Iko Uwais kick off Uwais Pictures

JAYAKARTA NEWS— Aktor laga Iko Uwais menggebrak mendirikan rumah produksi baru yang diberi nama Uwais Pictures.

Kali ini, Iko yang berfokus pada film laga (action) menciptakan hype (antusiasme) terhadap dua film layar lebar produksi perdananya yaitu ‘Ikatan Darah’ dan ‘Timur’.

“Kami akan menjadi the new wave of action film. Uwais Pictures akan berfokus pada genre laga berkualitas sebagai ‘core’ (inti) setiap film yang kami buat,” ujar Iko.

Dipaparkannya, Uwais Pictures menandai babak baru karier Iko Uwais yang telah dipuji di dunia internasional melalui kemampuan seni bela diri dan aktingnya.

“Ikatan Darah yang bergenre action martial arts mengisahkan seorang mantan atlet pencak silat yang harus menghadapi jaringan lintah darat guna menyelamatkan kakak laki-lakinya yang terjebak dalam permasalahan utang dan mempertaruhkan keselamatan keluarganya,” urai Iko.

Tentang ‘Timur’ yang bergenre action drama terinspirasi dari misi menyelamatkan sandera yang terjadi di Indonesia tahun 1996.

Ikatan Darah disutradarai Sidharta Tata sedangkan Timur dikawal dua sutradara yaitu Iko Uwais bersama Dondy Adrian Senjaya.

Di bagian produser Ikatan Darah adalah Ryan Santoso yang juga produser Timur.
Disebut-sebut juga nama Raffi Ahmad (aktor, presenter dan staf presiden Prabowo Subianto) dan Yentonius Jerriel Ho bertindak sebagai produser eksekutif film Timur.

“Saya juga menjadi pemeran utama di film Timur. Sedangkan pemeran Ikatan Darah diantaranya Livi Ciananta, Derby Romero, Lydia Kandou dan masih banyak lagi,” imbuh Iko.
“Kami juga menargetkan dua film ini tayang tahun 2025 di Indonesia dan ‘go International’ di mancanegara,” ucap Iko Uwais yang pernah membintangi film-film Hollywood seperti ‘Snake Eyes’, ‘The Expendables’ dan ‘Star Wars : The Force Awakens’. (pik)

Vina Panduwinata Rilis Album All About Vina Panduwinata

JAYAKARTA NEWS— Apa kabar Vina Dewi Sastrawiyana Panduwinata atau Vina Panduwinata (65 tahun)?

Setelah lama tak muncul, Vina yang dijuluki ‘si Burung Camar’ ini merilis album bertajuk ‘All About Vina Panduwinata’ yang difasilitasi Richeese Factory di kawasan Bintaro, Jakarta, baru-baru ini.

Berisi 9 lagu hit Vina, kali ini 9 penyanyi melantunkan lagu-lagu yang pernah sukses didendangkan Vina. Yaitu Marshanda, Novia Bachmid, Michael Pelupessy, Dirly Dave, Arbie Seo, Satrina D’Mello, Citra Scholastika dan Abdul Coffee Theory feat Aryono Huboyo Djati dan Iwan Abdulrachman.

Vina menyanyi (foto dudut sp)

Dan Vina dengan suara khas nya membawakan “Sampai Menutup Mata”.
Vina adalah diva legendaris sebagai artis solo sejak 1980an telah merilis 14 album studio.

“Konseptor dan pencetus ide untuk mengabadikan lagu Vina adalah Rino Hadisa dan Biru Langit Entertainment, Pro Musik dan G Music Studios. Saya mengapresiasi dan angkat topi tinggi-tinggi,” ujar Vina yang menyabet Lifetime Achievement tahun 2006.

Sungguh, sampai saat ini hits-hits Vina masih terus mengudara. Tak lekang oleh waktu.
Dengarkan saja lagu ‘Cinta’, ‘Aku Makin Cinta’, ‘Surat Cinta’, ‘Kumpul Bocah’ dan di album terbaru ini yang bernuansa combo seperti ‘Biru’, ‘Burung Camar’ dan ‘Di Dadaku Ada Kamu’. (pik)

Dimas Anggara buat Film Aplikasi Iblis

JAYAKARTA NEWS— Sukses debut Outfit Of The Designer (OOTD), sutradara Dimas Anggara tahun ini membuat film bergenre horor bertajuk ‘Aplikasi Iblis’.
Produksi NIH Pictures ini merupakan perjalanan mencekam yang menggabungkan unsur mistis dan balas dendam.

“Ceritanya sangat berhubungan dengan kehidupan dan teknologi yang jadi pegangan hidup kita sehari-hari. Juga tentang kehilangan yang dicintai menjadi sebuah alasan untuk bertindak diluar nalar,” ucap Dimas Anggara.

Dimas Anggara, sutradara (foto eko)

Setelah kehilangan kekasih tercinta bernama Laras dalam pembunuhan tragis, Arya mencoba mencari jawaban dan penutupan kisah cintanya.

Ia menemukan aplikasi misterius bertuliskan ‘I Let You In’ yang diklaim dapat berhubungan dengan arwah.

“Film ini enggak hanya menyuguhkan hiburan semata, tetapi juga mengangkat tema ihwal kesedihan, penyesalan dan bahaya keinginan untuk membalas dendam. Ini pesan moralnya,” papar Dimas Anggara yang kali ini tak ikut bermain sebagai aktor.

“Saya mau full fokus sebagai film maker. Agar pikiran dan tugas saya enggak bercabang,” alasannya.

Junior Roberts sebagai Arya

Dimas juga bertindak sebagai produser mendampingi Raden Dimas Aryanto.
Ide cerita berasal dari Delly Malik dan Indra Bayu. Dan penulisan oleh Tisa TS dan Indra Bayu.
Director Of Photography (DOP) ditangani Rama Hermawan.

Sederet bintang muda dipercaya meramaikan film ini, yaitu Junior Roberts, Dosma Hazenbosch, Aldo Irawan Putra, Aulia Deas, Ruth Marini, Della Dartyan, Dida Arlingga, Danang, Cut Ara, Daffa Alharits dan Rifal F Lestusen.

“Saya pertama ditangani bang Dimas Anggara di film horor yang mencekam dan menakutkan ini. Di sini, sebagai Arya, saya belajar tentang keikhlasan,” tutur Junior Roberts usai syuting kepada penulis.

Dan Dimas Anggara berpesan kepada setiap penonton. ‘Jangan main-main dengan arwah. Kalian akan tersesat,” demikian tegasnya. (pik)

Pengantin Setan: Bercinta dengan Jin di Alam Mimpi

JAYAKARTA NEWS— Diangkat dari kisah nyata yang ditulis Fajar Aditya yang sempat viral di TikTok dan kanal YouTube. RJL-5 (yang ditonton 3,4 juta kali), sutradara Azhar Kinoi Lubis mengangkat cerita ‘Pengantin Setan’ ke layar bioskop.

Produksi MVP dan akan dirilis di bioskop 16 Januari 2025 ini menawarkan keseraman dan ujian terhadap kekuatan cinta pasutri yang terancam oleh unsur supranatural.

Pasutri Echa dan Ariel telah menikah selama tiga tahun. Hubungan mereka menjadi renggang, dingin dan hampa ketika muncul sosok misterius. Echa selalu bertemu pria tampan dalam mimpinya. Dan tampaknya Echa lebih berbahagia bercinta dengan pria misterius yang kemudian mempengaruhi alam pikiran Echa.

Sosok pria misterius itu ternyata Jin Dasim yang selalu menyasar wanita dan merusak rumah tangga pasangan suami isteri.

Uniknya, jin Dasim juga jatuh cinta pada Echa dan menjadi pengantin setan di alam mimpi yang lalu menyusup di kehidupan nyata Echa.

Walhasil, dengan kekuatan cinta yang suci akhirnya semua teror dan gangguan jin Dasim bisa dikendalikan. “Yang surprise, pemeran utama Erika Carlina sebagai Echa yang di luar film beragama Katolik cepat bisa menghafal Surah Al Fatihah dan doa-doa dalam agama Islam,” timpal Azhar Kinoi Lubis.

Kinoi juga menyatakan salut atas ketulusan seni peran Erika Karlina yang tanpa pemeran

pengganti (stunt in) melakukan beberapa adegan berbahaya yang tak masuk akal. Misalnya ia ‘terbang’ saat trance dimasuki roh Jin Dasim dan meneror ustad dan pengikut ustad (meski dibantu sistem komputer).

Produser Amrit Punjabi mengaku bangga dengan seluruh pemeran film ini. “Syuting Agustus 2024 di Semarang selama 20 hari dan empat bulan bisa dirilis,” aku Amrit Punjabi.

Deretan pemeran yaitu Erika Karlina, Emir Mahira, Ruth Marini, Ence Bagus, Wavi Zihan dan Alfie Affandi cukup bersemangat bermain di film yang penuh atmosfir mistis ini. (pik)

Panggonan Wingit 2: Miss K Tayang di Hari Natal

JAYAKARTA NEWS— Diadaptasi dari cerita nyata, sutradara Guntur Soeharyanto mengangkat cerita yang ditulis Riheam Junianti ke film layar lebar. Berjudul ‘Panggonan Wingit 2’ (Tempat Keramat): Miss K.

“Film ini beda banget dengan ‘Panggonan Wingit’ yang diperankan Luna Maya dan Christian Sugiono. Di Panggonan Wingit 2 saya menambahkan topeng Malayan untuk memperkuat unsur lokal di ceritanya,” ujar Guntur Soeharyanto.

Sederet pemeran ikut memperkuat film ini yaitu Cinta Laura, Calisia Arum, Arifin Putra, Indra Brasco, Intan RJ dan Yeyen Lidya. Produser Rocky Soraya. Film yang mengambil latar 1990 di Surabaya sepeninggal ibunya, Alma dan Mia memutuskan pindah ke Surabaya karena Mia menjad manager di apartmen Sasmaya.

Di apartemen mereka ada yang aneh. Lantai 6 selalu ditutup sehingga pengunjung tak bisa masuk, Karena banyak kerusakan dan bocor pada plafon, akhirnya Mia dan Alma bisa masuk ke kamar nomor 610. Kamar tampak angker.

(foto hitmaker)

Alma dan Mia melihat sosok seorang wanita dan anak kecil cewek yang misterius.
Wanita tersebut berkata ‘papat dina, maghrib’ dan ini menjadi teror mengerikan bagi Alma dan Mia.

Beruntung hadir polisi bernama Rayyan yang menjadi pacar Alma. Mereka berdua lalu melakukan investigasi teror topeng Malayan ini. “Di film ini ditampakkan hantu wanita sadis yang tepat di hari ke empat memutilasi manusia di waktu maghrib,” tutur Guntur Soeharyanto lagi.

“Penampakan hantu wanita sadis ini bikin meringis dan ketakutan penonton,” jelas produser Rocky Soraya.

Produksi Hitmaker Studios ini akan tayang pas di hari Natal, 25 Desember 2024.
Nonton film horor di hari Natal ! (pik)

Gordang Sambilan Alat Musik Mandailing Pengiring Tortor

JAYAKARTA NEWS— Gordang Sembilan adalah alat musik tradisional Mandailing, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Alat musik itu bagian instrumen gendang yang terdiri dari sembilan jenis gendang dengan ukuran berbeda.

Karakteristiknya terbuat dari kulit hewan, biasanya kulit sapi atau kerbau yang dikeringkan dan ditegangkan pada rangka kayu. Kemudian ukuran gendang bervariasi, mulai dari kecil hingga besar. Agar mengeluarkan bunyi caranya dipukul menggunakan tangan atau tongkat maka menghasilkan suara yang khas dan merdu.

Sedangkan fungsi gordang sambilan untuk mengiringi tarian tradisional seperti Tari Tortor,
mengiringi upacara adat dan ritual keagamaan,
sebagai alat komunikasi dan sebagai ekspresi budaya yang mengiringi musik tradisional Mandailing.

Personel group Gordang Sambilan Muara Pardomuan saat hendak tampil menghibur. (Foto. Ig Muara Pardomuan 2)

Menurut salah seorang pemilik Grup Gordang Sambilan Muara Pardomuan, Ilham Batubara,
pelestarian budaya daerah seperti alat musik tradisional gordang sambilan merupakan hal yang sangat penting. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan kekayaan budaya dan tradisi dari pengaruh-perubahan zaman.

Kemudian, kata Ilham salah seorang alumni mahasiswa dari Universitas Harapan Medan itu menyatakan bahwa dirinya melanjutkan tradisi bermain Gordang Sambilan yang telah dimulai oleh kakeknya. Meskipun ayahnya telah meninggal, Ilham tetap mempertahankan warisan budaya tersebut dengan menggunakan alat-alat musik yang masih terjaga dengan baik, bahkan sering disewakan.

“Almarhum ayahnya melanjutkan Grup Gordang Sambilan Muara Pardomuan sejak 2004. Saat itu, saya berusia 5 tahun. Setelah ayah meninggal saya melanjutkan grup tersebut sejak 2016. Nama grup tetap sama karena personelnya berasal dari kampung yang sama, seperti Kota Nopan, Pasaman dan lainnya,” ujar Ilham kepada awak media ini beberapa waktu lalu, di kediamannya, Jalan Benteng Hulu, Medan Tembung.

Lanjut Ilham, bahwa Grup Muara Pardomuan memiliki 12 personel dan saya belajar bermain alat musik tradisional seperti Gondang Sambilan, Gondang Tua dan Gong secara otodidak dengan memperhatikan ayah sejak kecil. Hanya suling yang belum saya kuasai.

Alat musik tradisional Gordang Sambilan milik Muara Pardomuan. (Foto. Ig Muara Pardomuan 2)

“Masing masing punya keahlian, untuk megang alat musik suling Rahman Nasution. Semenjak saya memimpin grup Muara Pardomuan pernah disewa sampai ke Bukittinggi, Sumatera Barat dan sekitaran Kota Medan. Tapi kalau ayah saya yang memimpin grup waktu itu sudah kemana-mana bahkan sudah keluar negeri,” ungkap Ilham dengan senyum.

Saya anak tunggal bang, kata Ilham, nama almarhum ayah Safaruddin Batubara dan Ibu Boru Lubis, sambil Ilham memperlihatkan alat-alat musik Gordang Sambilan.

Jadi group Gordang Sambilan ini, jelas Ilham untuk sekali show sekitar 6 juta, itu lengkap sudah sama penari, karena kami ada kerjasama dengan sanggar tari dari grup kita juga. Kemudian batas waktu tampil dari mulai Jam 8.00 sampai Jam 15.00 WIB.

Ilham berharap kebudayaan dan tradisi daerah dapat dilestarikan melalui pendidikan. “Pendidikan budaya dan musik tradisional perlu dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, sehingga anak-anak Sumatera Utara dapat mempelajari dan menghargai warisan budaya kita.”

Di akhir bincang-bincang Ilham pun menjelaskan Gordang Sambilan terdiri dari : Enek enek, Patolu, Padua, Kudong kudong, Jangat, Gong, Talempong, Tali sasayak, Seruling dan Sarune. Kemudian, ia mengatakan, “Jika ingin melihat saat para personil memainkan gordang sambilan silahkan lihat di Gordang Sambilan Muara Pardomuan Channel dan mau sewa juga silahkan.”

Sekadar info ke 12 personil Gordang Sambilan Muara Pardomuan itu, Rahmat Syarif Nasution, Syahdan Muaarif, Ibnu, Marito Lintang, Erwin Arifin Lubis, Tajuddin, Muhammad Khoiri, Suhdi Batubara, Putra, Mada, Ardiansyah Nasution dan Adi Pulungan.

Personel Seruling

Seruling merupakan satu di antara alat musik pelengkap di group Gordang Sambilan Muara Pardomuan ini. Seruling merupakan alat musik tiup tradisional yang berasal dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Malaysia dan Filipina. Alat musik ini terbuat dari bambu yang memiliki lubang-lubang untuk menghasilkan suara.

Ilham Batubara yang memegang gendang dan Rahmat Nasution personil Seruling. (Foto. Monang Sitohang)

Fungsi dari seruling yaitu, mengiringi musik tradisional, mengiringi tarian tradisional, kemudian sebagai alat komunikasi dan sebagai simbol budaya. Sedangkan karakteristik terbuat dari bambu memiliki 4-6 lubang untuk menghasilkan suara dan dimainkan dengan cara ditiup maka akan menghasilkan suara yang merdu dan khas.

Untuk perawatan seruling, bersihkan secara teratur, lalu hindari paparan sinar matahari langsung, dan impan di tempat kering serta periksa jika ada kerusakan.

Menurut salah satu dari 12 personil Gordang Sambilan Muara Pardomuan, Rahmat Syarif Nasution dalam group ini, berperan sebagai pemain seruling. “Teknik meniup seruling yang tepat dapat menghasilkan nada bersih. Dengan latihan, jari-jari dapat dilatih untuk mencari nada yang tepat,” jelas Rahmat.

Kemudian, jelas Rahmat lagi bahwa ia memiliki pengalaman sebagai anggota grup Gordang Sambilan sejak Sekolah Dasar. Selama dua tahun terakhir, saya bergabung dengan grup yang dipimpin oleh Ilham. Sebelumnya, saya bergabung dengan grup musik keluarga, mempelajari berbagai nada dan lagu yang kompatibel dengan instrumen suling.

Ukuran lobang suling berbeda-beda, tergantung nada yang dihasilkan. Contohnya, nada F memerlukan suling dengan ukuran lobang tertentu untuk menghasilkan suara yang tepat. Hal ini mirip dengan prinsip nyanyian, di mana kunci yang salah dapat menghasilkan suara yang tidak harmonis.

“Teknik bermain suling membutuhkan kelancaran dan keseimbangan. Menggerakkan jari-jari dengan lembut dan santai sangat penting untuk menghasilkan suara yang harmonis dan lancar,” ujar Rahmat, sambil mengatakan belajar seruling ia tidak ada melakukan latihan khusus. (Monang Sitohang)

Pulung Gantung Pati Ngendat

JAYAKARTA NEWS— Sepanjang 2021, kasus bunuh diri di Gunung Kidul, Jogjakarta, ada 38. Dan 37 kasus bunuh diri wafat dengan cara gantung diri.

Sutradara Chiska Doppert mengatakan hal tersebut dalam syukuran film berjudul ‘Pulung Gantung Pati Ngendat’ produksi Makara Productions di Jakarta, baru-baru ini.

“Kasus tersebut diadaptasi menjadi banyak versi karya kreatif. Ada novel, cerpen dan kali ini film layar lebar,” kata Chiska Doppert. “Kita enggak ingin seratus persen ikut mitos. Film ini beda dan ada nilai tambah. Agar masyarakat enggak percaya hal-hal negatif,” ungkap Chiska.

Pulung Gantung tentang tingginya kasus bunuh diri di Gunung Kidul/ Foto: arul

Produser Shankar RS mengemukakan “Film ini menjungkirbalikkan mitos tersebut. Ada jalan keluar dari setiap masalah,” papar Shankar.

Sependapat dengan Executive Producer, Rama Tribudiman dan Associate Producer Boy Rano bahwa dari develop story film ini menepis menjalarnya mitos dan kepercayaan masyarakat yang tak benar dan menyimpang dari ajaran agama.

Kisahnya mengenai perjalanan Ryan bersama Alana, Bun dan Elsa ke desa Rawapendem untuk melayat bapaknya Ryan bernama Prasetyo yang meninggal secara misterius.

Berdoa bersama produser, sutradara dan pemeran film Pulung Gantung/Foto: makara

Akhir-akhir ini, warga di desa Rawapendem dalam kutukan makhluk Pulung Gantung yang berbentuk bola api.

Makhluk ini masuk ke rumah warga dan menyasar orang-orang depresi, stres dan lemah iman.
Mereka dikendalikan pulung gantung untuk melakukan bunuh diri.

Film horor yang akan dirilis di bioskop 6 Februari 2025 ini dimeriahkan pemeran seperti Egi Fedly, Nadia Bulan Sofya, Annisa Aurella Kaila, Andrew Barrett, Michael Russell, Adella Rasya dan Indra Pacique.

Egi Fedly berpandangan berbeda saat ikut terlibat di film ini. “Semula kita pasrah pada kenyataan yang digerakkan oleh mitos. Dan ini enggak benar. Kita patuh hanya kepada satu iman yang lurus yang percaya keesaan Allah SWT saat iman warga goyang,” jelas Egi Fedly.

Lain lagi Nadia Bulan Sofya.

“Saya terkesima pada keindahan panorama Gunung Kidul. Ini memanjakan mata. Saya sempat jalan-jalan saat break syuting. Tapi ternyata dibaliknya Gunung Kidul menyimpan misteri Pulung Gantung yang menyesatkan dan mengerikan,” tandas Nadia Bulan Sofya. (pik)

Bupati Ipuk Bangga dan Apresiasi Keberanian Sineas Banyuwangi Buat Film “Rindu Yang Bertepi”

SURABAYA, JAYAKARTA NEWS— Gala premier premier film “Rindu yang Bertepi” garapan rumah produksi asli Banyuwangi, resmi tayang di bioskop-bioskop Kabupaten  Banyuwangi.

Digarap dan diperankan oleh sineas-pemeran lokal, film ini mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.
 
Mengutip laman Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Senin (16/12), film “Rindu yang Bertepi” merupakan film bergendre romance yang bercerita tentang perjalanan seorang anak mencari ibunya. Seluruh kru dan pemain yang terlibat merupakan orang asli Banyuwangi.

Bisa dibilang, film ini merupakan film pertama garapan rumah produksi dan sineas lokal yang tayang di bioskop.
 
Produser Idrus Efendi mengatakan, film tersebut digarap oleh PT Chandra Abhipraya, rumah produksi yang ia bangun. Film tersebut disutradarai oleh Stanie Hanief dan diperankan oleh aktor-aktris Banyuwangi.

Beberapa di antaranya, yakni seniman senior Yons DD, Dwi Ikawato, M Al Firmansyah, Lara Anggie Rukmkana, dan Fida AP.

“Film ini sepenuhnya dari Banyuwangi. Kami persembahkan juga untuk Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) yang bertepatan dengan bulan Desember ini,” kata Idrus.
 
Karena digarap sepenuhnya oleh tangan-tangan anak lokal, ia berharap film tersebut dapat menjadi kebangaan warga Banyuwangi.

Idrus mengaku tergugah untuk membuat film dengan kru dan pengambilan gambar sepenuhnya di Banyuwangi karena kabupaten ini sudah sering menjadi lokasi syuting film-film oleh rumah produksi Ibu Kota.

Fakta itu menunjukan Banyuwangi punya potensi besar untuk digarap oleh sineas dan talenta-talenta lokal.
 
Film “Rindu yang Bertepi” akan tayang di tiga bioskop yang ada di Banyuwangi mulai Senin (16/12/2024). Idrus berharap, film tersebut akan mendapat penerimaan positif oleh seluruh warga Banyuwangi.
 
Bupati Ipuk turut hadir dan menyaksikan gala premier film “Rindu yang Bertepi”. Ia mengapresiasi dan bangga dengan keberanian sineas dan talenta Banyuwangi dalam membuat karya film untuk tayang di layar lebar.

“Film bukan hanya menjadi tontonan, tapi juga menjadi sarana promosi pariwisata. Apalagi film ini mengambil lokasi sepenuhnya di Banyuwangi,” kata Ipuk.
 
Ia mengatakan akan terus mendukung tumbuhnya industri kreatif di Kabupaten Banyuwangi, termasuk dalam bidang perfilman. Bukti dukungan itu salah satunya adalah izin-izin yang dikeluarkan untuk rumah produksi yang ingin membuat film di Banyuwangi. 

“Kami selalu memberi izin untuk rumah-rumah produksi bahkan yang berasal dari luar daerah. Apalagi untuk film yang dihasilkan oleh rumah produksi dari Banyuwangi, pasti kami akan mendukung penuh,” lanjutnya.
 
Ia berharap, Idrus dkk tak mudah berpuas diri dengan tayangnya film perdana mereka. Ipuk mendorong agar sineas asli Banyuwangi terus berkarya dan menghasilkan film-film yang lebih baik ke depannya.

“Saya ucapkan selamat atas tayangnya film ini. Pesan saya, ayo terus berkreasi, jangan pernah berhenti. Kalian sudah mewujudkan satu langkah maju. Mari wujudkan untuk karya-karya yang lebih lagi,” tuturnya. ***poedji

Sorop: Teror Arwah Pakde

JAYAKARTA NEWS— Sorop atau Surup (bahasa Jawa) artinya menjelang malam/magrib.
Produksi MD Pictures bertajuk ‘Sorop’ yang disutradarai Upi ini diangkat dari utas oleh @ simple man (‘kkn di desa penari’) dan akan beredar 19 Desember 2024.

“Pas liburan Nataru. Horornya beda. Sorop saya gambarkan penuh ketegangan. Namun, di balik itu, film ini beri pesan mendalam soal keluarga,” kata Upi.

Wanita sutradara ini menceritakan, premis yang sangat menarik dari simple man ini belum rampung. “Jadi kita selesaikan di film,” imbuh Upi.

“Ini cast nya luar biasa. Pengalaman sinematik nya tak terlupakan,” beber produser Manoj Punjabi.

Manoj menjelaskan film ini digagas lima tahun silam. Prosesnya panjang. Intelectual Property (IP) nya kuat. Levelnya menyeramkan,” papar Manoj.

Ratu Felisha, aktris yang bermain di film ini memimpikan bisa bermain ditangani Upi.
“Dari remaja saya ngefans sama Upi. Akhirnya ditawari film Sorop. Mau gak jadi hantu, ajak Upi. Ya sudah. Ini ceritanya menarik,” kenang Ratu Felisha.

Kisahnya tentang kehidupan dua saudara bernama Hanif dan Isti berniat kembali ke rumah masa kecil di sebuah desa.

Mereka dikejutkan oleh pakde (paman) yang meninggal tepat di hadapan mereka.
Namun, kematian pakde misterius. Teror sosok arwah pakde nyaris merenggut nyawa mereka.

“Suasana malam nan mencekam di dalam rumah bikin merinding kami yang syuting di Banyuwangi. Hanif dan Isti terengah-engah putus asa menembus kegelapan mengandalkan hanya sebuah senter,” ungkap Ratu Felisha yang jadi hantu gentayangan meneror penghuni rumah.

Selain Ratu Felisha, Sorop juga diramaikan bintang berbakat seperti Hana Malasan, Yasamin Jasem, Briliana Arfira, Ibnu Widodo, Tegar Satrya, Seroja Hafiedz, Cleo Haura dan Maryam.
Apakah ada yang selamat dari ancaman hantu Sorop ? (pik)

‘Yohanna’ Borong Penghargaan di JAFF 2024

JAYAKARTA NEWS— Film ‘Yohanna’ karya sutradara Razka Robby Ertanto berhasil memborong lima penghargaan dan menggaet Golden Hanoman Awards dalam Jogjakarta Asian Film Festival (JAFF) Netpac ke 19 di Jogjakarta, baru-baru ini.

Lima penghargaan tersebut adalah best film, best directing, best performance, best story telling dan best cinematopraphy.

Dari 13 penghargaan, 8 awards diraih film-film produksi Jepang dan Amerika.
Sedangkan piala Silver Hanoman direbut film ‘Viet & Nam’ karya Truong Minh Quy.

“Motto film Yohanna adalah kejujuran tentang komunitas marjinal sebuah desa di timur Indonesia. Tentang kehidupan seorang biarawati muda (diperankan cemerlang oleh Laura Basuki) di Sumba. Di film ini, Robby Ertanto secara apik menggabungkan ansambel dengan baik,” ujar Direktur JAFF, Ifa Isfansyah.

Laura Basuki sebagai biarawati di Sumba dalam film Yohanna (foto jaff)

Film ‘When The Wind Rises’ dari Taiwan meraih dua awards Blencong Awards dan JAFF Students Awards.

Dalam penutupan JAFF Sabtu (7/12) di XXI Empire, Jogjakarta, diputar closing film bertajuk ‘1 Anak 7 Ponakan’ karya sutradara Yandy Laurens di seluruh Studio. “JAFF 2024 sangat penting karena digelar sangat besar dan meriah,” beber Ifa Isfansyah.

Di JAFF 2024 yang berlangsung 8 hari, tercatat sebanyak 24.462 penonton memenuhi bioskop. “Ini capaian terbesar sepanjang sejarah JAFF. Penonton bertambah secara skala dan mayoritas kalangan usia muda yang produktif,” imbuh Ifa Isfansyah.

JAFF 2024 menayangkan 182 film dari 25 negara Asia Pasifik. Terdiri atas 68 judul film yang pertama diputar di Indonesia dan 35 film tayang perdana di world premier.
Ada 33 sutradara debut dan 41 sutradara wanita.

Dan di JAFF 2024 diramaikan 92 komunitas film dan baru tahun ini khusus diputar film untuk penonton bisu tuli (volunteer sebagai teman bisnis).

“Panitia sedang memikirkan program untuk anak yang juga penting. Baru di JAFF 2025 kita matangkan acaranya,” timpal Direktur Program, Alexander Matius.
Di sisi lain, JAFF Market yang dihelat tiga hari di Jogja Expo Center resmi ditutup.
Di sini digebrak tiga program yaitu JAFF Future Project, JAFF Content Market dan JAFF Talent Day.

“Ada banyak meeting selama penyelenggaraan JAFF Market. Dan 61 MOU diteken,” kata Executive Director, Ajish Dibyo.

Diumumkan proyek film baru produksi Miles Production yaitu ‘Rangga dan Cinta’ yang didukung Barunson E&A dari Korsel dan Imajinari dari Indonesia.

Dalam JAFF Future Project, ada penerimaan dari 74 pendapatan proyek film. (pik)