Locker: Band Campuran Ceco Pengusung Pop Kreatif

JAYAKARTA NEWS— Locker adalah almari kecil berkunci tempat menyimpan sesuatu. Tapi Locker yang satu ini band campuran 3 cewek dan 2 cowok (ceco) pengusung genre pop kreatif.

Baru berdiri Mei 2026 di Jakarta. Jadi belum seumur jagung..

Awalnya 2 band.

Namira cs mau mendirikan band perlu gitaris, basis dan drumer.

Di pihak lain, Adriell dan Mikail sedang mencari vokalis dan keyboardis.

Bertiga bertemu di suatu tempat dengan visi sama.

Berlima pelajar sekolah ini mulai terpikir membangun sebuah band.

Mereka jamming bareng.

Dan puncaknya tanggal 2 Agustus 2026 di Pawon Bukit Bintang, Tebet Timur Dalam Raya 1, Jaksel, resmi berdiri sebuah band baru.

Mengibarkan bendera ‘Locker’, 5 musisi remaja ini menggebrak 5 lagu plus 1 lagu tambahan.

Locker digawangi Mikail (bas, 1 SMA Labschool Rawamangun), Egy (vokal,  2 SMA 37), Namira (keyboard, 2 SMA 79), Riell (gitar, 2 SMA Al Azhar Kemang Pratama) dan Symphony (drum, 6 SD Marsudirini Matraman).

Locker ‘in action’ (foto arul)

Mengusung banyak irama musik ya pop, rock, metal, jazz dan KPop.

Saat melantunkan nomor ‘Sinaran’ milik Sheila Majid, harmoni dan nada musik nya dibuat ngerock keras.

Demikian tatkala Egy menggebrak lagu ‘Trapped’ dan ‘Are U Still Here’, irama dan biramanya berfokus ke hingar bingar dentuman musik cadas.

Stage act Mikail pada bas  yang berjingkrak manis dan menggoyangkan instrumennya pas dan enak dilihat.

“Daripada susah diingat, kami sepakat memberikan nama Locker. Ya tempat menyimpan sesuatu yaitu musik yang perlu disebarluaskan ke penjuru Republik ini,” ungkap Egy, vokalis yang tetap rancak dan lincah meski keringat telah bercucuran usai unjuk diri.

Di bawah manajemen AZ Production dan pembina, produser, music director dan guru musiknya adalah Harry Toledo.

Locker (foto az)

“Kami mau menangani dan mengajak Locker rekaman karena semua personelnya punya tekad dan obsesi sama : memajukan musik Indonesia,” ujar Harry Toledo yang pernah memperkuat di instrumen basis di band Soul Emotion, Cherokee dan Bali Lounge.

Dia rekan di musik jazz bersama Yance Manusama dan Mates.

Harry Toledo belajar alat bas gitar pada usia 11 tahun dan pernah tampil di Prambanan Jazz Festival.

Go International ?

“Itu jadi niat dan tujuan kami,” jawab Harry Toledo optimistis.

Wait and See !  (pik)

Pencatatan Hak Cipta Musik dan Lagu Rp 0 Mulai 1 Agustus 2026

JAYAKARTA NEWS – Pencatatan hak cipta musik dan lagu tanpa biaya yang mulai berlaku pada 1 Agustus 2026. Kabijakan pemerintah tersebut tertuang melalui Peraturan Pemerintah No. 30 Tahun 2026.

“Sekarang pencatatan hak cipta lewat Peraturan Pemerintah PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) yang baru, kita turunkan tarifnya menjadi 0 rupiah,” ungkap Menteri Hukum (Menkum) Supratman Andi Agtas di Jakarta, Jumat (24/7/2026).

Tidak hanya pencipta lagu, pelaku pertunjukan dan produser fonogram juga dapat mencatatkan hak terkait secara gratis sebagai bagian dari upaya memperkuat perlindungan hukum dan membangun ekosistem musik nasional.

Menkum Supratman menjelaskan penurunan tarif pencatatan hak cipta lagu dan musik menjadi Rp0 bertujuan mendorong semakin banyak pencipta mencatatkan karya musiknya di Indonesia.

Supratman menyebutkan, saat ini ada 7 juta lagu di seluruh Indonesia dan Presiden Prabowo Subianto memahami urgensi pencatatan lagu di dalam negeri.

Supratman juga menegaskan pemerintah akan mengatur hak mekanis secara lebih jelas dalam revisi Undang-Undang Hak Cipta agar seluruh pelaku industri musik memperoleh kepastian hukum.

“Hak mekanikal itu pun nanti akan kita atur secara rigid lagi di dalam revisi Undang-Undang Hak Cipta yang akan datang. Kita menginginkan ekosistem musik di Indonesia itu berjalan secara baik,” jelas Menkum.

Direktur Hak Cipta dan Desain Industri Agung Damarsasongko menegaskan bahwa bukan hanya pencipta lagu saja yang akan memiliki hak atas sebuah musik/lagu, tetapi penyanyi dan produser fonogram akan dicantumkan sebagai pemilik hak terkait. Hal ini akan bisa dicatat sekaligus melalui fitur pencatatan hak cipta DJKI.

“Dengan adanya pencatatan ciptaan yang sekarang 0 rupiah, itu juga ada pencatatan untuk hak terkait. Jadi tidak hanya untuk hak pencipta saja, tetapi juga ada hak terkait. Hak terkait itu untuk penyanyinya dan untuk karya rekamannya,” jelas Agung.

Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual mengimbau para pencipta, pelaku pertunjukan, dan produser fonogram memanfaatkan kebijakan pencatatan tanpa biaya tersebut melalui hakcipta.dgip.go.id.

Pencatatan hak cipta dan hak terkait merupakan bukti administratif atas kepemilikan karya yang dapat menjadi alat pembuktian apabila terjadi sengketa sekaligus mendukung pengelolaan hak ekonomi di masa mendatang. Pelajari lebih lanjut mengenai hak cipta di dgip.go.id. (yog)

James F Sundah Foundation dan ISI Jogja Beri Beasiswa bagi yang Meneliti Hak Cipta dan Kekayaan Intelektual

JAYAKARTA NEWS— Merayakan 40 hari wafat James F Sundah (penulis lagu ‘Lilin Lilin Kecil’), isteri almarhum Priscilla Sundah Suntoso mendirikan James Sundah Foundation, organisasi nirlaba yang berpusat di New York, Amerika.

Bertujuan menjaga, merawat dan melanjutkan warisan karya, pemikiran dan nilai-nilai yang ditinggalkan almarhum.

“Kita akan memberikan fellowship (beasiswa) kepada mahasiswa tingkat akhir yang meriset dan meneliti tentang hak cipta dan kekayaan intelektual, royalti dan perlindungan hukum atas karya kreatif  serta kebijakan karya di era digital,” ucap Priscilla Sundah Suntoso yang bekerjasama dengan AAPI Creative, New York (beranggotakan diaspora) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta.

Komite Seleksi Beasiswa beranggotakan Adi Harsono (profesor senior), Aminoto Kosin (arranger, musisi, produser), Dahlan Iskan (jurnalis, mantan Menteri BUMN), Naratama Rukmananda (sutradara TV, broadcaster, penulis) dan Wendi Putranto (penulis, wirausahawan).

“Almarhum James F Sundah semasa hidup pernah menggaungkan filosofi terkenal ‘no song no music industry’. Warisan terbesar dari James tak hanya di lagu tapi juga pemikiran dan perjuangan untuk mendudukkan pencipta lagu pada posisi yang layak dan strategis dalam ekosistem musik Indonesia kepada generasi baru,” pungkas Wendi Putranto selaku juru bicara James F Sundah Foundation. (pik)

Java Jazz 2026 Siap Digelar: Pindah dari Kemayoran ke PIK 2

JAYAKARTA NEWS— Java Jazz Festival (JJF) edisi ke 21 memasuki babak baru.

Dimulai 29 s d 31 Mei 2026, kini JJF hengkang (pindah) dari JIExpo Kemayoran ke Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Kabupaten Tangerang, Banten.

Sponsor pendukung pun berganti. BNI yang lama jadi sponsor kini mundur dan digantikan MyBca. Sehingga nama JJF kini menjadi MyBCA Jakarta International Java Jazz Festival 2026.

“Kita perlu ruang lebih luas dan PIK 2 yang digelari The New Jakarta City siap menerima jazzer dan ribuan pengunjung,” ujar Presiden Direktur JJF, Dewi Gontha.

“Sehingga di venue baru ini,  JJF 2026 menjadi its just not about music, tapi about music and art,” papar Dewi Gontha.

Hanya 7 menit dari bandara Soekarno Hatta, PIK 2 yang dibangun oleh kelompok Salim Group dan Agung Sedayu Group ini benar-benar merupakan kota Jakarta baru yang kini dipenuhi banyak hotel, restoran dan tempat bermain bagi masyarakat di kawasan Jakarta Utara dan Jakarta Barat.

Didirikan 12 panggung dengan hall utama di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) akan menjadi rumah baru untuk JJF 2026 plus hall disekelilingnya secara out n in door,” imbuh Dewi Gontha.

Beberapa jazzer mancanegara dan lokal dipastikan sebagai ‘line up’ dan siap menghangatkan suasana di PIK 2.

Ada Jon Batiste, Slank dan RAN yang bakal menjadi spesial show.

Slank tampil di JJF 2026

Kemudian musisi lintas generasi unjuk diri yaitu Lisa Simone, Justin Lee Schultz, Dave Kozz, Incognito, wave to Earth-Wind and Fire by Al McKat, Yutu, Niko Niko Tan Tan, Bilal Indrajaya, 5Petani, Ziva Magnolya, The Corleones dan masih seabrek lagi. Juga ada panggung spesial Eros Djarot sebagai bentuk kehormatan terhadap warisan musik Indonesia karya Eros Djarot.

Penggagas dan founder JJF, Peter F Gontha mengaku JJF adakah pertemuan jazzer internasional dan Indonesia terbesar di Asia dan Dunia.

“Sehingga event ini bisa memperkuat ekosistem musik nasional dan meningkatkan pariwisata kita,” urai Peter F Gontha.

Tiket terusan 3 hari dibandrol Rp 1.100.000, tiket tiap hari-tiket Sabtu dan tiket Minggu Rp 525.000.

Perayaan JJF pertama dihelat di JCC Senayan kemudian pindah ke JIExpo Kemayoran.

Kini, dengan ‘rumah baru’ di PIK 2, JJF lebih relevan,  inovatif dan lebih mendunia. (pik)

Yura Yunita Luncurkan Single ‘Mau Jadi Apa’

JAYAKARTA NEWS—  Biduanita berdarah Sunda, Yunita Rahman alias Yura Yunita meluncurkan single berjudul ‘Mau Jadi Apa’. Bernuansa keroncong dan pop ringan, lagu ini musiknya ditangani oleh Donne Maula, suami Yura.

“Iramanya hangat dan sarat pesan emosional. Tentang makna perjalanan jati diri dan berani menghadapi ketidakpastian dalam kehidupan,” ujar Yura optimis.

Dikatakannya, jika masih anak selalu nanya ke diri sendiri. Jika dewasa mau jadi apa ? . Dulu kita nanyain, kini kita lakuin,” ungkapnya.

Yura Yunita dan suami, Donne Maula

Misi lagu ini berpesan mengajak pendengar agar tak terburu-buru  menentukan arah kehidupan dan membiarkan proses hidup ini berjalan wajar.

Dalam video klip dan platform musiknya, Yura tarik suara berlatar corak budaya Indonesia, berbusana kebaya dan menari tradisi.

Yura belakangan aktif unjuk diri di panggung musik dan festival musik bergengsi. Bahkan, Yura juga tampil di pergelaran jazz seperti Jak Jazz dan Java Jazz.

Selama berkarir di industri musik, Yura sudah merilis beberapa single yaitu ‘Tutur Batin’, ‘Cinta dan Rahasia’, ‘Tenang’ dan ‘Dunia Tipu Tipu’.

Bersama suaminya, Donne Maula, Yura Yunita tampil berkolaborasi di video klip musik bertajuk ‘Buktikan’ yang bernada riang. Kini, dengan single ‘Mau Jadi Apa’, Yura membuktikan masih eksis dan menyodorkan frasa ‘mau jadi apa’ ke pendengarnya.***ipik

Rhoma Irama Rilis Single Terbaru “Senyum”

JAYAKARTA NEWS – Sang Raja Dangdut, H. Rhoma Irama, kembali hadir dengan karya terbarunya bertajuk “Senyum” . Di usianya yang ke-78 tahun, Rhoma Irama membuktikan bahwa semangat berkarya dan berdakwah melalui musik tak pernah padam. Lagu terbaru ini Launching pada Jumat, 10 Oktober 2025 melalui Proaktif Musik sebagai mitra distribusi resmi.

Lagu “Senyum” diciptakan dan diaransemen langsung oleh Rhoma Irama. Masih setia dengan warna dangdut klasik khas sang maestro, lagu ini menghadirkan nuansa lembut dan pesan moral yang dalam. Seperti karya-karya sebelumnya, Rhoma mengemas nilai dakwah dan pesan sosial melalui lirik yang sederhana namun sarat makna.

“Sekarang ini banyak orang ribut, saling bully, caci maki, wajah garang. Dari situ saya terinspirasi untuk mengajak orang agar tersenyum,” ujar Rhoma Irama.

Menurut Rhoma, lagu “Senyum” lahir dari keprihatinannya terhadap kondisi sosial saat ini yang penuh dengan ujaran kebencian dan permusuhan di media sosial maupun kehidupan sehari-hari. Melalui lagu ini, ia ingin mengingatkan bahwa senyuman adalah bentuk sedekah yang paling mudah dilakukan.

“Misi dakwah dalam lagu ini berasal dari hadist Rasulullah, bahwa tersenyum itu sedekah. Sedekah bukan hanya dengan harta, tapi juga dengan perbuatan baik — menolong orang, menyingkirkan barang bahaya dari jalan, bahkan tersenyum pun adalah sedekah,” ungkap Rhoma.

Menariknya, proses kreatif lagu ini dimulai dari penulisan lirik terlebih dahulu, baru kemudian dibuat notasinya. Hal ini, menurut Rhoma, menjadi kunci agar pesan dalam lagu benar-benar tersampaikan dengan kuat.

Jika didengar sepintas, lirik “Senyum” memiliki kemiripan dengan lagu “Sedekah” yang pernah dirilis Rhoma pada era 1990-an. Namun, “Senyum” hadir dengan warna baru yang lebih lembut dan reflektif, menggambarkan sisi bijak Rhoma di usia senja.

Video klip “Senyum” juga digarap langsung oleh Rhoma bersama timnya, memperlihatkan keseriusan dan dedikasi sang legenda terhadap setiap detail karya.

Dengan “Senyum”, Rhoma Irama kembali menegaskan bahwa musik dangdut bukan sekadar hiburan, melainkan juga sarana dakwah, nasihat, dan penyampai pesan moral yang universal.

Rhoma menutup pesannya dengan ajakan sederhana namun bermakna:

“Kalau ingin dunia damai, mulai dari diri sendiri, tersenyumlah.” (Agus Oyenk)

Transparansi Royalti Indonesia: Izin Operasional Resmi Keluar, Jamin Transparansi Royalti bagi Pencipta Lagu Indonesia

JAYAKARTA, NEWS – Industri musik Indonesia mencatat tonggak penting dalam sistem perlindungan hak cipta. Sebuah Lembaga Manajemen Kolektif (LMK) baru, bernama Transparansi Royalti Indonesia (TRI), secara resmi memperoleh izin operasional dari Kementerian Hukum dan HAM. Keputusan ini ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor HK.23.KL01.04.01 Tahun 2025, dan diumumkan pada Jumat (1/8/2025) di Gedung DJKI, Kuningan, Jakarta Selatan.

TRI hadir sebagai LMK yang memiliki mandat khusus untuk mengelola royalti hak cipta lagu dan musik secara transparan, akuntabel, dan berkeadilan. Penyerahan izin operasional dilakukan langsung oleh Direktur Direktorat Hak Cipta dan Desain Industri Agung Damarsasongko SH.Mh dan Ketua Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), Dharma Oratmangun, yang menyampaikan harapan besar terhadap kiprah TRI ke depan.

“Saya mengenal Ketua TRI cukup lama dan melihat rekam jejak digitalnya yang positif. Kami berharap TRI mampu menjadi warna baru dalam tata kelola royalti di Indonesia, terutama dalam menjawab kerinduan para pencipta lagu akan keadilan,” ujar Dharma Oratmangun.

Susunan Kepengurusan yang Lintas Profesi dan Teruji

TRI memiliki struktur organisasi yang terdiri dari tokoh-tokoh berpengalaman dari latar belakang militer, kepolisian, hukum, dan dunia seni.
Di posisi Pelindung, hadir nama-nama seperti Mayjen TNI (Purn) Zaedun, Brigjen TNI Agus Wijanarko, dan Brigjen Pol (Purn) Drs. Puja Laksana. Di kursi Pembina, terdapat Kombes Pol Daniel Widya Mucharam serta H. M. Ali Badarudin, yang juga aktif di ranah hukum dan pemberdayaan masyarakat.

Sementara itu, Ancha Syaiful Bachri dipercaya sebagai Ketua TRI, didampingi oleh Hetty Mulyati (Wakil Ketua), Mardiana Bugis (Sekretaris), dan S. Mulyono (Bendahara). Struktur pengawas dipimpin oleh Nugraha Surya Sumantri, bersama Sugito dan Ir. Teguh Yuswanto.

Komitmen dari Ketua TRI: Keadilan dan Kejujuran sebagai Fondasi

Dalam sambutannya, Ketua TRI, Syaiful Bachri biasa dipanggil Ancha menyatakan bahwa pendirian TRI bukan sekadar bentuk partisipasi dalam sistem, melainkan lahir dari panggilan moral untuk menghadirkan tata kelola royalti yang benar-benar adil bagi pencipta lagu di Indonesia.

“Ini bukan hanya soal administrasi. Ini soal tanggung jawab dunia dan akhirat. TRI hadir untuk melayani, bukan mencari panggung. Kami ingin memastikan bahwa setiap pencipta lagu, dari yang senior hingga pemula, mendapatkan haknya tanpa terhambat oleh sistem yang rumit atau tidak transparan,” tegas Ancha.

Royalti yang Transparan, Musik yang Berkelanjutan

Dalam beberapa tahun terakhir, wacana mengenai royalti musik kerap menjadi perdebatan, mulai dari kurangnya transparansi, distribusi yang tidak merata, hingga minimnya komunikasi antara LMK dengan anggotanya. TRI hadir untuk merespons situasi tersebut dengan sistem terbuka, pelaporan berbasis digital, serta mekanisme komunikasi dua arah.

Kehadiran TRI juga diharapkan mampu mendorong pemulihan kepercayaan para pencipta lagu terhadap sistem pengelolaan hak cipta di Indonesia. Melalui pelibatan figur-figur yang berintegritas dan pendekatan pelayanan yang lebih humanis, TRI menargetkan tumbuh menjadi LMK yang mampu menjawab kebutuhan zaman: efisien, adil, dan inklusif.

Babak Baru bagi Hak Cipta Musik Indonesia

Dengan resmi beroperasinya TRI, Indonesia kini memiliki tambahan kekuatan baru dalam membangun ekosistem musik yang lebih sehat. Di tengah era digital yang serba cepat dan konsumsi musik yang meluas, pengelolaan royalti yang adil menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan karya dan kesejahteraan pencipta.

TRI hadir dengan janji, dan kini publik menanti bukti. Apakah ini akan menjadi titik balik bagi tata kelola royalti musik Indonesia? Waktu yang akan menjawab — namun hari ini, harapan telah dilahirkan.*(Agus Oyenk)

Lalu “Losing My Religion” pun Mengguncang Dunia

Orang-orang ramai memperdebatkan agama Michael Stipe, vokalis R.E.M. itu. Ada yang bilang dia atheis, ada yang menyangka pemuja setan.

Padahal Stipe sendiri angkat bahu: “Aku cuma insan spiritual yang tak suka dikurung agama,” bisiknya.

Lebih rela membela kaum pinggir ketimbang berdebat kitab. 

Lalu Losing My Religion pun mengguncang dunia.

Lagu ini bukan khotbah murtad, brother !

Cuma ungkapan orang Georgia, orang selatan amrik kala jengkel, mirip tukang sate di Blok M yang teriak: “Gue bakalan gila kalo lo gak bayar!”

Stipe menciptakannya karena gemetar menahan rindu.

“Itu aku di pojok ruang, mencoba mengejarmu,” desahnya. Bukan gugatan pada langit. 

Tapi manusia kerap salah tafsir. Judul provokatif plus video penuh malaikat jatuh, langsung dituduh menghujat.

Padahal cuma lukisan jiwa resah. Bagai melihat kenduri tanpa sesajen, lantas dituduh menghina leluhur. 

Lucunya, lagu ini malah meledak ke puncak tangga Amerika, menggoyang Eropa, bahkan dibungkus dua Grammy.

Anginnya sampai menerbangkan topi pejabat di Jakarta, yg berlagak jadi manusia global.

Stipe cuma geleng kepala : “Ini lagu cinta, bukan perang salib!” 

Seniman licik ini memang sengaja menulis samar. Tapi bukan berarti harus dikuliti bagai naskah kuno.

Kadang, lagu cuma lagu: rintihan yang ingin didengar, bukan dikawal polisi syariat. 

Maka mari kita bernyanyi saja. Biar Stipe tetap di pojokannya, dan kita tak perlu jadi mufti gadungan. ($@¥)

Jejak Lagu “Knockin’ on Heaven’s Door”,

Pencipta dan Penyanyi Pertama

Lagu ikonik ini pertama kali diluncurkan oleh Bob Dylan pada tahun 1973 sebagai bagian dari soundtrack film Pat Garrett & Billy the Kid.

Lagu dengan dua bait sederhana ini menggambarkan detik-detik kematian seorang sheriff dalam film tersebut.

Metafora mengetuk pintu surga  untuk menyiratkan ajal yang mendekat . 

Artis yang Mendaur Ulang Lagu Ini:

Sebelum Guns N’ Roses membawakan versi rock-nya di tahun 1990, lagu ini telah diaransemen ulang oleh berbagai musisi ternama: 

Eric Clapton (1975): Versi reggae yang masuk tangga lagu UK . 

Arthur Louis (1975): Kolaborasi dengan Clapton dalam aliran reggae. 

The Isley Brothers, U2, dan Avril Lavigne juga tercatat membawakan lagu ini dalam berbagai gaya. 

Kesederhanaan melodi dan lirik universal tentang perpisahan-kematian jadi kunci abadinya lagu ini.

Lirik Mama, take this badge off of me… yang simbolis menjadikan interpretasi beragam: Dari protes perang Vietnam (versi Dylan) hingga keputusasaan personal (versi GNR) .

Fleksibilitas aransemennya dari folk, reggae, hingga rock, juga memperluas jangkauan pendengar lintas generasi. 

Warisan Abadi

Daya adaptasi lagu ini membuktikan kekuatan karya Dylan: sebuah lagu yang terus hidup melalui ribuan cover, merangkul beragam emosi manusia.

Lagu ini bertahan selama 50 tahun sebagai sebuah “masterpiece”. ($@¥)

“Batu Breksi Bernyannyi”, Ekspresi Bunyi Memet Chairul Slamet

JAYAKARTA NEWS – Tebing Breksi adalah salah satu destinasi wisata Yogyakarta yang kesohor. Sebuah area pegunungan bekas lokasi tambang batu kapur, yang menjadi panorama indah. Adalah komposer kontemporer Memet Chairul Slamet, yang membuat “Batu Breksi Bernyanyi”.

Itulah tagline karya environmental art di Tebing Breksi, Gunung Sari, Yogyakarta pada hari Minggu (25/5/2025) mulai pukul 15.00 WIB. Dalam repertoar tersebut, Memet bersama Tim Gangsadewa Etnik Ensamble berkolaborasi dengan para pekerja Tebing Breksi dalam skema participatory performance.

“Momentumnya pas sekali, bertepatan ulang tahun Tebing Breksi. Agar lebih meriah dan membekas di hati, saya ajak para pegawai Tebing Breksi terlibat dalam pertunjukan ‘Batu Breksi Bernyanyi’,” ujar Memet, di Yogyakarta, Rabu (21/5/2025).

Sesuai tema, Memet dan Tim Gangsadewa bersama para pegawai objek wisata Tebing Breksi akan memainkan “musik batu”. “Agar pertunjukan lebih atraktif, kami melibatkan penata gerak, Agung Gunawan,” tambah Memet, doktor musik ISI Yogyakarta, itu.

Pelibatan para pegawai bermusik batu, digagas langsung oleh Memet sebagai bagian dari aktualisasi gagasan kreatif. “Lebih dari itu, saya harap para pegawai Tebing Breksi semakin menjiwai status Tebing Breksi sebagai situs geo-heritage yang memiliki keunikan tersendiri.

Bentang lempeng-lempeng batu purba sangat eksotis, sekaligus artistik sebagai gelaran performance musik kontemporer. Atas dasar itu pula komposer kontemporer Memet Chairul Slamet intens mengolah bunyi berbasis material alam.

Persiapan “Batu Breksi Berrnyanyi”.

Pergulatanya dengan material batu sebagai sumber kekaryaan bukan kali pertama. Musik batu telah mengantar Memet Chairul Slamet meraih gelar akademis strata doktoral. Artinya proses ekplorasi batu Dr Memet teruji baik di lapangan maupun di kalangan civitas akademika.

Selain itu, mengangkat isu ekologi dalam konteks environmental art menjadi tantangan tersendiri bagi sang komposer. Ia dipaksa mengakomodir gagasan musikal bersumber kerasnya tekstur batu. Di situlah Memet merasa harus mengasah kemampuan intuisi auditifnya.

Memet juga akan memberikan sentuhan kompositorik bersumber timbre serta tonalitas minimalis. Pemusik kelahiran Madura bahkan secara khusus mempelajari morfologi batuan menjadi karya komposisi alami yang layak diapresiasi serta dicatat sebagai tindakan ilmiah ruang ekspresi seni.

Akhirnya, Memet menemukan keindahan bunyi dari bongkahan batu serta serpihan kerikil dibalut nuansa akustik lempengan tebing batuan piroklastik. Lahirlah karya “Batu Breksi Bernyanyi”. (*)

Komposer kontemporer, Dr Memet Chairul Slamet.