11:11 Apa Yang Kau Lihat? Siluman Laut Tebar Bencana

Suatu malam, tepat pukul 11:11, Galih, seorang mahasiswa arkeologi yang suka diving dan fotografi, menemukan fakta mengenai keberadaan Dewi, ibunya. Dewi hilang saat Galih masih kecil, di sebuah pulau terpencil bernama Tanjung Biru. Galih melakukan perjalanan menuju tempat tersebut bersama ketiga temannya, yaitu Ozan, Vania, dan Martin.

Setelah melalui perjalanan panjang mereka sampai di sebuah Villa di pulau Tanjung Biru. Saat menyelam itulah, mereka menemukan sebuah kapal yang karam di dasar laut. Dalam kapal, mereka menemukan sebuah artifak kuno yang menjadi petunjuk untuk mencari ibu Galih, namun artifak tersebut juga membawa bencana kepada mereka. Karena tanpa disadari Siluman Laut penghuni kapal karam itu terusik oleh kehadiran manusia licik, yang mengakibatkan jadi bencana bagi mereka dan penduduk sekitarnya.

Pasalnya, gangguan demi gangguan siluman penjaga Tanjung Biru terus terjadi pada kelompok tersebut. Mampukah mereka berempat bertahan hidup dan keluar dari Tanjung Biru hidup-hidup?

Sekelumit kisah diatas tadi, adalah kisah film horor Indonesia pertama dalam laut, yang bertajuk Film 11:11 Apa Yang Kau Lihat? produksi bersama layar Production dan Cinema Delapan, yang akan tayang di bioskop seluruh Indonesia, mulai 21 Febuari 2019 ini.

Menyinggung soal film ini sendiri, Alfani Wiryawan selaku Produser Cinema Delapan yang turut menginap di tenda selama suting di tengah pulau terpencil ini, menjelaskan film yang diproduksinya walaupun bergenre horor, tidak menghadirkan hantu pada umumnya film horor, seperti Pocong, Kuntilanak, atau Gondoruwo. Tapi, kita menghadirkan hantu yang tidak kalah seremnya, yaitu: Siluman Laut. Ini tentunya belum pernah ada dihadirkan dalam film horor Indonesia,” jabar Alfani pada awak media disela acara premier, Senin (11/2/2019) di XXI Senayan City-Jakarta.

“Tentu kami tak hanya menjual kisah horor siluman dalam laut dalam film ini. Kelebihan film ini lainnya, mata penonton juga kami manjakan dengan panorama alam Indonesia, khususnya yang ada di Lampung,” sela Executive Producer Layar Production Fitrin Hapsari, dimana Bali dan Jakarta juga jadi wilayah lokasi suting film tersebut.

“Ada kisah nyata dalam film ini, bagaimana pemeran siluman laut Iin Hermayani yang berprofesi sebagai bidan, kesurupan Siluman laut beneran di lokasi suting di Lampung. Awalnya saya sempat panik, khawatir kalau terjadi kesurupan massal. Bayangkan kalau terjadi kesurupan massal, kita semua bisa gak kerja. Untunglah ada orang pintar yang bisa menolong Iin dan esok harinya, kita bisa suting lagi,” sambung Associate Producer/Secretary Fitri Assidikki.

“Jadi teror siluman dalam film 11:11 Apa Yang Kau Lihat? tidak hanya akan terjadi dalam bioskop, saat penonton menyaksikannya. Kami pun dilokasi suting nyata-nyata diteror dengan kesurupanya Iin Hermayani pemeran siluman,” jelas Co Executive Produser Kei Ratnasari.

Cerita menarik dibalik layar film 11:11 Apa Yang Kau Lihat? tak hanya sampai sebatas itu. Komedian cantik Twindy Rarasati yang juga berprofesi sebagai dokter, mengaku tertantang main film horor, karena ini film perdananya main di genre horor. “Maka kita akan lihat yang satu dokter dan satu lagi bidan, seperti apa aksi mereka bersama main film horor ini,” papar Kei.

Uniknya lagi yang jadi pembeda lain dalam film ini, ada pasangan suami isteri Randy Kejaenet dan Lady Nayoan tampil untuk pertama kali secara bersama di layar lebar. Tapi mereka tidak diplot sebagai pasangan suami isteri lho?. Namun uniknya, Randy main jadi anaknya Lady. ha…ha…ha…kerenkan,” pungkas Fitrin yang optimis dengan berbagai kisah menarik di film ini, akan memikat penonton pecinta film nasional berbondong-bondong menyaksikan film 11: 11 Apa Yang Kau Lihat? garapan sutradara muda Andi Manoppo ini.***pik

 

Ketua DPR Terima Sineas Livi Zheng

Ketua DPR RI Bambang Soesatyo mengajak seluruh warga Indonesia, termasuk para anggota DPR RI dan keluarganya, untuk menonton film ‘Bali: Beats of Paradise’ karya sutradara asal Indonesia yang berkarir di Hollywood, Livi Zheng. Film ini diangkat dari kisah nyata sepasang suami istri asal Indonesia, I Nyoman Wenten dan Nanik Wenten, yang sudah lebih 40 tahun mengenalkan budaya gamelan Bali di Amerika Serikat dan kancah internasional.

“Setelah sukses diputar di berbagai negara seperti Amerika Korea dan Filipina, film ‘Bali: Beats of Paradise’ akan diputar perdana di Indonesia akhir Juni 2019 dan serentak di seluruh bioskop awal Juli 2019. Kita harus mendukung karya anak bangsa ini dengan nonton bareng bersama keluarga, kerabat, maupun sahabat. Jika Walt Disney Studios dan Academy of Motion Picture Arts and Sciences Library (AMPAS) saja sudah memberikan apresiasi yang tinggi terhadap film ini, kita juga harus buktikan bahwa sambutan warga Indonesia harus lebih meriah dibandingkan warga dunia lainnya,” ujar Bamsoet usai menerima Livi Zheng di ruang kerja Ketua DPR RI, Jakarta, Senin (11/02/19).

 

Politisi Partai Golkar ini menilai Livi Zheng, gadis asal Blitar ini sukses memainkan peran diplomasi kebudayaan. ‘Bali: Beats of Paradise’ yang juga sempat diterima panitia Oscar 2019 untuk diseleksi menjadi nominator Best Movie ini sudah mengenalkan budaya kesenian, khususnya gamelan, dan eksotisme alam Indonesia ke dunia internasional.

“Banyak yang tidak tahu, bahkan mungkin di kalangan warga Indonesia sendiri, bahwa gamelan sudah dipakai untuk latar musik di film Avatar, serial TV Star Trex, dan game Nintendo Mario Bros. Banyak orang luar yang tidak mengetahui bahwa gamelan adalah alat musik khas tradisional Indonesia. Kita harus memberikan apresiasi kepada Livi Zheng karena telah membuat film ‘Bali: Beats of Paradise’, yang mengenalkan dan mempromosikan budaya Indonesia ke kancah internasional,” terang Bamsoet.

Legislator Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara, dan Kebumen ini yakin warga dunia yang menonton film ini akan penasaran seperti apa Indonesia sebenarnya. Rasa penasaran tersebutlah yang diharapkan membawa mereka datang secara langsung ke Indonesia.

“Jika sudah kesini, mereka pasti akan jatuh cinta. Karena Indonesia merupakan bagian dari surga dunia,” tutur Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini berharap ‘Bali: Beats of Paradise’ yang menampilkan pemenang Grammy Award, Judith Hill, bisa tembus mencapai 1 juta penonton di Indonesia. Antusiasme penonton Indonesia terhadap film tanah air sangat tinggi. Terbukti, banyak film yang bisa menembus 1 juta penonton seperti ‘Dilan 1990’, ‘Si Doel The Movie’, ‘A Man Called Ahok’, ‘Wiro Sableng’, dan ‘Keluarga Cemara’.

“Setelah menyutradari film ‘Brush with Danger’ (2014), ‘Untitled Action Thriller’ (2015), dan ‘Bali: Beats of Paradise’ (2018), kita akan menunggu karya lainnya dari Livi Zheng. Mudah-mudahan kedepannya juga akan lahir sutradara maupun insan perfilman lainnya yang bisa menganggkat harkat, derajat, dan martabat Indonesia di mata dunia,” pungkas Bamsoet. (pik)

‘Antologi Rasa’ Tayang di Hari Valentine

Soraya Intercine Film mengawali 2019 dengan mempersembahkan film berjudul “Antologi Rasa” yang diangkat dari novel best seller Ika Natassa dan disutradarai Rizal Mantovani.

Rizal Mantovani mengatakan butuh waktu cukup lama dan persiapan matang dalam penggarapan film ini, demi mengedepankan kualitas gambar dan hasil maksimal.

“Kita mulai syuting pada April 2018, sebuah proses yang sangat panjang, kita sangat welcome sama proses yang lama ini, kita juga harus detil dari semuanya termasuk soundtrack dari film juga harus pas,” kata Rizal di Senayan, Jakarta, Sabtu.

Mengutip antaranews.com, Ika Natassa sebagai penulis juga menambahkan bahwa film ini mempunyai proses yang panjang dikarenakan untuk bisa mencocokkan sama dengan yang ada di buku.

 
“Proses yang memakan waktu banyak adalah bagaimana urutan scene dan cara menyampaikan dialog utnuk sama dengan yang di buku,” tambahnya.

Junot yang memerankan Harris di film ini mengaku bahwa melalui “Antologi Rasa”, ia bisa menjadi karakter baru dari film sebelumnya dan meninggalkan kesan berbeda.

“Saya cuma bisa memberikan penafsiran yang baik. Karakter di film ini bisa menjadi karakter yang another zapran atau film saya yang lainnya,” ujar Junot.

Film ini bercerita tentang empat orang banker yang telah berteman sudah bertahun-tahun yang diperankan oleh Herjunot Ali sebagai Harris, Carissa Perusset sebagai Keara, Rafael Hady sebagai Ruly, Atikah Suhaime sebagai Denise dan Angel Pieters sebagai Dinda.

 
Ternyata mereka semua diam-diam menyimpan rasa.

Berawal dari Harris yang cinta mati terhadap Keara, namun Keara menaruh perasaannya kepada Ruly.

Sedangkan Ruly sudah menambatkan hatinya untuk orang lain. Sayangnya, sosok orang lain itu telah menikah.

 
Film Antologi Rasa akan tayang di bioskop bioskop Indonesia mulai tanggal 14 Februari 2019. ***pik

Jin Biru dalam Trailer Aladdin Terbaru

PENAMPILAN trailer  terbaru “Aladdin” dari  Disney  untuk pertama kalinya memperlihatkan  Will Smith sebagai Jin dalam rupa sepenuhnya biru.

Dua puluh tujuh tahun setelah animasi “Aladdin” yang klasik itu, kini Disney merilis  trailer baru bertepatan dengan berlangsungnya acara Grammy Award yang digelar di Los Angeles pada Minggu malam.

Dalam trailer itu, selain Jin Smith, yang tinggi menjulang di atas Alena Mena Massoud dalam bentuk birunya yang terbungkus, kita dapat melihat Jafar yang jahat (yang diperankan oleh Marwen Kenzari), Putri Jasmine (Naomi Scott), dan kota Agrabah yang luas.

 


Smith mengambil peran sebagai Jin, sosok yang pada masa lalu dimainkan oleh Robin Williams, dengan tampilan yang  menjanjikan, saat tampil perdana di Entertainment Weekly Desember lalu untuk membawa “rasa hip hop“. Sutradara “Sherlock Holmes”, Guy Ritchie terpilih untuk menggarap film ini.

Navid Negahban akan memerankan Sultan dengan Billy Magnussen memainkan  karakter baru bernama Pengeran Anders.

Frank Welker akan mengulangi perannya sebagai pengisi suara untuk Abu, monyet  nakal piaraan Aladdin, serta suara ajaib Gua, penjaga pasir yang ditampilkan dalam trailer teaser pertama yang dirilis pada bulan Oktober.

Tidak ada kata tentang siapa yang akan menyuarakan Iago, burung beo Jafar – aktor asli Gilbert Gottfried dilaporkan tidak terlibat dalam film. Lagu-lagu asli dari film 1992 akan dibuat ulang, bersama dengan beberapa musik baru dari komposer Alan Menken.***

Daftar Lengkap Pemenang Gammy Award 2019

Lady Gaga, Jada Pinkett Smith, Alicia Keys, Michelle Obama dan Jennifer Lopez saat pembukaan Grammy.

 

SELAIN Lady Gaga, siapa saja pesohor yang meraih sukses mendapatkan penghargaan paling bergengsi dalam industri musik di Amerika Serikat? Gelaran ini dibuka Lady Gaga, Jada Pinkett Smith, Alicia Keys, Michelle Obama dan Jennifer Lopez.

Cek daftar lengkap berikut ini:

 

Lagu Rap Terbaik 

Drake – God’s Plan – PEMENANG 
Kendrick Lamar, Jay Rock, Future and James Blake – King’s Dead
Eminem ft Joyner Lucas – Lucky You
Travis Scott, Drake, Big Hawk and Swae Lee – Sicko Mode
Jay Rock – Win

Album  country terbaik 
Kelsea Ballerini – Unapologetically
Brothers Osborne – Port Saint Joe
Ashley McBryde – Girl Going Nowhere
Kacey Musgraves – Golden Hour – PEMENANG 
Chris Stapleton – From a Room: Volume 2

Song of the year
Brandi Carlile – The Joke
Childish Gambino – This Is America – PEMENANG 
Drake – God’s Plan
Lady Gaga and Bradley Cooper – Shallow
Kendrick Lamar & SZA – All the Stars
Ella Mai – Boo’d Up
Shawn Mendes – In My Blood
Zedd, Maren Morris & Grey – The Middle

Best pop duo/group performance
Christina Aguilera ft Demi Lovato – Fall in Line
Backstreet Boys – Don’t Go Breaking My Heart
Tony Bennett and Diana Krall – ’S Wonderful
Lady Gaga and Bradley Cooper – Shallow – PEMENANG 
Maroon 5 ft Cardi B – Girls Like You
Justin Timberlake ft Chris Stapleton – Say Something
Zedd, Maren Morris and Grey – The Middle

Best pop solo performance
Beck – Colors
Camila Cabello – Havana (live)
Ariana Grande – God Is a Woman
Lady Gaga – Joanne (Where Do You Think You’re Goin’?) – PEMENANG 
Post Malone – Better Now

Ella Mai

Best pop vocal album
Camila Cabello – Camila
Kelly Clarkson – Meaning of Life
Ariana Grande – Sweetener – PEMENANG 
Shawn Mendes – Shawn Mendes
Pink – Beautiful Trauma
Taylor Swift – Reputation

 

Best traditional pop vocal album
Tony Bennet and Diana Krall – Love Is Here to Stay
Willie Nelson – My Way – PEMENANG 
Gregory Porter – Nat “King” Cole & Me
Seal – Standards (Deluxe)
Barbra Streisand – The Music … The Mem’ries … The Magic!

Best alternative music album
Arctic Monkeys – Tranquility Base Hotel & Casino
Beck – Colors – PEMENANG 
Björk – Utopia
David Byrne – American Utopia
St Vincent – Masseduction

Best country solo performance
Loretta Lynn – Wouldn’t It Be Great
Maren Morris – Mona Lisas and Mad Hatters
Kacey Musgraves – Butterflies – PEMENANG 
Chris Stapleton – Millionaire
Keith Urban – Parallel Line

Best country duo/group performance
Brothers Osborne – Shoot Me Straight
Dan + Shay – Tequila – PEMENANG 
Little Big Town – When Someone Stops Loving You
Maren Morris ft Vince Gill – Dear Hate
Bebe Rexha and Florida Georgia Line – Meant to Be

Best country song
Cole Swindell – Break Up in the End
Maren Morris ft Vince Gill – Dear Hate
Blake Shelton – I Lived In
Kacey Musgraves – Space Cowboy – PEMENANG 
Dan + Shay – Tequila

Best gospel album
Jekalyn Carr – One Nation Under God
Tori Kelly – Hiding Place – PEMENANG 
Jonathan McReynolds – Make Room
The Walls Group – The Other Side
Brian Courtney Wilson – A Great Work

Best Latin pop album
Pablo Alborán – Prometo
Claudia Brant – Sincera – PEMENANG 
Natalia Lafourcade – Musas
Raquel Sofia – 2:00 AM
Carlos Vives – Vives

Best Americana album
Brandi Carlile – By the Way, I Forgive You – PEMENANG 
Bettye Lavette – Things Have Changed
John Prine – The Tree of Forgiveness
Lee Ann Womack – The Lonely, the Lonesome & the Gone
The Wood Brothers – One Drop of Truth

Best compilation soundtrack for visual media
Call Me By Your Name
Deadpool 2
The Greatest Showman – PEMENANG 
Lady Bird
Stranger Things

 

Kacey Musgraves

Best song written for visual media
All The Stars — Kendrick Duckworth, Solána Rowe, Alexander William Shuckburgh, Mark Anthony Spears & Anthony Tiffith, songwriters (Kendrick Lamar & SZA)
Mystery Of Love — Sufjan Stevens, songwriter (Sufjan Stevens)
Remember Me — Kristen Anderson-Lopez & Robert Lopez, songwriters (Miguel Featuring Natalia Lafourcade)
Shallow — Lady Gaga, Mark Ronson, Anthony Rossomando & Andrew Wyatt, songwriters (Lady Gaga & Bradley Cooper) – PEMENANG 
This Is Me — Benj Pasek & Justin Paul, songwriters (Keala Settle & The Greatest Showman Ensemble)

Best music video
APES*** — The Carters, Ricky Saiz, video director; Mélodie Buchris, Natan Schottenfels & Erinn Williams, video producers
This Is America — Childish Gambino, Hiro Murai, video director; Ibra Ake, Jason Cole & Fam Rothstein, video producers – PEMENANG 
I’m Not Racist Joyner Lucas & Ben Proulx, video directors; Joyner Lucas, video producer
Pynk — Janelle Monáe, Emma Westenberg, video director; Justin Benoliel & Whitney Jackson, video producers
Mumbo Jumbo — Tierra Whack Marco Prestini, video director; Sara Nassim, video producer

Best comedy album
Annihilation — Patton Oswalt
Equanimity & The Bird Revelation — Dave Chappelle – PEMENANG 
Noble Ape — Jim Gaffigan
Standup For Drummers — Fred Armisen
Tamborine — Chris Rock

Best dance/electronic album
Singularity —Jon Hopkins
Woman Worldwide — Justice – PEMENANG 
Treehouse — Sofi Tukker
Oil of Every Pearl’s Un-Insides — SOPHIE
Lune Rouge — TOKiMONSTA

Best rap performance
Cardi B – Be Careful
Drake – Nice for What
Kendrick Lamar, Jay Rock, Future and James Blake – King’s Dead – DRAW
Anderson .Paak – Bubblin – DRAW
Travis Scott, Drake, Big Hawk & Swae Lee – Sicko Mode

Best traditional R&B performance
Leon Bridges – Bet Ain’t Worth the Hand – DRAW
Bettye LaVette – Don’t Fall Apart on Me Tonight
Major. – Honest
PJ Morton ft Yebba – How Deep Is Your Love – DRAW
Charlie Wilson ft Lalah Hathaway – Made for Love

Best R&B song
Ella Mai – Boo’d Up – PEMENANG 
Miguel ft J Cole and Salaam Remi – Come Through and Chill
Childish Gambino – Feels Like Summer
HER – Focus
Toni Braxton – Long As I Live

Best rap/sung performance
Christina Aguilera ft Goldlink – Like I Do
6lack ft J Cole – Pretty Little Fears
Childish Gambino – This Is America – PEMENANG
Kendrick Lamar & SZA – All the Stars
Post Malone ft 21 Savage – Rockstar

Producer of the year, non-classical
BoI-1DA
Larry Klein
Linda Perry
Kanye West
Pharrell Williams – PEMENANG

Best rock song
Greta Van Fleet – Black Smoke Rising
Twenty One Pilots – Jumpsuit
Bring Me the Horizon – Mantra
St Vincent – Masseduction – PEMENANG
Ghost – Rats

Best rock performance
Arctic Monkeys – Four Out of Five
Chris Cornell – When Bad Does Good – PEMENANG
The Fever 333 – Made an America
Greta Van Fleet – Highway Tune
Halestorm – Uncomfortable

Best rock album
Alice in Chains – Rainier Fog
Fall Out Boy – Mania
Ghost – Prequelle
Greta Van Fleet – From the Fires – PEMENANG
Weezer – Pacific Daydream

Best metal performance
Between the Buried and Me – Condemned to the Gallows
Deafheaven – Honeycomb
High on Fire – Electric Messiah – PEMENANG
Trivium – Betrayer
Underoath – On My Teeth

Best urban contemporary album
The Carters – Everything Is Love – PEMENANG
Chloe x Halle – The Kids Are Alright
Chris Dave and the Drumhedz – Chris Dave and the Drumhedz
Miguel – War & Leisure
Meshell Ndegeocello – Ventriloquism***

Lady Gaga Rebut Tiga Grammy Award

Lady Gaga saat menyampaikan kesannya setelah menerima penghargaan Grammy Award untuk best pop duo performance dalam acara penghargaan tahunan yang ke-61 itu.

GRAMMY Award 2019 untuk Lady Gaga! Pada gelaran Grammy yang dilangsungkan di Los Angeles memborong tiga penghargaan.

Penyanyi multi tallent –ia juga adalah penulis lagu dan aktris– bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta, merebut piala untuk kategori penampilan duo/grup terbaik melalui “Shallow” yang dinyanyikan bersama dengan Bradley Cooper dalam  “A Star Is Born”. Dua penghargaan lain yang direbutnya adalah untuk “Joanne” dan “Shallow”.

Penyanyi kelahiran 28 Maret 1986 di  Lenox Hill Hospital, New York City ini,  mengungkapkan kebanggaannya menjadi  bagian dalam “A Star Is Born” yang membawa pesan akan pentingnya kesehatan mental.

Lady Gaga mengungkapkan, bahwa di kalangan pekerja seni juga banyak yang berurusan dengan masalah kesehatan mental. Untuk itu, sebagai seniman harus bisa saling menjaga dan jangan sampai   cuek saja atas apa yang terjadi pada rekan sesama seniman.

“Jika aku tidak mendapatkan kesempatan lain untuk mengatakan ini, aku hanya ingin mengatakan aku
sangat bangga menjadi bagian dari lm yang membahas masalah kesehatan mental, mereka sangat
penting,” ujarnya seperti dikutip  situs berita entertainment, E!.

Lady Gaga sukses meraih penghargaan ini setekah mengungguli pesaingnya seperti Christina Aguilera dan Demi Lovato untuk “Fall in Line,” Backstreet Boys untuk “Don’t Go Breaking My Heart,” Tony Bennett dan Diana Krall untuk “S Wonderful,” Maroon Five dan Cardi B untuk “Girls Like You,” Justin Timberlake dan Chris Stapleton untuk “Say Something,” dan Zedd, Maren Morris dan Gray untuk “The Middle.”

“Terima kasih, terima kasih banyak. Saya harus berterima kasih kepada Tuhan. Terima kasih telah
memperhatikanku, terima kasih untuk keluargaku di rumah, saya  mencintai kalian. Terima kasih, kuharap
Bradley ada di sini bersamaku sekarang … Bradley, saya suka menyanyikan lagu ini bersamamu,” kata Gaga.

Selain naik panggung untuk mengangkat piala yang didapatkannya, Lady Gaga juga ditugaskan untuk membantu membuka acara bersama Alicia Keys, Jada Pinkett Smith, Jennifer Lopez dan Michelle Obama.***

 

RUU Permusikan, Prof Tjut Nyak Deviana: Saya Tolak Mentah-mentah RUU Ini!

Profesor Musik Tjut Nyak Deviana –foto medcom id

Bergulirnya pro kontra soal RUU Permusikan  membuat sejumlah praktisi musik membuat Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan (KNTLRUUP). Lebih dari 260 praktisi musik yang tergabung dalam koalisi tersebut.

KNTLRUUP menggelar dua agenda pertemuan, agenda pertama, jumpa pers KNTLRUUP  yang diwakili oleh Kartika Jahja, Arian Arifin, Mondo Gascaro, dan Wendi Putranto, dan Direktur YLBHI Asfinawati merilis Daftar Inventorisasi Masalah (DIM) dan delapan poin rekomendasi sebagai bentuk penolakan RUU Permusikan.

DIM yang dibuat oleh tim dari KNTLRUUP menemukan lebih dari 80% pasal yang ada dalam RUU Permusikan yang dinilai bermasalah. Untuk lebih lengkapnya mengenai naskah DIM ini dapat dilihat di kanal http://tolakruupermusikan.com/dim/

Setelah jumpa pers, agenda pertemuan dilanjutkan dengan melakukan diskusi terbuka membedah RUU Permusikan yang dihadiri oleh kalangan praktisi musik seperti, Endah Widiastuti, Glenn Fredly, Prof.Tjut Nyak Deviana, dan juga dari Koalisi Seni Indonesia Havez Gumay, serta direktur YLBHI Asfinawati.

“Bahasa dalam RUU Permusikan ini sama sekali tidak mewakili bahasa musik. Lalu satu lagi, setelah naskah dirancang, kita harus menggunakan bahasa hukum, yang mana di sini juga tidak jadi. Intinya, 95% rancangan ini harus direvisi. Saya tolak mentah-mentah RUU ini,” kata Prof Tjut Nyak Deviana dalam diskusi tersebut.

Di sela diskusi, Cholil Mahmud via konferensi video dari New York City juga mengemukakan kronologis beredarnya draft RUU Permusikan hingga terbentuknya KNTLRUUP. “Pada akhir Januari lalu, Glenn mengajak saya untuk bertemu ketua DPR, Bambang Soesatyo dalam rangka mengkritisi draft RUU Permusikan. Karena saya menemukan banyak kesalahan substansi yang mendasar dalam Naskah Akademik dan RUU Permusikan, lalu saya ngobrol dan diskusi dengan banyak teman-teman komunitas musisi kemudian kami melakukan pergerakan bersama untuk mengawal RUUP ini,” kata Cholil.

Sementara untuk delapan poin rekomendasi yang dirilis KNTLRUUP adalah sebagai berikut:

1.RUU Permusikan ini menunjukkan kegagalan tim penyusun naskah akademik dan RUU Permusikan dalam merumuskan naskah akademik dan menyusun RUU yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Ketidakterbukaan atas proses penyusunan RUU-P sebagai informasi publik bertentangan dengan asas keterbukaan Pasal 5 UU No. 12 Th. 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Ini bisa dilihat dari draf RUU yang selesai 15 Agustus 2018 namun baru bisa diakses dan ramai di publik Februari 2019.

2.Naskah akademik yang secara fundamental tidak memenuhi standar ilmiah sehingga tidak layak digunakan sebagai basis RUU. Kekurangannya yang begitu fatal membuat merevisi adalah sebuah upaya yang sia-sia karena yang dibutuhkan adalah membuat ulang naskah ini agar dapat menjawab kebutuhan, melindungi, serta mendukung ekosistem permusikan di Indonesia. Bertentangan dengan asas kejelasan tujuan dan kejelasan rumusan di Pasal 5 UU No. 12 Th. 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

3.Setelah melakukan kajian terhadap draf RUU Permusikan yang ada, KNTLRUUP menemukan bahwa terdapat permasalahan pada hampir keseluruhan pasal yang ada. Masalah yang ditemukan mulai dari masalah substansi, disharmonisasi dengan peraturan perundang-undangan lain, potensi penafsiran ganda, hingga ketidakcermatan dalam perancangan pasal. Hampir semua pasal yang kami sisir di Daftar Inventarisasi Masalah (lebih dari 80%) problematis sehingga harus ditolak.

Pasal-pasal di dalam RUU ini tidak menjawab identifikasi masalah tentang kesejahteraan pekerja musik/pengaturan pemerintah dalam menjamin ekosistem musik yang adil. Justru pasal-pasal di dalam RUU ini berpotensi membatasi ruang gerak dan menyensor kebebasan berekspresi musisi. Pengusulan revisi akan percuma karena berdasarkan penyisiran Pasal yang kami lakukan mencerminkan bahwa jika diubah, maka semua proses harus diulang dari awal, termasuk mengulang dari penyusunan naskah akademik yang menyeluruh, mendalam, serta benar-benar merefleksikan kebutuhan dan daya guna RUU ini.

4.Perlunya pengkajian akademik dari awal yang melibatkan perwakilan pekerja musik dari berbagai latar belakang (termasuk musisi independen, tradisi, daerah, jalanan, dll) sesuai dengan amanat UU No. 12 Th. 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan, agar benar-benar memahami dan merumuskan kebutuhan dan tantangan permusikan hari ini.

Kajian ini akan menelisik bagaimana  pemerintah dapat menjadi fasilitator bukan controller, yang melibatkan organisasi-organisasi yang memiliki kompetensi dan pengalaman akar rumput di permusikan Indonesia sejak awal, bukan saja pemain-pemain besar di industri musik hari ini. Hal ini penting, sebab musik yang lahir dari komunitas dan masyarakatlah yang menghidupkan kebudayaan.

5.Salah satu rekomendasi untuk memetakan kebutuhan musik di Indonesia, kajian akademik perlu disinergikan dengan Undang-undang Hak Cipta No. 28 Th. 2014 dan Undang-Undang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam No. 13 Th. 2018, di mana keduanya erat berkaitan dengan pelindungan kepada para pihak terkait di dunia musik, serta inisiatif turunan dari Undang-undang Pemajuan Kebudayaan No. 5 Th. 2017 dengan 302 PPKD (Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah) Kabupaten/Kota, dan 31 PPKD Provinsi, yang sedang dikumpulkan Ditjenbud. Di dalam PPKD, musik sebagai salah satu obyek pemajuan kebudayaan dapat diidentifikasi dan ditelaah kondisi dan kebutuhan untuk pengembangannya sesuai dengan konteksnya.

6.Meminta Pemerintah dan Lembaga Legislatif untuk selalu mendukung proses kreasi dan ekosistem musik Indonesia yang transparan, partisipatif, peduli dengan kebinekaan serta terbuka dalam menyikapi kemajuan peradaban dalam permusikan Indonesia. Dukungan ini bisa diwujudkan dalam bentuk kebijakan atau peraturan perundang-undangan yang harus mengacu pada hasil kajian dan diskusi lintassektor yang tepat.

Bentuknya bisa merevisi UU yang sudah ada, membuat RUU dari awal, atau mendorong kebijakan-kebijakan yang memfasilitasi penguatan ekosistem musik yang sehat.

7.Menimbang semua poin di atas, proses ini akan membutuhkan waktu dan partisipasi banyak pihak sehingga tidak bisa dilakukan secara terburu-buru. Ada baiknya juga sebagai konstituen kita memprioritaskan RUU yang lebih memiliki urgensi untuk segera dibahas di Prolegnas.

8.Sekali lagi. Menegaskan bahwa menolak draf RUU Permusikan ini justru karena kami peduli dan tidak mau solusi untuk menjamin perkembangan dan kemajuan ekosistem musik di Indonesia prematur dan tidak berdasar pada kajian, diskusi dan partisipasi aktif para pekerja musik di Indonesia. (pik)

Trisouls Rilis ‘Menarilah’

Trisouls–foto istimewa

Jakarta tidak berhenti melahirkan karya-karya dari musisi berbakat. Kecintaan dan hasrat tiga penyanyi pria, Yerry Ririassa, Damien Jonathans, dan Jesse Thomasmore, yang bertemu dalam sebuah acara bertajuk Orchestronic pada tahun 2016 memantapkan mereka untuk membentuk sebuah grup vokal dengan nama Trisouls.

Tiga karakter vokal berbeda yang menyatu ini telah meliris beberapa karya sejak grup ini terbentuk, sebut saja Senyummu Hanya Untukku, Terbawa Perasaan, Isyarat, dan Love. Karya-karya mereka pun sejauh ini telah mencapai lebih dari dua juta streams di Spotify dengan lebih dari tiga puluh lima ribu monthly listeners.

Selain karya-karya original, Trisouls juga sering merilis cover lagu-lagu dari musisi lainnya, seperti Pillowtalk dari Zayn Malik, Cant Stop The Feeling milik Justin Timberlake, dan lagu-lagu dari idola mereka, Kahitna yang sudah ditonton lebih dari 38 ribu penonton.

Mengawali tahun 2019, Trisouls kembali merilis karya terbaru yang berjudul Menarilah. Sebuah lagu dengan lirik romantis berbalut aransemen vokal berciri khas masing-masing personil yang terdengar menyatu.

Lagu yang ditulis oleh Trisouls bersama dengan Mytha Lestari ini menggambarkan sebuah moment romantis sepasang kekasih yang tengah memadu kasih.

“Menarilah bersamaku, melebur menjadi satu..” adalah penggalan lirik pembuka single terbaru Trisouls yang menggambarkan betapa romantisnya suasana di dalam lagu ini. Lagu ini cocok untuk mengiringi saat-saat romantis pasangan yang tengah berbahagia.

Trisouls mengharapkan lagu yang diproduseri oleh Barry Maheswara ini bisa menjadi saksi yang mengiringi moment bahagia ketika sepasang kekasih mengikrarkan janji suci mereka.

Menarilah, bersama Trisouls. (pik)

 

Judi Online Bikin Rumah Tangga Delon-Yeslin Hancur

Tujuh tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama Delon, akhirnya kandas. Yeslin Wang mengaku sedih, namun lega. Ia tak ingin menengok ke belakang lagi. Kini saatnya bangkit dan menata masa depannya. Apa yang dialaminya adalah pembelajaran yang sangat berharga dalam hidupnya.

“Saya terima semuanya. Ini sudah takdir saya. Untuk kedepannya, semoga saya bisa lebih wise. Lebih dewasa. Lebih pandai memilih pasangan hidup,” paparnya. Osner Johnson Sianipar, kuasa hukum Yeslin Wang menambahkan, “Yeslin bilang, semoga saya bisa bekerja, berkarya dan bebas .”

Yeslin Wang dan Delon menikah pada tanggal 20 Mei 2011. Pernikahan mereka tidak dikaruniai anak. Pada 8 Agustus 2018 lalu, Yeslin lewat kuasa hukumnya mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Negeri Jakarta Barat. Awal Februari lalu, gugatan cerai Yeslin dikabulkan Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Ketidakharmonisan rumah tangga Delon dan Yeslin Wang sudah diketahui sejak tak ada lagi foto-foto kebersamaan mereka di media sosial. Delon sempat membantah rumah tangganya goyang. Penyanyi jebolan Indonesian Idol itu beralasan dirinya dan Yeslin pisah rumah lantaran memiliki anjing yang banyak. Sehingga tidak bisa tinggal di apartemen dan mengharuskan Yeslin pindah ke rumah.

“Beneran nggak ada apa-apa, kan kemarin gue udah jelasin kan gue ada anjing lima, tiga ikut dia karena gue tinggal di apartemen. Ya tiga ikut dia, dua di gue. Jadi kalau lima di apartemen diomelin sama tetangga,” kata Delon kala itu.

Namun akhirnya terbukti ucapan Delon hanyalah alasan. Kuasa Hukum Yeslin, Osner, mengungkapkan, keretakan rumah tangga kliennya dengan Delon justru karena judi online.

“Yeslin coba bertahan dan berkali-kali memberi nasehat tapi Delon tak bisa berubah,” ungkap Osner. “Delon sempat jual emas, mobil dan rumah mereka demi bayar hutang Delon,” papar Osner yang menampik bukan karena tiadanya anak alasan perceraian tersebut.***ipik

 

Soal RUU Permusikan Mengekang Kreativitas Seniman

Wendi Putranto–foto istimewa

RUU Permusikan dibuat untuk mengatur dua hal yang dianggap belum ada di undang-undang yang belum disahkan, yakni tata kelola dan pendidikan musik. Sayangnya, ada pasal-pasal yang dianggap berbahaya bagi dunia musik bila RUU itu disahkan.

Menurut pengamat musik dan manajer grup band Seringai, Wendi Putranto mewakili sejumlah pelaku yang menolak dalam Koalisi Nasional Tolak RUU Permusikan (KNTL RUUP), draf RUU Permusikan yang ada saat ini justru lebih mengatur proses kreatif dan berkesenian musisi ketimbang industrinya.

“Di rancangan undang-undang menurut saya sih bukan mengatur industri musik tapi seniman. Itu yang bahaya. Seharusnya yang diatur bagaimana pemerintah memfasilitasi seniman untuk berkarya,” kata Wendi Putranto di temui di Cilandak Town Square, Jakarta Selatan.

Wendi memberi contoh misalnya pasal 5 dan 50 dimana yang diatur adalah proses pembuatan sebuah lagu. Pasal itu dikhawatirkan akan mencederai kebebasan berkarya.

“Nah, yang kita sesalkan, bunyi pasal melarang di proses kreasi, bukan di kontennya. Jadi bagaimana musiknya tidak mengandung kontroversi, kekerasan seksual, menghina agama ketika berkreasi diawal. Itu kan mengekang kan, itu berarti bertentangan dengan UUD 1945 produk hukum tertinggi yang ada di Indonesia kan itu, misalnya UU Hak Cipta dan UU Kebudayaan,” terangnya. (pik)