Update Banjir-Longsor Nepal-Tibet: Hampir 800 Orang Tewas, 3.000 Lebih Hilang Termasuk 933 Pekerja Proyek

JAYAKARTA NEWS— Jumlah korban banjir bandang dan longsor di perbatasan Nepal-Tibet semakin meningkat. Berdasarkan data sementara, hampir 800 orang tewas, dan yang hilang mencapai 3.000 orang lebih. Termasuk di antaranya 933 orang pekerja di 11 lokasi proyek PLTA dan terowongan di distrik Rasuwa dan Nuwakot, Nepal, wilayah terdampak paling parah. Para pekerja tersebut berasal dari Nepal, India, Korea Selatan, dan Tiongkok

Sebagaimana diketahui, banjir bandang dan longsor ini menjerjang pada Rabu (26/8/2026) pagi lalu, dipicu runtuhnya gletser di ketinggian Pegunungan Himalaya, Nepal—dekat perbatasan dengan Tibet. Bencana ini menimbun desa dan kota di sepanjang aliran sungai Trishuli dan Bhotekoshi.

Mengutip Al Jazeera,upaya penyelamatan sedang dilakukan untuk menemukan lebih dari 900 pekerja yang hilang di lokasi proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di wilayah tengah Nepal. Otoritas Nepal dan wilayah Tibet, Tiongkok, mencatat total jumlah orang yang hilang mencapai lebih dari 3.000 jiwa, dengan beberapa jenazah ditemukan terbawa arus hingga ke negara tetangga, India.

Pada hari Jumat, naiknya permukaan air di danau baru yang terbentuk akibat penumpukan material longsoran sempat menghentikan sementara upaya pencarian karena adanya kekhawatiran akan banjir susulan. Operasi penyelamatan kembali dilanjutkan setelah ancaman dari danau tersebut dinilai dapat dikendalikan.

Penampakan banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet, Rabu (26/8/2026)/
Foto: tangkap layar YouTube Channel 4 News

Katrina Yu dari Al Jazeera, yang melaporkan dari Beijing, mengatakan bahwa pihak berwenang Tiongkok menyatakan risiko tampaknya telah berkurang, namun belum sepenuhnya hilang.

“Mereka memantau dengan ketat danau bendungan alami tersebut, yang terletak satu kilometer di bagian hulu dekat pelabuhan Gyirong dan kawasan perbatasan. Pemantauan dilakukan secara intensif menggunakan satelit, radar, dan pesawat nirawak (drone),” ujarnya. Ia menambahkan bahwa “pihak berwenang yakin jika situasi di sekitar danau tersebut memburuk, mereka dapat memberikan peringatan sekitar 30 menit kepada tim penyelamat yang berada di hilir.”

Jembatan patah akibat kuatnya arus banjir bandang Nepal-Tibet/
Foto: tangkap layar YouTube Channel 4 News

Jumlah pasti pekerja yang terjebak atau hilang di setiap lokasi proyek PLTA belum diketahui secara rinci. “Setelah muncul laporan mengenai orang-orang yang terjebak di dalam terowongan, pemerintah memprioritaskan pengerahan tim penyelamat dan terus berupaya membuka akses masuk dengan menyingkirkan puing-puing serta reruntuhan,” demikian pernyataan kantor Perdana Menteri Nepal pada Sabtu malam, lapor Al Jazeera.

“Guna mempercepat penggalian akses masuk terowongan dan operasi pencarian, tim gabungan yang terdiri dari 82 personel—meliputi 62 anggota Angkatan Darat Nepal serta 20 anggota Angkatan Kepolisian Bersenjata Nepal dan Kepolisian Nepal—telah dikerahkan secara terus-menerus sejak tadi malam. Namun, kondisi cuaca buruk yang masih berlangsung di lokasi tersebut membuat upaya penyelamatan menjadi cukup sulit,” tambah pernyataan itu.

Sekretaris Luar Negeri Nepal, Amrit Bahadur Rai, mengatakan bahwa 19.000 personel keamanan dan 16 helikopter telah dikerahkan dalam operasi pencarian dan penyelamatan.

Pencarian para korban banjir bandang-longsor di perbatsan Nepal-Tibet/
Foto: tangkap layar YouTube Channel 4 News

Video-video di media sosial memperlihatkan tentara Nepal menerjang lumpur saat berupaya menyelamatkan para pekerja yang terjebak di proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Upper Trishuli-1 berkapasitas 216 megawatt. Pihak militer telah berhasil menyelamatkan 254 pekerja di lokasi tersebut.

Akan tetapi, upaya penyelamatan juga menghadapi kendala di lokasi PLTA lainnya, seperti proyek PLTA Chilime berkapasitas 22 MW di distrik Rasuwa, yang terletak 133 km (82 mil) di sebelah utara ibu kota Kathmandu.

“Kami belum dapat melakukan penyelamatan. Terowongan itu dipenuhi lumpur dan mustahil untuk dimasuki,” ujar Baburaj Maharjan, Direktur Eksekutif Chilime Hydropower Company, kepada Kathmandu Post. “Kami sedang berupaya mengerahkan tim penyelamat yang memiliki keahlian panjat tebing,” tambahnya. (Sumber: Al Jazeera)

Update Banjir Bandang Nepal-Tibet: 360 Orang Tewas, 1.400 Hilang, OCHA PBB Bantu USD 2 Juta

JAYAKARTA NEWS— Jumlah korban banjir bandang yang menimpa kawasan perbatasan Nepal dan Tibet semakin bertambah. Berdasarkan data sementara otoritas setempat, jumlah korban yang meninggal mencapai 360 orang. Sementara yang hilang mencapai 1.400 termasuk di antaranya 600 wisatawan yang 517 di antaranya warga negara asing, menurut badan pariwisata Nepal.

Sebagaimana diketahui, banjir bandang Nepal-Tibel ini terjadi pada Rabu, 26 Agustus 2026 sekitar pukul 08.40 waktu setempat. Penyebab, runtuhnya bagian bawah gletser di pegunungan Himalaya yang memicu longsoran es, batu, dan lumpur dalam jumlah besar ke Sungai Lhende Khola. Getaran dari longsoran ini tercatat setara dengan gempa magnitudo 5,2.

Dampak yang ditimbulkan dari banjir bandang ini bukan hanya kerusakan parah pada jalan raya maupun rumah-rumah warga tapi juga proyek pembangkit listrik, serta melanda kawasan Pelabuhan Gyirong di Tibet.

Mengutip Al Jazeera, sebuah danau yang terbentuk di lokasi banjir tersebut permukaan airnya terus meningkat dan berisiko jebol, menurut otoritas penanggulangan bencana Nepal.

Kepala Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyatakan bahwa dana sebesar USD 2 juta akan dialokasikan dari Dana Darurat Global PBB (CERF) untuk upaya bantuan di Nepal. Sejumlah negara dan organisasi global lainnya juga telah menjanjikan dukungan.

India telah mengevakuasi ribuan warga dari negara bagian yang berbatasan dengan Nepal—termasuk Bihar, Uttar Pradesh, dan Uttarakhand—karena banjir mengancam wilayah Daerah Aliran Sungai Gandak.

Menjangkau para penyintas menjadi tantangan yang sangat besar. Akses jalan telah rusak.

Warga berupaya membantu mengidentifikasi korban tewas, yang banyak di antaranya mengalami luka parah akibat hantaman dahsyat gelombang air. Orang-orang memeriksa berbagai daftar nama—termasuk daftar penyintas yang cukup beruntung untuk bisa dibawa ke rumah sakit di Kathmandu ini.

Al Jazeera menyebut, informasi yang diterima menyebutkan bahwa akses hanya bisa dilakukan melalui jalur udara; helikopter—baik milik pemerintah maupun komersial swasta—telah dikerahkan untuk terbang ke wilayah-wilayah tersebut guna mengevakuasi sebanyak mungkin penyintas.

Namun, seperti yang disampaikan dokter di sini, tingkat keparahan cedera para korban cukup tinggi. Ada orang-orang yang mengalami patah tulang rusuk akibat hantaman keras air, kulit kepala yang terkelupas, serta luka-luka parah pada kulit mereka.

Para ahli memperingatkan adanya akumulasi air dalam jumlah sangat besar yang tertahan oleh semacam bendungan alami. Jika bendungan tersebut jebol, berpotensi menghadapi banjir bandang susulan.

Oleh karena itu, siapa pun yang berada di tepian sungai di jalur aliran air tersebut—termasuk mereka yang berniat kembali ke lokasi—serta tim penyelamat, telah disiagakan menghadapi kemungkinan terjadinya peristiwa berbahaya lainnya, meskipun belum tentu berupa banjir yang persis sama. (Sumber: Al Jazeera)