FFI 2025 Diluncurkan: Efisiensi dan Puspa Warna Sinema Indonesia

Festival Film Indonesia (FFI) adalah cermin keberagaman dan inspirasi sinema Nasional.

“Pemerintah mendukung penuh dalam perkembangan industri film Nasional. Dan FFI menjadi ruang selebrasi keberagaman budaya dan dorongan bagi sineas kita untuk berkarya lebih berani,” kata Menteri Kebudayaan Fadli Zon yang meluncurkan poster dan logo FFI 2025 di Rumah Kaca Melati, Hutan Kota Plataran, Jakarta, baru-baru ini.

FFI bukan hanya ajang penghargaan tetapi juga konsolidasi ekosistem film agar makin kompetitif secara global.

“Perayaan FFI sudah berjalan 70 tahun sejak tahun 1955. Kita ingin perfilman Indonesia makin diakui dunia,” harap Fadli Zon.

Mengusung tema ‘puspa warna sinema Indonesia’, Ketua Komite FFI 2025 Ario Bayu menilai film Indonesia telah menjadi tahun emas belakangan ini.

Fadli Zon, Menteri Kebudayaan/Foto: dok Kementerian Kebudayaan

“Kualitas cerita naik, produksi bertumbuh pesat dan kehadiran genre animasi menjadi tanda industri kita makin kuat,” ujar Ario Bayu.

Insan dan lembaga perfilman yaitu Kemenbud, Badan Perfilman Indonesia (BPI), asosiasi profesi dan komunitas film semua bersinergi dan menjadi refleksi selebrasi bersama.

“Ini kunci agar ekosistem film kita makin solid,” tegas Ario Bayu.

Sependapat Ketua bidang Penjurian, Budi Irawanto.

“Sistemnya telah disempurnakan berdasar evolusi karya budaya para sineas.  Aspek kualitas dan kuantitas berjalan seimbang dan ini target kita,” jelas Budi Irawanto.

Gayung bersambut dengan penjelasan Ketua bidang Program Prilly Latuconsina.

“Road to FFI akan tetap jalan. Tahun 2024 keliling kampus dan tahun ini kita hadir di festival film lokal. Hal ini kesempatan bagi sineas daerah unjuk karya.

“Sineas muda saatnya percaya diri berkarya,” ucap# Prilly.

Kepanitiaan FFI 2025 yang lain adalah Ein Halid (Pengembangan Usaha dan Pemasaran), Aryani Lydia (Kepala Sekretariat), Rahajeng Paramesrani (Keuangan), Michael Ratnadwiyanti (Humas Penjurian) dan Rangga Djoned (bidang Kreatif).

Dua figur publik yaitu Sheila Dara dan Ringgo Agus Rahman diangkat sebagai Duta FFI 2025.

“Ini wajah-wajah baru bersemangat inovasi dan Bhinneka sinema Indonesia,” timpal Ario Bayu menambahkan budaya efisiensi seperti dicetuskan Presiden Prabowo Subianto tetap akan dijalankan dalam penyelenggaraan FFI 2025.

FFI 2025 membuka karya dan kritik film mulai 1 Juli s d 31 Agustus 2025. Seleksi 1 September s d 31 Oktober 2025.

Nominasi Oktober 2025

Malam Anugerah Piala Citra FFI 2025 digelar November 2025. Tempat penyelenggaraan akan ditentukan kemudian. (pik)

Lorong Kost: Leony Kwek Kwek Jadi Polwan Penyidik

JAYAKARTA NEWS— Produksi perdana Minka Rosie Productions bertajuk ‘Lorong Kost’ ini akhirnya pecah telur. Dari 5 produksi filmnya ini, Lorong Kost akan dirilis 26 Juni 2025.

Disutradarai Ganank Dera, film ini mengeksplore ketakutan manusia yang bersumber dari tekanan hidup, kesendirian dan trauma masa lalu.

“Ini tak sekadar horor biasa, ada jumps care di ujung cerita. Penuh perenungan yang kontemplatif,” kata Ganank Dera.

Berkisah di sebuah kost tua sunyi yang penuh misteri dan atmosfir kesuraman.

“Tentang arwah yang tak benar-benar pergi. Dan ini menelusuri rahasia kelam yang terkubur di balik tembok lusuh di kost tua,” urai produser Elline.

Ada kematian di balik kematian Tania, penghuni kost. “Ini horor psikologis yang menegangkan dan menyeramkan,” ungkap Amel Alvi, pemeran utama.

Amel Alvi, pemeran utama (foto dera)

Pemeran lain Lucky Moniaga berpendapat sebangun. “Syutingnya pakai selamatan dan doa. Agar semua selamat dari mara bahaya dan gangguan arwah penasaran,” timpal Lucky Moniaga.

Yang istimewa penampilan Leony Vitria Hartanti di ujung cerita.

Leony  yang dulu vokalis Trio Kwek Kwek ini berperan sebagai polwan penyidik yang menyelidiki kematian Tania.

Lorong Kost juga diramaikan seabreg artis yaitu Yatie Surachman, Ence Bagus, Nadhira Hill, Larasaty Zilly, Gibran Marten, Aina, Lucky Moniaga, Amel Alvi dan penampilan khusus Leony Vitria Hartanti.

Apakah Tania tewas bunuh diri atau dibunuh seseorang,  serba musterius.

Gelap.

Temukan saja jawabnya di Lorong Kost di bioskop Kamis, 26 Juni 2025. (pik)

Jodoh 3 Bujang: Terbentur Budaya Keluarga Bugis Makassar dan Tekanan Orang Tua

Disutradarai Arfan Sabran dan ditulis Erwin Wu dan Alwi Shihab, film produksi StarVision dan Flicks berjudul ‘Jodoh 3 Bujang’ dibintangi Jourdy Pranata, Aisha Nurra Datau, Maizura, Christoffer Nelwan, Barbie Arzetta, Rey Bong, Elsa Japasal, Arswendy Bening Swara, Cut Mini, Nugie, Iwan Coy, Zakaribo, Leroy Osmani, Nunu Datau, Musdalifah Basri, Arla Ailani, Herry Chan dll.

Mengambil latar dari keluarga Bugis-Makassar, film ini menceritakan tiga bujang bersaudara, Fadly, Kifly dan Ahmad.

Mereka bertiga diminta orang tuanya untuk nikah kembar karena keterbatasan biaya dalam memenuhi tradisi.

Namun, calon Fadly mendadak dijodohkan orang tuanya dengan pria yang lebih mapan. Fadly harus menemukan jodoh penggantinya di waktu singkat yang tersisa atau pernikahan kembar mereka terancam batal.

“Namun, mencari jodoh tak mudah. Belum lagi, dengan tekanan sosial dan tradisi yang ikut membuat Fadly kian tersudut,” kata produser Chand Parwez Servia.

Sementara kedua saudaranya dengan pasangannya, yang sudah lebih siap ikut kegantung pernikahannya, membuat situasi semakin rumit.

“Film ini memberikan perspektif baru  yang memperkaya perfilman Indonesia,” imbuh Chand Parwez.

Menurut data Statista, ada 4,6 juta pengguna dating app di RI pada tahun 2024.

“Ditengah perkembangan dinamis kota Makassar, juga masih ada tradisi yang dianut dan dijalankan. Di film ini, saya ingin memperlihatkan bagaimana pergeseran tradisi serta dampaknya, baik terhadap generasi yang lebih tua maupun generasi muda sekarang,” kata Arfan Sabran.

Aisha Nurra Datau yang memerankan Rifa, teman dekat Fadly semasa kuliah,  dengan statusnya sebagai anak wanita tunggal Bugis yang sudah lulus S2 dan pernah umrah, justru takut jika uang panai nya terlalu tinggi dan memberatkan calon jodohnya.

“Pendapatku selain bawa tradisi, film Jodoh 3 Bujang mengartikulasikan ‘a fresh pack of idea of womans thinking’ yang ada di daerah. Baik Rifa mapun Nisa (pacar semula Fadly yang berjalan 3 tahun) keduanya mengalami konflik batin,” timpal Aisha Nurra Datau.

Jodoh 3 Bujang akan tayang di bioskop mulai 26 Juni 2025. (pik)

Pertunjukan Musikal Keluarga Cemara Pentas Ulang

JAYAKARTA NEWS— Setelah sukses dihelat tahun silam dengan ditonton 30 ribu orang, kini pertunjukan panggung musikal Keluarga Cemara akan pentas ulang di Ciputra Artpreneur Jakarta pada 20 Juni hingga 13 Juli 2025.

“Pertunjukan kali ini disajikan lebih megah untuk membawa penonton #kembalikekeluarga. Koreografi tari lebih semarak, desain artistik panggung hingga aransemen lagu yang diperbarui guna memberikan pengalaman yang lebih hangat dan mengesankan,” kata sutradara Pasha Prakasa.

Diproduseri Cristian Immanuel, Billy Gamaliel dan Chriskevin Adefrid, musikal Keluarga Cemara akan tampil berbeda dengan edisi perdananya.

Dengan susunan keluarga Abah dan Emak kini diperbarui dengan jajaran pemeran baru yang membawa energi segar ke atas panggung.

“Adegan pada setiap babak akan dikembangkan jadi lebih emosional dan mengajak penonton untuk kembali merasakan nilai-nilai keluarga yang penuh makna dan kehangatan,” imbuh Pasha Prakasa.

Produksi Visinema Studios (yang membuat film animasi Jumbo) dan Indonesia Kaya ini bisa menjadi katalisator bagi makin berkembangnya ekosistem musikal di Indonesia dan yang terpenting, menjadi hiburan berkualitas yang dapat dinikmati oleh banyak keluarga Indonesia.

Dibintangi Taufan Purbo, Simhala Avadana (anak Tetty Kadi), Andrea Miranda (anak Purwacaraka) dan Galabby yang kembali memerankan karakter Abah dan Emak.

Sedangkan Amira Karin, Aisyah Fadhila, Fazka Bahanan dan Quinn Salman masing-masing akan kembali menjadi Euis dan Ara.*** pik

Rabi Jiwo, Menikahi Mayat: Come Back-nya Ramon Y Tungka

JAYAKARTA NEWS— Tradisi Rabi Jiwo alias menikahi mayat masih dilakukan oleh sebagian masyarakat yang percaya memanggil kekuatan dari alam kematian.

Kisahnya tentang anak muda beda kasta yang terlibat cinta.

Demi mendapat kekasihnya seorang pemuda rela melakukan cara memanggil kekuatan dari alam gaib. Ini teror mengerikan dan tak ia bayangkan sejak semula.

Sejak kecil Gimin menyintai Ningsih, gadis cantik anak juragan desa. Cintanya tak mulus. Gimin menerima hinaan dan penolakan dari keluarga Ningsih.

Alhasil, Gimin mengambil jalan pintas melakukan rabi jiwo (menikahi jenazah alias mayat).

Apa yang didapat adalah bahaya yang mengancam dirinya.

“Kita syuting di Blora, Cepu dan Lasem. Ada cuaca ektrim di wilayah pesisir. Dukungan dari Pemda sangat menentukan dan masyarakat di daerah menyambut antusias para aktor,” kata sutradara Agus H Mawardy kepada penulis usai galprem film ini.

Agus H Mawardy yang dikenal berkat film buatannya yaitu ‘Valentine’ dan ‘Bonnie’ mengaku syuting di pesisir Jawa kerap break karena turun hujan lebat dan cuaca yang ekstrim.

“Namun saya salut ketulusan dan kemantapan para pemeran yang berakting sangat bagus dan tanpa kenal lelah. Saya puji seni peran mereka,” urai Agus H Mawardy.

Rabi Jiwo produksi TNG Khan yang akan dirilis 26 Juni 2025 ini mencuri perhatian penonton karena dua aktor pemerannya come back ke dunia film.

Ramon Yusuf Tungka dan Shahnaz Sadiqah tampil kembali sebagai pemeran utama secara meyakinkan.

“Ciri khas film ini adalah adegan laga dan selipan humor yang membedakan dengan film-film sejenis,” jelas Ramon Yusuf Tungka yang pernah unjuk diri di film ‘Labuan Hati’ beberapa tahun silam.

Film ini juga diperkuat kehadiran aktor watak  Tyo Pakusadewo, Varissa Camelia, Lisa Mae, Budy Bima, Sania Velova dan Sri Yatun (aktris Teater Koma). Plus asisten laga yaitu Fandy Fight.

Para produser yang memfasilitasi film ini dari olahraga bela diri yaitu Wahyudi ‘beksi’, Tejo Sulaksono, Ali Massae, Atmi S dan Ical Labarani. (pik)

Film Syirik Tayang Kamis, Nikita Mirzani Masih Mendekam di LP Tangerang

JAYAKARTA NEWS— Karena tersangkut suatu masalah dan masih ditahan di LP Tangerang, aktris Nikita Mirzani tak bisa hadir di galprem film ‘Syirik: Danyang Laut Selatan’ yang dirilis di bioskop Kamis (19/6/2025).


“Nikita ingin datang tapi tak bisa. Gak dapat izin. Dia hanya titip pesan agar film Syirik sukses,” kata pengacara Fachmi Bahmid tentang klien nya.


Nikita memang belakangan ramai disorot karena kontroversial.


Namun, sutradara Hestu Saputra mendoakan agar Nikita bisa cepat menghirup udara bebas.
“Dia sebagai penari ledek bermain bagus dan cemerlang. Gesture nya pas,” ujar Hestu Saputra dalam press screening Syirik di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin (16/6) kemarin.

Richelle Skornicki berusia 16 tahun ikut meramaikan Syirik (foto ganesa)


Produksi Ganesa Films ini menggali kengerian akar budaya, kepercayaan Islam dan praktik sesat di masyarakat dengan cerita yang menyentuh, spiritual dan emosional.
“Saya mengemas film ini secara sinematik dan otentik. Lokasinya di Wonosari dan pantai selatan Jawa,” ungkap Hestu.


Exotisme keindahan alam berhasil disulap menjadi dunia magis yang ngeri di desa Laut Selatan. Santet dan ilmu hitam masih dipercaya dan dipraktikkan oleh masyarakat Jawa. Ada pulung gantung, ritual korban dan wayang kulit manusia serta mitos-mitos sesat berkeliaran di tengah perkampungan santri yang masih ketat menjalankan syariat agama dan menjalankan ajaran-ajarannya.


“Syirik adalah perbuatan menyekutukan Allah SWT dengan sesuatu atau siapa pun dalam hal ibadah dan keyakinan/perbuatan. Di Islam, ini dosa terbesar karena bertentangan dan menyimpang dengan prinsip Tauhid yaitu mengEsakan Tuhan,” pesan Hestu yang pernah lama bermukim di desa selatan Jawa.


Di sini, ki dalang dan lurah punya kekuasaan tak terbatas dan ambisi pengaruh yang otoriter. Sedangkan penari ledek dan tayub yang dipertunjukkan disertai sesaji juga dipercaya bisa menolak bala dan memengaruhi warga akan keselamatan dan hidup kekal di dunia.


“Saya hadirkan dimensi moral dan spiritual dalam balutan horor,” imbuh Hestu.
Syirik dimeriahkan ansambel pemeran berkualitas selain Nikita Mirzani yaitu Kinaryosih, Richelle Skornicki, Teuku Rassya, Donny Alamsyah, Totos Rasiti dan masih banyak lagi. (pik)

Jejak Lagu “Knockin’ on Heaven’s Door”,

Pencipta dan Penyanyi Pertama

Lagu ikonik ini pertama kali diluncurkan oleh Bob Dylan pada tahun 1973 sebagai bagian dari soundtrack film Pat Garrett & Billy the Kid.

Lagu dengan dua bait sederhana ini menggambarkan detik-detik kematian seorang sheriff dalam film tersebut.

Metafora mengetuk pintu surga  untuk menyiratkan ajal yang mendekat . 

Artis yang Mendaur Ulang Lagu Ini:

Sebelum Guns N’ Roses membawakan versi rock-nya di tahun 1990, lagu ini telah diaransemen ulang oleh berbagai musisi ternama: 

Eric Clapton (1975): Versi reggae yang masuk tangga lagu UK . 

Arthur Louis (1975): Kolaborasi dengan Clapton dalam aliran reggae. 

The Isley Brothers, U2, dan Avril Lavigne juga tercatat membawakan lagu ini dalam berbagai gaya. 

Kesederhanaan melodi dan lirik universal tentang perpisahan-kematian jadi kunci abadinya lagu ini.

Lirik Mama, take this badge off of me… yang simbolis menjadikan interpretasi beragam: Dari protes perang Vietnam (versi Dylan) hingga keputusasaan personal (versi GNR) .

Fleksibilitas aransemennya dari folk, reggae, hingga rock, juga memperluas jangkauan pendengar lintas generasi. 

Warisan Abadi

Daya adaptasi lagu ini membuktikan kekuatan karya Dylan: sebuah lagu yang terus hidup melalui ribuan cover, merangkul beragam emosi manusia.

Lagu ini bertahan selama 50 tahun sebagai sebuah “masterpiece”. ($@¥)

Ussy Pieters Rilis Single Perdana di Usia 71 Tahun

JAYAKARTA NEWS—  Di usia 71 tahun, musikus harpa legendaris Ussy Pieters meluncurkan single vokal perdananya bertajuk ‘Sampai Kapan’ ciptaan komposer Otte Abadi.

“Ussy, lagu ini milikmu,” ujar Otte Abadi yang belakangan bergabung ke band The Mercys.

“Saya tak pernah membayangkan akan merilis single vokal di usia setua ini. Semangat saya tumbuh kembali,” kata Ussy.

Ussy Pieters bukan nama baru di industri musik nasional.

Ia dikenal pemain harpa (harpais) senior. Bahkan ia telah merilis tiga album harpa instrumental dan unjuk diri bersama orkestra di panggung musik nasional dan internasional.

Kenapa Ussy tertarik memetik harpa ?

Ussy Pieters dan harpa favoritnya (foto ria)

“Dalam bayangan saya waktu kecil, seolah melihat malaikat bermain harpa. Saya ingin memainkan alat itu,” imbuh Ussy.

Baginya, kalau gitar mempunyai 6 senar, harpa memiliki 47 senar.

Ussy tekun berlatih secara serius.

Sembilan tahun ia studi alat harpa di Conservatorium St. Cecilia, Roma, Italia.

Hingga ia meraih gelar Master Harpa dan Doktor Musik.

Ia juga memperdalam ilmu vokal dan teknik Opera Lyric. “Saya menyanyikan lagu ini bukan sekedar menyuarakan lirik, tapi menyampaikan perjalanan perasaan yang sangat manusiawi. Mencinta, menunggu, bertanya dan berserah pada kehendak Nya,” papar Ussy.

Di tengah hiruk pikuk dunia musik yang acap didominasi usia muda dan tren digital, Ussy hadir dengan pesan kuat :

“Jangan pernah berhenti berkarya selama kita masih mampu. Eksistensi dalam musik tak selalu soal ketenaran, tapi tentang kejujuran mengekspresikan diri,” timpal Ussy.

Sampai Kapan Ussy dipersembahkan kepada setiap hati yang masih percaya keajaiban cinta yang tulus. (pik)

Baskara Mahendra Belajar Bahasa Mandarin di Assalammualaikum Beijing 2

JAYAKARTA NEWS— Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China.

Ungkapan Nabi Muhammad SAW di hadis  (tidak sahih ?) mungkin dimaksudkan ke negeri yang jauh tapi kursus bahasa Mandarin  (Kuo Yu) kini merebak dimana-mana.

Alhasil, aktor dan model Baskara Mahendra harus belajar bahasa Mandarin untuk perannya di film ‘Assalammualaikum Beijing 2 : The Last Ningxia’ yang disutradarai  Guntur Soeharyanto.

“Saya didapuk jadi Mo alias Mohammad, pria Cindo (Cina Indonesia) dan muslim dari suku Hui,” kata Baskara.

Pasalnya, kalau belajar sama Ferry Salim yang jadi Baba Rahman (di film jadi ayah Mo) wajar. Tapi perasaan saya jadi deg degan karena harus berbincang dengan aktor dan cameo orang China asli,” terang Baskara.

“Diangkat dari novel karya Asma Nadia dan skenario Benny Setiawan, saya mengadaptasinya ke film bergenre drama romantis,” urai Guntur Soeharyanto.

Film ini berkisah tentang pergolakan batin dan perjalanan keimanan seorang mualaf bernama Aisha (Yasmin Napper).

Aisha (Yasmin Napper) bersimpati pada Mo (Baskara Mahendra) setelah ditipu Arif. (foto imperial)

Gadis periang ini menyusul pacarnya bernama Arif ke kota Ningxia, Tiongkok, yang didominasi populasi muslim dari suku Hui.

Ternyata, Arif raib dan penipu.

Aisha dibantu Mo mencari Arif.

Keduanya lalu timbul benih cinta.

“Saya menghargai Mo yang percaya sama.proses dan perjalanan kehidupannya yang dipenuhi takdir. Tanpa melihat tujuannya,” papar Baskara.

Tiga karakter ditampilkan sutradara secara apik. Aisha seorang mualaf yang grusa grusu dan pemarah.

Baskara Mahendra sebagai Mo (foto ffi/kpl)

Arif cowok obsesif dan menghalalkan segala cara sampai ia menghamili cewek setempat. Dan Mo pria santun berendah hati dan rajin beribadah serta percaya takdir.

Keelokan dan modernisasi yang maju di kota Ningxia dicuatkan di film ini secara apik dan bagus. Namun, di sisi lain, keramahan dan tawadhu warga Suku Hui yang sedang shalat di masjid Tongan yang terbesar dan tertua di Ningxia sungguh pas.

Ini nilai tambah bagi Guntur Soeharyanto.

“Saya banyak dibantu KBRI China,” timpal Guntur.

Akting Baskara Mahendra sebagai Mo boleh dipujikan.   Aktor tampan ini meroket melalui film ‘Bebas’ dan ‘Lima’ yang mengusung nilai-nilai Pancasila.

Baskara juga pernah meraih tiga penghargaan sebagai aktor pendatang baru terbaik di FF Tempo (2019), FF Piala Maya (2020) dan FF Bandung (2020, aktor terpuji).

Yasmin Napper sebagai Aisha berhasil mengimbangi seni peran lawan mainnya secara wajar dan tak canggung.

Kisah dama perjalanan batin produksi Imperial Pictures ini juga didukung sederet artis yaitu Emir Mahira, Lolox, Ria Ricis, Violeta Wijaya, Gabriella Ekaputri, Ferry Salim, Nadzira Shafa Askar dan Hartawan Triguna (juga bertindak Produser).

Para pemeran berhasil membawakan sosok masing-masing dengan punten meyakinkan dan cemerlang. (pik)

Karina Icha: Obsesi Jadi Polwan Nyangkut di Film

JAYAKARTA NEWS— Bergelar Sarjana Hukum dan berobsesi jadi Polwan, aktris Karina Icha malah kini nyangkut di dunia film.

“Ini gegara mas Irham Acho Bahtiar yang sedang mencari pemeran baru di film ‘Lintrik’. Saya iseng ikut test cast dan malah lolos,” kata Karina membuka obrolan dengan penulis di Bajawa Cafe, Taman Kemang, Jaksel, Kamis (5/6/2025).

Acho Bahtiar menilai wajah dan tingkah Karina mengesankan.

“Dia berbakat dan gesturnya menarik. Cocok jadi Sari, sosok utamanya,” ujar Acho.

Ditambahkan, wajah blasteran kelahiran dari Indonesia Timur (tepatnya di Enrekang, Sulawesi) ini sekilas mirip Lady Gaga, biduanita dan aktris film yang meroket di film ‘A Star is Born’ bersama aktor Bradley Cooper.

“Dia cantik, sedikit misterius,” imbuh Acho.

Lintrik bagi orang Jawa adalah sejenis ilmu pelet atau pengasihan Jawa kuno  yang bisa menarik korbannya namun bersifat sementara.

Intrik hanya bisa dilakukan oleh seorang dukun wanita yang sudah melakukan ritual tertentu.

“Ritual ekstrimnya adalah mengelilingi kuburan keramat dalam keadaan  tanpa busana,” beber Acho.

Akan halnya peran bugil tersebut diiyakan Karina.

“Itu permainan trik kamera. Saya bermimpi dapat peran menantang di genre drama religi dan aksi laga,” timpal Karina yang lihai olahraga bela diri seperti karate dan tinju.

Syuting 70% di Bsnyuwangi dan sisanya di Jakarta.

Beberapa artis nasional selain Karina adalah Donny Damara, Yatti Surachman, Meisya Amira, Akbar Nasdar, Fannita Posumah dan Teguh Ryder.

Juga melibatkan aktor asli Banyuwangi yaitu Sang Maestro tari Gandrung Mak Temu Misti dan semiman senior Mas Yon DD. Mereka menggunakan bahasa Osing (bahasa asli Banyuwangi).

Ditanya adakah hal-hal gaib selama pengambilan gambar, Karina menceritakan kamera mendadak mati saat syuting di hutan De Djawatan.

“Saat itu langit berkabut dan ini realistis. Pas hujan lebat sekali. Jadi harus ditunda dulu menanti langit cerah,” cerita Karina yang ngefans berat sama Jeremy Thomas dan Dian Sastrowardoyo.

Saat mengantre tayang di bioskop, Karina akan melakukan syuting lagi di film ‘Sahabat Anak’ (biopik Kak Seto) yang masih disutradarai Irham Acho Bahtiar. (pik)