Kabar
Update Banjir Bandang Nepal-Tibet: 360 Orang Tewas, 1.400 Hilang, OCHA PBB Bantu USD 2 Juta
JAYAKARTA NEWS— Jumlah korban banjir bandang yang menimpa kawasan perbatasan Nepal dan Tibet semakin bertambah. Berdasarkan data sementara otoritas setempat, jumlah korban yang meninggal mencapai 360 orang. Sementara yang hilang mencapai 1.400 termasuk di antaranya 600 wisatawan yang 517 di antaranya warga negara asing, menurut badan pariwisata Nepal.
Sebagaimana diketahui, banjir bandang Nepal-Tibel ini terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026 sekitar pukul 08.40 waktu setempat. Penyebab, runtuhnya bagian bawah gletser di pegunungan Himalaya yang memicu longsoran es, batu, dan lumpur dalam jumlah besar ke Sungai Lhende Khola. Getaran dari longsoran ini tercatat setara dengan gempa magnitudo 5,2.
Dampak yang ditimbulkan dari banjir bandang ini bukan hanya kerusakan parah pada jalan raya maupun rumah-rumah warga tapi juga proyek pembangkit listrik, serta melanda kawasan Pelabuhan Gyirong di Tibet.
Mengutip Al Jazeera, sebuah danau yang terbentuk di lokasi banjir tersebut permukaan airnya terus meningkat dan berisiko jebol, menurut otoritas penanggulangan bencana Nepal.
Kepala Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan bahwa dana sebesar USD 2 juta akan dialokasikan dari Dana Darurat Global PBB (CERF) untuk upaya bantuan di Nepal. Sejumlah negara dan organisasi global lainnya juga telah menjanjikan dukungan.
India telah mengevakuasi ribuan warga dari negara bagian yang berbatasan dengan Nepal—termasuk Bihar, Uttar Pradesh, dan Uttarakhand—karena banjir mengancam wilayah Daerah Aliran Sungai Gandak.
Menjangkau para penyintas menjadi tantangan yang sangat besar. Akses jalan telah rusak.
Warga berupaya membantu mengidentifikasi korban tewas, yang banyak di antaranya mengalami luka parah akibat hantaman dahsyat gelombang air. Orang-orang memeriksa berbagai daftar nama—termasuk daftar penyintas yang cukup beruntung untuk bisa dibawa ke rumah sakit di Kathmandu ini.
Al Jazeera menyebut, informasi yang diterima menyebutkan bahwa akses hanya bisa dilakukan melalui jalur udara; helikopter—baik milik pemerintah maupun komersial swasta—telah dikerahkan untuk terbang ke wilayah-wilayah tersebut guna mengevakuasi sebanyak mungkin penyintas.
Namun, seperti yang disampaikan dokter di sini, tingkat keparahan cedera para korban cukup tinggi. Ada orang-orang yang mengalami patah tulang rusuk akibat hantaman keras air, kulit kepala yang terkelupas, serta luka-luka parah pada kulit mereka.
Para ahli memperingatkan adanya akumulasi air dalam jumlah sangat besar yang tertahan oleh semacam bendungan alami. Jika bendungan tersebut jebol, berpotensi menghadapi banjir bandang susulan.
Oleh karena itu, siapa pun yang berada di tepian sungai di jalur aliran air tersebut—termasuk mereka yang berniat kembali ke lokasi—serta tim penyelamat, telah disiagakan menghadapi kemungkinan terjadinya peristiwa berbahaya lainnya, meskipun belum tentu berupa banjir yang persis sama. (Sumber: Al Jazeera)
