Mangunan biasanya identik dengan suasana romantis dan sejuk, namun kesan berbeda terasa di film saat tempat ini dijadikan lokasi syuting KKN di Desa Penari. Tempat wisata yang berada di Bantul ini seolah menghadirkan kesan magis yang berbeda.

3. Waduk Sermo

Waduk Sermo di Kulonprogo menyimpan keindahan yang memikat. Namun di balik keindahannya, Waduk Sermo juga menyimpan sejuta misteri dan cerita mistis hingga dijadikan lokasi syuting film horor Jailangkung: Sandekala (2022) karya Kimo Stamboel. Film ini dibintangi oleh artis papan atas Titi Kamal, Muzakki Ramdhan, dan juga Dwi Sasono. Film ini mengangkat sebuah keyakinan di masyarakat bahwa saat matahari tenggelam atau saat maghrib dilarang keluar rumah. Waduk Sermo menjadi tempat dimana keluarga yang diceritakan dalam film itu mengalami musibah di sebuah danau. Danau yang dimaksud adalah Waduk Sermo. Kalau datang ke sini, kamu tidak hanya merasakan sensasi seperti di film Jailangkung: Sandekala, tetapi Waduk Sermo juga asyik untuk menjadi tempat camping.

Foto: Waduk Sermo (Sumber_ Shutterstock.com_herukru)

4. Karacak Valley

Karacak Valley merupakan destinasi wisata alam yang menakjubkan di Garut, Jawa Barat. Tempat ini pernah dijadikan lokasi syuting film horor Rasuk (2018). Meski di dalam film terkesan seram, namun di dunia nyata Karacak Valley bisa bikin orang terkesima, lho. Tempat ini sering dijadikan sebagai tempat untuk berkemah, karena Karacak Valley merupakan wisata alam yang menawarkan keindahan hutan pinus. Deretan pohon pinus di Karacak Valley digambarkan saat Langgir Janaka (Shandy Aulia) beserta ketiga sahabatnya harus berjalan kaki karena mobil yang mereka tumpangi tidak bisa lewat akibat ada jembatan rusak. Mereka terpaksa melewati hutan untuk sampai ke villa milik paman Linggar. Kalau mau datang ke Karacak Valley, Sobat Parekraf bisa menggunakan kendaraan pribadi dan dengan kendaraan umum menggunakan angkot dan ojek motor. 

5. Taman Watu Kandang

Taman Watu Kandang yang berlokasi di Trenggalek, Jawa Timur,  pernah dijadikan sebagai lokasi syuting film Sinden Goib (2024). Sinden Gaib katanya merupakan film didasarkan kisah nyata asli dari Kabupaten Trenggalek tepatnya dari Desa Pandean, Kecamatan Dongko. Lokasi syutingnya pun juga mengambil tempat yang sama seperti yang cerita yang berkembang di Desa Pandean. Tapi selain tentang cerita horornya, sebenarnya banyak aktivitas seru yang bisa dilakukan di tempat ini mulai dari river tubing sampai menjelajahi desa dapat kamu lakukan di sini. Pulang dari wisata ini dapat dipastikan pikiran segar kembali.***/mel

Wanita Ahli Neraka: Santriwati Terjebak Pernikahan Mengerikan

JAYAKARTA NEWS— Farah (Febby Rastanti), seorang santriwati bermimpi menikah penuh kebahagiaan dan keberkahan. Suaminya yang bernama Wahab (Oka Antara) berstatus politikus ambisius yang memiliki perusahaan sapi perah.

Demi kekuasaan, Wahab harus bermuka dua. Di depan publik, ia tersenyum ramah. Namun, di balik ketampanannya, Wahab adalah suami jahat dan kelam yang mengancam kehidupan isterinya.

Farah terperangkap dalam neraka yang tak pernah dibayangkan. Ia bersekutu dengan iblis dan menyembah berhala demi ambisi menjadi Bupati. “Saya visualkan saat Farah yang terjebak dalam pernikahan mengerikan. Pernikahan tak lagi sakral dan luntur karena salah memilih pasangan,” ujar sutradara Farishad I Latjuba.

Oka Antara (foto ffi)

Oka Antara, aktor asal Bali mengemukakan, peran antagonis yang ia mainkan benar-benar jahat dan kelam. Ia donatur pondok pesantren demi meraih kekuasaan. “Saya memberikan perspektif tentang dinamika rumah tangga dan karakternya,” jelasnya.

“Manusia bisa menjadi iblis yang paling seram jika tak bisa menahan niat isterinya,” imbuh Oka Antara.

Penulis naskah Lele Laila mengomentari cerita “Wanita Ahli Neraka’ yang ditulisnya.
“Ini bukan sekadar film horor. Tentang perjalanan yang menyentuh sisi terdalam ihwal kepercayaan dan percintaan yang berbalik menjadi ketakutan,” ungkap Lele Laila.

Adapun pesan moral yang bisa dipetik dari cerita ini adalah Farah solehah dan taat beribadah tapi dia terzolimi oleh suaminya.

Di dalam Al Quran Surah Al Tahrim ayat 11, Allah berfirman bahwa Siti Asiyah dimisalkan isteri yang beriman dan taat meski bersuami Fir’aun.

Produksi Visinema Pictures ini dimeriahkan ansambel aktor berbakat seperti Ashira Zamita, Alfie Affandy sebagai ustad dan Elma Theana sebagai umi. Duet Oka Antara dan Febby Rastanty bermain apik dan cemerlang.

Wanita Ahli Neraka akan dispecial screeningkan ke tujuh kota: Jogjakarta, Lampung, Malang, Purwokerto, Jakarta, Makassar dan Banjarmasin. (pik)